Follow Us @soratemplates

Saturday, 6 April 2013

Altruisme

23:43 0 Comments

Setelah petuah dari pak dekan, giliran pak Direktur RSUD Dr. Moewardi yang memberikan petuah. Menurut kakak tingkat, ada empat petuah yang selalu beliau jadikan tugas ketika memberi wejangan kepada para dokter muda.

Petuah yang pertama adalah tentang altruisme atau sikap altruistik. Jika dicari arti kata tersebut dalam kamus, akan kita dapati bahwa altruisme atau altruistik adalah sikap yang lebih mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri. Secara mudahnya, pemahaman ini bertolak belakang dengan sikap egoisme.

Barangkali jika diibaratkan, sikap altruisme ini mirip dengan filosofi sebatang lilin. Lilin bersedia berkorban untuk menerangi sekitarnya. Dia lebih mementingkan keadaan sekitar yang terang, dibandingkan kepentingan dirinya sendiri agar tetap utuh dan tak terbakar. Namun filosofi di sini mungkin kurang tepat, karena bagaimanapun konsep pertama menolong adalah diri kita sendiri harus dalam kondisi aman. Bagaimana kita bisa meyakinkan orang lain kalau dia aman jika diri kita sendiri tidak aman?

Petuah pak direktur ini sejalan dengan petuah yang saya dapat dari bagian diklit Moewardi ketika akan penelitian skripsi dulu. Beliau berpesan, “Besok kalau jadi dokter harus siap mengabdi untuk pasien. Harus sedia 24 jam jika sewaktu-waktu dibutuhkan masyarakat sekitar.”

Ya, memang demikian adanya. Mungkin terkesan lebay jika dibayangkan zaman sekarang ada orang tengah malam mengetuk pintu rumah seorang dokter. But, who knows? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin saja hal itu memang terjadi suatu saat nanti. Jika memang terjadi, pemahaman pertama inilah yang diwanti-wanti oleh pak direktur yaitu mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri.

Sebenarnya konsep ini sangat baik jika dilihat dalam sudut pandang Islam. Pernah mendengar kisah kaum Muhajirin ketika pertama kali datang ke Madinah? Kaum Anshor dengan senang hati memberikan apapun miliknya untuk kaum Muhajirin. Mengapa? Karena mereka bersaudara. Karena anggapan saudara itulah mereka rela mengorbankan kepentingan dirinya untuk kepentingan saudaranya.

Bukankah hal itu indah? Karena sebenarnya kita dengan muslim yang lain adalah satu. Jika dia butuh, tak ada bedanya dengan kita yang butuh. Jika mementingkan kepentingan mereka, boleh jadi suatu saat Allah mementingkan kepentingan kita. Saya sendiri percaya dengan konsep itu. Siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolong dirinya. Siapa yang memudahkan atau menolong orang lain, suatu saat dia pasti juga mendapat kemudahan dan pertolongan.

Karena siapa yang menebar benih, pasti suatu saat akan menuai buahnya. Jadi, tak ada salahnya menebar benih kebaikan kepada semua karena suatu saat akan ada buah yang kita terima. Minimal, pahala kelak di surga. Insya Allah.




Friday, 5 April 2013

Motivasi Berkah

23:44 0 Comments

Orang bagaikan mayat hidup ketika tidak memiliki motivasi. Semua dijalani mengalir saja, tanpa ada letupan-letupan semangat sehari-harinya. Begitu juga ketika memasuki dunia perkuliahan atau dunia kerja.

Sedikit menyambung dengan niat yang sudah dibahas kemarin, motivasi ibarat saudara kembar yang tak bisa dipisahkan dengan niat. Ketika orang memiliki suatu niat, tentu dia juga memiliki motivasi untuk meraihnya. Sebaliknya, ketika orang memiliki motivasi terhadap sesuatu, pasti dia memiliki niat di balik semua itu.

