Follow Us @soratemplates

Saturday, 2 June 2012

Pemberi Harapan Palsu

19:22 6 Comments
Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan seorang teman dekat. Awalnya saya hanya bertanya definisi sebuah kata, ujung-ujungnya dia justru membuka obrolan baru, tentang pemberi harapan palsu.

Titel pemberi harapan palsu atau yang biasa disebut PHP rasanya sangat tidak nyaman jika harus melekat pada diri kita. Siapa juga yang bakal suka disebut sebagai orang yang memberi harapan kosong, tanpa bisa dijamin kebenarannya. Nyatanya, disadari atau tidak banyak orang berstatus sebagai PHP.

Kriteria pertama jatuh pada pria yang kanan oke, kiri oke. Pada satu wanita memberi harapan, pada wanita lain demikian pula. Istilahnya, wanita pertama buat simpanan, wanita kedua, ketiga dan seterusnya untuk cadangan. So, pantas jika disebut PHP.

Kriteria kedua bisa juga jatuh karena salah paham belaka. Misalkan seorang wanita memang menganggap semua pria itu sama. Terhadap A bersikap baik, terhadap B demikian pula. Tentu tak ada maksud sedikit pun dalam dirinya untuk memberi secercah harapan. Tapi tidak demikian ceritanya ketika salah satu dari mereka mulai menyukai wanita tersebut. Si A bisa menganggap bahwa wanita tersebut menyukainya pula karena kebaikan hatinya. Salah si A sebenarnya karena kege-eran, tapi bisa menjadi salah wanita pula karena dikira hanya menjadi pemberi harapan palsu.

Hal yang lebih nyata banyak dijumpai pula. Misal, seorang pria yang berkata, “Tunggu aku satu tahun lagi.” Oke, wanita menunggu. Tapi bukan tidak mungkin satu tahun itu akan menjadi sebuah cerita baru. Bisa jadi karena si pria masuk dalam kriteria pertama di atas. Bisa juga karena terlalu banyak benih-benih kebaikan yang disalahartikan hingga memicu skenario berbeda.

Memang pria berhak memilih. Artinya pria berhak memilih memberikan harapan pada siapapun. Tetapi pemilihan ini bukan berarti membuat koleksi wanita sebanyak mungkin hingga nantinya pada hari H tinggal mengundi dari semua wanita yang ada.

Memang wanita berhak menjawab. Artinya wanita berhak menjawab apakah dia menerima atau menolak harapan dari siapapun.Tetapi bukan berarti menerima semuanya sebagai cadangan amunisi pula. Hingga akhirnya membuat pria kelabakan karena merasa mendapatkan harapan.

Yup, antara pemberi harapan palsu dan hak memilih serta hak menjawab. Allah memang maha membolak-balikkan hati. Serahkan saja pada-Nya. Maka tak akan ada harapan yang palsu lagi.


Friday, 25 May 2012

Bagaimana Jika Saya Minggat?

08:09 4 Comments


Pertanyaan di atas saya lontarkan pada ibu saya pagi ini. Ada apa gerangan? Apakah saya sedang membangkang? Apakah saya bertengkar hebat dengan ibu saya? Ataukah saya sedang merajuk dan mengancam demi mendapatkan sesuatu? Tidak. Saya berkata demikian karena saya mulai merasakan ketidakproduktivan saya di rumah.

Suatu poin kuat dari ucapan saya di atas adalah ketika produktifitas mulai terkotakkan oleh bangunan rumah. Definisi rumah mulai mengusik. Apakah rumah sebatas bangunan dengan tembok, pintu, dan jendela yang ditinggali sekelompok orang dengan ikatan darah? Ataukah rumah memiliki fungsi sosial lainnya.

