Follow Us @soratemplates

Wednesday, 13 July 2011

Karena Dia Wanita Pembaca

10:00 0 Comments
Bagi Anda para pria, apa yang membuat wanita itu terlihat menarik? Ada yang bilang karena keshalihannya, kecantikannya, kecerdasan, kebaikan, dan sejuta alasan lainnya. Dari sekian banyak alasan itu, saya menemukan satu alasan unik yaitu karena dia wanita yang suka membaca.

Saya menemukan alasan itu di sebuah novel yang berjudul Mutiara Bumi Saba’. Seorang laki-laki menyatakan cintanya kepada seorang wanita. Dengan segudang kekurangannya, wanita itu menyerahkan keputusan pada sang laki-laki. Tapi laki-laki itu menjawab, “Tidak apa-apa, karena kamu wanita pembaca.” Wah, menarik. Seorang pembaca saja ternyata cukup untuk menutup semua kekurangan yang ada.

Saya jadi teringat celoteh teman saya. “Dia itu kalau sedang serius membaca keliatan cantik sekali.” Hm, ada-ada saja. Tapi, mungkin benar juga adanya. Beberapa adegan di sinetron atau film juga banyak yang menge-shoot adegan cinta yang bersemi di perpustakaan. Mungkin karena membaca buku memang menambah kecantikan seseorang. Bahkan ada seorang teman lagi yang berkata, “Beruntunglah jika memiliki pasangan hidup yang gemar membaca.”

Apa pasal? Karena seseorang yang gemar membaca menandakan bahwa dia tidak lelah untuk belajar. Dengan membaca, kita akan mendapatkan sebuah ilmu. Atau paling tidak memiliki sebuah cara pandang baru. Seandainya suatu ketika dalam mengarungi bahtera cinta mereka mengalami suatu kendala, wanita pembaca akan berusaha mencari jawabnya melalui buku. Sehingga apa yang dia lakukan bukanlah asal-asalan dan tidak memiliki dasar ilmu. Tapi benar-benar tindakan yang sekiranya benar dan diharapkan mengatasi masalah yang ada. Bukankah itu luar biasa?

Membaca buku yang dimaksud di sini tak semata-mata buku yang memang ditulis dengan tujuan menyebar ilmu. Ketika ingin mengetahui tentang cara mengasuh anak, tak hanya bisa didapatkan dengan membeli buku non fiksi berjudul ‘cara mengasuh anak’. Bisa jadi, sebuah novel pun bisa memberikan contoh nyata cara mengasuh anak lewat sebuah cerita. Atau buku tentang tentara atau militer yang memimpin anak buahnya, juga bisa diadopsi untuk mencari cara terbaik bagaimana memimpin anak-anak dalam sebuah keluarga. Nah, bukankah banyak peluang ilmu yang bisa didapat melalui membaca?

Mungkin benar juga adanya kalau membaca buku membuat seseorang menjadi lebih cantik. Memang bukan cantik rupa secara langsung, tapi kecantikan seseorang secara menyeluruh. Kecantikan otak sehingga dia terlihat cerdas, tingkah lakunya tidak asal-asalan, omongannya penting dan berisi, dan sifat-sifat lain yang itu tercipta karena dia memiliki ilmu dari membaca buku. Bahkan bisa jadi, rupa pun akan menjadi cantik secara tidak langsung, karena kecerdasan berpikirnya, keluhuran tingkah lakunya, sehingga aura cantik pun memancar dari wajahnya. Dan itu semua semata-mata karena dia memiliki ilmu dari buku.

Hm, siapa yang tidak ingin cantik karena membaca buku? Sudah cantik, dapat ilmu lagi. So, buat para wanita (pria juga ding), mari kita membaca buku. Karena buku juga bisa menjadi kosmetik nomor satu.



