Follow Us @soratemplates

Friday, 8 July 2011

Mati Lampu Itu Menenangkan

21:35 2 Comments

Banyak orang mengeluh ketika listrik padam. Suasana gelap, beberapa aktivitas yang sangat mengandalkan listrik terhenti. Memang tidak bisa dipungkiri, listrik sudah menjadi barang pokok. Tapi, seperti pula barang pokok lainnya, kadang tidak adanya barang pokok itu justru memberikan ketenangan dan menghadirkan banyak perenungan. Seperti ketika puasa, manusia justru mendapat ketenangan jiwa. Demikian pula saat puasa listrik, saya pun merasakan ketenangannya.

Sudah sejak ba’da Sholat Jum’at listrik padam. Semua aktivitas terhenti. Biasanya, adik akan menyalakan TV di kamar menonton Abdel Temon, Awas Ada Sule, atau serial lucu lainnya. Saya menyalakan TV di ruang tengah, setia dengan kelanjutan cerita film korea. Mbak Yatmi kadang-kadang masih menyelesaikan setrikaannya sebelum pulang. Begitu listrik padam, kami semua hanya diam.

Suasana justru terasa tenang. Adik dan saya tak perlu saingan suara televisi. Hingga kadang suara tamu yang mengetuk pintu tak terdengar lagi. Tak ada lagi suara mesin kulkas yang menderu. Tak terdengar lagi suara dispenser memanaskan air yang akan berbunyi klik ketika air mendidih. Tak ada pula suara deru mesin pemanas air di kamar mandi ibu begitu lampu kamar mandi dinyalakan. Semua diam, semua tenang.

Dalam keheningan ini saya justru merasakan kedamaian. Jendela terbuka lebar untuk mencuri cahaya matahari. Saya dan adik bercengkrama di kamar ibu yang paling banyak menerima sinar. Mungkin kalau listrik tidak padam, tidak akan begini. Masing-masing kami akan sibuk dengan aktivitas sendiri-sendiri.

Dalam keheningan ini saya justru merenung. Yang terdengar hanyalah jam yang terus berdetak. Betapa keadaan ini mengingatkan pada suatu masa yang akan datang. Sang waktu menyentil hati saya. Ingatlah, inilah keadaan yang akan kau hadapi nanti. Ya, keadaan sunyi ketika kita tidak bisa beraktivitas lagi, ketika tak ada cahaya sama sekali. Cuma yang masih menjadi perkara, apakah kesunyian kelak juga kedamaian seperti sekarang ini ataukah ketakutan yang menjadi-jadi. Karena tak jarang pula, orang mengeluh ketika listrik mati.

Rasanya, keadaannya persis sama. Ada orang yang tenang dengan listrik mati. Merasa tidak ada masalah dan semua keadaan aman terkendali. Mungkin karena aktivitas sebelumnya sudah berjalan sesuai rencana. Tapi tak jarang pula banyak orang yang mengeluh setengah mati. Mungkin karena ada banyak janji atau mengulur waktu. Harus mengirim email lewat speedy, menyetrika baju yang akan dipakai sore ini, mengeprint makalah yang harus dikumpulkan siang tadi, atau aktivitas lain. Yang ada hanya tinggal keluhan karena bisa saja email dikirim sejak pagi, baju disetrika sejak kering, atau makalah diprint tanpa menunggu batas akhir.

Jika diibaratkan dengan keadaan kita kelak, saya rasa tidak jauh beda. Ketika kita hanya sendiri dalam kegelapan dan kesunyian, mungkin kita tergolong orang yang tenang karena semua tidak ada masalah. Atau kita akan menjadi orang yang terus melolong karena banyak yang belum kita lakukan. Bekal belum cukup. Ilmu tidak memadai. Iman tidak kuat dan amal belum mencukupi.

Dari mati listrik ini saya belajar. Belajar untuk memaknai kesunyian, memanfaatkan waktu sebelum listrik padam. Saya tersadar bahwa saya harus memanfaatkan hidup saya sebelum hidup saya lah yang benar-benar padam.

PS: Ending yang makin menentramkan. Pas ketika paragraph terakhir ditulis, masjid-masjid di kejauhan mengumandangkan adzan Ashar.



Thursday, 7 July 2011

Mbak Inggih

08:34 1 Comments
Miris, mungkin itu yang saya rasakan. Ada yang bilang, kalau tinggal di kota besar harus siap bersahabat dengan keangkuhannya. Kalau ingin tetap bergaul dengan sesama, tinggal saja di desa. Benarkah begitu? Mungkin ada benarnya, tapi desa dan kota sekarang sama saja. Seperti yang saya alami misalnya.

