Follow Us @soratemplates

Thursday, 3 July 2014

Tentang Rasa

12:01 2 Comments
Ramadhan #5

Dalam sebuah percakapan panjang dengan seorang teman, tiba-tiba dia berkata, "Aku tahu perasaanmu, Vi." 
Saya yang saat itu dalam posisi netral lantas menjawab, "Bagaimana bisa tahu, aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku."
Dia kembali menjawab, "Karena kadang seseorang lebih bisa merasakan perasaan orang lain dibandingkan perasaan dirinya sendiri."

Saya sering kesulitan memaknai rasa. Ah, bukan sulit. Lebih tepatnya saya terlalu cuek dan tak ambil pusing dengan mereka yang bermain-main dengan rasa. Datar, begitu saja. Bagi seorang teman, kondisi saya ini menyedihkan.

Sahabat saya pernah bertanya, "Mbak, kamu ga merasa sakit hati?"
Saya menggeleng dan menjawab, "Ga sama sekali. Ga ada rasa sama sekali."
Dan sahabat saya justru berkata, "Aku pingin nangis karena menurutku sebenarnya hatimu itu sangat sakit sampai-sampai tidak bisa merasakan sakit."

Sebaliknya suatu ketika sahabat saya bertanya, "Mbak, kamu bahagia?"
Dengan mantap saya menjawab, "Ya, tentu saja aku bahagia."
Dan dia justru menghela nafas, "Ya sudah, yang penting kamu benar-benar bahagia."

Dalam kacamata sahabat saya, sepertinya ada yang salah di dalam diri saya dalam memaknai rasa. Seharusnya sedih, tapi biasa saja. Seharusnya marah dan sakit hati, tapi ga meluap juga. Seharusnya bisa lebih bahagia, tapi sudah cukup dengan kebahagiaan ini saja. Menyedihkan begitu katanya. Padahal dalam ilmu psikiatri disebutkan bahwa mengungkapkan sedih, senang, marah, dan lain sebagainya itu penting untuk kesehatan jiwa.

Tapi saya berpikir, urusan rasa di hati ini urusan Illahi. Dia yang maha membolak-balikkan hati. Sekalipun konteksnya adalah tentang keimanan, tapi Dia juga yang membolak-balikkan hati seorang hamba dari sedih, susah, marah, senang, dan sebagainya. Kalo hari ini sedih, besok juga bisa jadi senang, dan seterusnya.

Ada yang beranggapan, jangan terlalu senang dan jangan terlalu sedih. Orang yang terlalu senang bisa jadi esok akan terlalu sedih. Dalam hal ini saya lebih sepakat dengan pendapat ini. Namun, mungkin sahabat saya memilih sebaliknya. Bisa jadi dia termasuk orang yang memilih selagi senang, ayo bersenang-senang. Kalaupun sedih, ya dipikir nanti belakangan.

Entahlah. Tentang bagaimana memaknai rasa itu, saya kadang masih tidak mengerti. Apakah emang harus terdefinisi atau biarkan mengalir saja? Asal diri ini tetap enjoy menjalani, apakah tetap menjadi masalah? Lagi-lagi entahlah.



*to my best friend: trust me, I enjoy my life... :)






Wednesday, 2 July 2014

You're My Friend

11:08 3 Comments
Ramadhan #4

Teman, apa arti teman bagi Anda? Satu demi satu pasti mahir mendefinisikannya. Dia bisa jadi orang yang sering menghabiskan waktu bersama. Dia orang yang selalu ada. Dia tempat menumpahkan suka duka, dan lain sebagainya. Bahkan mungkin teman sekedar sesederhana asal saling mengenal saja. Layaknya teman di social media yang sekedar add atau follow dan belum pernah tahu wujudnya.

Dengan luasnya definisi itu, semua orang tentunya punya banyak teman. Saya punya banyak teman, Anda, dan siapapun di dunia ini. Sayangnya, masih saja ada orang di dunia ini yang merasa dia tidak punya teman sama sekali. Kenapa?

