Follow Us @soratemplates

Monday, 15 April 2013

Harus Pintar

09:33 0 Comments

Kemarin, saya melakukan refleksi dengan teman-teman saya. Kami mengingat-ingat ilmu apa saja yang sudah kami dapatkan selama belajar di preklinik, saat hanya duduk manis di dalam ruang kelas menerima kucuran ilmu dari para dosen. Bisa dikatakan ilmu itu sering hanya numpang lewat. Lewat selama beberapa hari, mengendap sebentar, dikeluarkan saat ujian, lantas menghilang, tertumpuk dengan materi ilmu baru.

Rasanya menyedihkan. Ilmu dari semester satu mungkin tak sekuat ilmu ketika semester tujuh. Apakah ada yang salah?

Mekanisme lupa dan mengingat yang baru sebenarnya adalah mekanisme yang normal dan sangat wajar. Hanya saja, tidak semua orang menerima faktor lupa yang kita miliki. Misal, ada seorang pasien datang dan bertanya, “dok, penyakit ini maksudnya gimana ya?” lantas dokter tersebut hanya diam dan dalam hati berkata, “duh, saya lupa”.

Saat preklinik dulu orang-orang masih sering memaklumi, “Ya maklum lah, masih kuliah. Mungkin belum dapat materi itu”. Ketika koas, pemakluman itu sedikit berkurang, tetapi setidaknya kita masih bisa berlindung di bawah ketiak residen atau dokter dan berkata, “Nanti dikonsulkan dengan dokter saja”. Tapi, jika sudah menjadi dokter kelak, rasanya tak ada lagi tameng untuk kita. Mau tak mau kita harus menjawabnya. Bahkan bisa jadi kitalah yang dijadikan tameng selanjutnya dan harus melindungi orang lain di bawah ketiak kita.

Lalu bagaimana jika lupa? Padahal orang lain terus menuntut dan menuntut. Masyarakat menganggap bahwa dokter tahu segalanya. Ya, segalanya. Dan jika dokter tidak tahu, cap bodohlah yang melekat. Jika cap bodoh terlanjur melekat, pergilah pasien-pasien itu.

Seorang kakak tingkat pernah berkata, “Kuncinya adalah ulang-ulang, ulang-ulang, ulang-ulang.” Persis ketika seseorang akan menghafal Al-Qur’an. Proses menghafalnya mungkin mudah saja, tetapi proses membuat hafalan itu mengendap dan tak kan terlupalah tantangannya. Maka perlu muroja’ah.

Pak Dekan sendiri pernah berkata, “Jadilah orang yang paling pintar. Jika tidak pintar, jadilah orang yang paling rajin. Saya tidak pintar, maka saya harus rajin. Kalau teman saya membaca buku satu kali, saya harus membaca buku itu mungkin sampai sepuluh kali.” Hm…, barangkali memang harus begitu. Menyadari jika kemampuan sedikit di bawah, lantas memberikan usaha lebih agar bisa tetap berdiri sama tinggi.

Prinsipnya tetap sama. Ulang-ulang, ulang-ulang, ulang-ulang. Maka, tak ada kata berhenti untuk belajar. Tak ada alasan untuk tidak tahu. Tak ada toleransi untuk dokter bodoh. Karena di depan mata sana ada pasien yang menunggu, ada pasien yang bertanya dan benar-benar butuh jawaban darimu.

Bisa? Insya Allah bisa…



Saturday, 13 April 2013

Lelah?

01:37 0 Comments

Beberapa teman yang sudah masuk stase koas mulai bercerita satu demi satu. Ada yang bersyukur bisa merebahkan badan di tempat tidur. Ada yang lega karena bisa mengistirahatkan kakinya. Ada pula yang tersenyum lebar karena bisa kembali mengisi perutnya. Semua komentar mereka mengisyaratkan satu hal, mereka lelah.

Ya, koas itu lelah. Begitu katanya. Tapi, pak dekan kembali mengingatkan, “Yang namanya koas memang harus lelah. Berlelah-lelah dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Mungkin terkesan menyebalkan kata-kata itu, tapi anggapan menyebalkan itu muncul karena kita hanya melihat satu sisi saja.

