Follow Us @soratemplates

Saturday, 14 September 2013

Kesempatan vs Kepastian

11:16 4 Comments

Ada obrolan menarik yang saya alami pagi tadi dengan seorang teman laki-laki saya. Awalnya kami membicarakan tentang masa depan profesi seorang dokter. Pada akhirnya kami justru membicarakan sudut pandang laki-laki dan sudut pandang perempuan dalam hal pernikahan.

Teman saya bercerita, perbedaan laki-laki dan perempuan dalam hal pernikahan ada dalam pola pikirnya. Seorang laki-laki ingin agar dia diberi kesempatan, sedangkan seorang perempuan berharap agar dia diberi kepastian.

Perempuan berpikir, "Nikahi aku. Tenang saja, aku rela jika harus hidup susah denganmu. Rejeki itu di tangan Illahi, pasti setelah nikah akan ada jalan-Nya sendiri". 

Tetapi tidak demikian dengan laki-laki. Dia berpikir, "Tunggu dulu. Beri aku kesempatan. Sekalipun kamu mau hidup susah, tapi aku ingin membuatmu bahagia".

Jika ada perkataan laki-laki dan perempuan seperi itu, barangkali akan ada yang berkomentar, "Udah, putusin aja! Sampai kapan kamu mau menunggu?". Tapi saya tidak sedang membahas itu, saya sedang membahas tentang pemikiran laki-laki dan perempuan.

Sedikit banyak mindset itu tercipta karena budaya. Seorang laki-laki harus bisa menafkahi istrinya, maka ia merasa lebih galau memikirkan pekerjaan dan mengharapkan ada perempuan yang mau memberinya kesempatan. Sebaliknya, seorang perempuan seakan diberikan budaya untuk patuh pada suaminya, dalam arti dia tidak peduli bagaimana nanti dia akan hidup setelahnya karena dia cukup bergantung pada suami yang harus dipatuhinya. Maka perempuan akan lebih galau menanti siapa yang akan memberinya kepastian dan bukan mengkhawatirkan bagaimana pekerjaanku nanti.

Toh seorang laki-laki juga percaya bahwa rejeki juga berasal dari Illahi, bahwa nanti akan datang sendiri. Seorang laki-laki juga tahu bahwa perempuan bisa saja dibawa lari karena ada sesauatu yang pasti dan telah terjadi. Seorang perempuan juga tahu bahwa semua hal itu ada kesempatannya. Dia tahu bahwa dia harus memberi kesempatan siapapun untuk mengejar riski-Nya, dan dia pun juga pasti ingin hidup bahagia.

Lalu bagaimana? Tenang saja, pasti akan ada lock and key-nya. Akan ada seorang pria yang merasa sudah mendapatkan kesempatan dan akan ada seorang wanita yang merasa mendapatkan kepastian. Kun fayakun, jadilah mereka. Jika belum, barangkali memang laki-laki itu masih harus mencari kesempatan (entah dari manapun), dan perempuan itu masih harus mencari kepastian (entah dari siapapun).

Who knows?


Harta dan Keluarga

10:50 2 Comments


Jika kamu sudah berkarier nanti, mana yang kamu pilih antara harta dan keluarga? Ada yang memilih harta dengan alasan toh harta yang didapat akan diberikan pada keluarga. Tapi ada juga yang lebih memilih keluarga dengan alasan justru keluarga itulah hartanya.

Inilah yang terjadi di dunia sekitar saya. Tidak sedikit saya menjumpai dokter-dokter yang terpaksa harus berpisah dari keluarganya. Tapi di lain sisi tidak sedikit juga saya mendapati beberapa dokter yang mengatur aktivitas kariernya demi tetap bisa bersama keluarga.


Saya pernah menonton film tentang ini, tapi saya lupa judulnya. Di film itu diceritakan seorang pria demikian terobsesi dengan kariernya. Awalnya semua baik-baik saja. Semua keluarga menyemangati dirinya agar kariernya terus menanjak. Status keluarga tersebut pun meningkat dan mereka menjadi keluarga terpandang. Tapi, tunggu beberapa tahun kemudian.

Bisnisnya memang semakin menggurita, tapi istri pria itu akhirnya selingkuh. Entah karena tidak ada perhatian atau apa. Kedua anaknya juga tidak ada yang mengurus. Barangkali istilahnya adalah menjadi anak salah pergaulan. Hingga di akhir cerita akhirnya pria itu hampir meninggal dalam posisi masih memikirkan pekerjaannya.

