Follow Us @soratemplates

Tuesday, 15 February 2011

Histologi Sistem Cardiovascular

06:09 0 Comments

Dr. E. Listyaningsih S., M.Kes


Pada sistem kardiovaskuler akan dibahas mengenai jantung dan pembuluh darah.

Pembuluh darah dibedakan menjadi arteri, vena, dan juga kapiler.


Pada pembuluh darah ditemukaan adanya sel yang disebut sel endotel. Sel ini terletak di bagian dalam yang berhubungan langsung dengan rongga pembuluh darah.


Sel endotel berbentuk pipih. Makin besar diafragma kapilernya maka sel endotel akan makin pendek dan lebar. Makin tepi makin tipis juga.


Pada permukaan membrane selnya terdapat suatu caveole atau vesikuler invagination. Caveole yaitu invaginasi kecil seperti lubang atau percekungan membrane sel yang terbentuk selama pinositosis.

Caveole ini bisa mengerut membentuk vesikel bebas kecil yang terisi cairan dalam sitoplasma. Istilahnya disebut pinositik vesicle.

Kalo diibaratkan itu kayak botol. Botol itu kan ada bagian leher sama bagian bawah yang melebar. Si bagian leher itu terjadi tekanan dari luar. Akibatnya lama-lama si leher botol itu akan berpisah dengan bagian bawah botol. Nah, itulah yang disebut pinostik vesicle.


Antar sel endotel tadi membentuk suatu hubungan yang erat disebut tight junction (zonula occludens).


Lapisan penyusun sistem kardiovaskuler baik itu di sistem vesikulernya maupun di jantung sebenarnya identik.

Pada dasarnya terbentuk oleh 3 lapisan.

Kalau di sistem vesikuler, 3 lapisan itu adalah tunika intima (bagian dalam), tunika media (bagian tengah), dan tunika adventitia (bagian luar).

Sedangkan di jantung, 3 lapisan itu adalah endokardium (bagian dalam), miokardium (bagian tengah), dan epikardium (bagian luar).

Karena di vesikuler dan jantung itu identik, kita bisa ambil kesimpulan ni. Misalkan di jantung ada lapisan miokardium yang tersusun oleh otot (mio). Berarti di tunika media pada vesikuler juga tersusun oleh otot polos juga.


Sekarang, kita bahas satu persatu.


KAPILER

Dengan mikroskop electron, kapiler dibedakan menjadi 2 yaitu tipe continue dan tipe fenestrated.

Kapiler tipe kontinu adalah kapiler yang dinding dan membrane basalnya utuh. Kapiler ini terdapat pada sebagian besar jaringan tubuh.

Sedangkan tipe fenestrated adalah kapiler yang tidak utuh karena terdapat lubang/jendela ataupun berupa pori-pori.

Kapiler itu sendiri adalah pembuluh darah yang paling kecil. Jadi dindingnya paling sederhana jika dibandingkan pembuluh darah yang lain, yaitu hanya terbentuk oleh 1 lapis sel endotel.

Diameternya hanya ± 7 – 9 mikron. Tapi walaupun diameternya hanya kecil masih bisa dilewati oleh sel darah merah. Soalnya sel darah merah kan diameternya Cuma 8 mikron.

Kapiler-kapiler darah ini akan membentuk anyaman-anyaman yang menghubungkan arteri dengan vena.

Anyaman-anyaman dari kapiler ini ternyata erpengaruh terhadap metabolism suatu organ.


Organ dengan anyaman kapiler padat akan mempunyai metabolism yang lebih tinggi. Contohnya paru, hati, ginjal, membrana mukosa, kelenjar, otot rangka, dan substansi grisea otak.


Sedangkan organ dengan anyaman kapiler dikit/ longgar akan memiliki metabolism yang lebih rendah. Contohnya tendo, saraf, otot polos, dan membrane serosa.


SINUSOID

Sinusoid adalah pembuluh darah yang lebih besar dari kapiler yaitu dengan diameter 30 – 40 μm.

