Follow Us @soratemplates

Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Sunday, 5 June 2022

Aku Tidak Bisa Memasak

11:23 0 Comments

memasak


Suatu waktu saya diminta untuk mengklasifikasian semua aktivitas saya sehari-hari. Kegiatan-kegiatan itu digolongkan menjadi empat kuadran: suka dan bisa; suka tapi tidak bisa; bisa tapi tidak suka; serta tidak suka dan tidak bisa. Kuadran pertama (suka bisa) menjadi potensi untuk difokuskan di sana. Kuadra kedua (suka tidak bisa) menjadi salah satu ranah hobi kita. Sekedar suka saja, tapi tidak sampai benar-benar menjadi maestro di bidang itu. Kuadran tiga (bisa tidak suka) mungkin menjadi salah satu kompetensi kita untuk bekerja misalnya. Dan kuadran keempat (tidak bisa tidak suka) menjadi aktivitas yang sebaiknya ditinggalkan karena membuang-buang waktu.


Semua aktivitas yang pernah kita lakukan diminta untuk digolongkan dalam empat kuadran tersebut. Salah satu aktivitas yang membingungkan adalah memasak.


Bagi saya, memasak bukanlah sebuah hobi. Maka, tentu dia bukan 'suka dan tidak bisa'. Tapi tidak juga sebagai aktivitas yang membuang-buang waktu. Berarti memasak seharusnya menjadi akitivitas di kuadran tiga bukan? Artinya memasak adalah aktivitas di mana saya bisa, tetapi saya tidak suka. Tapi entah kenapa, bagi saya memasak bukanlah aktivitas yang saya 'bisa'.


Saya 'tidak bisa' memasak. Setiap pagi ibu mertua sudah asyik membenamkan dirinya di dapur, meramu masakan sesuai selera beliau. Maka saya 'tidak bisa' memasak. Sejak pagi saya harus mengambil peran ini itu, dengan shift dapur yang masih dipakai ibu, maka saya 'tidak bisa' memasak karena harus segera memburu waktu mengambil peran berikutnya. Maka saya selalu menganggap waktu saya 'tidak bisa' untuk memasak. Pun karena saya tak terbiasa memasak, mungkin insting rasa saya pun tak semahir jika sudah memegang panci dan segala alat tempur masak lainnya. Hingga boleh jadi saya memang benar-benar tidak bisa memasak.


Parahnya, mungkin saja saya justru 'tidak suka' memasak. Saya 'tidak suka' jika harus memasak dan lantas masakan yang sudah dibuat ibu semula jadi tidak termakan. Pertama mubadzir, kedua membuang waktu dan tenaga, ketiga akan membuat luka. Jadi, mungkin saya juga 'tidak bisa' memasak karena saya 'tidak suka' konsekuensi jika saya memasak.


Tapi, ternyata saya 'bisa' memasak. Qodarullah ibu sakit beberapa hari belakangan. Urusan dapur tak ada yang memegang. Serta merta ibu mertua memberi lampu hijau bagi saya untuk sejenak duduk di dapur dan melakukan apapun yang saya mau. Maka saya bisa memasak dari segi ruang dan waktu. Dari segi rasa? Saya tak berani berharap banyak. Namun melihat dua bocah mau dengan ikhlas memakan masakan saya, bahkan sesekali minta tambah untuk menu tertentu membuat saya tersadar, "Ah, barangkali saya sebenarnya memang 'bisa' masak."


Ada yang menarik yang saya tangkap di sini. Boleh jadi kita menganggap diri kita tak berarti, tak berdaya, tak bisa melakukan sesuatu, tetapi mungkin rasa tak bisa itu karena tak ada kesempatan yang datang pada kita. Mungkin jika moment itu tiba, maka akan terbukti bahwa sebenarnya kita bisa. Jadi PRnya adalah bagaimana menemukan kesempatan demi kesempatan untuk membuktikan bahwa kita bisa dan bukan termakan oleh asumsi diri sendiri jika kita tak bisa apa-apa.


Fighting! Just do the best! 

Friday, 28 December 2012

You Raise Me Up

07:41 0 Comments



Salah satu cara menyemangati orang-orang tercinta kita adalah dengan membuat diri kita semangat.

