Follow Us @soratemplates

Wednesday, 3 July 2019

Make Up Bukti Cinta

03:38 0 Comments


Duluuu sekali saat masih awal-awal menikah dan masih hitungan bulan kenal sama gincu, saya mendapat sebuah broadcast reminder yang salah satu isinya menyentil pemakaian make up bagi muslimah.

Kurang lebih intinya jika kecantikan seorang istri dinikmati laki-laki lain maka haram hukumnya. Di situ lebih-lebih lagi, kalau si istri ngeyel malah dandan tiap mau pergi, yang ada suami juga ikut kena dosanya karena membiarkan istrinya. Karena masih pengantin baru dan kadar cinta saya lagi maksimal-maksimalnya (eh, sekarang juga tetep ding 😛) saya pun ga rela kalau suami kena dosa gara-gara saya.

Maka, saya pensiunkan itu semua make up yang bahkan baru kenal menjelang nikah. Boro-boro sudah habis, kepakai separo aja belum. Lagi-lagi saya beralih ke yang alami, minyak zaitun everywhere.

Eh, baru jalan 1-2 minggu suami ternyata suami menyadari perubahan yang dilakukan si istri.
"Kok mukanya jadi berminyak?"
Ya gimana nggak berminyak, wong memang dioles minyak zaitun. Maka saya beberkan alasannya dan suami pun berkata, "Balik seperti biasanya aja ga papa, kan termasuk menyenangkan hati suami."

Wuidih, okelah kalau begitu kata saya.

Hingga ramadhan beberapa tahun lalu saya kembali kesambet masalah permake-upan ini. Waktu itu sudah mulai branding bisnis fashion Addina dan mulai terketuk-ketuk ini hati. Gini amat ya mau jualan hijab sama gamis aja. Terlebih lagi saat itu saya sedang dapat amanah kerja di tempat yang interaksi ikhtilatnya luar biasa. Yang bikin makin pikir-pikir dan kembali nyeletuk lagi

"Perlu ganti style ga ya?" tanya saya.
"Ganti style gimana?" Tanya suami yang ga paham kenapa lagi ini istrinya.
"Ya kalik terlalu berlebihan. Mau pakai gamis yang biasa-biasa aja gitu. Trus ga usah make up-make up aja." Mulai parno gitu kayaknya.
Eh jawaban suami langsung bikin buyar, "Lha emang gamis yang sekarang masih kurang sederhana? Ini juga sudah biasa-biasa aja kok. Make upnya juga sudah wajar, ga menor, ga berlebihan. Udah bagus kayak gitu, ga usah ganti-ganti style."
Langsung deh diam seribu bahasa.

Pernah juga entah kena angin dari mana si istri ini tiba-tiba nyletuk, "Kalau aku pakai cadar gimana?"
Yang bikin suaminya kaget, berasa ini istri kesambet apa.

Walaupun akhirnya beberapa waktu kemudian suami berkata, "Aku sih seneng-seneng aja kalau mau pakai cadar, tapi nanti keluarga yang geger semua"
Yang ujung-ujungnya hanya membuat kami tertawa.


Iya ini bukan mau sok-sokan sih, atau mungkin karena males-malesan dandan.
Jauh dari itu, kerempongan istri ini mungkin sebatas sebuah niat kecil dalam hati. Bahwa ia ingin berbakti, menjadikan dirinya hanya milik suami semata. Tanpa maksud berlebihan, hanya demi menyenangkan hati suami.

Tapi semua kembali ke kalimat sakti ini, "aku ridha".
Kalau suami sudah ridha, istri bisa apa?

Tuesday, 7 May 2019

Silent Please

23:44 0 Comments

Pernah merasa risih dengan seseorang yang hobi sekali memberikan komentar pada semua hal?

Entahlah, orang zaman sekarang senang sekali untuk speak up. Sedikit-sedikit unjuk bicara, sedikit-sedikit membuka suara.

Mungkin dalihnya demi mengeluarkan hak 20.000 kata per hari. Hingga kita sebagai pendengar diharap untuk memaklumi. Tapi apakah pengeluaran kata itu harus dalam wujud komentar yang kadang tak berarti?