Ciri khas dari sinusoid yaitu lumennya tidak teratur sehingga pada gambarannya nanti akan terlihat berkelok-kelok.


Sinusoid dibedakan jadi 2 macam yaitu fenestrated sinusoid dan discontinue sinusoid.


Tipe fenestrated memiliki endotel tipis dengan pori-pori yang tertutup diafragma tipis.

Tipe ini terdapat di lobus anterior hipofisis, cortex adrenal, pulau langerhans pancreas.


Sedangkan tipe discontinue memiliki membrane basalis yang tidak utuh.

Tipe ini terdapat pada hepar.


Secara ilustrasi, gambaran dari kecil ke besar seperti ini. Kapiler < sinusoid < arteriol prekapiler < arteriol < arteri kecil.

Soalnya makin dekat dengan jantung (arteri) tunika medianya makin tebal akibat banyaknya otot polos. Jadi gambarannya terlihat lebih besar dibandingkan kapiler.


ARTERI

Arteri dibedakan berdasarkan ukurannya menjadi arteri kecil, sedang, dan besar.


Kalo dilihat dari dalam, susunannya seperti ini :

sel endotel – subendotel – membrane elastic interna – tunika media – membrane elastic eksterna – tunia adventitia.

Endotel, subendotel, dan membrane elastic interna terdapat pada tunika intima.

Pada tunika adventitia dapat dijumpai adanya vaso vasorum yaitu pembuluh darahnya pembuluh darah. Kan si pembuluh darah bertugas ngasih nutrisi ke organ. Nah trus siapa dong yang ngasinh nutrisi ke dia. So, ini tugasnya di vaso vasorum itu yaitu member nutrisi pada pembuluh darah.


Sekarang kita bahas arteri dulu satu persatu.


1.Arteri kecil (arteriol)

Subendotelnya ada;

Membrane elastic interna mulai terlihat pada arteri dengan diameter di atas 40 mikro.

Tunika media 1 – 5 lapis otot polos.

Membrana elastic eksterna tidak jelas.

Fungsinya mendistribusikan darah ke anyaman kapiler. Gampangannya ini kan arteri kecil jadi otomatis berhubungan dengan kapiler yang kecil juga. So, dia ngalirin darah ke si kapiler itu.

Arteri jenis ini terdapat di sebagian besar tubuh.


2.Arteri Sedang

Subendotel-nya justru tidak ada. Inget-inget aja kalo yang ga ada subendotel berarti arteri sedang.

Membran elastic interna terlihat sangat jelas.

Tunika media terdiri dari 40 lapisan otot polos.

Membran elastic eksterna-nya juga terlihat jelas dan berlubang-lubang. Ini ciri khas juga (Satu-satunya arteri yang membrane basal eksternanya keliatan jelas dan berpori).

Fungsinya untuk mendistribusikan darah ke organ

Contohnya arteri yang baru percabangan awal seperti arteri radialis dkk.


3.Arteri besar

Subendotelnya ada dan tamak sel Langhans.

Membran elastic internanya bercabang lebih dari 2. Karena tidak jelas jadinya sukar dilihat.

Tunika media-nya ada lapisan seraut elastis.

Membran elastic eksterna-nya juga tidak jelas.

Karena ini arteri besar jadi fungsinya adalah menghubungkan jantung dengan distributing arteri alias si arteri sedang tadi.

Contoh arteri besar yaitu arteri vertebralis.


VENA

Sama juga dengan si arteri yaitu ada tunika intima, media, dan adventitia. Susunan juga sama. Berdasarkan ukurannya juga sama dibedakan jadi kecil, sedang, besar.

Cuma karena di vena ada katub-katub, maka di bagian tunika intima ditambah bangunan berupa katub.


1.Vena kecil (venular)

Sub endotel tidak ada

Membran elastic interna tidak ada. Gampangannya di vena kecil tunika intima-nya ga ada.