Rumah memiliki pengertian berbeda sesuai dengan fungsinya. Ketika rumah dijadikan sebagai tempat untuk beristirahat dari aktivitas, tak salah jika rumah disebut sebagai rumah peristirahatan. Bukan tak mungkin karena banyaknya aktivitas masing-masing anggota rumah tersebut, rumah hanyalah dijadikan sebagai persinggahan. Maka tak ubahnya rumah pun adalah rumah singgah. Demikian seterusnya hingga berbagai fungsi menciptakan definisi berbeda akan bangunan yang disebut rumah.

Salah satu fungsi rumah menurut saya adalah rumah sebagai tempat untuk berproduksi. Rumah adalah pijakan pertama untuk menciptakan sebuah karya. Rumah adalah ajang untuk membina produktivitas semua anggotanya. Produktivitas di sini diciptakan dengan tujuan bermacam-macam pula. Mulai dari untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup hingga sekedar meningkatkan aktualisasi diri.

Maka saya terpikirkan untuk minggat dari rumah ketika fungsi rumah yang saya harapkan mulai tidak saya temui. Beberapa hari terakhir, rumah hanyalah sebagai tempat perisitirahatan. Begitu memasuki rumah, tempat tidur beserta accessories bantal dan guling melambai-lambai dan siap membuai. Produktivitas pun menjadi keinginan sulit untuk dicapai. Karya justru terbentuk ketika berada di luar tembok rumah. Maka tidak salah jika terpikirkan ide konyol untuk minggat dari rumah.

Rumah sebagai tempat untuk tinggal tak jauh berbeda dengan fungsi tanah air sebagai tempat untuk hidup seluruh warga negaranya. Tanah air memiliki fungsi yang berbeda-beda pula tergantung sudut pandang warganya. Tanah air dapat dijadikan sekedar tempat untuk lahir, tempat untuk hidup, dan seterusnya. Tetapi bisa juga tanah air dijadikan sebagai wadah untuk menciptakan produktivitas.

Jika memang tanah air memiliki fungsi sebagai wahana untuk berproduksi menciptakan karya, maka bukan hal yang mustahil pula jika pemikiran minggat terlontar ketika keinginan tersebut tidak didapatkan lagi di tanah air sendiri. Produktivitas barangkali difasilitasi oleh tanah air yang lain sehingga warga negara memilih minggat demi menjaga produktivitas.

Seperti halnya dalam rumah saya. Ketika ayah, ibu, dan saya memutuskan untuk minggat dalam arti menemukan produktivitas di luar batas tembok rumah, yang tersisa di dalam rumah hanyalah adik dan seorang pembantu. Adik yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas dapat dikatakan sebagai orang yang belum sepenuhnya terdidik sehingga belum mampu menciptakan produktivitas secara penuh. Demikian pula pembantu yang fungsinya hanya membantu rutinitas yang ada, tanpa menciptakan sesuatu terlebih membuat karya baru. Praktis, ketika orang terdidik seperti ayah dan ibu yang sarjana dan saya yang menempuh perguruan tinggi pergi mencari produktivitas lain, rumah menjadi wadah yang semakin jauh dengan harapan produktivitas.

Demikian pula dengan tanah air Indonesia. Ketika orang terdidik terfasilitasi di negara lain, satu demi satu warga negara memilih pergi. Yang tertinggal di Indonesia hanyalah orang-orang tidak terdidik atau belum sepenuhnya terdidik, ditambah orang-orang pekerja yang menyalurkan tenaga tanpa ada keinginan untuk menciptakan sebuah karya. Produktivitas kembali menjadi barang langka. Dan fungsi tanah air sebagi pencipta karya makin jauh untuk terlaksana.

Jika demikian yang terus terjadi, berapa lama lagi kita akan mati? Perabot rumah tangga akan menjadi usang tanpa terjamah karena tak ada manusia yang rutin menggunakannya. Ketika akhirnya rusak, pilihan yang ada adalah membeli barang baru. Demikian pula di Indonesia. Kekayaan alam akan semakin lapuk karena tak terjamah oleh kaum terdidik yang seharusnya memiliki kemampuan akan pengelolaannya. Warga negara hanya akan menjadi orang-orang konsumtif tanpa mampu menjadi orang produktif.

