Wednesday, 24 January 2024
Monday, 31 October 2022
Beberapa hari terakhir ini saya sedang menonton drama korea Yumi's Cells. Eh, drakor lagi? Haha iya. Telat? Hehe iya juga. Maklum saja, saya bukan drakor addict, yang selalu update dengan drama-drama baru lalu konsisten menuis reviewnya. Bahkan pernah suatu waktu saya mengikuti sebuah drama yang baru on going. Waktu itu saya justru merasa bosan. Sepertinya akan lebih menarik ketika drama itu sudah selesai, lalu saya menyimak secara marathon. Haha, ini karena selera saja.
Begitu juga dengan Yumi's Cells ini. Sejujurnya, saya pun tidak menyimak drakor ini sebelumnya. Saya tahu drama ini karena bertanya pada salah seorang adik kesayangan. Pasalnya waktu itu saya sedang begitu penat dan ingin punya sweet escape sejenak. Tiba-tiba saja langsung terbayang untuk menyimak sebuah drama. Lalu muncullah nama drakor ini sebagai salah satu rekomendasinya.
Meski sekedar sweet escape, ternyata saya sangat menikmatinya. Bahkan drakor yang sudah sampai season dua ini pun dengan rela hati saya simak dari season pertama. Buang-buang waktu? Tidak. Saya menyukainya. Buktinya saya sampai menuliskan kesan saya terhadap drama ini di sini. Bukankah kalau tidak ada kesan maka akan lewat begitu saja?
Kenapa saya begitu terkesan?
Pertama menonton thrillernya, saya cukup bingung. Apa sih ini kok ada gambar-gambar kartunnya segala. Tapi, begitu menonton episode pertama, saya langsun berbinar. Wow, ini sel-sel dalam pikiran yang sedang berbicara ya? Bukankah ini berarti sebuah self talk. Seketika saya pun bersemangat menyimaknya.
Kebetulan sekali beberapa bulan belakangan ini saya memang sedang tertarik dengan tema self talk. Hal-hal yang ada kaitannya dengan pengelolaan pikiran dan semacamnya menjadi concern saya hampir setahun ini. Nah, ketika menemukan drama korea yang berbau self talk, rasanya seperti menemukan cinta sejati. Ah, ini nih drama yang aku mau.
Yang bikin betah bahkan beberapa kali saya tergelak adalah pengemasan self talk ini dibuat dengan animasi. Sel-sel dalam pikiran itu lucu sekali menyampaikan apa yang ingin mereka utarakan. Jika dipikir-pikir rasanya memang serumit itu ketika kita akan memikirkan atau mengucapkan sesuatu. Tapi bisa jadi juga memang selucu itu ketika kita menikmati apa saja yang melintas dalam pikiran kita.
Lalu yang membuat saya semakin relate dengan drama ini adalah di season kedua Yumi mendadak keluar dari kerja dan ingin menjadi penulis. Wow, ini mirip sekali dengan kondisi saya saat ini. Sudah enam bulan ini saya berhenti bekerja. Lalu menjadi pengangguran luntang-luntung seharian di rumah. Yah, meskipun alasan mendasarnya karena ada adik baby, tapi sedikit banyak planning yang ingin saya kerjakan hampir sama dengan Yumi. Saya ingin di rumah dan mulai menulis. Sama persis kan?
Di salah satu scene ketika Yumi meratapi nasibnya kenapa harus keluar kerja dan mulai belajar menulis di usia 33 tahun, saya pun kembali tersenyum simpul. Helow ini mirip sekali dengan saya yang juga tidak menjadi pegawai di usi 32 tahun. Pun ketika Yumi mulai membandingkan kondisinya yang semula digaji tiap bulan dengan keadaannya sekarang yang tanpa penghasilan, sedikit banyak saya pun merasakannya. Yah, tidak memungkiri kalau mendapat penghasilan tetap itu cukup membuat nyaman. Haha
Tapi akhirnya Yumi mendapat debutnya menulis novel. Di poin ini agak sedikit berbeda. Bukankah sebenarnya saya sudah memulai debut saya bahkan sepuluh tahun yang lalu? Tapi, ketika Yumi berada di performa maksimalnya, bagaimana dengan saya yang sudah sepuluh tahun tapi ternyata tidak berprogres signifikan?
Di sini saya justru mendapat booster tersendiri. Yah, mau bagimana lagi. Maksud hati melipir sejenak untuk bersenang-senang, apa daya justru mendapat suntikan semangat untuk kembali berlari kencang.
Haha, bismillah saja. Fighting!
