Follow Us @soratemplates

Monday, 8 April 2013

Hukum Tertinggi

23:15 0 Comments

Dalam dunia kedokteran, terdapat sebuah hukum tertinggi. Agroti salus lex suprema. Keselamatan pasien adalah hukum yang tertinggi, demikian artinya. Begitulah prinsip ketiga yang disampaikan oleh Direktur RSUD Dr.Moewardi kepada kami.

Lihat, hukum tertinggi kami adalah keselamatan pasien. Apakah ini legal? Apakah ini lebai?

Oke, mungkin ada yang beanggapan bahwa hukum ini hanyalah hukum ilegal dalam arti sekedar hukum buatan manusia. Bukankah hukum tertinggi tetap peradilan-Nya? Ya, tentu saja. Tapi, coba bayangkan keadaan ini. Ketika kita menjadi dokter, maka kita diberi tanggung jawab akan kesehatan dan keselamatan pasien. Jika kita mengobati dan memberikan perawatan dengan baik, selamat dan sehatlah pasien itu.

Ingat, pasien adalah amanah kita. Bukankah segala yang menjadi amanah akan dipertanggungjawabkan kelak? Jika kita aman dengan amanah ini di dunia karena pasien selamat dan sehat, bukankah Insya Allah akan aman pula dengan pertanggungjawaban di akhirat kelak? Jadi, tidak sepenuhnya salah juga jika disebut hukum tertinggi adalah keselamatan pasien. Karena dengan keselamatan pasien itulah, hukum tertinggi dari Allah kelak akan menyelamatkan kita saat pertanggungjawaban di akhirat.

Tak perlu jauh-jauh hingga ke negeri akhirat, di dunia pun keselamatan pasien memang menjadi hukum yang tertinggi. Anggaplah kita memberikan pelayanan kepada pasien. Jika pasien sehat dan selamat, tentu mereka akan merasa senang. Coba bayangkan jika pasien justru semakin parah karena kita melakukan malpraktik, tentu kita pun tidak dalam posisi aman. Artinya, keselamatan pasien memang kunci dari ‘nasib’ seorang dokter. Jika pasien selamat, dokter juga selamat. Jika pasien tidak selamat dengan catatan karena kesalahan dokter, tidak selamat pulalah nasib sang dokter. Maka, benar pula kiranya jika dikatakan bahwa kesalamatan pasien merupakan hukum tertinggi.

Tentu saja konsep ini tidak hanya berlaku pada profesi dokter saja. Konsep totalitas dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah berlaku dalam semua hal. Seorang pilot tentu memiliki hukum tertinggi berupa keselamatan penumpang. Seorang koki barangkali memiliki hukum tertinggi berupa hidangan yang halal dan thayib. Demikian juga degan segala aktivitas lainnya.

Apapun itu aktivitasnya, hukum tertinggi itu memang benar-benar berlaku. Adanya hukum ini bukan berarti menambah hukum baru dari hukum yang telah diatur Sang Pencipta, melainkan hukum ini sekedar subhukum tertinggi sebelum berhadapan dengan hukum tertinggi sesungguhnya di akhirat nanti.



Sunday, 7 April 2013

Primum Non Nocere

23:42 0 Comments

Masih kelanjutan dari petuah wajib pak direktur, petuah kedua yang beliau pesankan kepada kami adalah filosofi primum non nocere. Kalimat ini jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya adalah: pertama, jangan merugikan.

Agaknya petuah yang kedua ini berkaitan dengan petuah sebelumnya. Jika di pesan yang pertama pak direktur meminta agar kami mementingkan kepentingan orang lain, prinsip selanjutnya adalah tidak merugikan orang lain.

Bukankah kedua prinsip ini hampir sama? Ya, memang. Tetapi sebenarnya berbeda.

Di prinsip yang pertama, kita diajarkan untuk mau berbagi dan berkorban untuk kepentingan orang lain. Intinya adalah kita diharapakan menjadi orang yang banyak memberikan manfaat bagi orang lain. Namun berbeda dengan prinsip kedua, kita diminta untuk tidak merugikan orang lain.