Setiap setengah enam pagi, saya akan keluar rumah untuk menyapu jalan. Kejadian yang terjadi selalu sama. Seorang anak perempuan dengan jarak 1 rumah dari saya akan ikut menyapu juga. Lalu ada seorang ibu pulang dari pasar dengan motor vario. Tak lama kemudian, seorang ibu dengan jaket merah mengendarai sepeda menuju pasar. Ketika melewati saya, kedua ibu itu akan berkata, “Mbak…” dan saya menjawab, “Nggih…”. Selalu begitu.

Saya tidak tahu, kedua ibu itu di mana rumahnya, siapa namanya, dan kenapa memilih jalan ke pasar dengan melewati jalan depan rumah saya. Padahal masih ada jalan kampung yang lebih besar. Tapi, saya justru merasa dekat karena saling menyapa. Awalnya kami hanya tersenyum atau saling mengangguk ketika saya menghentikan menyapu dan membiarkan beliau lewat terlebih dahulu. Lama-lama, ibu itu mulai berani menyapa, walaupun memang hanya ‘mbak’ saja. Lucunya, kedua ibu itu tidak melakukan hal yang sama pada tetangga saya. Mungkin karena tetangga saya tetap saja menyapu dan tidak ambil pusing ketika kedua ibu itu lewat.

Kejadian serupa juga terjadi ketika saya memanaskan mesin motor saat berangkat agak pagi. Dua orang anak SD akan lewat sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Sapaannya lebih hangat, “Mbak, mau berangkat?”. Dan saya akan menjawab sambil tersenyum dengan hangat. Padahal mereka anak-anak kampung yang rumahnya agak jauh dari perumahan saya. Hanya kebetulan saja lewat karena SD mereka terletak di ujung rumah saya.

Tapi itu hanya sebagian kecil dari sekian banyak orang yang lewat di depan atau di samping rumah. Sebagian besar akan tetap berlalu, walau mungkin mata sudah saling bertemu. Itu yang membuat miris. Saya tidak tinggal di perumahan elite, bahkan dekat dengan kampung yang masih terlihat sawahnya. Di alamat pun masih memakai embel-embel desa. Tapi budaya sapa rasanya mulai terkikis. Ada yang bilang, maklum ini perumahan para pekerja. Suami istri banyak yang berkarier, anak-anak sibuk sekolah, budaya pun mengikuti kota-kota metropolitan.

Padahal tidak juga. Saat saya di Depok dulu, setiap keluar kos, akan ada ibu-ibu asli Betawi yang bertanya, “Berangkat kuliah neng?” atau “Mau cari sarapan neng?”. Bahkan ketika saya akhirnya meninggalkan Depok, ibu itu berkata “Hati-hati ya neng. Mudah-mudahan tercapai cita-citanya.” Itu cuma ibu tetangga kos saya yang asli Betawi. Suaranya saja cablak sekali. Malah yang sama-sama orang Jawa asli di samping kos saya, angkuhnya luar biasa.

Mengkhawatirkan juga. Jujur saja, mungkin saya tidak hafal nama pemilik rumah dalam radius beberapa puluh meter dari saya. Tapi kalau di desa, tetangga kampung yang jaraknya berkilo-kilo masih tahu siapa namanya dan bagaimana keluarganya. Rasanya memang menyedihkan. Tapi saya rasa ini bukan perkara desa atau kota. Ini perkara mau tidak kita membuka hati dan mata. Lalu membuka mulut untuk menyapa.

Terkadang tetangga samping rumah memang terasa lebih jauh dibanding tetangga jauh yang rela saling sapa. Mungkin itulah yang terbaik. Memanusiakan manusia dengan menyapa karena menganggap mereka benar-benar ada.



Wednesday, 6 July 2011

Akhwat Pembalap

15:28 6 Comments

Ngeeeng…., Tin- tiiin…, Ciiit…, Gedubrak, Plethak, Byuur…

Yup, barangkali itulah suara-suara yang muncul ketika naik sepeda motor. Memang lebay, tapi kelebayan ini sebanding dengan kenyataan saat mengendarai sepeda motor itu sendiri. Siapa coba? Haha, saya.

Waktu saya SMP dulu ada guru TPA saya yang kecelakaan sepeda motor. Dia akhwat yang sangat kalem. Waktu itu dia bercerita kalau memang dia ngebut nabrak orang di tikungan, tapi orang yang dia tabrak justru yang minta maaf. Mungkin karena mbaknya kelewat kalem, sampai bapaknya mengira kalau mbaknya yang kenapa-kenapa. Waktu itu ada ikhwan yang jahil berkomentar, “Dasar akhwat pembalap!”

