Follow Us @soratemplates

Thursday, 11 August 2011

Hirupan Udara Ini

07:59 0 Comments
Kuhirup udara pagi

Bersama indah mentari

Kulalui hari ini

Dengan hati berseri

(Damai by Wayang)

Ada yang tahu lagi di atas? Yup, itu memang lagu lama. Bisa dibilang saya suka dengan lagu ini. Biasanya saya secara refleks akan menyenandungkan lagu ini jika di pagi hari suasana begitu indah, langit begitu cerah, udara begitu segar. Benar-benar damai dan membuat hati menjadi berseri.

Nah, di sini saya tidak bermaksud akan bercerita tentang damainya pagi. Justru sebaliknya, saya ingin bercerita tentang tidak damainya suatu pagi. Pagi itu adalah suatu pagi beberapa hari yang lalu. Seperti biasa, saya akan keluar dari rumah untuk menyapu jalan di pagi hari. Berhubung Ramadhan (ups, seharusnya tidak boleh dijadikan alasan), saya menyapu agak kesiangan. Sudah hampir setengah tujuh pagi ketika saya membuka pintu gerbang saat itu. Begitu saya keluar, saya terbatuk-batuk. Udara pagi ini sangat tidak bersahabat. Apa gerangan?

Sepagi itu, sudah ada kepulan asap yang membumbung ke angkasa. Sisa-sisa hasil pembakaran serasa merajai udara. Rupanya ada seorang tetangga saya yang membakar sampah sepagi itu. Selama proses menyapu, saya hanya terbatuk-batuk sambil mencoba menutup hidung dengan ujung kerudung. Sejujurnya, dalam hati saya kesal sekali.

Lantas saya berpikir. Hm, hanya karena tidak bisa menghirup udara segar seperti biasanya saja saya sudah rewelnya minta ampun. Bagaimana kalau saya tidak bisa menghirup udara sama sekali? Yang tercemar tak bisa, apalagi yang segar. Bagaimana kalau itu terjadi?

Saya jadi teringat tugas yang diberikan oleh bapak saya. Bapak meminta saya untuk mencari sumber tentang biaya untuk hidup manusia. Bukan biaya hidup dalam arti sandang, pangan, atau papan. Tapi, biaya yang sekiranya harus kita bayar seandainya hidup kita ini tidak gratis. Salah satu biaya itu adalah hirupan nafas kita.

Sekali bernafas, umumnya setiap manusia memerlukan 0,5 liter udara. Padahal dalam satu menit, manusia normalnya bernafas sekitar 20 kali. Berarti udara yang dibutuhkan sebanyak 10 liter/menit dan dalam sehari setiap manusia akan memerlukan 14.400 liter udara/hari.

Udara itu sendiri adalah suatu komponen yang kompleks. Ada oksigen, ada nitrogen, dan gas-gas lainnya. Perbandingan oksigen dan nitrogen di udara kurang lebih 20% dan 79%. Kalau kita anggap dalam satu hirupan nafas kita sehari tadi perbandingan oksigen dan nitrogen sama, berarti kita menghirup 2880 liter oksigen per hari, dan nitrogen 11.376 liter per hari. Padahal harga oksigen per liternya Rp25.000,00 dan harga nitrogen per liternya Rp9.950,00. Lalu berapa kita harus bayar? Rp176.652.165,00 dalam sehari. Seratus tujuh puluh enam juta, kawan. Dari mana kita bisa membayar itu setiap harinya?

Hm, untunglah udara masih menjadi hal yang gratis. Entah, saya tak bisa membayangkan jika untuk bernafas saja kita harus membayar. Sungguh, Allah benar-benar maha Pemurah. Dia telah memberikan segalanya pada kita. Kita sudah diberikan udara dengan Cuma-Cuma. Tak perlu membayar ratusan juta tiap harinya. Bukankah Allah sungguh maha Pemurah?

Lalu, apa yang kita lakukan? Sayangnya tak banyak yang menyadari itu. Hidup masih menjadi hal yang sia-sia. Tak menyadari kemurahan yang telah Allah berikan. Bahkan tak jarang, manusia tak tahu diri menuntut ini itu pada-Nya. Menggugat ini itu jika pintanya tak terkabulkan. Etis kah?