Kalau komentar itu baik, tidak masalah. Kadang kala komentar itu justru awal mula menoreh luka. Sekalipun si pembuat komentar tak pernah bermaksud menggoreskannya.

Ambil contoh misalnya seorang ibu mengomentari seorang anak yang terlihat kurus kering. Mungkin sekedar bertanya "Kurus sekali, susah makannya ya". Hanya saja, tidakkah ada kata-kata yang lebih baik jika bertemu anak itu dibandingkan sekedar mengomentari dan memberikan judgement kurus tak mau makan?

Di sini sepertinya memang perlu mengolah perbendahaan kata. Tapi asal tahu prinsip berkata yang baik atau diam, setidaknya bisa mengerem mana-mana yang perlu untuk dikomentari dan mana yang cukup didiamkan.

Yah, semoga saja lisan kita terjaga dari 20.000 kata yang meluncur dengan sendirinya. Karena kita tentu tak boleh lupa bahwa lidah tetaplah menjadi satu organ yang kelak akan dihisab diminta pertanggungjawabannya.

Monday, 6 May 2019

Hoax Everywhere

23:02 0 Comments
Kebohongan menjadi kebenaran


Awalnya saya berniat membuat sebuah artikel untuk mengisi blog baru saya. Ide itu muncul ketika membaca sebuah hadits.

"Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri" (H.R. Muslim).

Berhubung blog sebelah memang saya niatkan untuk ajang teoritis, saya berniat meninjau hadits tersebut sesuai dengan ilmu yang saya miliki, yaitu tentang kedokteran.

Maka saya pun berselancar di dunia maya untuk mencari data-data. Tapi, apa yang saya dapat? Puluhan artikel yang muncul di pencarian mbah google rata-rata hoax semata.

Banyak yang menuliskan bahaya minum sambil berdiri, atau sebaliknya tentang manfaat minum sambil duduk. Sayangnya tinjauan yang dipakai seolah-olah dari sudut pandang medis itu sama sekali belum pernah saya dapat saat kuliah. Beberapa malah terkesan tidak masuk akal.

Alih-alih membuat artikel tentang hadits di atas, saya justru lagi-lagi bercuap-cuap di sini. Ada sedikit keresahan di hati, ah kenapa zaman sekarang banyak orang yang merasa menjadi ahli.

Beberapa artikel ditulis seolah-olah penulisnya paham betul tentang dunia kesehatan. Bahkan tak jarang dijumpai blog-blog dengan niche kesehatan tapi kurang tahu tentang background kesehatannya.

Bukannya saya sok tahu karena punya background sebagai seorang dokter. Hanya saja beberapa artikel kesehatan itu tidak terbukti secara ilmiah. Beberapa hanya getok tular, saling copy paste hingga ditemukan sudah menyebar luas di dunia maya.

Yang lebih miris adalah ketika dalil shahih yang dipakai di awal disandingkan dengan teori-teori yang belum bisa dipertanggungjawabkan. Ketika orang menjadi skeptis dengan artikel tersebut lantas dikhawatirkan muncul skeptis pula pada hadits yang menjadi dalilnya.

Semoga saja tidak. Semoga saja orang masih bisa berakal sehat melihat mana yang hoax dan mana yang nyata. Bukan sekedar percaya karena sudah banyak yang menyatakannya. Karena tak bisa dipungkiri di zaman ini sebuah kebohongan yang disampaikan berulang-ulang bisa diyakini menjadi sebuah kebenaran.

Na'udzubillah

Sunday, 5 May 2019

Quranmu Berdebu

21:02 0 Comments


Marhaban ya ramadhan ....
Orang bilang bulan ini adalah bulannya alquran. Di bulan ini pertama kalinya ayat alquran diturunkan.

Di bulan ini orang berlomba-lomba mengkhatamkan alquran. Masjid yang sunyi mendadak riuh dengan lantunan ayat suci. Mushaf yang berjajar rapi di almari tetiba berhamparan di meja-meja, terbaca.

Euforia kah? Atau berkah kah?

