Follow Us @soratemplates

Saturday, 31 October 2026

Penuh

18:54 0 Comments


Sebuah utas melintas di beranda. Isinya tentang ciri-ciri seorang anak yang tangki cintanya penuh di rumahnya. Dia tidak akan gampang tantrum hanya untuk mencari perhatian. Dia tidak akan takut mengakui kesalahan karena tahu bahwa rumah adalah tempat dia merasa aman, dan berbagai ciri yang lain.

Persis tadi pagi saya mendengar juga sebuah video pendek melintas di ponsel suami. Seorang suami tergolong menjadi suami yang beruntung jika memiliki beberapa ciri-ciri. Salah satunya, hubungan yang baik dengan istrinya. Istri yang selalu memeluk dengan spontan, atau istri yang selalu melayani tanpa diminta.

Di hari yang sama, sebuah konten muncul juga di instagram. Isinya tentang kebahagiaan seorang wanita meski sudah beranjak usia 40 tahun. Ciri-cirinya ketika dia bebas merawat diri, tetap bisa belajar, tetap bisa menikmati kesenangan diri.

Saya menarik kesimpulan dari ketiga konten yang bermunculan itu. Entah dari sudut pandang seorang anak, seorang suami, atau seorang istri, ketiganya akan berada dalam kondisi baik-baik saja ketika dirinya sudah penuh.

Ya, Penuh. Ketika seseorang sudah penuh, dia akan merasa cukup dengan apa yang ada pada dirinya. Ketika seseorang sudah penuh, dia tidak akan kalang kabut mencari kekurangan yang masih di luar jangkauannya. Ketika seseorang sudah penuh, yang ada hanya akan syukur dan menikmati kehidupan yang berjalan selanjutnya.

Tetapi untuk mencapai penuh itu tentu banyak sudut pandang yang dijadikan acuan. Salah satunya dengan tangki cinta.

Seseorang meski sudah dilimpahi bahasa cinta receiving gift, mungkin merasa kosong karena tak ada quality time. Seseorang yang sudah dipenuhi acts of service, mungkin kosong karena tak mendapat words of affirmation. Seseorang mungkin sudah selalu mendapat emotional support, tetapi dia kosong akan physical touch. Atau mungkin seseorang sudah mendapat semuanya, sayangnya kosong akan komitmen dan kesetiaan. 

Tentu, seluruh tangki cinta itu butuh diisi, meski kadarnya mungkin tak bisa seratus persen sama rata. Yang penting mengusahakan seorang anak, suami, atau istri merasa penuh, tentu menjadi usaha bersama. Betul kan?

Saturday, 24 October 2026

Luka

12:21 0 Comments

“Kamu ngomongnya jangan kayak gitu, Bu!”

Sebuah kalimat dari lelaki yang bahkan aku tidak kenal persis siapa dia tiba-tiba menyentak gendang telingaku.

Jari-jemariku seketika berhenti menari, kepalaku pun menoleh, berpaling sejenak dari layar komputer yang memang sedari tadi sedang kutatap. Dahiku mengernyit heran, “Ada apa dengan dia?”

Sekian menit sebelumnya, sosok itu baru saja mondar-mandir di sampingku, mengkonfirmasi kondisi pasien dan tampak membutuhkan kepastian segera. Aku yang kebetulan berada di posisi itu menjawab, mungkin terkesan sekenanya, mungkin seperti jawaban normatif saja karena tidak bisa memberikan jawaban seperti yang dia inginkan.

Lantas dia meledak, sambil meninggalkanku yang terpaksa terhenti karena tak menduga apa yang baru saja terjadi.

Aku teringat pesan singkat yang kudapat beberapa waktu sebelumnya. Sebuah kejadian yang seharusnya biasa-biasa saja, akan menjadi memiliki makna berbeda tergantung kondisi orang yang menerimanya. Salah satunya, jika seseorang tersebut membawa luka.

Sepasang Kawan berkelakar saling mengejek atau bahkan hingga body shaming tetap akan baik-baik saja jika di antara keduanya tidak ada luka. Namun beda halnya jika ejekan candaan itu dilontarkan seorang bos kepada dirinya, mungkin dia akan meradang karena ada bekas luka dari sang bos sebelumnya.