Good Refleks

09:59 4 Comments
Adakah yang mengamati sebuah iklan syrup akhir-akhir ini? Sebuah iklan yang dibuat dengan model cerita bersambung. Saya tidak akan membahas mengenai iklannya atau produk yang diiklankan, tapi saya tertarik dengan salah satu adegan di iklan-iklan tersebut. Pada edisi pertama, seorang cucu yang menolak diajak kakeknya berlatih pencak silat tergoda untuk minum syrup. Ketika si cucu hendak meraih satu-satunya gelas yang tersisa di meja, sang kakek menggebrak meja dan menangkap gelas tersebut sehingga si cucu hanya bisa melongo. Pada serial selanjutnya, si cucu menunjukkan kemahirannya bermain botol bekas syrup. Lalu ketika ibunya akan membawa gelas dan syrup, nampan yang beliau bawa tersenggol oleh salah seorang murid pencak silat. Terlempar lah gelas dan botol syrup ke udara. Tapi sang kakek berhasil menangkap gelasnya dan si cucu berhasil menyelamatkan botol syrupnya. Apa yang menarik? Reflexnya. Ya, good reflex.

Menurut saya, reflex adalah suatu hal yang penting, bahkan reflex bisa menjadi salah satu kunci kesuksesan. Dalam hal apapun, dengan profesi apapun. Saya ingat betul teguran dari seorang dosen saya. Waktu itu kelompok saya akan bimbingan skills lab. Karena kami kelompok sepuluh, ruang kelompok kami berada di paling pojok. Mungkin karena terletak paling pojok, ruang kelompok kami ini kurang terawat dibandingkan ruangan yang lain. Karpet yang menutupi lantai agak berdebu di sudut-sudutnya. Beberapa taplak meja atau selimut yang menutupi manekin diletakkan asal-asalan saja. Tapi saat itu, kami semua tidak menyadarinya karena kami disibukkan dengan laporan praktikum yang harus dikumpulkan hari itu juga. Ketika kami asyik saling contek laporan sana sini, dosen pembimbing kami datang. Melihat kami yang tak karuan, dosen kami berkata, “Apa kalian tidak risih dengan ruangan ini? Bagaimana kalian mau jadi dokter yang baik kalau ruangan kotor begini kalian tidak peka dan biasa-biasa saja? Kenapa refleknya ga jalan untuk inisiatif membersihkan?” Saya cukup tertohok saat itu. Sebagai hukuman, kami disuruh membersihkan ruangan itu setelah bimbingan.

Kata-kata dosen saya itu ada benarnya. Bagaimana mau jadi dokter yang baik kalau tidak peka? Saya teringat sebuah film serial berjudul dr.House. Dalam salah satu seri, ada seorang pasien yang datang ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan sesuai prosedur, dr.House tidak menemukan adanya kelainan pada pasien tersebut. Beliau meminta agar pasien itu pulang saja. Ketika dr.House mulai meninggalkan pasien tersebut, orang tua dari pasien itu bersikeras kalau anaknya sakit dan sangat terganggu. Perawat pun mencoba bernegosiasi dengan dr.House. Dengan ekspresi malas, dr.House menanggapi keluhan perawat itu. Tiba-tiba secara tak sengaja, dr.House melihat lutut pasien itu reflex bergerak dengan sendirinya. Dr.House yang mulanya tak peduli, lantas mengamatinya. Dan hiperefleks lutut itu terjadi lagi. Ternyata benar, pasien itu memang ‘sakit’. Dan siapa sangka kalau itu justru berkaitan dengan sarafnya. Hm, coba bayangkan. Kalau saja dr.House tidak memiliki instinct dan reflex yang bagus, mana mungkin beliau bisa mendiagnosis kasus pasien tersebut. So, bukankah reflex itu sangat penting.

Ini tidak hanya berlaku untuk dunia medis saja. Untuk seorang penulis, reflex pun cukup berperan. Ketika melihat atau mendengar sesuatu, secara reflex seorang penulis yang peka bisa menjadikannya sebagai sebuah ide untuk membuat tulisan. Profesi lain pun akan lebih bermakna jika reflex ikut dimainkan. Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari, reflex yang baik juga memiliki dampak yang baik. Misalnya, bisa segera membantu orang lain, bisa cepat tanggap mengatasi risiko, dan masih banyak lagi.