Barangkali lingkaran pertemanan dibuatnya menjadi berlapis-lapis. Ada yang sekedar kenalan, ada yang masuk jadi teman sehari-hari, ada pula teman akrab, atau lebih lagi menjadi sahabat. Terlalu berlapis-lapisnya ikatan pertemanan ini bisa jadi membuat diri ini merasa tidak memiliki seorang teman. Padahal seorang kenalan bisa saja lantas menjadi seorang sahabat dalam sekejap. Begitu pula dengan lapisan-lapisan pertemanan lainnya.

Barangkali pula pertemanan dibuatnya menjadi berbatas waktu. Teman waktu SD, teman SMP, teman SMA, kuliah, kerja, dan seterusnya. Hingga merasa bahwa orang-orang saat ini yang menjadi temannya adalah orang yang kebetulan sedang berada di zona waktu yang sama dari fase hidupnya. Padahal bukankah seorang teman SD bisa dihubungi saat ini dan menjadi teman masa kini pula. Begitu pula untuk zona-zona waktu lainnya.

Maka, harusnya tak ada istilah tidak punya teman sama sekali. Barangkali karena kita terlalu menutup diri untuk membuat semua orang menjadi orang terdekat. Barangkali karena kita terlalu angkuh melupakan masa lalu dan hanya sibuk berkutat dengan masa kini.

Tak ada mantan teman, tak ada istilah hanya punya satu kawan. Cobalah membuka diri, maka akan ada banyak rekan-rekan yang kau dapati.



*untuk temanku yang merasa sendiri, bagaimanapun aku dan yang lain adalah temanmu





Tuesday, 1 July 2014

Dunia Oh Dunia

02:15 0 Comments
Ramadhan #3

Di sebuah kesempatan seorang teman menyapa. Saat menanyakan kabar seorang teman lainnya, dia bertanya, "Apa kabar dirinya? Masih sibuk dengan urusan duniawinya?" Saya yang ditanya bungkam. Pertanyaan itu bukan tentang diri saya, tetapi justru menyindir saya habis-habisan. Apakah saya juga masih terlalu sibuk dengan urusan duniawi?

Barangkali cara melihat kesibukan adalah dengan mengkalkulasi aktivitas kita dalam 24 jam. Orang dikatakan sibuk jika dalam sehari dia lebih banyak melakukan aktivitas dibandingkan waktu luang. Tentu saja waktu luang juga diisi dengan berbagai aktivitas, namun di sini konteksnya berbeda. Aktivitas saat waktu luang dianggap sebagai aktivitas tambahan saja, yang bisa jadi dihilangkan dan tidak terlalu mempengaruhi jalannya kehidupan. Tentu berbeda dengan aktivitas utama yang memang harus dilakukan pada hari itu juga.

Nah, coba saja dilihat. Jika kesibukan itu dikaitkan dengan urusan dunia, berarti dalam 24 jam lebih banyak waktu yang kita habiskan untuk urusan dunia dibandingkan urusan akhirat. Andai dikalkulasi, rasanya hal itu sangat mungkin terjadi. Bayangkan, berapa jam kita bekerja, makan, mandi, tidur, perjalanan ke tempat sekolah atau kerja, beres-beres rumah, dan lain sebagainya. Bandingkan dengan aktivitas akhirat. Apakah hanya sholat? Yang mungkin cuma 5-10 menit sebanyak 5 kali. Tanpa sholat sunnah, tanpa mengaji, tidak sampai 1 jam dalam sehari waktu kita dipakai untuk urusan ukhrowi. Begitukah?

Jika seperti contoh di atas, kesannya memang sangat tidak berimbang. Tapi mau bagaimana lagi? Bukankah bekerja, makan, tidur, mandi, dan aktivitas lainnya memang menyita waktu lebih banyak? Bagaimana bisa aktivitas itu dihilangkan?

Hm, bukan dihilangkan tentunya, tapi bagaimana agar aktivitas itu bukan sekedar aktivitas duniawi semata. Bagaimana jika dalam aktivitas itu dihadirkan hati yang senantiasa berdoa? Bukankah aktivitas itu akan dinilai ibadah juga? Begitu pula ketika aktivitas itu dihiasi dengan hati yang tawadhu, tentu bukan mengejar dunia semata.

