Follow Us @soratemplates

Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Wednesday, 24 January 2024

I Can Hear Your Voice: Merdeka

22:54 0 Comments



Baru-baru ini saya menyelesaikan drama korea berjudul I Can Hear Your Voice. Sebuah drama lawas (tentu saja) yang masuk waiting list karena pernah dispill oleh sesedokter di jagad media. Kebetulan saya juga tertarik dengan tema yang diangkat. Klop sudah menjadi edisi marathon beberapa waktu kemarin.

Drama ini menceritakan seseorang yang tiba-tiba punya kekuatan ajaib bisa mendengar apa yang ada dalam pikiran orang lain. Setiap dia melihat mata lawan bicaranya, maka dia tahu suara-suara apa yang ada di pikirannya meskipun tidak keluar di mulutnya. 

Konflik yang muncul sepanjang drama adalah si tokoh utama bernama Soo Ha ketika kecil mendapati ayahnya dibunuh di depan mata. Ketika ia akan dibunuh, seorang gadis cilik (Hye Sung) menyelamatkannya. Gadis ini kemudian bersaksi di pengadilan dan menjadikan si terdakwa (Joon Gook) mendapat hukuman penjara. Sang pembunuh pun memiliki dendam untuk menghabisi nyawa Hye Sung.

Ada yang menarik dari drama ini. Selain beberapa kasus hukum yang diangkat disajikan dengan apik, beberapa pesan moral juga tersirat di sini. Misalnya, ketika ibu Hye Sung akan dibunuh oleh Joon Gook, dia berkesempatan untuk mengangkat telepon dari putrinya. Alih-alih memberi tahu keadaannya, ibu Hye Sung justru memberikan nasihat kepada putrinya.

Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Kalau di dunia semua seperti ini, maka hukum tak ada gunanya. Orang hidup di dunia ini hanya memiliki waktu singkat untuk mencintai. Jadi kenapa harus memelihara dendam di hati? Orang yang memiliki dendam di hatinya sesungguhnya adalah orang yang iri terhadap kita. Maka daripada membalas dendam, kasihanilah mereka yang menyakitimu karena artinya dia tidak memiliki yang kita miliki. 

Kurang lebih begitu pesannya. Wow, dalem sekali ini!

Pesan di atas mirip dengan teori pemaafan yang disampaikan oleh salah seorang psikolog senior, Kang Asep Chaerul Ghani. Sejatinya luka atau benci atau dendam yang kita miliki adalah sesuatu yang kita kelola sendiri. Artinya jika kita masih memiliki rasa itu, sebenarnya kita sendiri yang rugi karena membiarkan itu ada dan mengganggu kehidupan kita.

Lalu sudut pandang mengasihani oknum yang mengusik kehidupan kita juga sangat menarik. Jika mereka masih ada waktu untuk mengurusi kehidupan kita, artinya mereka sebenarnya iri dengan kita. Lalu kenapa kita harus pusing-pusing dan sibuk untuk menanggapi juga. Kembali lagi, hidup di dunia ini singkat. Alih-alih menanggapi orang-orang yang melukai kita, lebih baik fokus pada kasih sayang dan hidup penuh cinta.

Di scene yang lain diketahui bahwa ternyata Joon Gook membunuh ayah Soo Ha karena dia merasa kecewa donor organ yang seharusnya menjadi hak istrinya justru dialihkan ke ibu Soo Ha. Joon Gook merasa mendapat ketidakadilan setelah dia berusaha susah payah hingga akhirnya istrinya meninggal. Dia menyalahkan ayah Soo Ha dan menganggap bahwa ayah Soo Ha lah yang memulai rangkaian pembunuhan ini.

Poin ini cukup menarik. Seorang suami sejati memang selayaknya memberikan yang terbaik untuk istrinya. Dia sudah berusaha keras dan setia mendampingi istrinya apapun keadannya. Hingga di titik frustasi ketika satu-satunya harapan untuk istri sirna, sangat wajar jika seorang suami yang baik akan merasa bersalah pada istrinya. Ini adalah bentuk tanggung jawab seorang suami, di mana dia mengutamakan istri dibandingkan urusan lainnya.

Namun ketika Joon Gook akan membunuh Hye Sung agar Soo Ha tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicintai, Soo Ha memiliki kontrol diri yang baik. "Aku berbeda. Aku tidak akan menjadi binatang sepertimu." Poin ini menohok Joon Gook.

Ya, sebesar apapun cinta kepada seseorang, akal sehat dan norma tetap tidak bisa dilanggar. Dan kembali lagi, tidak ada dendam yang bersemayam di dalam hati. Soo Ha menunjukkan bahwa dia pribadi yang menang. Dia tidak terpengaruh meski dipojokkan dalam kondisi akan kehilangan kekasih dan punya kesempatan untuk membalas dendam. Tidak, Soo Ha tidak memilih opsi itu. Dia memilih tetap menjadi manusia, dan bukan binatang yang gelap mata menuruti nafsunya.

Begitulah, drama ini membawa pesan untuk bisa menjadi pribadi yang merdeka. Tak perlu terpengaruh dengan dendam atau luka masa lalu, pun jangan berbuat gegabah hanya karena terbawa nafsu. Drama ini mengajarkan kita untuk melepaskan segala kondisi menyakitkan yang kita punya dan tetap berpegang teguh dengan prinsip kebaikan yang ada.

Nice!


Monday, 31 October 2022

Me and Yumi

17:46 0 Comments


Beberapa hari terakhir ini saya sedang menonton drama korea Yumi's Cells. Eh, drakor lagi? Haha iya. Telat? Hehe iya juga. Maklum saja, saya bukan drakor addict, yang selalu update dengan drama-drama baru lalu konsisten menuis reviewnya. Bahkan pernah suatu waktu saya mengikuti sebuah drama yang baru on going. Waktu itu saya justru merasa bosan. Sepertinya akan lebih menarik ketika drama itu sudah selesai, lalu saya menyimak secara marathon. Haha, ini karena selera saja.


Begitu juga dengan Yumi's Cells ini. Sejujurnya, saya pun tidak menyimak drakor ini sebelumnya. Saya tahu drama ini karena bertanya pada salah seorang adik kesayangan. Pasalnya waktu itu saya sedang begitu penat dan ingin punya sweet escape sejenak. Tiba-tiba saja langsung terbayang untuk menyimak sebuah drama. Lalu muncullah nama drakor ini sebagai salah satu rekomendasinya.