Itu adalah sebuah quote yang saya dapatkan ketika dipaksa oleh seorang teman menonton film korea berjudul Reply 1997. Dalam film itu diceritakan seorang suami yang tiba-tiba didiagnosis menderita kanker. Awalnya sang suami dengan pasien kanker lainnya bahagia ketika menonton film di TV. Tapi ketika sang tokoh film juga mengidap kanker, sirnalah semua keceriaan pada pasien tersebut. Segala cara sudah dilakukan oleh sang istri untuk menyemangati suaminya, tapi sia-sia. Akhirnya sang istri melakukan tindakan, menghubungi sang penulis naskah, memaki-maki, dan akhirnya berharap agar ada perubahan nasib dari diri sang tokoh cerita. Sang istri tak pernah lelah bolak-balik menelepon sang penulis naskah. Hingga akhirnya di akhir cerita serial TV, sang penulis naskah memberi kesembuhan pada si tokoh. Jadilah semua pengidap kanker di bangsal itu kembali ceria.

Nah, di situlah kuncinya. Ketika sang istri tak bisa membuat suaminya semangat, hal yang bisa dia lakukan hanyalah membuat dirinya sendiri bersemangat. Harapannya, dengan dirinya semangat, suaminya pun akan semangat. Dan itu terbukti. Dengan dirinya bersemangat mendesak penulis naskah, pada akhirnya suaminya pun kembali bersemangat.

Ya, memang demikian adanya. Disadari atau tidak, terkadang semangat bisa muncul dari orang lain. Di sinilah fungsi seorang teman atau sahabat itu ada. Ketika kita down, ada teman yang menyemangati kita. Ketika kita lemah, ada teman yang menguatkan kita. Begitu seterusnya. Tetapi, apakah semua kehadiran teman itu benar-benar berarti? Sayangnya, meski disemangati seperti apapun, terkadang kita bebal juga dan tidak bangkit semangatnya pula. Maka, ambil saja teori dalam film tadi.

Boleh jadi kita gagal menyemangati teman kita, tapi jangan sampai kita gagal menyemangati diri kita senidiri. Anggaplah begini. Kita dan teman sedang sama-sama mengejar skripsi. Jika kita santai, teman mungkin santai. Ketika kita menyemangati teman, boleh jadi teman tetap saja santai. Tapi, bagaimana jika kita beranjak dan mulai benar-benar bergelut dengan skripsi? Melihat kita yang sibuk dengan skripsi, sedikit demi sedikit pasti teman kita pun akan tergerak untuk bercengkrama dengan skripsi juga. Mengapa? Karena sahabatnya juga melakukannya. Karena dirinya 'ditinggal' sahabatnya untuk skripsi, maka kenapa dirinya tidak mengurus skripsi juga?

Ya, begitulah. Memang benar adanya slogan yang mengatakan mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil. Dengan membuat diri kita sendiri bersemangat, maka cepat atau lambat kita pun akan membuat orang-orang di sekitar kita bersemangat. Demikian juga sebaliknya, dengan melihat orang lain yang memiliki semangat, perlahan diri kita akan bersemangat pula.

Yup, you raise me up. Kau membuatku bersemangat, aku membuatmu bersemangat. Insya Allah..




Friday, 30 November 2012

Kekuatan Itu Bernama Wangsit

09:52 2 Comments
Suatu barang atau karya akan menjadi biasa-biasa saja atau sangat berharga tergantung dari idenya.

Saya mempercayai statement di atas dengan sepenuh hati. Semua barang yang ada di dunia ini akan terlihat mahal hanya karena keunikan idenya. Sebagai contoh, sama-sama membuat keripik singkong, tetapi ketika dibubuhi ide pengemasan yang menarik dan ide pemasaran yang spektakuler, maka akan menjadi mahal lah keripik singkong itu. Bagi saya, teori ini berlaku untuk semua hal. Tak hanya untuk barang dan jasa, tetapi juga untuk sebuah karya, termasuk karya tulis.

Dalam sebuah training kepenulisan, seorang pembicara bernama Yusuf Maulana mengatakan, “Tangkaplah ide seakan-akan itu adalah percikan dari langit”. Ya, kata-kata beliau itu benar adanya.

Banyak orang ketika akan menulis terbentur pada ide. Sesuatu yang dikeluhkan biasanya adalah sulit mencari atau menemukan ide. Padahal, ide tak pernah pergi ke mana-mana. Ide selalu ada bertebaran di mana saja. Lagi-lagi seperti yang dikatakan Pak Yusuf Maulana, tangkaplah ide, bukan carilah ide.