Di akhir film itu sebelum si pria menghembuskan nafas terakhirnya, dia berpesan pada anak laki-lakinya, "Jangan hanya mengejar karier, utamakan keluarga!"

Jika melihat dari kacamata negeri akhirat, keduanya sama-sama penting sekaligus tidak penting. Dikatakan tidak penting karena mereka semua hanyalah pelengkap di dunia. Harta tak akan dibawa mati. Keluarga juga tak akan sudi ikut kita mati. Tapi, mereka juga tetap penting.

Jika kita punya harta, kita bisa lebih banyak sedekah. Tapi sebenarnya tak peduli berapapun banyaknya harta itu, kita akan tetap bersedekah. Maka, bukan seharusnya menghabiskan waktu demi mendapatkan tambahan income semata.

Jika kita mendekatkan diri pada keluarga, kita juga akan mendapat keberkahan silaturahim. Andai dia anak, maka orang tua akan mendapat kiriman doa ketika sudah mati karena sang anak paham dia harus berbakti pada orang tuanya yang telah menyayanginya.

Proporsional, barangkali itu kuncinya. Kebutuhan finansial terpenuhi tetapi kebutuhan orang-orang terdekat dari keluarga juga tercukupi. Apakah bisa? Barangkali. Asalkan ada pengertian dari semuanya untuk saling mengingatkan setiap perannya insya Allah semua juga akan berjalan dengan seimbang. Mudah-mudahan.


Thursday, 22 August 2013

Senyum Sapa

23:46 2 Comments


Kemarin, ketika saya selesai menjawab konsulan dari semua bangsal, tidak sengaja saya melihat sosok yang sangat saya kenal sedang duduk antri di poli geriatri. Beliau adalah guru agama saya sejak kelas satu sampai kelas tiga SMP. Entah karena dorongan apa, reflex saja saya langsung menghentikan langkah dan menghampiri beliau.

“ Pak M, saya Avi, murid bapak waktu SMP dulu.”

Ekspresi beliau campur aduk. Antara kaget, ramah, dan lupa-lupa ingat. Yah, maklum saja, saya lulus SMP sudah 8 tahun yang lalu, dan selepas saya lulus, beliau juga pensiun. Praktis tidak pernah ada pertemuan sama sekali. Sebagai guru agama, murid beliau juga banyak. Wajar saja jika beliau lupa dengan saya. Namun, sekalipun beliau tidak langsung mengingat saya, tetap saja ada perasaan senang di hati saya karena betemu dengan beliau.

Saya jadi teringat pengalaman saya dengan guru-guru yang lain.

Lebaran tahun lalu saat sedang hectic mengurus skripsi, saya mengirimkan SMS ucapan selamat idul fitri dan memohon maaf kepada pembimbing dan penguji skripsi saya. Salah satu penguji skripsi yang juga merangkap staff di Moewardi membalas SMS saya, “Alhamdulillah dik, kami senang sekali masih diingat. Blablabla..” Sekalipun kata-kata selanjutnya adalah ucapan idul fitri standar, tapi ada kalimat di awal yang menunjukkan bahwa beliau senang karena saya sebagi murid mau mengingat beliau.

Yup, saya memang tidak berprofesi sebagai guru, tapi mungkin dari contoh yang saya temui di atas saya bisa menggambarkan bagaimana perasaan seorang guru. Ada rasa bahagia ketika dia dihargai oleh murid-muridnya dan salah satu bentuk penghargaan adalah dengan mengingatnya dan menyapa bila kebetulan bertemu.

Bahkan bukan berprofesi sebagai sorang guru pun, bukankah kita senang jika diingat dan disapa? Misal di sebuah acara lantas kita disapa oleh seorang kenalan yang sudah lama tak bertemu. Bukankah menyenangkan karena seakan terjalin lagi sebuah silaturahim baru? Mungkin rasa senang itu muncul karena manfaat silaturahim itu sendiri. Kita akan tersenyum, dan senyum itulah yang membuat kita bahagia. Ketika kita bahagia maka panjanglah umur kita. Ketika kita bahagia, makin melimpahlah rizki kita. Yup, karena itulah berkah silaturahim, memanjangkan umur dan menambah rizqi.

