Follow Us @soratemplates

Monday, 22 October 2012

Bukan Politikus, Melainkan Negarawan

06:02 0 Comments

Ditulis untuk menghadiri pertemuan penerima manfaat beasiswa aktivis BAKTI NUSA

Jika kita melihat tokoh-tokoh dan sosok pemimpin yang bertebaran di Indonesia saat ini, siapakah yang akan kita jumpai? Seorang politikus atau seorang negarawan? Hampir seluruh pemangku jabatan memiliki latar belakang partai politik. Maka, secara tak langsung mereka disebut sebagai politikus. Tetapi apakah kita pasti melihat sosok seorang negarawan dalam diri politikus tersebut? Jawabannya, belum tentu.
Indonesia memiliki begitu banyak partai politik. Masing-masing partai politik memiliki pula kader-kader politikus yang tak terhitung jumlahnya. Rasanya sangat wajar jika Indonesia memiliki begitu banyak politikus. Bahkan serasa tidak ada kesulitan untuk mencetak seorang politikus baru. Masukkan saja dalam partai politik, bentuk, maka jadilah.
Mereka semua adalah politikus, seseorang yang memiliki latar belakang politik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dituliskan bahwa politikus adalah ahli politik, ahli negara, atau orang yang berkecimpung di dunia politik. Seorang politikus jelas orang yang berkecimpung di dunia politik. Seseorang yang berkecimpung di dunia politik wajar jika disebut sebagai ahli politik. Tetapi, apakah benar jika seorang yang ahli politik dapat dikatakan sebagai ahli negara?
Masih dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa ahli negara disebut sebagai negarawan. Seorang negarawan adalah orang yang ahli dalam kenegaraan, ahli dalam menjalankan negara (pemerintahan), atau pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan. Politikus yang setiap hari mengurus negara wajar jika ahli dalam kenegaraan. Politikus yang menduduki jabatan pemerintahan wajar disebut negarawan karena dianggap ahli dalam menjalankan pemerintahan. Tetapi, dalam definisi negarawan yang ketiga disebutkan bahwa seorang negarawan haruslah memiliki suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan. Syarat inilah yang menjadi kunci bahwa semua politikus belum tentu disebut negarawan.
Permasalahannya adalah dengan carut marutnya problematika yang sedang dihadapi Indonesia saat ini, siapakah yang dibutuhkan oleh Indonesia? Apakah Indonesia membutuhkan jutaan politikus atau mengharapkan ribuan negarawan? Dengan definisi politikus dan negarawan di atas, jelas kiranya jika Indonesia lebih membutuhkan seorang negarawan dibandingkan politikus semata.

Visi Memberi Solusi
Politikus hanyalah orang yang memiliki latar belakang politik tetapi belum tentu memiliki visi ke depan atau mau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan. Berhubung embel-embel yang tersemat adalah politikus, maka nuansa politiklah yang melekat pada dirinya. Mulai dari kampanye, pemilu, pelantikan, masa jabatan, dan kemudian lengser. Orientasi yang diusung bukan tak mungkin hanyalah jabatan semata. Maka wajar jika visi yang dikedepankan pun adalah untuk meraih atau mempertahankan jabatan tersebut. Dilihat dari sudut pandang ini, memang seorang politikus tetap memiliki sebuah visi. Tetapi jika visi sebatas jabatan saja dan tidak berpikir ke depan untuk negaranya, maka tak layak rasanya jika politikus tersebut meminta gelar negarawan tersemat dalam dirinya.
Lain halnya dengan negarawan. Sesuai kata dasarnya, negarawan memiliki orientasi terhadap negara. Dia tidak semata-mata memikirkan pemilu untuk meraih jabatan. Seseorang yang memiliki hasrat memikirkan negaranya tak akan terpengaruh dengan keadaan apakah dia memiliki jabatan atau tidak. Pemikiran-pemikirannya tak kan pernah berhenti meskipun terhalang kondisi sebuah kursi.
Atas nama cintanya terhadap bangsa, seorang negarawan akan selalu tanggap dengan isu-isu masalah yang sedang melanda negaranya. Ketanggapan itu muncul karena dorongan dari dalam dirinya yang memang selalu berpikir untuk negaranya. Aksinya bukan sekedar menunjukkan kepedulian akan masalah semata, melainkan lebih dari itu. Seorang negarawan selalu ingin negaranya menjadi lebih baik. Maka, setiap permasalahan yang mendera negaranya akan ia pikirkan dari kacamata solusi.
Negarawan bukanlah orang yang paham masalah negaranya saja. Indonesia tidak butuh orang yang fasih mengumbar masalah. Yang dibutuhkan adalah orang yang tahu permasalahan dan paham pula mengenai solusi mengentaskan permasalahan itu. Maka negarawan yang selalu beriorientasi pada negara bukanlah orang yang berpikir pada masalah bangsa saja, melainkan orang yang berpikir bagaimana menemukan solusi terhadap segala permasalahan yang sedang melanda.
Inilah yang membedakan seorang negarawan dengan politikus. Negarawan akan tetap berpikir negara, sedangkan politikus akan berpikir dalam kacamata politik. Apakah masalah itu akan menghancurkan citra partai politiknya atau tidak. Lagi-lagi, bukan sikap ini yang dibutuhkan oleh Indonesia.