Lalu, apa motivasi kita untuk masuk ke dunia dokter muda? Masih kelanjutan dari petuah dekan saya, beliau mengatakan motivasi menjadi koas adalah berkah.

Kalau dipikir-pikir, petuah beliau memang ada benarnya. Setelah diniatkan mengabdi alias beribadah, maka motivasi untuk menjaga agar tetap berniat ibadah adalah dengan mengharap keberkahan. Mungkin bahasa lebih familiarnya adalah mengharap ridha semata.

Bukankah memang demikian adanya? Suatu ibadah akan diterima oleh Allah SWT jika memiliki dua syarat yaitu ikhlas lillahi ta’ala atau hanya mengharap ridha Allah semata dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Artinya, niat beribadah memang harusnya dengan motivasi mengharap ridha Allah. Niat mengabdi di koas harusnya memang untuk mengharap berkah.

Untuk apa nilai tinggi jika ternyata Allah tidak meridhai. Untuk apa punya skill bagus kalau ternyata dengan kemampuan itu justru membuat Allah murka. Untuk apa setelah lulus langsung dapat kerja kalau ternyata tak ada ridha Allah di sana. Untuk apa pula memiliki banyak pasien setia kalau ternyata tak ada keberkahan dari Allah di setiap pasien-pasien kita.

Maka, memang kunci utama hidup adalah mencari ridha atau berkah Allah. Kalau Allah ridha, nilai-nilai yang kita peroleh pun adalah berkah dari-Nya. Kalau Allah ridha, kemampuan yang kita miliki akan menjadi keberkahan tersendiri. Kalau Allah ridha, pekerjaan pun akan datang dengan sendirinya. Dan kalau Allah ridha, rizqi yang Allah titipkan lewat pasien-pasien yang datang juga merupakah keberkahan sendiri bagi kita.

Tahu itu berkah atau tidak, tergantung hati kita yang mengimani. Apakah niat kita memang untuk mengabdi? Apakah motivasi kita memang untuk mencari keberkahan itu sendiri?

Semoga saja langkah ke depan memang semata-mata untuk mengabdi dan mencari keberkahan. Demikian juga untuk kehidupan secara keseluruhan. Semoga dapat menjadi hamba Allah yang berhasil menjalankan amanah untuk senantiasa beribadah, dan semoga mendapat apa yang benar-benar kita cari yaitu ridha Illahi Rabbi.


Thursday, 4 April 2013

Nawaitu Mengabdi

07:51 0 Comments

“Luruskan niat. Nawaitunya adalah mengabdi”

Petuah ini saya dapat dari dekan saya, Prof. Zainal. Lagi-lagi beliau mengetuk hati kami. Untuk apa kamu niat masuk koas? Tanpa menunggu jawaban dari kami, beliau lantas menjawab agar kami meluruskan niat untuk murni mengabdi.

Tentu kita sudah tidak asing dengan penggalan salah satu hadits arba’in Innamal a’malu binniyat. Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dalam kelanjutan hadits itu disebutkan, siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia mendapatkan Allah dan Rasul-Nya. Namun siapa yang hijrah karena dunia atau wanita yang ingin dinikahinya maka ia memang sebatas mendapatkan dunia dan wanita yang dinikahi itu saja.

Demikian pula ketika kita memasuki dunia akademis atau dunia kerja. Dokter muda yang notabene adalah urusan akademis memiliki cabang-cabang niat yang cukup banyak. Ada yang berniat agar mendapat nilai bagus. Ada yang berniat agar lulus terus seperti jalan tol tanpa ada hambatan. Ada pula yang berharap asal bisa mendapat skill untuk menjadi dokter sungguhan kelak.

Dalam ranah dunia kerja pun dokter muda yang dituntut untuk latihan bekerja juga memiliki beberapa peluang niat. Ada yang berniat mencari link ke dokter konsulen atau dokter residen agar begitu lulus langsung dapat kerja. Ada juga yang berniat mencari pasien sebanyak-banyaknya untuk membentuk aliansi pasien setia.