Mungkin mekanisme penemuan ide dengan cari mencari atau menangkap sekiranya hampir sama saja. Tapi, sesungguhnya jauh berbeda. Ketika kita mencari ide, maka kita fokus pada ide. Lantas kita berjalan-jalan ke sana kemari sambil pikiran kita fokus bertanya-tanya, di manakah gerangan ide bersembunyi saat ini. Tapi, ketika kita memakai konsep menangkap ide, maka yang kita fokuskan adalah sarana yang kita miliki. Kita akan berjalan-jalan dengan santai, jika sewaktu-waktu ada sesuatu yang menghampiri lantas kita tangkap. Jika itu bisa jadi ide, ambil. Jika tidak, lepas.

Dalam konteks yang kedua, rasanya perjuangan untuk mendapatkan ide itu terasa lebih ringan dan tanpa beban. Kita hanya perlu membuka mata seluas-luasnya, melapangkan pikiran kita, dan menajamkan hati kita untuk memilah, benarkah ini ide yang sedang kita nanti-nanti. Kita tak perlu sepaneng alias terbebani untuk mencari-cari ide itu sendiri.

Uniknya, ide yang datang dengan sendirinya itu sering kali adalah ide yang ampuh. Justru karena ia datang dengan tiba-tiba, ide itu seringkali tak terpikirkan oleh orang lain. Maka, wajar kiranya jika Pak Yusuf Maulana menyebut sebagai kilatan dari langit, sedangkan saya sendiri lebih suka memakai istilah wangsit.

Ya, ide yang tiba-tiba datang itu ibarat wangsit. Ketika kita tak terforsir untuk mencari, tiba-tiba ide itu datang sendiri. Dan karena ide itu yang datang menemui kita, maka saya punya anggapan bahwa memang ide itulah yang terbaik buat saya. Percaya tidak percaya, ternyata ide wangsit itu pulalah yang seringkali manjur melahirkan sebuah piala.

Barangkali karena memang datangnya dari langit, maka itu adalah karunia Allah SWT. Barangkali karena ide itulah yang menemui kita, maka ia akan benar-benar barokah untuk diri kita.

Jadi, untuk Anda yang ingin menjadi tangguh dengan rentetan karya yang berharga dan tidak hanya dianggap sebelah mata, perkaya saja ide Anda. Tentu bukan ide yang biasa-biasa saja, melainkan ide yang jatuh dari langit bak wangsit yang membuat prestasi Anda akan melejit. Insya Allah.


Saturday, 31 March 2012

Obsesi Ambisi

19:55 0 Comments
Memiliki keinginan adalah sifat dasar seorang manusia. Tetapi mewujudkan keinginan dengan penuh ambisi, hanya segelintir orang yang melakukannya. Tak sekedar berambisi saja, beberapa bahkan sampai obsesif dengan keinginanannya. Sebagian berhasil meraih impian dengan obsesinya, tetapi tak jarang banyak yang justru gagal meski telah mati-matian berjuang.

Ada yang menarik di sini. Kadangkala sesuatu yang sudah diperjuangkan dengan mati-matian nyatanya justru luput dari harapan. Sebaliknya, suatu keinginan yang kurang diperjuangkan justru banyak yang kesampaian. Aneh?

Seorang teman berkata, “Bukankah kalau kita memiliki impian, maka kita harus berpikir positif terhadap impian itu?” Artinya, jika kita terus memikirkan impian tersebut, mengapa kita gagal? Tetapi, jika kita berpikir negatif atau tidak terlalu memikirkan impian tersebut, mengapa justru berhasil?

Terlepas dari ini adalah rahasia Allah SWT, kejadian yang cukup unik ini memang pantas dijadikan renungan. Bukan berarti kita menggugat keputusan yang Allah berikan, tetapi kita mengambil pelajaran. Jangan-jangan ada yang salah dengan cara ketika kita mengharapkan impian tersebut.

Saya pernah membaca sebuah quote yang kurang lebih isinya begini, “Punya mimpi, punya rencana, dan pasrah. Karena kekuatan terbesar manusia adalah ketika dia pasrah”. Ada yang menarik dari quote tersebut. Kita boleh saja punya mimpi. Kita bisa saja telah mengatur rencana. Tetapi, apakah kita sudah pasrah?

Pasrah mengindikasikan kita tawakal kepada Allah SWT. Ketika seseorang telah pasrah kepada Allah, artinya dia telah menyerahkan segala urusannya kepada Sang Maha Kuasa. Bayangkan, apa yang terjadi pada sebuah impian kecil jika itu diserahkan pada pemilik kekuasaan tertinggi? Bukankah seakan tidak ada apa-apanya dan sangat tak berarti? Betapa mudah Dia membuat mimpi itu menjadi terwujud. Maka, benarlah kiranya bahwa kekuatan terbesar manusia adalah ketika dia pasrah.

