Follow Us @soratemplates

Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Wednesday, 14 March 2012

Berbagi Suami

19:42 0 Comments
Bagi para istri atau calon istri, bagaimanakah rasanya jika kelak harus berbagi suami? Perasaan bergolak pastinya akan muncul. Rasa itulah yang dibidik oleh Nia Dinata dalam filmnya yang berjudul Berbagi Suami. Saya memang tidak melihat filmnya, tetapi saya berkesempatan untuk membaca buku skenarionya.

Perasaan orang yang dipoligami bisa bermacam-macam. Pertama adalah pasrah, seakan menerima apa adanya tanpa mau ambil pusing untuk mengurusnya. Kedua, mendukung bahkan saling berbagi satu sama lain dengan istrinya. Ketiga, menghindar dan dalam hati menolak. Termasuk pula perasaan orang yang akan dijadikan istri kesekian. Ada yang menerima dengan lapang dada, ada pula yang menerima dengan terpaksa. Semua warna-warni rasa itu terangkum manis dalam film karya Nia Dinata tersebut.

Film (yang mana saya membaca bukunya) terbagi dalam tiga babak. Babak pertama bercerita tentang seorang dokter yang pasrah dipoligami oleh suaminya yang seorang ustadz. Dokter itu tak mau ambil pusing, bahkan rasa cintanya pada suami berubah menjadi rasa kasihan semata.

Babak kedua bercerita tentang seorang wanita yang berharap disekolahkan oleh pamannya. Tetapi akhirnya justru dinikahi sebagai istri ketiga. Wanita ini dalam hati menolak, hingga akhirnya diceritakan melarikan diri meninggalkan sang suami.

Babak ketiga bercerita tentang seorang gadis yang dinikahi oleh majikannya. Wanita itu menerima dengan senang hati karena mendapat fasilitas lengkap dari majikannya. Tetapi pada akhirnya cinta itu kandas karena sang suami dilarang oleh istrinya.

Semua perasaan itu mewakili kemungkinan perasaan dari semua wanita. Tak ada sedikit pun statement yang memberikan pendapat Nia Dinata mengenai poligami. Semua hanya sebuah paparan dan semua dikembalikan lagi kepada penonton atau pembaca untuk menilai bagaimanakan perasaan jika dipoligami.

Terlepas dari isu poligami itu sendiri, saya lebih mengamati tentang bagaimana penulisan skenario. Ada satu kelebihan penulisan skenario yang saya tangkap jika dibandingkan penulisan cerpen atau novel biasa. Kelebihan itu adalah pendeskripsian yang sangat jelas.

Sebagai contoh, dalam mendeskripsikan ruangan di skenario dijelaskan bagian apa yang dilihat dan kamera mulai diarahkan dari sudut mana. Hanya dengan membaca skenarionya saja, saya sudah bisa membayangkan bagaimana adegan sebenarnya.

Dari sini saya belajar mengenai pendeskripsian. Dalam menulis cerpen atau novel pun seorang penulis harus bisa memberikan detail dengan jelas. Dengan begitu, pembaca seakan-akan dapat melihat sendiri atau bahkan ikut merasa di dalam cerita. Apabila hal ini terjadi, maka cerita pun akan lebih mudah untuk dicerna dan mudah diterima juga.

Dari buku ini saya belajar banyak hal. Belajar mengenal sudut pandang lain mengenai poligami. Dan belajar menuliskan sebauh kisah dengan nyata, senyata menulis sebuah adegan film.