Kalimat ini bisa memberi dua makna. Yang pertama, ketika kita mementingkan kepentingan orang lain, jangan sampai pengorbanan yang sudah kita lakukan itu justru merugikan orang lain. Mungkinkah? Mungkin saja. Misal kita sudah bersedia membantu, tetapi karena kita tidak mampu lantas kita justru melakukan tindakan malpraktik.

Makna yang kedua bisa jadi konsep merugikan di sini adalah merugikan bagi kedua belah pihak. Bisa jadi niat kita adalah mengutamakan kepentingannya tetapi ternyata justru berdampak lebih buruk baginya. Atau jangan sampai ketika kita berkorban, kita justru merugikan diri sendiri. Tertular penyakit misalnya.

Kalau saya analogikan, kedua filosofi ini mirip dengan teori manfaat dan madharat. Sebisa mungkin, kita harus memberikan manfaat. Namun sekiranya justru menimbulkan madharat, maka jangan diambil. Begitu jika suatu hal tersebut memiliki manfaat dan madharat. Maka, berikan manfaatnya dan jangan torehkan madharat.

Yup, itulah filosofi altruisme dan primum non nocere yang bisa saya tangkap, memberi manfaat tanpa ada madharat.


Saturday, 6 April 2013

Altruisme

23:43 0 Comments

Setelah petuah dari pak dekan, giliran pak Direktur RSUD Dr. Moewardi yang memberikan petuah. Menurut kakak tingkat, ada empat petuah yang selalu beliau jadikan tugas ketika memberi wejangan kepada para dokter muda.

Petuah yang pertama adalah tentang altruisme atau sikap altruistik. Jika dicari arti kata tersebut dalam kamus, akan kita dapati bahwa altruisme atau altruistik adalah sikap yang lebih mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri. Secara mudahnya, pemahaman ini bertolak belakang dengan sikap egoisme.

Barangkali jika diibaratkan, sikap altruisme ini mirip dengan filosofi sebatang lilin. Lilin bersedia berkorban untuk menerangi sekitarnya. Dia lebih mementingkan keadaan sekitar yang terang, dibandingkan kepentingan dirinya sendiri agar tetap utuh dan tak terbakar. Namun filosofi di sini mungkin kurang tepat, karena bagaimanapun konsep pertama menolong adalah diri kita sendiri harus dalam kondisi aman. Bagaimana kita bisa meyakinkan orang lain kalau dia aman jika diri kita sendiri tidak aman?

Petuah pak direktur ini sejalan dengan petuah yang saya dapat dari bagian diklit Moewardi ketika akan penelitian skripsi dulu. Beliau berpesan, “Besok kalau jadi dokter harus siap mengabdi untuk pasien. Harus sedia 24 jam jika sewaktu-waktu dibutuhkan masyarakat sekitar.”

Ya, memang demikian adanya. Mungkin terkesan lebay jika dibayangkan zaman sekarang ada orang tengah malam mengetuk pintu rumah seorang dokter. But, who knows? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin saja hal itu memang terjadi suatu saat nanti. Jika memang terjadi, pemahaman pertama inilah yang diwanti-wanti oleh pak direktur yaitu mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri.

Sebenarnya konsep ini sangat baik jika dilihat dalam sudut pandang Islam. Pernah mendengar kisah kaum Muhajirin ketika pertama kali datang ke Madinah? Kaum Anshor dengan senang hati memberikan apapun miliknya untuk kaum Muhajirin. Mengapa? Karena mereka bersaudara. Karena anggapan saudara itulah mereka rela mengorbankan kepentingan dirinya untuk kepentingan saudaranya.

Bukankah hal itu indah? Karena sebenarnya kita dengan muslim yang lain adalah satu. Jika dia butuh, tak ada bedanya dengan kita yang butuh. Jika mementingkan kepentingan mereka, boleh jadi suatu saat Allah mementingkan kepentingan kita. Saya sendiri percaya dengan konsep itu. Siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolong dirinya. Siapa yang memudahkan atau menolong orang lain, suatu saat dia pasti juga mendapat kemudahan dan pertolongan.

Karena siapa yang menebar benih, pasti suatu saat akan menuai buahnya. Jadi, tak ada salahnya menebar benih kebaikan kepada semua karena suatu saat akan ada buah yang kita terima. Minimal, pahala kelak di surga. Insya Allah.