Sedang di beberapa bulan yang lalu, quran itu bergeming. Bahkan hingga berdebu.

Terkadang orang lupa dengan keberadaanya, dengan surat cinta yang sudah Dia titipkan tapi diacuhkan begitu saja. Ah, dengan tidak terbacanya surat cinta itu apakah tertolak mentah-mentah juga cinta-Nya?

Ibaratnya seperti orang yang mendapat cinta sejati. Sang pengagum memberikan surat cinta. Sayangnya orang yang dikagumi tak tahu bahwa orang itu mengaguminya. Mengapa? Karena surat cintanya tak dibaca.

Begitukah pula kita dengan-Nya?

Kita tak paham bahwa Ia mencintai kita karena tak membaca surat cintanya. Dan karena tak tahu bahwa Ia cinta maka kita tak pernah benar-benar mencintainya.

Na'udzubillah ...

Semoga dengan terbukanya lembar-lembar cinta itu di bulan ini menjadi salah satu pembuktian cinta. Bahwa kita cinta Dia. Dan kita akan tahu bahwa Dia benar-benar mencintai hamba-Nya.

Monday, 18 March 2019

NHW#7 Rejeki Pasti, Kemuliaan Kita Cari

10:46 0 Comments


Bismillahirrahmanirrahim ....
Di NHW kali ini saya diminta untuk menemukan bakat lewat tools yang sudah tersedia. Awalnya saya sudah pernah mencoba tes temu bakat. Namun setelah kuliah umum dengan Abah Rama, saya mempelajari terlebih dahulu tentang bakat-bakat itu lewat panduan ST30 dan pandu 45. Saya akui, barangkali aktivitas kegiatan saya memang kurang beragam sehingga ketertarikan pada aktivitas lain mungkin tidak muncul. Tapi setelah membaca 114 kegiatan yang dipaparkan Abah Rama, saya mulai bisa memetakan mana ketertarikan saya. Untuk memastikannya, saya coba lagi mengisi kuesioner di temubakat.com. Dan ini lah hasil ST30 saya.


Dari gambar di atas bisa dilihat bahwa bakat utama (warna merah) dan bakat (warna kuning) saya sudah cukup konsisten. Bakat utama saya yang jumlahnya ada 7 terletak di networking (N), servicing (S), elementary (E), thinking (T), dan generating idea (Gi). Secara konsisten pula saya tidak berbakat plus bukan bakat utama saya di bagian headman (H), technical (Te), dan reasoning (R). Terbukti di peran-peran itu warna saya serba hitam, abu-abu, atau paling mentok berwarna putih.
Menurut cara pembacaan ST30 yang dipaparkan Abah Rama, hasil ini bisa memiliki 3 makna yaitu interpersonal vs individual, otak kanan vs otak kiri, serta rasa, cipta, karsa.

Dari gambar di samping, 5 dari 7 bakat utama saya masuk dalam kategori interpersonal. Artinya saya lebih memiliki potensi secara interpersonal dibandingkan individual. Hal ini saya konfirmasi dengan bagan yang kemarin sempat disampaikan Teh Elma dalam kuliah umum tentang Me Time. Saya menyadari ternyata me time saya yang bermakna dan bisa menge-charge kembali diri saya justru ketika saya berbaur dengan orang lain. Dibandingkan diberi kesempatan satu jam ke salon, saya lebih merasakan dampak kebahagiaan ketika diberi waktu yang sama untuk mengisi sebuah workshop misalnya. Agaknya pemetaan ini sudah sesuai, tinggal saya maksimalkan lagi untuk memperbanyak bekerja sama dengan orang lain dan juga melayani orang lain. Karena di poin inilah bakat peran saya plus di sini pulalah saya merasa bahagia.