Betapa bahaya pemikiran minggat dari diri seseorang. Betapa mengkahwatirkan jika keinginan minggat terbersit dalam diri para terdidik. Semoga ini tidak terjadi sehingga produktivitas dapat diciptakan di rumah sendiri. Rumah kita, tanah air Indonesia.


Tuesday, 22 May 2012

Menggerus Iri dengan Keadilan

21:52 0 Comments
(dimuat di Majalah Embun LAZiS Jawa Tengah edisi Mei 2012)


Setiap orang tua pasti menyayangi anaknya. Tetapi, apakah rasa sayang pada semua anak itu memiliki kadar yang sama?

Kadang kala orang tua terkesan lebih cenderung pada salah satu anak, tetapi lain waktu lebih berpihak pada anak yang lain. Barangkali orang tua tidak menyadari kecenderungan ini, tetapi belum tentu demikian pula pada anak. Bisa jadi anak sudah dapat merasakan kecenderungan tersebut sehingga mulai timbul benih-benih rasa iri terhadap saudaranya.

Rasa iri yang awalnya hanya benih dapat tumbuh subur jika orang tua tidak segera menyadari hal itu. Tak jarang, orang tua justru menyalahkan sang kakak yang tak mau mengerti atau menegur si adik karena tak mau menghormati. Rasa iri yang semula biasa saja tanpa sadar berubah menjadi kebencian tak terkira karena tidak ditanggapi secara benar oleh orang tua. Padahal, sumber segala petaka itu hanyalah perkara sepele, yaitu setiap orang tua haruslah memahami bagaimana caranya bersikap adil terhadap anak-anaknya.

Rasulullah SAW bersabda, “Bersikaplah adil di antara anak-anak kalian dalam pemberian, sebagaimana kalian suka berlaku adil di antara kalian dalam kebaikan dan kelembutan” (H.R. Ibnu ‘Abi ad-Dunya).

Beberapa orang tua mempunyai standar yang berbeda mengenai definisi adil pada anaknya. Sebagian orang tua menganggap adil adalah sama rata, tetapi sebagian lain beranggapan bahwa adil adalah sesuai dengan porsinya.

Rasulullah SAW sendiri memiliki pengertian yang berbeda dalam mendefinisikan kata adil. Dalam sebuah kisah, beliau menunjukkan bahwa adil adalah sama tanpa ada perbedaan. Rasulullah SAW pernah menegur seorang sahabat tatkala dia hanya mencium anak laki-lakinya saja, sementara anak perempuannya yang juga ada bersamanya tidak diberi ciuman. Saat melihat kejadian itu, beliau bersabda, “Kamu tidak bersikap adil pada keduanya!” (HR. al-Baihaqi).

Hadits tersebut secara jelas mengatakan bahwa orang tua dikatakan tidak adil jika hanya memberikan sesuatu kepada satu anak saja, sedangkan anak lain tidak mendapatkannya. Terlebih jika anak yang lain melihat sikap orang tuanya tersebut. Bukan tidak mungkin sikap tidak adil yang ditunjukkan oleh orang tuanya dapat menjadi sumber rasa iri dan dengki terhadap saudaranya.

Sikap adil orang tua terhadap anaknya dapat pula diartikan sesuai dengan porsinya. Sebagai contoh, pengertian ini berlaku dalam pembagian harta waris. Dalam hal harta waris, anak laki-laki mendapatkan pembagian yang lebih besar daripada anak perempuan. Pembagian porsi yang lebih besar pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan ini menandakan bahwa Islam mensyariatkan berbuat adil sesuai dengan porsinya. Anak laki-laki masih memiliki tanggungan untuk menghidupi anak dan istrinya, sedangkan anak perempuan tidak memiliki kewajiban untuk itu. Terlebih anak perempuan tersebut juga masih menjadi tanggungan dari suaminya. Dengan demikian, pembagian ini tetap dikatakan adil karena tepat sesuai dengan porsinya.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa sikap orang tua yang mencoba untuk bersikap adil tetap saja dapat menimbulkan rasa iri pada anak-anak. Untuk menyikapi hal tersebut, orang tua perlu menanamkan rasa kebersamaan dalam diri anak-anak. Sejak dini orang tua harus membiasakan sikap agar adik menghormati kakaknya dan kakak menyayangi adiknya. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah termasuk golonganku orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang muda” (HR Imam Ahmad dan ath-Thabrani).

