Follow Us @soratemplates

Saturday, 5 July 2014

Sesama Dokter

21:34 0 Comments
Ramadhan #7

Apa profesimu? Apa pula profesi pasanganmu? Apakah profesi kalian sama ataukah justru berbeda? Saya sedang tergelitik dengan masalah profesi terkait sebuah hubungan lelaki perempuan.

Seorang teman yang menjalin cinta dengan sesama teman dokter muda baru-baru ini memutus ikatannya. Apa pasal? Gara-gara orang tua si pria yang merupakan seorang dokter tidak rela anaknya berpacaran dengan perempuan yang bukan anak dokter. Ada lagi teman saya seorang koas juga yang putus dengan pacarnya dengan alasan, "Aku takut kalau suamiku bukan dokter", atau begitu juga dengan teman koas saya yang berganti-ganti gandengan asalkan tetap seorang dokter. Terlepas dari masalah pacaran dan hubungan mereka, saya geleng-geleng kepala dengan alasan hubungan mereka itu sendiri.

Apakah seorang dokter akan lebih mulia jika memiliki pasangan seorang dokter pula atau berasal dari keluarga dokter juga? Saya menghela nafas untuk ini. Sebegitu picikkah orang-orang hingga melupakan syarat agama di atas kekayaan, nasab, dan rupa?

Ustadz pernah berkata, bersyukurlah jika memiliki pasangan sesama dokter, setidaknya mereka pernah merasakan suka duka hidup seorang dokter. Mereka akan maklum jika lebaran tidak bisa datang karena jaga. Mereka akan maklum ketika pagi-pagi harus sudah berangkat untuk memfollow up pasien. Mereka akan sangat maklum ketika lelah pulang tetap harus melayani pasien di rumah. Tapi ustadz juga berkata, bukan berarti pasangan bukan dokter tidak bisa disyukuri. 

Memang diakui banyak sekali pasangan dokter di rumah sakit. Residen anak pasangannya residen obsgyn. Dokter kulit pasangannya dokter penyakit dalam. Begitu terus hingga rasanya terlalu banyak dinasti dokter di dalam rumah sakit. Tapi, tidak jarang pula saya menemui dokter yang bukan berasal dari keluarga dokter dan atau tidak memiliki pasangan seorang dokter.

Saya pernah bertanya pada seorang residen obsgyn, "Istrinya dokter juga, Dok?", beliau menggeleng, "Bukan, istri saya notaris. Saya ga mau istri saya dokter juga, ga ada yang ngurus anak." Lain lagi dengan residen neuro, "Suami saya bukan dokter, dek. Saya ga bisa membayangkan hidup saya cuma di sekitar situ-situ saja. Masalah yang dibahas seputar penyakit dan rumah sakit saja. Bosan, dek."

Apakah mereka bahagia? Setidaknya begitu yang saya lihat dari kacamata saya. Beliau berdua sebagai contoh dari beberapa dokter lainnya tetap saja bahagia tanpa perlu mendewa-dewakan dinasti dokter di keluarganya.

Ah, mungkin itu pilihan hidup seseorang. Dan semua itu terjadi tak lepas dari takdir Illahi. Mungkin teman-teman saya tadi memang berjodoh dengan sesama dokter hingga mereka putus demi mencari dokter yang juga berasal dari keluarga dokter. Wallahua'lam, toh jodoh tak akan tertukar, jodoh tak akan keliru.



Friday, 4 July 2014

Bapak...

11:03 2 Comments
Ramadhan #6

Saya baru saja menyelesaikan membaca sebuah buku. Judulnya Ayah, karya Irfan Hamka, yang mengisahkan tentang ayahnya, Buya Hamka. Di bagian-bagian akhir ketika membaca buku itu, tanpa saya sadari air mata menggenang di pelupuk mata saya.

