Follow Us @soratemplates

Sunday, 2 August 2020

Istana Pasir Ibu Profesional

23:49 0 Comments
ibu profesional, bunda sayang, pra bunsay


Ibu profesional?
Frase itu menjadi bahan pemikiran saya hampir satu minggu belakangan ini. Tepatnya setelah resmi mengikuti kelas pra bunda sayang IP Profesional. Materi critical thinking menjadi pemantik bagi saya untuk memikirkan ulang, apakah ini baik, benar, dan bermanfaat untuk saya? Ditambah materi tentang makna ibu profesional yang mengigatkan, bahwa ini bukan untuk mencetak Ibu Septi kedua, ketiga, dst, tapi ini tentang mencetak ibu profesional kebanggaan keluarga masing-masing.


Lalu, apa makna ibu profesional?

Bagi saya, ibu profesional adalah seorang wanita yang bisa menjalankan peran sebagai seorang ibu dengan bersungguh-sungguh. Namun tentunya dia hidup di dunia bukan hanya untuk menjadi ibu. Tujuan penciptaannya di muka bumi tidak sebatas itu. Maka dia perlu memahami perannya terlebih dahulu, lalu bersikap profesional atau sungguh-sungguh dengan peran yang diambilnya.

Untuk saya sendiri, selain berada di ranah domestik, saya pun mengambil peran publik sebagai seorang dokter dan penulis. Maka, ketika menjalani peran tersebut pun saya harus tetap bersikap profesional. Tentulah saya tak akan dicap profesional jika hanya fokus dengan domestik namun abai dan tidak sungguh-sungguh ketika di ranah publik.

Maka, ibu profesional versi saya adalah ketika saya bisa menjalani setiap peran yang saya pilih dengan komitmen tinggi, dimana saya bisa menunjukkan kesungguhan memberikan manfaat tanpa menyebabkan kedzaliman bagi siapapun.


Bagaimana peta untuk bisa mewujudkannya?

Dalam materi matrikulasi dulu, ada sebuah insight yang cukup membekas yaitu "bersungguh-sungguhlah di dalam, maka kamu akan keluar pula dengan kesungguhan". Artinya untuk bisa menjadi profesional di ranah domestik dan publik, fase pertama memang haruslah saya bersunggguh-sungguh di dalam terlebih dahulu.

Poin ini sejalan dengan tahap-tahapan belajar di Institut Ibu Profesional, mulai bunda sayang, bunda cekatan, bunda produktif, hingga bunda saleha. Maka, tahapan saya untuk mencapai predikat profesional adalah dimulai dengan menguasai bunda sayang terlebih dahulu, yaitu ketika saya bisa totalitas mendidik anak dengan penuh kasih sayang.

Untuk fase berikutnya, saya mengikuti ritme yang difasilitasi oleh IIP. Namun di luar itu, saya tetap berusaha memantaskan diri menjalankan semua peran yang sudah diambil dengan baik, dengan cara menambah jam terbang sesuai dengan pemetaan waktu yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Jadi, seperti apa icon ibu profesional menurut saya?

Berhubung kami sedang belajar di wahana pasir di tepi pantai, ketika membayangkan icon ibu profesional yang terbayang dalam benak saya adalah air. Mengapa air?

Air adalah unsur yang dibutuhkan setiap makhluk hidup. Dia penting, bermanfaat. Begitu pula sosok ibu, dia juga memiliki peran penting dan crusial dalam rumah tangga dan pendidikan anaknya.

Air bersifat fleksibel, dia berubah-ubah mengikuti bentuk tempatnya. Begitu pula seorang ibu profesional. Dia juga bisa adaptatif dengan peran yang dipilihnya. Ketika berada di ranah domestik, dia seorang ibu yang penuh cinta kasih. Ketika di ranah publik, dia bisa bersikap sesuai dengan tupoksinya.

Air juga selalu mengalir, dari hulu menuju hilir. Begitu juga dengan ibu profesional di IIP ini. Dia mengalir mencari ilmu sejak matrikulasi, bunda sayang, bunda cekatan, bunda produktif, hingga bunda saleha.

Sayangnya, meski air bermanfaat, dia tetap bisa memberi kemudharatan jika berada di tempat yang tidak tepat dan jumlah yang overload. Begitu pula dengan seorang ibu. Bisa saja dia sok-sokan mengambil banyak peran di luar sana, tapi apakah banyaknya peran itu justru bermanfaat atau justru menjadi madharat ibarat banjir bandang?