Ambil contoh saja tentang tidur. Ketika itu menjadi urusan dunia, maka orang akan terlelap begitu saja. Barangkali tidur bisa menjadi aktivitas yang mengingatkan dengan akhirat jika diawali dengan berwudhu, berdoa, bermuhasabah, dan sunnah-sunnah tidur lainnya. Sekalipun aktivitasnya tetap sama tentang tidur, tetapi karena hati dihadirkan maka akan terasa nuansa ukhrowi dalam aktivitas kita.

Salah satu indikator pula ketika terlalu sibuk dengan dunia adalah apa yang kita rasakan ketika bangun tidur. Pernah suatu ketika di pagi hari saya bangun dan merasa sangat resah. Berceritalah saya kepada teman-teman. Lantas seorang sahabat menimpali, "Orang yang resah ketika bangun tidur jangan-jangan karena terlalu banyak memikirkan dunia". Tertohok, dan saya akui pada saat memang benar adanya.

Tentu kita tidak ingin terbangun di pagi hari dengan kondisi resah bukan? Tentu kita ingin menjalani hari dengan lebih nyaman, kan? So, mari kita perbanyak perbandingan urusan ukhrowi dalam 24 jam kita. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang meletakkan dunia di hati hingga sangat mempengaruhi. Aamiin....





Monday, 30 June 2014

The Real Me

23:00 2 Comments
Ramadhan#2

Saya teringat catatan di Ramadhan dua tahun yang lalu. Tepatnya catatan terakhir dari serial 30 Hari Mencari Cinta. Sebagai akhir pencarian cinta, di situ saya menuliskan pertanyaan “who am I?”. Sudah dua tahun berselang dan lagi-lagi pertanyaan itu kembali membayang.

Orang bisa saja menjawab pertanyaan siapa saya dengan menyebutkan namanya, profesinya, keluarganya, dan lain sebagainya. Bisa juga orang akan menyebutkan tentang watak-wataknya, kelebihannya, atau kekurangannya. Sedikit banyak, apa yang akan orang lontarkan untuk menjawab pertanyaan itu sebanding dengan seberapa dia mengenal dirinya sendiri.

Ketika mengikuti organisasi dulu, ada sebuah game  unik yang berjudul ‘Aku di Matamu’. Permainan ini sebenarnya adalah sebuah cara untuk mengenal siapa diri kita sebenarnya. Lewat sebuah kertas, setiap orang menuliskan hal positif, negatif, dan saran untuk kita. Masing-masing saling mengisi dan kertas terus berputar hingga akhirnya kertas itu kembali ke tangan kita sendiri.

Ada yang mengatakan bahwa orang lain justru lebih mengerti bagaimana watak seseorang daripada dirinya sendiri. Maka itulah yang disampaikan oleh kertas itu. Kita akan mengenal diri kita sendiri setelah membaca bagaimana penilaian teman-teman terhadap kita.

Jujur saja ketika membaca kertas itu, ada beberapa kata sifat yang saya bahkan tak menyangka bahwa itu melekat di diri saya. Ada beberapa faktor yang mendasarinya. Bisa jadi karena kita masih terselimuti oleh pencitraan tertentu atau karena orang lain yang kebetulan menuliskan itu tidak cukup mengenal baik siapa diri kita sebenarnya. Tapi di lain sisi, bisa jadi justru itulah karakter kita yang sebenarnya yang tak pernah kita sadari sebelumnya.

Siapakah diri kita juga bisa dilihat dari siapakah teman-teman dekat kita. Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa berteman dengan penjual minyak wangi akan terkena wanginya dan berteman dengan pandai besi akan terkena percikan apinya. Begitu juga dengan kita. Seperti apakah diri kita akan terlihat dari orang-orang yang dekat dengan kita. Bukan berarti kita menjadi pilih-pilih teman. Tapi, memutuskan siapa yang menjadi teman karib hingga mempengaruhi rutinitas sehari-hari tentu akan menjadi penilaian tersendiri.

Semua penilaian itu hanyalah cara agar kita lebih mengenal siapa diri kita sebenarnya. Sedemikian repotkah? Sebegitu perlukah? Tentu saja. Karena bagaimana kita mau dikenal baik dan diperlakukan dengan baik oleh orang lain jika kita tidak mengenal siapa diri kita sendiri. Bahkan, dengan cara mengenal diri sendiri itulah maka kita akan mengenal Tuhan kita.