Hadits di atas menunjukkan adanya sikap yang berimbang antara kakak dan adik. Ini menjadi tugas dan kewajiban orang tua untuk mengajarkan dan menanamkannya sejak kecil. Tentunya orang tua tidak ingin anaknya tidak menjadi golongan Rasulullah SAW. Apalagi jika itu terjadi karena orang tua tidak berbuat adil sehingga anak tidak saling menghormati dan menyayangi.

Maka, mari berbuat adil. Orang tua bersikap adil pada anak-anaknya tepat sesuai dengan kondisinya. Orang tua memberikan contoh agar kakak bersikap adil pada adiknya dengan mengajarkan bagaimana menyayangi yang kecil. Orang tua juga memberikan contoh agar adik bersikap adil pada kakaknya dengan mengajarkan bagaimana menghormati yang lebih tua. Karena Allah SWT memberikan hadiah istimewa bagi orang-orang yang bersikap adil. Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang bersikap adil akan ditempatkan di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya” (HR Muslim). Subhanallah….

Sunday, 29 April 2012

Singkat Tepat Untuk Sehat

21:50 2 Comments
(dimuat di Majalah Embun LAZiS Jawa Tengah edisi April 2012)
 
Bukan sesuatu yang mengherankan jika orang selalu memiliki hasrat untuk menyantap makanan. Keinginan untuk makan demi memenuhi kebutuhan energi memang tidak dapat dipungkiri. Kebutuhan ini sangat manusiawi dan memang harus dipenuhi. Rasulullah SAW bersabda,  “Sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas dirimu” (H.R Bukhori). Salah satu hak ini adalah mendapatkan asupan nutrisi melalui makanan.

Rasulullah SAW memiliki cara unik untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Beliau berusaha memenuhi asupan makanan agar energinya terjaga, tetapi di lain sisi juga menjaga agar tidak sembarangan makan apa saja.

Selepas Subuh, Rasulullah SAW membuka menu sarapannya dengan segelas air yang dicampur sesendok madu asli. Kandungan gula yang terdapat dalam madu dapat menjadi sumber glukosa untuk cadangan energi. Namun bukan berarti Rasulullah SAW lantas mengonsumsi banyak glukosa, beliau hanya menambahkan satu sendok madu. Hal ini menandakan bahwa Rasulullah SAW juga menjaga agar tidak terjadi kelebihan gula. Sikap beliau ini didukung oleh pakar gizi yang mengatakan bahwa mengonsumsi glukosa sebagai energi yang terlalu banyak di pagi hari justru akan membuat tubuh malas dan mudah mengantuk.

Memasuki waktu dhuha, Rasulullah SAW selalu makan tujuh butir kurma. Beliau bersabda, "Barang siapa yang makan tujuh butir kurma, maka akan terlindung dari racun." (H.R Bukhori). Hal ini menandakan bahwa Rasulullah SAW memang memperhatikan makanan apa yang layak untuk dimakan. Beliau tidak hanya memilih makanan yang asal mengenyangkan, tetapi juga memperhatikan apakah makanan tersebut memiliki kandungan nutrisi yang bermanfaat, lebih-lebih jika ternyata berguna untuk menangkal penyakit.

