Follow Us @soratemplates

Thursday, 16 August 2012

Jatuh Cinta dan Cinta Dijatuhkan

07:37 0 Comments

Ada sebuah pilihan yang sudah sangat akrab di telinga kita, apakah kau akan menikahi orang yang kau cintai atau mencintai orang yang kau nikahi? Meski sedikit berbeda konteksnya, ada pula tawaran pilihan yang lain, apakah kau akan jatuh cinta atau menjatuhkan cinta?

Dalam konteks yang pertama, cinta dihadirkan dengan sebuah batasan perbedaan. Opsi pertama menunjukkan bahwa sebelum menikah, mereka sudah saling jatuh cinta terlebih dahulu. Maka, atas dasar cinta itulah mereka memberanikan diri melangkah menuju tahap selanjutnya. Rasanya, pilihan tipe ini sudah sangat umum dan banyak yang melakukan.

Opsi kedua dalam konteks pertama mengindikasikan bahwa cinta itu muncul setelah pernikahan. Beberapa orang mengatakan, justru cinta inilah yang lebih baik. Bagaimana mungkin kita berani-beraninya memberikan cinta jika sang penerima belum sah menjadi milik kita. Kurang lebih demikian alasannya.

Namun, sebagian yang lain mengatakan ini cinta yang menyakitkan. Bisa saja pernikahan itu terjadi karena sebuah perjodohan. Barangkali awalnya belum ada cinta, atau justru mungkin terpaksa. Tapi, witing tresno jalaran saka kulina, karena menikah dan selalu bersama, maka muncullah benih-benih rasa cinta itu.

Agaknya, untuk konteks pertama ini semua orang sudah sangat memahami. Sedangkan dalam konteks lainnya, pilihan terjadi justru sebelum ada pernikahan itu. Kurang lebih konteks kedua ini mendukung opsi menikahi orang dicintai. Artinya, bagaimana menemukan cinta itu yang kemudian mengajaknya untuk memasuki jenjang pernikahan.

Opsi pertama adalah jatuh cinta. Adakah yang belum pernah mengalami jatuh cinta? Rasanya tidak mungkin. Maka, demikianlah mekanismenya. Tanpa ada ujung pangkal yang kadang kita pahami, kita mulai mencintai seseorang. Rasa itu muncul dengan sendirinya. Dan dengan rasa itulah, mereka melangkah ke pernikahan.

Opsi kedua, mereka menjatuhkan cinta. Barangkali agak terlalu kasar istilahnya, tetapi memang demikian adanya. Seseorang sejak awal sudah memiliki kriteria-kriteria pasangan yang jauh-jauh hari sudah ditentukan. Lantas mereka mencari orang dengan kriteria tersebut. Hingga akhirnya suatu ketika mereka menemukannya, maka ia pun mulai menjatuhkan cinta padanya. Dan setelah jatuh cinta, barulah mereka melangkah ke pernikahan.

Meskipun keduanya berujung pada mencintai terlebih dahulu sebelum menikahi, tetapi mekanisme berbeda tersebut sedikit banyak menyinggung masalah kriteria. Opsi pertama bisa diartikan menerima pasangan apa adanya, sedangkan opsi kedua parahnya bisa didefinisikan ‘menuntut’ pasangan untuk tetap sesuai dengan kriteria kita.

Mau memilih mekanisme yang mana atau justru menikahi dulu baru mencintai, itu terserah Anda.


Wednesday, 15 August 2012

Legaaa

07:33 0 Comments

Buat teman-teman berumur yang belum juga memiliki pasangan, galau menikah agaknya menjadi topik umum yang tak perlu dirahasiakan lagi. Melihat satu demi satu temannya melepas masa lajang, bukan tak mungkin kadar kegalauan itu meningkat pula. Tetapi jika pada akhirnya mereka telah menikah, barangkali mereka akan tersenyum dan menghela nafas, “Legaaa…”.

Ya, mungkin mereka lega karena kegalauan mereka berakhir. Mungkin mereka lega karena akhirnya mereka laku juga  (hm, lagi-lagi disamakan dengan sebuah barang). Tetapi, sebenarnya ada sebuah kelegaan yang memang pantas untuk dibarengi dengan hembusan nafas. Mereka layak lega karena telah mendapat separuh diennya.

