Follow Us @soratemplates

Monday, 18 July 2011

Pertama Atau Terakhir

09:06 4 Comments

Menurut Anda, manakah yang lebih baik? Yang pertama atau yang terakhir? Mungkin ada yang mempunyai slogan “be the first” sehingga menjadi yang pertama adalah segala-galanya. Atau ada yang memiliki anggapan lebih baik “be the best” sehingga tak masalah menjadi urutan ke berapa. Begitu kah?

Pertanyaan ini pernah saya bahas dengan sahabat sejati saya sepanjang perjalanan karya wisata waktu kelas 2 SMA dulu. Waktu itu saya bertanya, “Mana yang lebih baik, yang pertama atau yang terakhir?” Sahabat saya kurang lebih menjawab begini “Aku memilih yang pertama karena dia pelopor. Setiap pelopor biasanya dikenang”. Barangkali dia berkata begitu karena kami memiliki slogan “Be the first, be the best, be different.” Selagi bisa be the first, mengapa tidak?

Lalu saya mengusik lagi, “Lebih memilih jadi cinta pertama atau cinta terakhir?” Sahabat saya berpikir agak panjang. Hingga akhirnya memutuskan menjawab, “Pilih jadi cinta terakhir. Berarti kan tidak ada orang lain setelah kita.” Saya mengejar lagi, “Tapi dari pilihan pertama tadi, berarti cinta pertama tetap dikenang kan? Karena dia seorang pelopor di hati?” Lantas, percakapan kami buntu. Yah, karena memang tak penting dan hanya sekedar mengisi waktu.

Saya jadi teringat salah satu adegan di film 3 idiots. Saat itu Virus bertanya pada para mahasiswa, “Siapa astronot pertama yang menginjakkan kaki di bulan?” Para mahasiswa serentak menjawab “Neil Amstrong”. Lalu ketika Virus bertanya lagi, “Lalu siapa yang kedua?”, semua mahasiswa hanya bisa bungkam. Saat itu Virus berkata, “Tidak ada orang yang akan mengenang yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Maka berlomba-lombalah untuk menjadi yang pertama.”

Tapi kemudian saya membandingkan dengan kenyataan pada Al-Qur’an dan diri Rasulullah SAW. Al-Qur’an adalah kitab terakhir. Dan yang terakhir inilah yang lebih utama, dibandingkan kitab yang pertama. Kitab terakhir inilah yang dikenang dan dijadikan sebagai pedoman. Demikian juga Rasulullah SAW. Rasulullah SAW telah dinyatakan sebagai Rasul terakhir. Dan memang beliau lah Rasul utama. Satu-satunya Rasul yang bisa membantu kita di akherat kelak.

Berarti, bagus mana antara pertama dan terakhir? Saya tetap saja menggugat keduanya. Dalam keadaan ujian praktek misalnya. Yang mendapat giliran pertama, kadang merasa sial. Tapi setelahnya dia akan menjadi sangat lega. Sebaliknya, yang terakhir mungkin beruntung karena barangkali mendapat bocoran dari giliran pertama. Tapi, dia harus menderita deg-degan yang lebih lama.

Mungkin, sebuah urutan itu tidak menjadi masalah utama. Barangkali yang lebih diutamakan adalah tingkat kesempurnaanya. Memang, tidak ada yang benar-benar sempurna. Tapi, makin mendekati sempurna, sepertinya itulah yang paling baik. Dalam kasus ujian itu misalnya. Seorang yang ujian giliran pertama bisa saja mendapatkan hasil yang baik karena dia sudah mempersiapkan dengan sesempurna mungkin. Sedangkan giliran terakhir dianggap biasa saja karena dikira sekedar mencontek usaha dari yang pertama. Tapi, barangkali justru terjadi sebaliknya. Yang terakhir bisa saja justru menjadi yang terbaik karena dia mengambil intisari dari yang pertama dan selanjutnya. Lalu belajar dari kesalahan mereka sehingga dia bisa memperbaiki di saat gilirannya tiba. Jadi, bukankah ini lebih ke masalah kesempurnaan? Al-Qur’an yang terakhir pun tetap dikenang karena dialah yang sempurna. Atau Niel Amstron tetap dikenang atas usahanya yang sempurna.