Sungguh, harusnya kita malu pada-Nya. Malu dengan kemurahan-Nya yang kita balas dengan pembangkangan kita. Sudah sepantasnya kita bersyukur, sudah sepantasnya kita beribadah pada-Nya. Semoga segala nikmat yang ada ini tidak menjadi sia-sia.

*terima kasih pada tetanggaku yang telah membakar sampah pagi-pagi hingga membuatku menyadari akan hal ini




Wednesday, 10 August 2011

Single Fighter?

07:57 1 Comments

Ada yang tahu makna single fighter? Ini bukan tentang adu tinju, gulat, atau olahraga fisik semacam itu. Istilah ini mengacu pada keadaan di mana kita berjuang sendirian, berjuang seorang diri. Jadi terasa benar-benar ‘single’ yang menjalankan tugas sebagai ‘fighter’.

Keadaan ini sering dialami oleh teman-teman di sekitar saya. Entah memang benar-benar single fighter, atau hanya sekedar ‘merasa’ sebagai single fighter. Saya sendiri pun pernah mengalaminya. Waktu itu, saya dan sahabat sejati saya dengan berdiskusi ngalor ngidul tanpa ada fokus bahasan. Tiba-tiba muncul saja mosi kalau masing-masing dari kami merasa lebih menjadi single fighter disbanding yang lain.

Sahabat karib saya merasakan kalau hidup di perantauan itu susah. Apalagi dia belum memiliki pekerjaan. Setiap keputusan hidup harus ia tetapkan sendiri. Segala risiko pilihan harus ia tanggung sendiri. Belum ada seseorag yang mendampinginya. Dia merasa benar-benar seperti single fighter di dunia ini.

Demikian juga saya. Saya yang telah kehilangan sahabat terbaik saya pun merasa kalau saya adalah single fighter di dunia ini. Saya tak bisa menumpahkan segala keruwetan hidup lagi bersamanya. Saya tak bisa lagi mendengar bagaimana dia berjuang untuk keluarganya. Hingga akhirnya saya merasa kalau di dunia, dalam kehidupan pribadi saya, hanya ada saya yang berjuang untuk semuanya.

Tapi semua pendapat kami tersebut terbantahkan. Saya melemahkan pendapatnya, begitu pun dia. Saya merasa kalau dia itu tidak single fighter. Demikian pula dia. Dia merasa saya juga tak pantas dibilang sebagai single fighter. Kenapa?

Karena sejatinya, kita lah yang membatasi diri kita sendiri. Kita sendiri lah yang merasa kalau diri kita ini sendiri. Saya membantah sahabat saya itu karena sejatinya ada teman-teman terdekatnya yang membantu memberikan masukan dalam mengambil keputusan. Pun dalam menghadapi risiko yang akan muncul dari sebuah pilihan. Begitu pula dalam kehidupan saya. Saya punya sahabat lain yang bisa dijadikan teman berjuang. Bahkan, dia sendiri bukankah sahabat saya juga?

Memang aneh. Tapi begitulah adanya. Merasa sendiri itu memang tidak menyenangkan. Tapi setelah itu kami jadi bisa memahami. Kami lah yang kurang membuka diri. Seandainya kami lebih terbuka pada orang lain, mungkin sahabat saya akan merasakan andil orang lalin tersebut dalam keputusaannya. Demikian pula saya, kalau saya mau sedikit saja membuka pintu untuk andil seseorang, saya pasti tidak merasa sedang berjuang sendirian.

Masalahnya, manusia memang cenderung suka menutup diri. Padahal, di luar sana ada manusia-manusia lain yang siapa tahu siap menemani. Percaya saja. Manusia itu adalah makhluk sosial. Mau sekuat apapun, manusia pasti membutuhkan orang lain dan mau merasa sesendiri apapun, manusia lain pasti akan terlibat dalam hidup kita.

Dalam hal penting selama hidup misalnya. Ketika kita lahir, mau sesendiri apapun, ibu kita tetap butuh bidan atau dokter untuk proses melahirkan. Untuk menikah pun, kita butuh saksi. Apalagi ketika kita mati. Tak mungkin diri kita mengkafani sendiri, atau langsung stan by menggali kubur dan memasukinya sendiri.