Percaya atau tidak, itu terbukti pada diri saya. Sebelum menyapa guru saya itu, saya merasa lelah setelah mengitari semua bangsal. Tapi selepas berinteraksi dengan beliau dan saling tersenyum, lelah itu seakan terbang bersama hadirnya senyuman. Begitu pula dengan rizqi, hanya dengan interaksi yang mungkin tak ada lima menit, ada sebuah doa dari beliau semoga saya sukses menjadi dokter. Simple sekali.


Hanya dengan sapaan dapat membuat kita bahagia. Hanya dengan sapaan membuat kita mendapat rizqi lewat doa. Hanya dengan sapaan pula kita membuat orang lain merasa lebih dihargai peran dan keberadaannya. So, tak ada salahnya menyapa dan menebar senyuman. Bukankah senyum adalah ibadah? :)


Monday, 12 August 2013

Lelah Marah

08:28 0 Comments
Pada dasarnya semua orang itu baik, tetapi ketika nafsu amarah menyelimuti, maka sirnalah semua.

Di catatan Petuah Dokter Muda beberapa seri yang lalu, saya pernah menulis bahwa banyak koas yang mengeluh dirinya merasa lelah. Di situ saya menulis dari sudut pandang bahwa kelelahan koas (khususnya zaman sekarang) sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan koas zaman dulu. Saya memakai sudut pandang syukur dalam catatan itu. Kali ini berbeda.

Saya akui koas itu melelahkan. Ralat, semua pekerjaan itu melelahkan. Staf, residen, perawat, semua juga merasakan kelelahan itu. Sekarang bukan perkara mengatasi masalah hati berupa keluh kesah, ternyata ada masalah baru yang sangat rawan. Lelahnya fisik akan menyeret pada lelahnya hati.
Saya mengalaminya dan saya menyadarinya.

Ada seorang residen yang menurut saya baik hati sekali. Dia selalu ramah pada pasien, mau membimbing koas, dan bekerja sama dengan baik dengan para perawat. Suatu ketika entah beliau selepas jaga malam atau bagaimana, raut wajahnya berubah. Teman residennya yang seharusnya baik-baik saja ternyata kena semprot juga. Andai saya tidak mengenal residen itu sebelumnya, saya mungkin akan menilai bahwa residen ini ‘menakutkan’.

Begitu juga teman saya. Ada seorang teman yang dia baik-baik saja, selalu ikhlas menjalankan tugas-tugas yang memang harus dia kerjakan, tetapi pada akhirnya jebol juga. Penyebabnya sama, lelah secara fisik sehingga psikis menjadi lebih mudah sensitive.

Itu pula yang terjadi pada saya. Beberapa stase berat yang saya lalui seringkali secara tak sadar mempengaruhi hati. Pulang ke rumah dalam keadaan lelah. Istirahat seharian seakan-akan belum bisa membayar kelelahan. Keterlaluan mungkin, tapi ternyata begitu juga yang terjadi pada sebagian besar teman-teman saya. Ketika terjadi singgungan sedikit, keluarlah emosi yang terlanjur mengendap bersama kelelahan.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir sedih juga jika hal itu terjadi. Sering mendengar istilah “urusan kantor selesaikan di kantor, urusan rumah selesaikan di rumah”. Tak jauh beda berarti urusan rumah sakit seharusnya cukup diselesaikan di rumah sakit dan urusan rumah diselesaikan di rumah. Nyatanya, kedua urusan itu bertemu dengan sendirinya dan memberi dampak yang tidak enak di dua kondisi yang berbeda.

Padahal itu semata-mata karena lelah fisik saja. Yang ketika kelelahan fisik itu sirna, maka sirna pula semua kelelahan psikis yang mendera. Mungkin benar petuah dari seorang dokter, “Carilah teman yang mau memahami, yang mau mengerti kondisi kita, yang mau menyediakan tong sampah bagi kita”. Ketika kita lelah, dia tidak akan complain. Dia menyediakan hatinya yang lebih besar untuk menerima kita, bahkan menyiapkan tempat sampah sewaktu-waktu kita membuang sebagian atau seluruh kepenatan yang ada.

Memang benar butuh lingkungan yang memahami sehingga lelah fisik dan psikis tidak menjadi-jadi. Karena lelah fisik yang tidak terobati berarti semakin menambah lelah hati. Sebaliknya, lelah hati yang tidak segera teratasi juga akan berdampak menambah kelelahan fisik.