Meski sekedar sweet escape, ternyata saya sangat menikmatinya. Bahkan drakor yang sudah sampai season dua ini pun dengan rela hati saya simak dari season pertama. Buang-buang waktu? Tidak. Saya menyukainya. Buktinya saya sampai menuliskan kesan saya terhadap drama ini di sini. Bukankah kalau tidak ada kesan maka akan lewat begitu saja?


Kenapa saya begitu terkesan?


Pertama menonton thrillernya, saya cukup bingung. Apa sih ini kok ada gambar-gambar kartunnya segala. Tapi, begitu menonton episode pertama, saya langsun berbinar. Wow, ini sel-sel dalam pikiran yang sedang berbicara ya? Bukankah ini berarti sebuah self talk. Seketika saya pun bersemangat menyimaknya.


Kebetulan sekali beberapa bulan belakangan ini saya memang sedang tertarik dengan tema self talk. Hal-hal yang ada kaitannya dengan pengelolaan pikiran dan semacamnya menjadi concern saya hampir setahun ini. Nah, ketika menemukan drama korea yang berbau self talk, rasanya seperti menemukan cinta sejati. Ah, ini nih drama yang aku mau.


Yang bikin betah bahkan beberapa kali saya tergelak adalah pengemasan self talk ini dibuat dengan animasi. Sel-sel dalam pikiran itu lucu sekali menyampaikan apa yang ingin mereka utarakan. Jika dipikir-pikir rasanya memang serumit itu ketika kita akan memikirkan atau mengucapkan sesuatu. Tapi bisa jadi juga memang selucu itu ketika kita menikmati apa saja yang melintas dalam pikiran kita.




Lalu yang membuat saya semakin relate dengan drama ini adalah di season kedua Yumi mendadak keluar dari kerja dan ingin menjadi penulis. Wow, ini mirip sekali dengan kondisi saya saat ini. Sudah enam bulan ini saya berhenti bekerja. Lalu menjadi pengangguran luntang-luntung seharian di rumah. Yah, meskipun alasan mendasarnya karena ada adik baby, tapi sedikit banyak planning yang ingin saya kerjakan hampir sama dengan Yumi. Saya ingin di rumah dan mulai menulis. Sama persis kan?


Di salah satu scene ketika Yumi meratapi nasibnya kenapa harus keluar kerja dan mulai belajar menulis di usia 33 tahun, saya pun kembali tersenyum simpul. Helow ini mirip sekali dengan saya yang juga tidak menjadi pegawai di usi 32 tahun. Pun ketika Yumi mulai membandingkan kondisinya yang semula digaji tiap bulan dengan keadaannya sekarang yang tanpa penghasilan, sedikit banyak saya pun merasakannya. Yah, tidak memungkiri kalau mendapat penghasilan tetap itu cukup membuat nyaman. Haha


Tapi akhirnya Yumi mendapat debutnya menulis novel. Di poin ini agak sedikit berbeda. Bukankah sebenarnya saya sudah memulai debut saya bahkan sepuluh tahun yang lalu? Tapi, ketika Yumi berada di performa maksimalnya, bagaimana dengan saya yang sudah sepuluh tahun tapi ternyata tidak berprogres signifikan? 


Di sini saya justru mendapat booster tersendiri. Yah, mau bagimana lagi. Maksud hati melipir sejenak untuk bersenang-senang, apa daya justru mendapat suntikan semangat untuk kembali berlari kencang. 


Haha, bismillah saja. Fighting!


Saturday, 4 June 2022

Anak Biasa dari Ibu Luar Biasa?

09:50 0 Comments
ibu dan anak



Saya sedang menonton serial drama korea Green Mother's Club saat ini. Buat emak-emak yang anaknya sudah masuk sekolah seperti saya, drama ini sangat relate dengan kehidupan pribadi saya sendiri.


Tokoh utama drama ini adalah Lee Eun Pyo, seorang calon profesor muda yang tiba-tiba berhenti bekerja karena ulah anaknya mengunggah artikel pribadi di media. Lalu mereka pindah ke lingkungan baru dengan gaya parenting ambisius di sekolah anaknya. Eun Pyo yang memiliki gaya mendidik permisif tanpa memaksakan ini itu pada sang anak dihadapkan pada kenyataan bahwa anaknya membuat ulah dan tidak konsentrasi di kelas. Sang anak dianggap tertinggal dan tak pantas berada di lingkungan high class seperti mereka.


Meski saya baru menyimak sampai episode empat, beberapa scene drama ini seolah menceritakan diri saya sendiri. Eun Pyo sebagai seorang dosen dianggap berpendidikan dan sukses. Lantas seolah menjadi stereotype kalau anaknya pun seharusnya cerdas dan mumpuni layaknya sang ibu. Bukankah ibunya profesor.


Tapi ternyata di awal episode sang anak terkesan tak berpendidikan. Dia tak bisa mengikuti pelajaran. Lantas dengan kondisi itu seolah muncul omongan miring, "Ibunya sibuk dengan dirinya sendiri dan tak peduli dengan pendidikan anaknya."


Jlebb


Rasanya poin ini sedikit menampar. Di kehidupan pribadi kadang kala orang beranggapan begitu juga. Kan anaknya dokter pasti pinter. "Pasti"? Siapa yang membuat kata pasti ini? Lalu ketika sebagai dokter masih berkomitmen untuk praktik, mungkin di satu sisi dia akan terkesan hebat. Namun dengan kesibukannya di ranah publik, ternyata ada pendidikan sang anak yang barangkali harus disesuaikan. Lalu, di poin ini apakah akan menjadi terkesan egois karena tidak totalitas pada akademis anaknya karena sambil memikirkan kariernya?


Lantas ketika sang anak sekolah, ternyata perkembangannya tidak optimal. Dia bukan si anak paling cerdas di kelasnya, yang mungkin berbeda dengan sang ibu yang menjadi primadona di masa sekolahnya. Hingga orang tua lain pun mungkin menyayangkan, apa anak ini tidak pernah belajar dan dididik ibunya di rumah? Belum lagi ketika gaya mendidik yang muncul terkesan berbeda dengan mayoritas orang tua. Stigma aneh dan tidak selevel kemudian muncul seketika.


