Follow Us @soratemplates

Sunday, 11 July 2010

Sakit-sakit Kok Olahraga?

10:53 2 Comments
Ceritanya, beberapa bulan yang lalu sahabat saya menderita flu. Dia mengeluh tidak enak badan, meriang, dan tentu saja merasa tak nyaman karena hidungnya tersumbat. Saat itu saya menyarankan pada sahabat saya untuk olahraga sedikit-sedikit, menghirup udara yang segar di pagi hari. Namun oleh sahabat saya yang lain, saran saya dibantah. Katanya, lebih baik istirahat saja di rumah, banyak tidur agar cepat sembuh. Dia justru berkata pada sahabat saya yang sakit itu, "Sakit-sakit begitu kok nekat mau olahraga?!" O..o..., ternyata ada salah paham di sini.

Benarkah saat sakit kita tidak diperbolehkan olahraga dan harus istirahat saja? Hm.., belum tentu kawan. Lihat dulu sakitnya. Jika kasusnya seperti sahabat saya itu, yang hanya meriang saja, atau flu yang masih tergolong ringan, olahraga justru menjadi suatu hal yang dianjurkan. Menurut Edward R.Laskowski, M.D, physical medicine and rehabilitation specialist dari mayoclinic, olahraga yang dilakukan saat flu ringan justru baik untuk melancarkan hidung yang tersumbat. Selain itu, olahraga juga akan meningkatkan daya tahan tubuh yang tentunya akan menangkis serangan virus flu itu dan mempercepat penyembuhannya. Bukankah itu sangat diharapkan oleh penderita flu?

Ya, itu kan kalau flu ringan, kalau flu berat bagaimana? Atau penyakit-penyakit lainnya? Hm..., masih menurut pakar dari mayoclinic di atas, ada beberapa patokan bagi orang sakit untuk boleh melakukan olahraga. Jika sakit yang dideritanya menyerang bagian leher ke atas, misalkan hidung tersumbat, pilek, bersin-bersin, sakit tenggorokan, maka olahraga tetap boleh dilakukan. Namun jika sudah menyerang leher ke bawah, misalnya sesak nafas, nyeri perut, nyeri otot, maka olahraga sebaiknya ditunda terlebih dahulu.

Hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan apabila seseorang yang sakit ingin tetap melakukan olahraga yaitu pilih olahraga yang ringan dan dengarkan alarm tubuh kita. Tidak perlu dipaksakan untuk melakukan jogging apalagi permainan sepak bola, cukup olahraga berjalan kaki saja. Seandainya setelah olahraga tubuh justru menjadi makin lemah atau gejala penyakit justru kian parah, segera hentikan kegiatan olahraga. Perbanyak istirahat terlebih dahulu, makan makanan bergizi, dan mulailah berolahraga kembali setelah masa pemulihan.

So, olahraga saat sakit tak sepenuhnya salah kan?

Friday, 9 July 2010

Si Perut Buncit

17:40 9 Comments

Bajuku dulu... tak begini..., tapi kini tak cukup lagi... (scott emulsion mode on ^^ hehe...)
Kalau saya tidak salah ingat, produk itu menawarkan jasa untuk tumbuh besar dan tinggi. Hm.., pertumbuhan. Waktu kecil kita tumbuh ke atas. Tiap tahun setidaknya tambah satu centi. Tapi waktu batas atas kita udah mentok, kenapa justru jadi tumbuh ke samping ya, atau malah ke depan?? Hm..., kayak pohon aja. Makin tua, makin tumbuh ke samping, makin banyak lingkar kambiumnya. Trus apa kalau manusia yang makin tua juga diartikan makin tumbuh ke samping, trus makin banyak lipatan lemaknya? Hm.., bisa mendapat gelar baru tuh.., si perut buncit!

Ngomong-ngomong tentang si perut buncit, tak semua orang yang makin tua identik dengan makin buncit. Ada yang waktu kecil badannya kurus kering tapi buncit macam kwashiorkhor, atau dewasa yang perut buncit karena ada pembesaran hati atau limpa. Tapi kalau kita normal-normal saja, sehat-sehat saja, kok perut bisa membuncit juga, coba deh lihat dulu penyebabnya biar bisa kita cegah dan kita atasi si perut buncit ini.