Sering kali manusia merasa dirinya hebat. Ketika memiliki mimpi, tak jarang manusia begitu pongah bahwa impiannya itu pasti bisa menjadi kenyataan. Dia pun lantas memikirkan segala rencana dengan sempurna. Lantas dia percaya bahwa dia pasti akan bisa meraih dengan rencana luar biasa itu. Tetapi, siapa yang menjamin? Dirinya. Dan seberapa pengaruh dirinya dibandingkan Yang Maha Kuasa? Maka, bukankah lebih baik jika tetap pasrah? Karena itu sebagai bukti bahwa diri kita tidak congkak dan berlagak.

Memang benar bahwa ketika kita memiliki sebuah impian, maka kita harus berpikir positif tentangnya. Tentu kita mengingat pula bahwa Allah SWT mengikuti perkiraan hamba-Nya. Jika kita memikirkan bahwa kita insya Allah meraih impiah tersebut, bisa saja Allah SWT akan meridhoi dan mewujudkannya. Tetapi, jika kita saja sudah tidak berpikir positif pada impian kita, bagaimana Allah SWT akan percaya bahwa kita layak menggapai impian itu?

Memang benar bahwa bagaimanapun kita tetap harus berpikir positif. Tetapi, berpikir positif yang bagaimana? Apakah berpikir positif berarti kita harus yakin bahwa kita ‘pasti’ mendapatkannya? Tidak. Kita tidak bisa memastikan itu. Berpikir positif yang dimaksudkan adalah berpikir positif bahwa Allah akan memberikan yang terbaik sesuai kebutuhan kita.

Mungkin kita memang ingin impian itu. Mungkin kita sudah menyiapkan rencana hebat demi impian itu. Tetapi, jika itu sebenarnya tidak berguna untuk kita, bukankah akan sia-sia? Masalahnya adalah manusia sering kali tak pandai menerima bahwa apa yang ada pada dirinya memang yang dibutuhkannya.

Justru karena kita tak tahu apa yang akan kita capai, maka kita hendaknya bersungguh-sungguh dalam segala hal. Ambisi yang harus ditunjukkan bukanlah obsesi untuk meraih impian itu, tetapi obsesi untuk melakukan yang terbaik dalam impian tersebut. Sekilas memang terlihat sama, tetapi sedikit berbeda.

Obsesi yang pertama hanya memikirkan menang dan kalah. Jika tidak teraih, maka kalah. Demikian sebaliknya. Tetapi obsesi yang kedua lebih menghargai proses. Asal sudah memberikan yang terbaik, maka itulah yang terbaik. Jika menang, maka itu terbaik. Jika kalah, itu pasti juga yang lebih baik.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa obsesi dan ambisi seseorang dalam meraih impian haruslah dibarengi dengan kepasrahan. Pasrah bukan berarti berpikir negatif. Pasrah justru amalan berpikir positif dalam tingkatan paling tinggi. Mengapa begitu? Karena kita berani berpikir bahwa Allah SWT akan turut andil menentukan yang terbaik bagi kita. Luar biasa! Sungguh pikiran positif yang tak akan ada tandingannya. 

Wednesday, 30 November 2011

Galau? Temukan Inner Peace-mu!

19:58 11 Comments
Bagi Anda yang suka mengikuti film di bioskop, mungkin tidak asing dengan film Kungfu Panda II. Sebuah film animasi menceritakan pendekar dengan wujud hewan yang sarat dengan posan moral. Beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri untuk menonton film tersebut. Saya mendapatkan sebuat kata-kata mantra, 'inner peace'.

Dalam film tersebut, Po sebagai pendekar panda sedang merasakan kegalauan karena penasaran ingin tahu siapa orang tua kandungnya. Karena pikirannya yang tidak tenang itulah, Po pun kalah saat bertarung. Pada saat itu Po menyadari pentingnya inner peace yang diajarkan gurunya. Ketika pikirannya tak fokus, dengan mudah musuh menyerang. Ketika hatinya tak tenang, dengan gampanganya musuh mendapat kemenangan.

Lalu Po pun introspeksi diri. Dia melupakan ambisinya untuk menemukan siapa orang tuanya. Akhirnya dia kembali mendapatkan ketenangan dirinya dan memenangkan pertarungan.

