Penuh
Sebuah utas melintas di beranda. Isinya tentang ciri-ciri seorang anak yang tangki cintanya penuh di rumahnya. Dia tidak akan gampang tantrum hanya untuk mencari perhatian. Dia tidak akan takut mengakui kesalahan karena tahu bahwa rumah adalah tempat dia merasa aman, dan berbagai ciri yang lain.
Persis tadi pagi saya mendengar juga sebuah video pendek melintas di ponsel suami. Seorang suami tergolong menjadi suami yang beruntung jika memiliki beberapa ciri-ciri. Salah satunya, hubungan yang baik dengan istrinya. Istri yang selalu memeluk dengan spontan, atau istri yang selalu melayani tanpa diminta.
Di hari yang sama, sebuah konten muncul juga di instagram. Isinya tentang kebahagiaan seorang wanita meski sudah beranjak usia 40 tahun. Ciri-cirinya ketika dia bebas merawat diri, tetap bisa belajar, tetap bisa menikmati kesenangan diri.
Saya menarik kesimpulan dari ketiga konten yang bermunculan itu. Entah dari sudut pandang seorang anak, seorang suami, atau seorang istri, ketiganya akan berada dalam kondisi baik-baik saja ketika dirinya sudah penuh.
Ya, Penuh. Ketika seseorang sudah penuh, dia akan merasa cukup dengan apa yang ada pada dirinya. Ketika seseorang sudah penuh, dia tidak akan kalang kabut mencari kekurangan yang masih di luar jangkauannya. Ketika seseorang sudah penuh, yang ada hanya akan syukur dan menikmati kehidupan yang berjalan selanjutnya.
Tetapi untuk mencapai penuh itu tentu banyak sudut pandang yang dijadikan acuan. Salah satunya dengan tangki cinta.
Seseorang meski sudah dilimpahi bahasa cinta receiving gift, mungkin merasa kosong karena tak ada quality time. Seseorang yang sudah dipenuhi acts of service, mungkin kosong karena tak mendapat words of affirmation. Seseorang mungkin sudah selalu mendapat emotional support, tetapi dia kosong akan physical touch. Atau mungkin seseorang sudah mendapat semuanya, sayangnya kosong akan komitmen dan kesetiaan.
Tentu, seluruh tangki cinta itu butuh diisi, meski kadarnya mungkin tak bisa seratus persen sama rata. Yang penting mengusahakan seorang anak, suami, atau istri merasa penuh, tentu menjadi usaha bersama. Betul kan?