Di samping semua niat yang mungkin muncul itu, niat yang jauh lebih penting adalah niat untuk mengabdi.  Ya, pengabdian.

Ketika mendengar kata abdi, saya terpikirkan oleh kata lain yang memiliki makna serupa. Kata itu adalah kata hamba. Seseorang yang mengabdi adalah seorang yang menghamba. Contohnya abdi dalem, dia adalah orang yang menghamba pada sultan atau raja di keraton. 

Demikian juga kita sebagai manusia. Kita adalah hamba Allah, maka kita mengabdi pada Allah. Salah satu bentuk penghambaan itu adalah dengan beribadah. Artinya, seorang yang mengabdi dan menghamba adalah orang yang beribadah.

Maka, jika dekan saya mengatakan agar diniatkan untuk mengabdi, sama saja artinya dengan mengingatkan kami agar kami meniatkan aktivitas koas kami untuk ibadah. Kalau dipikir-pikir, bukankah tugas manusia memang hanya untuk beribadah? Manusia yang menjadi dokter muda artinya beribadah dengan dokter mudanya. Manusia yang menjadi guru artinya beribadah dengan keguruannya. Demikian seterusnya hingga status apapun memang selayaknya diniatkan untuk mengabdi, menghamba, beribadah.

Jadi, mari luruskan niat dan selamat beribadah….


Wednesday, 3 April 2013

Keluar Masuk dengan Benar

21:54 0 Comments

Robbi adkhilni mudkhala shidqin wa akhrijni mukhraja shidqin waj’alli milladunka sultanannashira.
Ya Allah masukkanlah aku dengan masukan yang benar dan keluarkanlah aku dengan keluaran yang benar dan berilah aku kekuatan yang menolong (Q.S. Al-Isra’: 80).

Kali ini, inilah sambutan yang sesungguhnya ketika memasuki belantara Moewardi kemarin. Kalimat doa ini meluncur sebagai petuah dari dekan saya, Prof. Zainal.

Beliau mengajarkan agar kami berdoa supaya bisa masuk dengan cara yang baik. Namun tidak hanya masuk saja. Bukan hal baru jika ada koas yang bisa masuk namun tak bisa keluar. Maka, beliau melanjutkan petuahnya dengan doa agar kami bisa keluar dengan cara yang benar. Lagi-lagi untuk menghadapi belantara Moewardi dengan masuk dan keluar benar perlu proses yang benar pula. Maka, lanjutkan doanya dengan harapan agar selalu diberikan kekuatan yang menolong.

Petuah doa di atas seakan menjadi penyejuk yang menyambut jiwa-jiwa kami. Ya, jika sudah berdoa, untuk apa takut lagi? Mau sebelantara apapun Moewardi di hadapan kami, asal ada kekuatan yang menolong maka habis sudah semua perkara. Mau sesulit apapun semak belukar yang harus kami terjang dan masuki, asal kami dimasukkan dengan cara yang benar maka tak ada lagi kendala. Mau sebuas apapun rintangan untuk bisa keluar, asal kami dikeluarkan dengan cara yang benar maka tak ada lagi kekhawatiran.

Orang sering sulit untuk masuk ke lingkungan tertentu. Begitu sudah berhasil susah payah masuk, dia mungkin bernafas dengan lega. Ternyata, masih ada saja rintangan yang harus dia lalui selama prosesnya. Hingga akhirnya ia pun kembali bersusah payah untuk bisa keluar. Alhamdulillah jika dia keluar dalam keadaan layak dan selamat. Bisa jadi dia harus keluar dalam keadaan cacat atau malah dikeluarkan secara paksa. Na’udzubiillah.

Maka, alurnya memang benar demikian. Masuk benar lalu keluar benar, dan tentunya dengan pertolongan yang benar pula selama prosesnya. Bahkan Allah telah menuliskan doa ini dalam firman-Nya. Artinya Allah telah memberikan kunci agar kita tak perlu khawatir untuk masuk, berproses, dan keluar dari dunia tertentu.