Pun pada kondisi tadi. Sebenarnya tanya jawab kami adalah hal yang biasa. Aku pun menjawab biasa pula. Namun satu yang tidak kuantisipasi sebelumnya, dia mungkin membawa luka. Dia mungkin terluka karena harus merawat pasien overtime. Dia mungkin terluka karena sudah menunggu dan bertanya kemana-mana tetapi tidak ada kepastian untuknya. Dia mungkin akan semakin terluka Ketika tidak ada Solusi dan kondisi pasien akan menjadi tanggung jawab dia sepenuhnya.

Apakah artinya aku harus selalu siaga dan peduli dengan kemungkinan luka di setiap manusia? Kurasa tidak. Luka yang sudah terlanjur ada bukan kendali kita. Biarkan dia membentuk fibrin-fibrin penyembuhan luka.

Selagi kita tidak berniat menorehkan garam di atas luka atau buruk lagi menyengaja menyayat luka baru, sudahlah biarkan berlalu. Apakah egois? Tidak. Karena dia pun tak peduli apakah dia menyayat luka baru padaku.


Saturday, 11 May 2024

Emosi Pedagang Keliling

20:52 0 Comments



Kak A demam. Salah satu mitigasi agar dia tetap mau makan adalah menawarkan mau makan apa. Sudah bisa diduga, salah satu daftar menu requestnya adalah steak milik keluarga teman suami. 

Ketika kami sedang menikmati menu makanan yang kami pesan, seorang pemuda masuk ke dalam rumah makan. Dia menghampiri bagian kasir yang tak lain dan tak bukan adalah pemilik rumah makan ini. Dia meminta izin untuk diperbolehkan menawarkan barang yang dia bawa kepada pengunjung yang datang. Pemilik rumah makan pun membolehkan.

Maka pemuda itu menghampiri meja pelanggan yang paling dekat dengan kasir. Saya mengamatinya. Pemuda itu membawa sebuah kotak plastik berisi makanan yang dia angkat dengan kedua tangannya. Dia bertanya kepada pelanggan apakah mau membeli dagangannya dan dibalas dengan gelengan kepala. Beberapa meja dilalui dan mendapat reaksi serupa. Hingga akhirnya dia mendekat ke meja kami.

Suaranya lirih, entah antara ragu atau sudah menduga akan mendapat jawaban yang sama dengan meja-meja sebelumnya. Dan memang sesuai prediksinya, suami spontan berkata tidak sambil menggelengkan kepala.

Saya mencoba melirik ke kotak yang diusungnya, "Jualan apa?" tanya saya pada suami karena posisi saya memang di ujung meja. Tak terlihat dia membawa dagangan apa, pun tak terdengar dia menjajakan apa.

"Pisang coklat," jawab suami, "Mami tu yang mau." Seolah sudah bisa menebak bahwa saya pasti akan berbinar jika tahu dia jualan pisang coklat. Maka, buru-buru saya membuka dompet, mengambil uang pecahan dan memanggil si pemuda tadi. Kami membeli tiga buah dengan dalih untuk tiga anak, padahal ujung-ujungnya juga bakal saya yang makan semua.

Pisang coklat itu biasa saja sebenarnya. Untuk ukuran kecil dengan harga dua ribu rupiah mungkin standar saja. Bentuknya pun tidak bisa dibilang profesional. Ada satu dari piscok itu justru yang dilipat dengan kurang sempurna. Bentuknya tak jauh beda dengan hasil uji coba saya dan Kak A beberapa waktu lalu saat iseng membuat pisang karamel sendiri di rumah. 

Tapi, case penjual begini memberi nilai berbeda bagi saya. Ada faktor emosi yang dihadirkan penjual agar pembeli mau membeli dagangannya. Emosi yang pertama mungkin iba. Melihat tampangnya yang masih muda, bisa jadi dia adalah mahasiswa rantau yang mencari tambahan uang saku dengan coba-coba membuka usaha. Maka karena unsur kasihan itulah akan ada pembeli yang rela merogok kocek barang dua atau empat ribu rupiah.

Rasa iba juga bisa muncul melihat effort si penjual. Bagaimana malam-malam membawa kotak makanan yang masih terisi lumayan dan harus berjalan menjajakan keliling dari satu rumah ke rumah makan atau menawarkan pada siapapun yang ditemukan di jalan.