Kenyataannya, tidak semua orang bisa begitu. Banyak orang yang menurut saya kurang terasah refleksnya. Contoh nyata ketika kawan dekat saya jatuh. Saat itu dia sedang memarkir motor. Karena tanahnya agak landai, motornya jatuh dan secara domino menyebabkan motor di sampingnya jatuh. Waktu itu, saya berjarak 2 meter dari teman saya. Saya berlari ke sana. Seorang kakak tingkat yang berada di depan ruang kelas yang berjarak 5 meter dari tempat parkir itu ikut berlari menghampiri teman saya. Anehnya, beberapa teman satu angkatan yang hanya berjarak 2 meter juga tapi dari arah mata angin yang berbeda justru adem-adem saja. Hm…, apakah karena merasa sudah ada yang membantu atau karena memang tidak terusik refleksnya? Saya tidak tahu.

Yah, apapun itu, tak ada salahnya jika kita mengasah reflex kita. Seperti yang saya katakan di awal tadi, reflex bisa jadi merupakan kunci untuk menuju kesuksesan. Jika reflex terasah, setiap peluang akan ditanggapi dengan cepat. Setiap ada kesempatan, orang yang reflexnya terasah akan lebih cepat bertindak. Bisa jadi rejeki dari kesempatan itu jatuh ke orang yang memiliki reflex bagus tadi. Sedangkan orang yang lamban, hanya bisa gigit jari. Ya, karena manusia memang diperintahkan untuk bersegera. Tapi, bagaimana bisa segera jika reflex tumpul dan lamban-lamban saja. Jangan sampai rejeki kita kalah dipatuk ayam, hanya karena reflex kita yang lamban. So, mari kita asah reflex kita.




Monday, 11 July 2011

Ih…, Cengeng

15:39 2 Comments
Barangkali, ada yang berkomentar begitu ketika melihat orang menangis. Kalau seorang bayi atau anak kecil, mungkin akan wajar sekali. Jika seorang wanita yang menangis,barangkali muncul rasa iba di hati. Tapi, jika pria yang menangis, apakah tetap dianggap tak ada masalah sama sekali? Rasanya terdapat sebuah dogma kalau laki-laki pantang menangis. Laki-laki haruslah kuat dan tak pantas untuk menangis. Ah, peraturan macam apa itu? Apakah lelaki menangis adalah hal yang memalukan?

Saya pernah melihat bapak saya menangis. Waktu itu, saya masih kelas 2 SMP. Bapak akan berangkat naik haji hari itu. Saya dipanggil ke kamar, diberi pesan ini itu, termasuk jika terjadi sesuatu. Saya menangis. Saya ingat benar, bapak saya berkata, “Bapak percaya, kakak itu anak yang kuat.” Saya melihat, bapak saya menangis. Atau lebaran tahun lalu misalnya. Adik laki-laki saya yang cueknya luar biasa ternyata bisa juga berkaca-kaca ketika sungkem pada bapak ibu. Mereka menangis dan bagi saya itu bukan hal yang memalukan.

Sayang sekali, kenapa perkara menangis dikaitkan dengan perbedaan gender. Hal yang sebenarnya umum tapi terlanjur terkotak-kotakkan dengan perbedaan jenis kelamin. Bermain boneka itu khas wanita, sepak bola itu laki-laki, dan masih banyak lagi. Padahal semua itu adalah hal yang asasi, tak ada larangan sama sekali. Apa salahnya pria menangis? Toh, saat mereka lahir pertama kali, mereka semua juga menangis.

Menurut saya, justru lebih menyedihkan pria yang tidak pernah menangis dibandingkan pria yang pernah menangis. Coba tanyakan pada hatinya. Apakah hatinya sekeras batu hingga tidak pernah merasa empati sedikit pun? Pria yang menangis justru membuktikan bahwa dia masih memiliki hati, masih memiliki perasaan, masih mau berempati.