Saya merefleksikan adegan film tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika pikiran dan perasaan tidak tenang, dengan mudahnya musuh-musuh berupa rentetan masalah akan menang menyerang kita, membuat kita kalah dan tenggelam dalam kegalauan.

Banyak orang yang akhir-akhir ini merasa galau, bahkan kata galau menjadi kata sifat paling populer yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Resah diibaratkan galau, stress disamakan dengan galau. Sedikit-sedikit orang merasa kalau dirinya galau.

Saya sendiri merasa heran. Mengapa dengan mudahnya orang merasa galau? Padahal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, galau adalah kacau tidak karuan dari segi pikiran. Apakah sedemikian banyaknya orang yang pikirannya kacau?

Menurut saya, galau bisa terjadi ketika kita tidak memiliki inner peace. Pikiran dan hati kita tak tenang sehingga yang ada hanyalah kegalauan. Ketika jadwal kegiatan begitu padat, kita menjadi tidak tenang karena dituntut untuk segera menyelesaikan. Kita pun menjadi galau. Ketika kita menginginkan atau membutuhkan sesuatu dan segala usaha yang kita lakukan belum membuahkan hasil, kita pun menjadi galau.

Ya, galau menandakan hati kita tidak tenang. Bisa karena hati kita terlalu berambisi untuk mengejar sesuatu sehingga kita memaksa hati untuk bergolak. Pergolakan yang terlalu keras tentu menghilangkan ketenangan yang ada dalam diri kita.

Terlepas dari itu, hati yang galau bisa jadi karena sejatinya memang tidak ada inner peace dalam diri kita. Meski tak ada masalah, tak ada kesibukan, tetap saja hati ini tidak tenang. Hm, berarti memang ada yang salah dalam diri kita.

Barangkali ada yang ingat dengan syair yang dilantunkan penyanyi religi beberapa tahun lalu. “Bila hati gelisah, tak tenang, tak tentram. Bila hatimu goyah, terluka, merana. Jauhkah hati ini dari Tuhan, dari Allah. Hilangkah dalam hati, dzikirku, imanku?”

Syair ini rasanya tepat jika disampaikan pada mereka yang mengaku sedang galau. Apakah hati sedang jauh dari Allah? Wajar kiranya jika hati tak tenang karena jauh dari Allah. Tentunya jika dekat dengan Allah, kita akan menyerahkan segala urusan kita pada-Nya. Kalau sudah begini, tentunya tak ada lagi kegalauan yang mendera. Bukankah urusan kita telah diserahkan pada Allah sedangkan Allah adalah maha segalanya. Pasti urusan kita akan selesai dan tak ada apa-apanya di mata Allah.

Tanyakan juga, hilangkah dzikir dan iman dalam hati? Ya, orang yang memiliki iman tentunya percaya bahwa Allah akan selalu menolongnya. Tetapi jika kita tidak memiliki iman, bagaimana kita akan percaya kalau Allah akan menolong kita?

Demikian pula jika kita jarang berdzikir. Jika kita tak pernah berdzikir mengingat Allah, wajar saja kita lupa bahwa ada Allah yang akan menolong kita. Karena kita lupa dan tak percaya bahwa ada Allah yang akan membantu, kita lantas merasa bahwa urusan ini adalah urusan diri kita sendiri. Pikiran pun semakin berat dan hati semakin kacau. Pantas kiranya kalau galau semakin mendera.

Maka, lakukanlah introspeksi seperti yang dilakukan Po dalam film Kungfu Panda II. Mari kita introspeksi, apakah yang membuat hati kita tak tenang. Apakah benar jika kita telah jauh dari Allah? Ataukah memang semakin hilang dzikir dan iman dalam hati kita?

Temukan jawabannya dalam hati kita masing-masing. Jika memang kita merasa jauh dari Allah, mendekatlah. Selangkah kita mendekat pada Allah, beribu langkah Allah akan mendekat pada kita. Kalau sudah begini, tak akan ada lagi rasa tak tenang dalam jiwa.

Perbanyak mengingat Allah dalam setiap kesempatan dan serahkan segala urusan dengan penuh kepercayaan pada Allah. Niscaya hati akan merasa tenang. Bukankah Allah telah menjanjikan akan memberi rasa tenang jika kita selalu mengingat-Nya?

So, buang jauh rasa galau. Temukan inner peace-mu dengan Allah di hatimu.