So, apakah Anda pertama dan terakhir tetap menjadi masalah jika kita bisa menunjukkan sesuatu yang nyaris sempurna?



Manusia Berkehendak, Allah Menentukan

09:04 0 Comments

Manusia memang bisa berkehendak, tapi Allah lah yang menentukan. Prinsip itu sepertinya harus dipegang teguh oleh semua orang. Mengapa? Karena jika kita memaksakan, bisa jadi kita tak hanya merugikan diri kita, tapi lebih parahnya kita justru menolak takdir yang sudah Allah berikan pada kita. Tapi, benarkah hanya sesederhana itu?

Ambil sebuah contoh, ketika manusia sedang menghadapi saat-saat kritis. Tubuhnya sekarat, peralatan dokter tak bisa lagi membantu. Tinggal malaikat Izrail saja yang berproses. Dalam keadaan ini, manusia berkehendak tapi Allah lah yang menentukan bisa diartikan tepat. Jikalau tim dokter sudah berupaya semaksimal mungkin, memang demikianlah adanya. Tinggal menunggu ketentuan Allah, yang barangkali memang tidak sesuai dengan kehendak keluarga. Kalau dipaksakan, justru kerugian yang didapat. Biaya peralatan dokter yang bertambah sedangkan hasilnya sia-sia, atau justru menambah derita tubuh pasiennya. Jika dipaksakan pula, bisa jadi tergolong pada kasus kedua, menyalahi takdir yang telah Allah tentukan. Maka di sini, pasrah dan mengikuti takdir benar adanya.

Tapi jika dilihat dalam kasus lain, manusia memang bisa berkehendak tapi Allah lah yang menentukan bisa menjadi sebuah salah paham. Ketika akan menghadapi ujian misalnya. Kita sudah mencoba untuk belajar lalu mendapatkan hasil buruk. Wajar jika kita berujar “Yah, kita cuma bisa berkehandak dapat nilai bagus, tapi bagaimana pun Allah yang menentukan kalau kita cukup segini saja nilainya.” Sampai di sini masih bagus karena dia tetap mencoba mensyukuri apa yang telah Allah berikan. Tapi jika berhenti sampai di situ saja, di sini lah muncul kesalahpahaman itu. Mungkin saja orang lantas pesimis, “Ya sudahlah. Toh, Allah memberikan ketentuan seperti ini. Mau bagaimana lagi?”

Tentu bukan sikap itu yang diinginkan muncul dari kalimat manusia memang bisa berkehendak tapi Allah yang menentukan. Kalimat tersebut memang mengajarkan sikap tawakal. Tapi tawakal bukan berarti pasrah, tanpa berusaha untuk mengubah keadaan yang sekiranya bisa diubah. Saya katakan di sini, keadaan yang sekiranya bisa diubah. Tentu di sini bukan berarti menabrak takdir yang bersifat mutlak seperti hidup dan mati, melainkan suatu keadaan lain yang kita tahu bahwa tanpa usaha tak akan pernah kita mencicipi rasanya. Rasa menjadi kaya, tak mungkin tercicipi jika hanya berpangku tangan di rumah saja. Rasa menjadi pandai, tak mungkin tercicipi jika seharian hanya tidur bermalas-malasan. Bukankah wajar jika kita berkehendak untuk kaya atau pandai? Tapi wajar pula jika Allah menentukan bahwa kita tidak kaya atau pandai karena kita tak berbuat apa-apa.

Kalimat ini bukanlah sebuah alasan. Alasan sebagai pembenaran atas segala kemalasan. Karena malas untuk bekerja, lantas cukup bersyukur dengan mengucap kalimat ini. “Kalau Allah memang menentukan aku miskin, ya tidak apa-apa.” Hm, kalau dari kalimat itu, jangan-jangan memang dia berkehendak untuk tidak apa-apa miskin, sehingga dia bebas bermalas-malasan.