Katub ada.

Tunika media berupa otot polos sirkuler.

Membran elastic eksterna tidak jelas. (Untuk vena semua membrane elastic eksterna tidak jelas semua).

Contohnya hampir di seluruh tubuh.


2.Vena sedang

Sub endotel ada.

Membran elastic interna juga ada.

Katub ada.

Tunika media juga otot polos sirkuler.

Membran elastic eksterna juga tidak jelas.

Contohnya: vena cephalica, vena mediana cubiti.


3.Vena besar

Sub endotelnya ada.

Membran eslatic internya-nya dukar diidentifikasi. (Nah, bisa jadi patokan ni. Ada subendotel tapi interna-nya susah. Kalo vena kecil kan sama-sama ga ada, kalo yang sedang kan justru sama-sama ada)

Katub tidak jelas. (Ini juga. Vena yang ga jelas katubnya adalah vena besar).

Tunika media berupa jaringan pengikat longgar tipis. Beda dengan si kecil dan sedang tadi yang terdiri dari otot polos sirkuler.

Membran elastic eksterna juga tidak jelas.

Contohnya vena jugularis eksterna dextra, vena subclavia sinistra.


Trus, setelah tau arteri dan vena masing-masing, kita bandingkan antara arteri dengan vena.


Arteri

Tunika media tebal karena banyak otot polos sirkuler.

Vaso vasorum hanya ada di tunika adventitia.

Pada preparat penampakan tampak bulat


Vena

Yang tebal bukan tunika media, tapi tunika adventitia.

Ada katub. Kalo arteri kan ga punya.

Vasa vasorum ga Cuma ada di tunika adventitia, tapi bisa sampe tunika media.

Penampakan pada preparat colaps.


Oya, dalam sistem sirkulasi kan selain pembuluh darah juga ada pembuluh getah bening. Kita bahas dikit ya tentang pembuluh getah bening.


Sistem aliran getah bening memiliki fungsi untuk mengumpulkan cairan limfe dari ruang-ruang jaringan dan mengembalikan ke darah.


Arus aliran limfe ini searah dengan kapiler-kapiler berujung buntu menuju ke pembuluh limfe yg lebih besar, duktus thorasicus, duktus limphaticus dexter


Cairan limfe dicurahkan ke peralihan v. Subclavia sinistra dan v. Julgularis interna dextra.

Kapiler limfe terdapat hampir pd semua jaringan dan organ tubuh, kecuali pada SSP, sumsum tulang, bagian dalam telinga, dan lapisan pelindung luar bola mata


JANTUNG

Bangunan-bangunan penting pada jantung yang harus diketahui:

a.Dinding jantung: endokardium, miokardium, epikardium.

b.Rangka jantung: trigonum fibrosum, annulus fibrosum, septum membranaceum

c.Katub jantung: valvula atrioventricularis, valvula semilunaris.

d.Muskulus papilaris

e.Chorda tendinae


1.Endokardium

Berupa lapisan tipis mengkilat di seluruh permukaan dalam jantung. (Identik dengan tunika intima)


Bangunan dalam endokardium antara lain: Muskuli papilaris, Korda tendinea, Katub-katub.

Pada muskuli papilaris dan corda tendinea tidak didapatkan adanya sel endotel. Soalnya musculi papillaris dan corda tendinea itu sendiri merupakan modifikasi dari sel otot polos.


Struktur histologis endokardium dibedakan lagi jadi 3 lapisan yaitu lapisan dalam, tengah (elastomuskuler), dan subendokardium.


Lapisan dalam terdiri dari endotel dan subendotel.

Endotel berbentuk oval/polygonal dengan inti yang berbentuk bulat/oval.

Subendotel-nya tipis. Terdiri dari serabut kolagen, serabut elastic, dan fibroblast.


Pada subendotel ini mulai tampak juga serabut-serabut purkinje. Serabut purkinje adalah serabut modifikasi dari otot jantung yang punya sifat seperti sel saraf. Pada serabut purkinje miofibrilnya terdorong ke tepi. Jadinya pada gambarannya akan terlihat inti yang berada di tengah.