Mencari agama bukanlah hal yang mudah. Memiiki seorang ayah kyai, belum tentu anaknya akan ikut mumpuni. Bahkan tak jarang orang gonta-ganti agama demi mendapatkan kepuasaan di manakah ia merasa nyaman untuk benar-benar menghamba. Dan tanpa basa-basi, Allah Subhanahu wa ta’ala menghadiahkan separuh dien hanya dengan menikah. Bukankah sangat melegakan?

Tetapi masih ada saja orang yang tak bersyukur dengan separuh dien itu. Ada yang protes, “kenapa hanya separuh?” Serakah mungkin. Tetapi, apa jadinya jika ternyata seratus persen dien diperoleh dengan menikah?

Bayangkan jika kita menikah dengan orang yang salah. Naudzubillah. Apa akibatnya jika demikian? Agama kita kemungkinan besar bisa rusak seratus persen pula. Memang jika ternyata orang yang kita pilih adalah orang yang ‘benar’, boleh jadi seratus persen agama itu akan didapatkan. Tetapi, adakah yang bisa menjamin bahwa ia akan benar hingga akhir hayatnya? Sedangkan Allah Subhanahu wa ta’ala sendiri adalah sang maha pembolak-balik hati.

Maka, bersyukur kiranya menikah cukuplah separuh dien saja. Dengan demikian ada separuh dien lagi yang harus diupayakan sendiri-sendiri. Bukan berarti egois atau Allah kejam dan pelit. Tetapi, proses pencarian separuh dien selanjutnya itulah yang dinantikan Allah. Bagaimanapun Allah Subhanahu wa ta’ala menyukai hamba yang selalu menuju-Nya. Jikalau ternyata dien itu cukup hanya dengan menikah saja, apakah masih ada yang akan tetap menuju-Nya? Andai semuanya terpenuhi, bisakah dibayangkan berapa banyak orang tak butuh beribadah lagi?

Padahal sejatinya proses perpaduan itu dilakukan untuk menentukan ke depannya. Maka, bagaimanakah separuh dien yang lainnya itu dicari bersama. Bukan dengan bersantai-santai selepasnya karena merasa aman setidaknya sudah mengantong separuh diennya.

Silakan berteriak lega karena sudah menikah, asal jangan sampai terlena. Karena iblis tak kan berhenti melenakan manusia hingga ajal menutup mata.

A’udzubillahiminassyatihonnirrajim…


Tuesday, 14 August 2012

Baju versi Orang Tua

07:31 0 Comments

Ketika seseorang mengenakan baju, dia bisa merasa nyaman dengan melihat dua sudut pandang. Yang pertama, asal dia suka. Yang kedua, asal orang lain enak melihatnya. Tak jauh berbeda, demikian juga dengan seseorang dan pasangannya. Dia bisa mengambil opsi pertama dengan mengatakan asal dia nyaman. Ada pula yang memilih opsi kedua, asal orang lain enak memandang mereka.

Jikalau mengambil opsi kedua, salah satu sudut pandang orang lain yang begitu berpengaruh adalah pandangan orang tua. Boleh saja orang mengelak, “Yang mau menikah aku atau orang tuaku?”, tetapi tetap saja pandangan orang tua tak bisa dilepas begitu saja.

Alasan yang pertama, jelas orang tua menjadi syarat mutlak untuk mendapat restu. Untuk laki-laki mungkin bisa saja seenaknya ‘kawin lari’ tanpa sebelumnya woro-woro pada orang tuanya. Meskipun kasus itu sangat jarang terjadi. Tetapi bagi wanita, harus ada syarat mutlak restu dari walinya untuk bisa melakukan pernikahan. Artinya, mau tak mau sudut pandang ‘nyaman’ versi orang tua atau wali tetap tak bisa dipungkiri.

Seringkali orang tua membelikan baju yang mutlak harus dipakai oleh anaknya. Terkadang si anak tidak terlalu suka dengan model atau warnanya. Tetapi ketika baju itu disodorkan dan berkali-kali ditanyakan kenapa jarang dipakai, bukan tidak mungkin baju itu akhirnya dipakai pula.