Lantas seorang dokter berkata, “Saya nggak habis pikir kalau koas zaman sekarang itu banyak mengeluh. Kalian masih bisa tidur waktu jaga malam, sekalipun hanya setengah jam. Kalian ga perlu menangkap status pasien yang dibuang di depan muka kalian. Kalian tidak perlu meringis kesakitan karena dilempar spidol di jidat kalian. Lalu, kenapa kalian masih saja mengeluh?”

Kata-kata dokter itu menohok. Seorang teman saya juga pernah berkata ketika saya sempat mengeluh di suatu keadaan. Dia menyindir, “Buat apa kamu sholat setiap hari kalau masih saja mengeluh?”

Ya, benar. Sholat adalah bukti syukur. Seharusnya ketika seseorang sudah sholat, dia sudah pintar untuk bersyukur. Tapi tetap saja leher manusia itu terlalu kaku. Teman yang lain berkata, “Di atas langit memang masih ada langit. Tapi jangan lupa kalau di bawah juga ada bumi.” Dia mengajak kami untuk berpikir, bisa saja seseorang iri (dan jadi tidak bersyukur) karena melihat orang lain terasa lebih enak. Sayangnya, dia lupa kalau di bawahnya ada orang yang lebih tidak beruntung.

Ya, ada orang yang mungkin ingin jadi dokter tapi tidak diterima di fakultas kedokteran. Ada orang yang bahkan untuk membayar biaya SPP SD saja masih harus berjuang mati-matian. Itulah, karena leher manusia terlalu kaku sehingga tak mau menatap ke bawah.

Merasa lelah tentu boleh saja. Wajar, bahkan rasa lelah itu juga peringatan dari Allah agar kita tidak mendzalimi diri kita sendiri. Tapi, kelelahan yang jadi keluhan itu yang menjadi masalah. Apapun yang terjadi, minimalkan untuk mengajak lisan. Urusan perasaan (lelah, sedih, marah, ataua apapun itu) adalah perkara hati. Tak perlu mengajak lidah yang sering justru memperparah.


Friday, 12 April 2013

Boleh Minta Nomor HP?

06:15 0 Comments

Ada seorang dokter yang bercerita. Pernah suatu ketika seorang perawat menghubunginya. Perawat itu bertanya, “Dok, ada pasien ingin tahu no HP dokter. Boleh?”

Dokter itu mengernyitkan dahinya. Bukan karena terganggu karena diminta no HP-nya, tapi terganggu dengan pertanyaan perawat itu. Singkat cerita, dokter itu berkata, “Catat ya, kalau ada pasien yang minta no HP saya, serahkan saja tanpa perlu bertanya lagi”

Lalu dokter itu pun berkata pada kami, para dokter muda, “Jangan pernah pelit kalau dimintai no HP”.
Beliau adalah dr.Jusup, wakil direktur bagian pelayanan RSUD Dr. Moewardi. Menurut beliau, memberikan no HP kepada pasien itu banyak keuntungannya dan beliau tidak habis pikir jika ada dokter yang pelit dengan no HP-nya.

Pertama, pasien yang meminta no HP itu cenderung berpotensi untuk menjadi pasien setia. Mereka butuh kehadiran sang dokter, maka mereka meminta no HP-nya. Beberapa dokter yang anti memberi no HP memiliki pakem bahwa pasien harus menemui dia. Tapi, dr.Jusup berpikiran bahwa HP sebagai komunikasi bisa menjadi pengikat. Misal, ada pasien yang rumahnya jauh. Boleh jadi pasien itu mengontak sang dokter lebih dahulu, barulah berkesempatan untuk bertatap muka dan diperiksa oleh dokter.

Yang kedua, memberikan no HP kepada pasien juga bisa menjadi salah satu sarana follow up kesehatan. Bahkan dalam konsep dokter keluarga yang saat ini sedang digalakkan di Indonesia, seorang dokter hendaknya memiliki komunikasi intens dengan pasiennya. Ketika pasien sakit, mereka tak segan menghubungi dokter. Ketika pasien sudah diberi obat, dokter tak lupa pula untuk menanyakan kesehatan pasien beberapa hari setelahnya. Jika konsep dokter keluarga ini benar-benar dijalankan, artinya no HP dokter murni harus menjadi makanan umum para pasien.

Bagi kami dokter muda, memberikan no HP dapat menjadi faktor pelayanan tambahan. Tak jarang ada pasien yang bertanya secara pribadi dengan dokternya. Ketika banyak ditanya, mau tak mau semakin banyak pula materi yang harus dipelajari. Semakin banyak yang dipelajari, bukankah kita makin untung sendiri?

