Follow Us @soratemplates

Wednesday, 3 April 2013

Keluar Masuk dengan Benar

21:54 0 Comments

Robbi adkhilni mudkhala shidqin wa akhrijni mukhraja shidqin waj’alli milladunka sultanannashira.
Ya Allah masukkanlah aku dengan masukan yang benar dan keluarkanlah aku dengan keluaran yang benar dan berilah aku kekuatan yang menolong (Q.S. Al-Isra’: 80).

Kali ini, inilah sambutan yang sesungguhnya ketika memasuki belantara Moewardi kemarin. Kalimat doa ini meluncur sebagai petuah dari dekan saya, Prof. Zainal.

Beliau mengajarkan agar kami berdoa supaya bisa masuk dengan cara yang baik. Namun tidak hanya masuk saja. Bukan hal baru jika ada koas yang bisa masuk namun tak bisa keluar. Maka, beliau melanjutkan petuahnya dengan doa agar kami bisa keluar dengan cara yang benar. Lagi-lagi untuk menghadapi belantara Moewardi dengan masuk dan keluar benar perlu proses yang benar pula. Maka, lanjutkan doanya dengan harapan agar selalu diberikan kekuatan yang menolong.

Petuah doa di atas seakan menjadi penyejuk yang menyambut jiwa-jiwa kami. Ya, jika sudah berdoa, untuk apa takut lagi? Mau sebelantara apapun Moewardi di hadapan kami, asal ada kekuatan yang menolong maka habis sudah semua perkara. Mau sesulit apapun semak belukar yang harus kami terjang dan masuki, asal kami dimasukkan dengan cara yang benar maka tak ada lagi kendala. Mau sebuas apapun rintangan untuk bisa keluar, asal kami dikeluarkan dengan cara yang benar maka tak ada lagi kekhawatiran.

Orang sering sulit untuk masuk ke lingkungan tertentu. Begitu sudah berhasil susah payah masuk, dia mungkin bernafas dengan lega. Ternyata, masih ada saja rintangan yang harus dia lalui selama prosesnya. Hingga akhirnya ia pun kembali bersusah payah untuk bisa keluar. Alhamdulillah jika dia keluar dalam keadaan layak dan selamat. Bisa jadi dia harus keluar dalam keadaan cacat atau malah dikeluarkan secara paksa. Na’udzubiillah.

Maka, alurnya memang benar demikian. Masuk benar lalu keluar benar, dan tentunya dengan pertolongan yang benar pula selama prosesnya. Bahkan Allah telah menuliskan doa ini dalam firman-Nya. Artinya Allah telah memberikan kunci agar kita tak perlu khawatir untuk masuk, berproses, dan keluar dari dunia tertentu.

Doa di atas juga mengingatkan saya bahwa berdoa itu sepanjang masa. Berdoa bukan hanya agar bisa masuk koas, bukan pula agar segera lulus koas, melainkan agar masuk dengan cara benar, keluar dengan benar, dan diberi kekuatan pertolongan. Artinya, doa ini berlaku sepanjang masa. Bahkan selesai koas sekalipun, doa ini masih terus berlaku. Bukankah masih ada episode kehidupan selanjutnya? Masih ada permohonan agar dimudahkan untuk masuk ke dunia yang lain, dikeluarkan dari kehidupan tertentu, dan selalu mendapat limpahan kekuatan pertolongan.

Maka, lafadzkan terus doa ini tanpa jemu. Jika kita percaya janji Allah itu pasti, tagih saja janji-Nya lewat doa. Bukankah Allah menyukai hamba-Nya yang selalu meminta? Semakin banyak kita meminta, semakin Allah akan suka. Semakin Allah suka, makin besar pula peluang Allah mengabulkan doa kita. Jika doa kita terkabul, adakah sesuatu yang perlu ditakutkan lagi?

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.


Welcome to The Jungle

21:53 0 Comments

Welcome to the jungle. Kalimat itulah yang saya terima satu minggu lalu ketika melangkahkan kaki ke RSUD Dr. Moewardi dengan status baru sebagai dokter muda. Tentu saja kalimat itu tidak diucapkan oleh para dokter, tetapi diucapkan sebagai bentuk penyambutan dari kakak tingkat yang kebetulan saya kenal.