Menjelang sore hari, Rasulullah SAW mengonsumsi cuka dan minyak zaitun. Tentu bukan sekedar cuka dan minyak zaitun saja, melainkan dikonsumsi dengan makan pokok yaitu roti. Lagi-lagi sikap Rasulullah SAW ini dibenarkan oleh ahli gizi yang menyebutkan bahwa konsumsi karbohidrat memang sebaiknya difokuskan di siang hari. Karbohidrat yang tinggi tersebut diharapkan dapat segera mengganti energi yang telah dipakai sejak pagi sehingga dapat segera digunakan untuk beraktivitas kembali.

Di malam hari, menu utama Rasulullah SAW adalah sayur-sayuran. Menu ini merupakan pilihan yang tepat karena sayur tetap mengandung karbohidrat namun tidak dalam jumlah besar. Dengan mengonsumsi sayur di malam hari, artinya kita tidak akan menimbun terlalu banyak karbohidrat ketika tidur. Rasulullah SAW juga tidak pernah langsung tidur selepas makan malam. Beliau selalu beraktivitas terlebih dahulu sehingga makanan yang beliau makan tersebut telah dimanfaatkan sebagai energi.

Jika dilihat dari kebiasaan Rasulullah SAW di atas, akan kita dapati bahwa interval waktu antarmakan sangat sesuai untuk keadaan tubuh kita. Ketika perut sudah mulai lapar, jam makan berikutnya pun tiba. Antara ba’da subuh, dhuha, menjelang sore, dan malam hari tentu sangat cukup bagi tubuh untuk mendapatkan sumber energi.

Waktu makan dengan jarak yang singkat tersebut didukung pula dengan pemilihan menu yang tepat. Pemilihan makanan ini disesuaikan dengan aktivitas yang akan dilakukan sehingga seluruh makanan akan dimanfaatkan secara tepat. Itulah mengapa Rasulullah SAW memilih menu yang berbeda-beda untuk setiap waktu makannya.

Seperti yang dituturkan oleh Aisyah r.a. dalam sebuah kisah. Setelah Rasulullah SAW wafat, suatu ketika para sahabat mengunjungi Aisyah r.a. Sahabat-sahabat tersebut saling bercerita tentang menu makanan yang mulai berkembang pesat. Mendengar hal itu, Aisyah r.a. menangis. Beliau berkata, “Dahulu Rasulullah SAW tidak pernah mengenyangkan dua jenis makanan. Ketika sudah kenyang dengan roti, beliau tidak akan makan kurma, dan ketika sudah kenyang dengan kurma, beliau tidak akan makan roti”. Ternyata sikap Rasulullah SAW ini didukung oleh ahli gizi. Penelitian membuktikan bahwa berkumpulnya berjenis-jenis makanan dalam perut telah melahirkan bermacam-macam penyakit.

Dari hadits tersebut kita dapat belajar bahwa ketika Rasulullah SAW telah kenyang dengan suatu jenis makanan, maka beliau tidak menambah makanan jenis lain. Artinya, ketika kita sudah kenyang dengan makanan utama, tentunya kita tidak perlu jajan untuk menambah makanan jenis lain.

Untuk menyiasati keinginan jajan itu, kita bisa meneladani sikap Rasulullah SAW yang mengatur waktu makannya dengan interval singkat. Dengan interval singkat dan pemilihan makanan tepat, tubuh pun tak akan kelaparan dan selalu sehat.


Wednesday, 25 April 2012

Gizi Pada Geriatri

22:15 0 Comments

dr. Kusumadewi

Yang sering orang tanyakan ketika berhadapan dengan gizi pada geriatric adalah “Apa pantangan untuk orang geriatric?”

Padahal yang benar adalah:
-       Tidak ada pantangan apapun dalam gizi geriatric
-       Justru geriatri tetap harus butuh makanan dengan gizi seimbang
-       Yang harus diperhatikan adalah porsi/jumlah makanannya. Mengapa? Karena kebutuhan gizi berbeda-beda sesuai dengan kelompok umurnya.