So, selamat menyelami diri sendiri. Selamat mengenali diri pribadi.

Sunday, 29 June 2014

Persiapan

10:08 2 Comments
Ramadhan #1

Ini hari pertama Ramadhan, dan pagi hariku dimulai dengan obrolan panjang yang membicarakan persiapan. Tentang apa? Banyak hal.

Sejatinya hidup hanyalah berisi dengan segala macam persiapan. Saat bangun tidur tadi, aku melakukan persiapan untuk sahur. Ibu melakukan persiapan untuk ke pasar. Hari ini aku harus melakukan persiapan ujian, dan seterusnya hingga akhirnya kita seharusnya mempersiapkan titik terakhir yaitu kematian.

Pertanyaannya adalah, apa yang akan kita persiapkan?

Ketika kita tidak pernah memikirkan persiapan itu dengan matang dan hanya menjalani kehidupan mengalir bagai air, mungkin pertanyaan persiapan menjadi tanda tanya besar yang butuh jeda waktu untuk menjawab. Persis seperti tadi pagi. Ketika obrolan itu berakhir, aku hanya terpaku dengan beribu pertanyaan. Mana yang harus aku persiapkan dulu? A, B, C, D, atau E? Ah, kenapa belum ada yang beres semua?

Persis seperti akan mempersiapkan ujian. Buku 1 belum selesai, buku 2 belum kepegang, buku 3 apalagi. Mentok. Begitukah juga untuk persiapan kematian? Sholat belum khusyu, ilmu belum cukup, ngaji masih semampunya, sedekah masih seadanya.

Kalau begitu terus, kapan siapnya?

Siap tidak siap, ketika waktu akan menghampiri maka mau tidak mau harus dinyatakan siap. Sekalipun ada banyak buku di lemari yang belum dijamahi, kalau jam masuk ujian sudah tiba, pasti akan ditinggal juga semua buku-bukunya. Kalau ajal sudah menjemput,sekalipun dalam proses menggenapkan tabungan haji, ujung-ujungnya akan ditinggal pula tabungannya.

Jadi?

Persiapan seharusnya bukan dilihat dari waktu yang akan dijalani. Bukan ketika akan ujian maka mulai persiapan. Bukan ketika akan mati lalu menyiapkan diri. Ketika seorang pelajar memiliki tugas belajar, maka seharusnya sudah dia lakukan jauh-jauh hari. Ketika seorang hamba diberi kehidupan di dunia, maka sudah selayaknya dia menyempurnakan wudhu, sholat, puasa, zakat, dan ibadah-ibadah lainnya. 

Kembali lagi, kita bukanlah pemilik waktu. Maka tidak selayaknya kita bermain-main dengan waktu. Karena bisa jadi persiapan mati kita sepuluh tahun lagi ternyata diakselerasi menjadi satu hari lagi. Jika begitu, mau bilang apa? 

Maka, dibuat aturan umum saja. Persiapkan, persiapkan, dan persiapkan. Apapun. Tak peduli kapan waktu akan mengeksekusi, kita hanya butuh terus mempersiapkan diri.



NB:
Ramadhan #1 (Ditulis rutin insya Allah selama Ramadhan)
Dalam proses persiapan untuk menjemput masa depan.



Saturday, 26 October 2013

Empati

23:00 0 Comments

Kemarin saat sedang jaga, seorang residen menunjukkan handphonenya kepada saya dan teman saya, “Baca SMS ini dek”. Kurang lebih isi SMS-nya begini, “Dok, saya A, anak dari Bapak B. Bapak sudah meninggal dok, setelah dirawat dokter sejak 1,5 bulan yang lalu”. Tak berapa lama kemudian ada SMS masuk lagi, “Sebelum meninggal bapak berpesan untuk mengucapkan terima kasih banyak pada dokter.”

Bermula dari SMS itulah, residen itupun bertukar kisah dan memberikan petuah.