Barangkali ada yang khawatir juga jika asal memberikan no HP. Kekhawatiran pertama, takutnya no HP yang diberikan itu bukan sebagai pelayanan tapi justru sebagai ajang untuk menerima complain sebanyak-banyaknya. Jika dilihat dari sudut pandang ini, pasti tidak enak. Tapi coba jika complain ini dipandang sebagai sebuah masukan, lantas dokter bisa sekaligus mengklarifikasi lewat HP pula, bukankah bisa jadi pasien juga puas dengan pelayanan kita?

Kekhawatiran selanjutnya yaitu no HP yang tersebar itu bisa jadi justru mengganggu. Misal sedang sibuk dan asyik dengan keluarga, tiba-tiba ada panggilan atau SMS pertanyaan. Boleh saja seorang dokter menganggap waktu keluarga adalah murni dengan keluarga, tapi ada juga yang berpikiran bahwa dokter bekerja 24 jam dan harus siap sewaktu-waktu ada panggilan.

Perkara mau memberi no HP atau tidak, pasti ada untung ruginya tersendiri. Yang jelas, no HP tidak untuk disalahgunakan. Bukankah prinsip ambil manfaat dan tinggalkan madharat tetap harus dijunjung tinggi?


Wednesday, 10 April 2013

Sempurna

23:16 0 Comments

Manusia itu tidak sempurna, tapi dokter harus sempurna.

Mendengar kalimat di atas ketika di rumah sakit kemarin membuat saya bergidik. Quote itu sedikit mengusik saya.

Kita pasti tahu bahwa manusia itu tidak sempurna. Meskipun Allah menciptakan manusia sebagai makhluk dengan penciptaan sebaik-baiknya, tetap saja manusia tidak akan mencapai label sempurna tanpa cela. Barangkali ada kecacatan fisik yang dia punya. Barangkali ada kekurangan mental atau intelektual pada dirinya. Mungkin juga ada sifat-sifat yang membuatnya terlihat sama sekali tidak sempurna. Agaknya quote ini sudah banyak yang tahu dan bisa jadi hampir semua setuju

Tapi, dokter harus sempurna? Saya sedikit tidak terima. Kalau manusia saja secara aklamasi dibolehkan untuk tidak sempurna, mengapa dokter tidak?

Kita sedikit bermain-main dengan diagram venn di sini, atau permainan negasi di matematika dan bahasa Indonesia dulu. Kalimat pertama, dokter adalah manusia. Kalimat kedua, manusia tidak sempurna. Bukankah seharusnya jika digabungkan maka dokter tidak sempurnya? Jika dokter harus sempurna, sedangkan manusia boleh tidak sempurnya, memangnya dokter itu bukan manusia?

Dokter adalah manusia, bukan robot. Jika dokter adalah robot, tentu dia akan bisa menjalankan semua prosedur sesuai dengan settingannya. Kemungkinan kesalahan bisa saja lebih kecil, asalkan pengaturannya pun sudah benar.  

Tapi, dokter bukanlah robot. Dokter punya hati yang bisa merasakan. Dokter punya akal untuk berpikir dan mempertimbangkan. Sayangnya dokter yang punya hati dan punya akal adalah sesosok manusia yang katanya adalah gudang salah dan alpa. Lantas, jika memang tempatnya salah, bagaimana akan sempurna?

Mungkin kalimat quote di atas bukan semata-mata menuntut kesempurnaan dari seorang dokter. Jika dilihat dari sudut pandang lain, kalimat tersebut justru bisa jadi bermaksud untuk mengajak dokter agar berusaha semaksimal mungkin mendekati kesempurnaan. Seperti yang sudah dibahas di note sebelumnya, seorang dokter diminta menjamin keselamatan pasien dan dituntut untuk memberi manfaat dan bukan madharat. Maka, wajar kiranya jika kalimat itu sedikit mendesak para dokter agar mau berusaha lebih demi mendekati label sempurna.

