Follow Us @soratemplates

Monday, 22 April 2013

Tak Ada Ketiak

21:24 0 Comments

Di catatan yang sudah lalu saya menceritakan bahwa seorang dokter dituntut untuk pintar dan tahu segalanya. Ketika pasien tanya, dia harus paham. Di note itu saya menuliskan bahwa seorang dokter muda masih bisa berlindung di bawah ketiak residen dan residen mungkin masih bisa berlindung di bawah ketiak dokter staff. Lalu bagaimana dengan dokter staff yang sudah senior? Mau berlindung di ketiak siapa lagi?

Tadi pagi akhirnya saya menemukan jawabannya.

Tak ada ketiak siapapun di dunia kedokteran. Kami dituntut untuk bisa hidup mandiri. Sekedar berlindung boleh saja, tapi tetap harus mau maju perang juga. Apapun yang diujikan, dokter harus bisa menghadapi.

Seorang dokter tadi memberi tahu kepada kami, “Dua belas tahun saya belajar ilmu penyakit dalam, tetap saja ada ilmu yang belum saya ketahui. Apalagi dengan ilmu-ilmu spesialiasasi lain yang sudah tidak sempat untuk diikuti. Ilmu terus berkembang. Lalu bagaimana?”

Akhirnya, dokter itu berkata, “Buatlah PR untuk dirimu sendiri.” Ketika tidak tahu tentang sesuatu, langsung cari. Begitu juga ketika ada kasus pasien yang terkesan baru. Hadapi semampunya, catat, lalu balas dendam untuk dipelajari. Sekalipun residen atau dokter akan membantu menangani dan membuat kita aman, tapi puaskan rasa ingin tahu itu dengan terus belajar. Begitu pasien datang lagi maka kau akan merasa menang karena telah menaklukkan kasus pasien tersebut.

Lebih lanjut dokter itu berkata, “Selagi PR itu menggebu-nggebu dituliskan, segera cari. Mumpung mood sedang terbakar karena merasa tertantang untuk bisa menaklukkan. Jika menunggu, bisa jadi mood itu lenyap hingga akhirnya hanya akan menjadi tumpukan pertanyaan tak terjawab”

Dari cerita beliau di atas, saya disadarkan satu hal. Sampai kapanpun manusia memang tidak akan bisa seratus persen pintar. Bukan berarti karena manusia bodoh, tetapi karena ada beberapa penyebab. Salah satunya adalah karena ilmu yang sedemikian luasnya. Mencari ilmu tak akan pernah ada habisnya. Bahkan ilmu-ilmu yang diketahui manusia di dunia tak ada lebihnya dari satu tetes air di samudra.

Ilmu manusia sebanyak apapun tetap saja masih ada ilmu Allah yang menuntut untuk dicari. Maka, tak boleh ada kata lelah mencari ilmu. Tak boleh ada istilah berlindung di bawah ketiak siapapun demi bergantung karena malas menggali ilmu.



Ambil Suara

05:13 0 Comments

“Pilihlah intonasi terbaikmu, lalu pertahankan itu”

Pesan di atas saya dapatkan ketika menjalani pradik koas tiga minggu yang lalu. Apakah kita akan menyanyi? Tidak. Kita hanya diminta memilih nada dasar, intonasi, tempo, dan lain-lain sebagai modal seorang pemberi layanan jasa.

Sebagai makhluk sosial, tentu kita pernah menggunakan tenaga pemberi layanan jasa. Dari pemberi layanan jasa tersebut ada beberapa jasa yang memiliki ciri khas intonasi suara. Sebut saya pegawai bank atau operator telekomunikasi. Setiap kita menemui mereka, pasti intonasi suaranya sama. Tak peduli yang ditemui adalah orang muda, orang tua, atau anak-anak, mereka dipaksa ‘ramah’ dan menuruti pakem intonasi yang telah mereka pilih.

Demikian pula yang dipesankan kepada kami. Sebagai seorang dokter yang juga pemberi layanan jasa, kami juga diminta untuk mempunya standar intonasi suara. Tak peduli nanti yang dihadapi siapa dan dalam keadaan apa, intonasi suara keramahan itulah yang kita gunakan. Mungkin perkara ini terkesan remeh dan tidak penting, tapi hanya lewat suara yang ramah saja kadangkala bisa membuat pasien menjadi lebih nyaman.