Ngeri? Mungkin. Bayangkan saja, mereka menyebutnya jungle, bukan forest. Ada perbedaan antara forestdan jungle. Secara mudahnya, forest identik dengan hutan yang memang ditata, dirawat, dan murni pepohonan saja. Namun jungle lebih liar daripada forest. Jungle lebih identik dengan hutan belantara, lengkap dengan asesoris semak belukar dan mungkin hewan buas.

Akankah artinya ada banyak semak belukar yang menyambut saya di Moewardi? Apakah berarti sewaktu-waktu saya akan bertemu dengan hewan yang siap menerkam dibandingkan burung-burung hutan yang berkicau dengan riang? Sedemikian buaskah Moewardi nanti? Saya tidak tahu, tapi saya ingin mengubahmind set saya jauh-jauh hari, mulai saat ini.

Di hutan yang demikian belantara, seseorang mungkin sekali untuk berubah. Sebelum akhirnya saya tergerus dengan rutinitas Moewardi dan terpengaruh memandang pasien dengan tatapan mata lelah dibandingkan mata menyambut, saya harus antisipasi lebih dulu. Sebelum akhirnya saya termakan putaran sistem bisnis rumah sakit yang mempertimbangkan sosial ekonomi, saya harus mengantisipasi lebih dulu. Sebelum akhirnya saya mati hati karena menjadi kasta terbawah dari jajaran civitas rumah sakit, saya harus mengantisipasi lebih dulu.

Hutan belantara bukanlah hutan yang mematikan. Ketika seseorang sanggup keluar dari hutan belantara, bukankah ia menjadi pribadi yang tangguh? Dia memiliki mental yang kuat menghadapi hewan yang buas. Dia memiliki kekebalan tubuh lebih kuat karena terbiasa terluka tergores semak belukar. Sayangnya, manusia hanya melihat seputar waktu saat ini saja. Dia tidak membayangkan betapa hebatnya dia jika keluar kelak.

Maka, saya kembali menulis kali ini. Bukan untuk berkeluh kesah tentang merananya hidup di hutan belantara ini, melainkan untuk mengambil satu saja sisi indah dari setiap perjalanan yang terlewati setiap harinya. Agar yang terlihat tidak hanya keindahan ketika keluar nanti, tetapi juga keindahan berputar-putar di hutan belantara itu sendiri.


Thursday, 21 March 2013

Sudah Ditunggu

23:19 0 Comments

Tadi malam saat teman-teman saya asyik ngobrol di grup whatsap, adzan Isya berkumandang. Seorang teman lantas menulis chat, "Isya..., isya...."
Mungkin karena obrolan tadi baru seru, beberapa teman masih saja saling berbalas chat. Lalu, seorang teman yang lain menulis chat demikian: "Sholat..., Ditunggu Allah"


Perkataan teman saya itu bisa jadi hanya pengingat waktu sholat dan tidak asyik chating melulu. Tapi jauh daripada itu, kata-katanya ampuh membius kami yang asyik bergalau ria dan segera berhenti. Hingga beberapa menit kemudian, barulah ada seseorang yang memulai chating kembali.

Mungkin sudah banyak yang tahu ironi macam ini. Orang sering berdandan rapi ketika akan menemui atasan, tapi mengenakan kaos oblong seadanya ketika menemui Tuhannya. Orang resah tidak menentu seandainya janjian dengan dosen dan khawatir terlambat, tapi tidak takut sama sekali ketika molor dari perjanjian bertemu dengan Allah.

Kalau dipikir-pikir, sepertinya manusia memang terlalu sibuk dengan dunianya hingga beranggapan bahwa dunia yang ini sedang mendesak dan Allah bisa menunggu. Atau jangan-jangan ada yang berpikiran toh masih ada jeda waktu. Masih ada satu jam, masih ada lima belas menit, atau malah masih ada lima menit.

Hm..., perkara ini tidak bisa disamakan dengan deadline pekerjaan. Memang ini adalah 'pekerjaan' kita sebagai manusia di muka bumi, tetapi 'pekerjaan' kita kali ini menentukan nasib hidup dan mati. Bos kita akan melihat, siapa anak buahnya yang bersegera mengerjakan pekerjaannya dan siapa yang menunda-nunda. Dari kesungguhan itulah, bos kita akan memberikan gaji setimpal berupa pahala.