Karena masih ingin membaca, selepas membaca buku Ayah, saya lanjutkan dengan buku komik 33 Pesan Nabi Jilid 3. Tak disangka, bagian pertama dari komik itu juga mengisahkan tentang ayahnya. Penulis mengisahkan bagaimana si anak malu karena ayahnya memiliki vespa yang berisik tidak karuan, sedangkan sang Ayah tetap ikhlas menerima, mengajarkan budi pekerti, memberikan cinta kasih. 

Air mata jatuh begitu saja dari kedua mata saya. Bukan cuma menetes haru, tapi saya menangis sesenggukan. Saya teringat bapak saya.

Saya ingat bapak saya yang selalu mengirimkan SMS tahajud setiap malam, pada hampir seluruh nomor di ponselnya, termasuk saya. Sekedar SMS berisi hadits atau ayat dan ajakan untuk tahajud. SMS yang hampir tidak pernah saya balas, karena bagi saya itu sekedar ucapan. Dan saya ingat bagaimana ketika bapak pulang dan berkata, "Kok ga pernah balas SMS tho, Kak? Sudah lupa kalau punya bapak atau gimana?"

Saya ingat bagaimana kalau bapak pulang berarti akan ada sedikit kerepotan terkait transportasi. Satu motor sudah dipakai bapak di Jakarta. Hanya ada satu motor di rumah yang saya pakai, yang artinya akan jadi rebutan bapak dan saya. Kadang-kadang saja jika mobil ibu menganggur dan tidak ada urusan baru bapak bisa pergi dengan ibu.
Saya ingat bagaimana ketika mobilitas saya tinggi dan saya repot sekali, ibu akhirnya bilang, "Ya sudah tho, Pak. Biar Avi tetap pakai motor". Lantas bapak saya hanya mengalah dan memakai transportasi umum atau naik sepeda. Baru akhir-akhir ini saja ketika jadwal harian saya sudah pasti lantas bapak tetap memakai motor dan mengantar jemput saya setiap hari. Kalaupun tidak bisa, itu pun bapak meminta maaf dengan sangat karena saya harus menunggu jemputan lama atau memilih pulang naik transportasi umum saja.


Ah, bapak. Sekalipun hampir tak pernah saya memberikan perhatian secara kasat mata, sungguh saya mencintainya.

Bapak yang tadi pagi SMS membangunkan sahur dan menyanyikan lagu Rhoma Irama. Bahkan saya sendiri tidak tahu itu lagu apa. Yang karena saya tidak tahu lantas bapak ganti lagu, dan tetap saja saya tidak tahu lagunya.

Bapak yang ketika saya sedang resah selalu bisa membaca dan selalu bertanya, "Kamu kenapa, Kak?" walaupun tetap saja saya juga tidak akan langsung cerita. Dan beliau akan menyanyikan lagu 'ayo ngguyu' atau 'tombo ati'.

Bapak yang tahu dan siap sedia kalau ketika jam masuk sudah mendekat, padahal tugas belum diprint, belum lagi kalau tiba-tiba tinta habis dan macet. Saya akan uring-uringan sambil buru-buru mandi dan begitu selesai mandi sudah ada tugas yang tercetak rapi.

Bapak yang setiap pulang dari manapun pasti mengetuk pintu kamar dan berkata, "Kak, ini lho bapak bawa pisang goreng kesukaanmu" pun makanan lainnya. Yang mungkin karena saya masih asyik mengerjakan sesuatu, makanan itu masih saja tergeletak di meja belajar saya. Hingga bapak masuk kamar lagi dan berkata, "Kok belum dimaem?" dan saya pun buru-buru memakannya.

Bapak yang suatu ketika menelepon dan menceritakan masalahnya lalu berkata, "Bapak telepon bukan sebagai bapak yang telepon anaknya, tapi orang yang minta konsultasi pada ahlinya. Jadi kamu harus objektif dan ga perlu pekewuh memberi saran."

Ah, bapak. Masih banyak kisah yang membuat saya menyadari bahwa saya mencintai bapak saya dan saya tahu bapak juga sangat mencintai saya.

