Follow Us @soratemplates

Wednesday, 8 August 2012

Gampang Jual Mahal

04:07 0 Comments

Ketika bertemu dengan seseorang, tak jarang kita sudah menangkap kesan pertama. Ada yang memberikan kesan bahwa orang ini ramah, jutek, menarik, dan sebagainya. Demikian halnya dalam hal cinta. Ada yang bisa memberikan kesan bahwa seseorang itu gampangan, atau sebaliknya orang itu terlalu jual mahal.
Kasus ini kembali lagi pada statement bahwa seseorang sangat mungkin untuk disukai lebih dari satu orang. Dalam menyikapinya, orang tersebut bisa menunjukkan hal yang berbeda-beda. Di sinilah kesan pertama itu bermula.

Ada orang yang demikian baiknya hingga semua rasa kekaguman itu ditanggapi dengan sikap baik pula. Dia sama sekali tidak membedakan perhatian dari siapapun, entah itu orang yang benar-benar suka padanya atau bahkan hanya sekedar interaksi biasa saja. Dia pun menutup mata dan telinga ketika melihat semua perhatian atau kebutuhan itu. Yang ada dalam dirinya adalah bagaimana untuk tetap memperlakukan semua orang dengan sama baiknya. Untuk tipe ini, orang akan dikenal sebagai orang yang baik, bahkan terlalu baik sehingga orang yang suka padanya yang justru berhati-hati untuk tidak salah menafsirkannya.

Ada yang demikian jumawa dengan banyaknya perhatian yang diberikan orang lain padanya. Mungkin dia terlalu bersyukur dengan kebaikan hati para pengagumnya. Prinsipnya bisa dibilang adil sesuai dengan porsinya. Jika perhatian lebih maka balasan pun lebih. Jika tak ada perhatian, maka ia pun tak ada pengharapan. Untuk tipe ini, orang bisa jadi dikenal sebagai orang gampangan. Karena memberikan sesuatu sesuai porsinya, mungkin ia akan mudah memberi perhatian kepada beberapa orang lainnya.

Ada pula yang memberikan tembok tinggi kepada semua pengagumnya. Entah ia benar-benar dikagumi, dicintai, atau bahkan sekedar interaksi biasa, orang ini akan memasang jarak agar tidak mudah dijangkau. Dalam konotasi negatif, orang tipe ini dapat dianggap sebagai orang yang jual mahal.

Dilihat dari sudut pandang pengagum, mereka bisa mengambil langkah setelah kesan pertama itu. Ada yang makin gencar, ada yang memilih mundur. Semua memang tergantung pribadi masing-masing, tetapi dalam semua tipe tersebut, ada banyak kemungkinan bahwa sang pengagum akan mundur.

Pada tipe pertama, orang bisa mundur karena takut hanya diberi harapan palsu semata. Pada kasus kedua, orang mundur karena tak suka orang tersebut ternyata gampangan saja. Pada kasus ketiga, orang mundur karena merasa tak juga mampu meruntuhkan tembok tingginya.

Orang yang disukai ibarat target. Ketika target itu terlalu rendah alias gampang untuk diraih, orang tidak akan termotivasi. Sebaliknya, ketika target itu terlalu tinggi alias mengawang-awang di langit, orang pun bisa putus motivasi karena merasa tak sanggup meraihnya.

Demikian juga diri kita. Jika kita terlalu gampangan berpindah dari satu perhatian ke perhatian lagi, orang akan mundur karena tak termotivasi meraih kita. Jika terlalu jual mahal hingga menolak semua, orang pun akan mundur karena takut terjatuh dan sakit pula.

Ibarat teori kewirausahaan, pasang target tinggi tapi terjangkau karena jika terlalu tinggi akan jatuh saat sakit, maka demikian pula kita. Bagi sang pengagum, pilih saja target yang terjangkau karena tak semua orang dituntut untuk meraih apel tertinggi. Bagi yang dikagumi, jadilah orang pertengahan. Bukan orang gampangan karena kita juga punya harga diri. Bukan pula orang jual mahal karena hanya Allah lah yang pantas menyombongkan diri.