Apakah itu suatu beban dan terkesan muluk-muluk? Rasanya tidak juga. Asalkan nawaitunya mengabdi dan motivasinya berkah, insya Allah mau dituntut seperti apapun akan ada kekuatan pertolongan Allah yang menyertai. Karena Allah maha sempurna, boleh jadi label mendekati sempurna itu melekat pada diri kita karena Allah membersamai kita. Insya Allah. Aamiin…



Tuesday, 9 April 2013

Bebas Moral Hazard, Bebas Fraud

23:59 0 Comments

Oke, petuah dari Pak Direktur yang terakhir adalah tentang bebas dari hal-hal buruk. Kedua sifat buruk tersebut adalah Moral Hazard dan Fraud. Moral hazard dapat diartikan sebagai sifat atau pembawaan yang menyebabkan kerugian di bandingkan risiko rata-rata, sedangkan Fraud diartikan sebagai kecurangan terhadap hukum.

Bisa saja kita sudah paham tentang filosofi-filosofi sebelumnya, mulai dari konsep manfaat dan madharat, serta hukum tertinggi. Namun, semuanya kembali kepada diri kita sendiri. Apakah kita termasuk orang yang akan menjalankan dengan baik, atau kita berusaha menjalankannya tapi sayangnya tidak bisa benar-benar baik?

Di sinilah moral hazard bermain. Mungkin kita sudah berniat untuk membantu dengan sungguh-sungguh. Kita berusaha memberikan manfaat dan seminimal mungkin mencegah adanya madharat, sayangnya kita tersandung oleh moral hazard. Pembawaan kita yang ceroboh bisa jadi menyebabkan kita ceroboh pula ketika menyuntikkan obat. Sifat kita yang pelupa boleh jadi menyebabkan kita lupa pula memberikan edukasi cara meminum obat kepada pasien. Begitu seterusnya.

Sepele memang, tetapi sifat-sifat sepele itu bisa jadi memberikan madharat yang tidak kita duga. Sesuatu yang sebenarnya tidak akan berisiko tetapi karena jatuh di tangan kita yang memeliki pembawaan tertentu, akibatnya justru jadi sangat berisiko.

Demikian juga dengan Fraud. Boleh jadi kita paham dengan konsep hukum tertinggi adalah keselamatan pasien, tapi sayangnya kita punya karakter Fraud yang suka melakukan kecurangan terhadap hukum. Aturan penanganan yang harusnya sesuai prosedur A, tetapi karena sulit lantas kita ubah sedikit menjadi aturan B. Pasien yang seharusnya baik-baik saja dan tertangani sesuai prosedur justru menjadi kenapa-kenapa karena kita member toleransi tersendiri pada hukum yang sudah ada patokannya.

Lagi-lagi toleransi hukum itu mungkin dianggap sepele. Contoh umumnya saja misal seseorang melanggar lampu merah. Sepele mungkin. Kita menganggap, “ah, ga papa hanya lewat sedikit saja”, tapi siapa yang tahu kalau dari arah berlawanan ada kendaraan yang memang sudah jatahnya untuk melaju. Bisa jadi terjadi kecelakaan. Perkaranya cuma satu. Kita ceroboh dan membuat toleransi sendiri dari hukum yang berlaku.

Moral hazard memang sebuah karakter dan pembawaan, tapi karakter bisa diubah jika memang diupayakan. Hukum yang ada memang sudah pakemnya untuk ditaati, bukan untuk dicurangi demi kepentingan sendiri. Bebas dari sifat buruk dan semua kecurangan hukum? Insya Allah…


Monday, 8 April 2013

Hukum Tertinggi

23:15 0 Comments

Dalam dunia kedokteran, terdapat sebuah hukum tertinggi. Agroti salus lex suprema. Keselamatan pasien adalah hukum yang tertinggi, demikian artinya. Begitulah prinsip ketiga yang disampaikan oleh Direktur RSUD Dr.Moewardi kepada kami.

Lihat, hukum tertinggi kami adalah keselamatan pasien. Apakah ini legal? Apakah ini lebai?

Oke, mungkin ada yang beanggapan bahwa hukum ini hanyalah hukum ilegal dalam arti sekedar hukum buatan manusia. Bukankah hukum tertinggi tetap peradilan-Nya? Ya, tentu saja. Tapi, coba bayangkan keadaan ini. Ketika kita menjadi dokter, maka kita diberi tanggung jawab akan kesehatan dan keselamatan pasien. Jika kita mengobati dan memberikan perawatan dengan baik, selamat dan sehatlah pasien itu.