Kewibawaan dan Kebijaksanaan
Definisi lain dari seorang negarawan adalah orang yang memiliki kewibawaan dan kebijaksanaan dalam mengelola masalah. Kewibawaan tersebut tercipta karena seorang negarawan memiliki sebuah karakter yang kuat. Makin kuat karakter seseorang, makin tercetak pula nuansa wibawa dalam dirinya.
Salah satu karakter yang wajib dimiliki olah seorang negarawan adalah integritas. Integritas adalah sebuah kejujuran. Dalam pengertian lain dikatakan bahwa integritas adalah suatu sifat yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan sebuah kewibawaan.
Dipandang dari segi individu, seorang negarawan pastilah memiliki integritas. Ia tak akan bersembunyi di balik kedok apapun. Justru dia akan menampilkan jati dirinya, salah satunya untuk menciptakan citra baik akan negaranya.
Dalam sudut pandang negara pun, seorang negarawan pastilah memiliki integritas bangsa. Tak mungkin seorang negarawan yang selalu berpikir solutif akan masalah bangsanya tidak memikirkan bagaimana agar bangsanya utuh dan selalu bersatu. Atas dasar inilah, seorang negarawan akan mempertimbangkan pula apakah kebijakannya merupakan sebuah kebijaksanaan.
Seorang negarawan akan berpikir ulang jika tindakannya tidak mencerminkan sikap yang bijaksana. Contohnya, jika aksinya jusrtu merugikan sebagian golongan yang justru akan menimbulkan perpecahan bangsa, tentu seorang negarawan akan berpikir ulang untuk menjalankannya. Hal ini karena seorang negarawan berharap keutuhan negaranya semata. Maka, wajar kiranya jika seorang negarawan haruslah memiliki integritas, baik integritas secara individu, maupun integritas bagsa.

Sosok Negarawan Sejati
Di antara arus besar munculnya politikus di Indonesia, atau bahkan di dunia, saat ini sedang dirindukan sosok negarawan sejati. Dilihat dari kriteria visi ke depan, kewibawaan, kebijaksanaan, dan integritas, segelintir orang mulai memenuhi satu demi satu kriteria tersebut. Tetapi jika kita membutuhkan model, tak akan ada model yang lebih agung selain Rasulullah Muhammad SAW.
Rasulullah SAW jelas merupakan seorang sosok yang memiliki integritas tinggi. Kejujuran sudah melekat pada dirinya sejak beliau belia. Terbukti dengan julukan Al-Amin yang diakui oleh para kabilah tanpa pandang dulu apakah ia nantinya beriman atau tidak. Dengan intergritas yang dimiliki ini pulalah, Rasulullah SAW dapat memiliki kebijaksanaan dalam memecahkan perseturuan di antara para suku tersebut. Berkat kebijaksanaan itulah, dengan sendirinya kewibawaan tercetak jelas dalam diri Rasulullah SAW.
Tidak sebatas pada karakter pribadi Rasulullah SAW, beliau juga memikirkan masalah yang kala itu melanda. Keadaan masyarakat yang jahililiyah menggelitik Rasulullah SAW untuk bekhalwat di gua Hiro’. Salah satunya untuk memikirkan masyarakatnya dan tentunya berharap menemukan solusi atas masalah tersebut. Sikap ini sebagai bukti bahwa Rasulullah SAW memiliki visi ke depan untuk mengentaskan masalah masyarakat.
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Rasulullah SAW adalah sosok negarawan sejati. Beliau mampu memimpin masyarakat yang semula terpecah belah menjadi sebuah kesatuan yang utuh dan menjadi negara yang kuat. Sekali lagi ini menjadi bukti bahwa seorang negarawan harus memiliki integritas bangsa.
Bukan menjadi hal asing lagi bahwa negara yang dibangun oleh Rasulullah SAW adalah negara terkuat dan bahkan bisa mengalahkan negara-negara lainnya. Bahkan Michael H Hart dalam bukunya The 100 menempatkan Rasulullah SAW sebagai orang pertama yang memiliki pengaruh besar terhadap dunia dan tidak ada pemimpin yang bisa mengalahkan dirinya.
Oleh karena itu ketika mencari model untuk sosok negarawan sejati, tidak ada pribadi yang lebih sempurna dibandingkan Rasulullah SAW. Maka, salah satu cara untuk menjadi seorang negarawan sejati adalah dengan meneladani sifat, sikap, dan karakter Rasulullah SAW.