Ah, untuk apa laki-laki menonjolkan perasaannya? Seperti perempuan saja. Barangkali ada yang berceloteh begitu. Hm, lagi-lagi terkotakkan oleh gender. Lihat saja, bukankah hati yang baik adalah hati yang lembut dan bukan hati yang keras dan bebal yang tidak bisa merasa lagi? Bukankah tujuan membaca Al-Qur’an, beribadah, menuntut ilmu adalah untuk melembutkan hati? Jadi, mengapa takut dicap berhati lembut seperti wanita jika hati yang lembut adalah hati yang sempurna.

Mungkin masih saja ada yang menyangkal. Kalau sekali dua kali, boleh lah. Tapi kalau sudah setiap hari, sungguh itu cengeng sekali. Benarkah? Lihatlah Rasulullah SAW. Beliau sholat dengan menangis. Ruku sambil menangis. Sujud menangis, dan bangkit lagi tetap dengan menangis. Lihat juga Abu Bakar Ash-Shidiq yang menangis setiap malam karena merasa belum berbuat apa-apa demi Islam. Sungguh kah kedua orang mulia tersebut memalukan, dicap orang cengeng, atau disamakan dengan wanita? Tidak.

Ah, beliau menangis karena bermuhasabah. Wajar kalau menangis saat introspeksi diri. Toh, tidak ada orang yang melihat. Tak ada orang-orang yang akan menjuluki cengeng. Coba bandingkan dengan orang yang melihat sesuatu mengharukan sedikit, lalu menangis. Orang yang mendengar hal indah atau memilukan, langsung menangis. Bahkan menangis di depan orang lain. Apakah pria seperti itu tidak kelewat cengeng? Begitu kah? Coba lihat Umar bin Khattab. Beliau tak malu menangis di depan orang lain. Ketika beliau mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an, beliau menangis di depan adiknya. Suatu ketika beliau mengunjungi Rasulullah SAW dan melihat Rasul tidur di tikar usang hingga membekas di tubuhnya, Umar bin Khattab menangis. Beliau mudah terharu. Apa lantas disamakan dengan cengeng? Tidak. Umar justru tetap dikenal sebagai panglima yang keras dan tak kenal ampun pada musuh.

Maka, lihatlah. Pria-pria pilihan Allah SWT sama sekali tak takut untuk menangis. Justru barangkali beliau akan takut jika sudah tidak bisa menangis. Saat hati sudah keras dan tak ada kepekaan lagi. Bukankah ini justru bahaya. Patut lah khawatir apakah hidayah masih bisa mampir. So, menangislah wahai pria, karna tangismu melembutkan jiwa.



Sunday, 10 July 2011

Dear Diary, Aku Diare

10:22 0 Comments

Sepertinya, tahun ini adalah ulang tahun paling memprihatinkan bagi saya. Bukan karena tidak ada perayaan sama sekali, tapi karena saya diberi hadiah yang sangat membuat miris hati. Sejak pukul 3 pagi saya sudah terbangun. Ada yang aneh rasanya. Perut saya terdengar bunyi timpani, seperti suara tung tung tung kalau diketuk dengan jari. Bising usus juga terdengar keras, bahkan tanpa alat bantu stetoskop. Perut rasanya diremas-remas. Mulas sekali.

Selepas Subuh, saya buang air. Eh, ternyata hanya cairan yang keluar. Waktu mandi pagi, terjadi lagi. Sebelum berangkat kuliah, lagi-lagi harus menyambangi kamar mandi sekali lagi. Karena hari itu ada praktikum, saya nekat menahan hasrat dan memutuskan berangkat kuliah. Selama praktikum, saya sudah bertingkah tidak karuan. Mondar-mandir ke sana ke mari hanya demi mengalihkan hasrat yang tak tertahan lagi. Akhirnya, saya memutuskan bolos kuliah setelahnya. Hanya demi melepas rindu, bertemu dengan kamar mandi. Hm, ternyata masih cair juga. Sepertinya, saya resmi diare.