Kunci dari mengatur gizi pada geriatric adalah geriatric memiliki karakteristik khusus yaitu telah mengalami perubahan fisiologis.

Beberapa perubahan fisiologis pada geriatric yaitu:
a.    Massa otot telah berkurang. Tetapi meskipun massa ototnya berkurang, lingkar paha/lingkar lengannya berukuran sama. Mengapa? Karena massa otot itu diganti dengan jaringan lemak.
b.    Hipertensi
Hal ini dikarenakan elastisitas pembuluh darah sudah berkurang.
c.     Sistem gastrointestinal banyak berubah, mulai dari gigi ompong, gerakan peristaltic menurun sehingga pengosongan lambung menjadi lama. Akibatnya, terjadi konstipasi.
d.    Fungsi ginjal menurun sampai dengan 50%.
e.     Anoreksi (tidak mau makan). Dipicu karena produksi saliva yang menurun, mulut kering, sehingga tidak nyaman untuk makan

Pada geriatric, BMR-nya menurun 20-30%. Artinya, kebutuhan kalorinya berkurang. Jika geriatric tetap diberikan makanan dengan porsi yang sama dengan dewasa, tidak menutup kemungkinan akan terjadi obesitas pada geriatric.

Seseorang dikatakan geriatric berdasarkan beberapa kriteria:
-       Umur kronologis. Contohnya di Indonesia ditetapkan umur 60 tahun. Tetapi belum tentu di Afrika atau tempat lain juga sama.
-       Perubahan fungsi sosial. Misal, ketika sudah mulai pensiun.
-       Penurunan fungsi/kemampuan

Karena kebutuhan kalori berkurang, maka asupan makanannya pun dikurangi. Yang dikurangi adalah makronutriennya.

Pada kasus khusus misalkan pada keadaan sakit, infeksi, atau recovery, maka protein tetap dipertahankan.
Tetapi harus dilihat pula kemampuan dari ginjalnya. Jika terlalu banyak konsumsi protein sedangkan fungsi ginjal sudah menurun, maka akan ada banyak penimbunan urea yang akan meracuni tubuh.

KARBOHIDRAT
Karbohidrat komplek mulai dikurangi sedikit demi sedikit. Misalkan beras, gandum, jagung, sagu.
Hal ini dikarenakan karbohidrat komplek jenis di atas memiliki indeks glikemik tinggi. Akibatnya akan menyulitkan pancreas.
Karbohidrat kompleks yang dianjurkan adalah sayur dan buah.
Intinya, menganjurkan untuk memilih karbohidrat kompleks yang baik dan menurunkan gula (IG).

Pada geriatric terdapat masalah dengan rasa. Soalnya papil lidahnya sudah banyak yang mengalami atrofi, khususnya di rasa manis dan asin.
Solusinya?
Rasa manis bisa diatasi dengan madu. Kenapa? Soalnya madu itu manisnya kompleks dan tidak terlalu berbahaya dibandingkan gula pasir.
Mungkin bisa juga dengan gula alami.
Atau dengan menambahkan buah di dalam minuman (untuk memberikan rasa manis yang alami).

VITAMIN dan MINERAL
Asupan vitamin dan mineral alami harus tetap dijaga.
Geriatri sangat retan terkena dehidrasi. Kenapa? Karena sensitifitas terhadap rasa hausnya menurun. Jadi ketika haus, tidak akan merasa. Akibatnya akan malas minum.

Vitamin dan mineral bisa diperoleh dari buah.
Buah yang dipilih adalah buah yang mudah dikunyah. Padahal, geriatric punya masalah dengan gigi. Maka, buah boleh dihaluskan.
Ingat, dihaluskan artinya buah dicacah kecil-kecil, bukan diblander atau dibuat juice. Mengapa? Karena kalau dibuat jus, kemungkinan untuk menambahkan gula cukup tinggi.