Lapisan tengah (lapisan elastomuskuler) merupakan jaringan yang paling tebal.

Jaringan ini terdiri dari jaringan pengikat padat, serabut elastis, dan otot polos. Gampangannya namanya aja elastomuskuler berarti ada serabut elastic dan muskulusnya (otot polos).


Lapisan terluar adalah lapisan subendokaridum.

Kalo di lapisan sebelumnya tersusun jaringan pengikat padat, di sini disusun oleh jaringan pengikat longgar.

Jaringan pengikat longgar ini menghubungan endokardium dengan miokardium, lebih tepatnya bagian endomesium dari miokardium.


2.Miokardium

Namanya aja miokardium jadi tersusun oleh otot-otot jantung.

Di sini ada jaringan pengikat interstisiil terutama yaitu serabut retikuler.


Ada bangunan annulus fibrosus.

Annulus fibrosus ibarat cincin yang mengelilingi osteum atrioventricularis, sehingga memisahkan otot atrium dengan otot ventrikel.

Annulus fibrosus ini tersusun oleh jaringan pengikat kolagen.


3.Epikardium

Epicardium merupakan lamina viceralis dari cavum peri cardii.

Epicardium merupakan jaringan pengikat yang mengandung anyaman-anyaman dari serabut elastic, serabut kolagen, fibroblast, fixed makrofag vasa darah, dan vasa limfatika. Pokoknya berupa anyaman-anyaman banyak deh.


Di bagian permukaan yang bebas, epicardium dilapisi oleh satu/ selapis sel mesothelium.


Trus, apakah pericardii itu kosong-kosong aja? Nggak.

Di sana ada liquor pericardii yang fungsinya mencegah gesekan biar ga sakit.

Pada keadaan normal volume liquor pericardii ini sekitar 50 cc.

Kalo keadaan patologi, liquor pericardii bisa bertambah jumlahnya, berisi darah, atau berisi udara.




Silakan download di sini: Histologi Sistem Cardiovascular

Monday, 14 February 2011

Pertanyaan dan Jawaban

15:29 0 Comments
Hari ini adalah hari pertama saya kembali memenuhi ruang-ruang kampus saya. Yup, hari pertama kuliah untuk semester 4. Kembali bertemu dengan teman-teman yang pulang kampung setelah libur lama yang sebenarnya tidak lama jika dibandingkan fakultas lainnya. Yah, tidak apa-apa.

Seperti biasa, karena sudah lama tidak bertemu, mulailah saling bertanya dan bercerita dengan panjang dan lebarnya. Hayo, berapa luasnya ya. Hehe.., bercanda. Saat tengah asyik menjadi pendengar dari keriuhan hari pertama masuk, saya menyadari ada hal-hal aneh yang sudah dianggap wajar. Seorang teman yang baru saja datang menyapa seorang teman saya yang lain.

“Hei, liburan ngapain aja?”

Teman saya itu pun menjawab “Di rumah aja.”

Merasakan ada yang aneh? Awalnya saya tidak merasakan itu. Tapi coba dipikir. Pertanyaan teman pertama saya adalah “liburan ngapain aja”. Sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban sebuah aktivitas. Kata kerja lah paling tidak, misalnya belajar, baca-baca, atau jawaban ga ngapa-ngapain. Itu menunjukkan suatu kata kerja. Tapi, teman kedua saya justru menjawab “di rumah aja” yang kita tau itu adalah penunjuk kata tempat. Harusnya jawaban itu akan tepat jika pertanyaanya adalah liburan ke mana aja. Hm…

Ada juga pertanyaan yang lain yaitu pertanyaan tentang kabar semisal “apa kabar?” atau “gimana kabarnya”. Jika sebuah jawaban yang tepat tentu akan dijawab baik, kurang sehat, atau sesuai dengan kondisinya pada saat itu. Tapi terkadang muncul jawaban yang baik namun kurang lengkap yaitu jawaban Alhamdulillah.