Di sini, pembeli menggunakan asas membantu penjual agar dagangannya laku. Dengan begitu penjual tak perlu berjalan jauh. Boleh jadi malah si pembeli akan meniatkan untuk sedekah, karena ada yang beranggapan bahwa salah satu cara membantu orang yang membutuhkan adalah dengan membeli barang dagangannya.

Emosi kedua yang dibangkitkan bisa jadi justru bertolak belakang dari iba. Penjual bisa saja justru membangkitkan emosi bangga atas usahanya. Maka pembeli akan melihat bahwa penjual adalah sosok yang tangguh, pantang menyerah dengan segala ide-ide kreasinya.

Di sini pembeli akan menggunakan asas apresiasi. Dia membeli barang dagangan mungkin tidak karena benar-benar mau, tapi justru karena merasa harus mendukung dan mengapresiasi apa yang sudah diusahakan oleh si penjual.

Terlepas dari itu sebagai pembeli tetap saja perlu menjaga emosi dalam bertransaksi. Terbawa emosi ketika berurusan dengan keuangan tak selamanya baik. Maka, selagi itu aman, lakukan saja, entah karena membantu atau mengapresiasi.

Thursday, 15 February 2024

Konferensi... Akarku Diuji

07:18 0 Comments



Konferensi Perempuan Indonesia? Lega...

Itu kata yang saya ucapkan ketika seluruh panitia diminta mengucapkan satu kata untuk konten terakhir yang dibuat di lokasi KPI sebelum akhirnya kami pulang.

Ada rasa nano-nano bagi saya pribadi ketika konferensi ini berjalan pekan lalu. Bagaimana saya yang baru satu jam sampai di lokasi terpaksa harus kembali pulang ke Solo karena suatu hal. Galau, pasti. Lelah, barangkali. Di sini saya merasakan kekuatan akar itu diuji.

Di perjalanan pulang ketika suami dan anak-anak tertidur, air mata mengalir dengan sendirinya. Sesuatu yang saya persiapkan satu tahun lebih harus saya tinggalkan begitu saja. Padahal satu langkah lagi untuk menyaksikan semua berjalan dan saya menikmati di pojokan, menyaksikan bahwa ini berakhir. Namun ternyata saya diuji untuk berdamai dengan rasa itu. Jelas akar diri saya dipertanyakan. Apakah saya akan egois, ataukah saya menguatkan kondisi diri dan sekitar?

Kecewa, ada setitik tentu saja. Namun bukan berarti saya mempertanyakan takdir yang sudah Allah SWT gariskan. Tidak, saya justru mencari hikmah. Apa makna di balik skenario ini. Namun keputusan cepat harus segera dibuat, dan tak ada pengambilan keputusan terbaik kecuali oleh kendali Allah Ta'ala.

Saya istikharah. Untuk sesuatu yang mungkin dianggap remeh, saya meminta pertimbangan Allah. Ya, karena saya selalu percaya bahwa tak akan menyesal orang yang istikharah dan tak akan kecewa orang yang musyawarah. Maka, demi menetralisir kekecewaan karena harus pulang, saya pun melakukannya dengan dalih agar saya tak menyesal dan tak kecewa.

Musyawarah saya lakukan. Saya bertanya pada bapak dan saran bapak mengatakan saya sebaiknya kembali ke acara. Ya, saya tahu perkara tanggung jawab pada peran memang menjadi value yang kami prioritaskan. Tentu saja tanpa mengesampingkan value keluarga adalah nomor satu.

Pertanyaan kedua saya lontarkan pada Kak A. Diksi jawabannya di luar dugaan, "Namanya sudah takdir. Yang penting semuanya tuntas. Kalau di sini sudah tuntas, gantian acaranya Mami biar tuntas." Materi kajian di hari sebelumnya yang dia ikuti tentang takdir Allah tenyata cukup membekas di hati. Dia memahami bahwa ini bagian dari takdir yang harus dijalani.

Lain halnya dengan Mas Z yang tak berpikir sejauh itu. Tentu saja yang ada dalam bayangannya adalah jika kembali ke acara maka dia bisa berenang sepuasnya, ditambah dengan jalan-jalan di sekitar lokasi. Saya menguji keinginannya itu dengan sebuah pertanyaan, "Tapi kan capek baru sampai Solo sudah harus kembali lagi ke sana." Dengan santai Mas Z menjawab, "Ga capek kan aku juga tidur terus di mobil."