Tuesday, 7 August 2012

Betapa Rindu Hatiku

05:32 4 Comments

Ada rindu yang beradu
Membelenggu meski ragu
Ada rasa yang menyiksa
Merana tapi nyata

Katanya, rindu adalah salah satu tanda cinta. Rindu pada suasana tertentu, rindu pada suatu daerah, atau rindu pada seseorang. Jika kita merindu, maka kita mencinta. Kita cinta pada suasana, daerah, atau orang itu. Sesekali rindu itu menyenangkan. Membawa kita pada kenangan indah masa-masa sebelumnya. Tetapi tak jarang rindu pun terasa menyakitkan, merana, membelenggu.

Rindu tercipta karena ada rasa, sebuah rasa yang membersamai selama interaksi tercipta. Karena tanpa sebuah rasa, proses apapun tak akan mendapat bumbu olahan tambahan. Akhirnya, tak dapat melekat pula dalam kenangan.

Penciptaan kenangan ini dipengaruhi oleh alat indera yang kita gunakan. Semakin banyak indera yang kita pakai, didukung dengan semakin kuat pula rasa yang kita tambahkan, maka makin melekat pula kenangan yang kita miliki. Artinya, suatu saat nanti akan berpotensi pula semakin mendalam rindu yang terasa.

Contoh nyatanya seperti ini. Ketika kita ke bank, kita pasti berinteraksi dengan teller. Kita melihat teller, berbicara, dan mendengarkan teller memberikan instruksi. Tetapi ketika kita keluar dari bank, hampir tidak pernah kita rindu pada teller, bank, atau suasana transaksi dengan teller tersebut. Kenapa? Karena kita tidak membubuhkan rasa dalam kasus ini. Sekalipun ada, maksimal itu adalah rasa terima kasih karena sudah dibantu dalam proses transaksi.

Lain halnya dengan orang atau suasana lain. Misalkan ketika kita berbicara dengan A lantas ada rasa yang kita bubuhkan, bisa jadi pembicaraan dengan A itu akan selalu kita ingat-ingat. Mata kita juga sangat mungkin untuk memperhatikan bagaimana cara A berbicara. Telinga kita pun akan pasang kondisi siap siaga.

Ketika suatu saat nanti kita tidak berinteraksi dengan A lagi, maka kenangan pun akan terputar. Rasa akan ikut bermain. Bagaimana dahulu cara A berbicara, bagaimana suaranya, dan sebagaimana. Maka, rindu itupun menjadi terasa makin menyiksa seiring dengan makan banyaknya interaksi dan rasa yang dilibatkan.

Lalu, bagaimana agar tak ada rindu yang menyiksa?

Karena rindu tercipta berdasarkan interaksi indera dan rasa maka kita kendalikan dua-duanya. Yang pertama jelas dengan mengekang rasa, agar ia tidak tumpah pada saat dan waktu yang tidak semestinya. Cara kedua, dengan meminimalkan indera yang terlibat. Mata, mulut, telinga, apapun itu semua dijaga.

Karena mencegah lebih baik mengobati. Mencegah rindu menyiksa lebih baik daripada mengobati rindu yang membelenggu.

Monday, 6 August 2012

Aku Rela

18:15 0 Comments

Seseorang bebas mencintai orang lain, sayangnya ia belum tentu bebas untuk dicintai. Bukan berarti karena ia sudah memiliki orang lain, tapi karena memang tidak ada rasa yang tertuju padanya. Istilahnya cinta satu arah, jika tidak ingin disebut sebagai bertepuk sebelah tangan.