Paham maksud saya? Coba lihat. Pertanyaan “apa kabar?” lalu jawabannya “Alhamdulillah.. (segala puji hanya bagi Allah).” Kata Alhamdulillah memang menyiratkan sebuah keadaan yang sedang baik namun bukankah itu jawaban yang tidak menjawab pertanyaan. Apa kabarnya sebenarnya. Baik kah, buruk kah. Bisa saja dia sedang dalam keadaan buruk namun dia tetap bisa bersyukur dan memuji Allah. Bukankah tidak ada kepastian jawaban dari pertanyaan tersebut? Ya, alangkah lebih baik dan lebih lengkap jika dijawab “Alhamdulillah, baik” atau sejenisnya.

Yup, pertanyaan dan jawaban memang sesuatu yang harusnya berkaitan. Sering kali sebuah jawaban dikira sudah menjawab suatu pertanyaan. Padahal kalau ditilik kembali bisa jadi jawaban itu adalah pertanyaan itu sendiri atau tidak nyambung sama sekali. Misalkan pertanyaan “bagaimana kita bernafas?” lalu dijawab “dengan menghirup oksigen dan menghembuskan karbondioksida”. Nah lo, padahal menghirup oksigen dan menghembuskan karbondioksida adalah definisi dari bernafas. Berarti si penjawab belum menjawab pertanyaannya, sekedar mendefinisikan saja. Bukankah pertanyaannya sama saja dengan “bagaimana kita menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida?” Hehe…, sama aja ngulangi pertanyaannya kan.

Yup, ini hanya perkara iseng saja gara-gara saya melantur sepanjang nunggu kuliah di kampus tadi. Tapi yang unik adalah kita tidak mempermasalahkan hal tersebut atau mungkin tidak menyadarinya. Bukan masalah sebenarnya. Toh, komunikasi mereka lancar-lancar saja. Yup, asalkan sama-sama saling memahami dan menerima jawaban yang diberikan. Meskipun tidak nyambung sama sekali. Hehe…



P.S:
@ Zahra jadi inget waktu bahas tentang obrolan ga nyambung di mushola kemarin. :)

Wednesday, 9 February 2011

Tetes

09:08 0 Comments

Sebutir bening meluncur indah

Bergabung dengan sejawatnya

Menghantam batu cadas

Berenang

Tenggelam

Karam

Tak berbentuk

Semata karna pucuk gunung tak sudi menampungnya

Terlampau berat

Walau jarum timbangan tak bergeser sedikit pun andai ia berpijak


Setetes jernih menukik terjun

Berlomba mencium daratan dengan populasinya

Bukan ciuman lembut

Melainkan keras menghujam

Pedas

Tajam

Semata karna sang awan tak rela menggendongnya

Terlampau berat

Jatuhkan saja agar ia bebas melayang memutari angkasa


Begitu pula

Setitik kristal merangkak turun

Tak bergabung siapa-siapa

Melewati relief wajah

Pelan

Pedih

Miris

Semata karna mata tak sabar menyimpannya

Terlampau berat

Biarkan mengalir, sampai akhir



Tuesday, 8 February 2011

Kali Ini Saya Percaya

21:23 0 Comments

Yup, beberapa waktu yang lalu saya membuat postingan tentang bagaimana saya bisa percaya. Saya mengatakan bahwa saya tak mudah percaya orang. Tapi saya teringat sesuatu. Pengalaman saya dua tahun yang lalu, saat saya masih merantau di Depok.

Waktu itu Depok hujan deras. Seperti biasa. Petir, halilintar, angin. Seakan membuat cuaca mencekam bagi saya. Yah, saya takut hujan deras. Dan saya hanya mendekam di sudut lobby kampus, berharap cemas hujan segera berhenti sembari menatap jarum jam yang tetap berputar tak pusing-pusingnya. Sekitar pukul 4 sore. Rasanya semakin gelisah. Saya ada janji sore itu.