Tapi terlepas dari lingkungan sebagai faktor eksternal, introspeksi diri dari sisi internal pun sepertinya tidak kalah pentingnya. Mungkin saja niat perlu diperbaharui lagi. Barangkali orientasi perlu diubah lagi. Siapa tahu kelelahan fisik terjadi karena kurang ikhlas menjalani, dan karena kurang ikhlas wajar saja jika hati terbawa emosi. Karena bukan lillahi ta’ala, berarti ada setan-setan yang ikut menyertai. Dan bukannya memang sudah tugas setan untuk membuat ‘sakit hati’?

A’udzubillahiminasysyaithonirrajim….


Thursday, 2 May 2013

Lembut

21:34 0 Comments

Ketika mengikuti program jaga malam di suatu sore, seorang pasien bercerita, “Koasnya ganti ya mbak? Biasanya kemarin yang jaga Mbak X. Kalau meriksa lembut banget”. Saya pun menjawab, “Iya pak, jadwal jaganya ganti-ganti”. Bapak itu melanjutkan, “Oh, gitu ya mbak. Itu koasnya baik, mbak. Kalau cara meriksanya lembut gitu kan pasien jadi senang ya mbak”. Saya tersenyum dan mengiyakan.

Di lain waktu, seorang pasien yang baru saja masuk IGD berkata, “Dok, periksanya pelan-pelan ya. Nyuntiknya pelan-pelan. Saya trauma, dok. Di klinik sebelumnya sudah dicoblos di mana-mana. Kasar”. Kami yang ada di IGD saat itu hanya mengiyakan.

Ketika mendengar komentar beberapa pasien tersebut, saya teringat dengan petuah Wadir Pelayanan RSDM saat pradik dulu. Beliau berkata, “66% pasien pindah karena bertemu dengan orang yang tidak menyenangkan”. Tanpa data akurat 66% itu saja, secara logika kita bisa menerimanya.

Ini layaknya hukum aksi dan reaksi. Ketika seorang diperlakukan secara kasar, orang itu seringnya akan membalas dengan kasar pula. Bahkan bisa jadi justru membalas dengan yang jauh lebih kasar. Mungkin, pasien tidak akan kooperatif, menolak tindakan ini itu, atau bahkan meninggalkan tempat layanan dan pulang.

Sebaliknya, jika pasien merasa diperlakukan dengan lembut, tentu dia akan membalas dengan baik pula. Sekalipun mungkin tidak dengan sesuatu yang lebih baik, setidaknya sikap kooperatif pasien akan cukup membantu kita.

Yup, tak ada satu pun manusia di bumi ini yang ingin diperlakukan dengan kasar. Semua pasti ingin mendapatkan perlakuan yang lembut, penuh dengan kasih sayang. Jika kita juga ingin mendapat perlakuan yang baik, mengapa tidak kita dulu yang mulai untuk berbuat baik?




Tidur…

19:55 0 Comments

“Semalam tidak bisa tidur, dok…”

Kalimat itu sering sekali saya dengar ketika memeriksa pasien di pagi hari. Tidak tua, tidak muda, keluhan ini melanda kebanyakan pasien. Penyebabnya pun bermacam-macam. Ada yang karena kedinginan, kepanasan, keluhan dari penyakitnya sendiri, atau hanya karena terganggu ‘keberisikan’ pasien di sebelahnya. Nada keluhannya juga berbeda-beda, ada yang sedikit ‘kesal’, ada pula yang sangat frustasi. Keluhan dengan nada frustasi di suatu pagi itulah yang menyentil saya hingga menulis catatan ini.

Kalau di rumah, ketika saya atau adik saya tidak juga tidur hingga larut malam, biasanya bapak akan bertanya, “Kok tidak tidur?”. Sekalipun sangat jarang, bukan tidak pernah kami menjawab dengan alasan, “Tidak bisa tidur, Pak”. Kalau muncul jawaban begini, bapak akan berkelakar, “Tidur aja kok ‘nggak bisa’, mbok ya belajar biar ‘bisa’ tidur”.

Kenyataannya, belajar agar bisa tidur itu ternyata tak semudah yang dibayangkan.

Bagi saya yang hobi tidur, mungkin menempelkan kepala di bantal saja sudah bisa membawa ke alam mimpi. Sayangnya, bagi orang lain mungkin butuh perjuangan tersendiri untuk menikmati nyamannya terlelap dengan kepala di bantal. Lucunya, kedua kondisi ini memiliki sudut pandang sendiri-sendiri.