Demikian halnya dalam pasangan. Boleh jadi orang tua menyodorkan satu nama kepada kita. Tentu saja tidak semua anak akan serta merta menganggukkan kepala. Terkadang ada masa anak akan menolak, mendiamkan di ‘lemari’, atau bentuk sikap lainnya. Namun tidak menutup kemungkinan dorongan sisi kepantasan dari sudut pandang orang tua akan membuat nama itu muncul dari kotak persembunyian dan benar-benar akan kita kenakan.

Ini memang bukan jaman Siti Nurbaya lagi yang kental dengan nuansa perjodohan. Mungkin memang tidak seekstrem sebuah perjodohan. Namun, upaya mengenalkan seseorang dengan anaknya boleh jadi kita temui saat ini. Ya, hanya sebatas perkenalan dan selanjutnya terserah pada ‘sengatan listrik’ dari masing-masing anaknya.

Kejadian ini bukan suatu hal kejahatan atau pemaksaan dari orang tua. Lebih-lebih jika dianggap proses perkenalan itu dimaksudkan dengan tujuan tertentu. Tetapi, diakui atau tidak, orang tua sering menjadi orang yang paling tau keadaan atau kebutuhan yang sesuai dengan diri kita. Bagaimana tidak, mereka adalah orang terdekat yang ada sejak pertama kali kita lahir di dunia.

Dengan faktor kedekatan itu pulalah, orang tua barangkali merasa berhak menilai ‘baju’ yang baik untuk anaknya. Entah dalam arti membelikannya secara langsung dan menyodorkan pada anaknya. Atau dengan memberikan penilaian di akhir terhadap baju yang sudah dipilih oleh anaknya.

Dengan mekanisme apapun, penilaian mereka tetap akan ada. Karena hanya dengan penilaian itulah restu itu akan ada, dan dengan restu itulah pernikahan akan terlaksana.

Monday, 13 August 2012

Jika Tiba Saatnya

07:10 0 Comments

Sesuatu harus dilakukan sesuai dengan waktunya. Ibarat sholat, serajin apapun jika terlalu rajin tetap tak sah karena belum masuk waktunya.

Itulah yang kami alami beberapa waktu lalu. Ketika menunaikan ibadah sholat ashar, kami terlalu cepat sekitar 10 menit. Akibatnya, setelah salam ditunaikan, hati justru menjadi gelisah. Dan diulangilah sholat ashar itu.

Barangkali demikian pula dalam hal pernikahan. Bukan berarti pernikahan itu terlalu cepat, lalu gelisah, dan terpaksa diulang. Tetapi, bagaimanakah menentukan waktu untuk pernikahan itu sendiri. Mungkin pernikahan dini memang indah. Tapi, pernikahan dini yang seperti apa? Mungkinkah itu terlalu dini hingga justru berujung gelisah?

Jika dihadapkan pada pertanyaan demikian, yang terpikirkan adalah kriteria kesiapan. Seorang lelaki pernah bertanya kepada sahabat saya yang kala itu baru semester 3, “Apa yang dibutuhkan untuk bisa melakukan suatu pernikahan?” Dan sahabat saya itu menjawab, “ilmu dan maisyah”. Berhubung sang lelaki sudah memiliki maisyah dan ilmu selalu berproses, maka menikahlah mereka.

Kembali ke masalah sholat tadi, semua orang bisa melakukan sholat. Tetapi orang itu harus punya ilmu agar sholatnya sah. Dari ilmu itulah dia akan menghafal bacaan wajib dalam sholat, dengan ilmu itulah ia akan belajar niat ikhlas demi sahnya sholat, dan dengan ilmu itu pula ia akan tahu kapan tiba waktu sholat.

Tetapi ilmu saja tak cukup. Dia juga butuh maisyah, dalam hal ini perlengkapan untuk sholat yang sah. Seorang wanita kadang ragu jika tidak memakai mukena, atau masalah-masalah perlengkapan lainnya.

Barangkali mungkin demikian pula dalam hal menikah. Orang bisa saja sewaktu-waktu menikah. Sejak lahir manusia sudah dibekali nafsu, artinya bisa saja lelaki dan perempuan dipasangkan sejak saat itu. Tetapi kenyataannya tidak demikian.