Akhirnya hujan reda juga. Bergegas saya berlari pulang ke kos, melewati jalan-jalan becek, menyusuri rel. Tak ada waktu lagi. Saya harus segera mandi, mengemas pakaian, lantas pergi. Dengan tergesa saya membeli tiket KRL dan menaiki sebuah kereta yang kebetulan berhenti tanpa peduli bagaimana sesaknya kereta sore itu. Pukul 5 sore, jam-jam kereta penuh karena orang pulang kerja. Tapi saya masih bersyukur. Tujuan saya ke arah Jakarta. Meski jam pulang kerja, kereta dari Bogor masih terlihat manusiawi dibandingkan kereta dari Jakarta yang sudah tak pantas diibaratkan dengan apapun jua.

Tiap stasiun saya melongok di antara kepala-kepala manusia yang berjejalan. Mencari-cari plakat yang tergantung di stasiun. Maklum, saya masih pendatang baru kala itu. Belum ada 1 semester. Saya tak hafal berapa stasiun yang harus saya lewati. Saat itu saya sempat berniat, lain kali akan saya hitung berapa stasiun kereta harus berhenti hingga akhirnya saya turun. Yang saya hafal hanyalah saya akan turun di stasiun Tebet, sebuah stasiun yang harus melewati terowongan lebih dahulu.

Sesampai di Tebet, saya masih harus oper ke sebuah metromini. Ah, saya lupa. Metromini atau kopaja. Saya juga sudah lupa nomor berapa. Saat itu saya mengikuti intruksi yang saya terima di SMS. Menyeberang jalan terlebih dahulu lantas menunggu bus jurusan tertentu. Bus itu datang, saya menyetopnya tapi sopir bus tak berhenti sama sekali. Seorang ibu yang berjalan searah dari datangnya bus menghampiri saya.

“Agak ke sana mbak. Busnya ga mau berhenti kalau di sini.”

Ibu itu berjalan melewati saya menuju segerombolan orang yang tengah menanti bus juga. Hm, ternyata karena ada seorang polisi yang sibuk mengatur lalu lintas. Tak mungkin bus itu mau berhenti dengan polisi mengawasi seperti itu. Baiklah, saya mengalah. Saya pun melangkahkan kaki untuk bergabung dengan orang-orang yang bernasib sama.

Bus pun datang dan saya bergegas naik. Kebetulan sekali, ibu yang mengingatkan saya tadi juga naik bus yang sama. Dia duduk di samping saya.

“Mau ke mana, Mbak?” tanya ibu itu melawan deru mesin bus.

“Ke rumah saudara saya, bu, di perumahan X” (hehe.., saya lupa nama perumahannya)

“Perumahan X? Apa lewat situ mbak? Yakin ga salah bus?” ibu itu bertanya lagi.

“Ga bu. Saya sudah pernah ke sana seminggu yang lalu. Memang tidak lewat di depannya. Nanti masuk dari samping di sekitar tanah yang baru dibangun trus masuk ke perumahannya.” Saya menjawab dengan yakin.

Ibu itu hanya manggut-manggut tanda paham.

Hari sudah lewat senja dan keadaan sekitar mulai gelap. Bus tetap melaju meski lambat karena berbagi tempat dengan kendaraan lain yang merayap. Di bagian kanan jalan mulai terlihat hamparan tanah luas tanda daerah yang baru dibangun. Tiba-tiba saya menyadari sesuatu. Di bagian kanan jalan tak ada penerangan sama sekali. Bagaimana saya bisa mengenali gang masuk untuk jalan menuju perumahan? Ya Allah…

Ibu di samping saya sesekali masih mengajak bercakap-cakap.

“Dari jalan dijemput saudaranya mbak?” tanya ibu itu lagi.

“Ga bu. Tadi diberi tahu kalau naik becak saja. Di pinggir jalan ada pangkalan becak katanya.”