Saturday, 4 June 2022
Saya sedang menonton serial drama korea Green Mother's Club saat ini. Buat emak-emak yang anaknya sudah masuk sekolah seperti saya, drama ini sangat relate dengan kehidupan pribadi saya sendiri.
Tokoh utama drama ini adalah Lee Eun Pyo, seorang calon profesor muda yang tiba-tiba berhenti bekerja karena ulah anaknya mengunggah artikel pribadi di media. Lalu mereka pindah ke lingkungan baru dengan gaya parenting ambisius di sekolah anaknya. Eun Pyo yang memiliki gaya mendidik permisif tanpa memaksakan ini itu pada sang anak dihadapkan pada kenyataan bahwa anaknya membuat ulah dan tidak konsentrasi di kelas. Sang anak dianggap tertinggal dan tak pantas berada di lingkungan high class seperti mereka.
Meski saya baru menyimak sampai episode empat, beberapa scene drama ini seolah menceritakan diri saya sendiri. Eun Pyo sebagai seorang dosen dianggap berpendidikan dan sukses. Lantas seolah menjadi stereotype kalau anaknya pun seharusnya cerdas dan mumpuni layaknya sang ibu. Bukankah ibunya profesor.
Tapi ternyata di awal episode sang anak terkesan tak berpendidikan. Dia tak bisa mengikuti pelajaran. Lantas dengan kondisi itu seolah muncul omongan miring, "Ibunya sibuk dengan dirinya sendiri dan tak peduli dengan pendidikan anaknya."
Jlebb
Rasanya poin ini sedikit menampar. Di kehidupan pribadi kadang kala orang beranggapan begitu juga. Kan anaknya dokter pasti pinter. "Pasti"? Siapa yang membuat kata pasti ini? Lalu ketika sebagai dokter masih berkomitmen untuk praktik, mungkin di satu sisi dia akan terkesan hebat. Namun dengan kesibukannya di ranah publik, ternyata ada pendidikan sang anak yang barangkali harus disesuaikan. Lalu, di poin ini apakah akan menjadi terkesan egois karena tidak totalitas pada akademis anaknya karena sambil memikirkan kariernya?
Lantas ketika sang anak sekolah, ternyata perkembangannya tidak optimal. Dia bukan si anak paling cerdas di kelasnya, yang mungkin berbeda dengan sang ibu yang menjadi primadona di masa sekolahnya. Hingga orang tua lain pun mungkin menyayangkan, apa anak ini tidak pernah belajar dan dididik ibunya di rumah? Belum lagi ketika gaya mendidik yang muncul terkesan berbeda dengan mayoritas orang tua. Stigma aneh dan tidak selevel kemudian muncul seketika.
Diakui atau tidak, perasaan itu muncul ketika Kak A mulai sekolah. Saya dengan paham parenting yang tidak memaksakan calistung pada anak mendadak melongo ketika anak usia 5 tahun sudah bisa membaca buku cerita, menulis, atau membaca mushaf quran. Awalnya merasa tidak ada yang salah, toh memang saya tidak mengajarkannya. Lalu, seperti di serial drama tersebut, muncul rasa bersalah kenapa tidak diajarkan lebih awal. Bukankah anak-anak pada umumnya sudah belajar demikian sejak usianya sangat muda. Bukankah tuntutan akademis memang begitu.
Hanya saja di episode keempat ini muncul fakta bahwa ternyata sang anak sangat jenius. Eun Pyo dipanggil oleh sang guru bahwa anaknya istimewa sehingga harus diperhatikan dengan lebih baik. Begitu juga ketika di tes kecerdasan, ternyata sang anak memiliki kecerdasan 0,01% teratas.
Di sini poinnya. Setiap anak pasti memiliki titik kelebihannya. Hanya saja mungkin orang tua belum bisa menggalinya. Mungkin kita kurang peka, atau karena terlalu memukul rata bahwa semua anak harus pintar secara akademis dan diraih dengan cara yang sama. Padahal burung tidak bisa dinilai jika dia diminta berenang, kuda tak akan dianggap tangguh jika dia diminta memanjat.
Ya, itu PR buat saya. Buat kita semua. Bagaimana kita bisa menemukan kelebihan anak dan membuatnya bersinar tanpa rendah diri karena mungkin berbeda dengan mayoritas anak lainnya. Semoga kita bisa menumbuhkan fitrahnya tanpa mencederainya hanya demi serupa dengan anak pada umumnya. Aamin.
