Follow Us @soratemplates

Wednesday, 13 June 2012

Pengantar Traumatologi

05:47 0 Comments


dr. Bintang, Sp.OT

Trimordial death distribution
-       Puncak 1: kalo pasien datang, dalam beberapa detik mati karena traumanya hebat.
Kalo RS-nya fasilitasnya ga lengkap, ga akan bisa menyelamatkan. Pasien mati, tapi kematiannya bisa diterima. Artinya, pihak RS ga bisa dituntut karena memang ga punya fasilitasnya.
-       Puncak 2: Kematian masih bisa diprevensi dengan penanganan yang tepat, cepat, akurat.
Jika pasien mati, RS bisa disalahkan karena sebenarnya RS mampu untuk memberikan penanganan yang tepat.
-       Puncak 3: Kematian setelah pasien beberapa hari atau minggu setelah trauma. Maksudnya, traumanya sudah teratasi. Tapi, organ-organ tubuh sudah tidak bisa mengompensasi.
Kalau pasien mati, RS tidak bisa dituntut karena sudah berusaha mengatasi traumanya.

Prinsip penanganan trauma
Penanganan trauma tidak bisa disamakan dengan penanganan penyakit pada umumnya.
-       Ga bisa enak-enakan anamnesis dulu
-       Ga bisa periksa ini itu dulu
-       Kalo di poli, buat DD dulu, tapi di trauma ga butuh itu dulu
Yang penting kita bisa menyelamatkan jiwanya.
So, mindset untuk trauma harus diperbaiki dulu.

Prinsip penanganannya yaitu
1.    Utamakan keselamatan jiwanya dulu
2.    Langsung action, ga usah mikir ini kira-kira kenapa
3.    Ga usah banyak tanya. Talk less do more..

Penyebab utama kematian awal
-       Tersumbatnya air way, entah mulai hidung, bronkus, dll sampe paru.
-       Kelainan bernafas. Kalo yang ini gangguannya di paru-parunya.
-       Kehilangan volume darah.
Tidak selalu perdarahan yang bisa dilihat. Contohnya perdarahan cavum thorak, cavum abdomen, cavum pelvis. Ketiganya tidak terlihat tapi
PS: cavum cranii tidak termasuk, soalnya crania itu rentan banget terhadap penambahan darah sedikit saja.
-       Peningkatan volume intracranial (nyambung sama penjelesan PS di atas)

Penangannya dengan sistem ABCDE (airway, breathing, circulation, disability, exposure)

Trauma dianggap sebagai sebuah penyakit. Hostnya adalah penderitanya dan vectornya adala kendaraan bermotor, senjata, dll.

Penilaian trauma harus cepat tepat untuk mencegah kematian. Makanya, ada metode initial assesment.
Prinsipnya harus urut juga ABCDE, ga bisa asal-asalan. Kerjanya juga tim, ga bisa sok-sokan ngerjain sendiri.

Preparation prehospital system
Ketika ada trauma harus ada kesiapan yang baik. Trasportasinya harus baik (ambulan yang siap). Di dalam ambulan harus ada pemantauan pelayanan secara periodik. Dan dikirimkan ke RS terdekat tapi fasilitasnya memadai.

Untuk penanganannya juga harus aseptic, minimal banget pake sarung tangan.

TRIAGE
Untuk memilah pasien sesuai kemampuannya.

PRIMARY SURVEY
Tidak membeda-bedakan apakah dia anak-anak, dewasa, atau ibu hamil. Pokoknya semua dicek ABCDE-nya.
Yang diperhatikan kalo geriatric karena udah banyak manifest di organ tubuhnya. Jadi, outcomenya tergantung kondisi tubuh si pasien. Kemungkinan gagalnya bisa lebih banyak.
Misal hipoksia. Kalo anak-anak, masih bisa kompensasi. Tapi kalo geriatric mau kompensasi pernafasan ditingkatkan, bisa-bisa malah cardiac arrest.

Airway
Perhatikan jangan-jangan ada kelainan alat, ketidakmampuan melakukan tindakan, truma di organnya yang ternyata tidak kita deteksi, kehilangan airway yang progresif.
Perhatikan spinal protection. Jangan karena niatnya mau nolong korban, malah jadi ‘membunuh’ korban.