Friday, 5 April 2013

Motivasi Berkah

23:44 0 Comments

Orang bagaikan mayat hidup ketika tidak memiliki motivasi. Semua dijalani mengalir saja, tanpa ada letupan-letupan semangat sehari-harinya. Begitu juga ketika memasuki dunia perkuliahan atau dunia kerja.

Sedikit menyambung dengan niat yang sudah dibahas kemarin, motivasi ibarat saudara kembar yang tak bisa dipisahkan dengan niat. Ketika orang memiliki suatu niat, tentu dia juga memiliki motivasi untuk meraihnya. Sebaliknya, ketika orang memiliki motivasi terhadap sesuatu, pasti dia memiliki niat di balik semua itu.

Lalu, apa motivasi kita untuk masuk ke dunia dokter muda? Masih kelanjutan dari petuah dekan saya, beliau mengatakan motivasi menjadi koas adalah berkah.

Kalau dipikir-pikir, petuah beliau memang ada benarnya. Setelah diniatkan mengabdi alias beribadah, maka motivasi untuk menjaga agar tetap berniat ibadah adalah dengan mengharap keberkahan. Mungkin bahasa lebih familiarnya adalah mengharap ridha semata.

Bukankah memang demikian adanya? Suatu ibadah akan diterima oleh Allah SWT jika memiliki dua syarat yaitu ikhlas lillahi ta’ala atau hanya mengharap ridha Allah semata dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Artinya, niat beribadah memang harusnya dengan motivasi mengharap ridha Allah. Niat mengabdi di koas harusnya memang untuk mengharap berkah.

Untuk apa nilai tinggi jika ternyata Allah tidak meridhai. Untuk apa punya skill bagus kalau ternyata dengan kemampuan itu justru membuat Allah murka. Untuk apa setelah lulus langsung dapat kerja kalau ternyata tak ada ridha Allah di sana. Untuk apa pula memiliki banyak pasien setia kalau ternyata tak ada keberkahan dari Allah di setiap pasien-pasien kita.

Maka, memang kunci utama hidup adalah mencari ridha atau berkah Allah. Kalau Allah ridha, nilai-nilai yang kita peroleh pun adalah berkah dari-Nya. Kalau Allah ridha, kemampuan yang kita miliki akan menjadi keberkahan tersendiri. Kalau Allah ridha, pekerjaan pun akan datang dengan sendirinya. Dan kalau Allah ridha, rizqi yang Allah titipkan lewat pasien-pasien yang datang juga merupakah keberkahan sendiri bagi kita.

Tahu itu berkah atau tidak, tergantung hati kita yang mengimani. Apakah niat kita memang untuk mengabdi? Apakah motivasi kita memang untuk mencari keberkahan itu sendiri?

Semoga saja langkah ke depan memang semata-mata untuk mengabdi dan mencari keberkahan. Demikian juga untuk kehidupan secara keseluruhan. Semoga dapat menjadi hamba Allah yang berhasil menjalankan amanah untuk senantiasa beribadah, dan semoga mendapat apa yang benar-benar kita cari yaitu ridha Illahi Rabbi.


Thursday, 4 April 2013

Nawaitu Mengabdi

07:51 0 Comments

“Luruskan niat. Nawaitunya adalah mengabdi”

Petuah ini saya dapat dari dekan saya, Prof. Zainal. Lagi-lagi beliau mengetuk hati kami. Untuk apa kamu niat masuk koas? Tanpa menunggu jawaban dari kami, beliau lantas menjawab agar kami meluruskan niat untuk murni mengabdi.

Tentu kita sudah tidak asing dengan penggalan salah satu hadits arba’in Innamal a’malu binniyat. Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dalam kelanjutan hadits itu disebutkan, siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia mendapatkan Allah dan Rasul-Nya. Namun siapa yang hijrah karena dunia atau wanita yang ingin dinikahinya maka ia memang sebatas mendapatkan dunia dan wanita yang dinikahi itu saja.

Demikian pula ketika kita memasuki dunia akademis atau dunia kerja. Dokter muda yang notabene adalah urusan akademis memiliki cabang-cabang niat yang cukup banyak. Ada yang berniat agar mendapat nilai bagus. Ada yang berniat agar lulus terus seperti jalan tol tanpa ada hambatan. Ada pula yang berharap asal bisa mendapat skill untuk menjadi dokter sungguhan kelak.