Dari sisi otak kiri vs otak kanan, menurut gambar di samping saya lebih dominan otak kanan karena 6 dari 7 bakat utama saya masuk di pengelompokan otak kanan. Wallahua'lam terkait hal ini saya belum mampu untuk mengkonfirmasi dan sepertinya tidak terlalu signifikan bagi saya apakah akan berpengaruh jika saya tahu saya dominan otak kanan atau otak kiri. Walaupun mungkin jika mengingat masa kuliah dulu saya memang cenderung memakai cara-cara otak kanan dalam belajar dibandingkan cara otak kiri, seperti belajar sambil mendengar lagu atau belajar sambil mewarnai dll. Barangkali dari sini sudah cukup untuk mengkonfirmasi.

Terakhir adalah cara baca ST30 berdasarkan kelompok cipta, rasa, atau karsa. Jika dilihat dari pengelompokan di samping maka saya termasuk kelompok rasa karena 5 dari 7 bakat utama saya masuk kategori ini. Jika dikonfirmasi, barangkali memang cukup tepat karena dalam kehidupan sehari-hari pun saya memang sering memperhatikan aspek psikologis dll. Meskipun saya juga punya 1 bakat utama cipta yaitu creator dan 1 bakat utama karsa yaitu journalist, namun ranah rasa memang lebih dominan bahkan ikut mempengaruhi aktivitas peran sebagai creator dan journalist.

Untuk mengkonfirmasi secara keseluruhan bakat utama, bakat, bukan bakat, dan bukan bakat utama digunakan tabel aktivitas suka dan bisa. Hampir mirip pula dengan bagan kuadran minat dan bakat. Kurang lebih kedua bagan ini bisa dijadikan satu.

Bakat
Bukan bakat
Minat
Enjoy, easy, excellent, earn
Enjoy, easy, excellent
Kekuatan
Hobi
Memeriksa pasien, ikut kegiatan bakti sosial, menjadi pembicara, memotivasi orang, mendengarkan curhat, menulis
Jalan-jalan,  membuat kreasi masakan, menata rumah
Bukan minat
Easy, excellent, earn
-
Kemampuan
Sia-sia waktu
Membuat penelitian, menjadi admin, mengurusi keuangan, berjualan
Membetulkan barang, membuat craft, bercocok tanam, memelihara hewan
Produktif
Tidak produktif

Monday, 11 March 2019

NHW#6 Menjadi Manager Keluarga Handal

10:32 0 Comments


Bismillahirahmanirrahim
Alhamdulillah, selama 6 minggu mengikuti matrikulasi, tugas ke-6 ini adalah tugas paling mudah bagi saya hehe. Mengapa mudah? Karena tidak sadar saya sudah diajarkan untuk mengandangkan waktu sejak zaman SD oleh ibu saya. Hanya saja kandang waktunya tentu berbeda. Seingat saya dulu, saya punya jam dimana saya bebas bermain dengan tetangga, tapi begitu menjelang magrib harus pulang. Pun saya punya waktu untuk belajar mengerjakan PR dan aktivitas rutin jam berapa saya harus bangun dan sebagainya. Jadwal rutin itu ternyata masih mewarnai saya hingga saat ini. Saat kuliah, saya terbantu dengan kandang waktu ini sehingga tetap bisa aktif di banyak organisasi. Setelah menikah pun saya memainkan kandang waktu dengan suami, dengan pilihan-pilihan aktivitas yang kami sepakati. Jadi di NHW ini syukurlah saya tinggal mereview kandang waktu saya lagi.