Breathing
Lakukan asses dan oksigenasi, kalo perlu beri ventilasi. Pake intubasi.
Ventilasi maksudnya memberi support tekanan oksigen ke paru-paru.
Sudah dilakukan intubasi, tapi kok ga berhasil-hasil. Oke, pemikiran pertama intubasinya rusak. Tapi misal ga, bisa aja itu pitfalls. Contoh paru-paru kolaps, jadinya ga bisa nerima.
So, penting banget tau tension penumothorak. Soalnya ini memataikan banget dalam hitungan detik.
Circulation
Cek perfusi. Bisa dilihat dari kesadaran, skin color, temperature, pulse rate.
Lhah, kalo kulitnya negro gimana? Cek dengan CFR. Mau negro atau bule, tetep aja CFR bakal keliatan dan bisa dijadikan sebagai cara cek perfusi.
Takikardi tanda hipovolemik syok.
Cara mengatasinya dengan kontrol perdarahan, pengembalian cairan, dan reassess.

Yang perlu diperhatiakn pitfall pada geriatric. Bisa aja karena organnya yang menua, sudah ada hipertensi, takikardi.
Pada atlet. Olahragawan biasanya nadinya rendah. Jadi, ga bisa langsung nentuin kalo dia bradikardi.
Pasien seolah-olah pingsan, padahal dia baru aja pake ‘obat’.
Untuk pengecualian di atas, ga bisa langsung diasses seperti biasa.

Disability
“D” dinilai setelah ABC beres. Artinya, perfusinya harus beres dulu.

Environtment/Exposure
Membuat pasien dalam keadaan terbuka alias ga pake baju. Inget, ijin dulu ke keluarga.
Trus, lihat semua bagian baik depan maupun belakang. Bisa aja depan bagus, tapi ada luka tusuk di bagian belakang.

Resuscitation
Pasang intubasi. Jangan lupa ada yang tetap memegang lehernya.
Lihat juga ada perdarahan yang masih berlangsung ga (termasuk perdarahan yang tidak terlihat). Bisa aja ada ongoing process. Cara ngeceknya, misal pasien syok digrojok trus bagus. Ketika tensinya naik lagi, ‘jebol’ jadi syok lagi.
Reevaluasi
Bagian terakhir dari dokter untuk memastikan pasien aman. Begitu primary survey sudah oke semua, baru bisa dikirim.

SECONDARY SURVEY
  • Mulai dari sini, udah mulai pake paradigma lama. Mulai anamnesis lengkap.
  • Mulai lakukan pemeriksaan fisik lengkap dari kepala sampe ujung kaki semaksimal mungkin.
  • Cek tiap lubang. Misal perdarahan telinga, hidung, mulut, sampe kemaluan, anus. (So, jangan lupa sedia handscoen)
Misal setela rectal touché ada darah, jangan-jangan ada trauma uretra posterior atau buli-buli.
Ujung kemaluan ada darah, mungkin ada trauma di uretra posterior.
  • Cek GCS. Ingat, ga boleh ketika pasien dalam keadaan syok. Jadi asses GCS setelah ABCnya baik.
Cek pupil juga.

Daftar pertanyaan saat secondary survey
Singkatannya AMPEL (Alergi, medication, past illness, last meal, events/environtment).
Kenapa penting? Bisa aja pasien minum aspirin, jadinya perdarahannya hebat.
Misal pasien sakit jantung dan emang dibuat bradikardi. So, bukan berarti karena emang bradikardi.
Misal pasien makan buah bit, warnanya merah. Kalo muntah, seakan-akan muntah darah. Atau makan buah juwet.
Tanya juga environtment. Misal kecelakaan di SGM sama di sungai, berarti kontaminannya berbeda.


Head
Pitfalls di secondary survey.
Pasien tidak sadar. Artinya, pasien ga bisa mengeluh (ada kelaianan apa yang dia rasakan). Kalo keadaan ini, dokter jadi ‘sedikit’ kehilangan kesempatan untuk mendapatkan diagnosis tepat.

ADJUNCT PRIMARY SURVEY
Sebagai peralihan dari primer ke sekunder. ABC simultan dipasang untuk tau kondisi sebenarnya.
Maksudnya A sama B berkaitan dengan pernafasan, cekya dengan oximeter.
C berhubungan dengan jantung. Cek dengan EKG.
C juga berhubungan dengan sirkulasi (hubungannya dengan ginjal). So, cek urin.

Adjunct ini dilakukan setelah pasien stabil (PS: stabil belum tentu baik). Trus, kita berhak untuk minta pemeriksaan ini itu.
Misal minta foto. Ada 3 foto yang diperbolehkan dalam kaitannya dengan trauma:
-       Foto cervical lateral
-       Foto thorak AP
-       Foto pelvis AP
Bisa minta USG, DPL
Foto wajib adalah 3 tadi. Tapi bisa juga ditambah sesuai dengan keperluan. Misal tangan bengkok, angulasi, paha bengkak hebat, dll.

