Follow Us @soratemplates

Showing posts with label tugas. Show all posts
Showing posts with label tugas. Show all posts

Monday, 11 September 2023

Habit Baru Kabin Healthy Life

02:46 0 Comments

Lama sekali tak mengunjungi blog ini. Berhubung saat ini saya sedang mengikuti challenge healthy life, pas banget dong dengan judul blog ini. So, kepikiran deh buat nulis lagi di sini.

Sudah sepekan ini saya mengikuti kelas kampung bakat. Walau mungkin bukan 'bakat' juga, tapi salah satu ruang kabin yang bisa dipilih adalah tentang healthy life. Kalau dipikir-pikir, masa iya ikutan kabin ini, kan udah orang medis. Hm..., nyatanya segala teori kadang cuma jadi teori dan tidak ada realisasi tanpa motivasi. Jadilah saya langsung tertarik begitu tahu kalau ada kabin ini. Harapannya biar bisa memulai lifestyle yang bener lagi, bareng temen-temen lain juga biar ga berasa kalau lagi berjuang sendirian.

Di pekan pertama ini, kami diingatkan lagi tentang sehat dan bugar. Hm, nice reminder banget ini. Konsep sehat insya Allah sudah paham. And yup, saya baru ngeuh tentang konsep bugar. Sehat (dalam arti ga sakit) aja ga cukup guys. Kalau sehat tapi badan letoy ya buat apa. Yang kita butuhkan saat ini bukan sekedar sehat, melainkan kudu bugar. Karena hanya tubuh yang bugar itulah yang bisa membawa kita berenergi dan optimal menjalankan segala aktivitas.

Nah di pekan ini kami diminta untuk memulai habit kesehatan yang baru. Ada beberapa tantangan yang harus dilakukan di misi 1, yaitu:

  • Membatasi konsumsi guka, garam, dan lemak berlebihan
  • Rutin melakukan aktivitas fisik, minimal 30 menit dalam sehari
  • Tidak merokok/terpapar asap dan residu rokok
  • Jaga berat badan ideal dan cegah obesitas
  • Cek kesehatan
 Untuk misi 1 ini saya memilih untuk melakukan stretching terlebih dahulu



Alhamdulillah hari pertama challenge aman. Stretching bisa dilakukan. Hari kedua saya tergoda untuk menambah challenge. Selain melakukan stretching, saya menambah habit baru yaitu minum putih. Yup, karena jujurly kadang suka lupa buat minum putih. Di hari ketiga, saya tambah lagi habitnya dengan mengurangi camilan manis dan beralih ke nyemil buah.

And this is it my journal.






Sepertinya begitu dulu ya. FYI, jurnal ini juga terlambat diposting karena ketiduran. Hiks.

Saturday, 3 September 2022

Optimasi Instagramku

03:20 0 Comments

Sambil menyelam minum air. Itulah yang sedang saya lakukan sekarang. Sambil ngisi blog yang sudah beberapa hari tak terjamah, sambil bikin setoran KLIP, plus sambil mengerjakan tugas recook dari Dapur Sosmed IP Soloraya. Eh, satu lagi ding. Sekalian sambil ngerjain Makcep Wary karena jawaban recooknya kudu baca satu postingan ini juga. Haha...


Baiklah..., pekan ini kami para koki dapur sosmed diminta untuk melakukan optimasi instagram. Hm..., sebenarnya bukan sekali ini saja sih saya tahu tentang materi ini. Tapi tetap saja, ketika makcep menyajikan materinya tuh kayak padat dan super kenyang banget. Alhamdulillah pokoknya. Nah dari masakan itu, kami para koki diminta untuk recook beberapa hal.


Pertama, kami diminta untuk menentukan niche. Setelah melalui perenungan panjang, menyelami lubuk hati paling dalam, menimbang dalam bimbang, memilih meski perih (halah, mesti Makcep Wary males bacanya wkwkwk) untungnya ga sampai mendakai gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang... Oke, ini lagu ninja hatori. Akhirnya saya memutuskan untuk saat ini mengambil niche tentang mental health atau manajemen emosi atau semacamanya begitulah, namun dengan membubuhkan aroma islami di dalamnya.


Kenapa saya memilih niche itu? Alasan utamanya karena beberapa bulan sebelumnya saya mengupas tentang hal itu secara terus-menerus di kelas bunda cekatan. Jadi mumpung masih kemebul di ubun-ubun, diwujudkan saja dalam bentuk konten. Itung-itung anggap saja buat catatan alias rekam jejak biar apa yang ditangkap selama beberapa bulan kemarin tidak sirna begitu saja tak berbekas.


Next, kami diminta mencari 20 hashtag yang terkait niche tersebut. Nah ini nih tantangannya. Soalnya Makcep Wary request hashtag yang dipilih harus dalam interval 500 ribu sampai satu juta. Susah-susah gampang kan. Banyak hashtag yang oke, tapi sudah dipakai puluhan juta. Kata Makcep sih kalau pilih yang itu nanti bakal tenggelam di antara puluhan juta konten. Tapi..., kalau ternyata mampu berenang gimana mak? Eh lhah, malah nawar di sini.


Alhasil, saya baru nemu segelintir ini aja mak. Siwer euy. Nanti mudah-mudahan seiring berjalannya waktu bisa menemukan hashtag yang sifatnya insidental sesuai dengan tema konten yang akan dipost. Untuk hashtag yang sifatnya general tentang mental health atau manajemen emosi yang saya tulis antara lain #selftalk (732.157), #positivewords (517.847), #positivequote (663.272), #positiveparenting (724.396), #positivevibe (882.114), #reminders (931.580), #inspirationquotes (934.993), #motivasiislami (615.081), #motivasibijak (712.034). Udah berapa tuh makcep? Hitung sendiri ya, sisanya ngutang haha...


Nah buat sunnah muakadnya, kami boleh juga tuh menampilkan bio instagram kami dan screenshoot instgram sebelum dan sesudah dilakukan optimasi. Untuk gambarnya kurang lebih begini.





Saya sengaja membuat branding diri saya sebagai a moslem doctor-writer. Kenapa begitu? Wah ceritanya panjang, saya kasihan makcep kalau harus membaca satu naskah lagi. Intinya branding itu memang terkait dengan aktivitas publik saya namun dengan tidak melupakan peran saya sebagai seorang muslim.


Lalu saya breakdown lagi satu persatu, bahwa status saya sebagai general practitioner alias dokter umum. Kenapa? Ya biar orang ga salah kaprah mengira saya sebagai psikiater misalnya. Saya tuliskan juga bahwa saya author dari buku blablabla. Memang tidak semua saya tulis, cuma yang kebetulan ada akun instagramnya saja yang saya mention di bio. 


Di sana saya tuliskan juga beberapa akun terkait bisnis. Yah, siapa tahu setelah ini jadi beli kan hehe. Yang terakhir saya beri informasi juga kalau saya ibu dari 3 anak. Ngapain sih dicantumin segala? Ya biar followernya pada tahu gitu kalau yang bikin konten dari sudut pandang emak-emak. Plus biar ga ada yang macem-macem ngegoda. Eh...


Terakhir kami diminta mencantumkan capture sebelum dan sesudah. Nah, ini nih ajaibnya. Setelah sekian lama anget-angetan bikin konten, dua hari ini dipaksa banget harus bikin postingan setiap hari minimal satu, lebih baik kalau tiga. Hm..., di sini nih tantangannya. Kudu menyiapkan amunisi ide dan waktu untuk eksekusi.