Diakui atau tidak, perasaan itu muncul ketika Kak A mulai sekolah. Saya dengan paham parenting yang tidak memaksakan calistung pada anak mendadak melongo ketika anak usia 5 tahun sudah bisa membaca buku cerita, menulis, atau membaca mushaf quran. Awalnya merasa tidak ada yang salah, toh memang saya tidak mengajarkannya. Lalu, seperti di serial drama tersebut, muncul rasa bersalah kenapa tidak diajarkan lebih awal. Bukankah anak-anak pada umumnya sudah belajar demikian sejak usianya sangat muda. Bukankah tuntutan akademis memang begitu.


Hanya saja di episode keempat ini muncul fakta bahwa ternyata sang anak sangat jenius. Eun Pyo dipanggil oleh sang guru bahwa anaknya istimewa sehingga harus diperhatikan dengan lebih baik. Begitu juga ketika di tes kecerdasan, ternyata sang anak memiliki kecerdasan 0,01% teratas.


Di sini poinnya. Setiap anak pasti memiliki titik kelebihannya. Hanya saja mungkin orang tua belum bisa menggalinya. Mungkin kita kurang peka, atau karena terlalu memukul rata bahwa semua anak harus pintar secara akademis dan diraih dengan cara yang sama. Padahal burung tidak bisa dinilai jika dia diminta berenang, kuda tak akan dianggap tangguh jika dia diminta memanjat.


Ya, itu PR buat saya. Buat kita semua. Bagaimana kita bisa menemukan kelebihan anak dan membuatnya bersinar tanpa rendah diri karena mungkin berbeda dengan mayoritas anak lainnya. Semoga kita bisa menumbuhkan fitrahnya tanpa mencederainya hanya demi serupa dengan anak pada umumnya. Aamin.

Wednesday, 18 January 2012

Ekspresikan Aksimu !

07:25 0 Comments


Beberapa waktu lalu, saya terlibat diskusi dengan ibu saya. Pada mulanya, saya tak sengaja menemukan hasil psikotes ketika sedang ‘iseng’ merapikan bahan kuliah semester lalu. Di kertas itu tertuliskan beberapa sifat saya berdasarkan tes tersebut. Dan karena iseng pula, saya menunjukkan kertas itu pada ibu. Awalnya hanya minta pendapat, nyatanya ada banyak yang bisa direnungkan dari obrolan ringan kala itu.

Ada beberapa saran yang dilontarkan ibu. Salah satunya, kata beliau saya harus lebih ekspresif. Ibu bilang, “Makanya, ayo nonton film. Kalau diajak ke bioskop sama ibu ya mbok mau. Biar lebih ekspresif dan belajar banyak hal.”

Saya hanya mengulum senyum.

Kenapa ibu sampai bilang begitu? Diakui atau tidak, kata ibu, saya terlalu asyik dengan dunia saya sendiri. Dunia baca tulis adalah dunia yang egois. Dunia yang asing dan senyap. Hanya asyik sendiri untuk membaca atau menulis. Dan kata ibu, itu kurang ekspresif. Yah, memang ekspresi kita tertuang dalam tulisan, tapi lagi-lagi itu adalah keegoisan.

Mungkin dulu saya tak pernah menonton film. Daftar referensi perfilman saya pun semua terjadi karena orang-orang di sekitar saya. Saat SMA, seorang sahabat merekomendasikan film untuk saya tonton dan kami mendiskusikannya. Lalu ketika di UI dulu, beberapa teman yang maniak film sesekali mengajak saya nonton atau memberikan softfile film pada saya. Seorang sahabat berkata, “Ah, ngomongnya ga pernah nonton film, nyatanya penikmat film juga.” Tanggapan saya? Hanya tersenyum malu karena tak menyangka saya akan begitu ekspresif menikmatinya.

Ketika di UNS seorang teman mengiming-imingi saya film tentang kedokteran. Dan tak disangka, saya sedikit ketagihan. Secara beruntun teman-teman pun mulai memberi saya softfile film. Yah, saya sangat bergantung pada teman saya untuk rekomendasi film apa yang sebaiknya saya tonton. Syaratnya cuma satu, harus ada pelajarannya, harus ada filosofinya.

Hingga beberapa waktu saya melupakan beberapa softfile film yang masih memenuhi harddisk laptop saya. Saya makin asyik dengan dunia egois saya. Hingga suatu ketika dunia film kembali mengusik.

Seorang teman meminta sebuah cerpen saya untuk dijadikan film. Sudah lama saya tak menggoreskan pena atau menekan keyboard untuk sebuah cerpen. Maka ekspresi saya pun biasa-biasa saja. Tapi begitu film itu jadi dan saya menyaksikannya (terlebih ketika film itu menerima penghargaan), lagi-lagi ada sebuah rasa membuncah. Teman saya berkata, “Hm, sepertinya harus banyak-banyak dicekoki film nih.” Saya pun hanya tertawa mendengar saran konyolnya.

Dan tadi malam saya tak bisa tidur. Karena kemarin seorang teman main ke rumah dan lagi-lagi memberi saya softfile film, maka saya memutuskan untuk menonton film itu.

Apa perasaan saya setelah menonton film itu? Ekspresif. Ya, saya merasa diri saya lebih ekspresif. Ada sebuah semangat meletup-letup dari film itu. Ada beberap quote yang saya suka di film itu. Dan saya mengenang beberapa film yang pernah saya tonton. Ada banyak pelajaran yang bisa saya petik dari kisah haru ataupun cerita mendebarkan di setiap film yang saya saksikan.

Kiranya benar apa kata ibu, “Lihat film, biar lebih ekspresif dan banyak belajar.” Sepertinya benar kata sahabat saya, “Sebenarnya kamu itu penikmat film juga,” Dan agaknya saya sepakat dengan teman saya, “Harus dicekoki banyak film nih.”

Yah, mungkin tujuan saya menulis ini tidak semata-mata mengajak untuk menonton film, tapi lebih untuk mengajak bagaimana bisa berekspresi. Tak masalah seperti apa ekspresinya. Contohnya teman saya yang waktu main ke rumah kemarin menyanyikan lagu ciptaannya. Itu bentuk ekspresinya. Atau sejatinya menulis pun menjadi wujud ekspresi perasaan dari jiwa.