Menggagas Negarawan Muda
Menjadi sebuah bahasan penting ketika kembali membayangkan kebutuhan Indonesia akan hadirnya sosok negarawan. Mereka yang menduduki kursi saat ini sudah terlanjur basah tercetak sebagai seorang politikus dan belum tentu sebagai negarawan. Maka, demi mencukupi kebutuhan negarawan itulah hal yang paling penting adalah menciptakan sosok-sosok negarawan untuk Indonesia. Persiapan ini tidak salah lagi layaknya ditujukan kepada para generasi muda, terlebih lagi kepada para mahasiswa. Hal ini dikarenakan mahasiswa digadang-gadang sebagai iron stock alias simpanan yang bermental kuat seperti besi. Berbicara dari sudut pandang politikus dan negarawan, tentu stok yang diingankan bukan`sekedar stok yang mampu menjadi politikus saja, melainkan stok yang memiliki semangat akan negaranya hingga pantas disebut sebagai seorang negarawan.
 Untuk menjadi seorang negarawan, khususnya dengan berkiblat pada sosok Rasulullah SAW, maka yang pertama kali dipersiapkan adalah pembentukan karakter. Karakter menjadi perkara penting karena dengan karakter inilah akan menentukan bagaimana sikap seseorang. Hal ini menjadi menarik pula ketika dihadapkan pada diri seorang pemuda. Para pemuda sering dikatakan sedang mengalami proses pencarian jati diri. Maka, akan lebih baik kiranya jika proses pencarian jati diri ini diarahkan pada jalan yang benar. Salah satu jalan tersebut yaitu jalan untuk mencintai bangsanya dan menjadi sosok negarawan.
Jalan pertama jelas seorang pemuda harus memiliki intergitas terlebih dahulu. Pembentukan integritas ini tidak bisa diciptakan dalam sekejap mata. Maka benar kiranya jika pembentukan karakter ini dimulai sejak muda, bahkan bila perlu sejak dini. Mental-mental kejujuran harus terpatri dalam diri setiap pemuda. Semangat-semangat keutuhan bangsa harus mendarah daging pula dalam diri seorang pemuda. Inilah mengapa pembentukan karakter menjadi upaya penting pertama yang harus dilakukan.
Apabila karakter seorang pemuda tersebut telah kuat, dengan sendirinya dia akan memenuhi syarat negarawan selanjutnya yaitu memiliki kebijaksanaan dan kewibawaan. Kedua sikap ini muncul secara alamiah pada diri orang yang berkarakter. Wibawa memang bisa dicipta, bisa dibentuk, bahkan bisa dimanipulasi. Tetapi karena sejak semula orang tersebut telah memiliki kejujuran pada dirinya sendiri, maka wibawa yang tercipta dalam dirinya adalah wibawa murni yang akan kekal dan tak terpengaruh oleh kondisi.
Begitu kebijaksanaan dan kewibawaan tercipta sebagai manifestasi dari sebuah kejujuran, maka langkah selanjutnya adalah mengenali permasalahan bangsa dan berupaya menemukan solusinya. Hanya memiliki karakter kuat saja tidak cukup. Orang berkarakter tapi tidak memikirkan negaranya, sampai kapan pun tidak akan disebut sebagai negarawan. Maka, kepekaan terhadap kondisi bangsa menjadi syarat mutlak yang harus dibina pada generasi muda untuk menjadi seorang negarawan.
Kepekaan ini dapat dirangsang dengan berbagai metode. Mahasiswa sebagai manusia intelektual pastilah paham bagaimana cara mengenali masalah bangsa. Yang menjadi perkara adalah mampukah belajar untuk menemukan solusinya. Maka, selagi masih menjadi mahasiswa, upaya yang harus dilakukan tidak hanya mengkaji masalah saja, tetapi saling bersinergi pula untuk menemukan solusi jitu terhadap permasalahan bangsa.
Dengan karakter kuat dan pemikiran ke depan yang matang akan permasalahan bangsa pada diri generasi muda, bukan hal mustahil jika kelak tercipta milyaran sosok negarawan di Indonesia. Ketika sosok itu telah jadi, kebijaksanaan pulalah yang akan menuntun mereka untuk beraksi. Apakah mereka akan menjadi negarawan yang praktisi, atau negarawan yang politikus. Apapun itu, masalah bangsa insya Allah akan teratasi. Inilah yang sedang kita cari, bukan hanya seorang politikus tetapi seorang negarawan di semua lini.