Ternyata ada yang menarik yang saya alami. Ceritanya saya baru belajar bikin reels. Reels pertama saya tanggal 17 Agustus lalu diikuti dua reels karena diminta makcep bikin postingan tiap hari. And you know, reels saya yang terakhir udah lima ribu lebih viewersnya. Terharu ga sih...


So, kesimpulannya memang butuh niat besar kalau mau serius main sosial media. Semoga saja bisa selalu terjaga strong why-nya. Last, thank you ya makcep buat materinya. Terima kasih juga kalau kamu sudah membaca postingan ini sampai di kata terakhir. Haha...

Friday, 9 April 2021

Semua Anak Adalah Bintang (Tantangan Zona Semua Anak Bintang)

03:13 0 Comments



Fyuh, akhirnya tertuliskan juga. Semula niatnya sudah mau menyerah saja di zona ini. Tapi kok rasanya ada yang gatel. Wong ya kemarin-kemarin sempat mau menyerah tapi berhasil lanjut meski badge dasar, masak iya yang sekarang mau beneran nyerah gitu aja? Ya sudah, semangat rapelan lagi kalau gitu.


Di zona ini saya diajak untuk melihat bahwa semua anak adalah bintang. Nggak boleh membanding-bandingkan. Ah, khatam banget lah kalau ini. Kayaknya pernah ditulis juga di postingan sebelumnya. Cuma, kenyataannya ya gitu deh.


Sebenarnya zona ini termasuk yang saya tunggu-tunggu. Kenapa? Soalnya saya udah tahu ilmu ini sejak zaman kapan, tapi tetap aja realitanya nol besar. Udah tahu sejak zaman matrikulasi dapat ebook Pandu 45. Aturan harusnya segera bikin pengamatan ke anak. Eh, ternyata cuma anget-anget tahi ayam aja. Berapa hari doang, habis itu adem.


Gitu juga pas acaranya Ustadz Harry untuk bikin framework kegiatan bersama anak. Berlaku berapa minggu doang, habis itu yaaaa bablas. Oke lah karena ini tugas pengamatan, mulai lagi sekarang. Walaupun entahlah apakah berakhir seiring tantangan usai? Semoga saja kali ini tidak.


Oke, prolognya kepanjangan. Jadi, apa tantangan di zona ini? Kami diminta untuk membuat pengamatan dari beragam aktivitas anak-anak. Dilihat apakah anak merasa enjoy, easy, excellent, dan earn. Masing-masing poin mendapat satu bintang. Tapi khusus di hari pertama, kami mendapat tambahan tantangan yaitu untuk menilai tentang anak dan memberi semacam surat cinta.


Baiklah...., seperti biasa target saya adalah Kak A. Dulu saat tugas Ustadz Harry, Kak A saya juluki sebagai sang berkeinginan kuat. Tapi beberapa hari ini mengamati, rasanya saya ingin menjuluki Kak A sebagai server atau sang pengayom. Yah, mata saya baru bisa menangkap kalau ternyata Kak A senang membantu orang lain, dia suka sekali melayani adiknya. MasyaAllah...ke mana saja saya selama ini.


Kak A antusias jika diberi kesempatan untuk membersamai Adik Z. Tandanya adalah ketika dia mau berinisiatif sendiri, tanpa saya memberi intruksi. Niat saya nantinya akan memberi kesempatan lebih banyak pada Kak A untuk menunjukkan sifat 'kekakakannya' sebagai pengayom sang adik.


Tiga hal yang sudah dilakukan Kak A terkait ini seperti, beberapa waktu lalu saat Adik Z makan es krim dan belepotan, Kak A mengambil tisu dan mengelap mulut adik Z. Lain waktu ketika akan bepergian, Kak A mengambil sandal untuknya dan Adik Z. Dia 'menata' sandal itu sehingga Adik Z tinggal memasukka kakinya saja. Atau ketika di mobil Adik Z mengantuk, Kak A mengambilkan bantal dan menyuruh Adik Z buat berbaring. MasyaAllah..., ternyata hal-hal begini kalau tidak benar-benar menyengaja untuk diamati bakal terlewat begitu saja. Lantas lupa mensyukuri bahwa sebenarnya Kak A sayang pada Adik Z.


Dan surat cintaku untuk Kak A, terima kasih banyak Kak A untuk semua sikap baik Kak A. Maafkan mami yang terkadang lupa mengamati, lupa mengapresiasi, lupa mensyukuri. Tumbuh dan berkembanglah dengan sifat baikmu. Ya, Kak A unik dan Kak A adalah bintang. Aamiin




PS: Setiap harinya ada tugas juga untuk membuat pengamatan di tabel, jika memungkinkan akan dishare di sini atau dirapel via google drive saja hehe


#harike1

#tantangan15hari

#zonasemuaanakbintang

#kelasbundasayang

#institutiburpofesional

Wednesday, 17 March 2021

Penyimpangan dan Kejahatan Seksualitas (Tantangan Bunda Sayang Pendidikan Seksualitas)

22:47 0 Comments



Oke, demi rapelan tugas tantangan bunda sayang, di hari terakhir ini saya langsung menjadikan satu topik penyimpangan seksualitas dan kejahatan seksualitas. Well, saya teringat pada satu pengalaman saya.

Dulu, ada teman yang bercerita kalau saat dia SMP ada orang gila yang biasa masturbasi di gang pojokan dekat sekolahnya. Kelihatan banget, dan sampe bikin risih. Ternyata, saya mengalaminya sendiri. Suatu ketika ada orang gila lewat di depan rumah dan iya benar, dia juga sedang melakukan masturbasi tepat di hadapan saya. Astagfirullah

Waktu itu saya buru-buru lari masuk ke dalam rumah. Malamnya ketika suami pulang, langsung saya ceritakan ke suami. Asli itu bikin trauma dalam beberapa hari. Bener-bener bikin nengok-nengok dulu khawatir kalau ada orang gila lagi.

Lalu saya membayangkan, saya yang sudah menikah saja bisa se-shock itu menghadapi peristiwa tadi. Gimana ceritanya kalau itu dialami anak-anak yang masih awam. Apa tidak lebih shock? Nau'dzubillah.

Iya, balik lagi ke kita sebaga orang tua untuk melakukan proteksi. Tapi, jangan lupa satu hal bahwa sebaik-baik penjagaan adalah milik Allah Ta'ala. Maka, titipkan saja diri kita, anak-anak kita, keluarga kita pada-Nya. Biar Allah langsung yang menjaganya. Aamiin


#harike10
#tantangan15hari
#zonapendidikanseksualitas
#institutibuprofesional

Ketika Anak Bertanya (Tantangan Pendidikan Seksualitas)

22:37 0 Comments




Topik terakhir adalah ketika anak bertanya tentang seksualitas. Huwaw, saya sendiri belum bisa bayangin sih kalau berada di posisi itu. Kira-kira akan berekspresi apa dan mau menjawab apa.

Cuma, saya inget banget dulu Bu Elly Risman pernah cerita buat konfirmasi dulu. Misal, si anak tanya seks itu apa sih. Hm..., jangan shock dulu, tapi tanya balik aja dulu, yang kamu tahu apa? Lucunya saya pernah dapat meme di medsos gitu. Ada anak kecil bertanya pada orang dewasa, apa itu seks. Lalu si orang dewasa itu menjelaskan dengan belepotan tapi benar-benar berusaha menjelaskan. Si anak cuma melongo, padahal dia cuma ingin mengisi formulir dalam bahasa Inggris di mana ada kata sex di situ yang artinya kudu dijawab laki atau perempuan. Nah lho, malah salah kaprah kan?