“Dulu saya punya pasien dek. Dia banting tulang untuk membiayai tiga adiknya. Sayangnya setelah menikah, adik kedua dan ketiga tidak peduli lagi padanya. Selama dirawat di RS, dia sendirian. Barulah selang beberapa lama dia dirawat adik keempat yang kerja di Jakarta. Bahkan karena hanya ada adik keempat ini yang bisa menjaga pasien, dia sampai-sampai diancam PHK.”

Lalu residen itu bercerita lagi, “Kamu tahu dek pasien yang kemarin kita periksa, dia juga kasihan sekali. Suaminya bercerita kalau dia sudah tidak punya apa-apa lagi karena uangnya habis untuk berobat ini itu. Bahkan suaminya itu ga pernah makan sehari-hari karena tidak ada uang. Kami (residen) yang biasanya sukarela membelikan nasi bungkus setiap pagi, setidaknya biar suaminya bisa makan.”

Lantas residen itu pun berkata, “Jadi dokter harus memiliki empati dek. Kenali pasien dan keluarganya. Sekedar empati saja, tidak perlu sampai simpati. Kamu tahu rahasia suksesnya dr.A? Dia menyediakan satu no HP yang siap sedia dihubungi oleh pasien dan keluarganya. Kamu tahu kenapa dr.B pasiennya banyak? Dia kenal dan hafal dengan keluarga pasien dan tidak segan menyapa dan menanyakan keadannya. Empati dek, salah satu kunci sukses seorang dokter.”

Ya, saya mengakuinya. Saya kenal dr.A, bahkan nenek saya menjadi pasien dokter itu. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana cara dr.A memperlakukan pasiennya. Nenek saya yang sudah sepuh dan cenderung ‘rewel’ gonta-ganti dokter, nyatanya luluh dan cocok karena perlakuan dr.A yang menunjukkan empatinya. Sebagai pasien (dalam hal ini keluarga pasien), saya pun mengakui bahwa saya suka jika diberi empati oleh sang dokter.

Dari sisi koas, saya pun mengakuinya. Pernah suatu ketika saya mendapati mbak-mbak muda yang terkena HIV. Barangkali karena dia masih seumuran atau malah lebih muda dari saya lantas dia enjoy bercerita selagi saya mengecek tensi dan lain sebagainya. Dari situlah muncul rasa empati, hingga akhirnya saya pindah stase dan kebetulan mengunjungi bangsal kamar itu, pasien itu menyapa saya, “Mbak, kok ga pernah meriksa saya lagi? Saya udah ga demam lho, mbak.”

Asli, saat itu saya melongo. Maklum, itu awal sekali saya masuk koas dan mungkin pertama kalinya saya ‘dekat’ dengan pasien dan keluarganya. Dan rasanya ternyata menyenangkan. Beberapa teman dekat saya yang kadang saling bertukar cerita tentang pasien pun juga mengakui bahwa empati itu menyenangkan.

Ya, empati, bagaimana kita bisa mendalami perasaan orang lain tanpa kita perlu terlarut di dalamnya. Seorang dokter jelas harus memiliki empati karena setiap keluhan pasien adalah apa yang dirasakan pasien. Belum tentu dokter merasakan nyeri kepala seperti pasien. Belum tentu dokter terkendala dana seperti keluarga pasien. Jika dokter tidak memiliki empati, dia hanya akan berpikir ‘ah, yang penting aku udah ngasih obat, terserah kamu mau bayar gimana, terserah nanti keluhanmu berkurang atau tidak’. Hm, tentu berbeda dengan dokter yang memiliki empati, yang mencoba melihat akar permasalahan dari sudut pandang orang lain terlebih dahulu sebelum akhirnya bisa menentukan sikap yang tepat.

Memang empati itu gampang-gampang susah dan itulah mengapa ada orang yang sukses karena memiliki modal lebih berupa empati. Tapi sekalipun susah, bukan berarti tidak bisa dilakukan. Bahkan empati bukan masalah sekedar bisa atau tidak bisa, melainkan harus bisa. Mengapa? Karena dokter berhadapan dengan pasien yang seorang manusia dengan perasaan pula, bukan sekedar robot yang bisa diberi perlakuan sekenanya saja.