Dalam sehari itu saya 14 kali berkencan dengan kamar mandi. Entah berapa botol minuman isotonic saya minum untuk mengganti cairan tubuh yang keluar. Saya sengaja tidak minum obat sama sekali karena teringat pesan dosen “Diare itu proses pertahanan tubuh untuk mengeluarkan racun. Jadi biarkan saja dan cukup diberi pengganti cairan tubuh.” Tapi sudah sehari semalam hal itu terulang terus, dan saya tak tahan lagi. Tiba-tiba saya teringat kata dosen Ilmu Kesehatan Anak “Kalau diare, anak harus segera diberi oralit dan diobati karena banyak kasus kematian anak terjadi akibat diare”. Saya pun memutuskan untuk minum obat. Toh, saya kan juga anak. Bagaimana kalau saya mati hanya karena diare? Alhamdulillah setelah saya minum obat, saya tak perlu lagi bercengkrama dengan kamar mandi.

Seumur-umur, baru kali ini saya diare. Yang lebih bikin geleng-geleng kepala, kenapa diarenya harus saat ulang tahun saya. Waktu itu ada teman yang nyeletuk, “Mungkin di hari ulang tahunmu ini ada yang mendoakanmu begini: Mudah-mudahan selalu diberi kelancaran oleh Allah.” Duh, kalau kelancaran yang ini sih, saya pilih tidak terlalu lancar saja.

Tapi, celetukan teman saya itu membuat saya berpikir. Dalam hal buang air besar, kelancaran yang tiada tara ternyata tidak mengenakkan juga. Bagaimana mungkin enak kalau tiap jam harus kejar setoran. Sudah seperti penjaga WC umum saja karena stand by di depan kamar mandi seharian. Tapi, begitu mengalami konstipasi, rasanya juga tidak enak sekali. Sekali buang air bisa bermenit-menit. Tarik nafas dalam, mengejan. Persis seperti ibu akan melahirkan. Tentu yang paling menyenangkan adalah buang air yang normal saja. Tidak terlalu padat, tidak terlalu cair.

Nah, saya mengaplikasikannya dalam kehidupan. Mungkin kalau do’a agar diberi kelancaran itu terkabul, hidup akan lurus-lurus saja. Mau ini bisa, mau itu bisa. Semua mudah dan serasa tidak ada perjuangan untuk meraihnya. Enak kah? Rasanya tidak. Di lain sisi, ketika hidup itu keras sekali, mungkin akan terasa sangat berat. Usaha yang dilakukan begitu mati-matian. Tapi, apa yang didapatkan ketika kita berhasil meraih kesuksesan dari kerja keras itu? Rasanya akan lega sekali. Persis kalau konstipasi itu akhirnya berhasil diatasi.

Saya kira, mungkin memang lebih baik begitu adanya. Kalau hidup terlalu lancar, kita hanya akan menjadi orang manja yang tak pernah merasakan nikmatnya berjuang. Tapi jika hidup kita normal atau cenderung berat, bersyukurlah. Karena hidup normal tetap butuh usaha, apalagi hidup berat yang butuh kerja sangat keras. Dengan usaha itu, kesuksesan akan terasa lebih nikmat. Maka syukurilah hidupmu, walau seberat apapun itu.

Terima kasih Ya Allah telah mengingatkan saya dengan memberi hadiah kelancaran di ulang tahun saya tahun ini.



Saturday, 9 July 2011

Just The Way You Are

16:51 5 Comments
Liburan telah tiba, ujian pasti sudah jauh meninggalkan kita. Walau begitu, saya masih saja terkenang dengan masa-masa ujian. Terbayang bagaimana hebohnya atau bagaimana deg-deg-annya. Ada satu hal yang menarik hati saya kala persiapan ujian kemarin. Setiap orang punya cara tersendiri untuk mempersiapkan dirinya.

