Follow Us @soratemplates

Tuesday, 14 June 2011

Gerimis Mengundang Tangis

17:36 1 Comments

Setetes air di langit mendung
Mengundang mata di balik jendela
Mengerjap, menatap langit
Gerimiskah?
Deraskah?
Gerimis...semoga...

Lebih baik gerimis
Biar aku leluasa menangis
Tak kan ada yang tahu
Air mata bersembunyi di basah wajahku

Biarkan saja gerimis
Karna gerimis bukan hujan deras
Yang menghujam jasad amat keras
Membuatku tertangkap basah
Dengan rentetan keluh kesah

Biarkan gerimis
Karna gerimis tak membuatku kuyup
Yang menghisap perhatian orang
Mencuri dengar rintihanku yang sayup

Duhai Kau yang di atas sana
Kirimkan saja aku gerimis
Sebagai penawar hatiku yang miris
Agar aku tenang menangis




*maaf, puisi ini saya posting lagi. Sungguh tak ada maksud berkeluh kesah dengan puisi ini.


Monday, 13 June 2011

Janji Kelingking

19:04 0 Comments

Setiap orang punya cara tersendiri ketika berjanji. Yang paling tepat adalah dengan mengucap insya Allah. Insya Allah-nya orang mukmin lho, bukan insya Allah-nya orang asal-asalan. Hehe… Kalau insya Allah-nya orang mukmin, mereka benar-benar berharap semoga Allah meridhoi dan mengijinkan janji yang ia ucapkan. Kalau insya Allah-nya orang asal-asalan, terkadang insya Allah itu justru sebagai dalih untuk mangkir dari janji yang ia sebutkan.


Terlepas dari ucapan insya Allah itu, beberapa orang punya cara unik untuk mengukir janji mereka. Misalnya saja seperti ‘The Silincer’ dalam film 3 idiots yang menuliskan ‘Sept 5’ di dinding. Atau seperti orang yang saat menikah saling bertukar cincin dengan dalih untuk mengikat janji suci. Nah, saya dan teman-teman saya pun punya cara unik untuk mengikat janji itu yaitu dengan menautkan jari kelingking kami masing-masing. Kami menyebutnya dengan janji kelingking.


Seharusnya tidak ada perbedaan antara janji biasa atau janji yang terukir dengan cara lainnya. Tapi entah mengapa, bagi saya pribadi, ada suatu kekuatan magis tersendiri saat jari kelingking kami bertaut. Rasanya tidak enak kalau tidak ditepati. Beberapa teman pasti akan berkata “janji kelingking!” dengan mata melotot kalau janji yang sudah diucapkan itu nyaris tidak ditepati. Benar-benar seperti sebuah harga mati untuk harus dipenuhi.


Tapi, terlepas dari berbagai macam cara untuk mengikat janji, pada dasarnya yang namanya janji tetaplah harus dipenuhi. Selagi ajal belum menjemput, sebisa mungkin janji-janji itu sudah terealisasikan. Mengucap janji memang mudah, namun merealisasikannya belum tentu mudah. Kalau memang tidak mampu, janganlah berjanji yang muluk-muluk. Percuma kalau sudah berjanji tapi nyatanya tidak sanggup untuk memenuhi. Yang ada justru memberatkan diri kita sendiri. Mengapa? Karena janji adalah hutang, yang akan ditagih di akherat jika di dunia belum terbayarkan. (Hope, you still remember my last sentence).



PS:

Bagaimana para penguasa yang mengobral janjinya kala kampanye bisa memenuhi semuanya ya? Hm…

Buat dahniar: Janji kelingking belikan es krim!! :)

I still remember when the little finger knit. The promise was not just a promise.



Thursday, 9 June 2011

Tak Kan Kubiarkan Kau Mencontek

18:57 0 Comments

Bagaimana Anda membaca judul di atas? Saya sengaja tidak memberi tanda baca di akhirnya karena tanda baca akan memberi intonasi yang berbeda. Nah, bagaimana Anda membaca judul di atas? Dengan nada marah kah? Nada dendam kah? Atau datar-datar saja? Hm…, sejujurnya saya menulis judul itu dengan nada menggoda. Yup, menggoda alias bercanda. Karena saya memang membuat ini sebagai sebuah candaan.


Rasanya sudah menjadi rahasia umum kalau setiap pelajar itu biasa mencontek. Bahkan dosen saya berkata begini, “tak ada pelajar yang benar-benar jujur”. Hm…, parah nian! Kalau mau jujur, saya pun pernah mencontek. Tapi saya benar-benar kapok. Kenapa? Bukan karena ketahuan guru, tapi nilai saya selalu jelek kalau saya mencontek atau memberi contekan. Haha…, unik memang. Tapi begitulah kenyataannya. Mungkin karena hati tak tenang dan konsentrasi justru diberikan untuk mencari/memberi bantuan sehingga soal ujiannya tidak mendapat perhatian sedikit pun.