Monday, 7 October 2013

Pato

09:52 0 Comments
Ada sebuah istilah di dunia perkoasan yang sudah tidak asing lagi. Istilah yang saya maksud adalah pato, atau kepanjangannya adalah patologis (berpenyakit). Seorang teman yang saat itu masih polos berkata, "Aku mau belajar, aku takut dicap pato". Oh, tidak. Pato bukanlah seorang koas yang bodoh tidak tau apa-apa, tetapi pato adalah orang yang menyebalkan dan merugikan orang lain.

Kalau dilihat dari definisi di atas, pato itu tidak ada standar khusus. Orang bisa sebal pada siapa saja, orang juga bisa saja merasa dirugikan oleh siapa saja. Cuma, teman saya pernah berkata, "Kalau yang itu namanya pato relatif. Meskipun tidak ada standarnya, jika semua orang mengatakan orang itu pato, berarti dia memang sudah pato universal". Beberapa kriteria pato yang diakui secara banyak orang pula adalah ketika orang itu seenaknya sendiri dan merugikan orang lain.

Sebagai sesama koas, orang punya tanggung jawab yang sama, tugas yang sama, dan tuntutan yang sama. Artinya, ketika lelah, seorang koas akan merasakan lelah yang sama. Jika dalam kondisi lelah itu ternyata ada koas yang tidak mau lelah (dalam hal ini seenaknya sendiri) lantas berakibat merugikan orang lain, di sinilah kepatoan itu muncul.

Sebagai koas yang pato, kemungkinan besar dia tidak menyadari. Lha wong dia itu berpenyakit, wong dia mau enak sendiri, mana mau dia peduli sedang merugikan orang lain atau tidak. Yang penting dia bisa istirahat, yang penting dia tidak repot, atau yang penting nilainya paling bagus. Menyebalkan? Iya. Tapi, mau apa?

Kata seorang residen, "Kalau kamu punya teman pato dan kamu marah, kamu rugi tiga hal. Yang pertama, kamu tambah capek karena marah. Kedua, orang pato itu punya temen banyak. Yang ketiga, pekerjaan tetap ga selesai".

Sebenarnya jika kita berada di pihak yang bukan pato, semua tergantung pada diri kita sendiri. Apakah kita mau sebal dan apakah kita mau dirugikan atau dianggap dirugikan oleh orang lain. Bisa jadi kita mencoba ikhlas yang akhirnya kita tidak punya penyakit hati untuk uring-uringan dengan teman kita sendiri. Bisa juga karena kita ikhlas lantas kita tak masalah dan tetap bahagia ketika akhirnya mengerjakan tanggung jawab itu sendiri. Prinsipnya ikhlas, maka tak akan ada kerugian yang merasa kita alami.

Cuma, sampai kapan? Bagi yang nonpato, jelas ikhlas sampai mati. Bagi yang pato? Hm, kembali ke masalah sebelumnya, karena orang itu pato maka ia tak sadar bahwa dia sudah pato dan merugikan orang lain. Bahkan saya sendiri pun tidak tahu apakah saya ini juga pato atau tidak.

So? Tak peduli predikat apa yang kita miliki, maukah seandainya semua orang melihat semua sisi? 

Bagaimana jika semua orang belajar ikhlas dengan tanggung jawab dan tuntutannya? Artinya tidak akan ada orang yang seenaknya sendiri karena dia ikhlas ketika tau bahwa tugas koas memang demikian adanya. Dengan tau porsi masing-masing, maka tak akan ada yang benar-benar terdzalimi atau merasa didzalimi.

Bagaimana juga seandainya semua orang mau saling membantu dan tidak merugikan orang lain? Bukankah orang yang baik adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain? Bukankah sebaik-baik orang adalah yang tidak mendapat kejelekan dari diri kita? Betapa bahayanya jika ternyata kita menyakiti hati orang lain tanpa kita sadari. Sudah kita tak sadar, tak tahu jika seharusnya perlu minta maaf, dan ujung-ujungnya terakumulasi hingga ke akhirat nanti. Kenikmatan diri sendiri yang sudah diperjuangkan di dunia ujung-ujungnya tersedot juga karena perbuatan dzalim yang tak sudi dimaafkan.

Andai semua orang belajar ikhlas dan mau saling memberi manfaat, alangkah indah kehidupan koas pada khususnya dan kehidupan umat manusia pada umumnya. Barangkali...