Luka
“Kamu ngomongnya jangan kayak gitu, Bu!”
Sebuah kalimat dari lelaki yang bahkan aku tidak kenal persis
siapa dia tiba-tiba menyentak gendang telingaku.
Jari-jemariku seketika berhenti menari, kepalaku pun
menoleh, berpaling sejenak dari layar komputer yang memang sedari tadi sedang
kutatap. Dahiku mengernyit heran, “Ada apa dengan dia?”
Sekian menit sebelumnya, sosok itu baru saja mondar-mandir di
sampingku, mengkonfirmasi kondisi pasien dan tampak membutuhkan kepastian segera.
Aku yang kebetulan berada di posisi itu menjawab, mungkin terkesan sekenanya,
mungkin seperti jawaban normatif saja karena tidak bisa memberikan jawaban
seperti yang dia inginkan.
Lantas dia meledak, sambil meninggalkanku yang terpaksa
terhenti karena tak menduga apa yang baru saja terjadi.
Aku teringat pesan singkat yang kudapat beberapa waktu
sebelumnya. Sebuah kejadian yang seharusnya biasa-biasa saja, akan menjadi memiliki
makna berbeda tergantung kondisi orang yang menerimanya. Salah satunya, jika
seseorang tersebut membawa luka.
Sepasang Kawan berkelakar saling mengejek atau bahkan hingga
body shaming tetap akan baik-baik saja jika di antara keduanya tidak ada luka. Namun
beda halnya jika ejekan candaan itu dilontarkan seorang bos kepada dirinya,
mungkin dia akan meradang karena ada bekas luka dari sang bos sebelumnya.
Pun pada kondisi tadi. Sebenarnya tanya jawab kami adalah
hal yang biasa. Aku pun menjawab biasa pula. Namun satu yang tidak kuantisipasi
sebelumnya, dia mungkin membawa luka. Dia mungkin terluka karena harus merawat
pasien overtime. Dia mungkin terluka karena sudah menunggu dan bertanya
kemana-mana tetapi tidak ada kepastian untuknya. Dia mungkin akan semakin
terluka Ketika tidak ada Solusi dan kondisi pasien akan menjadi tanggung jawab
dia sepenuhnya.
Apakah artinya aku harus selalu siaga dan peduli dengan kemungkinan
luka di setiap manusia? Kurasa tidak. Luka yang sudah terlanjur ada bukan
kendali kita. Biarkan dia membentuk fibrin-fibrin penyembuhan luka.
Selagi kita tidak berniat menorehkan garam di atas luka atau
buruk lagi menyengaja menyayat luka baru, sudahlah biarkan berlalu. Apakah egois?
Tidak. Karena dia pun tak peduli apakah dia menyayat luka baru padaku.