Apapun itu, mari kita buat hidup kita lebih ekspresif. Karena ekspresif itu menyenangkan, membuat hati lebih ringan dan menjalani kehidupan dengan nyaman. Dan mari kita banyak belajar dari kehidupan melalui ekspresi yang begitu banyak mengandung pelajaran. Agar kita lebih bijak menjalani hidup ini lewat pelajaran yang dipetik dengan penuh ekspresif. Yup, ekspresikan aksimu!


PS: Terima kasih untuk semuanya, yang telah memberikan wahana bagi saya untuk belajar mengekspresikan diri.
Btw, film apa ya yang harus saya tonton liburan ini? Hm… :)


Wednesday, 30 November 2011

Galau? Temukan Inner Peace-mu!

19:58 11 Comments
Bagi Anda yang suka mengikuti film di bioskop, mungkin tidak asing dengan film Kungfu Panda II. Sebuah film animasi menceritakan pendekar dengan wujud hewan yang sarat dengan posan moral. Beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri untuk menonton film tersebut. Saya mendapatkan sebuat kata-kata mantra, 'inner peace'.

Dalam film tersebut, Po sebagai pendekar panda sedang merasakan kegalauan karena penasaran ingin tahu siapa orang tua kandungnya. Karena pikirannya yang tidak tenang itulah, Po pun kalah saat bertarung. Pada saat itu Po menyadari pentingnya inner peace yang diajarkan gurunya. Ketika pikirannya tak fokus, dengan mudah musuh menyerang. Ketika hatinya tak tenang, dengan gampanganya musuh mendapat kemenangan.

Lalu Po pun introspeksi diri. Dia melupakan ambisinya untuk menemukan siapa orang tuanya. Akhirnya dia kembali mendapatkan ketenangan dirinya dan memenangkan pertarungan.

Saya merefleksikan adegan film tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika pikiran dan perasaan tidak tenang, dengan mudahnya musuh-musuh berupa rentetan masalah akan menang menyerang kita, membuat kita kalah dan tenggelam dalam kegalauan.

Banyak orang yang akhir-akhir ini merasa galau, bahkan kata galau menjadi kata sifat paling populer yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Resah diibaratkan galau, stress disamakan dengan galau. Sedikit-sedikit orang merasa kalau dirinya galau.

Saya sendiri merasa heran. Mengapa dengan mudahnya orang merasa galau? Padahal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, galau adalah kacau tidak karuan dari segi pikiran. Apakah sedemikian banyaknya orang yang pikirannya kacau?

Menurut saya, galau bisa terjadi ketika kita tidak memiliki inner peace. Pikiran dan hati kita tak tenang sehingga yang ada hanyalah kegalauan. Ketika jadwal kegiatan begitu padat, kita menjadi tidak tenang karena dituntut untuk segera menyelesaikan. Kita pun menjadi galau. Ketika kita menginginkan atau membutuhkan sesuatu dan segala usaha yang kita lakukan belum membuahkan hasil, kita pun menjadi galau.

Ya, galau menandakan hati kita tidak tenang. Bisa karena hati kita terlalu berambisi untuk mengejar sesuatu sehingga kita memaksa hati untuk bergolak. Pergolakan yang terlalu keras tentu menghilangkan ketenangan yang ada dalam diri kita.

Terlepas dari itu, hati yang galau bisa jadi karena sejatinya memang tidak ada inner peace dalam diri kita. Meski tak ada masalah, tak ada kesibukan, tetap saja hati ini tidak tenang. Hm, berarti memang ada yang salah dalam diri kita.

Barangkali ada yang ingat dengan syair yang dilantunkan penyanyi religi beberapa tahun lalu. “Bila hati gelisah, tak tenang, tak tentram. Bila hatimu goyah, terluka, merana. Jauhkah hati ini dari Tuhan, dari Allah. Hilangkah dalam hati, dzikirku, imanku?”

Syair ini rasanya tepat jika disampaikan pada mereka yang mengaku sedang galau. Apakah hati sedang jauh dari Allah? Wajar kiranya jika hati tak tenang karena jauh dari Allah. Tentunya jika dekat dengan Allah, kita akan menyerahkan segala urusan kita pada-Nya. Kalau sudah begini, tentunya tak ada lagi kegalauan yang mendera. Bukankah urusan kita telah diserahkan pada Allah sedangkan Allah adalah maha segalanya. Pasti urusan kita akan selesai dan tak ada apa-apanya di mata Allah.

Tanyakan juga, hilangkah dzikir dan iman dalam hati? Ya, orang yang memiliki iman tentunya percaya bahwa Allah akan selalu menolongnya. Tetapi jika kita tidak memiliki iman, bagaimana kita akan percaya kalau Allah akan menolong kita?

Demikian pula jika kita jarang berdzikir. Jika kita tak pernah berdzikir mengingat Allah, wajar saja kita lupa bahwa ada Allah yang akan menolong kita. Karena kita lupa dan tak percaya bahwa ada Allah yang akan membantu, kita lantas merasa bahwa urusan ini adalah urusan diri kita sendiri. Pikiran pun semakin berat dan hati semakin kacau. Pantas kiranya kalau galau semakin mendera.

Maka, lakukanlah introspeksi seperti yang dilakukan Po dalam film Kungfu Panda II. Mari kita introspeksi, apakah yang membuat hati kita tak tenang. Apakah benar jika kita telah jauh dari Allah? Ataukah memang semakin hilang dzikir dan iman dalam hati kita?

Temukan jawabannya dalam hati kita masing-masing. Jika memang kita merasa jauh dari Allah, mendekatlah. Selangkah kita mendekat pada Allah, beribu langkah Allah akan mendekat pada kita. Kalau sudah begini, tak akan ada lagi rasa tak tenang dalam jiwa.

Perbanyak mengingat Allah dalam setiap kesempatan dan serahkan segala urusan dengan penuh kepercayaan pada Allah. Niscaya hati akan merasa tenang. Bukankah Allah telah menjanjikan akan memberi rasa tenang jika kita selalu mengingat-Nya?

So, buang jauh rasa galau. Temukan inner peace-mu dengan Allah di hatimu.


Monday, 3 October 2011

Pelan-pelan Saja

23:07 2 Comments
Ada sebuah pelajaran yang saya peroleh dari film korea Dream High yang tayang beberapa waktu lalu di Indosiar. Film tersebut merupakan film korea tentang sekolah musik atau menyanyi. Pada suatu adegan, tokoh A telah sukses mendapatkan debut. Jalan yang diraihnya terasa mudah sekali. Sedangkan tokoh B, dia mengalami kegagalan berkali-kali. Tokoh B hampir patah semangat, tapi sang guru berkata, “Tidak masalah kita berjalan lambat. Lihat saja, dari kalian berdua, siapa yang akan lebih berhasil? Orang yang berjalan cepat atau orang yang berjalan lambat. Saya percaya, orang yang berjalan lebih lambat akan lebih berhasil. Karena dia memiliki kesempatan untuk melihat lebih banyak.” Hm…, menarik!