Keadaan ini tidak bisa kita kendalikan. Mengapa? Karena untuk membuat diri kita dicintai, kita butuh ACC dari perasaan orang lain. Sayangnya, tak semua orang akan rela memberikan ACC untuk mencintai diri kita karena lagi-lagi, tidak menutup kemungkinan satu orang dicintai oleh banyak orang. Artinya, dia memang tidak bisa meng-ACC semuanya.

Salah satu hal yang ‘menyakitkan’ adalah ketika kita mencintai seseorang bersamaan dengan orang yang sangat kita kenal. Taruhlah contoh kita dan sahabat karib kita ‘mengincar’ wanita yang sama. Boleh jadi dalam hal ini kita pintar menutup rapat perasaan kita dan kita tahu bahwa sahabat kita mencintainya pula. Dan yang lebih menyakitkan adalah ketika kita tahu bahwa wanita yang kita incar itu mencintai sahabat kita dan bukan diri kita.

Sebagai makhluk yang mengharap apresiasi, pun orang yang kebutuhannya ingin selalu dipenuhi, tentu kita boleh saja berharap wanita itu akan mengubah perasaannya dan berpaling pada diri kita. Tetapi, apakah kita sudah memikirkan dampak setelahnya?

Pertama, kita bisa dianggap sebagai sahabat yang berkhianat. Anggaplah kita dimintai tolong oleh sahabat kita untuk menjadi perantara dalam proses khitbah dengan wanita tersebut. Tetapi kenyataannya, justru kita yang memuluskan proses khitbah untuk diri kita sendiri.

Boleh jadi hubungan kita dengan wanita tersebut menjadi lancar, tetapi hubungan kita dengan sahabat menjadi renggang. Dan persahabatan yang renggang itu bisa memiliki efek domino merenggangkan persahabatan lainnya. Jika ditimbang-timbang ibarat perdagangan, kita untung mendapat satu wanita, tapi banyak rugi melepas beberapa sahabat lainnya.

Pikirkan pula ada berapa banyak hati yang terlukai. Pertama, jelas kita melukai hati sahabat sendiri. Cintanya kepada sang wanita terpaksa pupus karena telah dimenangkan oleh kita. Kedua, kita mungkin melukai hati sang wanita pula. Mengapa? Bisa jadi awalnya dia lebih memilih sahabat kita, tetapi karena kita yang jauh lebih ‘gantle’ untuk datang lebih dulu, maka kitalah pemenangnya. Padahal dalam proses pergantian rasa dalam diri wanita pastilah ada masa menyakitkan, suatu rasa sakit untuk melepas pria pertama dan mengganti dengan diri kita. Bahkan, bisa jadi diri kita pun terluka. Terluka sesaat karena menyadari bahwa sang wanita sedang berusaha mengganti posisi sahabat kita di hatinya.

Maka benar adanya perintah Rasul untuk tidak mengkhitbah wanita yang sudah dikhitbah oleh orang lain. Karena memang, terlalu banyak rasa yang harus dikorbankan jika hal itu terjadi. Dalam hal ini, wanita memang belum tentu sudah resmi dikhitbah. Namun, mengatur strategi untuk mempertimbangkan apakah wanita tersebut menyukai seseorang dan orang itu juga menyukainya patut menjadi acuan.

Aku rela sakit demi sahabatku. Mungkin kalimatnya memang tidak seekstrim itu. Tetapi, kurang lebih memang demikian adanya. Lebih baik satu hati yang teredam, daripada banyak hati yang bergelimpangan.

Aku rela asalkan dia bahagia. Mungkin kalimatnya memang tidak seromantis itu. Tetapi, kurang lebih memang demikian adanya. Keikhlasan kita merelakannya, bisa jadi berbuah pahala karena kita menunjukkan sikap penghambaan yang luar biasa. Bahkan diri kita yang menumbalkan diri sebagai sarana kebahagiaan orang lain bisa pula dibalas dengan pahala.

Masalahnya, sekalipun dibalas pahala, apakah kita rela?