Tuliskan 3 akvitas paling penting dan 3 aktivitas paling tidak penting
Aktivitas Penting
  • Jaga klinik
Saya akui urusan jaga klinik masih menjadi aktivitas penting saya sebagai dokter. Bahkan jika ada tawaran untuk menggantikan jaga di luar jadwal tetap saya biasanya tergerak untuk mengeksekusinya. Tentunya untuk jadwal-jadwal insidental ini sudah sesuai izin suami dan sudah terfasilitasi alokasi waktu yang terpakai dengan segala konsekuensinya. Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada kendala.
  • Talaqi hafalan anak
Sehubungan dengan anak pertama yang mulai saya delegasikan ke sekolah tahfidz balita, sebagai orang tua saya diminta untuk murojaah hafalan yang sudah didapat di sekolah. Senada juga dengan pertanyaan di NHW#2 saat saya bertanya ke anak, "Mami baik atau nggak?" Dan ternyata menurut anak pertama saya sudah baik karena mau mengaji dengannya. Berarti di sini dia senang jika saya mau meluangkan waktu mengaji bersama.
  • Menulis
Karena saya ingin mengambil peran hidup sebagai penulis, maka aktivitas menulis harus menjadi aktivitas penting saya. Semenjak punya anak, kegiatan ini hampir tidak saya lakukan dengan serius. Hanya semaunya saja, sesempatnya jika ada sisa waktu. Hampir tidak ada karya sama sekali dalam 3 tahun ini. Seiring resolusi 2019 untuk menajamkan pena kembali untuk mencetak karya, maka aktivitas menulis masuk dalam aktivitas penting.
Aktivitas Tidak Penting
  • Tidur terlalu lama
Aktivitas ini disponsori oleh anak-anak. Dengan dalih ngobrol sambil dongeng atau membacakan buku sebagai pengantar tidur siang si kakak, saya pun ikutan tidur sampai sore. Begitu juga menidurkan dua bocah selepas isya, tak jarang saya ikutan bablas. Alhasil waktu dalam sehari habis cuma buat tidur. Bisa sampai 10 jam sendiri. Astagfirullah ....
  • Melihat ig story
Alasannya karena ig story seru dan cuma ada 24 jam, lalu penasaran buat mengikuti story karena takut keburu hilang. Padahal kalau dipikir-pikir tidak terlalu penting buat saya juga kalau ketinggalan story dari teman-teman atau tokoh yang saya ikuti. Sepertinya aktivitas ini memang perlu ditiadakan.
  • Blogwalking
Dengan dalih belajar terkadang saya keasyikan browsing sana-sini. Misalnya di NHW kemarin ketika mencari info tentang desain pembelajaran, keasyikan browsing saat anak-anak tidur tak tahunya sudah masuk waktu ashar. Sebenarnya perlu karena salah satu sarana mencari ilmu, cuma mungkin bisa diperketat waktunya agar bisa lebih memaksimalkan aktivitas lain yang lebih bermanfaat.

Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
Syukurnya masih dominan aktivitas penting, walaupun hampir imbang. Karena biasanya saya blogwalking atau melihat ig story saat anak tidur tetapi saya tidak tidur. Kalaupun saya ikut tertidur, otomatis saya tidak sempat membuka HP untuk kedua kegiatan itu. Hanya saja tantangannya kali ini adalah mengurangi jam tidur tetapi juga tidak dipakai untuk memegang HP melainkan untuk memaksimalkan aktivitas penting. Insya Allah ....

Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
Aktivitas jaga klinik, talaqy, dan menulis alhamdulillah sesuai dengan peran hidup saya di NHW sebelumnya yaitu menjadi istri dan ibu yang juga sebagai dokter dan penulis. Bismillah, berarti inilah yang akan menjadi aktivitas dinamis saya. Untuk jaga klinik sesuai jadwal jaga saya yaitu dari jam 08.30 s.d. 12.00. Kemudian sepulang dari klinik saya akan membersamai anak yang juga baru pulang sekolah dan memaksimalkan aktivitas bersama sambil talaqy quran sampai menjelang tidur malamnya kira-kira jam 20.00. Untuk aktivitas dinamis menulis saya luangkan di jam yang sama dengan jadwal jaga klinik karena tidak tiap hari saya jaga. Maka, aktivitas dinamis saya dimulai dari jam 08.30 hinga 20.00 setiap harinya. Bismillah ....

Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time
Di poin ini saya tersadar, ternyata aktivitas rutin saya tidak banyak. Berhubung saya tinggal dengan mertua, beberapa aktivitas domestik sudah diambil alih oleh ibu mertua, seperti memasak, menyapu halaman, menyiram tanaman, memberi makan hewan peliharaan, membuang sampah, atau mengangkat jemuran. Alhamdulillah .... Aktivitas rutin saya cuma menyapu rumah, mengepel, mencuci sekaligus menjemur baju, menyetrika baju, menyiapkan bekal sekolah dan membuat mpasi untuk anak yang kecil. Beberapa aktivitas pun tidak saya lakukan setiap hari. Misal hari ini saya menyetrika, maka saya tidak mencuci baju. Mengepel pun hanya 3 kali seminggu, di hari saat saya tidak jaga klinik. Ternyata cukup membuat saya tetap bahagia. Untuk alokasi waktunya mulai dari bangun tidur khususnya jam 06.00 sampai 08.30. Cut off time-nya insya Allah konsisten di jam 8.30. Karena selesai atau tidak selesai urusan domestik, jam itu saya harus berangkat jaga klinik. Kalau tidak jelas saya akan terlambat. Jadi insya Allah cukup mudah untuk patuh di cut off time-nya.

Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda
Insya Allah .... Untuk agenda harian ini cukup konsisten. Untuk agenda-agenda tak terencana biasanya dinegosiasian untuk diluangkan di waktu week end.

Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan
Kandang Waktu
Peran
Judul
Waktu
Kegiatan
Aktivitas rutin
As moslem
Prayer time
04.00 - 06.00
Bangun tidur, tahajud, subuh, tilawah 1 juz dengan suami
As wife
Domestic time
06.00 - 08.30
Cuci/setrika baju, menyapu, mengepel, menyiakan bekal + mpasi, menyuapi anak, memandikan anak, mandi, sarapan
Aktivitas dinamis
As doctor and writer
Productive time
08.30 - 12.00
Jaga klinik, menulis naskah
As mother
Playing and talaqy time
12.00 - 13.00
Ishoma
13.00 - 16.00
Komunikasi dengan anak, mendongeng, baca buku, tidur siang
16.00 - 17.00
Ashar, mandi sore, makan sore adik
17.00 - 18.00
Bermain, mengaji
18.00 - 20.00
Magrib, makan malam, isya, menidurkan anak
Aktivitas bebas
As me
Me time
20.00 - 22.00
Baca buku, buka hp, ngobrol dengan suami, tidur


Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?
Insya Allah jadwal ini sudah biasa dilakukan. Yang perlu diamati untuk minggu ini adalah apakah bisa mengerem untuk tidak terlalu banyak tidur. Lalu karena tidak ketiduran mudah-mudahan bisa memaksimalkan me time dengan suami, dan juga memanfaatikan waktu produktif saat tidak jaga klinik untuk menulis naskah dan bukannya justru membuka ig story atau blogwalking. Insya Allah ....

Monday, 4 March 2019

NHW#5 Membuat Desain Pembelajaran

10:28 0 Comments


Bismillahirrahmanirrahim
Dalam mengerjakan NHW ini ada begitu banyak tanda tanya yang bermunculan. Terutama karena saya sendiri tidak paham dan belum pernah mengenal tentang desain pembelajaran sebelumnya. Saat mencari-cari informasi dari google ternyata ada banyak model desain pembelajaran. Untungnya ada kawan matrikulasi yang mengemasnya dalam bentuk sederhana. Maka kali ini untuk uji coba pertama kali saya berkiblat dari paparan kawan tersebut.

Tujuan pembelajaran : menjadi istri dan ibu yang berperan sebagai dokter dan penulis yang memberikan inspirasi bagi orang lain
Indikator: 
  • Suami bangga pada istrinya
  • Anak-anak bahagia bersama ibunya
  • Pasien puas dan teredukasi
  • Pembaca mendapat manfaat dari tulisan
Metode:
  • Menguasai ilmu bunda sayang, bunda cekatan, bunda produktif, bunda shaleha
  • Update ilmu kedokteran, selalu memberikan take home massage pada pasien
  • Menambah skill kepenulisan
Sumber belajar
  • Buku parenting dan keluarga
  • Komunitas parenting
  • Jurnal kedokteran
  • Komunitas kepenulisan
Evaluasi:
  • Meminta evaluasi dari suami terkait peran istri dan ibu
  • Meminta feed back dari pasien jika kontrol kembali
  • Melihat respon pembaca melalui komentar tulisan

Insya Allah ini desain pembelajaran untuk sementara. Semoga bisa terealisasi dan mungkin diperbaiki lain kali.