Pun jawaban terakhir dari suami. Beliau mengembalikan keputusan pada saya apakah mau kembali atau di rumah saja. Dia tahu betul bagaimana istrinya menyiapkan ini. Dia tahu jika menjawab tidak akan ada luka di hati. Tapi si satu sisi, dia juga sangat paham konsekuensi jika kami akan kembali. Namun ketika konsekuensi itu kami rundingkan, negosiasi pun kami sepakati.

Di sini saya menyadai kekuatan akar keluarga kami diuji. Saya merasakan betul support system yang mendukung saya. Bukan hanya suami dan anak-anak, bahkan hingga bapak. Sesuatu yang akan saya ingat betul bahwa mereka adalah orang-orang yang memahami saya dan akan selalu mendukung saya.

Maka, kembalilah kami menempuh perjalanan lagi. Sesampai di lokasi reaksi teman-teman bermacam-macam. Ada yang takjub karena saya sudah kembali. Ada yang terharu karena saya kembali lagi. Ada yang kaget tak menyangka saya akan kembali. Mereka mengapresiasi bagaimana saya membagi waktu, membagi peran, membagi prioritas. 

Tidak, padahal bukan itu yang saya kehendaki. Saya kembali bukan karena cinta buta pada sesuatu yang saya geluti. Ada integritas yang menjadi value diri sedang saya hadirkan di sini. Kekuatan akar komunitas jelas sedang diuji. Saya bukan semata-mata memprioritaskan komunitas. Tetapi bagaimana saya bertanggung jawab dengan peran dan menuntaskan apa yang sudah saya mulai.

Masih ada akar ekosistem dan negara yang perlu diuji selanjutnya. Tentunya boleh jadi akan menyambung karena pasca KPI disambut dengan pemilu. Tapi tidak, fokus saya di sini baru sebatas di tiga akar pertama. Dua akar lainnya tidak dibicarakan di sini.

Maka ketika konferensi ini selesai, saya berucap lega... Kekuatan akar diri, keluarga, dan komunitas saya sudah diuji. Dan saya patut lega untuk mengatakan bahwa saya kuat untuk tiga hal ini.

Bagi saya pribadi perjuangan satu tahun lebih di konferensi ini patut untuk disyukuri. Segala rasa sedih, marah, lelah, kecewa, melebur menjadi satu kelegaan dan kebahagiaan karena ini telah berakhir.

Kami tahu bahwa kami tidak bisa menyenangkan semua orang. Kami tahu bahwa akan ada mata yang memandang bahwa rumput sebelah lebih hijau. Tapi itu bukan lagi menjadi soal bagi kami. Menyelesaikan apa yang sudah dimulai dengan high energy ending itu menjadi akhir yang cukup bagi kami.

Kini saatnya melompat lebih tinggi, di manapun kami menantikan pilihan untuk menguatkan akar kami. Bismillah

Thursday, 1 February 2024

Aku Bosan

22:00 0 Comments



Tadi pagi ada obrolan menarik ketika pak sayur keliling lewat di depan rumah. Tetangga depan rumah biasanya selalu menanyakan gembukan alias odading untuk camilan suaminya. Saking sudah menjadi rutinitas setiap hari, tak jarang Pak Sayur menyisihkan odading demi ibu itu, biar tidak dibeli pelanggan lainnya yang sudah dilewati lebih dulu.

Seperti biasa, tadi Pak Sayur pun menyapa dengan tawarannya, "Gembukannya masih, Bu." Di luar dugaan, si ibu yang biasanya akan meraih plastik odading justru menimpali "Wah, pak ku bosen, ora gembukan sik (Wah, suamiku bosan, tidak odading dulu)."

Pak Sayur pun menanggapi, "Ojo meneh gembukan mben dino, nyawang wong bagus mben dino wae yo iso bosen yo mbak (Jangankan odading setiap hari, melihat orang ganteng setiap hari saja bisa bosan ya mbak)", kata bapak itu sambil mengajak kami ngobrol.

"Yo bosen lah, nek ra dikei dhuwit (Ya bosan lah, kalau tidak dikasih uang)," sahut si ibu tadi.

"Kula gadhah rencang. Rumangsaku bojone ki yowes ayu, ning kok yo tetep wae yang-yangan malah karo wong sih ra pathek ayu (Saya punya teman. Menurutku istrinya itu sudah cantik, tapi kok ya tetap pacaran malah sama orang yang ga terlalu cantik)" lanjut Pak Sayur.