Kurang Minum Air
Hayo..., sudah minum berapa gelas air hari ini? Ya, tanyakan pada diri sendiri. Usahakan minum 8 gelas air sehari. Air putih lho yang dimaksud di sini. Kalau 8 gelas tapi kopi semua atau teh semua, wah..., bisa berabe itu. Saya pernah mendapat sebuah tips saat ada acara bazaar kesehatan di FKM UI dulu. Iseng-iseng saya ikut cek kesehatan dan ternyata ginjal saya mulai sedikit bermasalah karena saya cukup malas minum. Lalu oleh ibu konsultan itu saya disarankan untuk mengikuti cara Rasulullah SAW yaitu minum satu gelas air sebelum atau sesudah sholat. Jadi kalau dihitung-hitung, dalam sehari saya akan minum 5 gelas air ba'da sholat ditambah 3 gelas air setelah makan. Bukankah mencukupi kebutuhan 8 gelas air sehari?

Makan Tergesa-gesa
Seperti orang yang tidak pernah melihat makanan satu bulan saja, begitu ada makanan, inginnya langsung tancap gas menyerbu. Belum ada lima detik satu suapan nasi dimasukkan, sudah tambah lagi suapan kedua. Hm..., cepat amat? Sabar, hey..., sabar! Masih ingat kan dengan pelajaran waktu SMA dulu, ajaran makan dengan mengunyah minimal 30 kali. Sudah dipraktekkan? Wah..., keburu laper...hehe... Yah, sabar sedikit kawan. Mengunyah lebih banyak itu bisa membantu organ tubuh kita yang lain. Tahanlah sebentar kehendakmu untuk buru-buru menelan. Kunyah dulu. Tidak perlu juga dihitung terus sampai 30, setidaknya sampai makanan itu benar-benar lembut dan tidak terasa mengganjal di kerongkongan. Tapi betul-betul dikunyah lho ya, bukan di'emut' alias dihisap macam anak kecil...

Buang Air Besar Tidak Lancar
Nah, lo... Ini nih yang kadang juga menjadi kendala. Mirip iklan produk pelancar BAB di TV, seperti membawa sampah ke mana-mana. Ya itulah yang menjadikan perut membuncit. Sampahnya masih di perut sih... So, usahakan untuk rutin buang air besar. Hm..., masalah ini kalau dibahas di sini cukup panjang juga. Insya Allah lain kali akan saya posting tentang buang air besar. Intinya, pilih makanan yang tepat, banyak serat, banyak makan buah dan sayur, insya Allah buang air besar pun akan menjadi lancar.

Kurang Gerak
Coba ngaku, siapa yang tiap hari menyediakan waktu untuk jogging atau senam di rumah? Mayoritas akan menjawab jarang, atau malah tidak pernah. Sedangkan di lain sisi, ngakunya anak kuliah, dari pagi hari sampai sore duduk terus di belakang meja. Sampai rumah, duduk lagi ngerjakan tugas atau ngenet ria. Trus, kapan bergeraknya? Tuh, kan. Usahakan sebisa mungkin untuk bergerak agar kalori terbakar dan perut pun tidak membuncit.

Hm, itu baru beberapa penyebab perut buncit yang sangat dipengaruhi oleh kebiasaan kita. Kebiasaan minum, makan, buang air besar, dan gerak alias olahraga. Masih ada penyebab yang lain sebenarnya, tapi lebih baik jika kita menhilangkan sebab-sebab yang sejatinya adalah sebuah kebiasaan. So, punya kebiasaan sehat? Mengapa tidak...


Thursday, 8 July 2010

Thanks For Letting Me Keep Writing

17:39 2 Comments
Aku bukanlah penulis hebat, apalagi penulis terkenal. Tulisanku tak bagus-bagus amat, pun belum layak muat. Namun..., thanks a lot for you for letting me keep writing...

Sebuah cerita untuk sahabat karibku...