Friday, 12 October 2012

Perjalanan Penyakit (Epidemiologi)

20:50 0 Comments

Prof. Bhisma Murti

Epidemiologi adalah ilmu tentang distribusi dan determinan penyakit pada suatu populasi.
Ingat, yang harus digarasbawahi di sini adalah epidemiologi melihat suatu populasi, bukan sekedar individu.
Artinya, karena melihat populasi nantinya akan muncul data mengenai insidensi dan prevalensi dari suatu penyakit.

Yang dimaksud dengan determinan dari penyakit yaitu melihat faktor-faktor lain yang juga berpengaruh dengan penyakit itu.
Misal, sosial, budaya, perilaku, dll.

Epidemiologi didefinisikan untuk mengendalikan masalah kesehatan.
Maksud mengotrol di sini bukan berarti membuat penyakit itu tidak ada alias hilang. Setidaknya, membuat penyakit itu serendah mungkin dan tidak menjadi suatu masalah kesehatan.
Jadi, mengontrol penyakit beda dengan membasmi/eradikasi penyakit.

Tujuan Penelitian Epidemiologi
1.       Mendeskripsikan status kesehatan
Otomatis kalau data menunjukkan banyak penyakit, status kesehatan jadi lebih buruk
2.       Melihat penting atau tidaknya suatu penyakit
Kalau penyakit tertentu punya tingkat insidensi tinggi berarti bisa dikatakan kalau penyakit itu jadi lebih penting.
Atau dianggap penting karena mematikan
3.       Mengetahui perjalanan penyakit
Dengan epidemiologi bisa diketahui mulai dari orang belum sakit, mulai sakit, sampai sembuh
4.       Menjelaskan kausa penyakit
Ini termasuk di determinan dari penyakit. Termasuk juga melihat faktor risiko/probabilitas terjadinya penyakit itu.
5.       Memprediksi mengapa bisa terjadi penyakit tersebut
Ciri dari ilmu itu kan bisa untuk mencari/megetahui/memprediksi. Di sini mempelajari patofis dll. Nah, epidemiologi juga berperan di sini.
Misal, orang gemuk berarti bisa diprediksi memiliki probabilitas untuk stroke berapa persen. Tapi ini dilihatnya secara populasi, bukan individu A akan punya risiko berapa persen.
6.       Mengevaluasi program pengendalian penyakit
Kalau penyakit ini masih tinggi, mungkin aja artinya program pengendalian penyakitnya masih belum maksimal
7.       Untuk control penyakit
Setelah tau datanya, otomatis akan diterapkan untuk menontrol munculnya penyakit itu

Ilmu epidemiologi ini dapat dibedakan jadi epidemiologi deskriptif, analitik, dan terapan.