Maka saya tak habis pikir jika ada yang berkata bagaimana saya harus mempertimbangkan bapak ibu dalam hidup saya. Tentu saja sampai kapanpun saya akan menghormati beliau berdua. Sekalipun kelak saya menjadi istri dan bakti pertama saya haruslah pada suami, tak akan mungkin saya tidak mencintai bapak dan ibu saya.

Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani soghiro.
Salam takzim untukmu, Bapak...




Thursday, 3 July 2014

Tentang Rasa

12:01 2 Comments
Ramadhan #5

Dalam sebuah percakapan panjang dengan seorang teman, tiba-tiba dia berkata, "Aku tahu perasaanmu, Vi." 
Saya yang saat itu dalam posisi netral lantas menjawab, "Bagaimana bisa tahu, aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku."
Dia kembali menjawab, "Karena kadang seseorang lebih bisa merasakan perasaan orang lain dibandingkan perasaan dirinya sendiri."

Saya sering kesulitan memaknai rasa. Ah, bukan sulit. Lebih tepatnya saya terlalu cuek dan tak ambil pusing dengan mereka yang bermain-main dengan rasa. Datar, begitu saja. Bagi seorang teman, kondisi saya ini menyedihkan.

Sahabat saya pernah bertanya, "Mbak, kamu ga merasa sakit hati?"
Saya menggeleng dan menjawab, "Ga sama sekali. Ga ada rasa sama sekali."
Dan sahabat saya justru berkata, "Aku pingin nangis karena menurutku sebenarnya hatimu itu sangat sakit sampai-sampai tidak bisa merasakan sakit."

Sebaliknya suatu ketika sahabat saya bertanya, "Mbak, kamu bahagia?"
Dengan mantap saya menjawab, "Ya, tentu saja aku bahagia."
Dan dia justru menghela nafas, "Ya sudah, yang penting kamu benar-benar bahagia."

Dalam kacamata sahabat saya, sepertinya ada yang salah di dalam diri saya dalam memaknai rasa. Seharusnya sedih, tapi biasa saja. Seharusnya marah dan sakit hati, tapi ga meluap juga. Seharusnya bisa lebih bahagia, tapi sudah cukup dengan kebahagiaan ini saja. Menyedihkan begitu katanya. Padahal dalam ilmu psikiatri disebutkan bahwa mengungkapkan sedih, senang, marah, dan lain sebagainya itu penting untuk kesehatan jiwa.

Tapi saya berpikir, urusan rasa di hati ini urusan Illahi. Dia yang maha membolak-balikkan hati. Sekalipun konteksnya adalah tentang keimanan, tapi Dia juga yang membolak-balikkan hati seorang hamba dari sedih, susah, marah, senang, dan sebagainya. Kalo hari ini sedih, besok juga bisa jadi senang, dan seterusnya.

Ada yang beranggapan, jangan terlalu senang dan jangan terlalu sedih. Orang yang terlalu senang bisa jadi esok akan terlalu sedih. Dalam hal ini saya lebih sepakat dengan pendapat ini. Namun, mungkin sahabat saya memilih sebaliknya. Bisa jadi dia termasuk orang yang memilih selagi senang, ayo bersenang-senang. Kalaupun sedih, ya dipikir nanti belakangan.

Entahlah. Tentang bagaimana memaknai rasa itu, saya kadang masih tidak mengerti. Apakah emang harus terdefinisi atau biarkan mengalir saja? Asal diri ini tetap enjoy menjalani, apakah tetap menjadi masalah? Lagi-lagi entahlah.



*to my best friend: trust me, I enjoy my life... :)






Wednesday, 2 July 2014

You're My Friend

11:08 3 Comments
Ramadhan #4

Teman, apa arti teman bagi Anda? Satu demi satu pasti mahir mendefinisikannya. Dia bisa jadi orang yang sering menghabiskan waktu bersama. Dia orang yang selalu ada. Dia tempat menumpahkan suka duka, dan lain sebagainya. Bahkan mungkin teman sekedar sesederhana asal saling mengenal saja. Layaknya teman di social media yang sekedar add atau follow dan belum pernah tahu wujudnya.