Awal aku mengenal dunia tulis saat kelas 6 SD. Berawal dari khayalan tingkat tinggi setelah menonton film seri Putri Huan Zhu, aku terobsesi ke luar negeri, kuliah ke luar negeri tepatnya. Dan obsesiku itu kutulis dalam sebuah novel. Ya, novel. Berani sekali anak kelas 6 SD menulis novel? Haha..., tidak juga. Hanyalah sebuah cerita panjang yang tak juga berakhir di sebuah buku sidu 58 lembar. Tak layak jika dianggap cerpen, jadi kuanggap saja itu novel. Meskipun saat aku SMA dan membaca buku itu aku mengernyitkan dahi, "novel macam apa ini? sungguh anak SD yang tak tau apa-apa sama sekali."

Begitu seterusnya hingga aku mengenal apa itu karya tulis ilmiah saat kelas 6 SD juga. Lalu tugas SMP kelas 1 untuk membuat pantun, yang membuatku mulai suka bermain-main dengan kata-kata yang bersajak sama. Dan novel kelas 6 SD-ku yang belum rampung itu kututup karena aku berpaling untuk menulis cerpen. Hingga kelas 3 SMA, saat tugas bahasa indonesia membuatku mulai tertarik dengan makna di balik puisi. Dan petualanganku belajar menulis terhenti, hingga kau 'memaksaku' untuk menulis kembali. Tak tanggung-tanggung, sebuah buku.

Awalnya aku belum pernah berpikiran untuk membuat buku. Tapi nyatanya, dengan doronganmu aku selesai juga membuat sebuah buku cerita untuk anak SD yang menceritakan tentang Sumpah Pemuda. Walaupun tidak jadi terbit, tapi proses membuat buku itu telah membangunkanku dari kemalasan untuk menulis sesuatu. Hm..., thanks for it...

Dan proyek buku itu terus berlanjut. Aku masih punya hutang 2 buku padamu. Satu novel yang idenya kau sampaikan padaku saat di televisi sedang marak-maraknya kasus Antasari. Ya, sebuah novel yang diangkat dari situ. Lalu satu buku non fiksi yang rencananya berisi dialog ilmiah tentang memandang suatu kehidupan. Entah itu kehidupan politik, kampus, sekolah, atau apapun. Hm..., thanks for your inspiration to make me keep writing...

And this blog... Blog ini pun terwujud atas prakarsamu memaksaku untuk tetap menulis. Bukan tulisan penuh curhat seperti blogku yang dulu, tapi tulisan yang berusaha memberikan sebuah manfaat. Ya.., aku masih ingat teorimu tentang sebuah tulisan. Hanya menulis itu gampang, tapi menulislah dengan nilai. Dan aku mulai belajar untuk membenahi tulisanku agar memiliki value. Hm.., thanks for your suggestion to make me learn to write...

Ya, begitulah menulis. Tak cuma menulis, tapi berusaha untuk menyampaikan nilai dalam tulisan yang kita buat. Agar orang yang sudah capek-capek membaca tidak cuma dapat capek saja, tapi juga mendapat pesan yang ingin disampaikan, mendapat sebuah manfaat, mendapatkan value. Prinsip itu perlahan-lahan kutanam dalam diriku. Hingga aku mulai membuang satu per satu cerpen picisan yang hanya khayalan, berusaha beralih haluan membuat cerita yang sebisa mungkin membawa hikmah, ataupun kadang-kadang menyortir postingan blogku yang cenderung hanya berkeluh kesah tanpa ada manfaat yang kiranya dapat diambil oleh pembaca. Ya, belajar menulis. Belajar menyisipkan value dalam tiap apa yang kita tulis. Hm...




PS:
Dan untukmu sahabatku, terima kasih banyak sudah membuatku tetap menulis...
Tapi, mengapa kau sendiri justru tak kunjung jua menulis. Lihat blogmu. Ayo, menulis yang bervalue...

Tuesday, 6 July 2010

Pengamen Itu...