Wednesday, 18 January 2012
Beberapa waktu lalu, saya terlibat diskusi dengan ibu saya. Pada mulanya, saya tak sengaja menemukan hasil psikotes ketika sedang ‘iseng’ merapikan bahan kuliah semester lalu. Di kertas itu tertuliskan beberapa sifat saya berdasarkan tes tersebut. Dan karena iseng pula, saya menunjukkan kertas itu pada ibu. Awalnya hanya minta pendapat, nyatanya ada banyak yang bisa direnungkan dari obrolan ringan kala itu.
Wednesday, 30 November 2011
Monday, 3 October 2011
Thursday, 4 August 2011
Hm, benar juga. Memilih fifty-fifty, sebenarnya memang bukan sebuah pilihan. Karena dengan fifty-fifty itu, kita belum bisa menentukan mana yang akan kita ambil. Mau pilihan A atau pilihan B. Tapi jika kita mengubah 50% A menjadi 0% dan mengubah 50% B menjadi 100%, barulah kita bisa menentukan apa yang akan kita lakukan. Di sinilah pilihan. Memilih B yang sudah jelas 100%.
Masalahnya, menentukan mana 0% dan mana yang 100% memang gampang-gampang susah. Barangkali ada yang sering mengalami dan mengeluh, “Duh, aku terjebak di antara dua pilihan.” Hm, itu baru dua pilihan saja. Belum jika harus memilih di antara sekian pilihan. Pasti lebih sulit lagi jadinya.
Ya, memilih memang hal sulit. Mengapa? Karena ada konsekuensi yang harus diambil dari pilihan itu. Jika kita memilih A, kita akan mengorbankan kebaikan B. Kita juga harus siap menerima kekurangan A, yang bisa jadi itu semua dipenuhi oleh B. Begitu juga sebaliknya. Berat melepaskan B yang walaupun memiliki kekurangan tapi tetap memiliki kelebihan tertentu.
Mungkin, itulah sebabnya mengapa orang sulit untuk memilih. Kita masih cenderung sulit untuk menghadapi konsekuensi yang harus terjadi. Konsekuensi jika melepas kebaikan B dan menerima kekurangan A. Akibatnya, kita jadi masih belum berani menyatakan hitam atau putih, dan cenderung berada di zona abu-abu.
Padahal kalau dipikir-pikir, zona abu-abu pun memiliki konsekuensi. Bisa jadi, konsekuensi yang harus dihadapi justru lebih buruk. Yang terburuk adalah kita justru tidak mendapatkan apa-apa. Kebaikan dari A hilang, kebaikan B pun luput. Mengapa? Karena kita masih ragu-ragu. Padahal kita tahu, sebuah keragu-raguan hendaknya ditinggalkan. Nah, kalo begini, apa mau terus-terusan meninggalkan semua pilihan? Hanya karena tak berani mengambil keputusan di setiap pilihan yang ada. Berarti ujung-ujungnya tak pernah merasakan kebaikan, karena di setiap pilihan pasti akan ada sebuah kebaikan.
Padahal banyak orang bilang kalau hidup adalah sebuah pilihan. Semua hal di hidup ini muncul dari sebuah pilihan. Coba cari, mana yang bukan sebuah pilihan? Mulai dari hal prinsip, seperti memeluk agama, mencari ilmu, mencari kerja. Semua adalah pilihan. Bahkan sampai hal kecil misalnya memilih menu makan saat jajan di luar.
Sayangnya, belum semua mau memilih. Dalam hal makan misalnya. Kalau diajak makan di luar lalu ditanya mau makan apa, terkadang spontan menjawab “terserah”. Ini contoh simpel saja untuk kasus abu-abu. Untungnya ini masih perkara ringan. Kalau tidak berani memilih, paling parah tidak jadi makan. Atau kalau akhirnya hanya ngikut dan tidak sesuai selera, paling buruk hanya mendapat makanan yang kurang sedap saja. Toh begitu sampai di perut sudah tak terasa. Habis perkara.
Tapi, bagaimana jika itu terbiasa hingga berdampak saat harus menghadapi perkara besar? Misalnya ketika harus memilih jodoh. Apa iya, akan tetap menjawab terserah? Dalam hal keyakinan juga misalnya. Apa mau terserah juga? Lantas jika dianalogikan dengan kasus makan tadi. Jika tidak jadi makan karena tak berani memilih, apa lantas tak jadi beriman karena tidak berani memilih juga. Lalu jika asal makan saja sekedar coba-coba, apa lantas juga asal pilih keyakinan saja sekedar coba-coba. Tentu tidak.