Pilih juga buah dengan serat tinggi. Misalnya pisang apel, pear.
Jika buah dan sayur masih bisa diberikan (sekalipun itu dengan cara dicacah/dipotong hingga kecil), sebisa mungkin tidak memberikan suplemen vitamin dan mineral.

LEMAK
Lemak memang dipantang, tetapi bukan berarti tidak boleh secara absolute. Ingat, kunci utama gizi adalah memberikan semua jenis nutrient denga kadar yang seimbang. Jadi, lemak tetap diberikan.

Daging boleh diberikan, tetapi daging yang baik.
Ayam boleh diberikan, tetapi di bagian dagingnya, misal di bagian dada. Dan bukan diberikan yang bagian kulit.
Ikan boleh diberikan.

Yang harus diingat yaitu untuk pasien cardiovascular tidak boleh makan-makanan yang asin.
Artinya, dalam memberikan gizi memang harus diperhatikan juga cara memasaknya.

PROTEIN
Protein tetap penting untuk diberikan, namun harus memperhatikan kondisi ginjalnya.
Pada penderita gagal ginjal, hanya bisa menerima protein <2g. (Padahal, ini tak ada apa-apanya, seakan Cuma menjilat-jilat protein saja).
Jadi, yang penting adalah trik memasaknya.

Protein boleh tetap diberikan tetapi cara masaknya dengan dimasak/dikukus dengan garam rendah.

Usahakan mengurangi cara memasak digoreng. Sekalipun digoreng, bisa dengan menggunakan minyak sayur.

Pengecualian terjadi apabila ada pantang yang memang tidak boleh dikonsumsi.
Contohnya pada DM: ada pantangan nasi, kentang, pasta, kopi.

Intinya, dalam menentukan gizi pada geriatric yang harus diperhatikan adalah
-       Mengurangi total energy
-       Mengenali kebutuhan
-       Mengenali kesulitannya
(Misalnya abdominal discomfort, lemak bawah kulit, kehilangan masa otot)

Pemeriksaan terkait gizi yang dianjurkan untuk geriatric antara lain: cek kolesterol, gula darah, tensi, dll

Dalam menangani pasien yang penting adalah memberikan edukasi kepada keluarga tentang:
-       pentingnya tetap memberikan gizi seimbang
-       pintar-pintar mencari variasi makanan pengganti
-       memperhatikan cara memasak


Saturday, 31 March 2012

Obsesi Ambisi

19:55 0 Comments
Memiliki keinginan adalah sifat dasar seorang manusia. Tetapi mewujudkan keinginan dengan penuh ambisi, hanya segelintir orang yang melakukannya. Tak sekedar berambisi saja, beberapa bahkan sampai obsesif dengan keinginanannya. Sebagian berhasil meraih impian dengan obsesinya, tetapi tak jarang banyak yang justru gagal meski telah mati-matian berjuang.

Ada yang menarik di sini. Kadangkala sesuatu yang sudah diperjuangkan dengan mati-matian nyatanya justru luput dari harapan. Sebaliknya, suatu keinginan yang kurang diperjuangkan justru banyak yang kesampaian. Aneh?

Seorang teman berkata, “Bukankah kalau kita memiliki impian, maka kita harus berpikir positif terhadap impian itu?” Artinya, jika kita terus memikirkan impian tersebut, mengapa kita gagal? Tetapi, jika kita berpikir negatif atau tidak terlalu memikirkan impian tersebut, mengapa justru berhasil?

Terlepas dari ini adalah rahasia Allah SWT, kejadian yang cukup unik ini memang pantas dijadikan renungan. Bukan berarti kita menggugat keputusan yang Allah berikan, tetapi kita mengambil pelajaran. Jangan-jangan ada yang salah dengan cara ketika kita mengharapkan impian tersebut.