Seorang belum sakit, terpapar agen penyebab, terjadi induksi.
Kalau kita terpapar oleh asap rokok, paparan ini akan terjadi pada tahap subklinis
Agen penyebab masuk ke dalam tubuh terjadi infeksi dalam tubuh, terjadi proses patologis dalam jaringan disebut fase inkubasi. Di sini belum tampak adanya gejala klinis.
Ketika proses patologis meningkat, istilahnya disebut promosi.
Ketika muncul tanda gejala klinis dan muncul komplikasi disebut ekspresi.

Masa inkubasi yang panjang sering disebut juga sebagai masa laten.
Waktu masuknya penyakit sampai timbulnya ekspresi penyakit disebut durasi.

Karena adanya masa laten dan durasi ini jadinya akan ada 4 golongan penyakit (termasuk akut dan kronis).



Durasi


Pendek
Panjang
Inkubasi
Pendek
A
B
Panjang
C
D

Golongan A yaitu penyakit dengan inkubasi pendek, durasi pendek.
Contoh ISPA, kolera, dll
Biasanya, penyakit infeksi tergolong dalam kategori A ini. Soalnya inkubasinya cepat, begitu terjangkit langsung muncul ekspresi penyakit. Karena langsung muncul dan ketahuan, maka langsung diobati juga. Jadinya durasinya juga cepat.

Tapi ada pengecualian juga untuk penyakit infeksi HIV. Soalnya kalau HIV inkubasinya lama, durasinya juga lama.

TBC termasuk golongan B (inkubasi pendek, durasi panjang)
Soalnya paparannya pendek (misal ketularan dahak), tapi menderita TBCnya lama.

Kanker termasuk kelompok C (inkubasi panjang, durasi pendek).
Soalnya penderita kena agen karsinogenik sudah sejak lama. Tapi begitu ketahuan kanker tidak lama kemudian terus meninggal.

Hipertensi termasuk golongan D (inkubasi lama, durasi lama).
Soalnya orang kena hipertensi bisa jadi karena pola hidup yang sudah dilakukan sejak lama. Dan kalau udah kena hipertensi bisa bertahan sampai lama juga.

Dengan tahu perbedaan 4 kuadran ini jadinya bisa tahu apa yang seharusnya dilakukan.
Maksudnya, kalau penyakit itu memiliki inkubasi yang cepat, artinya penyakit itu bersifat urgent dan harus ditangani segera. Kalau misal kalah cepat, bisa-bisa terjadi epidemi.
Tapi ketika penyakit itu inkubasi dan durasinya lama, artinya bisa dijadikan program kesehatan dengan perencanaan yang lebih matang.

Tahap Pencegahan Penyakit
1.       Pencegahan Primer
Dilakukan pada tahap rentan.
Caranya dengan imunisasi, penyuluhan, memakai alat pelindung kerja
2.       Pencegahan Sekunder
Dilakukan pada orang yang sudah mengalami proses patologis tetapi belum ada gejala klinis.
Kuncinya yaitu deteksi dini dan tindakan segera.
Contoh skrining apapun (Misal pap smear pada PSK. Mereka mungkin sudah terkena HPV, tapi belum ada gejala klinis. Maka, terus dilakukan skrining sebagai pencegahan sekunder).
3.       Pencegahan tersier
Agar tidak terjadi akibat dari penyakit.
Misal mencegah kecacatan, atau mencegah terjadinya rekurensi setelah pasien sembuh.
4.       Pencegahan primordial
Pencegahan untuk mempelajari faktor-faktor dari suatu penyakit.
Misal, mempelajari faktor-faktor mengapa orang merokok. Setelah tahu, maka bisa dilakukan pencegahan berdasarkan faktor-faktor itu.

Ketika seseorang pertama kali menunjukkan gejala klinis, disebut sebagai kasus baru.
Misal meneliti sebelum munculnya kasus baru tersebut, maka artinya mempelajari etiologi.
Kalau membicarakan setelah terjadinya gejala klinis tersebut, artinya mempelajari prognosis.

Misal, ada 2 kelompok. Kelompok pertama yaitu penderita TB, kelompok kedua yaitu penderita TB dengan HIV.
Jika mau membandingkan survival ratenya, artinya kita mau mempelajari faktor-faktor prognosis dari TB.

Contoh lain, kelompok orang merokok dan orang merokok dengan PJK.
Jika mau tahu apakah merokok punya kaitan dengan PJK, artinya kita mempelajari faktor-faktor etiologi dari PJK.