Ini bisa jadi senjata sih. Ketika si anak sudah sedikit tahu, orang tua tinggal mengonfirmasi saja. Pun jadi bisa menilai sejauh mana yang kira-kira bisa disampaikan pada anak. Yang jadi PR adalah, gimana biar tetap tenang dan tidak terkesan kaget ketika ditanya. Bukankah kesan pertama begitu menggoda. Khawatirnya si anak udah notice duluan nih kenapa kok ekspresi orang tuanya udah beda padahal ditanya gitu doang.

Oke, mudah-mudahan nanti siap menjawab pertanyaan seperti ini. Bismillah

#harike9
#tantangan15hari
#institutibuprofesional
#kelasbundasayang

Ketika Aqil dan Baligh Berjalan Tak Beriringan (Tantangan Zona Pendidikan Seksualitas)

22:07 0 Comments



Masya Allah sudah hari terakhir di zona ini dan saya masih punya hutang nyimak video plus hutang bikin laporan tantangannya. Bismillah....

Ini tentang topik ke lima yang disampaikan oleh teman-teman sobatualang yaitu tentang aqil dan baligh. Yup, aqil dan baligh itu dua kata saudar-saudara. Means, ada kalanya aqil datang pun baligh datang. Harapannya sih aqil datang duluan atau barengan dengan si baligh. Tapi kenyataannya?

Saya jadi teringat materi tentang ini juga yang disampaikan oleh Ustadz Hary Santosa. Saya ngeri sendiri ketika beliau mengatakan, "Bagaimana jadinya anak-anak yang sudah baligh di usia 10-12 tahun padahal mereka baru boleh/bisa menikah di usia 25 tahun" Wow, iya juga ya. Dan itu tantangan berat buat orang tuanya juga. Artinya memang PR aqil bersama baligh itu perlu diupayakan.

Cuma yang masih jadi pertanyaan saya adalah bagaimana untuk memulainya. Iya, kemarin sudah disampaikan oleh pemateri kalau sejak usia 7 tahun sudah mulai dikenalkan dengan tanggung jawab. Ah, PR sih buat saya untuk tidak sungkan mengutarakan duluan. Persis seperti yang dikatakan pemateri, buat anak untuk nyaman dulu dengan orang tuanya. Karena dengan mereka nyaman, maka mereka akan bercerita pada orang tuanya ketika akhirnya nanti mengalami menstruasi atau mimpi basah. Kalau saya sendiri sebagai orang tua risih untuk memulai ngobrolnya, gimana nanti anak mau nyaman dan cerita ke saya ketika mengalaminya?

Mungkin juga yang bisa dilakukan adalah dengan menunda si baligh datang buru-buru. Caranya? Meminimalisir media, menjaga asupan makanan, setidaknya itu yang saya ingat. Setuju banget sih, ketika zaman sekarnag semua makanan serba cepat saji, ya wajar kalau tumbuhnya cepat juga. Padahal ada makanan alami yang benar-benar clean eat yang bisa menjaga fitrah kita. Iya sih, makan dan makanan yang sesuia fitrahnya insyaAllah diri pun akan tumbuh sesuai fitrahnya kan. 

Plus media. Bener banget kalau perang media itu masyaAllah. Anak lihat akun yutub yang anak-anak saja kadang sliwer iklan yang pakaiannya terbuka. Lagi-lagi PR orang tuanya untuk mendampingi. Berat? Bismillah. Kalau Allah sudah mengamanahkan anak-anak di tangan kita, insyaAllah kita mampu untuk mendidiknya. InsyaAllah


#harike8
#tantangan15hari
#zonapendidikanseksualitas
#kelasbundasayang
#institutibuprofesional

Monday, 15 March 2021

Ini Cara Ayah Hadir dalam Pengasuhan (Tantangan Bunda Sayang Pendidikan Seksualitas)

03:55 0 Comments



Topik keempat di parade live bunda sayang ini menarik, tentang peran ayah dalam pendidikan seksualitas. Ah, saya tarik mundur dulu. Bukan cuma dalam hal pendidikan seksualitas sebenarnya, bahkan peran ayah sendiri dalam hal pengasuhan menjadi tema menarik yang selalu didengung-dengungkan di kelas parenting. Ya, pasalnya belum banyak ayah yang melek dengan parenting. Kelas-kelas pengasuhan selalu penuh dengan para ibu. Mirisnya adalah jangan-jangan muncul stereotype bahwa memang tugas ibu untuk mengasuh dan tugas ayah mencari nafkah. Hm...


Di sini saya tidak akan membahas suami. Saya justru tertarik dengan bapak dan bapak mertua rahimahullah. Saya ingat waktu kecil dulu sepertinya lebih dari tiga kali bapak saya bertanya, "Bapak seperti apa Kak? Kakak mau ganti bapak ndak?" Hm, agak awkward sih memang pertanyaannya. Kadang saya juga risih untuk menjawabnya, apalagi itu pernah ditanyakan saat saya sudah SMP, sudah bisa mikir kan hehe. Tapi ketika sudah dewasa begini saya baru memahami bahwa itu adalah salah satu upaya bapak untuk mendapat masukan dari anak. Itu adalah cara bapak untuk introspeksi plus tanpa sadar membuat saya belajar menerima bapak apa adanya.


Menariknya, dalam hal peran ayah salah satu kunci yang harus dipegang adalah bagaimana agar seorang anak bangga dan melihat sosok ayahnya sebagai pribadi yang baik. Baik itu LDM atau sesibuk apapaun ayahnya, pamali bagi seorang ibu untuk menjelek-jelekkan sosok ayah di depan anak. Persis seperti yang dilakukan Bunda Hajar pada Ismail lah. Sekalipun Nabi Ibrahim tidak 'hadir' secara fisik, tapi kekaguman itu diceritakan oleh Bunda Hajar sehingga ketika Nabi Ibrahim datang, Nabi Ismail merasa dekat dan kagum pula pada ayahnya.


Rasa kekaguman ini saya rasakan juga terjadi pada suami dan kakak-kakak ipar. Qodarullah, saya belum mengenal bapak mertua rahimahullah. Tapi, melihat bagaimana suami menempel kertas-kertas wejangan dari bapak di dinding kamarnya membuat saya paham betapa suami mengaguminya.


Saya tertarik dengan cara bapak mertua mendidik anaknya. Beliau serigkali menulis dalam sebuah kertas HVS berisikan pesan-pesan atau petuah dan diberikan kepada anaknya. Beberapa seperti rangkuman materi sebagai bahan bapak untuk mengisi pengajian. Tapi sebagian yang lain memang ditujukan langsung pada si anak karena di awal kertas itu dibuka dengan kalimat, "Anakku sayang". MasyaAllah.


Apa yang dilakukan bapak mertua itu mengingatkan saya pada buku Sabtu Bersama Bapak. Ya, meskipun bapak dalam buku tersebut sudah meninggal dunia, dia menyiapkan video yang rencananya akan diputar untuk anak-anaknya setiap hari Sabtu. Sekalipun bapak itu sudah tiada, namun sosoknya kembali hadir setiap hari Sabtu dan menjadi kedekatan sendiri bagi anak-anaknya.


Well, apapun upaya yang sudah dilakukan harapannya memang agar anak mengenal dengan sosok ayahnya. Yah, semoga makin banyak ayah yang melek dengan parenting, agar Indonesia tidak makin menjadi fatherless country. Aamiin


#harike7

#tantangan15hari

#pendidikanseksualitas

#kelasbundasayang

#institutibuprofesional

Quantity Time dan Quality Time demi Menumbuhkan Fitrah (Tantangan Bunda Sayang Zona Pendidikan Seksualitas)

03:33 0 Comments



Bismillah.. topik ketiga yang diangkat di parade live pendidikan seksualitas kelas bunda sayang adalah tentang mengenal fitrah seksualitas. Hm, bahasan ini sudah tidak asing bagi saya. Terlebih referensi yang dipakai oleh tim pemateri pun juga diambil dari Ustadz Harry Santosa. Berasa tinggal review saja jadinya.