Perpindahan ke adjunct ini tidak boleh ‘menyimpan’ pasien lama-lama.
Misal, ada open fraktur, trus dijahit dulu. (GA BOLEH). Tapi harus segera dirujuk. Kenapa? Soalnya ngejar golden period.
Selama mengirim pasien, harus reresusitasi dan reevaluasi.

Maxillofacial
Misal ada krpitasi di wajah.
Perhatikan pitfallsnya yaitu obstruksi saluran napas karena hidung tertekan.
Kalo pasien sadar, bisa kompensasi dengan pernafasan lewat mulut. Kalo ga sadar, lakukan needle cricotiroidektomi. Bisa pake jarum atau bolpen.

Sercival spine
Kalo pasien sadar, bisa lebih jelas tahu dimana letak sakitnya (pasien disuruh mengatakan jika terasa sakit).
Persepsikan semua rasa nyeri atau apapun di spine dianggap memang kelainan, sampe dicek beneran oleh ahli dan alat memadai.
Yang paling gampang, cek juga reflek fisiologis dan reflek patoogis.

Servical
Kalo ada perubahan kesadaran dalam tingkat apapun (pingsan, dll) dianggap sebagai ada trauma servikal. So, harus diproteksi. Kenapa? Dalam keadaan trauma, kepala dan servik akan mendapat tekanan yang sama (entah pas jatuh, atau ngapain). Jadi meski di kepala keliatan trauma tapi di lehernya ga keliatan, tetep dianggap kalo lehernya juga bermasalah.

Misal ada luka tusuk, biarkan tetap tertusuk. Kalo diambil, bisa jadi justru ada perdarahan hebat. Baru bisa diambil kalo udah siap. Soalnya, kalo langsung ditarik, akan drop.

Abdomen
Termasuk organ yang sangat sulit diperiksa kalo ga jeli. Bisa saja seluruh lapang abdomen terasa sakit semua. Tetap anggap sebagai sakit. Meskipun kadang itu pikosomatis.
Inget urutannya: inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi.
Misal yang kena organ padat, akan terasa nyeir aja.
Kalo ada defans muskuler, berarti ada rangsangan ke peritonitis.

Muskuloskeletal
Lihat ada nyeri, deformitas.
Cek dengan foto, lebar simfisis, dll
Pitfalls: Missed fraktur biasanya di daerah sendi. Soalnya sulit untuk mendeteksi. Caranya, lihat aja ada hematom ga. Misal ada hematom di sekitar persendian, anggap saja sebagai fraktur sendi.

CNS
Cegah secondary brain injury. Maksudnya, suatu akibat karena keterlambatan atau karena kelainan itu sendiri.
Misal, ada hipoksia ga ditangani, akibatnya hipoksia otak itu sendiri. Kalo hipoksia ga ditangani, bisa jadi atrofi.

Untuk pasien dengan penuruan kesadaran, untuk mengurang nyeri jangan gunakan morfin atau kalium. Soalnya kita pingin dapat kesempatan untuk mendapat diagnosis tepat kalo pasien sadar.

Yang penting lagi, jadi dokter yang teliti. Apapun yang ditemukan harus dicatat. Fungsinya untuk bukti kalau ada apa-apa.


 