Saya pernah membaca sebuah quote yang kurang lebih isinya begini, “Punya mimpi, punya rencana, dan pasrah. Karena kekuatan terbesar manusia adalah ketika dia pasrah”. Ada yang menarik dari quote tersebut. Kita boleh saja punya mimpi. Kita bisa saja telah mengatur rencana. Tetapi, apakah kita sudah pasrah?

Pasrah mengindikasikan kita tawakal kepada Allah SWT. Ketika seseorang telah pasrah kepada Allah, artinya dia telah menyerahkan segala urusannya kepada Sang Maha Kuasa. Bayangkan, apa yang terjadi pada sebuah impian kecil jika itu diserahkan pada pemilik kekuasaan tertinggi? Bukankah seakan tidak ada apa-apanya dan sangat tak berarti? Betapa mudah Dia membuat mimpi itu menjadi terwujud. Maka, benarlah kiranya bahwa kekuatan terbesar manusia adalah ketika dia pasrah.

Sering kali manusia merasa dirinya hebat. Ketika memiliki mimpi, tak jarang manusia begitu pongah bahwa impiannya itu pasti bisa menjadi kenyataan. Dia pun lantas memikirkan segala rencana dengan sempurna. Lantas dia percaya bahwa dia pasti akan bisa meraih dengan rencana luar biasa itu. Tetapi, siapa yang menjamin? Dirinya. Dan seberapa pengaruh dirinya dibandingkan Yang Maha Kuasa? Maka, bukankah lebih baik jika tetap pasrah? Karena itu sebagai bukti bahwa diri kita tidak congkak dan berlagak.

Memang benar bahwa ketika kita memiliki sebuah impian, maka kita harus berpikir positif tentangnya. Tentu kita mengingat pula bahwa Allah SWT mengikuti perkiraan hamba-Nya. Jika kita memikirkan bahwa kita insya Allah meraih impiah tersebut, bisa saja Allah SWT akan meridhoi dan mewujudkannya. Tetapi, jika kita saja sudah tidak berpikir positif pada impian kita, bagaimana Allah SWT akan percaya bahwa kita layak menggapai impian itu?

Memang benar bahwa bagaimanapun kita tetap harus berpikir positif. Tetapi, berpikir positif yang bagaimana? Apakah berpikir positif berarti kita harus yakin bahwa kita ‘pasti’ mendapatkannya? Tidak. Kita tidak bisa memastikan itu. Berpikir positif yang dimaksudkan adalah berpikir positif bahwa Allah akan memberikan yang terbaik sesuai kebutuhan kita.

Mungkin kita memang ingin impian itu. Mungkin kita sudah menyiapkan rencana hebat demi impian itu. Tetapi, jika itu sebenarnya tidak berguna untuk kita, bukankah akan sia-sia? Masalahnya adalah manusia sering kali tak pandai menerima bahwa apa yang ada pada dirinya memang yang dibutuhkannya.

Justru karena kita tak tahu apa yang akan kita capai, maka kita hendaknya bersungguh-sungguh dalam segala hal. Ambisi yang harus ditunjukkan bukanlah obsesi untuk meraih impian itu, tetapi obsesi untuk melakukan yang terbaik dalam impian tersebut. Sekilas memang terlihat sama, tetapi sedikit berbeda.

Obsesi yang pertama hanya memikirkan menang dan kalah. Jika tidak teraih, maka kalah. Demikian sebaliknya. Tetapi obsesi yang kedua lebih menghargai proses. Asal sudah memberikan yang terbaik, maka itulah yang terbaik. Jika menang, maka itu terbaik. Jika kalah, itu pasti juga yang lebih baik.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa obsesi dan ambisi seseorang dalam meraih impian haruslah dibarengi dengan kepasrahan. Pasrah bukan berarti berpikir negatif. Pasrah justru amalan berpikir positif dalam tingkatan paling tinggi. Mengapa begitu? Karena kita berani berpikir bahwa Allah SWT akan turut andil menentukan yang terbaik bagi kita. Luar biasa! Sungguh pikiran positif yang tak akan ada tandingannya.