Memang orang sering malas-malasan karena merasa pahala atau gaji itu tidak kelihatan. Lantas menganggap tak apalah asal tetap dapat gaji. Yah, itu memang urusan masing-masing individu. Mau mendapat pahala banyak atau sedikit memang terserah kamu.

Tapi coba bayangkan, atasan atau dosen kita saja marah kalau kita molor, apakah kita tidak membayangkan bagaimana Allah murka karena kita mengabaikannya? Sadarkah kita bahwa Allah sudah sedemikian maklum pada kita? Hanya saja kita tak tahu apa yang sebenarnya akan Allah persiapkan untuk kita di akhirat nanti.

Berhubung kita tidak tahu, sudah sepantasnya jika kita melakukan yang terbaik. Layaknya pegawai yang mati-matian bekerja agar mendapat gaji maksimal, mengapa kita tidak mati-matian beribadah dengan sempurna agar mendapat pahala yang maksimal juga?

So, silakan dicoba. Semoga kelak kita mendapat panen gaji di surga. Aamin...



Ketergantungan

08:56 2 Comments
Orang sering merasa memiliki ketergantungan dengan sesuatu. Misalkan, orang yang hobi belanja dan tinggal gesek sana-sini seakan-akan sangat tergantung dengan kartu kreditnya. Seorang yang hobi online dan browsing kesana-kemari juga akan kelimpungan ketika koneksi internetnya sedang labil. Begitu seterusnya hingga wajar saja bagi pengguna narkoba yang sakau karena tidak mendapat asupan obat-obatan.

Bagi orang yang tidak mengalami keadaan itu mungkin akan geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa hanya karena pulsa habis, lalu seseorang jadi uring-uringan. Atau bagaimana bisa karena listrik padam dan tidak bisa menonton bola lantas sedemikian galaunya. Tapi, kalau kita pikir-pikir lagi, semua itu memang mungkin saja terjadi. Itu semua muncul karena kebiasaan atau pembiasaan yang kita lakukan sendiri. Kalau bahasa yang lebih kerennya, biasa disebut dengan adaptasi.

Misalkan begini. Seorang teman biasa tidur selepas isya dan bangun jam 12 malam. Awalnya mungkin terasa aneh, apa yang akan dilakukan tengah malam begitu hingga pagi. Sehari, dua hari, mungkin dia masih bingung, tetapi ketika sudah terjadi sebulan, dia pasti mulai terbiasa. Bahkan bisa jadi dia justru akan bingung ketika selepas isya tidak ada yang dia kerjakan dan belum bisa tidur.

Dari seorang teman, saya juga diberi tahu sesuatu. Di fanspage facebook milik Tere Liye ada seseorang yang bertanya bagaimana agar dia tidak kecanduan bermain facebook. Tere Liye menjawab yaitu dengan cara melatih diri untuk terbiasa tidak bermain facebook. Bang Tere menyebutkan, jika dalam 40 hari puasa facebook berhasil, artinya dia sudah berhasil lepas dari ketergantungan facebook.

Semula saya tidak percaya, lebih tepatnya saya mempertanyakan kenapa harus 40 hari. Oke, ternyata bukan semata-mata 40 harinya, tetapi lebih kepada pembiasaan itu sendiri. Dan akhirnya saya benar-benar merasakan dan membuktikannya.

Untuk teman yang sudah membaca postingan saya sebelumnya, pasti sedikit tahu bahwa saya mungkin memiliki ketergantungan dengan laptop, sedikit-sedikit membuka laptop untuk mengerjakan sesuatu. Hingga akhirnya dua bulan yang lalu laptop kesayangan saya rusak. Saya kelimpungan. Dalam satu bulan pertama, saya berkali-kali meneror tukang servisnya berharap laptop saya segera kembali. Namun, setelah lewat dari satu bulan, saya sudah mulai bosan sendiri dan menemukan kebiasaan yang baru.