Wednesday, 22 February 2012

Berani Menulis Artikel #4: Bergaya dalam Berbahasa

08:32 0 Comments



Orang sering berkata, menjadi seorang penulis haruslah memiliki gaya. Lebih bagus lagi jika gaya itu menjadi brand untuk dirinya. Menyikapi pentingnya gaya dalam berbahasa inilah, maka dalam bab ke-4 buku Berani Menulis Artikel karya Wahyu Wibowo dikupas tuntas tentang gaya penulisan, habitus, dan struktur artikel.
Semua penulis berhak untuk bergaya sesuai dengan kemauannya. Tetapi, sebuah gaya penulisan tetap akan dinilai baik atau buruk oleh setiap pembaca. Setidaknya, ada tiga kriteria yang menentukan baik-buruknya sebuah gaya penulisan, yaitu kejujuran, sopan santun, dan menarik.
Dalam bergaya, seorang penulis haruslah jujur. Dalam arti, jangan sampai karena terlalu ingin terlihat ‘gaya’, maka dia memilih diksi yang justru aneh atau berlebihan. Jika itu terjadi, penulis justru terlihat tidak jujur karena seolah-olah ingin menyembunyikan makna tulisannya di balik kemegahan diksi yang dipilihnya.
Gaya penulisan yang baik juga dilihat dari sopan santunnya. Cara bersopan santun kepada pembaca adalah dengan cara menggunakan kalimat yang efektif dan efisien, jernih dan jelas. Pembaca tidak akan terbuang waktunya hanya karena bingung menangkap kalimat kita yang rumit. Inilah cara seorang penulis untuk bersopan santun kepada pembaca.
Gaya penulisan juga harus memenuhi kriteria menarik. Jangan hany berpatokan pada prinsip jujur dan sopan santun lantas melupakan daya tarik tulisan itu sendiri. Jika hanya berpatok pada dua prinsip sebelumnya, tulisan akan cenderung kaku. Tetapi dengan menambahkan kriteria menarik, maka tulisan pun akan menjadi lebih enak dibaca. Usaha untuk membuat menarik itu dapat dilakukan dengan memperhatikan panjang-pendek kalimat atau struktur kalimat dan tulisan itu sendiri.
Tentunya kita sudah mengenal bahwa gaya penulisan sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi. Menulis sebuah cerpen, tentu berbeda dengan menulis sebuah karya ilmiah. Setiap situasi memang membutuhkan gaya tersendiri. Dikenal lima gaya yang cukup berbeda yaitu gaya bahasa pergaulan resmi, gaya bahasa keilmuan, gaya bahasa media massa, gaya bahasa sehari-hari, dan gaya bahasa sastra.
Dalam setiap gaya bahasa tersebut, yang dapat dilakukan adalah menyisipkan unsur-unsur pendukung gaya bahasa atau yang kadang sering dikenal dengan istilah majas. Ada empat majas yang bisa digunakan yaitu majas perbandingan, majas pertentangan, majas pertautan, dan majas perulangan.
Yang tak kalah penting adalah gaya yang digunakan dalam merangkai tulisan itu sendiri. Sebuah tulisan harus memperhatikan lead (alinea pertama), isi, dan juga aline penutup. Trik-trik yang digunakan dalam setiap alinea ini juga dapat menciptakan gaya penulisan yang berbeda.
Untuk membuat lead dapat digunakan beberapa metode. Metode untuk membuat lead ada beberapa macam. Seperti metode 5W 1 H yang biasa digunakan dalam berita-berita atau menggunakan metode pengisahan atau deskriptif yang biasa pada cerpen.  Lead juga bisa dibuat memukau dengan menampilkan sebuah pertanyaan, kutipan langsung, ucapan kondang, sapaan, atau peribahasa di kalimat pertama. Penggunaan teknik stakato atau secara langsung menuding pembaca hingga seakan terlibat dalam penulisan, juga merupakan cara untuk membuat lead yang menarik.
Lead merupakan kunci agar pembaca mau meneruskan membaca tulisan kita. Setelah lead kita menarik, yang kita lakukan adalah membuat alinea tubuh yang saling menyatu. Pembuatan alinea tubuh dapat dilakukan dengan teknik spiral dimana kata kunci disebutkan dalam setiap paragraf; teknik rekatan dengan menggunakan kata hubung di setiap awal paragraf baru; model blok dengan menggunakan kata-kata yang setipe pada awal paragraf dan mengacu pada kata di awal paragraf pertama; menggunakan teknik tematik yang tiap paragraf menguatkan tema; atau model kronologis yang disusun berdasarkan urutan waktu.
Yang terakhir adalah membuat alinea penutup yang menghentak. Alinea penutup dapat disajikan dengan model simpulan, model menggantung, atau model ringkasan. Model simpulan dibuat dengan cara menyimpulkan dari awal apa yang telah dipaparkan. Modal menggantung biasanya dibuat dengan memberikan pertanyaan di kalimat terakhir sehingga pembaca dibuat menggantung dan dibiarkan untuk menjawab sendiri. Model ringkasan dibuat dengan merangkum semua paparan dari awal.
Dengan ketiga teknik tersebut (memenuhi kriteria gaya penulisan yang baik, penggunaan majas dengan pemilihan gaya bahasa yang sesuai kondisi, serta penulisan alinea awal, isi, dan penutup yang menarik), maka seorang penulis akan memiliki sebuah gaya bahasa yang tepat. Dengan memiliki gaya bahasa tersendiri itulah, maka dirinya akan dikenal sebagai penulis yang handal, penulis yang memiliki ciri khas dan berkualitas.