Sunday, 5 August 2012

Bukan Manipulasi

23:17 0 Comments

Kasih sayang itu refleks. Jika kau merasakan kasih sayang, sadarilah bahwa itu benar-benar karena menyayangi, bukan karena manipulasi.

Setiap orang bisa saja merasakan kasih sayang. Seharusnya, kasih sayang adalah bentuk sebuah ketulusan. Namun tak jarang kasih sayang yang dirasakan hanyalah semu semata, sebuah kasih sayang yang dimunculkan dengan tendensi tertentu di baliknya.

Ini bukan bermaksud memilah-milah atau bersikap suudzan dan tidak tahu terima kasih dengan kasih sayang yang sudah diberikan kepada kita. Tetapi, memahami ketulusan kasih sayang dapat menjadi kunci tersendiri pula untuk menentukan sikap, apakah kasih sayang itu berbalas atau justru sebaliknya tertolak.

Sebagai contoh ketika kita sedang mendapatkan sebuah musibah, entah sedang sakit atau ada kerabat yang meninggal. Bisa dipastikan ada beberapa simpati yang diberikan kepada diri kita. Simpati itu merupakan bentuk kasih sayang yang mereka berikan. Namun, kadang kita bisa merasakan mana ucapan simpati yang berasal dari hati, mana yang hanya di bibir.

Tanpa bermaksud tidak tahu terima kasih, simpati tadi bisa saja hanyalah sekedar manipulasi. Sikap seseorang yang semula tak terlalu peduli bisa mendadak peduli karena termanipulasi oleh berita musibah yang menimpa pada diri kita. Mungkin mereka pun menyampaikan benar-benar dari hati, tetapi karena berawal dari manipulasi, rasa itu bisa jadi kurang merasuk dalam diri kita. Berbeda dengan cinta refleks yang benar-benar tulus. Entah ada manipulasi ataupun tidak, ketulusan itu akan tetap terasa dalam jiwa.

Contoh nyata adalah cinta yang disampaikan Rasulullah kepada pengemis buta yang sering menyerapahinya. Beliau setiap hari menyuapi pengemis itu dengan cinta yang refleks tanpa manipulasi apapun. Hingga akhirnya beliau wafat dan peran itu digantikan oleh Abu Bakar. Beliau sama saja menyuapi pengemis itu. Tetapi pengemis itu pun menyadari bahwa Abu Bakar bukanlah orang yang biasa datang menyuapinya.

Cerita di atas menjadi bukti. Tentu saja Abu Bakar pasti menyuapi pengemis itu dengan kasih sayang. Tetapi, kasih sayang Abu Bakar muncul karena manipulasi ingin berbuat seperti Rasulullah. Beliau belum bisa memberikan segenap cinta dengan ketulusan refleks yang murni dari Rasulullah Shalalallahu ‘alaihi wassalam. Dan pengemis itu merasakannya. Ia mampu membedakan mana cinta yang refleks dan mana cinta yang bermula dari manipulasi.

Begitu pula dalam cinta yang kita alami sehari-hari. Kita bisa merasakan mana cinta yang tulus dengan harapan menjaga atau suci menuju surga. Cinta ini akan terasa menentrakam ibarat pengemis yang buta tapi tetap bisa merasakan. Di lain sisi kita juga bisa merasakan mana cinta buatan yang muncul karena manipulasi peristiwa tertentu. Yang bisa jadi cinta ini hanya bersifat insidental dengan tempo sesingkat-singkatnya di dunia, ibarat ucapan ‘semoga cepat sembuh’ di kala kita sedang terbaring tak berdaya.

Maka, kita bisa memilih. Manakah cinta yang akan kita ambil. Cinta abadi yang suci atau cinta sesaat karena manipulasi.