Perkaranya di sini adalah kehendak. Jika dia memang betul-betul berkehendak, maka dia akan berusaha penuh untuk mewujudkan kehendaknya. Di sinilah muncul usaha atau ikhtiar. Ketika ikhtiar sudah dijalankan, wajar kiranya dia tawakal. Tapi dengan usaha penuh yang telah dilakukan, ketentuan Allah pun bisa jadi berubah dari semula. Mengapa? Karena Allah melihat proses. Allah pasti melihat segala upaya yang kita lakukan. Bisa jadi dengan usaha kita maka Allah menentukan yang lebih baik dari semula. Tapi jika kita sama sekali tak berusaha, jangan salahkan Allah yang menentukan jika kita hanya bisa berkehendak saja tanpa melakukan apa-apa.

Maka, kuatkanlah kehendakmu, usaha tanpa kenal jemu, dan tawakal atas ketentuan Allah padamu.



Jangan Ajari Balas Dendam

09:00 6 Comments

Pagi terasa tenang. Makin tentram dengan burung berkicau. Tapi tiba-tiba ketentraman itu pecah. Seorang balita menangis dengan amat kencangnya. Ibu rumah tangga yang sibuk di dalam rumah tergopoh-gopoh berlari menghampirinya. Melihat anaknya menangis dengan posisi mencium aspal, ibu itu itu lantas menggendongnya. Kemudian ibu itu berkata, “Cup cup cup…, siapa yang nakal? Ini tho jalannya nakal. O, jalannya nakal!” kata ibu itu sambil memukul jalan aspal.

Mulanya, si anak tetap menangis. Begitu melihat sang ibu memukul jalan, anak itu pun ikut memukul aspal. Ibu itu terus menenangkan, “Udah, jangan nangis lagi. Jalannya udah ga nakal lagi.” Anak itu pun diam.

Mungkin terasa sederhana saja. Seorang ibu berusaha dengan segala cara untuk membuat tangis anaknya reda. Tapi, kalau dicermati lagi, tindakan ibu tadi memberikan banyak contoh buruk bagi anaknya.

Pertama, anak diajari untuk menimpakan kesalahan pada orang lain. Ibu itu tidak tahu, mengapa anaknya jatuh di jalan aspal. Bisa jadi anaknya tidak hati-hati hingga terpleset dan jatuh. Tapi ibu itu justru menyalahkan jalan aspal, yang mana kita tahu kalau jalan aspal hanya diam dan sama sekali tidak melakukan apa-apa. Dalam hal ini, ibu itu mengajari anaknya untuk mencari kesalahan orang lain, bahkan tidak peduli jika harus menimpakan kesalahan pada orang lain yang sebenarnya sama sekali tidak salah. Padahal, bisa saja reaksi pertama yang muncul ketika melihat anaknya menangis bukan dengan mencari kambing hitam. Bukankah akan lebih bijak, jika ibu itu menasihati untuk lebih hati-hati agar kelak tidak jatuh lagi. Tanpa perlu menyalahkan orang lain atau anaknya sendiri.

Lalu ketika ibu itu akhirnya memukul jalan karena beranggapan jalan lah yang salah. Anak itu melihat kalau ibunya membela dirinya dengan membalas jalan yang nakal. Jalan yang sudah membuatnya sakit dan menangis. Tindakan ini bisa menjadi pembelajaran bagi anak untuk membalas dendam. Ketika tersakiti, balas saja orang yang menyakiti kita. Barangkali itu pelajaran yang ditangkap oleh sang anak.

Lalu ketika akhirnya anak itu berhenti menangis karena sudah ikut-ikutan memukul jalan. Rasa sakitnya sudah tersalurkan dan dia merasa puas. Ini pun bisa menjadi contoh yang buruk. Membuat anak merasa senang ketika kehendak hatinya tersalurkan. Walaupun itu adalah perbuatan yang membuat hati orang lain sakit. Bisa saja anak itu menangkap, tidak apa-apa aku menyakiti orang lain asal aku puas, asal aku senang.