Tapi, bagaimana jika kita telah terbuka tapi tetap saja tak ada satu makhluk pun yang menunjukkan jiwa sosialnya? Tak masalah. Tinggal kuatkan diri kita saja. Karena semakhluk sosial apapun, kita tetaplah seorang diri. Dalam arti, kita ini seseorang yang tunggal. Kita lahir juga seorang diri. Ketika kita mati juga akan sendiran. Begitu pula ketika di akhirat. Kita benar-benar akan menjadi single fighter di sana. Tak ada lagi makhluk sosial yang sudi ikut menanggung segala amal perbuatan kita.

So, cobalah terbuka. Atau opsi kedua dengan menguatkan diri saja. Bukalah mata, kau pasti akan kuat karena ada jutaan single fighter di luar sana.

*special untuk kawanku. Semangat…^^




Tuesday, 9 August 2011

Bantai!

07:56 0 Comments

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata bantai? Barangkali akan terlintas di benak Anda, seseorang yang lemah diserang habis-habisan oleh orang lain atau bahkan oleh sekelompok orang sekaligus. Atau sebuah tindakan keji yang mendera seseorang tanpa kenal ampun. Hm, begitukah?

Memang, kata bantai terkesan menyeramkan. Seperti berita-berita di surat kabar misalnya. Terjadi pembantaian di Palestina, dan berita lainnya. Secara tidak langsung ini membangun stigma masyarakat bahwa kata bantai adalah tindakan yang menyakitkan, memakan korban, tak berperi kemanusiaan.

Sungguh sayang. Padahal kata bantai juga bisa memiliki tujuan yang positif. Dalam hal ini, kata bantai dapat diartikan sebagai proses menempa. Membantai seseorang bukan dalam arti menjadikannya sebagai korban, tapi menempanya untuk menjadi lebih kuat. Bukankah ini pembantaian yang baik?

Saya teringat akan cerita seorang guru saya. Waktu itu beliau menceritakan seorang penulis terkenal Indonesia AA Navis. Beliau juga memiliki banyak murid seperti guru saya itu. Tapi ada hal unik yang dilakukan AA Navis sebagai guru. Beliau sama sekali tidak pernah memuji karya murid-muridnya. Setiap karya yang disodorkan padanya, pasti beliau cela habis-habisan. Yup, sebuah pembantaian!

Tapia pa hasilnya? Para murid yang dimaki habis-habisan itu ternyata justru bisa survive dalam bidang tulis-menulis. Setiap karya yang dibantai, mereka revisi dengan susah payah. Begitu revisi, dibantai lagi. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya secara tak sadar, karya itu mendekati sempurna. Bukankah ini lebih baik?

Yup, pembantaian memang tak selamanya buruk. Ibaratnya seperti sebuah besi. Besi hanya akan menjadi besi ketika saat itu dia hanya dipuji. Misalkan, “Wah, kuat sekali besi itu”. Dengan pujian itu, besi sudah cukup menjadi besi saja. Toh, sudah memiliki sebuah kekuatan.

Tapi lain ceritanya jika besi itu dicela. “Apa bagusnya besi. Cuma menang kuat. Bentuknya gitu-gitu aja.” Apa yang akan terjadi? Mau tak mau besi akan diusahakan untuk berubah bentuk. Besi akan terus ditempa, diubah menjadi sebuah pedang misalnya. Bisa jadi ketika menjadi pedang pun, si besi akan terus dicela. Hingga akhirnya dia akan diasah hingga tajamnya tak terkira. Begitu seterusnya. Yang intinya, makin ditempa, makin diasah, makin kuatlah kemampuan besi tadi.

Demikian juga manusia. Manusia cenderung mudah puas terhadap pujian. Ketika sebuah karyanya dipuji, manusia cenderung merasa bahwa dirinya paling baik sendiri. Lantas merasa bahwa apa yang dia lakukan sudah mencapai puncak. Sudah top, sudah berpengalamanlah dia. Dampak buruknya, dengan perasaan sudah merasa mampu itu, bisa jadi dia tidak mau belajar. Ujung-ujungnya, dia akan terpuruk dengan sendirinya karena mungkin karya yang dinilai bagus hanya karya yang itu saja.

Di lain sisi, manusia juga cenderung tak suka dikritik. Ketika sebuah kritikan masuk, tak jarang manusia memilih jalan perlawanan. Menganggap bahwa orang yang mengkritik itu adalah musuh. Dampak buruknya, dia bisa jadi gelap mata. Ujung-ujungnya tak mau belajar dan akhirnya terpuruk juga.