Monday, 28 November 2011

Mengubah Makna dengan Huruf N

22:55 5 Comments

Iklan susu formula anak-anak memang lucu-lucu. Mulai dari bintang iklannya yang sudah menggemaskan, tingkah polah mereka yang ikut membuat geregetan, atau konsep iklannya yang memang terasa segar dan lucu. Barangkali ada yang tak akan lupa dengan polah seorang anak menari-nari sambil bernyanyi, atau ide anak-anak dalam berusaha menyelesaikan masalah yang dialaminya.

Salah satu ide unik anak tersebut saya temukan di salah satu iklan susu. Seorang anak mengamati akuariumnya terasa begitu kosong. Hanya ada air dan ikan. Lantas dia memasukkan pernak-pernik kecil ke dalam akuarium tersebut. Tetapi, baginya masih terasa kurang. Dia pun mengambil ipad dan mencari gambar-gambar terumbu karang. Setelah menemukan yang cocok, diletakkanlah ipad itu sebagai background dari akuarimnya.

Ada yang berbeda dari keunikan anak-anak pada iklan tersebut jika dibandingkan dengan iklan anak-anak lainnya. Di bagian akhir iklan, tertampil kata ‘NAKAL?’. Setelah itu, huruf ‘N’ dan ‘tanda tanya’ dihapus sehingga tersisalah kata ‘AKAL’.

Kalau kita renungkan, batasan anak nakal dan anak yang banyak akal memang begitu tipis layaknya sebuah huruf ‘N’ yang mengubah ‘AKAL’ menjadi ‘NAKAL’. Ada seorang anak yang bermain hingga kotor. Sebagian orang tua mengatakan anaknya nakal karena hanya bikin kotor, tapi orang tua lain bisa saja menganggap anaknya itu banyak akan dan dengan enteng berkata “Berani kotor itu baik”.

Ya, batasannya memang begitu tipis, tergantung interpretasi masing-masing orang. Benar-benar hanya terpaut satu huruf saja yaitu huruf ‘N’. Selain contoh kata ‘AKAL’ dan ‘NAKAL’, saya juga mendapatkan contoh kata lain yang cukup dipermainkan dengan kehadiran huruf ‘N’ di sana.

Waktu itu adalah awal masuk saya kuliah. Dalam sebuah acara OSPEK, ketua panitia mengatakan kata-kata ini, “PEMIMPIN adalah PEMIMPI dengan huruf N”. Bayangkan! Hanya dengan huruf ‘N’ seorang pemimpi telah menjadi seorang pemimpin.

Barangkali jaman dulu ketika Soekarno beserta tokoh pemuda menggagas proklamasi, tindakan mereka dianggap hanyalah sebuah mimpi. Bukan hal aneh jika mereka dianggap sebagai pemimpi, orang yang benar-benar bermimpi agar Indonesia bisa merdeka. Tetapi, nyatanya mereka tak sekedar pemimpi, melainkan juga pemimpin yang berhasil mewujudkan mimpinya.

Di sinilah keunikannya. Dari sini kita dapat belajar untuk melihat sesuatu dengan lebih dekat, sedekat kita mengamati adakah huruf ‘N’ yang menyertai seperti pada kedua contoh kata di atas. Lihatlah, betapa sebuah huruf saja telah dapat mengubah makna.

Huruf ‘N’ pada kata ‘NAKAL’ dan ‘AKAL’ membedakan tindakan anak tersebut negatif atau positif. Seorang anak bisa saja sesungguhnya bersikap untuk menunjukkan kecerdasan akalnya namun kita menganggapnya sebagai sebuah kenakalan. Maka, lihatlah sedekat batasan huruf ‘N’.

Huruf ‘N’ pada kata ‘NAKAL’ dapat kita buang sehingga berubah menjadi ‘AKAL’. Demikian pula sikap anak-anak. Sikap anak-anak yang cenderung mengarah ke nakal dapat pula kita ubah. Kita bisa mengontrol anak-anak kita dan membuang unsur-unsur negatif dari perilaku anak-anak itu layaknya kita membuang huruf ‘N’ dari kata ‘NAKAL’. Dengan begitu akan tersisa kata ‘AKAL’ yang merupakan gambaran perilaku positif dari anak yang mencerminkan kecerdasan akalnya.