Thursday, 9 February 2012

Jalan Panjang untuk Mengarang

08:27 0 Comments



Sesuai dengan judulnya, buku Proses Kreatif dengan editor Pamusuk Eneste memang memaparkan sebuah proses kreatif. Proses kreatif dari siapa? Dari mereka orang-orang yang dianggap sudah melanglang buana di jagad kesusastraan. Pada buku Proses Kreatif Jilid 2, ada 11 sastrawan yang menuturkan kisahnya mengenai mengapa dan bagaimana mereka mengarang. Di sini saya hanya menyarikan empat orang saja yaitu S. Takdir Alisjahbana, Subagio Sastrowardoyo, A.A. Navis, dan Trisnoyuwono.

Pada dasarnya dari keempat tokoh tersebut, saya mendapatkan sebuah garis besar yang panjang yaitu proses mengarang adalah sebuah jalan yang panjang, yang tidak serta merta dikuasai dalam tempo singkat dan tanpa perjuangan. Setiap tokoh memiliki proses pencarian jati diri untuk mendapatkan cirri khasnya, termasuk proses untuk menemukan jalur mana bagi mereka untuk berseni. Intinya, mereka adalah orang seni yang akan terus mencari jalan untuk menyalurkan kebutuhan seni. Mulai dari membuat roman picisan, hingga membuat tema yang berbeda. Mulai dari menjajal menjadi pemusik, pelukis, dan akhirnya penyair. Atau mulai dari peyair yang tak puas dan beralih ke cerpenis. Intinya, semua mencari jalan untuk berkarya. Dan jalan itu ditempuh melalui proses panjang yang tak boleh cepat berakhir hanya karena kemalasan.

Bagi yang berminat sajak, mereka beranggapan bahwa sajak merupakan pencitraan dari alam bawah sadar yang murni tanpa ada manipulasi. Sedangkan prosa berusaha memberikan makna dengan penceritaan yang harus disesuaikan tema, tokoh, dan setting pula sehingga barangkali tak murni menggambarkan keadaan jiwa yang sebenarnya. Namun bagi yang berminat pada prosa justru berpikir berbeda. Seorang penyair haruslah memiliki sebuah gaya dan mereka merasa tak mampu menemukan gaya itu. Maka, beralihlah mereka ke jalur prosa.

Bagaimana mereka bisa bertahan hingga sedemiakan lama menjalani proses ini? Jawabnya karena mereka mempunyai kebutuhan. Salah satunya kebutuhan berbagi untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Atau karena memang suka mengarang hingga tak peduli apapun yang terjadi akan tetap mengarang. Tetapi rata-rata karena didesak ekonomi yang berarti mereka butuh uang. Dan uang tercipta ketika mereka makin produktif berkarya. Mereka yakin sebuah karya akan menemukan jalannya. Ditolak di satu redaksi, bukan berarti ditolak di redaksi lain pula. Karena sebuah karya sastra itu bersifat subjektif dan tidak teoritis sehingga setiap kemungkinan bisa terjadi. Itulah yang membuat mereka kuat dan terus mau mencoba meniti puncak kejayaannya.