Doa di atas juga mengingatkan saya bahwa berdoa itu sepanjang masa. Berdoa bukan hanya agar bisa masuk koas, bukan pula agar segera lulus koas, melainkan agar masuk dengan cara benar, keluar dengan benar, dan diberi kekuatan pertolongan. Artinya, doa ini berlaku sepanjang masa. Bahkan selesai koas sekalipun, doa ini masih terus berlaku. Bukankah masih ada episode kehidupan selanjutnya? Masih ada permohonan agar dimudahkan untuk masuk ke dunia yang lain, dikeluarkan dari kehidupan tertentu, dan selalu mendapat limpahan kekuatan pertolongan.

Maka, lafadzkan terus doa ini tanpa jemu. Jika kita percaya janji Allah itu pasti, tagih saja janji-Nya lewat doa. Bukankah Allah menyukai hamba-Nya yang selalu meminta? Semakin banyak kita meminta, semakin Allah akan suka. Semakin Allah suka, makin besar pula peluang Allah mengabulkan doa kita. Jika doa kita terkabul, adakah sesuatu yang perlu ditakutkan lagi?

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.


Welcome to The Jungle

21:53 0 Comments

Welcome to the jungle. Kalimat itulah yang saya terima satu minggu lalu ketika melangkahkan kaki ke RSUD Dr. Moewardi dengan status baru sebagai dokter muda. Tentu saja kalimat itu tidak diucapkan oleh para dokter, tetapi diucapkan sebagai bentuk penyambutan dari kakak tingkat yang kebetulan saya kenal.

Ngeri? Mungkin. Bayangkan saja, mereka menyebutnya jungle, bukan forest. Ada perbedaan antara forestdan jungle. Secara mudahnya, forest identik dengan hutan yang memang ditata, dirawat, dan murni pepohonan saja. Namun jungle lebih liar daripada forest. Jungle lebih identik dengan hutan belantara, lengkap dengan asesoris semak belukar dan mungkin hewan buas.

Akankah artinya ada banyak semak belukar yang menyambut saya di Moewardi? Apakah berarti sewaktu-waktu saya akan bertemu dengan hewan yang siap menerkam dibandingkan burung-burung hutan yang berkicau dengan riang? Sedemikian buaskah Moewardi nanti? Saya tidak tahu, tapi saya ingin mengubahmind set saya jauh-jauh hari, mulai saat ini.

Di hutan yang demikian belantara, seseorang mungkin sekali untuk berubah. Sebelum akhirnya saya tergerus dengan rutinitas Moewardi dan terpengaruh memandang pasien dengan tatapan mata lelah dibandingkan mata menyambut, saya harus antisipasi lebih dulu. Sebelum akhirnya saya termakan putaran sistem bisnis rumah sakit yang mempertimbangkan sosial ekonomi, saya harus mengantisipasi lebih dulu. Sebelum akhirnya saya mati hati karena menjadi kasta terbawah dari jajaran civitas rumah sakit, saya harus mengantisipasi lebih dulu.

Hutan belantara bukanlah hutan yang mematikan. Ketika seseorang sanggup keluar dari hutan belantara, bukankah ia menjadi pribadi yang tangguh? Dia memiliki mental yang kuat menghadapi hewan yang buas. Dia memiliki kekebalan tubuh lebih kuat karena terbiasa terluka tergores semak belukar. Sayangnya, manusia hanya melihat seputar waktu saat ini saja. Dia tidak membayangkan betapa hebatnya dia jika keluar kelak.

Maka, saya kembali menulis kali ini. Bukan untuk berkeluh kesah tentang merananya hidup di hutan belantara ini, melainkan untuk mengambil satu saja sisi indah dari setiap perjalanan yang terlewati setiap harinya. Agar yang terlihat tidak hanya keindahan ketika keluar nanti, tetapi juga keindahan berputar-putar di hutan belantara itu sendiri.