Secara spontan saja, kata-kata itu mengingatkan saya pada segudang audisi penyanyi yang sejak beberapa tahun terakhir memenuhi layar televisi. Puluhan orang telah dinyatakan lulus. Tak sedikit pula yang meraih gelar juara. Tapi, kalau sekarang diingat-ingat lagi, ke mana perginya mereka semua? Rasanya mereka hanya tenar ketika sedang berjuang itu saja. Selepasnya? Blaaar…, menguap. Hanya beberapa saja yang bisa eksis dengan perjuangannya sendiri.

Ada yang menarik di sini. Suatu hal yang instan sepertinya tidak bertahan lama. Seperti pembuatannya. Dibuat secara instan, berakhir pula dengan instan.

Saya jadi teringat komentar guru saya. Sekarang manusia itu sukanya instan. Mau jadi penulis, pinginnya instan. Bikin tulisan, jadi buku. Bahkan bukan tak mungkin akan mengerahkan segala cara untuk memenuhi keinstanannya. Padahal instan belum tentu bagus. Saking ingin instannya, penulis cenderung manja. Malas ngedit, malas belajar. Inginnya begitu tulisan jadi, langsung jadi buku.

Hm, cukup menohok sekali. Tapi saya setuju kata-kata yang menyebutkan kalau instan belum tentu bagus. Lihat saja mie instan. Memang dari segi waktu sangat praktis, tapi dari segi kesehatan jika dikonsumsi terus-menerus jelas tidak bagus. Berarti yang instan ga bagus kan.

Memang, ada pepatah yang bilang lebih cepat lebih baik. Tapi lebih cepat yang bagaimana dulu. Kalau cepat dalam arti instan yang tidak baik, atau justru terkesan tergesa-gesa, justru jadi tidak baik. Boleh saja cepat, asal kecepatan itu kecepatan yang baik.

Intinya, bagaimanapun suatu proses itu tetap penting. Kalau dalam waktu cepat tapi proses yang dilalui sudah cukup ya tak masalah. Tapi jika memang belum, lebih baik sedikit mengambil waktu dulu. Karena dalam waktu ya dilalui bisa jadi ada sebuah pengalaman baru atau informasi baru yang justru akan mendulang kesuksesan itu.

So, ayo berproses. Entah lebih cepat lebih baik, atau pelan-pela saja.

Thursday, 4 August 2011

Mengubah 50%

07:49 0 Comments
Ada hal menarik yang lagi-lagi saya dapat dari film korea beberapa waktu lalu, yaitu tentang menentukan sebuah pilihan. Di sebuah adegan, tokoh wanita dihadapkan pada pilihan untuk pindah ke Amerika atau tetap mengejar mimpi di Korea. Ketika ditanya, dia menjawab 50% memilih Amerika dan 50% memilih Korea. Lalu, seorang tokoh pria menyanggahnya. Dia mengatakan kalau 50% itu bukan sebuah pilihan. 50% harus diubah menjadi 0% atau 100%. Barulah itu dikatakan sebagai sebuah pilihan.

Hm, benar juga. Memilih fifty-fifty, sebenarnya memang bukan sebuah pilihan. Karena dengan fifty-fifty itu, kita belum bisa menentukan mana yang akan kita ambil. Mau pilihan A atau pilihan B. Tapi jika kita mengubah 50% A menjadi 0% dan mengubah 50% B menjadi 100%, barulah kita bisa menentukan apa yang akan kita lakukan. Di sinilah pilihan. Memilih B yang sudah jelas 100%.

Masalahnya, menentukan mana 0% dan mana yang 100% memang gampang-gampang susah. Barangkali ada yang sering mengalami dan mengeluh, “Duh, aku terjebak di antara dua pilihan.” Hm, itu baru dua pilihan saja. Belum jika harus memilih di antara sekian pilihan. Pasti lebih sulit lagi jadinya.

Ya, memilih memang hal sulit. Mengapa? Karena ada konsekuensi yang harus diambil dari pilihan itu. Jika kita memilih A, kita akan mengorbankan kebaikan B. Kita juga harus siap menerima kekurangan A, yang bisa jadi itu semua dipenuhi oleh B. Begitu juga sebaliknya. Berat melepaskan B yang walaupun memiliki kekurangan tapi tetap memiliki kelebihan tertentu.

Mungkin, itulah sebabnya mengapa orang sulit untuk memilih. Kita masih cenderung sulit untuk menghadapi konsekuensi yang harus terjadi. Konsekuensi jika melepas kebaikan B dan menerima kekurangan A. Akibatnya, kita jadi masih belum berani menyatakan hitam atau putih, dan cenderung berada di zona abu-abu.

Padahal kalau dipikir-pikir, zona abu-abu pun memiliki konsekuensi. Bisa jadi, konsekuensi yang harus dihadapi justru lebih buruk. Yang terburuk adalah kita justru tidak mendapatkan apa-apa. Kebaikan dari A hilang, kebaikan B pun luput. Mengapa? Karena kita masih ragu-ragu. Padahal kita tahu, sebuah keragu-raguan hendaknya ditinggalkan. Nah, kalo begini, apa mau terus-terusan meninggalkan semua pilihan? Hanya karena tak berani mengambil keputusan di setiap pilihan yang ada. Berarti ujung-ujungnya tak pernah merasakan kebaikan, karena di setiap pilihan pasti akan ada sebuah kebaikan.

Padahal banyak orang bilang kalau hidup adalah sebuah pilihan. Semua hal di hidup ini muncul dari sebuah pilihan. Coba cari, mana yang bukan sebuah pilihan? Mulai dari hal prinsip, seperti memeluk agama, mencari ilmu, mencari kerja. Semua adalah pilihan. Bahkan sampai hal kecil misalnya memilih menu makan saat jajan di luar.