Karena kesubjektifan itu pula, sebaiknya seorang pengarang percaya terhadap dirinya. Sebuah ciri khas akan muncul ketika percaya pada diri sendiri sehingga lahirlah gaya yang kita percayai itu. Sebuah tulisan yang baik tak perlu pula dicarikan pendapat semua orang karena orang satu belum tentu sama dengan orang lain. Itulah mengapa mereka berkata bahwa dunia tulis adalah dunia individualis, bukan dunia komunitas sehingga saling bergantung dan mendewakan seseorang.

Lalu bagaimana cara mereka bisa mengarang?

Karena puisi adalah suara alam bawah sadar, maka menantikan saat-saat puitis itu datang sendiri merupakan cara terbaik. Tetapi bukankah berarti ini sekedar moody? Bukan begitu, melainkan mereka terjun dengan sepenuh hati pada kehidupan mereka dan membiarkan hati dan pikiran terlibat di dalamnya sehingga memaksa hati untuk bicara. Mereka melatih jiwa mereka untuk mendapatkan kecerahan dan keheningan sehingga ilham itu timbul dan terwujud dalam sebuah sajak yang memancarkan keutuhan rasa.

Inspirasi itu bisa muncul dari mana saja. Dari cerpen orang, film, cerita orang, atau tingkah laku orang lain. Dan seorang pengarang harusnya bukan seseorang yang mudah puas dan tergesa-gesa untuk menerbitkan karyanya. Sebuah karya tetap harus diendapkan dan dibaca lagi dari sudut pandang pembaca. Bukan tak mungkin dalam proses pengeditan itu akan muncul sebuah jalan cerita baru yang dirasa lebih baik.

Yang terpenting dari proses panjang mengarang adalah tahan banting. Tahan banting melawan mood yang hilang timbu dan tahan banting menghadapi kritik yang bermunculan. Tokoh semahir mereka terkadang diterjang mood pula. Tetapi bukan berarti karya yang setengah jadi akan mati selamanya. Mereka tetap menyimpan dan bisa jadi satu bulan, satu tahun, bahkan beberapa tahun kemudian karya tersebut bisa dilanjutkan dan menjadi karya yang fenomenal.

Demikian juga dalam mengahdapi kritik. Seorang pengarang tak seharusnya lemah karena kritikan. Kembali lagi pada teori bahwa penilaian sebuah karya sangat subjektif, maka jadikan ini sebagai patokan dan justru mengubur kesempatan berkarya.

Seperti kata A.A. Navis, “Kalau kamu mau jadi pengarang yang berarti, lemparkan dulu rasa rendah diri.”

Selamat berproses kreatif!


Wednesday, 25 January 2012

Berani Menulis Artikel #3: Kritis Membingkai Pembaca

09:51 0 Comments


Sebuah tulisan tak akan ada artinya jika tak ada yang membaca. Maka, di bab ketiga dari buku Berani Menulis Artikel (BMA) karya Wahyu Wibowo ini mulai sedikit disinggung mengenai bagaimana merebut hati para pembaca. Sebuah kalimat kunci yang saya temukan di bab ini adalah “Kita akan mampu melebur ke komunitas apa pun yang hendak kita jamah melalui tulisan , karena kita telah memiliki kesadaran kritis berbahasa dan telah memahami struktur dasar organisasi tulis-menulis”. Dari sini ada dua poin yang digarisbawahi yaitu kritis berbahasa dan struktur dasar tulis-menulis.