Namun, air juga sebuah amal jariyah yang tak akan putus nilai pahalanya. Maka semoga begitu pula seorang ibu yang bersungguh-sungguh menebar manfaat dalam setiap perannya. InsyaAllah

Sunday, 12 April 2020

Ramadhan di Rumah

02:13 2 Comments
Bismillah
Berikut adalah rancangan mini project sebagai salah satu syarat lulus orientasi komunitas Ibu Profeaional.

Judul

Ramadhan di Rumah

Deskripsi Project

Biasanya Ramadhan identik dengan euforia menghabiskan waktu dengan ibadah di masjid. Namun karena efek pandemi CoVID-19 mau tak mau Ramadhan kali ini harus di rumah saja. Perlu ada rencana kegiatan sebagai pengganti aktivitas di masjid. Meski di rumah, harapannya kuantitas dan kualitas ibadah tidak jauh berbeda dengan saat di masjid.

Rencana kegiatan:
  • Sahur bersama
  • Jama'ah subuh dan murojaah hafalan anak
  • Ngabuburit dengan kisah nabi dan sahabat
  • Buka bersama
  • Tarawih dan tadarus 1 juz

Kebutuhan/Susunan Tim

Papi sebagai imam,  mami sebagai manajer dan PJ ngabuburit, anak-anak sebagai peserta

Sasaran

Seluruh anggota keluarga

Waktu

Selama bulan Ramadhan

Tempat

Di rumah saja

Estimasi Dana

Include dengan pengeluaran bulanan untuk makan.

Parameter Keberhasilan

  • Anak memiliki pengalaman bangun dini hari untuk sahur
  • Sholat berjamaah di rumah lima waktu
  • Anak masih mengingat hafalan juz 30 dan 29
  • Mami menambah hafalan juz 29
  • Mengkhatamkan buku tentang kisah nabi dan sahabat
  • Khatam tilawah alquran 30juz bersama

Sunday, 26 January 2020

Merapikan Kamar

00:13 0 Comments


Bismillah
Masuk klaster 3 tentang kamar dan ruangan lainnya

Tugas kali ini adalah terkait dengan berbenah kamar tidur dan ruangan lainnya.

1⃣ Ceritakan pengalaman berbenah kamar tidur dan ruangan lainnya yang sudah dikerjakan. Jawab pertanyaan di bawah ini:

A. Apa saja ruangan yang ada di rumah?
Kamar tidur kami+anak, kamar mertua, kamar kakak ipar sekaligus kamar tamu, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, ruang makan, kamar mandi, ruang kerja/kantor.

B. Apa saja hambatan dalam berbenah kamar tidur atau ruangan lainnya?
Kendala di kamar tidur adalah karena kamar kami masih menjadi satu dengan anak. Beberapa mainan anak masih masuk ke kamar tidur. Termasuk barang yang sudah ditata pun lebih cepat berantakan lagi karena anak sering beraktivitas di kamar.
Untuk ruang keluarga hambatannya adalah beberapa barang diletakkan begitu saja di mana, yang mana itu bukan barang saya. Jadi untuk merapikan pun agak kesulitan.
Begitu juga untuk ruang TV yang saat ini justru beralih fungsi sebagai ruang serva guna. Mainan anak tipe ride on dan galon-galon diletakkan di sana karena memang belum ada tempat lain. Agak kesulitan untuk merapikan bagian ini.

C. Sebutkan ruangan yang paling mudah dan yang paling sulit dibenahi? Mengapa?
Paling mudah adalah ruang tamu dan kantor karena barangnya sedikit dan lebih mudah dikondisikan dari jangkauan anak-anak.
Paling sulit adalah ruang serba guna karena memang barang-barang di sana belum menemukan tempat lain yang lebih layak.

2⃣ Adakah perubahan yang dirasakan setelah membenahi kamar tidur dan ruangan lainnya? Bagaimana perbedaannya?
Alhamdulillah terasa lebih lega. Semula alat ibadah hanya kami letakkan di meja. Dampaknya jadi mudah berantakan karena dipakai dan diletakkan kembali sekenanya. Tapi setelah diberi tempat jadi lebih rapi.


Begitu juga bagian atas lemari yang sering beralih fungsi untuk meletakkan apapun. Setelah dirapikan dan disediakan tempat menjadi lebih tertata dan mudah untuk mencari benda-benda.


Saturday, 25 January 2020

Mempercantik Kamar Mandi

23:56 0 Comments


Bismillah..
Menyelesaiakan berbenah yang belum usai.