Lebih buruk lagi jika sang ibu merasa masalah selesai ketika anaknya sudah tidak menangis lagi. Lalu ibu itu berlalu dan tidak menggubris lagi. Jikalau begitu, anak justru lebih kasihan lagi. Dia tidak diajari untuk memperbaiki diri. Dia tidak tahu, mengapa dia sampai jatuh dan bagiamana agar kelak dia tidak jatuh lagi. Andai ibu itu bersedia sedikit saja melatih anaknya untuk introspeksi diri, mengingatkan agar lebih berhati-hati, barangkali anak akan bisa belajar untuk memperbaiki dirinya di lain hari.

Jika semua ibu mendiamkan anaknya dengan cara ibu di atas, betapa banyak orang yang akan mudah mendendam. Betapa kelak akan banyak orang yang hanya bisa menyalahkan orang lain, menyakiti orang lain, tidak mau introspeksi dan memperbaiki diri. Seandainya saja sejak awal ibu itu tidak menyalahkan jalan aspal dan membimbing anaknya untuk memperbaiki dirinya, betapa akan banyak generasi tangguh tercipta di hari kelak. Andai saja…




Andai Sehari Tidak 24 Jam

08:59 0 Comments

Harapan bodoh itu terbersit oleh saya malam ini. Ya, andai saja sehari bukan 24 jam. Atau jika ingin dilanjutkan, andai seminggu bukan 7 hari, sebulan bukan 28-31 hari, atau setahun bukan 365 hari. Ya, waktu rasanya cepat sekali berlalu. Rasanya saya baru saja bangun tidur, tapi sekarang jarum jam sudah mendekati angka 12 malam. Rasanya baru kemarin saya diterima menjadi mahasiswa baru. Sekarang sudah ada 2 tingkat mahasiswa yang dikatakan lebih baru. Hm, waktu memang cepat berlalu.

Harapan di atas jelas harapan kosong. Harapan yang sebenarnya tidak ada artinya apa-apa. Bukankah jumlah waktu tetap sama saja? Jam, hari, minggu, bulan, atau tahun hanyalah symbol belaka. Hanya sebuah kesepakatan untuk memudahkan menentukan batas waktu. Seandainya pun diubah, satu hari 30 jam, tetap saja jumlah waktu yang disediakan Allah akan sama.

Permasalahannya, kadang waktu 24 jam itu terasa singkat sekali. Manusia sering kali merasa kalau waktu yang diberikan tidaklah cukup. Barangkali dalam 24 jam, dia belum mampu menyelesaikan segala aktivitasnya yang segudang. Atau justru sebaliknya, karena libur panjang dan menjadi pengangguran, mungkin berharap agar sehari bisa kurang dari 24 jam demi mengusir rasa bosan. Mungkin kah? Tentu saja tidak.

Lalu, bagaimana agar aktivitas segudang kita cukup dalam 24 jam? Tidak ribut karena kekurangan, atau bosan karena kelamaan. Jawabannya mungkin simpel dan semua orang pasti tahu. Ya, cukup memenej waktu dengan baik. Sehari 24 jam jelas waktu yang sangat panjang. Aktivitas segudang bukanlah sebuah alasan. Bisa melakukan semua aktivitas itu, sepertinya itulah yang diharapkan.

Tapi terkadang, waktu yang sudah dimenej dengan baik pun bisa keteteran. Rasanya sudah terjadwal dengan baik rencana kegiatan dalam 24 jam. Tapi, berhubung manusia adalah makhluk biasa, kita sama sekali tidak tahu kalau di tengah 24 jam nanti akan ada sebuah kejutan dari sang Illahi. Bisa jadi, tiba-tiba harus bertambah suatu aktivitas. Jatah waktu dengan aktivitas menjadi tidak bersahabat. Lalu apa yang dilakukan?