Disadari atau tidak, manusia cenderung memiliki intonasi suaranya masing-masing. Ada yang suka berbicara dengan nada tinggi layaknya orang marah-marah. Padahal itu memang sudah kebiasaan. Ada pula yang suka berbicara pelan dan perlahan-lahan layaknya orang minder dan ketakutan. Padahal dia tidak merasa takut sama sekali. Begitu seterusnya.

Intonasi suara memang sering dikaitkan dengan emosi seseorang. Ketika orang itu senang, nada bicaranya pun cenderung lebih riang. Ketika orang marah, intonasinya menjadi lebih kasar. Ketika sedih, rasa duka itu juga seakan terpancar dari suaranya. Namun sebagai pelayan jasa, tetap saja yang diharapkan adalah intonasi stabil yang tidak membeda-bedakan dan tak terpengaruh mood sendiri.

Lalu bagaimana agar intonasi suara kita tidak berubah-ubah? Barangkali kita bisa belajar dari penyiar radio. Seorang penyiar radio yang mengandalkan audio tanpa visual jelas hanya menjual suaranya. Ketika dia larut terbawa emosi dan suaranya tak stabil, artinya tak laku juga barang dagangannya. Maka, apapun kondisi jiwa itu tetap harus disembunyikan. Salah satu cara menyembunyikan perasaan adalah dengan tersenyum.

Mungkin memang ada istilah senyum palsu. Namun bukan perkara murni atau tidaknya senyum itu yang kita bicarakan. Kita sedang mencoba mempertahankan intonasi suara dari senyum yang disunggingkan. Coba saja. Kata seorang teman penyiar, ketika kita berbicara sambil tersenyum maka nada suara kita akan menjadi lebih enak.

Barangkali memang harus demikian. Apakah kita pernah melihat teller bank yang melayani sambil menangis? Tentu tidak. Mereka selalu tersenyum, dan nada bicara mereka pun selalu stabil.

Maka, tersenyumlah dan milikilah intonasi suara terindah.



Sunday, 21 April 2013

Cuci Tangan

03:36 0 Comments

Satu hal yang sangat diwanti-wanti oleh bagian pendidikan kepada kami para koas adalah jangan lupa cuci tangan. Tentu saja ini bukan sekedar ucapan perhatian untuk cuci tangan sebelum makan atau sebelum beranjak tidur, melainkan ini adalah anjuran sebagai standar higinitas.

Ada lima waktu standar cuci tangan, antara lain adalah sebelum dan sesudah kontak dengan pasien. Prinsip cuci tangan ini adalah untuk melindungi diri. Sebelum kontak dengan pasien artinya dokter melindungi pasien dari kemungkinan kontak penyakit yang dibawa oleh dokter. Sebaliknya, cuci tangan setelah kontak dengan pasien memberi harapan agar dokter melindungi dirinya sendiri dari kemungkinan tertular penyakit dari pasien. Dari sudut pandang dokter, prinsip cuci tangan ini memberi makna agar tindakan diawali dan diakhiri dengan bersih, serta tidak memberi maupun mendapat kerugian.

Kalau dipikir-pikir, konsep bermula dan berakhir dengan bersih itu memang seharusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Anggaplah ini adalah sebuah arena kehidupan manusia. Seorang manusia terlahir dalam keadaan bersih. Ketika meninggal pun ia dalam keadaan bersih. Dari segi fisik, memang demikian adanya. Mayat dimandikan, dikafani, suci. Bersih layaknya bayi. Namun tentunya yang diharapkan tidak sekedar bersih secara fisik. Alangkah indahnya jika hati pun kembali bersih.

Sayangnya, manusia bukanlah makhluk maksum yang terbebas dari kesalahan. Selalu ada khilaf dan dosa yang melekat di hati. Lalu, apakah lantas didiamkan saja karena fitrohnya hati akan kembali terkotori? Tentu saja tidak. Prinsipnya hampir sama dengan cuci tangan tadi.

Dokter yang cuci tangan pasti akan kontak dengan pasien lagi, pasti ada kemungkinan terjadi transmisi penyakit lagi. Apakah dokter lantas diam saja? Tidak. Lagi dan lagi, dokter akan kembali cuci tangan. Begitu seterusnya.