06:41 5 Comments

Bus Langsung Jaya jurusan Jogja-Solo masih saja menaikkan penumpang. Kenek dan sopirnya seakan menutup mata dengan kondisi penumpang yang sudah mirip ikan lele yang megap-megap di ember penjual ikan. Berdesakan dan berebut udara yang keluar masuk lewat celah jendela yang tak terbuka semua. Hampir setengah perjalanan aku berdiri. Untung saja saat itu belum penuh sesak seperti ini. Setidaknya tadi aku masih dapat berdiri tegak dan leluasa memasang kuda-kuda untuk menangkis serangan mendadak injakan kaki sopir di atas rem.


Beberapa kali bus berhenti, namun agaknya tak cukup memberi dampak yang berarti. Tetap penuh, sesak. Di ujung jalan, bus kembali berhenti. Seorang penghuni baru yang agaknya tak terlalu diharapkan mencoba menerobos kerumunan. Ia berhenti dua kursi di depan kursi tempatku merebahkan diri. Dengan sebuah senjata, dia mulai beradu melawan deru suara mesin, melantunkan sebuah lagu.


Tak ada yang special, dalam arti tidak spektakuler hingga membuat semua penumpang terpukau dan mengarahkan pandang padanya, pun tidak hancur lebur yang justru membuat penumpang pun menoleh padanya dengan pandangan berharap untuk diam saja. Dia yang seorang diri hanyalah menambah populasi bus ini, pun menambah runyam perkara kurasa. Ibarat lele di ember dengan tangan penjual yang berkecipak di permukaan air atau mengetuk-ketuk dinding ember berharap dagangannya laris. Laris, namun para lele semakin resah. Sungguh pemandangan yang bagiku tak layak dikatakan pemandangan.


Aku mencoba memalingkan mata ke arah jendela. Sayangnya pandanganku terhalang oleh seorang ibu muda yang terlihat manis dengan kerudungnya. Tak enak rasanya jika berebut zona pandang di jendela yang hanya sepetak itu. Aku pun menggiring pandanganku ke sisi seberang dan terlihatlah pengamen itu. Sosoknya tua paruh baya, tidak kurus kering mengenaskan, namun tidak pula gemuk ibarat bos besar. Dengan topi pet dan kaos oblong putih yang sudah tidak putih benar, dia melantunkan lagu lama. Seketika aku terhenyak melihat wajah pengamen itu.


Wajahnya menyiratkan sebuah keletihan yang sangat. Wajar, jarum jam di tanganku menunjukkan pukul 5 sore. Jika bapak pengamen itu sudah keluar rumah sejak pagi tadi, tentunya kelelahan menjadi hal yang biasa. Namun dibalik keletihan itu, aku menemukan suatu gurat wajah yang lain. Kesabaran. Ya, itu yang kutemukan di wajah letih itu.


Pikiranku yang sering mengembara tak tentu arah entah mengapa justru membayangkan hal yang aneh-aneh. Sudah tidak terdengar lagu bapak pengamen itu melantunkan lagu apa. Pikiranku melayang ke sesosok manusia yang wajahnya ingin kujumpai. Bapak, ya, bapakku. Entah pikiran ngawur ini mengapa membawaku pada bapak, tapi terbayang di pelupuk mata ini ketika bapak pulang malam dan wajahnya pun menyiratkan kelelahan yang sabar. Sungguh…, aku merasakan betapa bapak dan bapak pengamen ini telah melakukan sebuah perjuangan yang besar untuk keluarganya.


Pikiranku kembali mengada-ada, menciptakan sebuah skenario yang dramatis dalam angan-anganku sendiri. Aku membayangkan bapak pengamen ini pergi ke luar rumah pagi-pagi benar dengan diiringi tatapan penuh harap keluarganya akan beberapa keping uang logam atau selembar uang untuk mengisi perut mereka esok hari. Dan bapak pengamen itu bekerja dengan caranya, mengamen dengan penuh kesabaran, berusaha ikhlas menerima berapapun uang yang akan ia terima dalam pengembaraannya menjelajahi bus demi bus.