Dengan luasnya definisi itu, semua orang tentunya punya banyak teman. Saya punya banyak teman, Anda, dan siapapun di dunia ini. Sayangnya, masih saja ada orang di dunia ini yang merasa dia tidak punya teman sama sekali. Kenapa?

Barangkali lingkaran pertemanan dibuatnya menjadi berlapis-lapis. Ada yang sekedar kenalan, ada yang masuk jadi teman sehari-hari, ada pula teman akrab, atau lebih lagi menjadi sahabat. Terlalu berlapis-lapisnya ikatan pertemanan ini bisa jadi membuat diri ini merasa tidak memiliki seorang teman. Padahal seorang kenalan bisa saja lantas menjadi seorang sahabat dalam sekejap. Begitu pula dengan lapisan-lapisan pertemanan lainnya.

Barangkali pula pertemanan dibuatnya menjadi berbatas waktu. Teman waktu SD, teman SMP, teman SMA, kuliah, kerja, dan seterusnya. Hingga merasa bahwa orang-orang saat ini yang menjadi temannya adalah orang yang kebetulan sedang berada di zona waktu yang sama dari fase hidupnya. Padahal bukankah seorang teman SD bisa dihubungi saat ini dan menjadi teman masa kini pula. Begitu pula untuk zona-zona waktu lainnya.

Maka, harusnya tak ada istilah tidak punya teman sama sekali. Barangkali karena kita terlalu menutup diri untuk membuat semua orang menjadi orang terdekat. Barangkali karena kita terlalu angkuh melupakan masa lalu dan hanya sibuk berkutat dengan masa kini.

Tak ada mantan teman, tak ada istilah hanya punya satu kawan. Cobalah membuka diri, maka akan ada banyak rekan-rekan yang kau dapati.



*untuk temanku yang merasa sendiri, bagaimanapun aku dan yang lain adalah temanmu





Tuesday, 1 July 2014

Dunia Oh Dunia

02:15 0 Comments
Ramadhan #3

Di sebuah kesempatan seorang teman menyapa. Saat menanyakan kabar seorang teman lainnya, dia bertanya, "Apa kabar dirinya? Masih sibuk dengan urusan duniawinya?" Saya yang ditanya bungkam. Pertanyaan itu bukan tentang diri saya, tetapi justru menyindir saya habis-habisan. Apakah saya juga masih terlalu sibuk dengan urusan duniawi?

Barangkali cara melihat kesibukan adalah dengan mengkalkulasi aktivitas kita dalam 24 jam. Orang dikatakan sibuk jika dalam sehari dia lebih banyak melakukan aktivitas dibandingkan waktu luang. Tentu saja waktu luang juga diisi dengan berbagai aktivitas, namun di sini konteksnya berbeda. Aktivitas saat waktu luang dianggap sebagai aktivitas tambahan saja, yang bisa jadi dihilangkan dan tidak terlalu mempengaruhi jalannya kehidupan. Tentu berbeda dengan aktivitas utama yang memang harus dilakukan pada hari itu juga.

Nah, coba saja dilihat. Jika kesibukan itu dikaitkan dengan urusan dunia, berarti dalam 24 jam lebih banyak waktu yang kita habiskan untuk urusan dunia dibandingkan urusan akhirat. Andai dikalkulasi, rasanya hal itu sangat mungkin terjadi. Bayangkan, berapa jam kita bekerja, makan, mandi, tidur, perjalanan ke tempat sekolah atau kerja, beres-beres rumah, dan lain sebagainya. Bandingkan dengan aktivitas akhirat. Apakah hanya sholat? Yang mungkin cuma 5-10 menit sebanyak 5 kali. Tanpa sholat sunnah, tanpa mengaji, tidak sampai 1 jam dalam sehari waktu kita dipakai untuk urusan ukhrowi. Begitukah?

Jika seperti contoh di atas, kesannya memang sangat tidak berimbang. Tapi mau bagaimana lagi? Bukankah bekerja, makan, tidur, mandi, dan aktivitas lainnya memang menyita waktu lebih banyak? Bagaimana bisa aktivitas itu dihilangkan?