Maka, saya membuat motto “saya tak kan mencontek”. Lebih baik terus menatap soal dan berspekulasi dengan menggunakan akal dan hati nurani daripada tengok kanan kiri berharap mendapat wangsit dari orang sekitar. Nah, kalau untuk diri saya sendiri sih gampang saja mengaturnya. Tapi, bagaimana dengan orang lain?


Okelah, itu memang motto saya pribadi. Saya memang tak bermaksud memaksa orang lain mengikuti motto saya. Tapi, namanya saja saya orang usil bin jahil, jadilah saya tak mudah menerima adanya bentuk percontekan di muka bumi (hehe, lebay…). So, sifat usil saya ini pun kumat saat saya bertugas mengedit soal untuk pretest adik tingkat saya.


Biasanya, soal pretest dibuat dalam beberapa tipe. Kali ini saya membuat 2 tipe. Dari beberapa pengalaman saat menghadapi soal-soal pretest, ada beberapa cara bagaimana membuat soal pretest itu sama namun pada dasarnya berbeda.


Pertama, Lay out soal dibuat sama, tapi ada kode ‘nyempil’ yang tidak disadari oleh peserta test. Kasus ini terjadi saat kami pretest biokimia beberapa bulan lalu. Di bawah judul soal ada gambar susu kotak. Nah, ternyata jumlah susu kotak itu berbeda, antara 1 sampai 4. Beberapa teman yang tidak menyadari kalau tipe soalnya berbeda, asal contek aja. Eh, waktu ngumpulin lembar jawaban, baru deh ketahuan kalau ada yang tipe 1 kotak susu sampe 4 kotak susu.

Nah, trik ini saya pakai juga. Di soal pretest kemarin, saya buat judul soal dengan ditulis bold dan 1 tipe soal lagi yang tidak saya bold. Biasanya trik ini kemungkinan besar ketahuan oleh para peserta. So, butuh trik selanjutnya.


Kedua, urutan nomor dibolak balik. Kayaknya ini trik yang udah biasa banget. Semua siswa juga tahu kalau urutan soalnya sudah berbeda, pasti tipe soalnya berbeda. Sayangnya, cara ini masih bisa gagal. Kenapa? Soalnya jika waktunya masih sisa banyak dan siswa itu sudah ‘ahli’ bekerja sama, dia akan bertanya soal A dengan kata awal X jawabannya apa. Hm, pasti langsung ketahuan.


So, saya usil membuat trik selanjutnya


Ketiga, urutan jawabannya juga dibolak-balik. Jadi antara a, b, c, d, e-nya saya bolak-balik juga. Sedikit banyak itu akan membuat bingung. Meskipun tetap saja bisa diatasi kalau waktunya masih sisa banyak. Kan masih bisa tanya jawabannya bukan a,bc,d,e tapi langsung isian jawabannya apa. So, butuh cara selanjutnya…


Keempat, redaksi kata awalnya diubah sedikit. Misalnya ada soal “Seorang pasien mengeluh batuk bla..bla..bla..”. Trus, dengan iseng saya mengubahnya menjadi “Terdapat sebuah kasus di mana seorang pasien mengeluh batuk bla..bla..bla..” Hehe…, biasanya kalau redaksi kata awalnya sudah berbeda, para siswa sudah mengira itu soal berbeda. *jahil mode on*


So, udah kode soalnya nyempil, urutan soal dibolak-balik, urutan jawaban dibolak-balik, masih ditambah juga awal kata diubah dikit. Dengan cara itu, tak kan kubiarkan kau mencontek. Peace… *_^V



P.S:

Untuk teman-teman asisten, mohon maaf kalau gara-gara kejahilanku ini membuat kalian susah mengoreksi pretestnya.

Untuk adik-adik 2010, maafkan keisenganku. Jangan sampai salah contek lagi ya. Hehe…

Asal kalian belajar, soal semacam apapun akan bisa terjawab. Karena yang terpenting dalam proses belajar adalah ilmu, bukan sekedar nilai semata.

Ayo belajar…!!!



Tuesday, 7 June 2011

Tahu Diri vs Lebih Baik Terlambat Daripada Tidak Sama Sekali

18:53 6 Comments

Ada sebuah pelajaran yang saya dapat saat kuliah mikrobiologi beberapa waktu lalu. Seorang dosen yang cukup saya kagumi untuk pengalaman dan kedisiplinannya bercerita begini :


Waktu saya di Jepang, suatu waktu saya janjian bertemu dengan profesor saya. Sayangnya, saya terlambat 1 menit. Profesor saya berkata, “Untungnya kamu adalah orang asing. Seandainya kamu orang Jepang, saya tidak akan memberikan kesempatan kedua”. Hm…, pedihnya. Padahal, Cuma terlambat 1 menit saja.