Maka, sebuah pilihan memang harus dilakukan. Sebuah konsekuensi memang harus dihadapi. Karena hidup adalah pilihan.
Friday, 22 July 2011
Saturday, 7 May 2011

Tuesday, 3 May 2011
Apakah teman-teman menyadari apa makna di balik kedua kalimat di atas? Mungkin terkesan refleks saja. Sebagai sebuah syukur atau kekaguman karena bisa melihat Tokyo Tower yang sudah mereka idam-idamkan sejak kecil. Namun, di balik kata-kata itu ternyata memberikan dampak yang besar di kemudian hari.
Pada kasus laki-laki, ia berkata, "akhirnya...". Ini menandakan kalau keinginannya baru sebatas di situ saja. Kasus terjadi juga di teman-teman saya. Misalkan sejak SMA ingin sekali kuliah di kedokteran. Begitu diterima, mereka berkata, "akhirnya diterima kedokteran". Simpel. Tapi apa dampaknya? Setelahnya, sikap yang muncul adalah santai. Merasa bahwa perjuangannya untuk meraih kedokteran telah usai.
Lain halnya dengan si wanita pada film tersebut. Ia mengatakan, "ini permulaan..". Ya, tujuannya masih sangat jauh. Diterima di Tokyo hanyalah sebuah segmen untuk mencapai tujuannya. Begitu pula teman-teman saya. Beberapa teman yang memang memiliki keinginan besar, tak akan cukup puas hanya bisa kuliah di kedokteran saja. Tak cukup sekedar bisa masuk dan mengalir mengikuti proses hingga bergelar dokter. Orang yang menganggap kuliah sebagai sebuah permulaan justru akan merasa terpicu untuk lulus tak sekedar menjadi dokter biasa.
Bukti dari statement sederhana kedua tokoh itu muncul di akhir segmen cerita. Ketika kedua orang itu lulus kuliah di Tokyo, pemeran laki-laki belum mendapatkan pekerjaan. Bahkan saat lulus pun ia mengatakan, "akhirnya penderitaan kuliah usai juga". Setelahnya, ia kembali santai dan tidak berusaha untuk mencari pekerjaan. Hingga akhirnya ia menganggur berbulan-bulan. Sedangkan si wanita, begitu lulus dia sudah diterima di sebuah pekerjaan yang sesuai dengan ia idam-idamkan sejak awal.
So, bagaimana dengan Anda? Apakah kuliah adalah akhir dari kukungan sekolah? Ataukah justru permulaan perjuangan yang lebih keras untuk mewujudkan mimpi selanjutnya?
Don't say "Finally", but "Let's start"!
Sunday, 16 May 2010
Hidup tidak akan pernah berubah jika tidak terjadi pemberontakan. Jika hanya mengikuti arus, menjadi orang yang lurus-lurus, semua akan sama. Tak akan ada riak, apalagi berharap gelombang ombak yang menggulung. Banyak yang bilang, kita harus berubah!Saya bertanya, bagaimana akan berubah jika tak ada pemberontakan?
Lihat saja orang-orang berpengaruh yang pernah ada. Lihat Soekarno Hatta. Mereka pemberontak. Pemberontak dari penjajahan Jepang dan berkat pemberontakannya Indonesia berubah menjadi merdeka. Lihat pula tokoh-tokoh reformasi yang dengan pemberontakannya Indonesia dapat lepas dari rezim Orde Baru. Masih ingin menyangkal bahwa kita harus memberontak? Kalau begitu, lihat saja Rasulullah Muhammad SAW. Bukankah beliau pemberontak sejati? Pemberontak pada masa Jahiliyah dengan tidak mengikuti arus kaumnya dan memilih berkhalwat, menyendiri di gua Hira'. Bukankah itu bentuk pemberontakan? Dampaknya, kita bisa merasakan perubahan jahiliyah yang tergantikan dengan manisnya Islam.
Lantas, kenapa tak ada pemberontakan? Banyak hal menjadi sebabnya, tapi yang utama adalah nyali. Tak semua orang punya nyali untuk memberontak dan itu berarti tidak semua orang bisa membuat perubahan. Jelas sudah. Bukankah memang banyak orang yang cenderung suka mengekor. Menganggap lebih baik mengikuti apa yang sudah ada agar tidak dipandang beda lalu terasing hingga terbuang. Hei, rasanya saya pun ingin mengatakan "saya ingin menjadi asing". Terlepas dari manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup sendiri, terkadang kita masih takut dengan bayang-bayang keterasingan. Padahal untuk apa takut asing. Harusnya bersyukurlah orang-orang yang asing. Tidakkah ingat dengan hal ini "Islam berasal dari suatu hal yang asing dan kelak akan kembali menjadi asing. Berbahagialah orang-orang yang asing karena mereka adalah orang-orang yang benar."