Pertanyaan menyindir dilontarkan oleh Wahyu Wibowo, “Selama ini mereka menulis dalam bahasa Indonesia, akan tetapi boleh dipertanyakan, pahamkah mereka terhadap eksistensi bahasa Indonesia?” Bahasa bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Bahkan Aldous Huxley berani berkata bahwa manusia tanpa (memahami) bahasa tak ubahnya monyet.

Bahasa Indonesia yang susah payah diperjuangkan dalam Sumpah Pemuda seharusnya tetap dijunjung tinggi. Caranya? Tentunya dengan menggunakan bahasa dengan baik dan benar. Benar dalam arti tunduk dengan kaidah gramatika, kaidah ejaan, dan kaidah istilah, serta baik dalam arti memperhatikan situasi, konteks, dan segmen pendengar.

Di bab ini pula, Wahyu Wibowo mulai menunjukkan sepak terjangnya dengan memberikan kiat praktis secara teknis dalam menulis artikel. Teknis tersebut terangkum dalam poin kedua yaitu mengenai struktur dasar organisasi tulis-menulis. Tiga hal penting dari struktur dasar tulis-menulis yang harus dikuasai sehingga bisa memikat pembaca yaitu menentukan topik, tema, dan judul tulisan.

Topik berbeda dengan tema. Topik adalah pokok masalah atau pokok pembicaraan, sedangkan tema adalah dasar cerita, amanat utama yang ingin disampaikan, atau garis besar dari sebuah karangan.

Sebagai penulis, kita harus memilih topik dengan tepat. Topik tersebut harus bermanfaat dan layak dibahas dan bukan perkara remeh yang sebenarnya tak perlu untuk ditulis. Topik juga harus topic yang menarik minat kita sehingga kita memiliki passion untuk menuliskannya. Topik yang kita tulis hendaknya topik yang kita kenal sehingga kita menguasai tulisan kita dan dapat mempertanggungjawabkannya. Dan yang terakhir topik jangan terlalu baru. Kita memang dituntut up to date, tetapi kalau terlalu up to date kita justru tak memiliki data yang relevan untuk sumber tulisan kita. Karena bagaimanapun sebuah artikel jurnalistik membutuhkan keseriusan yang dibuktikan dengan kelengkapan data.

Demikian pula dalam memilih judul. Seorag penulis dikatakan piawai apabila dia memperhatikan judul tulisannya. Judul yang kita pilih hendaknya singkat-padat, kreatif, dan berkonotasi positif sehingga pembaca akan tertarik untuk membaca tulisan kita karena judul kita yang unik tersebut. Judul seharusnya mencerminkan isi tulisan sehingga pembaca dapat mengetahui apa yang kira-kira akan kita paparkan hanya dengan membaca judul kita. Judul hendaknya mudah dibaca dan diucapkan sehingga pembaca tak ilfil dan mendadak malas membaca tulisan kita karna judul yang terkesan aneh-aneh. Dalam menulis judul, sebaiknya dibuat dalam bentuk frase dan dapat diterima secara umum. Sah-sah saja menggunakan bahasa asing sebagai judul, namun jika itu terkesan lebay bisa jadi pembaca pun menjadi mual untuk sekadar membaca tulisan kita.

Intinya, penguasaan bahasa dan struktur tulis-menulis adalah sebuah bingkai untuk modal utama menguasai pembaca. Namun terlepas hal teknis dan teoritis di atas, yang tak kalah penting adalah menjaga keselarasan antara hati dan pikiran. Kita tak mungkin bisa memikat pembaca jika ternyata apa yang kita tulis hanyalah bualan semata, seakan kita hanya bisa menulis tanpa mau menerapkan sendiri apa yang kita sampaikan dalam tulisan. Maka, kuasai dulu hati dan pikiran kita sebelum kita menguasa hati dan pikiran pembaca. 