Saya yang mendengar obrolan itu hanya menyimak saja sambil tersenyum, tak menimpali sama sekali. Meski ada obrolan berikutnya, secuil percakapan itu cukup menarik bagi saya.

Argumen yang disampaikan Pak Sayur sebenarnya tidak salah. Setiap hari dibelikan odading, ya wajar saja dong kalau bosan. Cuma kalau dipikir-pikir, apa iya sih harus sampai bosan?

Padahal dari kecil kita juga makan nasi setiap hari. Tapi apakah pernah terpikir untuk bosan makan nasi? Sepertinya kok jarang. Kalaupun sesekali malas sarapan nasi dan mau roti misalnya, saat makan siang juga kembali ke nasi lagi. Tentu saja casenya berbeda dengan orang yang berhenti makan nasi karena diet atau memang budaya di daerah tertentu yang tidak terbiasa makan nasi. Tapi yang menjadi sorotan di sini adalah tentang sesuatu hal yang lumrah dan rutin ternyata tak menjadi sebuah kebosanan.

Begitu juga di pernikahan. Apakah pantas muncul istilah bosan karena sudah setiap hari bertemu hingga bertahun-tahun. Layaknya nasi tadi, seharusnya tidak akan bosan kan karena itu sudah menjadi sebuah kelaziman yang harus dijalani. Tapi, kenapa dalam case teman Pak Sayur ada saja yang dihinggapi rasa bosan ini dan tergoda untuk mencoba yang lain?

Kalau menukil tausiyah dari seorang ustadz, pernikahan itu adalah ibadah dalam rentang yang paling lama. Untuk menjaganya tidak hanya cukup dengan dipenuhi sandang, pangan, papan layaknya tanggapan ibu tetangga tadi. Tapi, yang menjadi kunci apakah ibadah panjang ini akan bertahan hingga akhir adalah adanya iman.

Ambil contoh ibadah yang lain yaitu sholat. Kita sudah disyariatkan untuk mendirikan sholat sejak umur 7 tahun. Jika ada iman yang tertanam dalam hati, maka hingga usia puluhan tahun pun sholat akan tetap ditegakkan. Tak akan ada istilah bosan meski dilakukan lima kali dalam sehari.

Begitu juga dengan ibadah pernikahan. Ketika ada iman dalam hati, maka sepanjang apapun jangka ibadah ini tak akan ada bosan ketika dilandasi dengan iman. Karena iman, perasaan yang menggoyahkan pernikahan akan luntur atas dasar percaya dan takzim pada Allah Ta'ala. Atas dasar iman, perasaan seperti bosan akan terganti dengan keyakinan untuk memperbaiki semata-mata mencari ridho Illahi. Justru iman itulah yang akan membangkitkan cinta di hati suami istri untuk terus meremajakan dan saling jatuh cinta lagi. Ini semata-mata karena sadar bahwa pernikahan adalah ibadah, dan sebuah ibadah dilandasi oleh iman.

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, adakah iman di hati? Adakah rasa percaya bahwa odading adalah sajian terbaik yang dibelikan oleh sang istri? Adakah keyakinan bahwa istrinya adalah yang terbaik dibandingkan perempuan lain yang dia pacari? Selama masih ada iman, maka kita akan mengerti bahwa inilah takdir terbaik yang menghampiri. InsyaAllah.

Thursday, 25 January 2024

Ingin Sepertimu

16:45 0 Comments



Seorang tetangga depan rumah bertandang beberapa waktu kemarin. Qodarullah suaminya terkena sakit kanker usus. Roller coaster kehidupan yang tidak pernah kita tahu membuatnya harus berjuang ini itu.

Beliau menceritakan kehiduapannya dengan suami dan kedua anaknya yang sudah remaja. Ibu itu bercerita bagaimana ketika suami kesakitan atau seolah memberikan pertanda. Dengan nada panik beliau menimpali sambil terus menyemangati. Alhamdulillah anak-anaknya telaten dan menurut pada ayah ibunya, sehingga tidak menambah beban tapi menjadi penyejuk jiwa.