Ketika nyanyian terhenti, bapak pengamen itu mengulurkan tangannya. Satu hal lagi yang kusuka dari bapak pengamen itu yang belum tentu kudapatkan pada semua pengamen yang kebetulan aku jumpai di bus. Wajahnya ikhlas menerima uluran derma pun ketika penumpang hanya melambaikan tangan karena tak ingin memberi. Saat melewati himpitan penumpang di lorong bus, bibirnya tak lupa berkata “amit..amit..(permisi..permisi…)”. Kurasa ini sebuah penghormatan yang bisa ia berikan pada penumpang, agar ia tidak dikira kurang ajar ikut berdesakan dan menghimpit mereka meminta jalan.


Satu lagi, saat tangan penumpang mengulurkan sedikit rupiah padanya, dia tersenyum. Sungguh tersenyum yang menyiratkan sebuah syukur. Tak lupa tentunya dengan ucapan “matur nuwun…(terima kasih)”. Kurasa ini sebuah syukur yang ia panjatkan pada Allah, pun pada orang yang telah rela memberinya derma.


Tak peduli apakah mengamen itu sebuah kerja, atau akan digunakan untuk apa uang yang ia terima, aku belajar sesuatu dari bapak pengamen itu. Belajar tentang sebuah kerja keras walau lelah disertai dengan kesabaran. Dan belajar tentang rasa syukur teriring ucapan terima kasih dengan rasa ikhlas atas rizki apapun yang diterima.



Friday, 2 July 2010

Gampang Tidur..., Narkolepsi kah?

20:07 16 Comments
Pernah mendengar tentang narkolepsi? Sejujurnya, saya baru mendengarnya satu kali. Itupun karena saya diledek oleh karib sejati saya kalau saya menderita narkolepsi karena saya terkantuk-kantuk membaca buku. Padahal buku itu menarik sekali bagi saya, namun tetap saja membuat mata ini ingin sekali tertutup. Berhubung saya tidak tau tentang narkolepsi, iseng saya search di google.

Narkolepsi bisa dikatakan sebagai serangan tidur. Orang jadi gampang sekali mengantuk di waktu siang dan tidak bisa mempertahankan keadaan sadarnya. Akibatnya, dia tertidur. Biasanya setelah bangun tidur, dia akan merasa segar. Tapi tak berapa lama, dia akan kembali merasa kantuk (id.wikipedia.org).

Rasanya, kalau dari pengertian itu saja, akan banyak sekali orang yang menderita narkolepsi. Nah, ada beberapa tanda yang bisa kita amati untuk menggolongkan apakah kita narkolpesi. Biasanya dia akan gampang sekali mengantuk di siang hari hingga akhirnya gampang tertidur. Tapi sebaliknya, di malam hari terkadang dia justru tidak semudah itu untuk tidur. Badannya akan terasa segar, namun akan cepat kembali mengantuk. Saat akan tertidur, ototnya menjadi lemas sehingga terkadang dia menjatuhkan sesuatu, atau menjatuhkan kepalanya dan mulutnya membuka. Pada saat tidur, dia sering berhalusinasi. Dan ketika peralihan antara sadar dan tidur, tubuhnya terasa seperti lumpuh tidak bisa digerakkan (tempointeraktif.com).

Lalu kenapa bisa sampai menderita narkolepsi? Secara pasti, belum diketahui apa penyebabnya. Beberapa kemungkinan penyebab yaitu adanya gangguan pada otak di bagian pengendali gelombang tidur REM. REM (rapid eye movement) ini adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami mimpi. Jadi karena otak di bagian gelombang tidur REM ini terganggu, penderita narkolepsi yang terjaga jadi mendapatkan halusinasi yang sejatinya adalah menerobosnya keadaan mimpi ke keadaan terjaga. Secara gampangnya, kita sadar tapi kita mendapat mimpi. Jadi kita terkesan berhalusinasi. Dalam keadaan normal, REM ini muncul dalam tidur di mana pada saat itu seluruh otot tubuh tidak aktif dan hanya mata dan pernafasan saja yang aktif. Berhubung REM-nya tidak terkendali oleh otak, akibatnya REM pun menyebabkan otot tubuh kita tidak bekerja dan kita tertidur. Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa penderita narkolepsi memiliki antigen khusus HLA DQB1*602 atau rendahnya kadar hipokretin penghasil neurotransmitter dalam cairan serebro spinal (patient.co.uk).