PERJALANAN PEYAKIT
Dinamika penyakit pada suatu individu: mulai dari inkubasi, simptomatis, dan non-diseased (bisa berarti sembuh, cacat, atau meninggal).
Dinamika penyakit pada umumnya ini berbeda dengan dinamika penyakit infeksi.

Dinamika penyakit infeksi: mulai dari masa laten, masa infeksi, masa non-infectious.

Masa laten di sini beda dengan masa laten dalam penyakit pada umumnya yang udah kita bahas di awal.
Masa laten pada penyakit infeksi maksudnya seseorang butuh waktu berapa lama dia terinfeksi hingga menginfeksi orang lain.
Jadinya, masa laten panjang lebih menguntungkan. Soalnya kalau dia terkena penyakitnya, dia ga akan dengan segera menulari orag lain.
Contoh: HIV masa latennya pendek. Kena HIV, dalam satu minggu udah bisa menginfeksi orang lain.

Masa infeksi yaitu waktu dimana orang tersebut bisa menginfeksi orang lain.
Kalau masa infeksinya panjang, berarti dia punya waktu panjang juga untuk menginfeksi orang lain.
Artinya, masa infeksi panjang justru tidak menguntungkan.
Contoh HIV masa infeksi panjang. Dia terjangkit sekarang, dalam sepuluh tahun ke depan dia bisa tetap menginfeksi orang lain.

Masa non-infectious tiap penyakit beda-beda. Masa ini artinya ada gejala klinis tapi sudah tidak menginfeksi orang lain.
Contoh: varicella
Ketika gejala klinis varicella muncul, justru pada saat itu dia tidak bisa menularkan ke orang lain.

Ada kondisi yang berbeda justru ketika individu bisa menginfeksi orang lain meskipun dia tidak menimbulkan gejala klinis.
Contoh varicella tadi ya justru ketika gejala klinisnya belum muncul, dia sudah menularkan virus ke orang lain.

Masalah masa laten, masa infeksi, dan masa non-infeksius ini beda-beda untuk setiap penyakit. Makanya dibutuhkan ilmu epidemiologi untuk meneliti masa-masa tersebut. Jadinya bisa mengambil langkah pencegahan yang tepat untuk setiap penyakit.

Insidensi kumulatif (I atau R (rate))
Jumlah kasus baru dalam suatu periode waktu dibagi populasi berisiko.
Di sini harus dijelaskan dulu periode waktunya. Boleh satu minggu, satu bulan, satu tahun, dst.
Yang dimaksud populasi berisiko itu seperti ini..
Misal ada 100 orang dalam suatu populasi. Ada yang kena TB paru di populasi itu. Karena ada 1 saja yang kena TB, 99 orang yang lain kemungkinan bisa kena juga kan.
Artinya ketika ada 2 orang yang dalam sebulan kemudian terkena TB paru, berarti insiden kumulatifnya 2% (2 orang dari 100 orang di populasi tersebut).
Beda halnya kalau di populasi tersebut ada satu orang yang kena Ca serviks. Berhubung Ca serviks ga langsung menular begitu saja tapi masing-masing individu harus punya risiko karsinogenik, artinya 100 orang itu belum tentu jadi populasi risiko untuk Ca serviks.

Insiden density
Jumlah kasus baru dibagi dengan populasi risiko dengan waktunya berisiko.
Yang membedakan di sini, waktunya bisa beda-beda tergantung waktu risiko dari penyakit tersebut.
Misal penyakit A punya waktu risiko satu minggu, penyakit B satu bulan. Misal sama-sama yang kena 2 orang dalam populasi tersebut, kalau pembagi waktunya antara satu minggu dan satu bulan akan jadi terasa beda. Maksudnya, dalam satu minggu ada 2 orang terjangkit penyakit A dibandingkan dengan dalam satu bulan ada 2 orang terjangkit penyakit B. Artinya, penyakit A jadi terasa lebih cepat menyebar.
Ini nanti bisa untuk melihat kecepatan penyebaran penyakit. Kalau kecepatannya makin tinggi, artinya penyakitnya lebih berbahaya.

Prevalensi
Kasus baru dan kasus lama dibagi dengan populasi.
Ini menunjukkan beban suatu penyakit. Maksudnya baik itu kasus baru atau kasus lama kan tetep jadi beban untuk dilakukan tindakan kesehatan.