Dua bulan kemudian laptop itu kembali. Awalnya saya sangat senang. Terbayang sudah serangkaian aktivitas saya sebelumnya, mengetik-ngetik, berselancar di dunia maya, atau menonton film. Nyatanya, di hari pertama dan kedua laptop itu kembali jatuh ke pelukan saya, tak ada aktivitas menarik seperti yang saya bayangkan. Saya sekedar membuka suatu file, lantas sudah. Saya hanya mengecek media social, lalu sudah. Bahkan ketika ada waktu luang di kampus dan saya melangkah gontai menuju perpustakaan untuk ngenet, saya juga stuck dan tidak tahu harus berselancar ke mana. Dan hari ini saya menyadarinya bahwa saya sepertinya sudah lepas dari ketergantungan laptop.

Maka, saya benar-benar percaya sekarang bahwa pembiasaan dan kebiasaan itu benar-benar bekerja. Tentunya pembiasaan ini dilihat dari sisi positif. Orang yang mengeluh tak bisa menulis harusnya percaya bahwa dengan terbiasa menulis maka ia akan benar-benar bisa menulis. Orang yang minder karena tak bisa berbahasa Inggris harusnya percaya bahwa dengan pembiasaan bercakap-cakap dengan bahasa Inggris maka ia pasti bisa berbahasa Inggris dengan baik. Orang yang pesimis tak sanggup menghafal Al-Qur’an seharusnya juga percaya bahwa dengan pembiasaan yang sedikit demi sedikit tetapi terus-menerus pada akhirnya pasti juga akan bisa.

Memang yang terberat adalah memulainya, tetapi ketika kita bisa meruntuhkan tembok besar di awal langkah kita, insya Allah perjalanan ke depan juga akan lebih mudah. Bismillah… Dengan menyebut nama Allah semoga kita bisa membiasakan hal-hal baik pada diri kita. Insya Allah….

Tuesday, 19 February 2013

Pujian? Stop It!

02:12 0 Comments



Dulu, saya pernah menulis tentang perkara memberikan pujian. Waktu itu saya melihat dari sudut pandang orang yang dipuji. Ada yang merasa senang hingga menyombongkan diri. Ada yang bahagia dan hanya diam saja. Ada yang suka lantas bertasbih pada yang Maha kuasa, tapi ada juga yang marah hingga ibarat menyemburkan pasir ke wajah orang yang memujinya.

Sekarang, coba kita lihat dari sudut pandang orang yang memberikan pujian. Ketika seseorang melontarkan pujian, tentu dia memiliki beberapa maksud tertentu. Boleh jadi dia hanya mencari muka bak seorang penjilat. Namun bisa juga dia memang kagum dan merasa ingin memuji orang tersebut.

Ada yang perlu digarisbawahi di sini. Kembali ke rumus yang pertama bahwa segala puji hanya bagi Allah, maka ketika kita merasa ingin memuji sesuatu, ingatlah bahwa Allah-lah yang selayaknya menjadi sasaran pujian itu. Misal, kita melihat seseorang yang demikian mempesona. Alih-alih memujinya secara langsung, lebih baik kita jika kita mengucap “Masya Allah..., Maha suci Allah yang telah menciptakan makhluk yang sungguh mempesona”.

Ucapan di atas memiliki beberapa makna. Secara tidak langsung ucapan itu akan menambah keimanan dan kesyukuran kita kepada Allah Ta’ala. Kita akan semakin menyadari bahwa Allah-lah yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Di satu sisi, kita pun akan membantu saudara kita yang mempesona itu tadi dari penyakit-penyakit hati. Mengapa demikian? Karena kita tidak tahu, apa yang akan terjadi pada dirinya jika kita benar-benar memuji di hadapannya. Boleh jadi dia menjadi lupa diri dan sombong, mungkin juga dia akan merasa bangga tapi melupakan kekuasaan Allah ta’ala, atau bisa jadi juga dia justru menjadi marah kepada kita. Jika dia marah karena dipuji, jangan-jangan justru kita yang akan sakit hati, merasa sudah memberi pujian tapi tidak dihargai. Nah, justru semakin panjang urusannya kan?

