Follow Us @soratemplates

Saturday, 24 October 2026

Luka

12:21 0 Comments

“Kamu ngomongnya jangan kayak gitu, Bu!”

Sebuah kalimat dari lelaki yang bahkan aku tidak kenal persis siapa dia tiba-tiba menyentak gendang telingaku.

Jari-jemariku seketika berhenti menari, kepalaku pun menoleh, berpaling sejenak dari layar komputer yang memang sedari tadi sedang kutatap. Dahiku mengernyit heran, “Ada apa dengan dia?”

Sekian menit sebelumnya, sosok itu baru saja mondar-mandir di sampingku, mengkonfirmasi kondisi pasien dan tampak membutuhkan kepastian segera. Aku yang kebetulan berada di posisi itu menjawab, mungkin terkesan sekenanya, mungkin seperti jawaban normatif saja karena tidak bisa memberikan jawaban seperti yang dia inginkan.

Lantas dia meledak, sambil meninggalkanku yang terpaksa terhenti karena tak menduga apa yang baru saja terjadi.

Aku teringat pesan singkat yang kudapat beberapa waktu sebelumnya. Sebuah kejadian yang seharusnya biasa-biasa saja, akan menjadi memiliki makna berbeda tergantung kondisi orang yang menerimanya. Salah satunya, jika seseorang tersebut membawa luka.

Sepasang Kawan berkelakar saling mengejek atau bahkan hingga body shaming tetap akan baik-baik saja jika di antara keduanya tidak ada luka. Namun beda halnya jika ejekan candaan itu dilontarkan seorang bos kepada dirinya, mungkin dia akan meradang karena ada bekas luka dari sang bos sebelumnya.

Pun pada kondisi tadi. Sebenarnya tanya jawab kami adalah hal yang biasa. Aku pun menjawab biasa pula. Namun satu yang tidak kuantisipasi sebelumnya, dia mungkin membawa luka. Dia mungkin terluka karena harus merawat pasien overtime. Dia mungkin terluka karena sudah menunggu dan bertanya kemana-mana tetapi tidak ada kepastian untuknya. Dia mungkin akan semakin terluka Ketika tidak ada Solusi dan kondisi pasien akan menjadi tanggung jawab dia sepenuhnya.

Apakah artinya aku harus selalu siaga dan peduli dengan kemungkinan luka di setiap manusia? Kurasa tidak. Luka yang sudah terlanjur ada bukan kendali kita. Biarkan dia membentuk fibrin-fibrin penyembuhan luka.

Selagi kita tidak berniat menorehkan garam di atas luka atau buruk lagi menyengaja menyayat luka baru, sudahlah biarkan berlalu. Apakah egois? Tidak. Karena dia pun tak peduli apakah dia menyayat luka baru padaku.