Orang butuh ilmu untuk menikah dan orang butuh maisyah untuk menikah.

Barangkali ada yang berkata maisyah boleh dicari selama menikah. Ya, itu seratus persen benar. Bahkan menikah itu justru memperlancar rejeki itu sendiri. Namun, pertanggungjawaban nafkah tidak boleh dilupakan. Entah, dengan sudut pandang masing-masing yang memang berbeda-beda.

Dan ilmu juga menjadi kunci. Pernikahan bukan semata-mata bersenang-senang, tetapi membangun sebuah rumah tangga, rumah yang diharapkan menjadi tangga untuk mencapai surga. Pernikahan bukan sekedar bermain-main, tetapi bagaimana bisa mengajak bermain anak-anak yang hadir nantinya. Pernikahan bukan sekedar bersantai-santai, tetapi bagaimana bisa serius mengemban amanah yang satu demi satu bertambah setelahnya.

Perintah sholat bagi Rasul dahulu dianggap mungkin memberatkan umatnya, padahal sejatinya itu hal yang indah. Menikah mungkin dianggap berat, padahal seharusnya menjadi hal indah. Atau sebaliknya, menikah mungkin dalam bayangan indah, tetapi tak selamanya menakjubkan seperti dalam dunia dongeng.

Sekalipun keduanya sama-sama ibadah, barangkali perumpaan waktu sholat dan waktu menikah memang kurang tepat. Namun pertimbangan menentukan waktu apapun kurang lebih tak jauh berbeda. Semuanya harus siap, harus masuk waktu. Sekedar mencoba merenuhi ilmu dan maisyah. Apakah kedinian itu justru terlalu dini hingga berujung gelisah? Wallahua’lam.


Sunday, 12 August 2012

Bukan Barang

17:26 0 Comments

Kami bukan barang, yang bebas diperjualbelikan

Memang kami dimiliki lewat sebuah transaksi, tapi transaksi kami sah dan suci. Kami tidak terbeli hanya dengan seikat bunga atau selembar puisi, tetapi dengan sebuah mahar yang telah kami sepakati. Kami tidak terbeli dengan tawar-menawar seenaknya, tetapi dengan lamaran gentle yang diikuti musyawarah dan istikharah. Dan kami sah terbeli bukan dengan akad “Maukah kau menjadi…”, tetapi dengan ijab “Saya terima nikahnya…”

Memang kami dibeli, tapi kami tak sehina ini. Kami punya harga diri yang dinilai dengan kesungguhan sebuah mahar. Dan itu harga diri dan hak kami. Artinya kami bisa menuntut dan mengembalikan mahar ini, sekalipun kami berharap agar itu tak pernah terjadi. Na’udzubillah…

Kami bukan barang, yang sesuka hati dipesan

Memang kami bisa dipesan, tapi bukan dengan pesan asal-asalan yang tak ada kepastian jaminan. Kami bisa saja dipesan dengan selingkar cincin di sebuah jari, tapi kami tak ada jaminan bahwa mereka tak akan membeli cincin baru lagi. Kami bisa saja dipesan untuk hari, tanggal, dan jam tertentu, tetapi kami tak ada jaminan bahwa mereka tak akan melupakan itu.

Memang kami bisa dipesan dengan sebuah khitbah syar’i, tetapi kami bukan seonggok daging mati. Boleh saja sekarang khitbah dan satu jam lagi menikah. Tetapi, bagaimana jika menikah satu tahun lagi? Lagi-lagi kami tak menjamin bisa berkompromi dengan sang waktu. Bahkan kami tak punya jaminan untuk hidup kami sendiri.

Memang ketika kami sudah dipesan, kami tak berhak dipesan oleh orang lain lagi. Tetapi jika mereka asyik berkelana dan lupa diri, kami khawatir mereka lupa jalan untuk kembali. Kami boleh dipesan, tetapi ada batas waktu yang tak boleh berkepanjangan. Karena setiap pemesanan ada batas waktu, yang jika tak mampu berhak ditanyakan ulang, apakah tetap dipesan atau dibatalkan. Dan lagi-lagi, kami tak punya jaminan bahwa saat itu kami belum basi, alias mati.