Menjaga lisan untuk tidak memberikan pujian khususnya secara berlebihan sedikit banyak memang benar-benar akan membantu saudara kita. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah mendengar seorang laki-laki yang memuji laki-laki lain dengan berlebihan dalam pujiannya. Beliau bersabda, “Kamu membinasakannya dan memotong punggung orang itu” (H.R. Bukhari).

Na’udzubillahimindzalik. Coba bayangkan, kita yang demikian kagum dengan seseorang berniat untuk memberikan pujian agar orang itu senang, tapi di lain sisi yang kita lakukan justru membinasakan dan memotong punggung orang tersebut. Bukankah itu sangat kontradiktif? Sayangnya, orang yang kita puji belum tentu sadar bahwa dia telah binasa atau telah terpotong punggungnya. Sungguh, kita ibarat musuh dalam selimut, bersikap manis padahal sebenarnya kita membunuh. Na’udzubillah...

Maka, jika kita memang benar-benar mengaguminya, tentu kita akan berusaha untuk menjaga. Artinya, bukan dengan memberikan pujian yang demikian hebatnya, tapi justru dengan mengagumi Allah SWT dan berdoa atasnya. Selain terhindar dari membinasakan saudara kita, cara ini juga akan menghindarkan kita dari ancaman kufur terhadap Sang Maha kuasa. Di samping itu, boleh jadi kita justru akan mendapat pahala karena bertasbih dan mengingat Allah SWT dalam berbagai kondisi.

Jadi, jangan salahkah kami yang mungkin tidak pernah memuji. Bukan berarti kami iri hati hingga tak mau memuji, atau bukan berarti kami demikian tinggi hati hingga tak sudi untuk memuji, tetapi justru kami ingin menjagamu dan berusaha untuk menyelamatkan diri.



Saturday, 16 February 2013

Dua Huruf

09:24 0 Comments

Ketika berinteraksi dengan orang lain, bagaimanakah ciri khas Anda? Apakah menjawab dengan panjang lebar? Atau menjawab dengan membubuhkan emoticon? Menjawab super singkat? Atau bahkan tidak merasa butuh menjawab jika itu bukan suatu pertanyaan?

Saya pernah iseng membaca tentang teori kepribadian seseorang dalam berinteraksi. Tanpa disadari, cara menjawab itu sedikit banyak memang menggambarkan karakter diri kita sendiri. Dari beberapa contoh yang saya sebutkan di atas, saya termasuk tipe orang yang menjawab sesuatu dengan singkat. Sekedar oke, ya, ga, dan jawaban setipe lainnya.

Awalnya saya pikir itu tidak masalah. Bukankah saya tetap saja menjawab, setidaknya lebih baik daripada yang sama sekali tidak menjawab atau menjawab dengan interval waktu yang sangat lama. Tapi, entah mengapa akhir-akhir ini banyak yang protes tentang hal itu pada saya.

Seorang teman beberapa kali protes, "Kok jawabnya singkat-singkat lho...", dan saya cuma menjawab "ga papa" (singkat juga bukannya.. :p).
Kemarin seorang teman yang membeli pulsa di saya juga cuma saya jawab, "Ya". Lalu dia SMS lagi "Mbok ya jawabnya yang agak panjang dikit, masa cuma dua huruf..." Dan saya balik menjawab "Yo iki wis mlebu" (lagi-lagi cuma singkat seperlunya).
Sayangnya kadang saya begitu juga dengan orang tua saya. Bahkan ketika saya bad mood, bapak akan hafal jawaban saya. Kalau memang tidak, saya akan menjawab "ga", kalau jawabannya iya atau mungkin butuh penjelasan lebih lanjut saya akan menjawab "ga tau". Ya, cuma "ga" atau "ga tau".

Berhubung mulai banyak yang protes, akhirnya saya sadar juga kalau ada yang tidak beres dengan cara menjawab saya. Mungkin kepribadian saya memang berubah, atau memang karena dipengaruhi suasana hati itu tadi. Tapi terlepas dari suasana hati itu, mungkin lebih baik jika kita (khususnya saya) menginstrospeksi diri sendiri.