Lalu, beliau bercerita lagi begini.

“Di Jepang, rata-rata orang tua tidak berharap anaknya menjadi dokter, insiyur, atau profesi apapun. Mayoritas mereka akan berkata, yang penting anak saya tidak mengganggu orang lain. Cuma itu keinginannya.”


Nah, apa kaitannya dengan judul di atas?

Berhubung dosen saya ini ontime, kuliah yang biasanya molor 5 – 10 menit jadi dimulai tepat waktu. Dampaknya, ada beberapa teman yang terlambat.

Dihubungkan dengan statement kedua, teman-teman yang masuk pada saat kelas sudah dimulai ini terkategorikan sebagai orang yang mengganggu orang lain karena menghambat jalannya kuliah. Soalnya, dosen saya terpaksa berhenti menerangkan setiap ada orang baru masuk ke dalam kelas.


Waktu itu, ada statement yang kemudian dilontarkan oleh dosen saya, “Waktu saya jadi mahasiswa dulu, kalau saya sudah terlambat dan pintu kelas sudah ditutup, saya akan tau diri. Lebih baik tidak ikut kuliah saja daripada mengganggu orang lain.”


Hm…, menarik. Bukannya saya mendukung pembolosan yang dilakukan dosen saya itu, tapi ada statement ‘tau diri’ untuk alasan tindakan di atas. Yup, memang betul. Kalau kita tau diri, tentu kita akan malu datang terlambat saat kelas sudah dimulai. Malu pada dosen yang sudah datang on time. Malu pada teman-teman lain yang terpecah konsentrasinya karena kita dengan tak tau dirinya membuka pintu kelas. Belum lagi kalau kita terpaksa harus melewati beberapa teman yang memilih duduk di kursi belakang saat hunting kursi kosong yang bisa diduduki. Sungguh mengganggu memang.


Namun, ada asas lain yang perlu dipertimbangkan. Tak sedikit orang yang memiliki motto ‘lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali’. Ya, bagi mereka, lebih baik terlambat 5 – 10 menit daripada tidak hadir sama sekali. Masih mending tidak mendapat materi selama 5 – 10 menit itu daripada tidak tau apa-apa tentang materi 1,5 jam kemudian. Daripada menyesal di kemudian hari, lebih baik terlambat di hari ini. Mungkin begitu pemikirannya.


Nah, masalahnya, kedua motto itu bertolak belakang kan? Yang satu lebih baik tidak ikut saja daripada mengganggu orang lain, yang satu lagi tetap memilih ikut daripada rugi di kemudian hari. Ini tergantung dari sudut pandang masing-masing orang. Mau menjadi orang populis atau individualis? Kalau orang populis, tentu memilih tipe pertama. Daripada saya mengganggu orang lain, lebih baik saya yang mengalah. Kalau tipe individualis, daripada diri saya pribadi rugi di kemudian hari, lebih baik saya nekat saja walau terlambat.


Lalu, mana yang lebih baik? Tidak ada yang lebih baik. Yang penting adalah masing-masing pilihan harus berani menanggung risiko yang ditimbulkan. Tipe pertama yang pada dasarnya tau diri tentu harus tau diri juga kalau dirinya sudah ketinggalan materi. Pastinya mereka juga harus tau diri bagaimana cara agar mereka tetap mendapatkan materi yang tidak mereka ikuti. Entah dengan pinjam catatan, atau meminta rekaman kuliah dari teman. Untuk tipe kedua, walau pada dasarnya mereka ‘tidak tau diri’ (dilihat dari sudut pandang orang lain), setidaknya mereka berusaha meminimalisasi keributan yang ditimbulkan saat mereka masuk kelas. Tak banyak cakap, segera menempatkan diri, dan tidak mengajak bicara teman lain yang sudah berkonsentrasi. Setidaknya dengan begitu, dia tidak merugikan orang lain.


Tapi…, dari kedua solusi di atas, ada sebuah solusi yang paling tepat. Apa itu? Be ontime! Yup, betul. Kalau sejak awal kita sudah on time, tak perlu lagi kita dilema antara tau diri atau lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. So, ontime lah…!!!






Monday, 6 June 2011

Diam!

18:50 0 Comments

Aduh…

Sungguh gaduh

Diam…!!!


Hentikan hening!

Kunci mulutmu!

Tak perlu bermulut madu

Merayu

Menatapku dengan sayu


Cukup sunyi!

Stop benyanyi!

Suaramu sumbang

Sarkas mencabik hatiku yang meradang


Aku benci kegaduhan kalian!

Aku muak dengan keramaian!


Diam semua!!!

Biar melodi saja yang melantunkan nada