Bagi orang yang gampang terlelap, dia sering kali menyalahkan keadaan. Misal, dia mengeluh karena ketiduran padahal tugas-tugas masih menumpuk. Dia seharusnya mengikuti kegiatan ini itu, tetapi terhambat karena mengantuk atau bahkan jatuh tertidur. Yang dia pikirkan hanyalah rasa mengantuk yang sangat mengganggu dirinya. Lantas dia berpikir betapa enaknya orang yang bisa tidur sedikit.

Sebaliknya, orang yang sulit tidur juga tak jarang mengeluhkan keadaanya. Misalnya seperti yang disampaikan oleh beberapa pasien yang sudah saya ceritakan di atas. Pasien itu mungkin juga beranggapan, alangkah nikmatnya jika bisa tidur dengan nyaman.

Barangkali, inilah contoh rumput tetangga terlihat lebih hijau daripada rumput sendiri. Diri kita yang gampang mengantuk, merasa iri dengan mereka yang tidur sedikit. Sebaliknya, mereka yang sulit tidur juga iri dengan kita yang bisa merasakan nikmatnya tidur panjang. Kenikmatan orang lain terasa lebih indah. Padahal mungkin kita sendiri juga diberikan kenikmatan itu, tapi kurang menyadari.

Dan di keesokan harinya, pasien itu berkata, “Alhamdulillah dok, tadi malam saya sudah bisa tidur”.

Hm…, hanya dari tidur saja sudah diuji rasa kesyukuran kita. Sungguh, nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?


Magic Words

19:24 0 Comments

Apa yang dimaksud dengan magic words? Tentu bukan simsalabim abrakadabra, atau lebih-lebih kun fayakun. Ada yang bilang kata ajaib itu adalah maaf, tolong, dan terima kasih. Di Moewardi, ada sedikit yang berbeda dengan tiga kata ajaib itu.

Pertama, sapa. Ketika bertemu dengan pasien, maka seorang dokter harus mau menyapa pasien tersebut. Coba bayangkan ketika dokter datang lalu langsung sok aksi main tindakan, tanpa menyapa, tanpa permisi. Tentu sangat terkesan tidak sopan. Sapaan yang diberikan kepada pasien secara tidak sadar membuat kita memulai hubungan yang baik dengan pasien. Orang yang menyapa akan terkesan lebih ramah, dan jika orang itu ramah maka orang yang diajak berinteraksi pun akan lebih senang. Ketika orang lebih senang, bisa jadi orang tersebut akan lebih kooperatif untuk diajak berinteraksi.

Sapaan juga menjadi bentuk apresiasi kita kepada orang lain. Ketika kita menyapa orang lain, artinya kita menganggap orang itu ada. Kita tidak bersikap acuh dan tak peduli dengan keberadaan orang tersebut. Maka, dengan dimulai dari sapaan itulah kita diharapkan dapat lebih memanusiakan manusia.

Kedua, maaf. Ada yang bilang jangan terlalu mengumbar kata maaf jika kita tak salah. Tapi, kata maaf dalam konteks ini berbeda. Maaf di sini memiliki arti bahwa kita meminta izin kepada pasien. Misal, seorang dokter akan mengecek tekanan darah pasien. Maka, dia akan lebih baik jika mengatakan, “Maaf bu, bisa diulurkan tangannya untuk diperiksa tekanan darahnya?”. Makna tersirat pertama, jelas kita memohon izin pada pasien. Makna berikutnya, boleh jadi kita memang melakukan ‘kesalahan’ kepada pasien, missal pasien merasa sakit karena kita harus menyuntik dan sebagainya. Artinya, memang tidak ada salahnya jika ketika meminta maaf sejak semula.

Yang terakhir adalah kata terima kasih. Ucapan terima kasih lagi-lagi sebagi bentuk penghargaan kita kepada orang lain. Barangkali pasien itu memang tidak memberi kita barang atau sesuatu yang berharga sekalipun. Tapi, sekedar pemberian izin bagi kita untuk melakukan tindakan ataupun pemeriksaan bukankah juga suatu pemberian yang berharga? Jadi, tak ada salahnya jika mengucapkan terima kasih dengan apapun yang telah mereka berikan.

Yup, dengan tiga kata ajaib itu, mungkin memang akan ada keajaiban yang terjadi. Pasien akan lebih rela untuk diperiksa, kita pun lebih nyaman untuk melakukan tindakan. Tiga kata yang mudah, tapi sangat bisa mengubah. Jika bisa membuat keajaiban itu, mengapa tidak?