Dalam ranah dunia kerja pun dokter muda yang dituntut untuk latihan bekerja juga memiliki beberapa peluang niat. Ada yang berniat mencari link ke dokter konsulen atau dokter residen agar begitu lulus langsung dapat kerja. Ada juga yang berniat mencari pasien sebanyak-banyaknya untuk membentuk aliansi pasien setia.

Di samping semua niat yang mungkin muncul itu, niat yang jauh lebih penting adalah niat untuk mengabdi.  Ya, pengabdian.

Ketika mendengar kata abdi, saya terpikirkan oleh kata lain yang memiliki makna serupa. Kata itu adalah kata hamba. Seseorang yang mengabdi adalah seorang yang menghamba. Contohnya abdi dalem, dia adalah orang yang menghamba pada sultan atau raja di keraton. 

Demikian juga kita sebagai manusia. Kita adalah hamba Allah, maka kita mengabdi pada Allah. Salah satu bentuk penghambaan itu adalah dengan beribadah. Artinya, seorang yang mengabdi dan menghamba adalah orang yang beribadah.

Maka, jika dekan saya mengatakan agar diniatkan untuk mengabdi, sama saja artinya dengan mengingatkan kami agar kami meniatkan aktivitas koas kami untuk ibadah. Kalau dipikir-pikir, bukankah tugas manusia memang hanya untuk beribadah? Manusia yang menjadi dokter muda artinya beribadah dengan dokter mudanya. Manusia yang menjadi guru artinya beribadah dengan keguruannya. Demikian seterusnya hingga status apapun memang selayaknya diniatkan untuk mengabdi, menghamba, beribadah.

Jadi, mari luruskan niat dan selamat beribadah….


Wednesday, 3 April 2013

Keluar Masuk dengan Benar

21:54 0 Comments

Robbi adkhilni mudkhala shidqin wa akhrijni mukhraja shidqin waj’alli milladunka sultanannashira.
Ya Allah masukkanlah aku dengan masukan yang benar dan keluarkanlah aku dengan keluaran yang benar dan berilah aku kekuatan yang menolong (Q.S. Al-Isra’: 80).

Kali ini, inilah sambutan yang sesungguhnya ketika memasuki belantara Moewardi kemarin. Kalimat doa ini meluncur sebagai petuah dari dekan saya, Prof. Zainal.

Beliau mengajarkan agar kami berdoa supaya bisa masuk dengan cara yang baik. Namun tidak hanya masuk saja. Bukan hal baru jika ada koas yang bisa masuk namun tak bisa keluar. Maka, beliau melanjutkan petuahnya dengan doa agar kami bisa keluar dengan cara yang benar. Lagi-lagi untuk menghadapi belantara Moewardi dengan masuk dan keluar benar perlu proses yang benar pula. Maka, lanjutkan doanya dengan harapan agar selalu diberikan kekuatan yang menolong.

Petuah doa di atas seakan menjadi penyejuk yang menyambut jiwa-jiwa kami. Ya, jika sudah berdoa, untuk apa takut lagi? Mau sebelantara apapun Moewardi di hadapan kami, asal ada kekuatan yang menolong maka habis sudah semua perkara. Mau sesulit apapun semak belukar yang harus kami terjang dan masuki, asal kami dimasukkan dengan cara yang benar maka tak ada lagi kendala. Mau sebuas apapun rintangan untuk bisa keluar, asal kami dikeluarkan dengan cara yang benar maka tak ada lagi kekhawatiran.

Orang sering sulit untuk masuk ke lingkungan tertentu. Begitu sudah berhasil susah payah masuk, dia mungkin bernafas dengan lega. Ternyata, masih ada saja rintangan yang harus dia lalui selama prosesnya. Hingga akhirnya ia pun kembali bersusah payah untuk bisa keluar. Alhamdulillah jika dia keluar dalam keadaan layak dan selamat. Bisa jadi dia harus keluar dalam keadaan cacat atau malah dikeluarkan secara paksa. Na’udzubiillah.