Friday, 3 August 2012

Di Balik Pria Sukses

09:30 0 Comments

Di balik pria sukses, ada wanita luar biasa
Di balik pria sukses, ada mantan yang kecewa

Statement pertama pasti sudah banyak yang tahu, sedangkan statement kedua baru saya kenal dari seorang teman beberapa waktu yang lalu. Salahkah statement itu? Tidak. Keduanya benar dan sudah terbukti.

Kita tidak sedang memperbincangkan pria sukses, tetapi ‘di balik’ pria sukses. Ada dua kategori di sana, apakah ia wanita yang hebat, atau seorang mantan yang akhirnya kecewa. Perbedaan kedua kategori itu terlihat dari sikapnya, mulai dari integritas, kesabaran, kesetiaan, pengorbanan, dan entah berapa kata baik lainnya.

Kehidupan manusia memang tidak selamanya berjalan mulus. Hidup lebih tepat jika dikatakan sebagai roda yang berputar. Ada kalanya bebas di atas, ada masanya tertindas di bawah. Bisa jadi seorang wanita mengenal pria saat masa kejayaannya. Tetapi bukan hal mustahil dalam perjalanannya, pria tersebut jatuh dan terpuruk. Maka, keputusan ada di tangan wanita. Apakah ia pergi atau tetap mendampingi?

Ada banyak kasus terkait hal ini. Contoh utama adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Bagaimana Sang Rasul yang dijuluki Al-Amin dan mendapat kepercayaan dari masyarakat tiba-tiba begitu dibenci karena menyerukan agama Islam. Apa yang dilakukan Khadijah? Beliau mendukungnya. Kalau Bunda Khadijah sang wanita kaya dan terhormat kala itu malu karena suaminya begitu ‘tertolak’, boleh jadi Khadijah pun memilih pergi. Tapi beliau tidak melakukannya. Beliau bahkan orang pertama yang mengamini apa yang disampaikan Rasul. Dan nyatanya? Terlepas dari qodarullah, Rasulullah pun berhasil dan sukses menyebarkan agama Islam.

Itulah Bunda Khadijah, seorang wanita yang luar biasa, bukan wanita yang kecewa. Beliau memiliki integritas yang tinggi, pengorbanan yang luar biasa, kesetiaan yang tak tertandingi. Dengan kekayaannya, beliau tidak memilih pergi, tetapi justru menyerahkan untuk membantu dakwah suami. Dengan kemuliaanya, beliau tidak mencari sosok yang lebih terhormat di mata masyarakat, tetapi justru tetap setia mendampingi.

Mengapa beliau bisa sedemikian tangguh? Di mana letak ego wanita yang sering dianggap materialistis? Satu kuncinya, yaitu keimanan dan penghambaan yang tinggi pada Allah Ta’ala.

Seorang wanita selayaknya memahami kodrat dan kewajibannya. Dalam kondisi apapun, seorang istri dituntut mendampingi suami untuk melewati masa-masa sulit bersama. Dasarnya satu, iman dan penghambaan. Karena dengan keimanannya, dia pasti paham bahwa ini adalah ujian Allah baginya. Dan dengan penghambaannya maka ia akan tetap berteguh dan pasrah serta tawakal untuk melaluinya. Di sinilah muncul sikap intergritas, pengorbanan, kesetiaan, dan berjuta kata baik lainnya.

Hingga akhirnya masalah itu selesai dan roda terus berputar, maka keduanya akan kembali lagi berdiri bersama di puncak. Orang mungkin sudah lupa dengan masa terpuruk mereka. Sebagian besar justru mungkin hanya akan melihat betapa pria itu sangat sukses dan betapa wanita itu sungguh luar biasa.

Dan bagaimana dengan wanita yang semula memilih pergi? Mungkin dia hanya bisa menggigit jari melihat pria-nya dulu akhirnya meraih sukses kembali. Ketika pergi, dia bisa tertawa lega bebas dari masalah suaminya. Tapi pada akhirnya mungkin ia menangis karena tak sabar menunggu masa sukses selanjutnya.