Thursday, 21 March 2013

Sudah Ditunggu

23:19 0 Comments

Tadi malam saat teman-teman saya asyik ngobrol di grup whatsap, adzan Isya berkumandang. Seorang teman lantas menulis chat, "Isya..., isya...."
Mungkin karena obrolan tadi baru seru, beberapa teman masih saja saling berbalas chat. Lalu, seorang teman yang lain menulis chat demikian: "Sholat..., Ditunggu Allah"


Perkataan teman saya itu bisa jadi hanya pengingat waktu sholat dan tidak asyik chating melulu. Tapi jauh daripada itu, kata-katanya ampuh membius kami yang asyik bergalau ria dan segera berhenti. Hingga beberapa menit kemudian, barulah ada seseorang yang memulai chating kembali.

Mungkin sudah banyak yang tahu ironi macam ini. Orang sering berdandan rapi ketika akan menemui atasan, tapi mengenakan kaos oblong seadanya ketika menemui Tuhannya. Orang resah tidak menentu seandainya janjian dengan dosen dan khawatir terlambat, tapi tidak takut sama sekali ketika molor dari perjanjian bertemu dengan Allah.

Kalau dipikir-pikir, sepertinya manusia memang terlalu sibuk dengan dunianya hingga beranggapan bahwa dunia yang ini sedang mendesak dan Allah bisa menunggu. Atau jangan-jangan ada yang berpikiran toh masih ada jeda waktu. Masih ada satu jam, masih ada lima belas menit, atau malah masih ada lima menit.

Hm..., perkara ini tidak bisa disamakan dengan deadline pekerjaan. Memang ini adalah 'pekerjaan' kita sebagai manusia di muka bumi, tetapi 'pekerjaan' kita kali ini menentukan nasib hidup dan mati. Bos kita akan melihat, siapa anak buahnya yang bersegera mengerjakan pekerjaannya dan siapa yang menunda-nunda. Dari kesungguhan itulah, bos kita akan memberikan gaji setimpal berupa pahala.

Memang orang sering malas-malasan karena merasa pahala atau gaji itu tidak kelihatan. Lantas menganggap tak apalah asal tetap dapat gaji. Yah, itu memang urusan masing-masing individu. Mau mendapat pahala banyak atau sedikit memang terserah kamu.

Tapi coba bayangkan, atasan atau dosen kita saja marah kalau kita molor, apakah kita tidak membayangkan bagaimana Allah murka karena kita mengabaikannya? Sadarkah kita bahwa Allah sudah sedemikian maklum pada kita? Hanya saja kita tak tahu apa yang sebenarnya akan Allah persiapkan untuk kita di akhirat nanti.

Berhubung kita tidak tahu, sudah sepantasnya jika kita melakukan yang terbaik. Layaknya pegawai yang mati-matian bekerja agar mendapat gaji maksimal, mengapa kita tidak mati-matian beribadah dengan sempurna agar mendapat pahala yang maksimal juga?

So, silakan dicoba. Semoga kelak kita mendapat panen gaji di surga. Aamin...



Ketergantungan

08:56 2 Comments
Orang sering merasa memiliki ketergantungan dengan sesuatu. Misalkan, orang yang hobi belanja dan tinggal gesek sana-sini seakan-akan sangat tergantung dengan kartu kreditnya. Seorang yang hobi online dan browsing kesana-kemari juga akan kelimpungan ketika koneksi internetnya sedang labil. Begitu seterusnya hingga wajar saja bagi pengguna narkoba yang sakau karena tidak mendapat asupan obat-obatan.

Bagi orang yang tidak mengalami keadaan itu mungkin akan geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa hanya karena pulsa habis, lalu seseorang jadi uring-uringan. Atau bagaimana bisa karena listrik padam dan tidak bisa menonton bola lantas sedemikian galaunya. Tapi, kalau kita pikir-pikir lagi, semua itu memang mungkin saja terjadi. Itu semua muncul karena kebiasaan atau pembiasaan yang kita lakukan sendiri. Kalau bahasa yang lebih kerennya, biasa disebut dengan adaptasi.