Berhubung saya masih SMP dan masih setia dengan bus Nusa B, saya tak begitu menggubris kata-kata guru TPA yang ikhwan itu. Sampai waktu menjelang dan saya mulai beranjak SMA, saya mulai merasakan sendiri bagaimana serunya mengendarai sepeda motor ke sekolah. Dan akhir-akhir ini saya baru menyadari kalau apa yang dialami oleh guru TPA akhwat saya itu terjadi pula pada saya.

Akhwat pembalap, mungkin gelar itu diturunkan pada saya. Setiap mengendarai motor, rasanya saya tak bisa disuruh pelan. Di jalan kampung 40 km/jam. Begitu masuk jalan raya sudah 50 km/jam. Terus menanjak, 60 km/jam masih biasa, 70 km/jam boleh juga, 80 km/jam sip, 90 km/jam….terbang!

Pernah saya terpergok oleh bapak saya di tengah jalan. Begitu sampai di rumah, beliau langsung bertanya, “Kamu kalau naik motor kecepatannya berapa tho kak? Cah wedhok kok ngebut.” Saya cuma bisa manyun. Mungkin kebiasaan ngebut ini karena teman-teman akhwat SMA saya juga suka ngebut. Kalau kami pergi bersama-sama dengan saling beriringan, kecepatan kami biasanya 60 km/jam. Itu jadi hal yang sangat biasa. Sekarang, begitu di kampus, ketika naik motor beriringan dengan kecepatan 60km/jam sudah dimarahi oleh teman-teman saya. Begitu kena lampu merah pasti pada berteriak, “Jangan ngebut-ngebut!”. Waduh, padahal saya biasanya lebih dari itu.

Yang jadi masalah adalah kata awal dari julukan pembalap itu. Akhwat, akhwat pembalap. Memangnya kenapa kalau seorang akhwat suka ngebut? Rasanya agak bikin risih. Kalau mau dijuluki pembalap ya pembalap saja. Tak perlu diembeli-embeli akhwat segala. Apakah seorang akhwat lantas harus naik motor dengan lemah lembut pelan-pelan seperti liliput? Hm… Padahal kalau dipikir-pikir, yang tukang ngebut itu lebih banyak akhwat daripada ikhwan. Pernah dulu kami akan takziah. Karena perjalanan jauh, para ikhwan khawatir akan memakan waktu lama kalau mengajak akhwat. Eh, begitu turun ke jalan, para ikhwan yang justru ketinggalan.

Menurut saya, penambahan embel-embel akhwat itu terlalu berlebihan. Lagipula entah akhwat atau bukan, kalau ngebut sama saja risikonya. Bagi saya, biarkan saja mau ngebut seperti apa. Justru ini menarik untuk melatih insting dan reflex menghadapi risiko. Yang penting kan tetap waspada dan tidak merugikan diri sendiri atau pengguna jalan yang lain.

So, berapa kecepatan Anda? Bagaimana kalau kita balapan saja?

PS: Bisa digampar ibu kalau ibu baca tulisan ini di blog. :D



Tuesday, 5 July 2011

Cubitin Aku Dong!

09:32 6 Comments
Kyaaa…, judulnya provokatif sekali! Tenang saudara-saudara. Ini tidak seperti yang Anda bayangkan. Saya tidak mengucapkan kalimat itu dengan mata mengerling dan senyum mengundang. Saya justru mengucapkannya dengan mata memicing dan senyum masam. Sama sekali tidak menarik kan? Jangankan dapat kesan menggoda, orang melihat saja mungkin alergi karenan

Yup, itulah kata-kata mantra ketika saya mengantuk luar biasa di sela-sela dongeng dosen saya. Biasanya saya akan mengulurkan tangan saya. Bukan bermaksud meminta-minta, tapi saya minta tolong teman di samping saya untuk memberikan cubitan supersadis. Terkadang cubitan itu berhasil, tapi lebih sering cubitan itu justru terasa seperti memijat-mijat tangan saya. Bisa dibayangkan, saya tambah menjiwai adegan terkantuk-kantuk saya.

Ternyata yang mengalami hal tersebut tidak hanya saya. Beberapa teman saya pun bernasib serupa. Ups, saya tidak akan menjelek-jelekkan teman saya. Saya justru ingin berbagi trik bagaimana cara mengusir kantuk yang menyerang saat kuliah based on pengalaman saya dan teman-teman.