Sayangnya, belum semua mau memilih. Dalam hal makan misalnya. Kalau diajak makan di luar lalu ditanya mau makan apa, terkadang spontan menjawab “terserah”. Ini contoh simpel saja untuk kasus abu-abu. Untungnya ini masih perkara ringan. Kalau tidak berani memilih, paling parah tidak jadi makan. Atau kalau akhirnya hanya ngikut dan tidak sesuai selera, paling buruk hanya mendapat makanan yang kurang sedap saja. Toh begitu sampai di perut sudah tak terasa. Habis perkara.

Tapi, bagaimana jika itu terbiasa hingga berdampak saat harus menghadapi perkara besar? Misalnya ketika harus memilih jodoh. Apa iya, akan tetap menjawab terserah? Dalam hal keyakinan juga misalnya. Apa mau terserah juga? Lantas jika dianalogikan dengan kasus makan tadi. Jika tidak jadi makan karena tak berani memilih, apa lantas tak jadi beriman karena tidak berani memilih juga. Lalu jika asal makan saja sekedar coba-coba, apa lantas juga asal pilih keyakinan saja sekedar coba-coba. Tentu tidak.

Maka, sebuah pilihan memang harus dilakukan. Sebuah konsekuensi memang harus dihadapi. Karena hidup adalah pilihan.


Friday, 22 July 2011

Sampaikan Dari Lubuk Hati Terdalam

09:27 0 Comments
Beberapa teman saya berkata, “Menulis itu susah”. Hm, benarkah? Bukankah tinggal memegang alat tulis saja, lalu menggoreskannya ke sebuah media? Jadilah sebuah tulisan. Hehe, saya bercanda. Memang, menulis yang baik dalam arti membuat sebuah karya yang baik itu bukan semata-mata hal yang mudah. Bagi penulis pemula seperti saya, untuk membuat tulisan bisa dikatakan baik pun harus berjuang ekstra. Tapi, tak perlu berkecil hati. Ada sebuah tips menulis yang saya adopsi dari sebuah film korea favorit saya.
Di film Dream High yang tayang di salah satu stasiun TV beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah pelajaran. Film itu memang tidak mengajarkan bagaimana cara menulis, tapi dia menceritakan bagaimana cara menjadi seorang penyanyi. Tapi tak ada salahnya kita adopsi. Pada salah satu adegan, guru menyanyi dalam film itu mengajarkan pada murid-muridnya untuk berlatih berekspresi. Beberapa orang mulai bisa berakting. Ketika musiknya sendu, mereka terlihat melankoli. Begitu musiknya menghentak-hentak, mereka tertawa dan terlihat riang. Namun, ada seorang siswi yang ekspresi wajahnya datar saja. Guru itu berkata, “Kau tau kenapa kau gagal dalam audisi? Padahal suara dan teknik bernyanyimu jauh lebih bagus daripada murid lainnya.” Murid itu hanya menggeleng. Baginya, sejak awal dewan juri saja yang tidak tahu kualitas vokalnya. Guru itu pun melanjutkan, “Karena kamu tidak memiliki ekspresi. Tidak ada muatan emosi dari hati yang ingin kau sampaikan dalam lagu yang kau nyanyikan.” Hm…, menarik.
Jika kita mengadopsinya dalam dunia tulis-menulis, kurang lebih sama saja. Kita bisa ‘kalah’ dan tulisan kita dianggap buruk karena kita tidak melibatkan hati. Mungkin saja teknik kita sudah mumpuni, pengalaman kita sudah terlalu banyak makan asam garam. Tapi, karena tidak ada muatan emosi dalam tulisan yang kita buat, orang yang membaca akan merasa biasa-biasa saja. Tidak salah juga jika akhirnya tulisan kita dikategorikan dalam tulisan ala kadanya.
Tapi, menulis dengan hati sepertinya juga susah. Barangkali masih saja ada yang pesimis berpikir begitu. Oke, simak adegan selanjutnya di film tersebut. Murid itu lantas mencari segala cara untuk bisa menyanyi dengan ekspresi. Kata temannya, itu bisa saja jika dia jatuh cinta. Tapi, dia menyangkal. Dia tidak mungkin jatuh cinta saat itu. Lalu dalam suatu pelajaran, gurunya berkata, “Bukan masalah lagu apa yang ingin kau nyanyikan, tapi apa yang ingin kau sampaikan pada seseorang. Itulah cara untuk menyanyi dari hati.”
Hm, benar juga kan. Dalam kondisi jatuh cinta, orang serasa produktif untuk berkarya. Jutaan puisi bisa terangkai dengan mudahnya ketika jatuh cinta. Yang biasanya tak pernah menulis surat, jadi bisa menulis surat cinta begitu panjangnya. Coba kalau diproduktifkan. Bisa jadi terbiasa menulis surat pembaca ke media kan. Hehe…
Lalu kata-kata guru tadi, “Bukan masalah lagu apa yang ingin dinyanyikan, tapi apa yang ingin disampaikan pada seseorang.” Sepertinya ini masuk juga jika diaplikasikan pada dunia tulis-menulis. Tak masalah tulisan apa yang akan kita tulis, yang lebih penting adalah apa yang ingin kita sampaikan pada pembaca.
Ambil contoh begini. Ketika kita memiliki sebuah opini, kita bisa menuliskannya dalam beberapa cara. Bisa menjadi sebuah puisi, sehingga orang terkesan dengan kata-kata puitis kita dan memahami makna yang terkandung di dalamnya. Bisa juga dengan membuatnya menjadi sebuah cerpen. Hingga orang menikmati jalan ceritanya dan mengambil hikmah dari kisah yang ada. Bisa juga dibuat menjadi sebuah essay. Yang meski terlihat kaku dan resmi, tapi dengan jelas memberikan opini kita dengan penguatan bukti. Hingga orang mengangguk-anggukan kepala karena paham dengan opini kita. Atau bisa juga dengan tulisan refleksi seperti yang saya tulis ini. Hingga orang mengetahui secara langsung sudut pandang saya dan menggumam untuk memikirkan opini dari sudut pandangnya. Nah, bukankah ada begitu banyak cara untuk menuliskan sebuah opini saja?
Jadi kuncinya adalah apa yang ingin kita sampaikan pada pembaca. Apa yang membuat kita tergerak untuk menuliskan itu untuk pembaca. Karena dengan muatan keinginan itulah, emosi kita akan terbentuk. Sebuah emosi atau keinginan untuk membuat orang lain merasakan dan menyadari apa yang kita sampaikan. Dengan begitu, tulisan kita akan bisa dirasakan dan diterima oleh orang lain. Karena mampu dirasakan orang lain, dengan sendirinya tulisan kita akan dinilai sebagai tulisan yang bagus.
So, untuk teman-temanku yang sedang menulis, apa yang ingin kau sampaikan padaku?