Jadi, jika kamu ingin mengubah dunia, berontaklah. Jika kamu tak sanggup, tanyakan pada nyalimu. Bisakah dunia berubah dengan nyali ciutmu?
Terinspirasi dari film Gie...
Saturday, 15 May 2010
Hidup adalah kompetesi. Ya, begitu. Bahkan agar kita bisa lahir pun dibutuhkan kompetesi dari sperma untuk bisa menembus ovum. Jika kalah akan mati dan kompetisi berakhir.
Saya sepakat. Bukankah memang begitu kehidupan yang sesungguhnya? Apa ada hidup yang enak dan nyaman tanpa ada kompetisi? Tidak. Untuk bisa kuliah, harus melewati kompetisi dulu. Untuk mendapat uang dari bekerja, butuh kompetisi dulu. Pun untuk menggapai surga, butuh kompetisi terlebih dahulu. Bukankah ada hadits yang mengatakan berlomba-lombalah dalam kebaikan. Ya! Betapa ini menguatkan bahwa kita memang harus berkompetisi.
Memahami sebuah ilmu. Ilmu tak cukup sekedar dihafalkan, namun ilmu haruslah dipahami. Mengapa? Karena otak kita terbatas. Kita ditakdirkan untuk lupa, maka apa gunanya jika kita hanya menghafal dan tidak paham sama sekali toh akhirnya kita akan lupa. Jadi, pahamilah. Ketika kita paham dengan sebuah ilmu, ilmu akan lebih melekat. Kita pun akan bisa menjelaskannya dengan bahasa yang lebih sederhana. Bukankah itu membantu orang lain untuk lebih memahami ilmu juga? Begitu seharusnya agar ilmu itu menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi bekal kelak di akherat.
Jangan belajar untuk sukses. Belajarlah untuk membesarkan jiwa, menjadi orang besar. Hm..., rasanya ini berhubungan dengan kata kemarin 'jangan berusaha menjadi orang sukses, tapi berusaha menjadi orang bernilai.' Ya, memang begitu karena sukses itu hanya menyertai. So, orientasinya janganlah sukses, tapi proses belajar itu sendiri.
Ketika kita belajar, nikmatilah proses belajar itu plus nikmatilah keindahan ilmu itu. Dengan begitu, belajar akan menjadi lebih indah dan tak memberikan sebuah beban dan tekanan. Tapi ketika belajar itu ditujukan untuk menjadi sukses, otak dan hati akan terpacu untuk mengejar kesuksesan itu. Proses menjadi kurang terasa nikmat, dan keindahan ilmu pun tidak teresapi. Dampaknya, ilmu tak masuk, sukses bisa jadi justru makin menjauh.
Ketika belajar hanya untuk sukses, yang terbayang adalah nilai excellent. Dampaknya, bisa jadi muncul sejuta cara ilegal untuk mewujudkannya. Untuk apa menjadi rangking satu dengan metode seperti itu. Yang dibutuhkan di luar sana adalah 'manusia-manusia' yang menguasai dan menikmatinya ilmunya, dan bukan 'mesin-mesin' yang tertekan dengan kekakuan hafalan ilmunya. So, nikmatilah ilmu.
Jalani hidupmu seperti apa yang kau mau. Takdir memang sudah ditentukan tapi mau jadi apa kita tergantung usaha kita. Tak jarang orang tua berharap kita menjadi orang yang seperti apa, berprofesi apa, berpangkat apa, namun tetap saja ini adalah hidup kita dan kita lah yang berhak untuk menentukannya. Jangan anggap ini suatu hal yang salah dan menjadi sebuah bentuk kedurhakaan. Orang tua tetaplah diperlukan, dalam arti untuk memberikan restu. Ya, karena restu orang tua adalah restu Allah. Tapi, apa yang kita inginkan tentulah kita yang lebih tahu dan kita wajib mengejar itu. Mengapa? Karena ketika melakukan sesuatu yang kita inginkan, kita idam-idamkan, kita cintai, atau kita kuasai, segalanya akan terasa lebih indah. Proses akan menjadi lebih mudah dan secara tidak langsung kesuksesan pun makin di depan mata.
Satu pesan di akhir film "Berpikirlah efisien, maka kesuksesan ada di belakangmu"
Mari Belajar...