Dari penjelasan di atas, diketahui bahwa narkolepsi ini merupakan penyakit saraf dan otak dan perlu adanya perawatan untuk mengobatinya. Mengapa sampai butuh pengobatan? Karena penderita narkolepsi sangat sering tertidur di saat yang tidak tepat dan tempat yang tidak tepat pula, seperti saat menyetir, memasak, atau bahkan ada kasus pasien yang tidur saat BAB. Hm.., tentu cukup berbahaya jika tertidur saat menyetir.

Apakah penyakit tidur Anda separah ini? Hm..., cek diri sendiri dan segera berobat ke dokter bila perlu.

Saturday, 26 June 2010

Kesan Pertama Begitu Menggoda

18:25 7 Comments

Saat melihat sesuatu pertama kalinya, tak dapat dipungkiri kalau kita sangat dipengaruhi oleh kesan pertama. Melihat seseorang, meski tidak sengaja, judge awal sedikit terbentuk. Mengunjungi suatu daerah baru, melihat lingkungannya seperti apa, menimbulkan sebuah kesan yang tanpa disengaja menjadi sebuah conclusion awal. Walaupun itu hanya sepersekian detik sekalipun, mata pasti akan menangkap sebuah kesan dari segala apapun yang dipandangnya. Demikian pula dalam kehidupan kampus, sering muncul sebuah kesan yang akhirnya mempengaruhi perjalanan hidup di kampus selanjutnya.


Bagi kami mahasiswa kedokteran, setiap pergantian blok tak jarang muncul sebuah kesan baru. Contohnya pada blok hematologi kemarin. Sejarah yang diketok tular dari mulut ke mulut kalau blok hemato adalah blok yang 'diam-diam menghanyutkan', tanpa sadar membuat mindset tiap angkatan dipengaruhi oleh bayang-bayang kegagalan angkatan sebelumnya. Saya menyadarinya sendiri. Saat sebelumnya teman-teman di sekitar saya enjoy menghadapi setiap ujian blok, namun saat ujin blok hemato, nervousnya bukan main, keluh kesahnya berentet tak habis-habis. Hm…, sebuah kesan pertama yang mempengaruhi mindset seterusnya.


Tapi, benarkah bahwa kesan pertama sepenuhnya mempengaruhi kesan-kesan selanjutnya? Bisa ya, bisa juga tidak. Saya mengatakan ‘ya’ jika kita setelah kesan pertama itu muncul, kita lantas membiarkannya. Hingga kesan pertama itu menelusup hingga ke relung hati, mempengaruhi akal pikiran, dan seterusnya. Namun bisa jadi ‘tidak’ kalau kita tak mau berhenti dengan sebuah kesan awal itu dan tak ingin hanya menilai sesuatu cukup dari situ. Kita mencoba untuk mengenalnya, kita mencoba mengambil sisi baiknya jika kesan awal itu buruk, pun kita mencoba bersikap bersahabat dengannya agar kesan buruk itu sedikit menjadi manis dengan kedekatan kita dengannya.


Bagaimana caranya? Tuli, itu salah satunya. Jangan hanya mendengan perkataan orang. Cukup sekali kita tau bahwa kakak tingkat menganggap ini sulit, tapi segera tutup telinga dari itu. Tujuannya agar dalam hari-hari kita tidak tergiang-ngiang omongan mereka yang bilang ini blok mematikan!


Lalu, buka hatimu, bukalah sedikit untuknya. Jika kita terbayang sesuatu itu sulit dan tak sadar hati kita mengimaninya, cobalah untuk membuka hati. Kadang kala hati lebih bisa memahami daripada akal pikiran. Biarkan hati meresapi betapa blok ini sesungguhnya menarik, dan biarkan hati kita senang untuk menjalaninya. Insya Allah dengan hati senang, proses belajar pun akan jadi lebih baik. Jika prosesnya sudah terasa nikmat, hasil belajar mau bagus atau jelek sekalipun tetap akan terasa nikmat pula.