Lantas, harus bagaimana? Kuncinya adalah keinginan untuk maju. Sebuah visi untuk terus menjadi lebih baik. Ketika dibantai, orang yang memiliki keinginan untuk maju akan menjadikan bantaian itu sebagai pendorong dirinya untuk memperbaiki diri. Tak masalah baginya berapa kali dia akan dibantai. Asal dengan bantaian itu dia akan bisa menjadi lebih baik.

Demikian juga jika dia dipuji. Seorang yang memiliki keinginan untuk maju tak akan mudah puas dengan pujian yang dia dapatkan kala itu. Dia akan mempelajari apa yang membuat orang lain puas. Lalu menjadikannya sebagai formulanya, hingga ke depannya dia dapat membuat orang lain kembali puas dan dia kembali mendapatkan pujian itu. Begitu seterusnya.

Jadi, intinya adalah keinginan untuk maju. Adakah keinginan itu di dalam dirimu?




Monday, 8 August 2011

Jika Seperti Binatang

07:55 0 Comments
Suka jika dikatai mirip binatang? Sebagian besar orang pasti menjawab tidak. Bayangkan saja, bagaimana bisa suka jika ada seseorang dengan nada kasar berteriak lantang pada kita, “Dasar ….(binatang)!” Hm, pasti tidak akan ada yang suka kan.

Yah, memang harus diakui. Nama binatang sering muncul ketika ada orang mengumpat. Seakan-akan binatang itu menjadi makhluk yang buruk, sampai-sampai orang yang membuat kita kesal dengan mudahnya kita samakan dengan binatang.

Padahal kalau mau kita pikirkan, binatang itu tidak salah apa-apa. Memang kodrat mereka seperti itu. Allah menciptakan mereka dengan kemampuan yang memang sebatas itu. Kalau seseorang diumpat dengan disejajarkan binatang sebagai pelampiasan kekesalan, jangan-jangan secara tersirat muncul rasa meremehkan pada makhluk ciptaan Allah itu.

Hm, bagaimana pun ciptaan Allah itu tetaplah sesuatu yang baik kan? Seandainya saja manusia mau melihat binatang dari sisi positifnya, bukan melulu melihat sudut pandang negatif yang muncul saat mengumpat saja. Padahal sebenarnya ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari para binatang itu.

Saya jadi teringat pengalaman saya waktu kelas 1 SMA dulu. Waktu itu, saya sedang diwawancarai kakak kelas untuk seleksi perwakilan pengurus OSIS dari kelas 1. Ada salah satu pertanyaan yang cukup menggelitik. Jika diibaratkan hewan, kamu ingin menjadi apa?

Waktu itu saya menjawab kuda. Mengapa? Karena kuda yang menarik pedati ibaratnya seorang pemimpin yang bisa menarik semua anggotanya. Tapi kuda yang menarik pedati tetap terikat dengan tali, yang ibaratnya seorang pemimpin yang tetap terikat dengan peraturan yang ada. Sehingga dia tidak asal memimpin, tidak asal menarik atau menyuruh anggotanya dengan semena-mena.

Begitu juga sekarang. Kalau saya ditanya, andai menjadi hewan, kamu berharap menjadi apa? Saya tanpa pikir panjang akan menjawab kupu-kupu. Yup, saya memang pecinta kupu-kupu. Alasannya sederhana. Kupu-kupu itu telah melewati proses metamorphosis yang lama. Awalnya dia sehina ulat. Menjijikkan, bikin gatal, ditakuti bahkan. Tapi dia memperbaiki dirinya, tirakat selama proses kepompong. Hingga akhirnya keluarlah dia sebagai kupu-kupu yang cantik. Yang terbang bebas ke sana ke mari, dicintai.

Nah, saya berharap menjadi kupu-kupu. Diri saya yang hina ini, berharap agar bisa selalu tirakat. Selalu melalui proses kepompong untuk memperbaiki diri. Hingga akhirnya bisa secantik kupu-kupu, menjadi penghuni surga di akhirat kelak.