“Wah, sudah malam gini ga ada becak, mbak. Adanya ojek.”

Masya Allah, saya baru menyadarinya juga. Seminggu yang lalu saya memang mengunjungi rumah saudara saya dan saya melihat pangkalan becak. Tapi itu di pagi hari, tidak dalam keadaan gelap seperti ini. Kekhawatiran saya makin bertambah.

“Kalau perumahan X sepertinya saya tahu, mbak. Nanti ikut turun saja dengan saya di jalan depan masjid itu. Kayaknya ada pangkalan ojek. Sudah deket itu mbak dengan perumahannya.” Ibu itu menawarkan.

Daerah yang dibangun di sisi kanan jalan masih saja terlihat. Saya sudah pasrah tak tahu gang mana saya harus berhenti. Mau tak mau saya mengiyakan juga tawaran ibu tadi. Sayangnya, karena terlalu asyik mengobrol, masjid yang dimaksud ibu tadi terlewati. Ibu tadi segera meminta sopir untuk berhenti. Kami pun turun.

“Maaf mbak, saya mau langsung masuk gang yang ini saja. Mbak jalan balik aja ke sana. Di dekat masjid itu kayaknya ada pangkalan ojek.” Ibu itu memberi intruksi.

“Ya, bu. Terima kasih.”

“Hati-hati ya mbak. Keburu gelap dan hujan lagi.” Ibu itu masih sempat mengingatkan.

Saya hanya mengangguk. Say berjalan seorang diri melawan arah datangnya bus. Dari kejauhan tampak masjid yang dimaksud ibu itu. Begitu sampai di sana, tubuh saya terasa lemas. Tak ada sebuah motor pun di sana. Hanya tersisa tulisan pangkalan ojek tanpa sebuah bukti kalau-kalau ada tukang ojek.

Di seberan jalan tetap saja terlihat tanah luas yang akan dibangun. Tanpa ada petunjuk sama sekali. Saya tak tahu di mana saya berada. Lemah saya mengambil handphone saya. Yang satu tak ada sinyal. Yang lain tak cukup pulsa untuk telepon. Parah nian. Ingin menelepn saudara saya tapi pulsa tak ada, kalaupun ada agaknya saya juga tak bisa menunjukkan di mana saya. Saudara saya juga tak mungkin bisa menjemput. Besok adalah resepsi pernikahannya dan dia sudah memesan kepada saya agar naik becak saja seperti intruksi dalam SMS-nya.

Hari semakin gelap. Saya berjalan pasrah. Mencoba mencari-cari petunjuk barangkali ada daerah yang saya kenali atau orang untuk saya tanyai. Di ujung jalan terlihat sebuah bengkel yang masih buka. Seorang ibu yang dari gelagatnya tanpak sebagai pemilik bengkel sedang berdiri di depan begkelnya. Saya berjalan menghampirinya.

“Maaf, bu. Saya mau tanya pangkalan ojek paling dekat dari sini di mana ya?”

Ibu itu berpaling dari saya dan bertanya pada salah seorang pegawainya.

“Ojek yang dekat sini mana?” tanya ibu itu.

Salah seorang pegawainya menjawab, “Ga ada bu. Di dekat masjid ada, tapi kalau hujan udah pada pergi ojeknya.”

Malang nian nasib saya. Tak ada jalan keluar lagi. Saya tak tau harus dengan cara bagaimana saya bisa sampai ke rumah saudara saya. Mungkin saya harus berjalan lagi, mencari orang jual pulsa untuk mengisi pulsa saya dan mencari bantuan.

“Memangnya mau ke mana mbak?” ibu itu membuyarkan angan-angan saya.

“Ke perumahan X bu.”