Thursday, 7 June 2012

Tulang Rusuk Tak Kan Keliru

05:00 2 Comments

Ada cerita menarik ketika saya mengelola sebuah majalah keluarga. Suatu ketika di rubrik konsultasi keluarga, ada seorang ikhwan yang melayangkan SMS konsultasi. Dia menyampaikan dilemma hatinya karena sudah memiliki pekerjaan tetap namun belum memiliki keberanian untuk menikah. Sebagai seorang redaktur, saya pun hanya menyampaikan pertanyaan tersebut pada kontributor dan mengetik jawabannya begitu tersedia. Yup, pekerjaan saya selesai sampai di sini.
Ternyata saya keliru. Ketika akhirnya majalah edisi tersebut terbit, ada seorang pembaca yang menghubungi redaksi. Apa gerangan? Ternyata dia adalah seorang akhwat yang hendak menyalonkan diri melamar untuk ikhwan yang bertanya di rubrik konsultasi tersebut.
Subhanallah… Bahkan saya sama sekali tidak menyangka bagaimana majalah yang kami kelola bisa menjadi ajang mencari jodoh untuk para pembaca. Tetapi saya kemudian tersadar bahwa meski lewat majalah atau tidak, kalau memang sudah jodoh pasti akan bertemu.
Ya, tulang rusuk memang tak akan keliru. Jika keliru, pasti akan terasa sakit. Nyeri, ngilu. Ibaratnya seperti teori lock and key di pelajaran biologi SMA dulu. Gembok A pasti hanya akan bisa dibuka dengan kunci A, tak akan bisa diganti dengan kunci B. Oke, barangkali kunci B bisa saja asal menancap di gembok A. Tapi pada akhirnya gembok tidak akan bisa terbuka.
Itulah hakikatnya pasangan hidup. Mereka juga seperti gembok dan kunci itu. Jikalau memiliki sebuah hubungan, mau dipertahankan seperti apapun tidak akan berhasil jika bukan kunci dari gemboknya. Mau berkelana ke berjuta pria atau wanita sekalipun tak akan berhenti sebelum mendapat kunci dari gemboknya.
Perkaranya adalah bagaimana menemukan kunci yang tepat. Bukankah Allah sudah mengatakan pria baik untuk wanita baik, pria buruk untuk wanita buruk? Kejam, barangkali. Serasa tidak ada kesempatan bagi wanita buruk untuk mendapatkan pria yang lebih baik. Tetapi, bukan itu esensinya. Poin yang diambil justru berusahalah menjadi orang yang baik agar nantinya mendapat pasangan yang baik.
Padahal teori yang baik akan mendapat yang baik, yang buruk mendapat yang buruk, tak selamanya salah. Coba bayangkan, bagaimana mungkin seorang ahli ibadah yang gemar ke masjid akan bersama dengan ahli maksiat yang gemar ke pub. Dari tempat yang akan dikunjungi saja sudah berbeda. Karena gemar di tempat yang berbeda, kesempatan mereka untuk bertemu pun berbeda. Lebih-lebih kesempatan untuk berniat menjadikan pasangan. Maka, benar kiranya jika akhirnya pasangan ahli ibadah itu seorang ahli ibadah pula. Pun sebaliknya. Demikian juga dalam kasus saya, pembaca majalah saya pun berkesempatan mendapat pasangan sesama pembaca pula.
Jika memang waktu dan tempat itula yang akan menentukan, tinggal bagaimana kita mendapatkannya. Di tempat yang tepatkah, di saat yang tepat pulakah? Kita sama-sama tidak tahu. Tetapi selagi itu belum terjadi, berusaha saja menjadi kunci dan gembok yang pas untuk pasangan kita.
Jika suami yang kita harapkan adalah ahli ibadah, siapkan untuk jadi gembok yang ahli ibadah. Jika suami yang kita harapkan adalah orang yang cerdas, siapkan diri pula untuk jadi gembok yang gemar belajar. Demikian sebaliknya. Jika mengharapkan istri yang penyayang, jadilah kunci yang memiliki kelembutan hati dan kasih sayang. Jika mengharapkan istri yang taat, jadilah kunci yang bisa memimpin dengan tepat.
Ya, teori gembok dan kunci memang hanya bisa kita upayakan. Jika ternyata gembok dan kunci yang kita cari belum pas, tenang saja, Allah telah menciptakan tulang rusuk yang tak akan mungkin keliru. Yang pasti akan sama bagusnya, atau bahkan sama buruknya. Naudzubillah…
Karena memang tak ada yang pasti hingga akad selesai terucap. Maka, berusaha sajalah untuk jadi gembok dan kunci yang baik sehingga mendapat pasangan yang baik pula. Insya Allah.. 

Tuesday, 5 June 2012

Cantikmu Wahai Saudariku

07:48 0 Comments
 
Wanita itu diciptakan sebagai makhluk yang cantik. Percaya atau tidak, memang demikian adanya. Terlepas dari cantik itu relatif, semua wanita pasti cantik. Saya semakin merasakannya akhir-akhir ini.

Pernah di kala iseng, mata saya mulai jelalatan tak karuan. Waktu itu saya sedang duduk sendirian di sudut mushola. Saya memandangi teman saya yang sedang ngobrol. Hm…, sungguh sangat cantik. Padahal semula saya tak terlalu memperdulikannya.

Beralih ke orang lain dan saya menemukan bahwa orang itupun menggemaskan. Entah matanya, entah putih kulitnya, entah cara senyumnya, entah hidungnya, entah lemah lembutnya, apapun itu membuat saya mengambil kesimpulan bahwa semua wanita yang saya temui di mushola itu terasa sangat cantik.

Saya jadi teringat ucapan seorang teman. Dia berkomentar ketika melihat seorang teman yang luar biasa cantiknya, “Menurutku yang sesama cewek aja dia cantik, apalagi di mata cowok?”. Saya mengiyakan, dan saya pun buru-buru istigfar.