Dalam kondisi itu, semuanya berkorban. Si kakak yang akan lulus SMA memilih untuk tidak kuliah dan akan mencari kerja begitu lulus sekolah. Meski ibunya berharap dia mau kuliah, tapi si kakak memilih untuk menunda. Si adik yang juga SMA setia menemani ayahnya dan selalu tetap ceria dengan senyum ramahnya saat menyapa.

Jika sore hari kami bertemu ngobrol santai di depan rumah, tak berapa lama si ibu akan tiba-tiba pamit dengan tersenyum, "Maaf ya, itu pasiennya panggil-panggil". Kami memang tak sering bercakap bersama. Seandainya kebetulan bertemu, biasanya akan diawali "Alhamdulillah pasiennya lagi seneng bisa main hape" atau "baru tidur mb, bisa disambi". Maasya Allah...

Di satu sisi ibu itu bercerita, sebagai buruh pabrik, kondisinya cukup kepontang-panting juga. Apalagi dengan kondisi saat ini, banyak pekerja yang dibuat shift karena minim orderannya katanya. Dan itu tidak terjadi di pabrik dia saja, hampir mayoritas pabrik demikian. Dia hanya masuk 3 hari sekali. Kakaknya di pabrik lain juga dibuat sistem kerja seminggu sekali. Bahkan di pabrik lain ada yang sebulan masuk, sebulan libur. Gimana ga dapat gaji sebulan, begitu katanya.

Lalu beliau menyeletuk, "Saya juga mau mb seperti jenengan,"

Deg! Saya kaget. Konteks kalimatnya di sini membicarakan pekerjaan, padahal saya justru sedang tidak bekerja saat ini.

Saya hanya tersenyum sebagai bentuk tanggapan. Mau menjawab, "Sama saja, Bu" atau mengatakan bahwa ini hanya sawang sinawang, rasanya tidak pantas. Tentu saja saya tidak bisa menafikan kebaikan suami dan mensyukuri segala keberkahan di keluarga ini. Maasya Allah walhamdulillah. Maka saya bersyukur ketika ada yang merasa ingin hidup seperti saya.

Seorang saudara beberapa waktu lalu juga mengomentari hal serupa. Begitu tahu saya resign dari tempat kerja hampir setahun yang lalu, alih-alih mempertanyakan keputusan saya, beliau justru memaklumi. Terlebih ketika kami kumpul bersama dan saya bisa dengan santai mengurus tiga anak sedangkan suami keluar rumah. Mereka heran "Bisa ya ternyata ngurus sendiri di rumah dan suaminya tetap beraktivitas" dan ditimpali sang istri, "Ya, cukup-ono" (Ya cukupilah).

Iya, kuncinya di cukup atau rasa cukup itu sebenarnya. Nominal gaji urusan nanti, tapi ketika ada rasa cukup maka habis sudah semua perkara. Rasanya tenang-tenang saja. Dan rizqi akan datang dari arah mana saja dengan berbekal rasa cukup yang sudah bersemayam di dada.

Maka balik lagi ke kasus ibu tetangga tadi. Terlepas dari satu kalimatnya yang ingin menjadi orang lain, ada berbagai rasa cukup sebenarnya yang beliau miliki. Rasa cukup melihat suaminya tidak kesakitan, cukup dengan anak-anak yang tak membuat masalah, cukup dengan saling support di internal keluarganya.

Bukankah itu saja sudah menghangatkan jiwa? Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Wednesday, 24 January 2024

I Can Hear Your Voice: Merdeka

22:54 0 Comments



Baru-baru ini saya menyelesaikan drama korea berjudul I Can Hear Your Voice. Sebuah drama lawas (tentu saja) yang masuk waiting list karena pernah dispill oleh sesedokter di jagad media. Kebetulan saya juga tertarik dengan tema yang diangkat. Klop sudah menjadi edisi marathon beberapa waktu kemarin.

Drama ini menceritakan seseorang yang tiba-tiba punya kekuatan ajaib bisa mendengar apa yang ada dalam pikiran orang lain. Setiap dia melihat mata lawan bicaranya, maka dia tahu suara-suara apa yang ada di pikirannya meskipun tidak keluar di mulutnya. 

Konflik yang muncul sepanjang drama adalah si tokoh utama bernama Soo Ha ketika kecil mendapati ayahnya dibunuh di depan mata. Ketika ia akan dibunuh, seorang gadis cilik (Hye Sung) menyelamatkannya. Gadis ini kemudian bersaksi di pengadilan dan menjadikan si terdakwa (Joon Gook) mendapat hukuman penjara. Sang pembunuh pun memiliki dendam untuk menghabisi nyawa Hye Sung.