Maka, tinggal kita pilih. Mau menjadi lakon yang tertawa di akhir atau ‘pecundang’ yang tertawa di tengah? Mau menjadi wanita luar biasa atau mantan yang kecewa?

Thursday, 2 August 2012

Debar Jantungku

10:14 2 Comments
Apa tanda jatuh cinta? Titik Puspa berkat, “Jatuh cinta berjuta rasanya, tiap hari tiap malam terbayang wajahnya”. Ranchodas dalam film 3 idoat punya pendapat berbeda, “Jatuh cinta itu ketika bumi berputar melambat, ada hembusan angin..” dan seterusnya. Apapun itu tanda jatuh cinta, ada sebuah tanda yang biasanya mengikuti setiap rasa, yaitu debaran jantung yang tidak terkira.

Ketika seseorang menyukai orang lain, bukan tidak mungkin jantungnya akan berdebar hebat ketika bersinggungan dengan orang tersebut. Seorang teman selalu menulis status ‘smile’ ketika ada tanda hijau melingkar di profile picture fb orang yang disukainya. Teman yang lain buru-buru mengambil stetoskop untuk mengecek detak jantungnya begitu tahu orang yang didamba mengirimkan SMS padanya. Ada pula yang begitu berdegup jantungnya ketika melihat atau mendengar orang yang dipuja sedang berbicara. Masih banyak lagi contoh lainnya yang intinya menggambarkan bahwa jantung berdetak tak beraturan dan lebih cepat daripada biasanya ketika berinteraksi dengan orang yang disuka.

Dalam istilah kedokteran, detak jantung yang tidak beraturan disebut aritmia. Ya, tidak sesuai ritme. Detakan jantung seperti ini ternyata memberi dampak yang tidak bisa dianggap sepele. Terbukti aritmia menjadi penyebab terbesar terjadinya henti jantung atau istilah medisnya cardiac arrest. Wajar saja, karena tidak berirama, maka kerja jantung pun tidak beraturan. Karena tidak beraturan, maka matilah jantung itu.

Ketika jantung mati, kemungkinan besar akan mati pula organ lainnya. Darah tak bisa mengalir. Otak kekurangan darah dan glukosa hingga tak bisa bekerja, pun organ-organ vital lainnya. Maka, matilah jasad itu secara nyata.

Demikian pula kaitannya dalam hal cinta. Ketika hati berdegup tak karuan karena orang yang dicintai, bisa jadi ia pun akan mengalami hati yang mati. Tentu bukan hati yang mati dipandang dari sisi medis, tapi dlihat dengan pendekatan yang lain.

Seperti kata Titik Puspa, ketika setiap hari yang terbayang hanya wajahnya, maka hati pun demikian pula. Ketika berinteraksi, perhatian pun terfokus padanya. Bisa jadi, ia lantas melupakan hal lainnya. Apakah hal lain yang terlupakan itu? Bisa jadi ia lupa makan, lupa tidur. Bukankah banyak orang jatuh cinta dengan kasus demikian? Bahkan dalam contoh yang mungkin lebih ekstrem, bisa jadi dia akan lupa Tuhannya, lupa kewajibannya.

Di sinilah kondisi di mana ia telah mengalami hati yang mati. Kematian yang terjadi karena terlalu banyak debar-debar rasa tak karuan yang diselinapkan ke dalam hati. Dan ketika hati sudah mati, bukan mustahil organ lain pun ikut mati. Otak menjadi tumpul untuk berpikir lebih rasional. Mata menjadi buta untuk memandang dengan senyata-nyatanya. Istilah orang, rasa itu telah berubah menjadi cinta buta atau cinta mati.

Namanya saja cinta mati, bisa diartikan cinta yang membuat diri ini mati. Persis seperti orang cardiac arrest yang meninggal dan akhirnya dikubur. Apakah hati juga akan mati dan akhirnya terkubur? Naudzubillah..

Maka, hati-hati membawa hati..