Saturday, 7 May 2011

Smile Naturally

13:08 2 Comments


Taukah Anda bahwa senyum itu tak bisa dipaksa? Ups, maksudnya senyum yang manis. Senyum yang benar-benar cute dan memancarkan ketulusan hati. Oke oke.., kita memang bisa dipaksa untuk tersenyum. Namun yang tercipta adalah senyum yang aneh. Bahkan tak jarang justru senyum menyeringai. Hiii…, niatnya mau tersenyum malah menakuti-nakuti. Nah lo, ga pingin kejadian seperti itu kan? So, simak nih kenapa kita bisa tersenyum manis atau menyeringai.
Ketika kita secara spontan ingin tersenyum, bagian otak yang bekerja adalah area di lobus frontalis (bagian depan otak). Lobus frontalis secara dramatis akan memberikan sinyal kepada sekitar 50 otot wajah untuk siap tersenyum. Itulah mengapa, tak hanya bibir yang terlihat tersenyum. Tapi mata pun akan ikut ‘tersenyum’ dan begitu pula semua otot yang ada di wajah sehingga terciptalah senyum yang manis.
Namun sebaliknya. Jika kita disuruh untuk tersenyum alias bukan keinginan kita untuk tersenyum, bagian otak yang bekerja adalah sistem motoriknya. Padahal sistem motorik tidak bisa memerintah otot-otot wajah dengan baik. Yang ada justru otot-otot itu berusaha melawan. Akibatnya meski otot-otot itu tertarik ke tepi, yang terlihat justru suatu hal yang aneh atau menyeramkan.
Hm…, ternyata simpel sekali mengapa kita bisa tersenyum manis atau menyeramkan. So, tersenyumlah secara spontan. Senyum yang tulus dari dalam hati dan bukan karena paksaan. Karena senyum ibadah itu adalah senyum manis yang menentramkan, dan bukan senyum aneh yang menakutkan.

adapted from Film Mr.Brain

PS:
Untuk sahabat sejatiku miss keep smiling, apakah wajahku juga aneh jika kau memaksaku untuk tetap tersenyum? Hehe..
Aku tak akan memintamu untuk tersenyum karena aku hanya ingin melihat senyum manismu, meski aku teramat ingin melihat senyummu.


Tuesday, 3 May 2011

Kuliah Itu Awal atau Akhir?

20:12 4 Comments
Terinspirasi dari sebuah film jepang berjudul Tokyo Tower. Terkisah seorang laki-laki desa yang sangat ingin berkuliah di Tokyo. Begitu sampai di Tokyo dan melihat Tokyo Tower, dia merasa senang luar biasa. "Akhirnya, sampai di Tokyo," begitu katanya. Tapi di sampingnya duduk seorang wanita yang juga mahasiswa baru dari daerah. Wanita itu justru berkata, "Ini awal dari segalanya."

Apakah teman-teman menyadari apa makna di balik kedua kalimat di atas? Mungkin terkesan refleks saja. Sebagai sebuah syukur atau kekaguman karena bisa melihat Tokyo Tower yang sudah mereka idam-idamkan sejak kecil. Namun, di balik kata-kata itu ternyata memberikan dampak yang besar di kemudian hari.

Pada kasus laki-laki, ia berkata, "akhirnya...". Ini menandakan kalau keinginannya baru sebatas di situ saja. Kasus terjadi juga di teman-teman saya. Misalkan sejak SMA ingin sekali kuliah di kedokteran. Begitu diterima, mereka berkata, "akhirnya diterima kedokteran". Simpel. Tapi apa dampaknya? Setelahnya, sikap yang muncul adalah santai. Merasa bahwa perjuangannya untuk meraih kedokteran telah usai.

Lain halnya dengan si wanita pada film tersebut. Ia mengatakan, "ini permulaan..". Ya, tujuannya masih sangat jauh. Diterima di Tokyo hanyalah sebuah segmen untuk mencapai tujuannya. Begitu pula teman-teman saya. Beberapa teman yang memang memiliki keinginan besar, tak akan cukup puas hanya bisa kuliah di kedokteran saja. Tak cukup sekedar bisa masuk dan mengalir mengikuti proses hingga bergelar dokter. Orang yang menganggap kuliah sebagai sebuah permulaan justru akan merasa terpicu untuk lulus tak sekedar menjadi dokter biasa.

Bukti dari statement sederhana kedua tokoh itu muncul di akhir segmen cerita. Ketika kedua orang itu lulus kuliah di Tokyo, pemeran laki-laki belum mendapatkan pekerjaan. Bahkan saat lulus pun ia mengatakan, "akhirnya penderitaan kuliah usai juga". Setelahnya, ia kembali santai dan tidak berusaha untuk mencari pekerjaan. Hingga akhirnya ia menganggur berbulan-bulan. Sedangkan si wanita, begitu lulus dia sudah diterima di sebuah pekerjaan yang sesuai dengan ia idam-idamkan sejak awal.

So, bagaimana dengan Anda? Apakah kuliah adalah akhir dari kukungan sekolah? Ataukah justru permulaan perjuangan yang lebih keras untuk mewujudkan mimpi selanjutnya?

Don't say "Finally", but "Let's start"!

Sunday, 16 May 2010

Aku Ingin Memberontak

18:19 0 Comments

Hidup tidak akan pernah berubah jika tidak terjadi pemberontakan. Jika hanya mengikuti arus, menjadi orang yang lurus-lurus, semua akan sama. Tak akan ada riak, apalagi berharap gelombang ombak yang menggulung. Banyak yang bilang, kita harus berubah!Saya bertanya, bagaimana akan berubah jika tak ada pemberontakan?

Lihat saja orang-orang berpengaruh yang pernah ada. Lihat Soekarno Hatta. Mereka pemberontak. Pemberontak dari penjajahan Jepang dan berkat pemberontakannya Indonesia berubah menjadi merdeka. Lihat pula tokoh-tokoh reformasi yang dengan pemberontakannya Indonesia dapat lepas dari rezim Orde Baru. Masih ingin menyangkal bahwa kita harus memberontak? Kalau begitu, lihat saja Rasulullah Muhammad SAW. Bukankah beliau pemberontak sejati? Pemberontak pada masa Jahiliyah dengan tidak mengikuti arus kaumnya dan memilih berkhalwat, menyendiri di gua Hira'. Bukankah itu bentuk pemberontakan? Dampaknya, kita bisa merasakan perubahan jahiliyah yang tergantikan dengan manisnya Islam.