Dan jika ternyata dibatalkan, bukan tak mungkin kami akan dipesan orang lain lagi. Bahkan bisa jadi tanpa pesan, tapi langsung beli. Mereka yang langsung memberikan bukti, bukan janji. Dengan prospek nyata sekarang juga, yaitu sebuah ijab qobul yang suci. Sekalipun kami sama-sama tak tahu apakah semenit setelahnya kami belum tentu mati.

Kami bukan barang, yang diciptakan untuk kepentingan delivery
 
Memang kami bisa sah dibeli tanpa kehadiran kami. Selagi ada wali dan saksi, maka sah sudah sebuah transaksi. Tetapi kami tak bisa seenaknya di-delivery. Kami tak bisa menjadi barang yang dibentuk sebagai tebusan melunasi hutang keluarga. Kami tak bisa dipesan sejak usia dini agar kelak menyatukan bisnis orang tua dengan relasi. Kami tak bisa pula diarahkan sedemikian rupa agar layak bersanding dengan putra mahkota demi memuluskan karir politik orang tua. Kami belum tentu bisa.

Karena kami memang bukan barang, tetapi wanita yang punya hati.


Saturday, 11 August 2012

Sudah Dipesan

03:52 0 Comments

Ketika seorang lelaki mencintai seorang wanita, bisa jadi dia akan mencari info tentang wanita tersebut. Dalam proses itu, bukan tidak mungkin dia akan mendapati bahwa wanita tersebut sudah tidak available lagi. Mungkin memang belum dipersunting oleh orang lain, tapi boleh jadi dia sudah ‘dipesan’ oleh orang lain.

Jika lelaki itu tahu diri, mungkin ia akan mundur. Tetapi, kalau lelaki itu keras kepala, bukan hal mustahil dia akan tetap berharap juga.

Ibaratnya seperti transaksi jual beli. Orang memiliki sebuah barang yang akan dijual. Pembeli bisa saja melakukan pre-order dan baru ‘dibentuklah’ barang itu sesuai dengan pesanan sang pembeli. Untuk kasus ini, barang memang hanya bisa menurut sesuai permintaan pembeli karena memang sudah ada ikatan antara penjual pembeli.

Bisa juga barang itu sudah ada, namun hanya sebatas dibooking saja. Seperti halnya membooking rumah makan ketika akan berbuka puasa. Karena takut rumah makan akan penuh dan tak kebagian tempat, maka booking tempatnya dulu saja.

Dipandang dari segi pembeli, harusnya rumah makan yang sudah dibooking murni menjadi hak pembeli. Bahkan penjual akan dianggap tidak bertanggung jawab dan tidak bisa dipercaya jika pada akhirnya tempat yang dibooking itu diserahkan kepada orang lain. Namun, belum tentu hal ini sama dengan apa yang dipikirkan penjual.

Dalam teori produksi, barang yang terlalu disimpan bisa menghambat kelancaran ekonomi. Demikian pula barang itu. Jika terlalu lama disimpan, barang tertentu bisa kadaluarsa. Karena dalam proses pemesanan pun ada jangka waktu, sampai kapan barang itu masih layak disimpan juga dipertimbangkan. Apalagi jika ternyata ada pembeli baru yang lebih berprospek dengan menawarkan keuntungan lebih dan jangka waktu lebih cepat pula. Maka wajar saja jika penjual dengan rela menyerahkan kepada pembeli baru.

Demikian juga dengan wanita. Dia bisa saja tidak tahu bahwa dirinya dijodohkan dengan seorang lelaki. Bahkan secara ekstrem, dia bisa saja sudah dinikahkan oleh walinya dengan seorang laki-laki. Dalam keadaan ini, ia apa akhirnya hanya bisa menurut kepada sang lelaki.

Dalam contoh kedua, seorang wanita bisa saja sudah dibooking tempatnya. Anggaplah proses pembookingan tersebut dengan berkata, “Aku akan menikahimu selepas wisuda”. Wali wanita tersebut boleh saja benar-benar menunggu hingga wisuda. Namun, bisa saja ada lelaki lain yang menemui tanpa perlu proses booking dan langsung transaksi jual beli.