Ada sebuah lelucon kecil antara saya dengan kawan saya yang sama-sama alumni SMA 1 Solo. Kurang lebih kelakar kami begini, “Anak SMA 1 dan SMA 3 itu beda sekali. Kalau anak SMA 1, H-1 ujian mungkin baru buka buku. Tapi kalau anak SMA 3, H-seminggu sudah ribut minta ampun tidak paham ini itu.” Hm…, menarik.

Sebagai warga alumni SMA 1, saya mengiyakan itu. Entah mengapa, apa iklim SMA 1 yang santai atau karena kami semua yang kebetulan berkarakter sama. Tapi memang begitulah adanya. Dalam minggu ujian, kadang saya masih santai menyelesaikan proyek ini itu. Pernah ada satu blok yang dianggap sebagai neraka karena kakak tingkat selalu mencetak rekor remidi terbanyak di blok itu. Saat H-1 ujian blok tersebut, semua teman sudah ribut sekali. Awalnya saya santai-santai saja, tapi begitu melihat teman-teman saya yang panik, saya jadi ikutan panik. Bayangkan saja, tidak ada 24 jam lagi ujian dan saya belum membaca materi-materinya. Sedangkan teman-teman saya sudah saling diskusi ini itu, saling menguatkan agar pasrah jika memang harus remidi. Begitu saya pulang ke rumah, saya tekadkan begini. “Tenang, kamu punya ritmemu sendiri.”

Akhirnya, malam itu saya matikan HP agar tidak terganggu teman-teman yang sudah pada ribut. Saya tak peduli bagaimana besok, yang pasti saya punya cara sendiri untuk kebut semalam melahap materi-materi susah ini. Saat ujian pun, saya pasrah luar biasa. Usaha semaksimal mungkin. Dan Alhamdulillah, saya lolos dari undangan angkatan yaitu remidi blok tersebut.

Terlepas dari benar atau salah cara saya belajar, masing-masing dari kita sudah memiliki cara belajar sendiri-sendiri. Mungkin teman saya yang SMA 3 akan menangis darah kalau H-1 ujian belum pegang materi sama sekali. Tapi, bagi penganut sistem kebut semalam seperti saya dan anak-anak SMA 1 lainnya, kami bisa tenang-tenang saja. Mungkin, teman-teman saya yang anak SMA 3 akan geleng-geleng kepala dan berkata begini, “Kok bisa sih? Memangnya ga deg-degan? Ga takut kalau materinya ga selesai dipelajari?” Saya sendiri justru menolak itu mentah-mentah.

Bukan berarti saya mendukung kemalasan dan menganjurkan untuk belajar H-1 saja, tapi yang terpenting di sini adalah belajar sesuai ritme kita sendiri. Kalau saya mengikuti ritme teman-teman saya yang heboh pada saat itu, mungkin saya akan tergesa-gesa dalam belajar. Saya hanya bertarget untuk segera selesai melahap semua materi itu. Tapi, saya menguatkan diri untuk tenang dan mempertahankan ritme saya sendiri. Saya tetap pelan-pelan membaca, memahami sedikit demi sedikit, dan dengan begitulah ilmu itu benar-benar dipahami di otak.

Kita sudah sama-sama belajar belasan tahun. Sudah pernah mengalami ujian belasan tahun dan sudah mempersiapkan ujian belasan tahun juga. Tentunya kita punya kebiasaan tersendiri. Kalau memang harus diulang-ulang, dipersiapkan jauh-jauh hari, mungkin itulah yang terbaik. Tapi, kalau saya memang sudah terbiasa dengan situasi mendesak seperti itu, mungkin tak masalah kalau memang harus begini.

Sekarang, kalau H-1 ujian saya berkata, “Aku malah belum belajar tentang itu,” teman dekat saya pasti akan menjawab, “As usual. Memang itu gayamu.” So, tenanglah. Just the way you are. Kamu punya ritmemu sendiri.