Senada dengan filosofi kupu-kupu, seorang teman mengidentikkan dirinya dengan itik. Dia adalah itik yang berharap berubah menjadi angsa. Saat ini dia merasa masih menjadi itik, yang buruk rupa, tak bisa terbang, bau mungkin. Tapi dia berharap kelak menjadi angsa, yang berbulu halus, dan terbang dengan anggunnya ke angkasa.

Ada juga teman lain yang mengibaratkan dirinya sebagai binatang dengan harapan yang sederhana. Yang paling sering terdengar yaitu menjadi burung. Burung yang terbang tinggi, seperti manusia yang layaknya akan terus terbang tinggi untuk meraih mimpi. Atau seperti semut yang selalu setia kawan, bergotong royong, dan ramah pada sesama. Atau seperti beberapa hewan yang namanya tercantum dalam Al-Qur’an. Menjadi lebah yang menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk manusia.

Barangkali ada yang membantah, “Itu kan hewan-hewan yang netral. Mana ada orang mengumpat sambil berkata : Dasar kupu-kupu, dasar kuda, dasar semut, dasar lebah. Tentu akan aneh kan.” Hm, iya memang. Tapi hewan yang sudah akrab di telinga sebagai umpatan pun sebenarnya adalah hewan yang memiliki sisi positif juga.

Anjing misalnya. Tentu kita tahu, seekor anjing sering dipakai sebagai anjing pelacak. Tanpa pandang bulu mengendus setiap kejahatan dan menyergap para penjahat. Bukankah dalam hal ini menunjukkan bahwa seekor anjing juga memiliki sisi baik?

Terlebih lagi ada kisah menarik tentang anjing. Saat itu ada anjing yang kehausan dan hampir mati. Lalu lewat lah seseorang. Orang itu iba melihat anjing yang hampir sekarat. Lantas ia mengambil air dengan sepatunya dan memberi minum anjing tersebut lewat sepatunya. Apa yang terjadi? Berkat amalannya inilah, dia masuk surga.

Jadi, jangan meremehkan seekor hewan. Karena seterbatas apapun kemampuan seekor hewan, dia tetap memiliki suatu kelebihan yang bisa kita pelajari. Bukankah ada hadits yang mengatakan ada orang masuk surga karena seekor lalat dan ada seseorang masuk neraka karena seekor lalat pula. Bukankah remeh saja. Hanya karena seekor binatang kecil seperti lalat, bisa menentukan nasib kita kelak di akherat.

Maka, hati-hatilah terhadap binatang. Jangan remehkan. Karena bagaimana pun mereka juga makhluk yang Allah ciptakan.




Friday, 5 August 2011

Lelaki yang Membuatku Berdebar

07:53 0 Comments
Ada pengalaman mendebarkan siang tadi saat aku harus mengurus PIN registrasi yang terganjal karena keteledoranku. Dengan perasaan campur aduk karena dari pagi gagal registrasi, melangkah lah aku ke bank BTN Palur. Aku harus mengurus PIN baru di sana. Begitu saran dari bagian pendidikan kampus. Terpaksa lah aku ke sana dengan segala debar yang ada. Khawatir kalau-kalau registrasiku gagal dan makin panjang saja urusannya.

Begitu aku masuk ke BTN, aku duduk di ruang tunggu yang tak terlalu luas itu. Penuh, semua kursi tunggu terisi. Beruntung masih ada satu kursi di dekat tempat penulisan formulir. Duduklah aku di sana, sambil menunggu antrian di bagian customer service.

Waktu hampir menunjukkan pukul 12 siang. Beberapa bapak-bapak sudah mulai gelisah karena akan berangkat sholat Jum’at. Demikian juga dengan pak satpam yang bertugas membukakan pintu sekaligus merangkap sebagai bagian informasi bagi para nasabah. Bapak satpam itu pun memutuskan pergi. Dia menitipkan nomor antrian pada teller. Bapak polisi yang berjaga di luar juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua berpamitan pada mbak-mbak penjaga teller untuk berangkat sholat Jum’at dulu.

Dan peristiwa mendebarkan itu pun terjadi.

Seorang laki-laki tampan melangkah masuk. Dia datang bersama dua orang wanita. Yang satu masih muda, yang satu lagi sudah beranjak masa tua. Menatap laki-laki itu masuk, hatiku seketika berdebar. Sungguh dia sangat tampan. Tapi bukan ketampanannya yang mempermainkan debar dalam dadaku, tapi sesuatu yang dia bawa seketika mengubah ritme jantungku.