Tugas kali ini adalah terkait dengan berbenah kamar mandi dan toiletries.

1⃣ Ceritakan pengalaman berbenah kamar mandi dan toiletries yang sudah dikerjakan. Jawab pertanyaan di bawah ini:

A. Seperti apa gambaran kamar mandi ideal yang diidamkan? Apakah sudah tercapai?
Alhamdulillah karena kamar mandi terhitung masih baru kurang lebih 6 bulan pasca renovasi, kondisi kamar mandi idaman sudah tercapai. Kriteria kami adalah kamar mandi yang bersih, nyaman, segar, tidak bau.

B. Apa saja hambatan dalam berbenah kamar mandi dan toiletries?
Sejauh ini tidak ada hambatan saat berbenah karena sejak awal pascarenovasi memang sudah ditata. Kendala mungkin lebih ke faktor kandungan air yang sifatnya cukup 'merusak' alat mandi.

C. Apakah ada dari checklist RASA yang belum terpenuhi? Sebutkan dan bagaimana solusi untuk hal tersebut?
Yang belum terpenuhi mungkin faktor kualitas air sehingga selang air cepat korosif. Solusi sampai saat ini sekedar mengelap, tapi belum signifikan.
Selain itu bahan-bahan pembersih kamar mandi masih menggunakan bahan kimia. Saat ini dalam proses untuk beralih ke yang alami.

D. Bagaimana kebiasaan yang selama ini dikerjakan dalam rangka menjaga kerapian kamar mandi & toiletries?
Kebiasan rutin semua anggota keluarga adalah meletakkan kembali alat mandi setelah dipakai. Tiap pagi jendela kamar mandi dibuka sehingga sirkulasi udara baik dan segar. Untuk membersihkan lantai dan kloset maksimal seminggu sekali.





Sunday, 15 December 2019

Melepas Kenangan

22:26 0 Comments


Bismillah...

Sesuatu yang membawa kenangan kadangkala menyesakkan dan memenuhi ruangan. Kali ini mulai belajar untuk melepas benda kenangan.

1⃣ Ceritakan pengalaman berbenah benda kenangan yang sudah dikerjakan. Jawab pertanyaan di bawah ini:

A. Apa saja benda kenangan yang dimiliki?
Di setiap kategori ternyata saya menyimpan barang kenangan. Di klaster pakaian, saya menyimpan pakaian almarhumah ibu, baju seragam/pemberian keluarga, dan baju pengantin.
Di klaster buku, saya menyimpan buku-buku dan majalah yang memuat karya-karya saya. Di klaster dapur, saya menyimpan kado-kado nikah berupa perlengkapan dapur yang bahkan belum pernah dipakai. Di klaster dokumen dan kertas, saya menyimpan kertas-kertas kontemplasi saya yang berisi planning atau resolusi-resolusi tiap tahunnya.
Memang menurut kategori saya termasuk tipe sentimentil dalam hal cluttering, sehingga tanpa sadar ada banyak barang kenangan yang mungkin membuat clutter.

B. Apa saja hambatan dalam berbenah benda kenangan? 
Hambatan dalam berbenah benda kenangan adalah masih ada rasa tidak rela untuk melepas benda-benda tersebut. Untuk mengantisipasinya sementara ini saya menyediakan 'rumah' untuk masing-masing benda kenangan tersebut sesuai dengan kategorinya. Harapannya dapat segera dipilah sesuai tenggat waktunya.

C. Bagaimana proses memilahnya? Adakah kriteria seleksi tambahan? Seperti apa kriteria seleksi yang digunakan?
Untuk memilahnya saya memakai kriteria apakah saya sudah rela benda tersebut berpindah tangan. Jika memang sudha tidak menjadi milik saya, apakah kira-kira saya akan mencarinya lagi kelak. Kriteria yang lain yaitu apakah benda tersebut masih benar-benar bermanfaat bagi saya.

D. Apakah yang menjadi faktor pemberat dalam melepaskan benda kenangan yang dimiliki?
Yang menjadi faktor pemberat adalah karena benda itu menjadi moment sekali seumur hidup, peninggalan almarhumah, atau pemberian keluarga yang masih merasa tidak enak hati jika diberikan kepada orang lain. Untuk kado-kado masih berat karena berharap barangkali bisa dijadikan kado untuk orang lain lagi, meskipun sayangnya sejak beberapa tahun yang lalu tetap saja belum habis.