Ingat, pasien adalah amanah kita. Bukankah segala yang menjadi amanah akan dipertanggungjawabkan kelak? Jika kita aman dengan amanah ini di dunia karena pasien selamat dan sehat, bukankah Insya Allah akan aman pula dengan pertanggungjawaban di akhirat kelak? Jadi, tidak sepenuhnya salah juga jika disebut hukum tertinggi adalah keselamatan pasien. Karena dengan keselamatan pasien itulah, hukum tertinggi dari Allah kelak akan menyelamatkan kita saat pertanggungjawaban di akhirat.

Tak perlu jauh-jauh hingga ke negeri akhirat, di dunia pun keselamatan pasien memang menjadi hukum yang tertinggi. Anggaplah kita memberikan pelayanan kepada pasien. Jika pasien sehat dan selamat, tentu mereka akan merasa senang. Coba bayangkan jika pasien justru semakin parah karena kita melakukan malpraktik, tentu kita pun tidak dalam posisi aman. Artinya, keselamatan pasien memang kunci dari ‘nasib’ seorang dokter. Jika pasien selamat, dokter juga selamat. Jika pasien tidak selamat dengan catatan karena kesalahan dokter, tidak selamat pulalah nasib sang dokter. Maka, benar pula kiranya jika dikatakan bahwa kesalamatan pasien merupakan hukum tertinggi.

Tentu saja konsep ini tidak hanya berlaku pada profesi dokter saja. Konsep totalitas dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah berlaku dalam semua hal. Seorang pilot tentu memiliki hukum tertinggi berupa keselamatan penumpang. Seorang koki barangkali memiliki hukum tertinggi berupa hidangan yang halal dan thayib. Demikian juga degan segala aktivitas lainnya.

Apapun itu aktivitasnya, hukum tertinggi itu memang benar-benar berlaku. Adanya hukum ini bukan berarti menambah hukum baru dari hukum yang telah diatur Sang Pencipta, melainkan hukum ini sekedar subhukum tertinggi sebelum berhadapan dengan hukum tertinggi sesungguhnya di akhirat nanti.



Sunday, 7 April 2013

Primum Non Nocere

23:42 0 Comments

Masih kelanjutan dari petuah wajib pak direktur, petuah kedua yang beliau pesankan kepada kami adalah filosofi primum non nocere. Kalimat ini jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya adalah: pertama, jangan merugikan.

Agaknya petuah yang kedua ini berkaitan dengan petuah sebelumnya. Jika di pesan yang pertama pak direktur meminta agar kami mementingkan kepentingan orang lain, prinsip selanjutnya adalah tidak merugikan orang lain.

Bukankah kedua prinsip ini hampir sama? Ya, memang. Tetapi sebenarnya berbeda.

Di prinsip yang pertama, kita diajarkan untuk mau berbagi dan berkorban untuk kepentingan orang lain. Intinya adalah kita diharapakan menjadi orang yang banyak memberikan manfaat bagi orang lain. Namun berbeda dengan prinsip kedua, kita diminta untuk tidak merugikan orang lain.

Kalimat ini bisa memberi dua makna. Yang pertama, ketika kita mementingkan kepentingan orang lain, jangan sampai pengorbanan yang sudah kita lakukan itu justru merugikan orang lain. Mungkinkah? Mungkin saja. Misal kita sudah bersedia membantu, tetapi karena kita tidak mampu lantas kita justru melakukan tindakan malpraktik.

Makna yang kedua bisa jadi konsep merugikan di sini adalah merugikan bagi kedua belah pihak. Bisa jadi niat kita adalah mengutamakan kepentingannya tetapi ternyata justru berdampak lebih buruk baginya. Atau jangan sampai ketika kita berkorban, kita justru merugikan diri sendiri. Tertular penyakit misalnya.

Kalau saya analogikan, kedua filosofi ini mirip dengan teori manfaat dan madharat. Sebisa mungkin, kita harus memberikan manfaat. Namun sekiranya justru menimbulkan madharat, maka jangan diambil. Begitu jika suatu hal tersebut memiliki manfaat dan madharat. Maka, berikan manfaatnya dan jangan torehkan madharat.

Yup, itulah filosofi altruisme dan primum non nocere yang bisa saya tangkap, memberi manfaat tanpa ada madharat.