Lantas, kenapa tak ada pemberontakan? Banyak hal menjadi sebabnya, tapi yang utama adalah nyali. Tak semua orang punya nyali untuk memberontak dan itu berarti tidak semua orang bisa membuat perubahan. Jelas sudah. Bukankah memang banyak orang yang cenderung suka mengekor. Menganggap lebih baik mengikuti apa yang sudah ada agar tidak dipandang beda lalu terasing hingga terbuang. Hei, rasanya saya pun ingin mengatakan "saya ingin menjadi asing". Terlepas dari manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup sendiri, terkadang kita masih takut dengan bayang-bayang keterasingan. Padahal untuk apa takut asing. Harusnya bersyukurlah orang-orang yang asing. Tidakkah ingat dengan hal ini "Islam berasal dari suatu hal yang asing dan kelak akan kembali menjadi asing. Berbahagialah orang-orang yang asing karena mereka adalah orang-orang yang benar."

Jadi, jika kamu ingin mengubah dunia, berontaklah. Jika kamu tak sanggup, tanyakan pada nyalimu. Bisakah dunia berubah dengan nyali ciutmu?


Terinspirasi dari film Gie...

Saturday, 15 May 2010

Belajar dari Film

11:21 0 Comments
Saya bukanlah pecinta film, bukan orang yang up date film terbaru dan tergila-gila mengejar film tertentu. Bukan, tapi saya penikmat film. Meskipun hanya beberapa film saja yang pernah saya lihat, saya menikmatinya dan saya mengambil banyak pelajaran dari sana. Itulah yang terjadi pada saya beberapa hari yang lalu. Ketika banyak orang membicarakan sebuah film yang kata mereka bagus, saya masih belum cukup mengerti. Tapi begitu saya melihat sepenggal saja, saya menyadari bahwa film ini layak dilihat dan layak dijadikan inspirasi. Yap, apalagi kalau bukan 3 idiots!
Ada banyak hal yang saya pelajari dari film ini. Secara terselip, sang tokoh memberikan begitu banyak makna.

Hidup adalah kompetesi. Ya, begitu. Bahkan agar kita bisa lahir pun dibutuhkan kompetesi dari sperma untuk bisa menembus ovum. Jika kalah akan mati dan kompetisi berakhir.
Saya sepakat. Bukankah memang begitu kehidupan yang sesungguhnya? Apa ada hidup yang enak dan nyaman tanpa ada kompetisi? Tidak. Untuk bisa kuliah, harus melewati kompetisi dulu. Untuk mendapat uang dari bekerja, butuh kompetisi dulu. Pun untuk menggapai surga, butuh kompetisi terlebih dahulu. Bukankah ada hadits yang mengatakan berlomba-lombalah dalam kebaikan. Ya! Betapa ini menguatkan bahwa kita memang harus berkompetisi.

Memahami sebuah ilmu. Ilmu tak cukup sekedar dihafalkan, namun ilmu haruslah dipahami. Mengapa? Karena otak kita terbatas. Kita ditakdirkan untuk lupa, maka apa gunanya jika kita hanya menghafal dan tidak paham sama sekali toh akhirnya kita akan lupa. Jadi, pahamilah. Ketika kita paham dengan sebuah ilmu, ilmu akan lebih melekat. Kita pun akan bisa menjelaskannya dengan bahasa yang lebih sederhana. Bukankah itu membantu orang lain untuk lebih memahami ilmu juga? Begitu seharusnya agar ilmu itu menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi bekal kelak di akherat.

Jangan belajar untuk sukses. Belajarlah untuk membesarkan jiwa, menjadi orang besar. Hm..., rasanya ini berhubungan dengan kata kemarin 'jangan berusaha menjadi orang sukses, tapi berusaha menjadi orang bernilai.' Ya, memang begitu karena sukses itu hanya menyertai. So, orientasinya janganlah sukses, tapi proses belajar itu sendiri.
Ketika kita belajar, nikmatilah proses belajar itu plus nikmatilah keindahan ilmu itu. Dengan begitu, belajar akan menjadi lebih indah dan tak memberikan sebuah beban dan tekanan. Tapi ketika belajar itu ditujukan untuk menjadi sukses, otak dan hati akan terpacu untuk mengejar kesuksesan itu. Proses menjadi kurang terasa nikmat, dan keindahan ilmu pun tidak teresapi. Dampaknya, ilmu tak masuk, sukses bisa jadi justru makin menjauh.
Ketika belajar hanya untuk sukses, yang terbayang adalah nilai excellent. Dampaknya, bisa jadi muncul sejuta cara ilegal untuk mewujudkannya. Untuk apa menjadi rangking satu dengan metode seperti itu. Yang dibutuhkan di luar sana adalah 'manusia-manusia' yang menguasai dan menikmatinya ilmunya, dan bukan 'mesin-mesin' yang tertekan dengan kekakuan hafalan ilmunya. So, nikmatilah ilmu.


Jalani hidupmu seperti apa yang kau mau. Takdir memang sudah ditentukan tapi mau jadi apa kita tergantung usaha kita. Tak jarang orang tua berharap kita menjadi orang yang seperti apa, berprofesi apa, berpangkat apa, namun tetap saja ini adalah hidup kita dan kita lah yang berhak untuk menentukannya. Jangan anggap ini suatu hal yang salah dan menjadi sebuah bentuk kedurhakaan. Orang tua tetaplah diperlukan, dalam arti untuk memberikan restu. Ya, karena restu orang tua adalah restu Allah. Tapi, apa yang kita inginkan tentulah kita yang lebih tahu dan kita wajib mengejar itu. Mengapa? Karena ketika melakukan sesuatu yang kita inginkan, kita idam-idamkan, kita cintai, atau kita kuasai, segalanya akan terasa lebih indah. Proses akan menjadi lebih mudah dan secara tidak langsung kesuksesan pun makin di depan mata.

Satu pesan di akhir film "Berpikirlah efisien, maka kesuksesan ada di belakangmu"
Mari Belajar...