Begitu juga dalam konteks kata ‘PEMIMPIN’ dan ‘PEMIMPI’. Huruf ‘N’ pada kata ‘PEMIMPIN’ dan ‘PEMIMPI’ membedakan tingkah laku seseorang sebagai hal yang positif atau justru mengkategorikannya sebagai perilaku yang cenderung negatif. Seseorang bisa dianggap poisitif ketika dia menjadi seorang pemimpin. Namun, bisa jadi orang itu akan dicap negatif ketika dia menjadi pemimpi yang hanya bisa bermimpi. Maka, lihat dulu kedua kata itu dengan lebih seksama, layaknya mengamati perbedaan tipis dari ada dan tidaknya huruf ‘N’ di sana.

Huruf ‘N’ dapat kita tambahkan pada kata ‘PEMIMPI’ sehingga berubah menjadi ‘PEMIMPIN’. Demikian pula sikap seseorang. Seseorang yang cenderung terkesan hanya dapat bermimpi tanpa sebuah realisasi dapat pula kita ubah. Kita bisa memotivasi orang tersebut untuk segera bertindak, mewujudkan mimpinya melalui sebuah tindakan nyata dengan sebuah persiapan yang nyata pula. Bahkan jika mimpi itu adalah hal yang benar-benar baru sekalipun, kita tetap dapat mengubahnya dengan motivasi dan tekad yag kuat untuk mewujudkannya. Dalam hal ini yang dibutuhkan hanyalah menambahkan tindakan nyata pada mimpi itu layaknya kita menambahkan huruf ‘N’ pada kata ‘PEMIMPIN’. Dengan begitu akan muncul kata ‘PEMIMPIN’, seseorang yang menjadi pelopor dari sebauh ide yang benar-benar baru tersebut.

Hanya dengan sebuah huruf saja, telah terjadi perubahan makna yang sangat berbeda. Maka, mari kita melihat lebih dekat. Barangkali sebuah keburukan dapat dengan mudah kita ubah menjadi hal yang lebih baik, semudah menambah atau membuang sebuah huruf ‘N’.



Monday, 3 October 2011

Pelan-pelan Saja

23:07 2 Comments
Ada sebuah pelajaran yang saya peroleh dari film korea Dream High yang tayang beberapa waktu lalu di Indosiar. Film tersebut merupakan film korea tentang sekolah musik atau menyanyi. Pada suatu adegan, tokoh A telah sukses mendapatkan debut. Jalan yang diraihnya terasa mudah sekali. Sedangkan tokoh B, dia mengalami kegagalan berkali-kali. Tokoh B hampir patah semangat, tapi sang guru berkata, “Tidak masalah kita berjalan lambat. Lihat saja, dari kalian berdua, siapa yang akan lebih berhasil? Orang yang berjalan cepat atau orang yang berjalan lambat. Saya percaya, orang yang berjalan lebih lambat akan lebih berhasil. Karena dia memiliki kesempatan untuk melihat lebih banyak.” Hm…, menarik!

Secara spontan saja, kata-kata itu mengingatkan saya pada segudang audisi penyanyi yang sejak beberapa tahun terakhir memenuhi layar televisi. Puluhan orang telah dinyatakan lulus. Tak sedikit pula yang meraih gelar juara. Tapi, kalau sekarang diingat-ingat lagi, ke mana perginya mereka semua? Rasanya mereka hanya tenar ketika sedang berjuang itu saja. Selepasnya? Blaaar…, menguap. Hanya beberapa saja yang bisa eksis dengan perjuangannya sendiri.

Ada yang menarik di sini. Suatu hal yang instan sepertinya tidak bertahan lama. Seperti pembuatannya. Dibuat secara instan, berakhir pula dengan instan.

Saya jadi teringat komentar guru saya. Sekarang manusia itu sukanya instan. Mau jadi penulis, pinginnya instan. Bikin tulisan, jadi buku. Bahkan bukan tak mungkin akan mengerahkan segala cara untuk memenuhi keinstanannya. Padahal instan belum tentu bagus. Saking ingin instannya, penulis cenderung manja. Malas ngedit, malas belajar. Inginnya begitu tulisan jadi, langsung jadi buku.

Hm, cukup menohok sekali. Tapi saya setuju kata-kata yang menyebutkan kalau instan belum tentu bagus. Lihat saja mie instan. Memang dari segi waktu sangat praktis, tapi dari segi kesehatan jika dikonsumsi terus-menerus jelas tidak bagus. Berarti yang instan ga bagus kan.

Memang, ada pepatah yang bilang lebih cepat lebih baik. Tapi lebih cepat yang bagaimana dulu. Kalau cepat dalam arti instan yang tidak baik, atau justru terkesan tergesa-gesa, justru jadi tidak baik. Boleh saja cepat, asal kecepatan itu kecepatan yang baik.