Tapi PR-nya adalah bagaimana agar saya ingat dengan tahapan fitrah tersebut. Terlebih dengan kesibukan publik yang saya dan suami miliki. Kekhawatiran yang ada di benak adalah, apakah saya sudah dengan anak di fase usianya saat ini? Wallahua'lam.


Di fase usia Kak A dan Adik Z saat ini, mereka sedang dalam tahapan untuk dekat dengan ayah dan bundanya. Kak A tinggal 1 tahun lagi untuk lebih didekatkan pada papinya ketimbang pada saya. Sejujurnya saya paham konsep ini sejak dulu. Hanya saja, ya begitulah porsi waktu saya dan suami sepertinya memang tidak sebanyak porsi publik kami.


Tak apa, bismillah saja. Meskipun kualitas tak akan tercipta tanpa kuantitas, saya kembali diremider untuk memaksimalkan kuantitas yang ada saat ini. Semoga kuantitas yang secuil ini bisa menjadi ajang berkualitas untuk main bareng, ngobrol bareng, beraktivitas bareng demi menumbuh fitrah-fitrahnya. Tidak hanya fitrah seksualitas saja, tapi semua aspek fitrahnya. Aamiin...



#harike6

#tantangan15hari

#zona7pendidikanseksualitas

#kelasbundasayang

#institutibuprofesional

Saturday, 13 March 2021

Cegah Kekerasan Seksualitas dengan Pendidikan Seksualitas Sejak Dini (Tantangan Bunda Sayang Pendidikan Seksualitas)

06:10 0 Comments



Bismillah, materi kedua tentang pengenalan pendidikan seksualitas sejak dini. Sejak awal presentasi, tim sudah memaparkan tentang pentingnya poin ini karena di luar sana banyak terjadi kekerasan seksualitas pada anak kecil yang penyebabnya karena si anak tidak dipahamkan tentang pendidikan seksualitas terlebih dahulu.


Saya langsung teringat pada kejadian beberapa tahun lalu, saat masih belum punya anak. Sebut saja ada dua orang yang bertetangga bernama N dan Y, dengan anak perempuan mereka bernama D berusia 5 tahun dan I berumur 3 tahun. Karena usianya sepantaran, kedua anak ini selalu main bersama, bahkan kadang pun sampai berjam-jam main di rumahnya.


Suatu ketika saya bertanya pada Ibu Y, "Lho tumben I main sendiri, ga sama D" Barulah ibu Y bercerita. Dia memang melarang anaknya untuk main lain dengan D, pasalnya ada kejadian tak menyenangkan yang dialami I. Suatu ketika I main ke rumah sampai beberapa waktu. Lalu, I pun merasa ingin pipis. Karena D lebih besar dari I, maka dia pun mengantar I ke kamar mandi, membantu melepas celana, dan membantu menceboki. Sampai di sini sepertinya masih 'dimaklumi' kan. 


Sayangnya di sore harinya ketika I sudah pulang ke rumah, dia mengeluh area genitalnya sakit. Barulah Ibu Y ini 'menginterogasi' anaknya kenapa kok bisa sakit dan seterusnya. Hingga akhirnya Ibu Y tahu kejadian diantar pipis tadi. Usut punya usul ternyata saat menceboki itu D melakukannya dengan agak keras sehingga membuat I kesakitan. Ibu Y sempat panik, khawatir kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Waktu mendengar cerita itu, saya merinding juga. Di sini saya melihat dari sudut pandang orang netral ya. Di satu pihak, Mama N dan anaknya D tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Ketika I kebelet pipis dan sedang berada di rumahnya, wajar kan kalau dipersilakan buang air kecil sekalian saja. Di pihak lain dengan usia I yang baru tiga tahun, wajar juga kalau proses ini pun dia 'dibantu', meski harusnya bukan anak usia lima tahun juga yang membantunya.


Di sisi lain, saya setuju sekali kalau kejadian ini bisa dihindari jika anak diberi pendidikan seksualitas sejak dini. Dari sudut pandang Ibu Y, sebenarnya bisa saja dengan mensounding anak sejak kecil tentang bagian tubuh mana-mana saja yang boleh disentuh. Pun tentang kemungkinan kejadiana bagaimana kalau terasa ingin kencing padahal tidak sedang di rumah.


Well, dari pengalaman ini saya belajar cukup banyak. Semoga tidak ada lagi kasus seksualitas yang tidak diinginkan hanya karena terlambat memberikan pendidikan seksualitas sejak dini. Aamiin


#harike5

#tantangan15hari

#zona7pendidikanseksualitas

#kelasbundasayang

#intitutibuprofesional

Friday, 12 March 2021

Paham Gender: Aku Laki-laki (Tantangan Bunda Sayang Zona Pendidikan Seksualitas)

22:06 0 Comments


Bismillah, di FB grup Pantai Bentang Petualang sudah mulai jadwal presentasi topik. Syukurlah, tim Solo tidak terpilih. Eh gimana? Haha… Ya begitulah, saya bersyukur cukup jadi pemirsanya saja, lha wong ini aja juga telat nyimaknya haha.


Di topik pertama ini yang diangkat adalah tentang perbedaan gender. Yup, intinya bagaimana anak paham tentang gendernya, apakah dia laki-laki atau perempuan. Alhamdulillah, Kak A sudah paham tentang itu. Dia tak jarang berkata, “Aku kan laki-laki.”


Yang masih menjadi PR adalah Adik Z. Usianya memang baru dua tahun sih, dan dari pemaparan tim kemarin memang anak paham gender di usia mulai dua hingga empat tahun. Apakah Adik Z bingung gender? Oh, bukan begitu. Dia tahu kok dia laki-laki, Cuma mungkin karena kedekatan dengan figur perempuan saja makanya dia melihat bahwa dia mengambil peran perempuan.


Maksudnya? Haha, agak belibet ya. Jadi, Adik Z itu suka sekali dengan hewan. Kebetulan, di rumah ada boneka sisa maminya. Hahaha, iya boneka sejak zaman saya masih kecil masih ada. Salah satu favorit Adik Z adalah boneka beruang, hampir setiap saat bonek itu dia gendong. Nah, karena Adik Z sering menggendong beruang itulah dia menyebut dirinya ‘Mama Beruang’. Pernah saya mencoba meluruskan, “Papa Beruang”, tapi Adik Z menolak. Katanya, yang gendong kan Mama bukan Papa.


Oke, ini sih sepertinya bukan bingung gender ya, lebih ke kurang pengenalan aktivitas saja sepertinya. Tapi ngomong-ngomong tentang kurangnya pengenalan aktivitas, saya jadi teringat dengan kisah Irfan Hakim. Dulu banget waktu di acara Hafidz Indonesia, Irfan Hakim pernah cerita. Suatu kali dia baru di rumah dan sudah memasuki jam sholat. Dia pun mengajak sekeluarganya untuk sholat berjamaah. Fyi, Irfan Hakim punya beberapa orang anak dan yang paling kecil laki-laki.


Apa yang terjadi? Di saat akan sholat itu, si bungsu meraih mukena seperti kakak-kakaknya. Melihat itu Irfan Hakim menangis. Mungkin bagi sebagaian orang hal itu akan dianggap lucu, tapi tidak bagi Irfan Hakim. Dia menganggap bahwa dirinya kurang mengenalkan sosok laki-laki yang sholat dengan memakai sarung dan bukan dengan mukena layaknya kakak-kakaknya.