Prioritas. Ya, jelas. Jawabnya memang sesimpel itu. Memprioritaskan suatu aktivitas tertentu hingga kepentingannya terpenuhi dalam jatah waktu tertentu. Menggunakan 24 jam pertama untuk aktivitas A, dan membuat aktivitas B mengalah untuk dilakukan di 24 jam kedua. Bisakah? Bisa. Tapi, terkadang semua aktivitas tidak terselesaikan dengan sesimpel itu. Bisa jadi aktivitas A dan B atau semua aktivitas yang ada dalam list kita harus dikerjakan dalam 24 jam yang sama. Lantas bagaimana?

Komitmen. Itu kuncinya. Mau sesibuk apapun, mau sehari berapa jam sekalipun, jika diri kita memiliki komitmen untuk melakukannya, tidak akan ada alasan lagi. Dengan komitmen, semua bisa diupayakan. Waktu 24 jam bukan menjadi halangan. Aktivitas segudang, pasti dengan sendirinya akan diatur bagaimana agar terlaksanakan, tanpa harus membuat aktivitas lain terkorbankan.

Masalahnya, tidak semua orang berani berkomitmen. Rasanya mendengar kata komitmen seperti mendengar bahwa diri ini akan diikat oleh suatu beban berat. Ujung-ujungnya karena tidak berani mengambil komitmen, aktivitas yang seharusnya selesai dalam 24 jam yang sama akan terbengkalai, mundur ke 24 kedua. Prioritas kembali menjadi korban. Akibatnya aktivitas yang ada di 24 jam kedua, makin terkorbankan karena di 24 jam pertama saja belum terselesaikan. Kalau sudah begitu, apakah layak dibilang sudah berhasil memenejemen waktu?

Yah, perkara waktu memang perkara yang sulit. Bahkan waktu yang kita punya hanyalah diukur sedetik sekarang ini saja. Sedetik yang lalu, sudah bukan menjadi milik kita. Sedetik yang akan datang, belum menjadi milik kita. Lantas, dengan detik sekarang, adakah aktivitas kita bisa terselesaikan?

Maka, komitmenlah kawan…


Thursday, 14 July 2011

Kapan Indonesia Maju Kalau Ditinggal Pergi Melulu?

19:11 3 Comments
Sebagian besar rakyat Indonesia sering skeptis bertanya, “Kapan Indonesia akan maju?”. Dalam hal A Indonesia tertinggal, di urusan B Indonesia mengekor. Rasanya puisi Taufiq Ismail benar adanya, malu (aku) jadi orang Indonesia. Ah, jangan begitu. Maklum lah, Indonesia memang negara berkembang. Beri Indonesia kesempatan untuk terus berkembang. Tapi, sampai kapankah julukan berkembang itu? Dan mengapa tak segera ganti menjadi maju? Hm, sebenarnya kapan pun bisa. Masalahnya, siapa yang akan membuat Indonesia maju?

Saya sering merasa aneh dengan orang Indonesia. Beberapa teman saya sering mengucapakan impian mereka. “Nanti aku ingin melanjutkan sekolah di luar negeri. Aku ingin kerja di sini (suatu tempat di luar negeri)” Hm…, mimpi yang indah kawan. Saya sangat mendukungnya. Cuma, kenapa harus bekerja di sana?

Sungguh sayang. Saya rasa, Indonesia terlalu berbaik hati, terlalu mengorbankan diri. Indonesia terlalu banyak mengirim TKI, baik secara konotasi atau denotasi. Ya, TKI. Tenaga Kerja Indonesia. Orang Indonesia yang dimanfaatkan kerjanya oleh negara lain. Bukankah banyak mahasiswa Indonesia yang akhirnya menjadi TKI? Ilmu-ilmu yang sudah susah payah ditempuh di negeri orang, tetap saja diaplikasikan untuk kemajuan negeri orang. Sedang kapan Indonesia bisa menikmati ilmu mereka?