Maka, alurnya memang benar demikian. Masuk benar lalu keluar benar, dan tentunya dengan pertolongan yang benar pula selama prosesnya. Bahkan Allah telah menuliskan doa ini dalam firman-Nya. Artinya Allah telah memberikan kunci agar kita tak perlu khawatir untuk masuk, berproses, dan keluar dari dunia tertentu.

Doa di atas juga mengingatkan saya bahwa berdoa itu sepanjang masa. Berdoa bukan hanya agar bisa masuk koas, bukan pula agar segera lulus koas, melainkan agar masuk dengan cara benar, keluar dengan benar, dan diberi kekuatan pertolongan. Artinya, doa ini berlaku sepanjang masa. Bahkan selesai koas sekalipun, doa ini masih terus berlaku. Bukankah masih ada episode kehidupan selanjutnya? Masih ada permohonan agar dimudahkan untuk masuk ke dunia yang lain, dikeluarkan dari kehidupan tertentu, dan selalu mendapat limpahan kekuatan pertolongan.

Maka, lafadzkan terus doa ini tanpa jemu. Jika kita percaya janji Allah itu pasti, tagih saja janji-Nya lewat doa. Bukankah Allah menyukai hamba-Nya yang selalu meminta? Semakin banyak kita meminta, semakin Allah akan suka. Semakin Allah suka, makin besar pula peluang Allah mengabulkan doa kita. Jika doa kita terkabul, adakah sesuatu yang perlu ditakutkan lagi?

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.


Welcome to The Jungle

21:53 0 Comments

Welcome to the jungle. Kalimat itulah yang saya terima satu minggu lalu ketika melangkahkan kaki ke RSUD Dr. Moewardi dengan status baru sebagai dokter muda. Tentu saja kalimat itu tidak diucapkan oleh para dokter, tetapi diucapkan sebagai bentuk penyambutan dari kakak tingkat yang kebetulan saya kenal.

Ngeri? Mungkin. Bayangkan saja, mereka menyebutnya jungle, bukan forest. Ada perbedaan antara forestdan jungle. Secara mudahnya, forest identik dengan hutan yang memang ditata, dirawat, dan murni pepohonan saja. Namun jungle lebih liar daripada forest. Jungle lebih identik dengan hutan belantara, lengkap dengan asesoris semak belukar dan mungkin hewan buas.

Akankah artinya ada banyak semak belukar yang menyambut saya di Moewardi? Apakah berarti sewaktu-waktu saya akan bertemu dengan hewan yang siap menerkam dibandingkan burung-burung hutan yang berkicau dengan riang? Sedemikian buaskah Moewardi nanti? Saya tidak tahu, tapi saya ingin mengubahmind set saya jauh-jauh hari, mulai saat ini.

Di hutan yang demikian belantara, seseorang mungkin sekali untuk berubah. Sebelum akhirnya saya tergerus dengan rutinitas Moewardi dan terpengaruh memandang pasien dengan tatapan mata lelah dibandingkan mata menyambut, saya harus antisipasi lebih dulu. Sebelum akhirnya saya termakan putaran sistem bisnis rumah sakit yang mempertimbangkan sosial ekonomi, saya harus mengantisipasi lebih dulu. Sebelum akhirnya saya mati hati karena menjadi kasta terbawah dari jajaran civitas rumah sakit, saya harus mengantisipasi lebih dulu.

Hutan belantara bukanlah hutan yang mematikan. Ketika seseorang sanggup keluar dari hutan belantara, bukankah ia menjadi pribadi yang tangguh? Dia memiliki mental yang kuat menghadapi hewan yang buas. Dia memiliki kekebalan tubuh lebih kuat karena terbiasa terluka tergores semak belukar. Sayangnya, manusia hanya melihat seputar waktu saat ini saja. Dia tidak membayangkan betapa hebatnya dia jika keluar kelak.

Maka, saya kembali menulis kali ini. Bukan untuk berkeluh kesah tentang merananya hidup di hutan belantara ini, melainkan untuk mengambil satu saja sisi indah dari setiap perjalanan yang terlewati setiap harinya. Agar yang terlihat tidak hanya keindahan ketika keluar nanti, tetapi juga keindahan berputar-putar di hutan belantara itu sendiri.