Demikian pula dalam arena kehidupan. Sekalipun kita memang tempatnya salah dan dosa, bukan tidak mungkin kita untuk selalu melakukan cuci tangan dalam bentuk minta ampun kepada Yang Maha Kuasa. Layaknya tim rumah sakit yang mewajibkan dokter untuk cuci tangan sebagai syarat higinitas, demikian pula Allah SWT yang selalu meminta hamba-Nya untuk bertaubat dan mohon ampun demi kesucian jiwanya.

Apakah lantas benar-benar suci? Wallaha’lam. Cuci tangan pun belum tentu membunuh 100% kuman. Mungkin masih ada bakter-bakteri resisten yang tak bisa hilang. Tapi, bukankah sudah cukup mengurangi? Demikian pula dengan hati. Barangkali memang ada noda membandel yang masih membuat hati pekat, tapi dengan istigfar bukankah lebih mengurangi?

Semua bertujuan untuk safety. Jika cuci tangan adalah safety untuk dokter sendiri, demikian juga istigfar bagi manusia sebagai safety untuk hidup kekal di akhirat nanti. Astagfirullah…




Saturday, 20 April 2013

Percaya Kamu?

01:04 0 Comments

Tadi siang saya berdiskusi dengan seorang teman setelah menonton sebuah film. Pesan dari film itu mengatakan, “Jangan percaya kepada siapapun karena dunia terlalu keras untuk bisa menaruh kepercayaan kepada seseorang”. Sedikit banyak pesan ini juga berlaku di rumah sakit.

Kami diajarkan untuk tidak pernah percaya kepada siapapun, bahkan pada senior sekalipun. Dalam arti begini. Ketika kami diberi informasi suatu keadaan dari seorang pasien, kami tidak boleh langsung menerimanya. Kami harus mengecaknya sendiri, memastikan bahwa keadaan itu memang benar-benar terjadi.

Barangkali konsep ini seharusnya berlaku dalam semua hal. Contohnya ketika menerima ilmu atau informasi dalam hal apapun. Misal kita mendapat mendapat ilmu dari seorang ustadz, kita boleh-boleh saja untuk tidak percaya. Bukan berarti tidak percaya dalam arti mengingkari ilmunya, melainkan tidak percaya dengan dasar agar terus belajar lagi dan menemukan kebenaran yang sejati. Bukankah jika teralu percaya justru ibarat kerbau yang dicocok hidungnya? Miriplah kiranya seperti taklid buta. Padahal jelas-jelas taklid buta itu tidak diperkenankan.

Namun tidak semua hal memang bisa disetting dengan dalih tidak percaya. Dalam hal iman kita tetap harus percaya. Buktinya bisa secara kauniyah dan juga qauliyah. Demikian juga dalam pemeriksaan pasien. Ada batas-batas tertentu yang kita harus mengimaninya. Pun dalam teori-teori ilmu dunia lainnya. Mungkin kita tak bisa memahami bagaimana Edison menemukan teorinya, bagaimana Einsten menemukan rumus-rumusnya. Karena kita tidak tahu atau belum tahu, dalam kadar tertentu mau tak mau kita ‘terpaksa’ untuk menerima mentah-mentah teori itu.

Asas ketidakpercayaan bersahabat erat dengan prinsip kepo. Bukan bermaksud skeptis, hanya saja manusia memang harus terus belajar. Bukankah kepuasan dari mencari tahu jauh lebih menarik daripada sekedar menjadi teko yang hanya menampung ilmu?




Thursday, 18 April 2013

Dek Koas…!!!

01:00 0 Comments

Ada sebuah kisah lucu buatan kakak-kakak tingkat 2006. Ketika mereka lulus beberapa bulan yang lalu, mereka membuat sebuah video berjudul Catatan Akhir Koas. Video itu menceritakan sekelumit kisah warna-warni semasa koas. Salah satu scene dari video itu adalah panggilan sayang dari para civitas rumah sakit, “Dek koas”. Meskipun panggilan sayang, tentu saja panggilan ini tidak diucapkan dengan nada merayu. Seratus delapan puluh derajat daripada itu, panggilan itu justru diteriakkan. Bahkan dalam video itu dibuat sangat hiperbol dengan menggema dan menggaung hingga pelosok sudut rumah sakit.