Hm, bukan dihilangkan tentunya, tapi bagaimana agar aktivitas itu bukan sekedar aktivitas duniawi semata. Bagaimana jika dalam aktivitas itu dihadirkan hati yang senantiasa berdoa? Bukankah aktivitas itu akan dinilai ibadah juga? Begitu pula ketika aktivitas itu dihiasi dengan hati yang tawadhu, tentu bukan mengejar dunia semata.

Ambil contoh saja tentang tidur. Ketika itu menjadi urusan dunia, maka orang akan terlelap begitu saja. Barangkali tidur bisa menjadi aktivitas yang mengingatkan dengan akhirat jika diawali dengan berwudhu, berdoa, bermuhasabah, dan sunnah-sunnah tidur lainnya. Sekalipun aktivitasnya tetap sama tentang tidur, tetapi karena hati dihadirkan maka akan terasa nuansa ukhrowi dalam aktivitas kita.

Salah satu indikator pula ketika terlalu sibuk dengan dunia adalah apa yang kita rasakan ketika bangun tidur. Pernah suatu ketika di pagi hari saya bangun dan merasa sangat resah. Berceritalah saya kepada teman-teman. Lantas seorang sahabat menimpali, "Orang yang resah ketika bangun tidur jangan-jangan karena terlalu banyak memikirkan dunia". Tertohok, dan saya akui pada saat memang benar adanya.

Tentu kita tidak ingin terbangun di pagi hari dengan kondisi resah bukan? Tentu kita ingin menjalani hari dengan lebih nyaman, kan? So, mari kita perbanyak perbandingan urusan ukhrowi dalam 24 jam kita. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang meletakkan dunia di hati hingga sangat mempengaruhi. Aamiin....





Monday, 30 June 2014

The Real Me

23:00 2 Comments
Ramadhan#2

Saya teringat catatan di Ramadhan dua tahun yang lalu. Tepatnya catatan terakhir dari serial 30 Hari Mencari Cinta. Sebagai akhir pencarian cinta, di situ saya menuliskan pertanyaan “who am I?”. Sudah dua tahun berselang dan lagi-lagi pertanyaan itu kembali membayang.

Orang bisa saja menjawab pertanyaan siapa saya dengan menyebutkan namanya, profesinya, keluarganya, dan lain sebagainya. Bisa juga orang akan menyebutkan tentang watak-wataknya, kelebihannya, atau kekurangannya. Sedikit banyak, apa yang akan orang lontarkan untuk menjawab pertanyaan itu sebanding dengan seberapa dia mengenal dirinya sendiri.

Ketika mengikuti organisasi dulu, ada sebuah game  unik yang berjudul ‘Aku di Matamu’. Permainan ini sebenarnya adalah sebuah cara untuk mengenal siapa diri kita sebenarnya. Lewat sebuah kertas, setiap orang menuliskan hal positif, negatif, dan saran untuk kita. Masing-masing saling mengisi dan kertas terus berputar hingga akhirnya kertas itu kembali ke tangan kita sendiri.

Ada yang mengatakan bahwa orang lain justru lebih mengerti bagaimana watak seseorang daripada dirinya sendiri. Maka itulah yang disampaikan oleh kertas itu. Kita akan mengenal diri kita sendiri setelah membaca bagaimana penilaian teman-teman terhadap kita.

Jujur saja ketika membaca kertas itu, ada beberapa kata sifat yang saya bahkan tak menyangka bahwa itu melekat di diri saya. Ada beberapa faktor yang mendasarinya. Bisa jadi karena kita masih terselimuti oleh pencitraan tertentu atau karena orang lain yang kebetulan menuliskan itu tidak cukup mengenal baik siapa diri kita sebenarnya. Tapi di lain sisi, bisa jadi justru itulah karakter kita yang sebenarnya yang tak pernah kita sadari sebelumnya.