Laki-laki itu membawa senapan.

Sebisa mungkin senapan itu disembunyikannya. Tapi aku sudah terlanjur melihatnya. Ketiga orang itu bertampang bingung. Entahlah, mereka benar-benar bingung atau pura-pura bingung. Kedua wanita itu lantas menuju meja pengisian lembar formulir yang ada di samping kananku. Sedangkan laki-laki yang wajahnya tampan itu masih berputar-putar di dekat meja teller. Seakan mengamati keadaan sekitar.

Laki-laki tampan itu akhirnya menghampiri kedua wanita yang ada di meja pengisian formulir. Aku makin berdebar saja. Jantungku berdetak tak karuan. Sungguh malang buatku. Kini kursi di samping kananku kosong. Kursi satu-satunya yang kosong saat itu. Sepertinya laki-laki itu mengincar tempat duduk di sampingku.

Matanya menatapku. Aku hanya melihatnya sekilas dengan dada berdebar. Sejenak dia berbisik-bisik dengan kedua wanita yang datang bersamanya. Lalu ia benar-benar menghampiriku. Dia mulai bersikap tak wajar.

Tak ingin sekedar menduduki kursi di sampingku, dia justru seakan ingin menarik perhatian semua orang yang ada. Dia menginjakkan kakinya ke kursi. Dia berdiri di atas kursi. Dan aku hanya menganga di sampingnya, kaget melihat tingkahnya.

Lalu, dikeluarkannya senapan yang ia bawa. Orang-orang mulai melihatnya. Duh, aku makin berdebar. Bagaimana ini? Pak satpam tak ada. Pak polisi pun pergi juga. Aku hanya komat-kamit berdoa.

Ujung senapan itu mulai dimain-mainkan. Mulai diarahkan ke sana ke mari. Tiba-tiba, ujung senapan itu mengarah padaku. Tapi hanya sekejap. Dan selanjutnya? Senapan itu justru mengarah pada dirinya.

Mulutnya terbuka, ujung senapan itu justru hampir masuk ke mulutnya.

Seorang wanita menjerit.

“Kotor, ga boleh dimasukin ke mulut!” Kata wanita tua yang tak lain tak bukan adalah nenek yang menghalau aksi nakal cucu tampannya.


*peace… ^^V



Thursday, 4 August 2011

Mengubah 50%

07:49 0 Comments
Ada hal menarik yang lagi-lagi saya dapat dari film korea beberapa waktu lalu, yaitu tentang menentukan sebuah pilihan. Di sebuah adegan, tokoh wanita dihadapkan pada pilihan untuk pindah ke Amerika atau tetap mengejar mimpi di Korea. Ketika ditanya, dia menjawab 50% memilih Amerika dan 50% memilih Korea. Lalu, seorang tokoh pria menyanggahnya. Dia mengatakan kalau 50% itu bukan sebuah pilihan. 50% harus diubah menjadi 0% atau 100%. Barulah itu dikatakan sebagai sebuah pilihan.

Hm, benar juga. Memilih fifty-fifty, sebenarnya memang bukan sebuah pilihan. Karena dengan fifty-fifty itu, kita belum bisa menentukan mana yang akan kita ambil. Mau pilihan A atau pilihan B. Tapi jika kita mengubah 50% A menjadi 0% dan mengubah 50% B menjadi 100%, barulah kita bisa menentukan apa yang akan kita lakukan. Di sinilah pilihan. Memilih B yang sudah jelas 100%.

Masalahnya, menentukan mana 0% dan mana yang 100% memang gampang-gampang susah. Barangkali ada yang sering mengalami dan mengeluh, “Duh, aku terjebak di antara dua pilihan.” Hm, itu baru dua pilihan saja. Belum jika harus memilih di antara sekian pilihan. Pasti lebih sulit lagi jadinya.

Ya, memilih memang hal sulit. Mengapa? Karena ada konsekuensi yang harus diambil dari pilihan itu. Jika kita memilih A, kita akan mengorbankan kebaikan B. Kita juga harus siap menerima kekurangan A, yang bisa jadi itu semua dipenuhi oleh B. Begitu juga sebaliknya. Berat melepaskan B yang walaupun memiliki kekurangan tapi tetap memiliki kelebihan tertentu.