Saya cenderung sependapat dengan impian sahabat saya, “Kita sekolah yang tinggi sampai luar negeri. Tapi, kita akan pulang dan mengabdikan diri untuk negeri.” Bukankah ini bagus? Ilmu yang sudah susah payah kita cari, dapat kita aplikasikan untuk negeri sendiri. Harapan untuk menjadi berguna bagi nusa dan bangsa juga lebih nyata. Bahkan bisa jadi di tangan kita lah Indonesia akan jaya.

Saya yakin orang-orang Indonesia itu orang yang hebat. Bagaimana tidak? Keahlian mereka diterima oleh negara asing. Terkadang yang membuat miris, orang itu bangga bisa bekerja di luar negeri. Menduduki posisi hingga tinggi di negeri orang. Masyarakat Indonesia yang lain juga aneh. Justru mengelu-elukan mereka dengan berkata “Ini lho si A, orang Indonesia yang punya posisi penting di Negara X” Wow, aneh. Keahlian kita dibeli asing, kenapa suka?

Sedangkan coba lihat Indonesia. Keahlian terasa carut marut tidak karuan. Seorang ahli mesin bisa saja menjadi pegawai bank. Seorang sarjana pertanian, bisa saja menjadi guru sekolah dasar. Nah, kalau begini, kapan Indonesia akan maju? Orang yang ahli lebih memilih meninggalkan Indonesia. Orang yang sekiranya ahli, tidak bekerja dalam bidang keahliannya.

Mungkin memang tidak semata-mata begitu. Beberapa mengaku, karena di negeri orang mereka diperhatikan. Sedangkan di negeri sendiri, mereka diacuhkan. Hm, bisa jadi begitu. Tapi bisa juga karena mengejar nafsu semata, ingin mengeruk dollar sebanyak-banyaknya.

Semoga saja tidak begitu. Semoga saja mereka di sana hanya berlatih bekerja, sekedar mengeruk cara kerja negara orang. Semoga mereka tidak pergi melulu, bersedia untuk pulang dan membuat Indonesia benar-benar maju. Semoga…, semoga….



Wednesday, 13 July 2011

Karena Dia Wanita Pembaca

10:00 0 Comments
Bagi Anda para pria, apa yang membuat wanita itu terlihat menarik? Ada yang bilang karena keshalihannya, kecantikannya, kecerdasan, kebaikan, dan sejuta alasan lainnya. Dari sekian banyak alasan itu, saya menemukan satu alasan unik yaitu karena dia wanita yang suka membaca.

Saya menemukan alasan itu di sebuah novel yang berjudul Mutiara Bumi Saba’. Seorang laki-laki menyatakan cintanya kepada seorang wanita. Dengan segudang kekurangannya, wanita itu menyerahkan keputusan pada sang laki-laki. Tapi laki-laki itu menjawab, “Tidak apa-apa, karena kamu wanita pembaca.” Wah, menarik. Seorang pembaca saja ternyata cukup untuk menutup semua kekurangan yang ada.

Saya jadi teringat celoteh teman saya. “Dia itu kalau sedang serius membaca keliatan cantik sekali.” Hm, ada-ada saja. Tapi, mungkin benar juga adanya. Beberapa adegan di sinetron atau film juga banyak yang menge-shoot adegan cinta yang bersemi di perpustakaan. Mungkin karena membaca buku memang menambah kecantikan seseorang. Bahkan ada seorang teman lagi yang berkata, “Beruntunglah jika memiliki pasangan hidup yang gemar membaca.”

Apa pasal? Karena seseorang yang gemar membaca menandakan bahwa dia tidak lelah untuk belajar. Dengan membaca, kita akan mendapatkan sebuah ilmu. Atau paling tidak memiliki sebuah cara pandang baru. Seandainya suatu ketika dalam mengarungi bahtera cinta mereka mengalami suatu kendala, wanita pembaca akan berusaha mencari jawabnya melalui buku. Sehingga apa yang dia lakukan bukanlah asal-asalan dan tidak memiliki dasar ilmu. Tapi benar-benar tindakan yang sekiranya benar dan diharapkan mengatasi masalah yang ada. Bukankah itu luar biasa?