Awalnya saya berpikir, bukankah enak jika berkata itu hanya to the point saja. Ringkas, tak bertele-tele. Daripada terlalu banyak bicara padahal itu tak penting, bukankah lebih baik hemat kata saja. Tapi, di sisi lain yang namanya interaksi itu tak hanya butuh satu personal saja. Ada orang lain yang dilibatkan, dan orang lain itulah yang perlu kita pikirkan.

Tentu orang lain ingin ketika berinteraksi dengan kita mendapat sambutan yang hangat dan diterima dengan baik. Mereka bertanya baik-baik, seharusnya dijawab dengan baik-baik pula. Bukankah sebuah kebaikan harus dibalas minimal dengan kebaikan yang serupa, bahkan kalau bisa lebih baik daripada itu. Jadi, kalau mereka bertanya dengan sopan, seharusnya kita menjawab dengan jauh lebih sopan pula.

Hanya saja perkara suasana hati itu memang kadang membawa masalah tersendiri. Ada orang yang demikian senang hingga mungkin berlebihan ketika berinteraksi. Ada orang yang kelewat sedih sampai-sampai semua orang dicemberuti. Ada orang yang begitu marah hingga semua orang ikut dimarahi. Nah, kalau sudah begini bagaimana mau membalas sesuatu dengan lebih baik?

Yup, ini hanyalah introspeksi untuk diri saya sendiri. Semoga saja kita bisa menjaga hati, hingga nantinya kita bisa menjaga lisan kita dari menyakiti hati. Insya Allah..



Friday, 15 February 2013

Hati-hati

09:25 0 Comments



Dalam suatu keadaan tertentu, pernah dengan sengaja meminta pesan atau nasihat dari teman? Beberapa teman saya sering melakukannya. Ketika hati sedang lelah, tak jarang mereka meminta nasihat atau sekedar saling bertukar pesan. Biasanya, jika ditanya demikian, saya akan memberikan pesan sekehendak hati saya. Nah, beberapa waktu lalu ada seorang teman yang juga meminta sebuah pesan, dan kala itu saya hanya menjawab, "hati-hati".

Mungkin ketika dirasakan pertama kali, pesan yang saya sampaikan itu hanya simpel sekali. Bahkan mungkin teman saya justru jengkel karena saya hanya berpesan sesingkat itu. Jika dilihat, pesan itu memang sangat singkat. Terlebih jika diucapkan dengan nada datar, kesannya seperti tidak peduli dan tidak niat untuk berbagi pesan. Tapi, coba perhatikan lebih dalam lagi. Adakah unsur kehidupan ini yang sia-sia karena dilakukan dengan hati-hati?

Kata hati-hati justru memiliki banyak makna. Kata hati-hati justru menyiratkan bahwa kita memberi kepedulian yang besar akan hidupnya. Ya, sekedar hati-hati karena justru dengan sekedar hati-hati itulah kita mengingatkan dirinya agar dia berhati-hati dalam segala hal.

Tentu saja karena hati-hati di atas demikian singkat maka maknanya justru makin luas. Jika kalimatnya adalah 'hati-hati di jalan ya', maka dia hanya berpesan untuk berhati-hati selama di jalan. Tetapi berhubung ini hanyalah pesan berhati-hati, maka tuntutan dari pesan ini justru jauh lebih banyak.

Terlepas dari itu, bukankah kita memang selalu dituntut untuk berhati-hati? Dunia ini terlalu licin. Salah melangkah sedikit saja, kita bisa tergelincir. Kalau masih berhati-hati dan bisa mencari pegangan, maka ia mungkin masih berhasil untuk bangkit. Tapi bagaimana jika dia terjatuh dan tak bisa bangkit lagi?

Hati-hati itu universal. Mulai dari hati-hati memilih agama, hati-hati mengais rizki, hati-hati memilih teman dan pergaulan, hati-hati menentukan guru dalam kehidupan, bahkan termasuk berhati-hati dalam setiap kata yang terucap. Terlalu banyak dan semuanya tidak mungkin saya sebutkan di sini. Intinya, semua hal yang kita lewati di dunia ini Insya Allah akan selamat jika selalu bersikap hati-hati.

Maka, berhati-hatilah. Jangan kira saya tak peduli karena hanya mengucap hati-hati. Jauh lebih dari itu, saya justru sangat peduli dan berharap semuanya akan selamat. Insya Allah.