Mungkin, itulah sebabnya mengapa orang sulit untuk memilih. Kita masih cenderung sulit untuk menghadapi konsekuensi yang harus terjadi. Konsekuensi jika melepas kebaikan B dan menerima kekurangan A. Akibatnya, kita jadi masih belum berani menyatakan hitam atau putih, dan cenderung berada di zona abu-abu.

Padahal kalau dipikir-pikir, zona abu-abu pun memiliki konsekuensi. Bisa jadi, konsekuensi yang harus dihadapi justru lebih buruk. Yang terburuk adalah kita justru tidak mendapatkan apa-apa. Kebaikan dari A hilang, kebaikan B pun luput. Mengapa? Karena kita masih ragu-ragu. Padahal kita tahu, sebuah keragu-raguan hendaknya ditinggalkan. Nah, kalo begini, apa mau terus-terusan meninggalkan semua pilihan? Hanya karena tak berani mengambil keputusan di setiap pilihan yang ada. Berarti ujung-ujungnya tak pernah merasakan kebaikan, karena di setiap pilihan pasti akan ada sebuah kebaikan.

Padahal banyak orang bilang kalau hidup adalah sebuah pilihan. Semua hal di hidup ini muncul dari sebuah pilihan. Coba cari, mana yang bukan sebuah pilihan? Mulai dari hal prinsip, seperti memeluk agama, mencari ilmu, mencari kerja. Semua adalah pilihan. Bahkan sampai hal kecil misalnya memilih menu makan saat jajan di luar.

Sayangnya, belum semua mau memilih. Dalam hal makan misalnya. Kalau diajak makan di luar lalu ditanya mau makan apa, terkadang spontan menjawab “terserah”. Ini contoh simpel saja untuk kasus abu-abu. Untungnya ini masih perkara ringan. Kalau tidak berani memilih, paling parah tidak jadi makan. Atau kalau akhirnya hanya ngikut dan tidak sesuai selera, paling buruk hanya mendapat makanan yang kurang sedap saja. Toh begitu sampai di perut sudah tak terasa. Habis perkara.

Tapi, bagaimana jika itu terbiasa hingga berdampak saat harus menghadapi perkara besar? Misalnya ketika harus memilih jodoh. Apa iya, akan tetap menjawab terserah? Dalam hal keyakinan juga misalnya. Apa mau terserah juga? Lantas jika dianalogikan dengan kasus makan tadi. Jika tidak jadi makan karena tak berani memilih, apa lantas tak jadi beriman karena tidak berani memilih juga. Lalu jika asal makan saja sekedar coba-coba, apa lantas juga asal pilih keyakinan saja sekedar coba-coba. Tentu tidak.

Maka, sebuah pilihan memang harus dilakukan. Sebuah konsekuensi memang harus dihadapi. Karena hidup adalah pilihan.


Wednesday, 3 August 2011

Dua Kali Lipat

20:08 0 Comments

Bulan Ramadhan memang bulan amal ibadah. Selain puasa dan sholat berjama’ah seperti yang sudah saya singgung kemarin, ada satu lagi amalan yang terlihat jor-joran di bulan ini, yaitu sedekah. Sedekah bisa diartikan sangat luas. Mulai dari memberi sumbangan yang entah mengapa banyak bermunculan di bulan Ramadhan, memberi fakir miskin atau pengemis, menyumbang makanan berbuka puasa, atau menginfaqkan rupiah ke kotak infaq di masjid.

Ada satu hal unik mengenai infaq yang saya amati di masjid depan rumah saya tahun ini. Jama’ah masjid di depan rumah saya memang hobi shodaqoh. Dibandingkan 3 masjid di sekitar perumahan saya, masjid kami memang paling banyak perolehan infaq Ramadhan atau paling banyak qurban di hari Idul Adha.

Setiap ba’da tarawih, kotak infaq yang sudah tersedia di sudut shof sholat sudah berputar dengan sendirinya. Mulai dari ruang utama, sayap kiri, sayap kanan, serambi, bahkan sampai emperan, semua memiliki kotak infaq sendiri-sendiri. Sambil mendengarkan para penceramah memberikan tausiyah, para jama’ah dengan entengnya mengulurkan tangannya untuk memasukkan uang ke dalamnya.