Ada yang menarik dari drama ini. Selain beberapa kasus hukum yang diangkat disajikan dengan apik, beberapa pesan moral juga tersirat di sini. Misalnya, ketika ibu Hye Sung akan dibunuh oleh Joon Gook, dia berkesempatan untuk mengangkat telepon dari putrinya. Alih-alih memberi tahu keadaannya, ibu Hye Sung justru memberikan nasihat kepada putrinya.

Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Kalau di dunia semua seperti ini, maka hukum tak ada gunanya. Orang hidup di dunia ini hanya memiliki waktu singkat untuk mencintai. Jadi kenapa harus memelihara dendam di hati? Orang yang memiliki dendam di hatinya sesungguhnya adalah orang yang iri terhadap kita. Maka daripada membalas dendam, kasihanilah mereka yang menyakitimu karena artinya dia tidak memiliki yang kita miliki. 

Kurang lebih begitu pesannya. Wow, dalem sekali ini!

Pesan di atas mirip dengan teori pemaafan yang disampaikan oleh salah seorang psikolog senior, Kang Asep Chaerul Ghani. Sejatinya luka atau benci atau dendam yang kita miliki adalah sesuatu yang kita kelola sendiri. Artinya jika kita masih memiliki rasa itu, sebenarnya kita sendiri yang rugi karena membiarkan itu ada dan mengganggu kehidupan kita.

Lalu sudut pandang mengasihani oknum yang mengusik kehidupan kita juga sangat menarik. Jika mereka masih ada waktu untuk mengurusi kehidupan kita, artinya mereka sebenarnya iri dengan kita. Lalu kenapa kita harus pusing-pusing dan sibuk untuk menanggapi juga. Kembali lagi, hidup di dunia ini singkat. Alih-alih menanggapi orang-orang yang melukai kita, lebih baik fokus pada kasih sayang dan hidup penuh cinta.

Di scene yang lain diketahui bahwa ternyata Joon Gook membunuh ayah Soo Ha karena dia merasa kecewa donor organ yang seharusnya menjadi hak istrinya justru dialihkan ke ibu Soo Ha. Joon Gook merasa mendapat ketidakadilan setelah dia berusaha susah payah hingga akhirnya istrinya meninggal. Dia menyalahkan ayah Soo Ha dan menganggap bahwa ayah Soo Ha lah yang memulai rangkaian pembunuhan ini.

Poin ini cukup menarik. Seorang suami sejati memang selayaknya memberikan yang terbaik untuk istrinya. Dia sudah berusaha keras dan setia mendampingi istrinya apapun keadannya. Hingga di titik frustasi ketika satu-satunya harapan untuk istri sirna, sangat wajar jika seorang suami yang baik akan merasa bersalah pada istrinya. Ini adalah bentuk tanggung jawab seorang suami, di mana dia mengutamakan istri dibandingkan urusan lainnya.

Namun ketika Joon Gook akan membunuh Hye Sung agar Soo Ha tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicintai, Soo Ha memiliki kontrol diri yang baik. "Aku berbeda. Aku tidak akan menjadi binatang sepertimu." Poin ini menohok Joon Gook.

Ya, sebesar apapun cinta kepada seseorang, akal sehat dan norma tetap tidak bisa dilanggar. Dan kembali lagi, tidak ada dendam yang bersemayam di dalam hati. Soo Ha menunjukkan bahwa dia pribadi yang menang. Dia tidak terpengaruh meski dipojokkan dalam kondisi akan kehilangan kekasih dan punya kesempatan untuk membalas dendam. Tidak, Soo Ha tidak memilih opsi itu. Dia memilih tetap menjadi manusia, dan bukan binatang yang gelap mata menuruti nafsunya.

Begitulah, drama ini membawa pesan untuk bisa menjadi pribadi yang merdeka. Tak perlu terpengaruh dengan dendam atau luka masa lalu, pun jangan berbuat gegabah hanya karena terbawa nafsu. Drama ini mengajarkan kita untuk melepaskan segala kondisi menyakitkan yang kita punya dan tetap berpegang teguh dengan prinsip kebaikan yang ada.

Nice!