Sunday, 15 January 2012

Beda Itu Indah, Beda Itu Masalah

19:09 0 Comments



Buku yang kali ini saya baca mengungkap tentang sebuah perbedaan. Biasanya, sebuah perbedaan berusaha untuk ditutupi dan diminimalisasi. Tapi dalam buku ini, perbedaan justru ditajamkan dan dibangun sebuah jurang yang amat dalam. Perbedaan apakah gerangan? Yup, perbedaan antara pria dan wanita.

Semua perbedaan itu terangkum manis dalam buku Truly Mars & Venus karya John Gray, Ph.D. Sejak awal, John Gray sudah menciptakan bibit-bibit perbedaan itu. Halaman pertama saja bertuliskan “Bila pria dan wanita menghormati perbedaan-perbedaan mereka, cinta memiliki kesempatan untuk bertumbuh.”

Saya pribadi sepakat dengan kalimat itu. Coba lihat, bagi pasangan yang sedang kasmaran, mereka bisa saja berkata, “Perbedaan itu indah”. Tapi coba saja kalau pasangan tersebut akan bercerai pasti bilang, “Kami sudah tidak cocok lagi, terlalu banyak perbedaan di antara kami”. Nah lo, bukankah dari awal mereka juga menyadari ada perbedaan itu tapi menganggapnya sesuatu yang indah?

Maka di sinilah tujuan hadirnya buku ini. John Gray memang sengaja membuat jelas bahwa perbedaan itu memang ada dan mengajak setiap pasangan untuk menyadari hal tersebut sehingga berusaha untuk mengantisipasinya. Dalam buku ini John Gray dengan sengaja memaparkan perbedaan antara pria dan wanita dalam menghadapi situasi. Ujung-ujungnya yang terjadi adalah banyaknya kesalahpahaman yang muncul hanya karena tak bisa menyikapi perbedaan tersebut.

Buku ini tak sekedar bisa memaparkan masalah tanpa membawa solusi. John Gray berusaha membuat solusi yang sangat aplikatif untuk bisa diterapkan. Terlebih solusi tersebut dikemas dalam bahasa ringan dan ilustrasi menarik. Meski buku ini sarat dengan teori, pembaca tak akan merasa seperti sedang dijejali doktrin-doktrin karena semuanya dikemas dengan sangat ringan.

Yang paling saya sukai adalah bagian akhir dari buku ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa meski sudah diberi contoh yang jelas dan ringan tetap saja semua teori ini bisa terbang dalam sekejap bak masuk dari telinga kanan dan keluar lagi dari telinga kiri. Maka di halaman belakang dari buku ini John Gray menulisakan “Kalaupun Anda tidak ingat apa-apa dari buku ini, mengingat bahwa kita memang semestinya berbeda akan membantu Anda untuk lebih mencintai”.  Intinya John Gray hanya ingin berkata, “Jika Anda merasa frustasi dengan lawan jenis, ingat saja bahwa Pria berasal dari Mars dan Wanita berasal dari Venus.”

Satu yang sedikit mengganjal. Barangkali kita tak setuju dengan inti yang ingin John Gray sampaikan. Tentu kita akan gigih berkata bahwa pria dan wanita sama-sama anak cucu Adam dan Hawa yang diturunkan dari surga oleh Allah SWT ke muka bumi, bukan diturunkan ke Mars atau ke Venus. Yah, itu adalah keyakinan kita. Dan John Gray dengan rendah hati berkata, “Terima kasih karena Anda mengizinkan saya membuat perbedaan di dalam hidup Anda.”

Saya rasa memang begitulah kiranya. Kita boleh saja menyampaikan opini, tetapi harus menyadari bahwa itu hanya opini. Maka berterimakasihlah karena diberikan kesempatan beropini di kehidupan orang lain. Demikian juga, kita boleh saja berteori, tetapi harus menyadari pula bahwa itu hanya teori. Maka berbesarhatilah jika orang lain tak paham dengan teori yang kita sampaikan.

Karena diri kita (sebagai penulis) berbeda dengan orang lain (sebagai pembaca). Bersikap ‘legawa’ akan menjadikan perbedaan itu menjadi indah dan insya Allah tak ada masalah.