Siapakah diri kita juga bisa dilihat dari siapakah teman-teman dekat kita. Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa berteman dengan penjual minyak wangi akan terkena wanginya dan berteman dengan pandai besi akan terkena percikan apinya. Begitu juga dengan kita. Seperti apakah diri kita akan terlihat dari orang-orang yang dekat dengan kita. Bukan berarti kita menjadi pilih-pilih teman. Tapi, memutuskan siapa yang menjadi teman karib hingga mempengaruhi rutinitas sehari-hari tentu akan menjadi penilaian tersendiri.

Semua penilaian itu hanyalah cara agar kita lebih mengenal siapa diri kita sebenarnya. Sedemikian repotkah? Sebegitu perlukah? Tentu saja. Karena bagaimana kita mau dikenal baik dan diperlakukan dengan baik oleh orang lain jika kita tidak mengenal siapa diri kita sendiri. Bahkan, dengan cara mengenal diri sendiri itulah maka kita akan mengenal Tuhan kita.

So, selamat menyelami diri sendiri. Selamat mengenali diri pribadi.

Sunday, 29 June 2014

Persiapan

10:08 2 Comments
Ramadhan #1

Ini hari pertama Ramadhan, dan pagi hariku dimulai dengan obrolan panjang yang membicarakan persiapan. Tentang apa? Banyak hal.

Sejatinya hidup hanyalah berisi dengan segala macam persiapan. Saat bangun tidur tadi, aku melakukan persiapan untuk sahur. Ibu melakukan persiapan untuk ke pasar. Hari ini aku harus melakukan persiapan ujian, dan seterusnya hingga akhirnya kita seharusnya mempersiapkan titik terakhir yaitu kematian.

Pertanyaannya adalah, apa yang akan kita persiapkan?

Ketika kita tidak pernah memikirkan persiapan itu dengan matang dan hanya menjalani kehidupan mengalir bagai air, mungkin pertanyaan persiapan menjadi tanda tanya besar yang butuh jeda waktu untuk menjawab. Persis seperti tadi pagi. Ketika obrolan itu berakhir, aku hanya terpaku dengan beribu pertanyaan. Mana yang harus aku persiapkan dulu? A, B, C, D, atau E? Ah, kenapa belum ada yang beres semua?

Persis seperti akan mempersiapkan ujian. Buku 1 belum selesai, buku 2 belum kepegang, buku 3 apalagi. Mentok. Begitukah juga untuk persiapan kematian? Sholat belum khusyu, ilmu belum cukup, ngaji masih semampunya, sedekah masih seadanya.

Kalau begitu terus, kapan siapnya?

Siap tidak siap, ketika waktu akan menghampiri maka mau tidak mau harus dinyatakan siap. Sekalipun ada banyak buku di lemari yang belum dijamahi, kalau jam masuk ujian sudah tiba, pasti akan ditinggal juga semua buku-bukunya. Kalau ajal sudah menjemput,sekalipun dalam proses menggenapkan tabungan haji, ujung-ujungnya akan ditinggal pula tabungannya.

Jadi?

Persiapan seharusnya bukan dilihat dari waktu yang akan dijalani. Bukan ketika akan ujian maka mulai persiapan. Bukan ketika akan mati lalu menyiapkan diri. Ketika seorang pelajar memiliki tugas belajar, maka seharusnya sudah dia lakukan jauh-jauh hari. Ketika seorang hamba diberi kehidupan di dunia, maka sudah selayaknya dia menyempurnakan wudhu, sholat, puasa, zakat, dan ibadah-ibadah lainnya. 

Kembali lagi, kita bukanlah pemilik waktu. Maka tidak selayaknya kita bermain-main dengan waktu. Karena bisa jadi persiapan mati kita sepuluh tahun lagi ternyata diakselerasi menjadi satu hari lagi. Jika begitu, mau bilang apa? 

Maka, dibuat aturan umum saja. Persiapkan, persiapkan, dan persiapkan. Apapun. Tak peduli kapan waktu akan mengeksekusi, kita hanya butuh terus mempersiapkan diri.



NB:
Ramadhan #1 (Ditulis rutin insya Allah selama Ramadhan)
Dalam proses persiapan untuk menjemput masa depan.