Cara pertama, persis seperti cerita saya di atas, mencubit tangan. Kenapa mencubit bisa menghilangkan kantuk? Ceritanya begini. Ketika mencubit, bisa jadi kita mengenai saraf-saraf yang ada di anggota badan tersebut. Jika saraf itu terangsang, saraf tersebut akan mengirimkan impuls ke otak. Otak nanti akan memberikan respon berupa rasa sakit. Dengan kerjanya otak kita itu, diharapkan otak kita jadi lebih siaga dan tidak mengantuk lagi.

Ada juga cara klasik dengan mengemut permen kopi. Cara ini belum tentu manjur karena beberapa orang tidak ngefek walau diberi kopi. Bisa juga karena tidak suka permen jadi tidak tertarik untuk mengemut permen saat kuliah. Pernah ada kejadian lucu. Saat itu sedang kuliah gizi. Teman saya membagi-bagikan permen karena hawanya memang sangat bikin mengantuk. Belum ada lima menit kami makan permen itu, kebetulan sekali dosen saya membahas penatalaksanaan pasien seperti ini, “Jangan diberi glukosa. Kalau kamu kasih air teh, sirup, atau permen, lama-lama bisa hiperglikemi.” Krik…, kami yang sedang mengemut permen hanya bisa saling lirik.

Salah satu cara ampuh yang bikin saya terjaga selama kuliah yaitu mengamati teman-teman saya. Hehe, bukan bermaksud tidak menjaga pandangan, tapi melihat ekspresi teman-teman itu suatu hal yang menarik sekali. Begitu mata saya berat dan jurus cubitan tidak mempan, saya mulai melihat ke sekitar. Ada teman yang sedang mengantuk atau tidak. Biasanya, beberapa teman akan berpose lucu ketika mengantuk. Yang benar-benar tengkurap sih ga lucu. Tapi ada yang menyangga wajah dan menatap buku, persis kaya orang sedang baca buku. Ada juga yang tetap dipaksakan melihat ke layar LCD dan terangguk-angguk. Ketika sudah betul-betul mengangguk dan terjaga, kadang ada yang sok-sokan manggut-manggut seperti memahami materi kuliah. Haha, trik mengelabuinya boleh juga.

Masih ada banyak trik sebenarnya, tapi baru tiga trik itu saja yang saya lakukan. Apapun caranya, yang penting kita berusaha untuk terus terjaga. Kasihan dosen sudah cuap-cuap sampai berbusa-busa, kasihan orang tua yang sudah membiaya sekolah kita, kasihan juga orang-orang yang kelak berhubungan dengan kita karena kita kurang menguasai ilmuya gara-gara cuma mengantuk. Ayo kalahkan kantukmu, ayo raih ilmu!



PS: Selalu teringat kata-kata dosen saya, “ini penyakit ginjal, tapi banyak yang salah diagnosis sakit maag. Ini gara-gara dokternya waktu kuliah pada ngatuk.” Hiks..hiks.. maaf dok, saya usahakan tidak ngantuk lagi…




Sunday, 3 July 2011

Apa Kau Benar-benar Memahamiku?

08:46 6 Comments

Banyak orang ingin dipahami atau merasa sudah memahami orang lain. Yakin? Seorang teman dekat saya mengatakan hal yang unik “Orang yang memahami kita adalah orang yang tidak paham dengan kita tapi tetap memahami kita.” Atau dalam bahasa percakapan yang lebih njlimet, kurang lebih begini “Aku tu ga bisa memahamimu, tapi aku paham.” Hm…, bingung?

Setiap orang tentu memiliki permasalahnnya sendiri, memiliki watak mereka sendiri. Acap kali hal-hal yang sangat karakteristik itu kurang sesuai dengan karakteristik orang lain. Misalkan kita suka naik gunung hingga tidak mandi berhari-hari. Orang lain mungkin berpikir “Ngapain sih tu anak naik gunung mulu. Ga mandi berhari-hari lagi. Aku ga paham deh dengan sikap mereka.” Nah, iniah orang-orang yang tidak paham dengan tingkah laku kita.

Apakah orang-orang itu adalah orang yang tidak memahami kita? Belum tentu. Kalau orang itu lantas meninggalkan kita karena merasa naik gunung itu aneh dan tidak sesuai dengan pribadi mereka, berarti orang-orang itu memang benar-benar tidak memahami kita. Tapi kalau orang itu enjoy-enjoy aja, tetap membiarkan kita naik gunung, dan tetap bertahan menjadi orang dekat kita walau tidak suka dengan aktivitas naik gunung, berarti dialah orang yang benar-benar memahami kita.