Ya, memang dijadikan indah di mata kaum pria tentang wanita. Jika di mata wanita saja sudah indah, bagaimana di mata pria yang akan menangkapnya menjadi lebih indah. Jika wanita saja mengagumi sedemikian rupa, bagaimana pria akan mengagumi dengan tergila-gila. Ya, fitnah wajah dari seorang wanita.

Sayangnya, tak banyak wanita yang tahu tentang itu. Satu demi satu justru semakin memoles wajahnya untuk mendapat kecantikan semu. Okelah, dia tidak bermaksud menjadikan wajahnya cantik demi membuat pria tergila-gila. Tetapi, ketika wanita saja mengagumi dirinya yang makin cantik, bagaimana tidak dengan kaum pria. Toh, tanpa make up apapun pada dasarnya wanita tetap cantik. Amati saja wajahnya lekat-lekat, akan kita temu barang satu titik saja dimana ia akan terlihat begitu mempesona.

Saya jadi teringat salah satu artikel dari sebuah majalah. Kurang lebih judulnya, “Cantikmu untuk siapa?”. Ya, wanita memang cantik. Tetapi untuk siapa? Wanita memang perhiasan, tetapi untuk siapa? Tentu bukan dijadikan sebagai model santapan mata-mata kagum entah wanita maupun pria.

Saya bahkan heran jika ada wanita yang marah-marah karena pria jelalatan. Okelah, pria salah karena tidak mengontrol pandangannya. Tapi, apakah wanita tak merasa salah karena memberi sajian pemandangan yang mempesona? Pantas saja jika pria begitu karena wanita bertindak lebih dulu.

Maka, salahkah jika saya berdecak, “Cantikmu, wahai saudariku”. Cantik untuk apa dan cantik untuk siapa.

Mari kita jawab meski dalam hati saja. 


Saturday, 2 June 2012

Pemberi Harapan Palsu

19:22 6 Comments
Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan seorang teman dekat. Awalnya saya hanya bertanya definisi sebuah kata, ujung-ujungnya dia justru membuka obrolan baru, tentang pemberi harapan palsu.

Titel pemberi harapan palsu atau yang biasa disebut PHP rasanya sangat tidak nyaman jika harus melekat pada diri kita. Siapa juga yang bakal suka disebut sebagai orang yang memberi harapan kosong, tanpa bisa dijamin kebenarannya. Nyatanya, disadari atau tidak banyak orang berstatus sebagai PHP.

Kriteria pertama jatuh pada pria yang kanan oke, kiri oke. Pada satu wanita memberi harapan, pada wanita lain demikian pula. Istilahnya, wanita pertama buat simpanan, wanita kedua, ketiga dan seterusnya untuk cadangan. So, pantas jika disebut PHP.

Kriteria kedua bisa juga jatuh karena salah paham belaka. Misalkan seorang wanita memang menganggap semua pria itu sama. Terhadap A bersikap baik, terhadap B demikian pula. Tentu tak ada maksud sedikit pun dalam dirinya untuk memberi secercah harapan. Tapi tidak demikian ceritanya ketika salah satu dari mereka mulai menyukai wanita tersebut. Si A bisa menganggap bahwa wanita tersebut menyukainya pula karena kebaikan hatinya. Salah si A sebenarnya karena kege-eran, tapi bisa menjadi salah wanita pula karena dikira hanya menjadi pemberi harapan palsu.

Hal yang lebih nyata banyak dijumpai pula. Misal, seorang pria yang berkata, “Tunggu aku satu tahun lagi.” Oke, wanita menunggu. Tapi bukan tidak mungkin satu tahun itu akan menjadi sebuah cerita baru. Bisa jadi karena si pria masuk dalam kriteria pertama di atas. Bisa juga karena terlalu banyak benih-benih kebaikan yang disalahartikan hingga memicu skenario berbeda.

Memang pria berhak memilih. Artinya pria berhak memilih memberikan harapan pada siapapun. Tetapi pemilihan ini bukan berarti membuat koleksi wanita sebanyak mungkin hingga nantinya pada hari H tinggal mengundi dari semua wanita yang ada.

Memang wanita berhak menjawab. Artinya wanita berhak menjawab apakah dia menerima atau menolak harapan dari siapapun.Tetapi bukan berarti menerima semuanya sebagai cadangan amunisi pula. Hingga akhirnya membuat pria kelabakan karena merasa mendapatkan harapan.

Yup, antara pemberi harapan palsu dan hak memilih serta hak menjawab. Allah memang maha membolak-balikkan hati. Serahkan saja pada-Nya. Maka tak akan ada harapan yang palsu lagi.