E. Bagaimana cara menata dan menyimpan benda kenangan?
Untuk baju pengantin saya simpan dalam box hantaran. Untuk kado-kado disimpan dalam rak etalase kaca. Buku atau majalah karya saya masuk di etalase buku. Sedangkan baju almarhumah ibu sementara ini masih dimasukkan dalam kategori pakaian yang ditangguhkan, dengan jangka waktu tertentu insya Allah akan segera disortir.



Menyimpan Dokumen dan Kertas

21:37 0 Comments


Bismillah...

Tugas menyimpan dokumen dan kertas ini seharusnya dikerjakan minggu lalu. Namun karena ada sedikit halangan, terpaksa baru malam ini dikumpulkan.

1. Ceritakan pengalaman berbenah dokumen dan kertas yang sudah dikerjakan. Jawab pertanyaan di bawah ini:
A. Bagaimana pembagian kategori dokumen dan kertas yang dimiliki di rumah?

Untuk kategori dokumen milik saya pribadi, saya simpan di dalam map dan diletakkan di etalase. Untuk dokumen yang sifatnya bersama, seperti kartu keluarga, dll diletakkan di dalam koper berkas-berkas.



B. Apa saja hambatan dan kesulitan dalam menata dokumen dan kertas? Bila ada, strategi apa yang digunakan untuk mengatasi hal tersebut.

Alhamdulillah tidak terlalu banyak hambatan. Kendala yang muncul adalah kertas-kertas yang belum dikategorikan. Solusi yang dilakukan adalah membelikan wadah untuk memilah kertas berdasarkan kategorinya.



C. Bagaimana proses memilahnya? Adakah kriteria seleksi tambahan? Seperti apa kriteria seleksi yang digunakan?

Untuk proses memilah dibedakan berdasarkan kepentingannya. Dokumen proyek suami dikelompokkan sesuai proyeknya masing-masing. Dokumen milik saya atau anak atau suami juga dipisahkan menurut kepemilikan masing-masing.

Sunday, 1 December 2019

Memilah Mainan

21:59 0 Comments


Bismillah.. Akhirnya lanjut lagi ke klaster kedua. Tema pertama kali ini adalah berbenah mainan.

Ceritakan pengalaman berbenah mainan yang sudah dikerjakan. Jawab pertanyaan di bawah ini:

A. Bagaimana respon anak saat tahu mainannya akan dibenahi?

Alhamdulillah anak sangat bersemangat diajak berbenah. Begitu saya memberi tahu kalau akan merapikan mainannya, dia langsung mengajak untuk merapikan saat itu juga. Meskipun versi rapi ala dia masih seadanya, keesokan harinya saya tinggal sedikit memberikan sentuhan terakhir saja.

B. Apa saja hambatan dalam berbenah mainan? Adakah kesulitan dalam menata mainan? Bila ada, strategi apa yang digunakan untuk mengatasi hal tersebut.

Kendala berbenah kemarin adalah ketika menyortir mainan. Beberapa mainan sebenarnya sudah rusak (contoh motor-motoran yang sudah hilang rodanya, kereta api yang sudah tidak bisa dipasang baterainya, dll) tapi anak masih suka dengan mainan itu. Jadi ketika saya ingin menyisihkan mainan itu masih tidak diperkenankan oleh anak.
Yang saya lakukan adalah membiarkan. Selama dia masih mau memainkannya dan tidak berbahaya maka saya biarkan saja.

Kendala dalam menata ada pada mainan-mainan ride on yang ukurannya besar. Seperti sepeda, ekskavator, truck, kuda-kudaan dll. Jumlahnya cukup lumayan memakan tempat. Kondisinya masih bagus dan setiap hari dimainkan anak. Sekalipun memakan tempat belum bisa dimasukkan dalam kategori mainan yang disingkirkan. Solusinya untuk sementara ini 'diparkir' di ruang serba guna.

C. Bagaimana proses memilahnya? Adakah kriteria seleksi tambahan? Seperti apa kriteria seleksi yang digunakan?

Untuk memilah mainan pertama kali berdasarkan mainan rusak atau masih bagus. Kriteria kedua adalah mainan yang masih mau dipakai atau tidak. Jadi sekalipun rusak tapi masih mau dilakai tetap disimpan. Sebaliknya jika tidak rusak tetapi sudah tidak ingin dimainkan masuk ke kategori disisihkan.

Dan inilah hasil berbenah sederhana kami. Ternyata hanya segini saja.. 😊