Contoh lain yang lebih simpel. Seorang istri yang tidak suka begadang tetap membiarkan suaminya nonton bola tengah malam. Bahkan bisa jadi dia rela menemani atau membuat camilan. Padahal dia tidak paham, apa serunya orang-orang mengejar bola dan setelah dapat bola malah ditendang jauh-jauh. See? Inilah orang yang tidak paham dengan kita tapi tetap memahami kita. Inilah orang yang benar-benar memahami kita karena mereka tidak akan mematikan karakter kita dan akan terus mendukung kita.

Mari kita menjadi orang yang memahami orang lain, yang tidak hanya bisa memarahi, menghujat, atau bahkan mematikan karakternya jika kita tak paham dengan dirinya.



PS: Buat Zahra, maaf ya kata-katamu tak jadiin ide buat ngeblog.



Saturday, 2 July 2011

The Power of Kepekso

18:39 2 Comments

Kepekso alias terpaksa ternyata mampu menjadi sebuah power untuk mewujudkan sesuatu. Mungkin mayoritas orang akan mengeluh, “Ah, mana enak dipaksa”. Yup, memang dipaksa itu menyebalkan. Guru SMA saya saja menyamakan pemaksaan dengan pemerkosaan. Siswa diperkosa untuk belajar, siswa diperkosa untuk sekolah. Wah, penyangatan yang terlalu menyakitkan untuk kata terpaksa. Padahal, kata terpaksa justru menjadi mula untuk sebuah budaya.

Dalam buku Myelin karya Prof.Rhenald Kasali terdapat 5 rumus unik untuk menciptakan sebuah budaya. Dipaksa – Terpaksa – Bisa – Biasa – Budaya. Nah, memang begitulah adanya. Sekarang, kita contohkan dengan sebuah aktivitas yang belum menjadi budaya untuk semua orang, yaitu menulis.

Banyak teman saya yang berkata pada saya, “ah, saya tidak bisa menulis blog panjang-panjang begitu”. Hm, apakah tulisan saya selalu tulisan yang panjang-panjang? Tidak juga. Awalnya saya pun hanya menulis satu dua paragraph saja. Kalau memang mau membudayakan menulis, misalnya menulis blog, maka kita harus dipaksa untuk melakukannya. Saya pun mengalami proses ini. Dipaksa oleh tuntutan pribadi saya sendiri untuk bisa membuat blog saya hidup. So, carilah suatu hal yang akan terus memaksa Anda untuk melakukan sesuatu.

Tahapan yang kedua adalah terpaksa. Kalau paksaan pada tahap pertama sangat kuat, kita akan terus dipaksa untuk melakukan aktivitas itu. Kalau paksaan itu ibarat sebuah rayuan, tentu kita merasa melambung dan melaksanakannya tanpa beban. Tapi seandainya sekali waktu keadaan untuk melakukan aktivitas itu sangat sulit, kita akan merasakan suatu tahap yang dinamakan terpaksa. Mau bagaimanapun situasinya, tuntutan dari pihak pemaksa tak mau tahu. Pokoknya tak ada alasan lagi untuk lari dari tanggung jawab aktivitas itu. Kalau Anda lari pada saat ini, Anda seorang pecundang. Tapi jika Anda bertahan walau terpaksa melakukannya, bersiaplah merasakan kenikmatan di masa yang akan datang.

Kenikmatan yang saya maksudkan adalah step selanjutnya, yaitu bisa. Kita akan menyadari bahwa ternyata kita bisa melakukan aktivitas itu walaupun hati terasa berat luar biasa. Kalau sudah begini, rasa terpaksa akan mulai hilang selapis demi selapis. Lama kelamaan, kita pun memasuki tahap keempat yaitu biasa. Kita sudah biasa untuk melakukan aktivitas itu. Entah dengan terpaksa atau tidak, entah dalam situasi sulit atau mudah.

Tahap terakhir adalah budaya. Suatu kebiasaan yang dilakukan terus-menerus akan menjadi sebuah budaya. Tanpa perlu dipaksa, kita akan reflex melakukannya. Bahkan bisa jadi, kita akan merasa kurang bila tidak melakukan aktivitas tersebut.

Hm, lihatlah. Sebuah paksaan ternyata mampu menjadi sebuah budaya. Tidak percaya dengan ulasan di atas? Saya paksa Anda untuk membuktikannya.