Tapi semua tak cukup hanya dengan bersikap tuli dan membuka hati, yang terpenting adalah usaha. Walaupun kita sudah tidak percaya dengan orang lain, pun menganggap blok ini menyenangkan, tapi jika kita tidak ada upaya, mau tak mau kita pun ikut termakan bisa mematikan dari blok ini. Jadi, kunci terakhir tetaplah usaha. Dan tentunya diiringi dengan doa.


So, apa kesan pertamamu untuk kuliah selanjutnya?





Lebih Baik Masak!

05:27 7 Comments

Sebuah cerita dari keresahan mencari sesuap nasi dan sesendok sayur.

Hari sudah menjelang senja, perut sudah mulai meronta. Kubuka tudung saji penutup meja makan. Hm..., kosong. Itu menurutku. Ada seiris tempe sebetulnya, tapi tak ada sayur dan tak mungkin tempe sepotong itu cukup untuk porsi besar makanku, makan adikku, ibu, atau mbak Yatmi.
Mbak Yatmi sedang sakit, sama sekali tak berkutik dari tempat tidurnya. Keputusan makan ada di tanganku dan adikku. Hendak memberi hadiah apa untuk cacing-cacing perut kita malam ini? Mau beli sayur di luar, rasanya sudah malas sekali. Membayangkan sayur yang itu-itu saja yang dijajakan di warung makan.
Iseng kubuka kulkas, menyurvai ada makanan apa saja yang kiranya bisa kita babat habis malam ini. Tak ada makanan siap saji, yang ada beberapa ikat kacang panjang, tahu mentah, dan ayam yang sudah dibumbui tapi belum digoreng. Sip, keputusan dibuat. Aku memasak oseng-oseng kacang panjang plus tahu dan adikku menggoreng ayam yang tinggal goreng saja. Malam itu, perut kami beres.

Beberapa hari berikutnya, keadaan terulang kembali. Sayur dan lauk pauk yang sudah dimasak tadi pagi ternyata tidak bisa mempertahankan dirinya hingga malam menjelang. Lagi-lagi urusan perut ada di tanganku dan adikku. Sempat kulirik kulkas, tapi kali ini tidak ada sesuatu yang bisa kami modifikasi. Hm, terpaksa membeli sayur di warung makan yang memang buka setiap malam.
Berbekal uang Rp20.000,00 kiranya uang itu cukup untuk membeli sayur matang plus beberapa lauk untuk santap malam. Dan apa yang terjadi? Uang itu pas. Dengan sebungkus sayur trancam, beberapa potong tempe goreng, lele kesukaan adikku, dan rempela ati kebutuhanku. Pulang dengan geleng-geleng kepala, semahal itukah sebuah kebutuhan untuk urusan perut?

Keesokan harinya, menemani Mbak Yatmi belanja di tukang sayur dadakan. Berhubung isi kulkas kosong, belanja kali ini cukup banyak. Satu paket sayur untuk menu cah kangkung, sop sosis, dan sambal goreng tholo. Lengkap dengan bahan lauk bandeng presto, tempe, dan tempura. Habisnya tidak sampai seratus ribu rupiah.
Dalam perjalanan pulang, aku berdialog dengan Mbak Yatmi. Kalau masak sendiri, uang seratus ribu bisa untuk makan 3 hari dengan 1 harinya makan 3 kali. Tapi kalau beli di luar, uang Rp20.000,00 hanya bisa untuk 1 kali makan saja. Hm..., sebuah selisih yang cukup signifikan.

Meskipun Mbak Yatmi akhir-akhir ini mengeluh harga sayur dan lauk sedang melonjak, bagaimanapun memasak sendiri di rumah tetap lebih baik. Selain lebih hemat, kita juga bisa lebih memilih variasi makanan seperti yang kita mau, pun tentunya jadi lebih sehat karena kita sendiri yang memasaknya. So, ayo masak!!!

Jadi heran dengan beberapa tetangga yang tiap hari membeli sayur di luar. Apakah tidak bosan? Dan bukankah justru lebih mahal? Hm...