Nah, yang unik di sini. Biasanya tepat selepas tarawih dan sebelum penceramah naik mimbar, ada seorang remaja putra yang digilir untuk menjadi MC. Kami menyebutnya begitu. Dia bertugas untuk menyampaikan siapa pembicara malam ini, lalu pembicara untuk kultum subuh besok pagi, dan memberikan laporan perolehan total infaq hingga tarawih malam sebelumnya. Waktu hari kedua tarawih, MC menyebutkan total pemasukan sekitar 600 ribu rupiah. Hari ketiga tarawih, totalnya sudah Rp.1.220.000,00, dan malam tadi sudah mencapai Rp.1.890.000,00.

Bagi saya, nominal itu tergolong banyak. Tiap harinya, bisa stabil sekitar 600 ribu. Padahal tahun lalu, tiap harinya hanya mencapai 300-400 ribu. Begitu saya menyadari pelonjakan drastis dari jumlah infaq itu, saya langsung saja dengan cuek ngobrol dengan ibu saya. Saya bilang, “wah, infaqnya bisa dua kali lipat nih.” Dengan enteng, ibu saya menjawab, “Aku tahu kenapa. Soalnya udah ada uang 2 ribuan.”

Saya sedikit tergelak. Bagaimana mungkin, gara-gara uang 2 ribuan lantas infaq meningkat dua kali lipat. Kalau dinalar sih memang masuk akal. Orang cenderung menginfaqkan uang seribu rupiah. Agaknya, nilai seribu rupiah tergolong ringan dan tidak memberatkan. Sekarang, muncul uang dua ribu rupiah, yang tarafnya lebih sejajar ke seribu rupiah dibandingkan lima ribu rupiah.

Ah, membingungkan. Maksud saya sederhana saja. Orang masih cenderung memberikan infaq dengan nominal terkecil yang paling ringan dia keluarkan. Barangkali lima ribu sehari tergolong cukup berat. Jadilah hanya seribu sehari saja. Begitu ada uang dua ribu, orang mungkin mulai beralih ke dua ribu. Sedikit lebih banyak, dan tidak sebanyak atau seberat lima ribu barangkali.

Yang mengusik justru pemilihan uang itu. Mamang, untuk urusan beginian, manusia cenderung memilih yang paling ringan saja. Coba dilihat. Kalau ada beberapa lembar uang di dompet, mulai dari seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh, lima puluh, dan seratus ribu, manakah yang akan dikeluarkan untuk infaq? Yang saya amati di kotak infaq berkaca di beberapa masjid besar, rata-rata uang seribu yang paling mendominasi.

Hm, memang tak masalah. Saya juga tidak mau menelan ucapan sendiri yang sudah mengatakan lebih baik sedikit tapi rutin mengenai sedekah. Hanya saja, saya cukup terusik dengan keadaan itu. Padahal harta kita juga tak kekal abadi. Malah, harta yang diinfaqkan itulah yang akan abadi. Belum lagi, harta yang diinfaqkan itu justru akan makin kembali dengan berlipat ganda. Setiap infaq akan dibalas sepuluh kali lipat. Di bulan Ramadhan? Justru makin dilipatgandakan.

Nah, coba kita hitung. Kalau seribu rupiah perhari, berarti kita hanya akan mendapat ganti sepuluh ribu rupiah saja. Tapi seandainya kita berani mengeluarkan lebih banyak lagi, sebenarnya uang yang balik ke kita juga akan lebih berlipat ganda. Dengan keluar lima ribu misalnya, insya Allah akan kembali menjadi lima puluh ribu. Bukankah ini mengasyikkan?

Ya, sangat mengasyikkan. Inilah perniagaan dengan Allah. Jual beli harta kita oleh Allah. Kita menjual 1, Allah membelinya dengan 10. Sayangnya, manusia tak banyak tahu. Atau sudah tahu, tapi tak mau tahu. Tetap saja, memilih prinsip lebih baik sedikit tetapi rutin.

Yah, tak apa. Toh, masing-masing juga akan mendapatkan balasan dari-Nya. Siapa yang beramal lebih banyak, insya Allah makin banyak pula menuai panennya. Tidak ingin panen? Ya, monggo saja.