Yup, dari situ saya makin setuju dengan pemaparan tim bahwa pengenalan gender itu memang bisa dimulai dengan pencontohan dari orang tuanya. Ayah dan bundanya lah yang memberikan makna tegas bahwa saya laki-laki atau saya perempuan. Bismillah


#harike4

#tantangan15hari

#bundasayang

#zonapendidikanseksualitas

#institutibuprofesional



Sunday, 7 March 2021

Cwk Atau Cwk (Tantangan Zona Pendidikan Seksualitas)

06:26 0 Comments



Alhamdulillah, tugas kelompok zona bunsay sudah disetorkan. Ohiya, kami mendapat tema tentang Penyimpangan Seksual, Pencegahan, dan Solusi. Tema yang agak-agak gimana gitu buat saya pribadi, hihi. Tapi Alhamdulillah bisa selesai juga berkat orang-orang hebat di tim.


Kemarin saat diskusi final ada bahasan menarik yang diangkat. Seorang teman psikolog bercerita bahwa dia memiliki seorang teman wanita yang postur tubuhnya dari sananya seperti laki-laki. Hingga orang akan mengira bahwa dia laki-laki. Pun sampai sekarang, dia akan terlihat layaknya laki-laki.


Saya cukup tergelitik di sini. Statementnya adalah bahwa dasarnya Allah yang menciptkan bentuk tubuh seseorang kan. Bentuk dada yang bidang ibarat lelaki misalnya, boleh jadi akan diciptakan pada kaum wanita karena mungkin faktor genetik ayahnya berdada bidang juga. Tapi, apa iya untuk kasus begini akan berdampak ke psikologisnya sehingga nantinya berdampak pada penyimpangan seksual? Nah ini yang saya kurang paham.


Dalam benak saya, seadainya dia Muslim, tanpa melihat dia berdada bidang atau berotot kekar, kalau nurut sama perintah Allah SWT untuk menutup kepala dan menjulurkan kain ke dadanya bukankah sudah menjadi solusi? Setomboi apapun dirinya seandainya dia memakai hijab tetap akan dilihat sebagai seorang wanita kan. Ah, mungkin di sinilah maksud Allah memerintahkan kaum wanita berhijab dengan alasan agar kamu mudah dikenali. Bener banget kan kalau dengan berhijab maka kita dikenali sebagai wanita.


Poin kedua, seandainya secara fisik dia terlihat berbeda dengan jenis kelaminnya, apakah itu akan mempengaruhi pola asuh dari orang tuanya sehingga makin memantapkan perbedaan jenis kelamin itu. Misal, ketika sang mama melihat anaknya kekar, apakah dia akan berkata, "Wah Nak, ototmu kekar sekali. Yuk kita fitness dari sekarang, trus kita berburu dan ngebengkel dengan kekuatan ototmu." Kayaknya kok tidak ya.


Yang saya bayangkan, bukankah dengan sekekar apapun si anak, ketika dia kecil tetap akan dibelikan boneka dan perangkat masak-masakan. Pun seorang bayi wanita kecil, bukankah sang ibu akan tetap memakaikan baju-baju pink dan pernak-perniknya yang lucu. Sekalipun mungkin terlihat aneh dengan fisiknya yang kekar.


Dari situ saya jadi menganggap bahwa apapun bentuk ciptaan Allah, tetap saja fitrah yang baik tidak akan menyimpang. PR-nya adalah bagaimana tetap menjadi sesuai fitrahnya, sehingga dia tetap berlaku sesuai kodratnya dan tak perlu ada kasus penyimpangan seksual, Wallahua'lam


#harike3

#tantangan15hari

#zonapendidikanseksualitas

#pantaibentangpetualang

#kelasbundasayang

#institutibuprofesional

Friday, 5 March 2021

Dilema Mandi Bersama (Tantangan Zona Pendidikan Seksualitas)

02:47 0 Comments



Bismillah… Tulisan kali ini masih tentang temuan insight selama menyimak paparan dari kakawi. Salah satu yang menarik bagi saya adalah ketika ada yang bertanya gimana kalau mandi bareng. Kasusnya si kakak perempuan usia lima tahun dan adik laki-laki usia tiga tahun. Hm, ini relate banget sama saya.

 

Hampir tiap hari, Kakak A dan Adik Z mandi bareng. Dalam hal ini mereka sama-sama laki-laki. Walaupun tidak menutup kemungkinan, kalau sesama laki-laki dianggap lebih aman. Cuma… ya gimana, buat mamak-mamak yang pingin serba simple, mandi bareng itu seolah sangat menghemat waktu. Sekali guyur, langsung dua-duanya. Sekali ngasih sabun sekalian, ngambil handuk, pakai baju juga sekalian.

 

Pernah sih saya kepikiran untuk membuat mereka mandi terpisah. Pernah kejadian beberapa kali juga. Biasanya karena Kakak A lebih asyik mainan saat saya ajak mandi. Alhasil kami melakukan konsekuensi, kalau tidak mau mandi sekarang berarti nanti mandi sendiri. Sayangnya itu tidak terjadi setiap hari. Kakak A masih terbawa kebiasaan mandi sekalian bareng adik. Plus dengan embel-embel maunya dimandiin Mami. Yah, poin kemandirian di fase ini memang naik turun sih, dan memang belum saatnya untuk dimandirikan kan, masih sebatas dilatihkan. Begitu kalau kata Ustadz Harry.

 

Sebenarnya mereka pun masih aman-aman saja sih. Kalau mandi bareng juga tidak terduga kemungkinan main-main dengan alat genitalnya. Ya itu tadi, mamak maunya simple. Bahkan urusan mandi adalah urusan yang paling sering bikin naik emosi. Hehe, poin komunikasi produktifnya mulai keteteran lagi ketika membujuk mereka mentas dari main air atau segera pakai baju.

 

Yang agak bikin khawatir kalau sepupu perempuannya datang saat lebaran. Yah meskipun itu satu setengah tahun yang lalu sih. Umur Kak A juga baru 3.5 tahun, belum tertarik dan tidak terlihat indikasi aneh-aneh antara genital laki-laki dan perempuan. Hanya saja kalau tahun ini sepupunya datang, saya sudah perlu sounding untuk tidak mandi bersama lagi.

 

Sempat terpikirkan, mungkin nanti kalik ya kalau sudah mulai masuk sekolah. Sepertinya bisa saya sounding sejak sekarang untuk meminta Kak A mandi sendiri kalau mau sekolah nanti. Bismillah mudah-mudahan bisa. Sekalian sounding biar kemandirian dapat plus poin pendidikan seksualitasnya juga dapat. InsyaAllah 


#hari2

#tantangan15hari

#zona7pendidikanseksualitas

#kelasbundasayang

#pantaibentangpetualang


Wednesday, 3 March 2021

Penerapan Pendidikan Seksualitas Juga Butuh Duit (Tantangan Bunda Sayang Zona Pendidikan Seksualitas)

22:47 0 Comments

 



Bismillah, lagi-lagi sudah masuk zona baru. Wow, sudah dua zona terakhir. Temanya menarik yaitu tentang Pendidikan Seksualitas. Lebih menarik lagi karena tantangan di zona ini berbeda. Kalau biasanya, kami diminta untuk melakukan aktivitas bersama anak lalu membuat jurnalnya, kali ini kami lebih diminta untuk ‘belajar’ dulu. Boleh sih, mau eksekusi, tapi belajarnya jangan lupa.