 

Tuesday, 28 August 2012

Setimbang bimbang

19:47 0 Comments


 
Ini bukan kisah kelinci yang berbagi roti
Yang ditimbang-timbang berat yang kanan
Dimakan
Ditimbang-timbang berat yang kiri
Dimakan
Lama-lama roti habis
Kelinci menangis

Ini neraca kehidupan

Bandul kanan mengatakan
Dosa memanipulasi timbangan
Biarkan sesuai kadar
Lakukan dengan sadar
Nurani turut berontak
Biar aku hidup enak

Bandul kiri menyadari
Tak mengapa tak murni
Biar tak ada lagi pembeli
Coba-coba mengakali
Cukup pelanggan setia
Meski datang sekali dua

Tapi pedagang bukan pemasok
Yang terus menanti hingga besok
Sesekali ingin spekulasi
Beradu opini dengan pembeli

Bangkrut
Mungkin
Untung
Barangkali

Ditimbang bimbang
Berikan
Tahan
Karena pedagang bukan kelinci
Yang ingin menangis kalau roti habis


Saturday, 18 August 2012

Untuk Apa Nikah?

07:40 2 Comments

A’udzubillahiminassyaithonnirajim..

Ini bukanlah sebuah tulisan provokator yang mengajak orang agar tidak usah menikah. Bukan pula tulisan yang sarat benci dengan menganggap bahwa nikah itu tak penting. Semata-mata bukan itu, maka saya mengucap ta’awudz terlebih dahulu.

Lagi-lagi hanya merenungi esensi dari penikahan. Ketika seseorang akan melakukan ijab qabul, seorang petugas KUA bertanya, “Kenapa mau menikah dengan mas A?” Dan dengan malu-malu wanita itu menjawab karena cinta.

Lantas saya bertanya, untuk apa nikah? Apakah sekedar untuk melegalkan cinta?

Saya teringat komentar ibu ketika mengobrol jauh-jauh hari dulu. “Jika seseorang belum mampu dari segi maisyah dan ilmu, lebih baik ditunda dulu. Kalau terburu-buru, jangan-jangan nikahnya hanya karena nafsu.”
Mungkin terkesan begitu sarkasme. Tetapi jika ditelaah memang demikian adanya.

Tak ada keraguan bahwa menikah dapat mengendalikan nafsu. Tetapi menikah yang bagaimana? Tentu saja menikah yang telah diiringi dengan kesiapan. Artinya, dalam kasus ini mereka memang telah wajib untuk menikah. Namun, jika ternyata nafsu itu sudah ada tetapi kemampuan belum mengiringi juga, mungkinkah bahwa pernikahan itu hanya didasari nafsu semata?

Memang benar bahwa untuk menikah harus ada nafsu. Setidaknya rasa tertarik dengan pasangan yang akan dinikahi. Tetapi, jika hanya berlandaskan nafsu dan tak ada kesiapan lainnya, apakah hidup ke depannya hanya akan bermodalkan cinta?

Bisa saja sebenarnya hidup dengan modal cinta. Bukan dalam arti semua selesai dengan dibayar cinta, tetapi menggunakan cinta sebagai spiritnya. Misal, karena belum memiliki penghasilan tetap, maka menggunakan modal cinta sebagai spirit untuk mencari pekerjaan lainnya. Pun ketika merasa bahwa ilmu belum mencukupi, karena ada dorongan cinta yang demikian kuat untuk memberikan yang terbaik, maka belajarlah ia dengan sebaik-baiknya.

Sayangnya, cinta saja tak cukup. Ekstrimnya, cinta tak membikin perut menjadi kenyang. Lebih-lebih pernikahan seharusnya bukan semata-mata karena cinta. Akan lebih mulia kiranya jika menikah itu dijadikan sebagai sebuah ibadah. Dan tentunya sebuah ibadah bukan main-main belaka, yang asal membuat perhelatan tetapi diikuti dengan masa depan yang masih diawang-awang.

Seperti kata seorang ustadz, lihat untuk apa engkau mencari pasangan. Apakah ia cukup untukmu, ataukah seseorang yang siap untuk mendidik anakmu. Apakah menikah hanya kesenangan dunia, ataukah bekal untuk menggapai surge.

Maka, tanyakan lagi. Untuk apa kita menikah nanti?