Wednesday, 1 August 2012

Bertepuk Sebelah Tangan

22:08 0 Comments

Ketika cinta bertepuk sebelah tangan, mungkin akan terasa menyakitkan. Bisa jadi seseorang yang tertolak itu akan mengumpat keras. Atau mungkin belum benar-benar tertolak, tetapi orang yang dijatuhi cinta sama sekali tidak menyadarinya.

Bukan tidak jarang seseorang mengirimkan sinyal-sinyal tertentu kepada orang lain. Entah itu dipandang dari sisi syar’i ataupun tidak. Tapi sinyal dalam bentuk apapun bisa jadi tidak segera terlacak. Ada orang tertentu yang sangat peka (kalau tidak mau dibilang ge-er), tetapi ada juga yang sangat tidak sensitif (kalau tidak mau dibilang bebal).

Jika pihak yang tertolak berpikir positif, dia bisa beranggapan bahwa orang itu pastilah pandai mengelola hatinya. Pintar menjaga sikap, menjaga rasa. Tapi, jika sang tertolak tidak terima dan berpikir negatif, bisa jadi dia menganggap bahwa orang itu sangatlah angkuh, terlalu sombong untuk sekedar peduli dengan sang tertolak.

Dilihat dari sudut pandang penolak, bisa jadi dia memang tidak merasakan sinyal-sinyal itu. Ibaratnya gelombang radio. Ketika sudah disetel chanel A, maka walaupun sinyal B juga sampai ke pasawat radionya, tetap saja tidak akan bisa didengarkan. Mengapa? Karena sudah ada A yang lebih dulu diterima oleh pesawat radio.

Demikian juga dengan hati seseorang. Orang bisa jadi tidak menangkap sinyal dari orang lain karena hatinya sudah terisi dengan sinyal lainnya. Bisa jadi ia sudah bersuami atau sudah beristri sehingga cintanya benar-benar tertujukan pada pasangannya. Jadi walaupun ada sinyal-sinyal lainnya, tak akan mungkin bisa masuk ke hatinya karena sudah tertutup oleh begitu besarnya gelombang cinta pada pasangannya.

Tetapi, bagaimana dengan yang belum menikah? Mengapa tetap saja ada seseorang yang demikian bebal terhadap sinyal yang diberikan?

Pasti tetap ada cinta di hatinya. Perkaranya, untuk siapa? Mungkin dia punya dambaan rahasia. Tapi terlepas dari itu, ada cinta utama yang ia punya. Bisa jadi dia telah mengisi hatinya dengan cinta luar biasa yaitu cinta kepada Tuhannya.

Buah dari cinta yang spesial itu maka ia tak akan berpaling dengan cinta lainnya. Gelombang cintanya pada Sang Pencipta lebih besar daripada sinyal pancaran cinta lainnya. Maka wajar saja jika ia bergeming. Dalam kondisi inilah orang akan terkategorikan sebagai orang yang pintar mengelola hati, menjaga sikap, menjaga rasa.

Tapi, kecintaan kepada Rabb-nya tentunya bukan sebuah cinta yang dianggap angkuh oleh orang lain. Bukan karena cinta buta yang demikian agung lantas orang menjadi sok suci dan benar-benar mengesampingkan cinta lainnya. Mengapa? Karena cinta pada sesame makhluk pun juga tak kalah pentingnya. Bukankah Rasulullah mendambakan ummat yang banyak? Tentu saja itu akan terwujud karena ada cinta antar sesama makhluk-Nya. Bahkan cinta ini menjadi separuh dien yang harus dicari.

Yang terpenting adalah bagaimana membungkus cinta itu. Apakah memang masih saatnya untuk menolak demi cinta yang mulia, atau sudah waktunya menciptakan cinta luhur yang baru dengan melibatkan Allah sebagai pihak ketiga. Jika memang belum saatnya, semoga itu karena menjaga, dan bukan karena keangkuhan semata.