 

Jadi selama lima hari pertama ini, kami diminta diskusi bersama teman-teman satu regional. Kami boleh menuliskan insight dari diskusi yang dilakukan, atau boleh juga menulis sumber referensi, dll. Nanti di hari keenam sampai sepuluh, kami diminta untuk menyaksikan hasil diskusi dari teman-teman yang tepilih. Lalu kami diminta untuk membuat resume atau insight atau menuliskan aha moment yang didapat. Hm, menarik kan?

 

Okay, karena hari ini di IP Solo masih setoran materi dan saya belum sempat membaca semua materinya (ahahaha ketahuan kan Cuma nginthil dulu) ya udah deh kali ini mengkristalkan lagi poin-poin yang didapat dari paparan kakawi kemarin. Ada beberapa yang menarik, salah satunya tentang tidur atau kamar terpisah.

 

Memang betul ada hadits yang mengatakan bahwa pisahkan anakmu di usia sepuluh tahun. Masalahnya, apakah mudah untuk melakukan itu? Oh, ini bukan hanya perkara menjadi Muslim yang taat dan menjalankan Sunnah Rosul. Bahkan salah satu yang menjadi pertimbangan adalah apakah finansial mendukung melakukan itu?

 

Yah, tidak bisa dipungkiri, kondisi manusia Indonesia memang tidak sepenuhnya ‘berada’. Tetangga depan rumah saya misalnya. Seorang nenek dengan anak 9 orang yang semua sudah berkeluarga, sudah beranak, bahkan sudah bercucu semua. Rumahnya? Hm, luasnya mungkin sama dengan rumah kami yang hanya berisi tidak sampai seperempatnya. Saya tidak terbayang, tidurnya gimana ya, kamarnya gimana?

 

Oh, ini tidak meremehkan mereka. Bukan, tapi ini memang memikirkan anjuran hadits di atas. Plus, kaitan dengan materi Pendidikan Seksualitas. Kalau tidak salah ingat, dulu sekali pernah menyimak materi dari Ibu Elly Risman, beliau berkata bahwa anak kecil usia berapapun yang melihat baik sengaja atau tidak sengaja bahkan termasuk mendengar suara orang tuanya yang sedang berhubungan suami istri itu akan berdampak pada kondisi otaknya. Dan dampaknya itu seringkali menyebabkan ‘penyimpangan’ pada anak tersebut, entah dengan matang lebih cepat misalnya, atau melampiaskan dengan tidak pada tempatnya. Naudzubillah…

 

Jadi, berhati-hati saat hubungan suami istri itu memang penting. Dan salah satu kuncinya memang dengan memisahkan kamar tidurnya. Tapi, bagaimana kalau dana tidak mencukupi, lahan rumah tak ada. Yup, di situ tantangannya.

 

Maka, urusan pendidikan seksualitas ternyata tidak sesimple itu, sampai perlu persiapan finansial juga kan. Jadi, jika memang peduli kesehatan mental anak terhadap seksualitas, yuk usaha cari duit lebih ekstra. Biar Allah melancarkan rejeki, bisa bikin kamar untuk anak sendiri-sendiri.

 

Eh, kok jadi gini kesimpulannya. Ya, begitulah. Iyain aja. Haha

Wednesday, 17 February 2021

Ebook OJK (Tantangan Zona Stimulasi Matematika dan Finansial)

23:28 0 Comments



Baiklah.. jurnal terakhir di zona ini. Apa daya ketiduran dua kali lantas menurunkan mood sampai dasar. Haha... 


Sebenarnya tema matematika dan finansial saya lakukan, hanya saja momennya tidak saya tangkap. Ah, ya, kurang mindfullness.


Jadi untuk menutup jurnal sepuluh kali setoran saya menceritakan membaca buku OJK semuanya. Yup, buku itu kami baca. Kenyataannya sehari bisa satu atau dua ebook. Jadi kalau mau sebenarnya saya bisa bikin masing-masing menjadi tantangan di hari yang berbeda. Tapi sudahlah gabung jadi satu saja.


Refleksinya alhamdulillah Kak A menyimak. Dia tahu info dasar. Niatnya mau diperdalam lagi di kehidupan nyata, tentang perbedaan mata uang misalnya, atau tentang menabung. Yup bismillah


Bintang untuk beberapa hari terakhir ini tiga saja karena nyatanya saya malas menjurnal. Hehe


#harike10

#tantangan15hari

#zona6stimulasimatematikafinansial


Saturday, 13 February 2021

Kebutuhan vs Keinginan (Tantangan Zona Stimulasi Matematika dan Finansial)

22:12 0 Comments



Sejak kemarin, kami ada di rumah simbah di Wonogiri. Iya, simbah sedang kurang fit. Alhasil anak cucunya bergantian menemani simbah jika longgar. Nah, karena di sini Kak A tidak membawa mainan, maka saya yang memutar otak mencari media belajar matematika. Berhubung Kak A juga tidak membawa buku barunya, bagi saya ini kesempatan untuk membacakan ebook dari OJK.


Ebook pertama yang saya pilih tentang Penghapus Rama. Ceritanya tentang menentukan mana kebutuhan dan mana keinginan. Rama yang sedang membuat kartu ucapan tergoda dengan iklan es krim anggur. Tulisannya jadi berantakan karena ga fokus. Tapi ketika akan menghapus, ternyata penghapusnya mau habis. Jadi dia pun harus beli penghapus dulu. Tapi di satu sisi dia juga ingin beli es krim anggur. 


Hm, menarik kan. Dilema klasik nih. Kita yang gedhe aja masih suka sok-sokan nyebut keinginan sebagai kebutuhan. Jadi, ilmu finansial dasar ini penting banget buat dikenalkan pada anak sejak dini. Biar mantap dan ga tergoda iman sampai kelak dewasa.


Saat membaca bukunya Alhamdulillah Kak A paham mana kebutuhan dan mana yang keinginan. Kak A bisa berkomentar saat saya bertanya, "Harusnya beli pengahapus atau es krim anggur ya?" Kak A bisa menjawab penghapus sebagai kebutuhan yang memang harus dibeli. Alhamdulillah, moral of story-nya nyampe.


Setelah baca buku, saya pun iseng mengetes Kak A. "Jadi, kalau haus tuh beli minum atau beli dozzer ya?" Sambil tertawa Kak A menjawab, "Minum". Yup, saya pun menguatkan bahwa minum adalah kebutuhan dan beli mainan dozzer hanya keimginan.


Tapi yang namanya Kak A, tetap saja dia iseng. Saat saya bertanya berikutnya, "Kalau lapar berarti beli makanan atau beli Spiderman?" Kak A spontan menjawab, "Spiderman." Saya pun menimpali, "Emang Kak A butuh Spiderman? Cuma pingin kan, bukan butuh. Kalau laper nanti gimana dong karena belum beli makanan." Dengan santainya Kak A menjawab, "Spidermannya nanti dimakan"

Fyuh, dasar Kak A!


Yah, kali ini bintang empat saja lah ya.


#harike9

#tantangan15hari

#zonastimulasimatematikafinansial

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

Friday, 12 February 2021

Sing A Song (Tantangan Zona Stimulasi Matematika dan Finansial)

07:54 0 Comments



Hari ini saya berencana membacakan buku dari OJK. Apa daya Kak A kurang tertarik. Kebetulan dua hari kemarin ada buku baru datang. Ya sudah, kalah pamor dengan buku barunya. So, saya perlu memutar otak cepat nih biar bisa segera eksekusi hari ini. Dan saya langsung kepikiran untuk sing a song.


Tahu dong lagu tentang berhitung. Yup, apalagi kalu bukan satu ditambah satu. Nah, saya pun menyanyikan itu sambil lagi-lagi bermain jari. Karena kemarin sempat main jari, Kak A pun ikut-ikutan memainkan jarinya. Setelah satu putaran lirik lagu, saya pun mengimprovisasi lagunya.