Yah, namanya juga koas, singkatan dari co assistance, alias asistennya asisten. Maka saya bilang di catatan pertama saya, kami adalah kasta terendah di civitas rumah sakit. Seorang dokter mengilustrasikan kami adalah keset alias alas kaki. Yang namanya alas kaki pastilah diinjak-injak. Siapa yang menginjak? Bisa jadi yang menginjak adalah sepatu, yang dalam hal ini adalah para residen, atau yang menginjak adalah kaki itu sendiri yang diibaratkan sebagai dokter konsulen alias dokter spesialis. Meskipun miris, waktu itu kakak tingkat berkata, “Setidaknya alas kaki lebih baik daripada tanah di bawahnya, yaitu para preklinik”.

Percaya atau tidak percaya, kenyataan ini sepertinya akan lebih baik jika dihadapi dengan lapang dada. Tentu tidak semua civitas rumah sakit bersikap seperti itu. Layakny panggung sandiwara, ada peran antagonis dan ada pula peran protagonist.

Salah satu peran antagonis yang akhirnya berdamai dengan saya pernah berkata, “Saya bersikap seperti ini bukan karena mau membunuh kamu, tapi biar kamu kuat. Masak mau jadi dokter lembek?”

Lalu seorang perang protagonist juga berkata, “Saya sih percaya saja, siapa yang membantu orang lain pasti suatu saat akan dibantu. Kalau sekarang saya memudahkan kamu, saya berharap saya suatu saat juga dimudahkan sama Yang Di Atas”.

Pilihan mau menjadi peran antagonis atau protagonist, itu terserah mereka. Yang jelas sejak awal pak direktur sudah berpesan, “Kalian tidak sendiri. Jalin kerja sama dengan civitas yang lain mulai dari pegawai, perawat, residen, dokter, konsulen, atau koas lain.”

Yup, kerja sama. Ini bukan rumah sakit milik satu orang. Jadi mau tak mau memang harus kerja sama. Sebagai asistennya asisten, koas memang harus membantu. Sekalipun ada makna yang perlu ditinjau ulang tentang konsep membantu, suka atau tidak suka peran koas harus dijalankan.

Layaknya peran pembantu yang harus siap dalam keadaan apapun dalam pertunjukan, koas pun harus siap dalam kondisi apapun untuk berkerja sama dengan semua orang. Entah peran antagonis atau protagonist yang dihadapai di depan, the show must go on!


Tuesday, 16 April 2013

Kau Tak Kan Ku Tolak

22:10 2 Comments

Apabila datang kepadamu seorang laki-laki untuk meminang yang engkau ridha terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad).

Mungkin agak kurang tepat jika saya menyitir hadits di atas. Inti yang ingin saya angkat sebenarnya hanyalah untuk mengambil bahwa adanya keharusan untuk menerima dan pantangan untuk menolak laki-laki yang diridhai agama dan akhlaknya. Mengapa? Karena tak ada alasan yang lebih baik daripada agama, karena justru akan terjadi kemadharatan jika menolak kebaikan suatu agama.

Sedikit serupa, itu pulalah yang didengung-dengungkan oleh manajemen Moewardi. “Jika datang kepadamu seorang pasien, maka rawatlah dia. Bila tidak kau lakukan, akan terjadi fitnah di masyarakat dan timbul kerusakan bagi Moewardi”

Bukan hal asing lagi di masyarakat kalau terdengar kabar rumah sakit tertentu menolak pasien. Hal-hal yang bersifat individual ini bisa menjadi isu yang tersebar dan memberikan citra buruk bagi pelayanan rumah sakit itu sendiri. Masyarakat hanya tahu, betapa kejam rumah sakit itu yang tidak mau menerima pasien yang membutuhkan. Padahal boleh jadi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Kasus pertama, rumah sakit itu benar-benar penuh. Salah satu masalah klasik dari rumah sakit milik pemerintah adalah rumah sakit itu selalu penuh. Kenapa? Karena masyarakat berbondong-bondong datang ke sana untuk mendapat keringanan atau klaim asuransi. Jika diasumsikan banyak orang datang ke rumah sakit pemerintah, tentu rumah sakit akan semakin penuh. Daftar antrian layanan akan semakin panjang. Maka wajar kiranya orang yang berduit lantas mampir ke rumah sakit swasta dan mendapat penanganan lebih segera karena daftar antrian jauh lebih sedikit.
Kasus kedua, rumah sakit daerah merujuk pada rumah sakit pemerintah lainnya yang lebih canggih. 