“Wah, masih jauh itu dari sini. Ga ada ojek mbak. Kalau jalan kaki jauh banget.” Ibu itu menerangkan. Keterangan ibu itu justru membuat saya makin lemas. Yah, mana saya tahu kalau perumahan itu masih jauh. Di sepanjang jalan hanya tanah kosong yang akan dibangun. Satu-satunya gang penyelamat saya ada di antara tanah lapang itu.

“Gini aja mbak. Biar mbak diantar sama pegawai saya.” Ibu itu memberikan tawaran.

Tanpa saya iyakan, ibu itu sudah menyuruh pegawainya tadi untuk mengantar saya.

“Sebentar ya mbak. Biar nutup bengkel dulu. Sekalian dia juga mau pulang kok mbak.”

“Terima kasih banyak bu” Hanya itu yang bisa saya ucapkan. Satu-satunya jalan keluar hanyalah itu. Atau saya harus kembali berjalan tak tau arah demi mengisi pulsa.

“Mari mbak” Seorang pegawai bengkel ibu tadi sudah siap dengan motornya. Saya pun berjalan mendekat.

“Tenang aja mbak. Kalau di tengah jalan dia macam-macam, pukul aja” ibu itu mengingatkan setengah bercanda.

Saya sudah mendapat tumpangan tapi kekhawatiran saya bukan berarti telah berakhir. Saya belum pernah naik ojek sebelumnya. Dan pegawai bengkel ibu ini pun bukan tukang ojek. Entah mengapa, peringatan ibu bengkel yang bercanda tadi justru membuat saya takut. Dalam hati saya terus berdoa. Memohon ketenangan dan memasrahkan diri luar biasa kepada Allah.

“Mbak, gang masuk perumahannya yang ini bukan?” tiba-tiba pegawai bengkel tadi mengagetkan saya.

Saya mengamati sekeliling. Ah, saya mulai mengenali daerah ini. “Iya, mas. Yang ini.”

Sepeda motor pun memasuki perumahan tersebut dan saya memberikan intruksi gang-gang yang harus dilewati. Akhirnya sampai juga di depan sebuah rumah yang memang saya cari-cari dari tadi. Saat saya turun dari sepeda motor dan hendak membuka tas untu mencari dompet saya, pegawai bengkel itu berkata.

“Ga usah dibayar mbak. Saya kan bukan ojek. Niatnya mau nolongin kok mbak.”

“Terima kasih, Mas.” Hanya itu yang saya ucapkan.

Saya pun masuk ke dalam rumah saudara saya, dengan perasaan syukur yang entah tak tau digambarkan dengan bagaimana.


Hikmah:

Saya tahu, bisa saja saya dibohongi oleh ibu-ibu di bus yang mengatakan bahwa ada pangkalan ojek. Atau bisa saja ibu begkel ataupun pegawainya itu berniat mencelakakan saya. Tapi kepasrahan atau tawakal yang luar biasa akan mewujudkan kepercayaan yang mungkin tak bisa dipercaya. So, tawakallah pada Allah…



PS:

I trust You, God.

Saya percaya bahwa di luar sana masih ada orang-orang asing tanpa topeng kebohongan yang memiliki jiwa kebaikan.



Sosok Asing yang Kukenal

21:18 2 Comments
Sosok itu asing
Berjalan perlahan
Mengeliminasi jaraknya denganku
Semakin dekat
Rapat

Siapa dia?
Wajahnya memakai topeng yang sama
Di baliknya kurasa sudah berbeda
Topeng mustahil berubah
Bibirnya tetap merekah
Terpoles gincu kualitas ke sekian
Namun senyum jenaka lenyap
Matanya tetap mengerling
Dihiasi mascara
Eye shadow
Membuat sinar matanya justru tertutup bayangnya
Raganya nyata
Sayang jiwanya melancong entah ke mana

Aku terasing dalam keakraban
Topeng-topeng tanpa jiwa
Aku tak butuh mayat-mayat itu!!!
Jiwa telah menguap

Lihat!
Tanyakan!!
Wajah familiar dengan jiwa asing
Atau jiwa familiar meski wajah asing
Jawablah!!!