Membaca buku yang dimaksud di sini tak semata-mata buku yang memang ditulis dengan tujuan menyebar ilmu. Ketika ingin mengetahui tentang cara mengasuh anak, tak hanya bisa didapatkan dengan membeli buku non fiksi berjudul ‘cara mengasuh anak’. Bisa jadi, sebuah novel pun bisa memberikan contoh nyata cara mengasuh anak lewat sebuah cerita. Atau buku tentang tentara atau militer yang memimpin anak buahnya, juga bisa diadopsi untuk mencari cara terbaik bagaimana memimpin anak-anak dalam sebuah keluarga. Nah, bukankah banyak peluang ilmu yang bisa didapat melalui membaca?

Mungkin benar juga adanya kalau membaca buku membuat seseorang menjadi lebih cantik. Memang bukan cantik rupa secara langsung, tapi kecantikan seseorang secara menyeluruh. Kecantikan otak sehingga dia terlihat cerdas, tingkah lakunya tidak asal-asalan, omongannya penting dan berisi, dan sifat-sifat lain yang itu tercipta karena dia memiliki ilmu dari membaca buku. Bahkan bisa jadi, rupa pun akan menjadi cantik secara tidak langsung, karena kecerdasan berpikirnya, keluhuran tingkah lakunya, sehingga aura cantik pun memancar dari wajahnya. Dan itu semua semata-mata karena dia memiliki ilmu dari buku.

Hm, siapa yang tidak ingin cantik karena membaca buku? Sudah cantik, dapat ilmu lagi. So, buat para wanita (pria juga ding), mari kita membaca buku. Karena buku juga bisa menjadi kosmetik nomor satu.



Good Refleks

09:59 4 Comments
Adakah yang mengamati sebuah iklan syrup akhir-akhir ini? Sebuah iklan yang dibuat dengan model cerita bersambung. Saya tidak akan membahas mengenai iklannya atau produk yang diiklankan, tapi saya tertarik dengan salah satu adegan di iklan-iklan tersebut. Pada edisi pertama, seorang cucu yang menolak diajak kakeknya berlatih pencak silat tergoda untuk minum syrup. Ketika si cucu hendak meraih satu-satunya gelas yang tersisa di meja, sang kakek menggebrak meja dan menangkap gelas tersebut sehingga si cucu hanya bisa melongo. Pada serial selanjutnya, si cucu menunjukkan kemahirannya bermain botol bekas syrup. Lalu ketika ibunya akan membawa gelas dan syrup, nampan yang beliau bawa tersenggol oleh salah seorang murid pencak silat. Terlempar lah gelas dan botol syrup ke udara. Tapi sang kakek berhasil menangkap gelasnya dan si cucu berhasil menyelamatkan botol syrupnya. Apa yang menarik? Reflexnya. Ya, good reflex.

Menurut saya, reflex adalah suatu hal yang penting, bahkan reflex bisa menjadi salah satu kunci kesuksesan. Dalam hal apapun, dengan profesi apapun. Saya ingat betul teguran dari seorang dosen saya. Waktu itu kelompok saya akan bimbingan skills lab. Karena kami kelompok sepuluh, ruang kelompok kami berada di paling pojok. Mungkin karena terletak paling pojok, ruang kelompok kami ini kurang terawat dibandingkan ruangan yang lain. Karpet yang menutupi lantai agak berdebu di sudut-sudutnya. Beberapa taplak meja atau selimut yang menutupi manekin diletakkan asal-asalan saja. Tapi saat itu, kami semua tidak menyadarinya karena kami disibukkan dengan laporan praktikum yang harus dikumpulkan hari itu juga. Ketika kami asyik saling contek laporan sana sini, dosen pembimbing kami datang. Melihat kami yang tak karuan, dosen kami berkata, “Apa kalian tidak risih dengan ruangan ini? Bagaimana kalian mau jadi dokter yang baik kalau ruangan kotor begini kalian tidak peka dan biasa-biasa saja? Kenapa refleknya ga jalan untuk inisiatif membersihkan?” Saya cukup tertohok saat itu. Sebagai hukuman, kami disuruh membersihkan ruangan itu setelah bimbingan.