Wali boleh menolak karena menghargai lelaki yang sudah memesan, tetapi wali juga boleh saja menerima. Mengapa? Karena ‘selepas wisuda’ bukanlah harga mati. Bahkan usia 60 tahun pun tetap saja bisa dibilang selepas wisuda. Padahal, wanita tertentu bisa jadi terlanjur ‘kadaluarsa’ jika harus menunggu selama itu.
Mungkin terkesan tidak adil bagi orang yang sudah memesan. Tapi, adakah hal yang pasti di dunia ini? Tidak ada.

Seorang lelaki yang masih berharap bisa saja berkata, “Tak ada yang pasti hingga akad selesai terucap”. Atau bahkan selepas akad pun masih saja ada lelaki keras kepala dengan slogan ‘kutunggu jandamu’ yang berkata, “Tak ada yang pasti hingga ia benar-benar mati”.

Lagi-lagi, ini misteri Illahi.


Friday, 10 August 2012

Long Distance Relationship (LDR)

04:02 0 Comments

Semua orang yang belum menikah memiliki hubungan LDR. Entah LDR dalam dimensi ruang, atau LDR dalam dimensi waktu.
Statement di atas digelontarkan oleh seorang teman di twitter beberapa waktu lalu. Disadari atau tidak, perkara jodoh memang demikian adanya. Bisa saja kita berjarak dengannya dalam hitungan kilometer, tetapi bisa juga waktulah yang memisahkannya.

Kita tidak tahu di manakah jodoh kita saat ini. Mungkin jodoh itu sedang asyik belajar di Jerman, atau ia sedang sibuk bekerja di Kalimantan, sedangkan kita sedang santai membuka-buka internet di sini. Kita benar-benar berjarak dengannya dalam arti sesungguhnya. Maka, tidak salah kiranya jika kita disebut LDR dengannya. Ada sebuah hubungan jarak jauh yang kita sendiri tidak paham seberapa jauh jaraknya. Satu-satunya pertalian hanyalah janji Allah Subhanahu wa ta’ala yang telah Dia tuliskan bersamaan dengan ditiupnya ruh kita.

Kita tidak tahu kapan jodoh itu akan datang. Mungkin jodoh itu ada di samping kita saat ini, atau ada di depan kita saat berinteraksi, tetapi kita tidak mengerti. Akhirnya kita pun tetap berjarak dengannya. Memang bukan jarak sesungguhnya yang diukur dengan satuan meter, tapi jarak waktu yang kita tidak tahu. Termasuk seberapa lama jarak kita dengannya. Maka, tak salah juga jika dikatakan LDR dengannya dalam dimensi waktu.

Jika dipikir dengan logika, mungkin kita tak paham dengan LDR macam ini, baik LDR jarak atau LDR waktu. Sering kita tidak menyangka, bagaimana mungkin kita bisa bertemu dengan Si Jerman yang asyik belajar atau Si Kalimantan yang asyik bekerja. Tetapi, itulah rahasia Allah, menjadikan kita terpisah oleh jarak.

Demikian halnya dengan LDR waktu. Kita juga tak menyangka, bagaimana mungkin kita berjodoh dengan sahabat yang ada di samping kita atau tetangga yang ada di depan rumah kita. Padahal mereka sudah ada di sekeliling kita sejak dulu. Mungkin, orang yang akhirnya melihat kita bersama akan berkomentar, “Kalau akhirnya cuma sama dia, kenapa ga dari dulu-dulu?”. Tetapi, memang itulah rahasia Allah, menjadikan kita terpisah oleh waktu.

Perkara jarak dan waktu, kuncinya adalah menunggu. Pada akhirnya nanti mereka yang jauh secara jarak atau waktu akan menjadi dekat pula. Kilometer demi kilometer akan tereliminasi, waktu demi waktu akan bersinergi, hingga akhirnya menjadi satu dalam dimensi jarak sekaligus waktu.

Tak perlu logika untuk menerka. Yang dibutuhkan hanyalah iman untuk percaya bahwa janji Allah itu pasti. Dan jika saat itu tiba, nikmatilah short distance relationship yang suci.