Saya: Satu ditambah dua, sama dengan 

Kak A: Tiga

Saya: Tiga ditambah satu, sama dengan

Kak A: Empat

Saya: Empat ditambah dua, sama dengan

Kak A: Enam

Saya: Enam ditambah tiga, sama dengan

Kak A: Sembilan


Yeiy bisa. Walaupun tetap saja Kak A sebelum menjawab harus menghitung jari secara konkret terlebih dulu karena belum begitu familiar dengan simbol jari untuk angka enam sampai sepuluh. Tapi setidaknya ini sudah cukup baik karena dia makin punya pengalaman tentang penambahan dalam matematika.


Biar lebih asyik, saya pun mengajak menyanyikan lagu berikutnya yaitu Balonku. Lagu ini secara tidak langsung mengajarkan tentang pengurangan dalam matematika. Hm, bisa jadi kombinasi untuk lagu satu tambah satu tadi kan. Nah kali ini saya mengimprovisasi sedikit juga.


Balonku ada empat

Rupa-rupa warnanya

Kuning-kuning kelabu

Merah muda dan biru

Meletus balon kuning DOR

Hatiku sangat kacau

Balonku tinggal?

(Kak A menjawab) tiga

Kupegang erat-erat


Hehe agak maksa sih untuk bagian lirik warnanya, but its okay. Saya menunjuk empat angka dengan jari. Dan ketika balon meletus, saya turunkan satu jari. Jadi lagi-lagi Kak A menghitung sisa balon dengan jari secara konkret.


Simpel sih, tapi bisa menjadi pembelajaran matematika yang meyenangkan karena sambil bernyanyi juga. Sebenarnya masih ada banyak lagu matematika juga, cuma berbahasa Inggris. Seperti lagu ten little indian, atau lagu jumping on the bed, dll. Tapi karena saya memang belum fokus pada Bahasa Inggris jadi sementara pakai lagu ini dulu. 


Hm, ada ide lagu lain lagi nggak ya?


#harike8

#tantangan15hari

#zonastimulasimatematikafinansial

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#kelasbundasayang 

Thursday, 11 February 2021

Menyusun Tangga (Tantangan Zona Stimulasi Matematika dan Finansial)

06:46 0 Comments



Salah satu permainan yang Kak A suka dan bisa adalah bermain balok atau lego. Yup, dulu pernah saya bahas di zona melatih kreativitas. Kak A memang cenderung dominan kecerdasan spasial. Jadi permainan bikin-bikin sesuatu atau menyusun bentuk tertentu adalah permainan yang mengasyikkan baginya.


Kali ini saya memanfaatkan media balok kayunya untuk menjadi sarana stimulasi kecerdasan matematika. Saya siapkan tumpukan kayunya lalu saya ambil satu balok kayu. Saya tanya pada Kak A, "Ini berapa Kak?" Dia menjawab satu. Lalu saya letakkan satu balok kayu itu di lantai.


Saya ambil lagi dua balok kayu dan kembali bertanya pada Kak A. "Ini berapa Kak?" DIa menjawab dua. Lagi-lagi saya meletakkan dua balok itu di lantai, persis bersebelahan dengan balok pertama tadi. Saya susun dua balok tadi ke atas, bukan menyamping.


Selanjutnya saya minta Kak A untuk mengambil tiga balok kayu dari wadah. Kak A pun mengambil dan ikut-ikutan menyusun ke atas. Dia meletakkan tiga balok susun tadi tepat di sebelah balok yang kedua. Begitu seterusnya hingga ada lima balok yang diambil. Dari sini, kami lagi-lagi belajar tentang jumlah secara konkret. Mungkin terlalu simpel sih untuk usia Kak A.


Lalu saya bertanya, "Ini jadi apa nih?" Kak A menjawab, "Jadi tangga!"

Yup, betul sekali. Balok yang disusun berjejaran tadi memang membentuk sebuah tangga. Saya mengajak Kak A mengambil mainan superheronya dan memintanya untuk menaiki tangga. Tentu saja tidak sekedar naik, tapi sambil berhitung di setiap menapaki jejak tangga berikutnya. Satu - dua - tiga - empat - lima. Superhero pun berhasil sampai tangga ke atas.


Sebagai tambahan, saya lanjutkan lagi tentang konsep tinggi dan rendah. Ini termasuk kemampuan kecerdasan matematika juga kan. Saya bertanya pada Kak A, "Mana balok kayu yang paling rendah?" Kak A bisa menjawab balok pertama. Saya bertanya lagi, "Mana susunan balok kayu yang paling tinggi?" Kak A bisa menjawab balok kayu yang kelima.


Alhamdulillah, konsep sederhana ini Kak A sudah paham. Sekian dulu permainan kami kali ini. Bintang yang kami dapat lima karena Alhamdulillah kami bisa bertahan untuk konsisten bermain tiap hari meski dengan ide sederhana.


#harike7

#tantangan15hari

#zonastimulasimatematikafinansial

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#kelasbundasayang 

Wednesday, 10 February 2021

Jari Tanganku (Tantantang Zona Stimulasi Matematika dan Finansial)

05:08 0 Comments



Memasuki lima hari kedua di tantangan 15 hari. Kalau menurut saya, lima hari kedua ini adalah fase yang paling berat. Eh, ini sih buat yang ala-ala mengejar badge ya. Karena kalau sampai ketiduran di lima hari ini alamat hilang sudah kesempatan mendapat badge 15 hari berturut-turut atau 10 hari berturut-turut. Ujung-ujungnya cuma dapat badge 10 setoran meski rapel. Nah jeleknya di saya, karena rapel ga masalah toh dapetnya ini juga trus jadi bikin ntar-ntar aja setornya kan bisa dirapel. Haha... Niat buruk!


Baiklah, kembali ke topik stimulasi kecerdasan matematika dan finansial. Masih ada banyak ide yang sudah dituliskan namun belum sempat dieksekusi. Yah qodarullah mamaknya ni lagi keasyikan ngurus yang lain. Hehe... Alhasil acara hari ini simpel-simpel saja. Asal tetap nyambung dengan matematika.


Sambil tiduran, saya memutar otak. Mau main yang apa ya kali ini. Tiba-tiba saya teringat "Oh iya, main simbol angka dengan jari aja lah." Maka kami pun mengatur posisi seperti biasa. Adik Z di sebelah kiri, saya di tengah, dan Kak A di sebelah kanan. Kami tiduran layaknya akan mulai bercerita.


"Kak tebak, ini angka berapa?" Saya mengacungkan satu telunjuk saya. Kak A bisa menyebut 1. Next dua jari yang saya acungkang, begitu seterusnya sampai dengan lima jari terbuka semua. Alhamdulillah Kak A bisa. Haha, iya sih simpel. Next lanjut ketika saya mengacungkan jempol tangan kiri, Kak A agak ragu. Ternyata dia belum paham penunjukkan angka dengan jari untuk enam sampai sepuluh.


Begitu selesai sepuluh angka, saya lanjutkan dengan penjumlahan dan pengurangan sederhana. Di tangan kanan saya mengacungkan dua jari, lalu Kak A menyebut ada berapa. Di tangan kiri saya mengacungkan tiga jari, lagi-lagi Kak A menyebut juga. Setelah itu saya memancing, "Jadi jari Mami semua ada berapa?" Kak A pun menghitung semuanya dan benar jawabannya lima.