Intinya, bagaimanapun suatu proses itu tetap penting. Kalau dalam waktu cepat tapi proses yang dilalui sudah cukup ya tak masalah. Tapi jika memang belum, lebih baik sedikit mengambil waktu dulu. Karena dalam waktu ya dilalui bisa jadi ada sebuah pengalaman baru atau informasi baru yang justru akan mendulang kesuksesan itu.

So, ayo berproses. Entah lebih cepat lebih baik, atau pelan-pela saja.

Saturday, 1 October 2011

Let’s Get The Beat

23:01 4 Comments

Bagaimana rasanya memiliki pekerjaan bertumpuk-tumpuk? Ada segudang job yang menanti untuk dikerjakan. Ada segudang aktivitas yang menunggu untuk dilaksanakan. Senangkah? Bersemangatkah? Atau lelahkah?

Beberapa hari yang lalu, secara tersirat saya justru mengeluh tentang hal itu “Pekerjaan kok ga ada habisnya. Selesai deadline ini, ditunggu deadline lain. Habis itu udah ada deadline berikutnya. Kapan istirahatnya?”

Kawan saya yang baik hati dengan spontan menjawab, “Kan Faidza faroghta fanshob. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”

Saya pun terdiam. Dan saya baru benar-benar merasakannya hari ini.

Kemarin saya berhenti sejenak. Setelah selama seminggu lebih seakan tak bernafas karena dikejar deadline, hari kemarin saya benar-benar ingin tenang. Siang hari saya sudah tidur, hitung-hitung membayar hutang karena hanya tidur 2 jam di malam sebelumnya. Sore mulai kuliah lagi. Begitu ba’da magrib, saya sudah stand by di tempat tidur. Bangun-bangun pun hanya untuk urusan crusial. Sholat, tidur, bikin kopi, tidur, nyalakan laptop, tidur lagi.

Apa yang terjadi kemudian? Saya justru merasa tidak enak, baik badan maupun pikiran. Rasanya semua hal justru berjalan di luar koridor yang seharusnya.

Maha Benar Allah dengan segala firmany-Nya. DI ayat di atas sudah jelas tertulis. Apabila kamu selesai satu urusan, maka lanjutkan urusan lain dengan sungguh-sungguh. Tapi, saya justru mengingkari ayat di atas. Setelah selesai satu urusan, saya justru berhenti sejenak, bahkan tidak bersungguh-sungguh untuk mempersiapkan urusan yang lain. Astagfirullah…

Memang begitulah seharusnya. Manusia tak akan pernah berhenti memiliki urusan di muka bumi ini. Maka setelah selesai satu urusan, lakukan lah yang lain. Kalau merasa tak mampu? Mati saja? Tidak juga. Setelah mati pun kita tetap dihadang dengan urusan berikutnya. Urusan alam kubur, urusan akhirat. Tak kan ada habisnya.

Barangkali kodratnya memang begitu. Dan ketika kita menyalahi kodrat dengan berhenti sejenak, justru itulah yang tidak baik. Ketika dalam beberapa hari kita terpacu dengan padatnya pekerjaan, lalu menghilangkan segala pikiran. Dampaknya, bisa jadi ketika memulai urusan yang baru, hasilnya tak akan semaksimal seandainya kita menlajutkan beat kepadatan aktivitas sebelum kita berhenti sebelumnya.

Seperti yang dituturkan oleh salah seorang penulis. Dia menghabiskan waktu 13 bulan untuk membuat sebuah novel. Begitu selesai, dia berhenti. Apa yang terjadi? Begitu dia ingin menulis lagi, kekuatan yang dia butuhkan menjadi lebih besar. Memulai menulis kembali itu menjadi sebuah kesulitan.

Mengapa? Karena fokus berkurang. Beberapa hari telah fokus dengan beat tinggi tiba-tiba menghilangkan fokus itu. Padahal mencari sebuah kefokusan itu membutuhkan cara tersendiri pula.

Maka, benarlah jika setelah selesai satu pekerjaan hendaknya melakukan pekerjaan lain. Karena hanya dengan beginilah, kita akan mampu menjaga ritme kehidupan kita. Jika terbiasa dengan beat tinggi, pasti tak akan masalah untuk terus ngebeat. So, let’s get the beat!


Special untuk teman-temanku yang baru saja menyelesaikan satu pekerjaan dan sudah dinanti pekerjaan lain di depan mata. Semoga semangat kalian menjadi ibadah pengamalan ayat Al-Qur’an. Aamiin…