Misalkan begini. Seorang teman biasa tidur selepas isya dan bangun jam 12 malam. Awalnya mungkin terasa aneh, apa yang akan dilakukan tengah malam begitu hingga pagi. Sehari, dua hari, mungkin dia masih bingung, tetapi ketika sudah terjadi sebulan, dia pasti mulai terbiasa. Bahkan bisa jadi dia justru akan bingung ketika selepas isya tidak ada yang dia kerjakan dan belum bisa tidur.

Dari seorang teman, saya juga diberi tahu sesuatu. Di fanspage facebook milik Tere Liye ada seseorang yang bertanya bagaimana agar dia tidak kecanduan bermain facebook. Tere Liye menjawab yaitu dengan cara melatih diri untuk terbiasa tidak bermain facebook. Bang Tere menyebutkan, jika dalam 40 hari puasa facebook berhasil, artinya dia sudah berhasil lepas dari ketergantungan facebook.

Semula saya tidak percaya, lebih tepatnya saya mempertanyakan kenapa harus 40 hari. Oke, ternyata bukan semata-mata 40 harinya, tetapi lebih kepada pembiasaan itu sendiri. Dan akhirnya saya benar-benar merasakan dan membuktikannya.

Untuk teman yang sudah membaca postingan saya sebelumnya, pasti sedikit tahu bahwa saya mungkin memiliki ketergantungan dengan laptop, sedikit-sedikit membuka laptop untuk mengerjakan sesuatu. Hingga akhirnya dua bulan yang lalu laptop kesayangan saya rusak. Saya kelimpungan. Dalam satu bulan pertama, saya berkali-kali meneror tukang servisnya berharap laptop saya segera kembali. Namun, setelah lewat dari satu bulan, saya sudah mulai bosan sendiri dan menemukan kebiasaan yang baru.

Dua bulan kemudian laptop itu kembali. Awalnya saya sangat senang. Terbayang sudah serangkaian aktivitas saya sebelumnya, mengetik-ngetik, berselancar di dunia maya, atau menonton film. Nyatanya, di hari pertama dan kedua laptop itu kembali jatuh ke pelukan saya, tak ada aktivitas menarik seperti yang saya bayangkan. Saya sekedar membuka suatu file, lantas sudah. Saya hanya mengecek media social, lalu sudah. Bahkan ketika ada waktu luang di kampus dan saya melangkah gontai menuju perpustakaan untuk ngenet, saya juga stuck dan tidak tahu harus berselancar ke mana. Dan hari ini saya menyadarinya bahwa saya sepertinya sudah lepas dari ketergantungan laptop.

Maka, saya benar-benar percaya sekarang bahwa pembiasaan dan kebiasaan itu benar-benar bekerja. Tentunya pembiasaan ini dilihat dari sisi positif. Orang yang mengeluh tak bisa menulis harusnya percaya bahwa dengan terbiasa menulis maka ia akan benar-benar bisa menulis. Orang yang minder karena tak bisa berbahasa Inggris harusnya percaya bahwa dengan pembiasaan bercakap-cakap dengan bahasa Inggris maka ia pasti bisa berbahasa Inggris dengan baik. Orang yang pesimis tak sanggup menghafal Al-Qur’an seharusnya juga percaya bahwa dengan pembiasaan yang sedikit demi sedikit tetapi terus-menerus pada akhirnya pasti juga akan bisa.

Memang yang terberat adalah memulainya, tetapi ketika kita bisa meruntuhkan tembok besar di awal langkah kita, insya Allah perjalanan ke depan juga akan lebih mudah. Bismillah… Dengan menyebut nama Allah semoga kita bisa membiasakan hal-hal baik pada diri kita. Insya Allah….