Kata-kata dosen saya itu ada benarnya. Bagaimana mau jadi dokter yang baik kalau tidak peka? Saya teringat sebuah film serial berjudul dr.House. Dalam salah satu seri, ada seorang pasien yang datang ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan sesuai prosedur, dr.House tidak menemukan adanya kelainan pada pasien tersebut. Beliau meminta agar pasien itu pulang saja. Ketika dr.House mulai meninggalkan pasien tersebut, orang tua dari pasien itu bersikeras kalau anaknya sakit dan sangat terganggu. Perawat pun mencoba bernegosiasi dengan dr.House. Dengan ekspresi malas, dr.House menanggapi keluhan perawat itu. Tiba-tiba secara tak sengaja, dr.House melihat lutut pasien itu reflex bergerak dengan sendirinya. Dr.House yang mulanya tak peduli, lantas mengamatinya. Dan hiperefleks lutut itu terjadi lagi. Ternyata benar, pasien itu memang ‘sakit’. Dan siapa sangka kalau itu justru berkaitan dengan sarafnya. Hm, coba bayangkan. Kalau saja dr.House tidak memiliki instinct dan reflex yang bagus, mana mungkin beliau bisa mendiagnosis kasus pasien tersebut. So, bukankah reflex itu sangat penting.

Ini tidak hanya berlaku untuk dunia medis saja. Untuk seorang penulis, reflex pun cukup berperan. Ketika melihat atau mendengar sesuatu, secara reflex seorang penulis yang peka bisa menjadikannya sebagai sebuah ide untuk membuat tulisan. Profesi lain pun akan lebih bermakna jika reflex ikut dimainkan. Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari, reflex yang baik juga memiliki dampak yang baik. Misalnya, bisa segera membantu orang lain, bisa cepat tanggap mengatasi risiko, dan masih banyak lagi.

Kenyataannya, tidak semua orang bisa begitu. Banyak orang yang menurut saya kurang terasah refleksnya. Contoh nyata ketika kawan dekat saya jatuh. Saat itu dia sedang memarkir motor. Karena tanahnya agak landai, motornya jatuh dan secara domino menyebabkan motor di sampingnya jatuh. Waktu itu, saya berjarak 2 meter dari teman saya. Saya berlari ke sana. Seorang kakak tingkat yang berada di depan ruang kelas yang berjarak 5 meter dari tempat parkir itu ikut berlari menghampiri teman saya. Anehnya, beberapa teman satu angkatan yang hanya berjarak 2 meter juga tapi dari arah mata angin yang berbeda justru adem-adem saja. Hm…, apakah karena merasa sudah ada yang membantu atau karena memang tidak terusik refleksnya? Saya tidak tahu.

Yah, apapun itu, tak ada salahnya jika kita mengasah reflex kita. Seperti yang saya katakan di awal tadi, reflex bisa jadi merupakan kunci untuk menuju kesuksesan. Jika reflex terasah, setiap peluang akan ditanggapi dengan cepat. Setiap ada kesempatan, orang yang reflexnya terasah akan lebih cepat bertindak. Bisa jadi rejeki dari kesempatan itu jatuh ke orang yang memiliki reflex bagus tadi. Sedangkan orang yang lamban, hanya bisa gigit jari. Ya, karena manusia memang diperintahkan untuk bersegera. Tapi, bagaimana bisa segera jika reflex tumpul dan lamban-lamban saja. Jangan sampai rejeki kita kalah dipatuk ayam, hanya karena reflex kita yang lamban. So, mari kita asah reflex kita.