Permasalahan yang muncul terletak pada komunikasi. Pasien yang kurang bisa menangkap boleh jadi menganggap bahwa rumah sakit pertama menolak dirinya dan melempar ke rumah sakit rujukan. Jika terjadi sesuatu dalam perjalanan menuju rumah sakit rujukan, bukan tidak mungkin jika pasien itu mengeluhkan rumah sakit pertama yang tidak memberikan tindakan. Masalah akan bertambah lagi seperti kasus pertama bahwa rumah sakit rujukan otomatis menjadi rumah sakit yang dituju lebih banyak pasien dan memiliki daftar antrian panjang.

Sayangnya, masyarakat tidak mau tahu itu. Yang namanya pasien pastilah hanya menginginkan dirinya dirawat dengan cepat, tepat, dan tentunya selamat. Mungkin tidak terpikir sama sekali bagaimana mekanisme manajemen yang terjadi. Tapi bagaimanapun juga yang namanya prinsip harus dijunjung tinggi. Haram hukumnya menolak pasien. Sekali menolak pasien, maka akan timbul satu kerusakan. Entah itu sakit hati pada diri pasien, ketidakpuasan, dan lain sebagainya yang bisa merata dan menyebar ke masyarakat lainnya.

Maka, benar adanya bahwa dilarang menolak pasien yang datang kepada kita. Demi kebaikan bersama, demi menjaga tak ada kerusakan selanjutnya.




Monday, 15 April 2013

Kepo

20:09 1 Comments

Ada yang tahu apa itu kepo? Kata teman-teman saya yang gaul, kepo maksudnya adalah selalu mencari tahu akan sesuatu hal. Biasanya pencarian info itu dicari sendiri dan dengan diam-diam. Kurang lebih begitu yang saya tahu.

Orang yang kepo memang orang yang ingin tahu tentang sesuatu. Rasa ingin tahunya itu sedemikian besar, sampai-sampai dia rela buang-buang waktu untuk puas mencari info yang dia dapatkan. Seandainya ada satu orang yang memberi tahu sesuatu, dia tidak sepenuhnya langsung percaya. Ia akan merasa puas ketika terus berusaha mencari sendiri dan menemukan fakta baru dari hasil pencariannya.

Orang bilang jangan pernah kepo. Mengapa? Karena kepo itu melelahkan dan menyakitkan. Tapi, ternyata seorang dokter dituntut untuk selalu kepo.

Seorang dokter pernah berkata, “Jangan langsung percaya dengan data dari mulut pasien.”

Ya, dokter tidak boleh langsung percaya. Dia harus rela untuk kepo. Andai pasien mengeluhkan A, dokter harus menanyakan pada keluarganya apakah benar pasien itu menderita A. Seorang dokter juga tidak boleh puas dengan data keluhan A saja. Dia harus tetap kepo, terus menanyakan hingga barangkali akan muncul keluhan B, C, D, dan seterusnya.

Seandainya daftar keluhan itu sudah ditangan, lagi-lagi dokter tidak boleh langsung percaya. Dia harus tetap kepo dan baru boleh merasa puas ketika sudah menemukan bukti. Maka ia pun melanjutkan aktivitas keponya dengan pemeriksaan fisik plus ditambah pemeriksaan penunjang bila perlu. Hingga ia akan puas dan tersenyum sendiri ketika mendapatkan data yang mungkin tidak pernah terlontar dari mulut pasien.

Itulah asyiknya kepo. Ketika kita mampu mendapatkan info lebih dan menunjang penilaian kita. Maka tidak aneh jika ada orang suka buka-buka dan cari info tentang orang lain atau sesuatu.

Coba saja jika semangat kepo ini diterapkan dalam banyak hal. Tidak hanya konsep dokter – pasien di atas, misalkan saja kepo ketika belajar atau saat kuliah. Andai seseorang punya sifat kepo yang sedemikian besar, pasti ia tak akan puas sampai menemukan jawaban atau info yang dia butuhkan. Jika ini benar-benar terjadi, sungguh betapa banyak ilmu yang akan dia dapatkan.

Sayangnya, semua orang memang tidak tertarik untuk kepo. Karena itu tadi, kepo itu kadang menyakitkan dan melelahkan. Buang-buang waktu dan mungkin tidak ketemu. Makanya, wajar juga jika hanya sedikit orang benar-benar paham ilmu dengan kekepoannya.

Terlepas dari itu semua, kepolah sesuai situasi dan kondisi. Jika itu kepo baik, pasti tak akan rugi. Insya Allah.