Begitu juga dengan pengurangan. Saya menunjukkan jari di kedua tangan lalu berkata, "Ada jari yang capek dan mau turun. Sekarang tinggal berapa ya?" Alhamdulillah Kak A bisa, meski dengan menghitung satu-persatu jarinya. Tak apa, memang katanya di fase ini anak diperkenalkan dengan menghitung yang konkret. So, dia paham secara konkret kalau tadi ada tujuh jari yang berdiri lalu ada dua jari yang turun dan sekarang tinggal lima.


Di akhir, Kak A gantian yang bermain-main dengan jarinya. Dia mengacungkan jempol dan kelingking lalu bilang ini berapa? Dia menghitung dua. Begitu juga ketika dia hanya mengacungkan jari tengah, dia bilang satu. Yup, ini membuat anak kreatif bahwa dua tidak melulu tentang telunjuk dan jari tengah. Bisa juga dengan jari lainnya asal jumlahnya sama. MasyaAllah...


Hari ini kami mendapat bintang lima lagi. Alhamdulillah...


#harike6

#tantangan15hari

#zonastimulasimatematikafinansial

#pulaubentangpetualang

#institutibuprofesional

#kelasbundasayang

Tuesday, 9 February 2021

Gerbong Kereta Api (Tantangan Zona Stimulasi Matematika dan Finansial)

05:28 0 Comments



Buat Kak A dan Adik Z, main pasir, batu, dan air ibarat surga. Mereka bisa main tiga material ini berjam-jam sampai kadang lupa waktu, lupa belum mandi, belum makan, bahkan lupa kalau sudah ngantuk. Tentang permainan ini sudah saya jadikan tema di zona ketiga tempo dulu. Meskipun zonanya sudah usai, tetap saja main pasir, air, dan batu tetap menjadi aktivitas sehari-hari. Nah, kali ini permainan seputar itupun saya masukkan di zona tantangan kecerdasan matematika dan finansial.


Fokus permainan kali ini adalah batu kerikil. Saya mengajak Kak A untuk membuat kereta api dari kerikil yang ditata panjang. Kak A bersemangat untuk mengambil kerikil-kerikil kecil yang bertebaran. Saya meminta Kak A untuk mengambil batu yang agak lebih besar untuk dijadikan kepala kereta alias lokomotif. Begitu juga satu batu ukuran sedang untuk bagian ekor.


Dari sini Kak A sudah belajar konsep besar kecil. Mana yang lebih besar dan mana yang lebih termasuk salah satu kecerdasan matematika dasar. Tidak berhenti di situ, saya pun meminta Kak A untuk menghitung jumlah batu yang disusunnya. Alhamdulillah Kak A bisa menghitungnya.


Selanjutnya kami membuat lagi kereta serupa di sebelahnya. Kali ini batu yang dipilih adalah batu yang cenderung berwarna putih. Yah semacam gamping atau batu apung kali begitu. Hanya ada sedikit batu yang dikumpulkan, tidak sebanyak batu kereta pertama tadi. Lagi-lagi saya meminta Kak A untuk menghitung jumlah gerbong kereta alias batu putih yang disusunnya. Di sini termasuk belajar pengelompokkan lagi karena Kak A diminta menyortir batu-batu yang cenderung berwarna putih daripada memilih yang hitam.


Nah karena kereta yang jadi cuma dua, kami membuat satu kereta lagi. Maksudnya biar satu kereta untuk Kak A, satu untuk Z, dan satu untuk saya, Hm, tanpa sadar di sini masuk konsep pembagian juga, dibagi sama rata biar masing-masing punya satu. Maka kami pun membuat satu kereta lagi di sebelahnya dan lagi-lagi kami menghitung jumlah gerbong.


Satu lagi, setelah ketiga kereta jadi, saya bertanya pada Kak A, "Mana kereta yang paling panjang? Mana kereta yang paling pendek?" Alhamdulillah Kak A dan Adik Z bisa menyebutkan. 


Ya, dari bermain kereta begini saja ada banyak poin kecerdasan matematika dasar yang bisa distimulasi. Bahkan bisa menstimulasi kreativitas karena membuat kereta dari batu. Alhamdulillah, bintang lima untuk saya dan Kak A.


#harike5
#tantangan15hari
#zona6stimulasimatematikadanfinansial
#pantaibentangpetualang
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Monday, 8 February 2021

Ayo Pulang Ke Rumah (Tantangan Zona Kecerdasan Matematika dan Finansial)

05:59 0 Comments



Baru pagi hari, saya sudah memutar otak mengajak Kak A dan Adik Z main. Pasalnya, pagi-pagi mereka sudah ribut berebut sesuatu. Ya sudah, daripada ramai, mending saya mengajak salah satu menepi dan mulai mencari ide untuk membuatnya sibuk.


Awalnya saya mengajak Adik Z untuk menggambar di kertas. Saya menggambar sebuah bunga cukup besar, lalu meminta Adik Z untuk menyebutkan gambar apa. Bunga itu saya gambar di kertas atas bagian kiri. Lalu di bagian agak tengahnya, saya menggambar sebuah bintang. Tanpa ditanya, Adik Z langsung bersorak 'bintang'. Satu lagi, saya menggambar satu wajah beruang di kertas sebelah kanan. Jadilah tiga gambar itu berjejer berurutan.


Tiba-tiba saya mendapat ide untuk membuat gambar bunga, bintang, dan beruang di sekitar tiga gambar besar tadi. Iseng saja menggambarnya di sekelilingnya. Lalu Adik Z mulai menunjuk-nunjuk ini bintang, ini bunga, ini beruang. Karena suasana sudah mulai kondusif, Kak A pun datang menghampiri. Nah mulailah stimulasi matematika beraksi.


Saya minta Kak A untuk menghitung ada berapa jumlah bunga, berapa jumlah bintang, dan berapa jumlah beruang. Tanpa saya sadari, ternyata jumlahnya berbeda-beda. Ada tujuh bunga yang saya gambar. Lalu ada enam bintang dan lima beruang. Di sini saya memancing lagi, "Jadi mana yang paling banyak? Bunga, bintang, atau beruang?" Jawaban Kak A benar, bunga yang paling banyak. Alhamdulillah, berarti dia sudah paham salah satu konsep matematika dasar tentang lebih banyak dan lebih sedikit.


Lalu ketiga gambar besar tadi saya buatkan 'rumah'. Saya gambar dinding rumah mengelilingi gambar tadi. Jadilah ada rumah bunga, rumah bintang, dan rumah beruang. Lalu saya meminta Kak A untuk menari garis dari masing-masing gambar kecil menuju ke rumahnya masing-masing. Untuk bunga-bunga kecil yang bertebaran ditarik garis ke rumah bunga. Begitu juga untuk gambar bintang dan beruang. Sederhana sih, tapi ini melatih koordinasi tangannya untuk menulis. Sekaligus melatih kecerdasan matematika seperti beberapa waktu lalu tentang konsep himpunan dengan cara mengelompok-ngelompokkan.


Alhamdulillah Kak A bisa menarik garis setiap gambar menuju rumahnya masing-masing. Tapi permainan tidak berhenti di situ. Saya menambahkan konsep tentang arah di sini. Karena ketiga rumah itu berjejeran, saya tanya ke Kak A "Mana rumah yang tengah? Mana rumah yang sebelah kanan? Mana rumah yang sebelah kiri?" dst. Ini ternyata masuk dalam konsep matematika dasar juga.


Alhamdulillah pagi ini kami masih mendapat lima bintang. Yah walaupun awal mulanya karena 'tragedi' tapi ternyata justru jadi pemantik untuk bermain matematika lagi. Alhamdulillah...


#harike4
#tantangan15hari
#zona6stimulasimatematikadanfinansial
#pantaibentangpetualang
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional