Follow Us @soratemplates

Saturday, 5 September 2020

Apa Kabar Diri?

18:54 0 Comments



Sudah tiga hari saya membicarakan komunikasi produktif. Tampaknya biasa-biasa saja, lancar-lancar saja dengan objek mereka anak-anak kecil saya. Tapi, ada yang mengganjal di hati ini.

Sebenarnya 24 jam saya tidak selamanya mulus ternyata. Apa yang saya tulis hanyalah secuil moment di hari itu, dengan teori komunikasi pruduktif yang saya punya. Tapi ribuan detik lainnya, emosi saya pun kadang naik turun juga. Tidak sepenuhnya pada mereka dua makhluk kecil, kadang gejolak rasa itu justru muncul karena masalah dalam pribadi saya.

Lalu saya teringat tentang self love yang disampaikan Kak Analisa di Analisa Channel. Ah, iya. Saya memang berusaha mencintai dua anak saya dengan berkomunikasi sebaik-baiknya. Tapi, agaknya saya lagi-lagi terlupa untuk berkomunikasi dengan diri saya sendiri, untuk menyapa apa kabar hati hari ini.

Sebenarnya ini termasuk dalam teori komunikasi produktif juga. Tentang bagaimana sebuah teko akan menuangkan minuman yang sedap kalau diisi sesuatu yang nikmat. Pun diri ini, bagaimana akan bisa berkomunikasi dengan baik kalau input yang masuk hanyalah apa-apa yang baik.

Sayangnya, hidup di dunia ini dihadapkan pada situasi yang sangat heterogen. Orang yang berpapasan dengan kita saja bisa membuat mood kita berantakan. Pasien yang tiba-tiba datang dengan segudang complain misalnya, sedikit banyak kadang membuat mood berubah juga. Orang di jalan yang ngebut dan memotong jalan kita misalnya, boleh jadi terbersit rasa senewen juga.

Aih, rapuh sekali ternyata pertahanan diri ini ketika masih terbawa situasi. Suatu waktu saya pernah melihat video singkat tentang teori truk sampah. Isinya tentang bahwa semua orang di dunia ini membawa sampah atau masalah hidupnya. Sampah-sampah itu menumpuk dalam dirinya, dan karena sudah overload akhirnya meluap begitu saja, mengenai orang lain dan menyebabkan orang lain itu penuh dengan sampah pula.

PR-nya adalah apakah kita mau menjadi truk sampah, yang mengambil sampah-sampah berceceran di mana-mana hingga tanpa sadar diri kita sendiri menjadi penuh sampah? Di sinilah tantangannya. Bagaimana kita bisa tetap bersikap cuek dan tersenyum melihat mereka menumpahkan masalahnya. Tapi tetap menjaga diri kita untuk tidak terpengaruh dan tetap bahagia menjalani hidup kita sendiri. Tidak menjadikan masalah itu menjadi masalah diri kita. Tidak menjadikan orang-orang itu memberikan pengaruh yang merusak suasana hati kita.

Berat? Pasti. Tapi saya membayangkan, betapa damainya hidup ini jika kita merdeka dari truk sampah. Ini tantangan. Semoga saja bisa, sebagai wujud self love pada diri saya sendiri, dan sebagai wujud komunikasi produktif pada segumpal daging yang rapuh di dalam diri. Bismillah...

Kalau Gini, Mami Suka?

16:01 0 Comments



Komunikasi produktif kali ini melanjutkan sesi hari pertama. Alhamdulillah Kakak A mau kembali murojaah setiap hari. Hanya saja kali ini dia sedikit hampir memancing emosi.


Awalnya dia mau menyimak hafalan lewat speaker. Meskipun tidak 100% mengikuti, setidaknya Kakak A menyimak dan perhatian. Tapi, begitu di akhir-akhir sesi dan saatnya dia untuk direkam, Kakak A justru tidak bisa diam.


Saya paham betul kalau Kakak A tipe anak kinestetik. Dia memang tidak bisa benar-benar diam saat menyimak, tapi kali ini Kakak A mengaji sambil tiduran lalu naik ke atas kursi, menginjak kursi, dan justru duduk di pegangan kursi. 


Awalnya saya minta dia agar diam, duduk yang manis. Saya pakai prinsip komunikasi produktif untuk menyampaikan dengan singkat dan simpel. Tapi, tidak berefek. Bukannya saya ingin menghambat kinestetiknya, tapi setidaknya agar dia paham adab ketika membaca Al-Quran. Langsung saja saya ingat poin komunikasi produktif yang menyampaikan ketidaksukaan terhadap perilaku.


Saya bilang pada Kakak A, "Kak, Mami ga suka kalau Kak Abrar ngaji sambil naik-naik kursi gitu. Duduk yang bagus. Allah juga ga suka kalau ada orang ngaji kok ga duduk bagus."


Akhirnya Kakak A mau duduk di kursi dengan manis. Saya pun merekam sesi murojaahnya. Begitu audio saya kirimkan ke ustadzahnya, Kakak A berkata, "Kalau kayak gini, Mami seneng?"


MasyaAllah.... Saya spontan tertawa. "Iya, Kak. Mami seneng kalau Kak Abrar mau duduk sopan trus ngaji."


Alhamdulillah, komunikasi hari ini done dengan membahagikan. Semoga esok bisa dipertahankan dan lebih baik lagi.



⭐⭐⭐⭐⭐


Friday, 4 September 2020

Pilih Ini Atau Itu?

15:09 0 Comments



Objek komunikasi produktif saya kali ini adalah Adik Z. Ada sebuah kekeliruan yang saya lakukan baru-baru ini. Saya sedang menyapih ASI sekaligus menyapih gadget pada Adik Z.

Ini ada hubungannya dengan komunikasi produktif Kakak A kemarin agar mau murojaah dan tidak over screen time. Awalnya karena Kakak A harus sering menyimak hafalan via handphone atau laptop, si Adik pun jadi 'kenal' dengan gadget. Kalau Kakak A bisa dikendalikan dengan timer, sayangnya Adik Z belum paham tentang itu.

Di waktu yang bersamaan, usia Adik Z menginjak dua tahun. Sudah harus disapih. Awalnya berhasil dua hari tidak menyusu. Dia bisa langsung tidur (tepatnya ketiduran) saat melihat handphone. Tapi karena ada tantangan baru mengurangi gadget, jadilah cara ini tak bisa digunakan. 

Alhasil, adik pun jadi tantrum. Lebih-lebih karena di zona terrible two katanya. Ketika tidak boleh menyusu, adik akan mencari handphone. Ketika tidak diperbolehkan main gadget, dia menagih minta disusui.

Akhirnya, saya memilih mengalah. Seperti di prinsip komunikasi produktif, kita yang memahami kemauan anak, bukan anak yang diminta mengikuti keinginan kita. Maka, saya memilih mengerem salah satu karena saya tahu mungkin berat juga buat Adik Z untuk lepas dari dua hal itu sekaligus.

Siang tadi, Adik Z pun tantrum lagi. Saya menangkapnya sebagai aha moment kali ini. Saya bilang padanya, "Mau lihat HP atau nenen?" Adik pun menjawab nenen.

Baiklah, akhirnya saya sepakat. Saya biarkan dia menyusu. Ketika dia asyik menyusu, saya iseng berkata, "Sudah ya, nen-nya." Ternyata Adik Z pun langsung melepas nenennya dan diam saja. MasyaAllah tabaarakallah.

Memang belum sesuai ekspektasi saya karena belum berhasil menyapih ASI. Tapi ini sudah sangat baik ketika dia bisa memilih dan tidak rewel meminta HP. Pun ketika diminta untuk melepas nen-nya, adik pun bisa sukarela melepasnya.

Kebetulan tadi pagi saya membahas ini di peer group Plankton. Selain trik memilih seperti yang saya lakukan, saya akan mencoba untuk sounding pada Adik Z saat suasana tenang. Jadi tidak hanya sekedar mengatasi masalah pada saat adik tantrum, tetapi juga mencegah agar tidak perlu sampai tantrum. Semoga saja berhasil. Aamiin....


⭐⭐⭐

Thursday, 3 September 2020

Boleh, Asal...

13:58 0 Comments



Sudah beberapa hari ini Kakak A tidak muroja'ah. Boro-boro setoran ke ustadzah, mendengar murottalnya pun tidak. Sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan Kakak A, pasalnya saya memang tidak menyodorkan handphone untuk merekam ngajinya karena memang sengaja puasa gadget di rumah.

Siang tadi saat saya menengok HP sebentar saja, Kakak A berkomentar, "Mau lihat HP..."
Kadang, saya langsung berkata tidak dan kembali menyimpan HP saya. Tapi, berhubung kemarin menyimak materi komunikasi produktif, saya jadi merasa seakan memiliki Aha moment.

Saya bilang pada Kakak A, "Oke, boleh lihat HP, tapi dengarkan murrotal dan direkam dulu." Kakak A setuju. Alhamdulillah, sesi murojaah pun lancar.

Selesai? Belum...
Sesuai janji, saya pun memberikan HP setelah dia setoran hafalan. Biasanya saya memberikan batas waktu dengan timer untuk membatasi screen timenya. Kesepakatan kedua pun saya lakukan lagi.

"Boleh lihat HP, tapi satu kali titit (timer) aja ya."
Kakak A menawar, "Iya, tapi yang lama."

Oke, saya ACC. Saya set timer selama 10 menit dan saya biarkan dia melihat youtube. Setelah 10 menit, HP saya berbunyi dan dia pun menghampiri, "Ini, Mi. Sudah bunyi titit."

Biasanya Kakak A masih merasa tidak puas dan merengek minta 1 kali titit lagi. Alhamdulillah kali ini dia ikhlas mengembalikan HP sesuai timer yang diberikan. MasyaAllah tabaarakallah.

Saya merasa mendapat win-win solution dengan komunikasi produktif kali ini. Saya bisa meminta Kakak A murojaah, di lain sisi Kakak A bisa melihat youtube. Alhamdulillah...

Tapi agenda ini ga cukup hari ini saja, karena tugas murojaah juga terus berlanjut. InsyaAllah besok diulang lagi agar sama-sama tetap win-win solution.


⭐⭐⭐⭐⭐

Sunday, 23 August 2020

Menyelami Diri

22:47 0 Comments


Alhamdulillah sudah masuk minggu ke empat kelas pra bunda sayang. Kami tidak hanya diajak semakin jauh ke tengah, tetapi juga diajak untuk menyelam ke dasar laut. Apalagi kalau bukan menyelami diri kami sendiri.

Seperti apakah diri kami? Seperti apakah kami setelah di IP?

Untuk bisa menjawabnya, kami dibekali infografis tentang piramida ibu profesional. Titik puncak piramida itu adalah meraih akhlak mulia. Di bagian sudut lain berupa output yang diharapkan akan muncul.



Bagaimana diri saya? Saya melihat bahwa diri saya dalam proses untuk menuju output tersebut. 


Saya sedang dalam upaya terus mengembangkan diri, salah satunya dengan mengikuti kelas bunda sayang ini. Begitu juga dengan output mampu mendidik dan mengembangkan anak, serta hebat mengelola keluarga juga sedang dalam proses untuk dilakukan. Sedangkan tentang output percaya diri, saya merasa cukup mendapat pencerahan sejak matrikulasi sehingga mantap dan percaya diri dengan pilihan peran yang akan saya jalani.


Ke depannya saya akan terus memperjuangkan nilai-nilai output tersebut. Khususnya dalam hal mengelola keluarga dan anak, karena ini sifatnya terus-menerus dan tidak akan pernah berhenti.


Ini sejalan pula dengan prioritas ilmu yang ingin saya kejar. Maka, bergabung di IP menjadi sebuah kesamaan visi dan misi bagi saya pribadi untuk menggali ilmu tentang peran sebagai seorang ibu dan istri.


Bismillah, semoga Allah mudahkan

Wednesday, 12 August 2020

Wakeboarding, Melambung di Udara, Menggapai Ilmu

17:59 0 Comments
Wakeboarding


Wahana bermain kelas pra bunda sayang semakin jauh ke tengah laut. Artinya makin jauh pula kami diajak untuk berkontemplasi, memetakan apa yang akan kami lakukan di wahana ini. Di minggu ketiga ini, kami diajak untuk memahami core value dan karakter moral diri ibu profesional.


Salah satu core value yang dikupas tuntas adalah tentang semangat belajar. Ya, seorang ibu profesional memang harus memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Rasa ini yang akan mendorongnya untuk terus belajar dengan penuh semangat. Tapi pertanyaannya, ilmu apa yang akan dipelajari?


Jika ditanya begitu, saya jadi teringat dengan tugas NHW saat matrikulasi dulu. Sejak kelas itu sebenarnya kami sudah diarahkan untuk memetakan peran diri, dan dengan peran diri itulah kami juga diarahkan ilmu apa yang mendukung peran tersebut. Waktu itu saya menulis bahwa peran saya adalah seorang istri dan ibu yang mengambil peran publik sebagai dokter dan penulis. Artinya untuk menjadi seorang ibu profesional di semua peran saya, saya harus menguasai ilmu-ilmu terkait peran saya tersebut.


Biidznillah sejauh ini saya merasa sudah berada di jalan yang benar. Beberapa komunitas atau organisasi yang saya ikuti sejauh ini mengerucutkan saya untuk fokus pada peran-peran tersebut. Begitu pula dengan ilmu yang secara tidak langsung saya dapatkan, sedikit demi sedikit menunjang kompetensi saya untuk makin profesional menjalani peran yang saya pilih.


Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa godaan ilmu di luar sana amat sangat banyak sekali. Wajar, karena ilmu Allah memang sangat luas. Ketika kita bertemu satu ilmu rasanya seperti hal baru dan ingin terus didalami hingga benar-benar tahu. Hanya saja, apakah semua ilmu akan diperlakukan begitu?


Saya jadi teringat dengan skala prioritas ilmu yang disampaikan oleh Ustadz Nuzul Dzikri dalam sebuah kajiannya. Bagi seorang wanita, ada prioritas ilmu yang harus diutamakannya. Pertama jelas ilmu agama karena itu bekal dia untuk mati. Kedua adalah ilmu untuk menjadi istri dan ibu karena itu adalah amanah utama yang tidak main-main pertanggungjawabannya. Beliau berpesan untuk mengutamakan ilmu itu dulu, di samping mungkin ingin mempelajari ilmu lain.


Maka di sinilah saya saat ini, mencoba meningkatkan kapasitas saya sebagai seorang istri dan ibu. Berhubung wahana yang saya pilih adalah dengan bergabung dalam Institut Ibu Profesional, maka saya memilih untuk mengikuti alur yang sudah digariskan dari tim.


Secara tidak sadar ternyata alur perkuliahan di IIP pun sejalan dengan prioritas ilmu yang dibutuhkan oleh saya. Pertama dengan kelas bunda sayang, saya dimantapkan dengan peran saya sebagai seorang ibu. Dilanjut dengan kelas bunda cekatan, di mana saya diharapkan mampu mengelola rumah tangga dengan lebih piawai. Ketika urusan domestik ini sudah dikuasai, maka saatnya saya berkiprah ke ranah yang lebih luas dengan mendalami ilmu bunda produktif. Dan harapannya agar makin banyak manfaat yang bisa disebarkan, makin menjuruslah ilmu yang dipelajari dengan mengikuti kelas bunda shaliha.


Tentu saja untuk belajar menjadi seorang ibu dan istri tidak harus hanya melalui ibu profesional. Terlebih di era media yang serba terbuka, informasi di luar sana seakan begitu mudah diakses. Dengan dalih semangat belajar, boleh jadi kita akan kewalahan karena ingin menguasai ilmu menjadi istri dan ibu sebanyak-banyaknya. Di sinilah perlunya karakter moral diri. Bagaimana kita bisa berkata tegas "itu menarik, tapi saya tidak tertarik."


Meskipun masih tertatih, saya mencoba pula untuk menerapkan pedoman itu. Dalam hal ilmu pendidikan anak misalnya. Ada ilmu montessori di luar sana yang tampaknya sangat menarik, tapi saya berusaha untuk mengatakan tidak tertarik. Saya merasa bukan di situ arah pendidikan anak saya. Begitu pula ilmu read aloud misalnya, menarik tapi saya tidak tertarik. Saya lebih mengimbangi ilmu parenting saya dari kacamata fitrah based education dengan merapat di kelas-kelas dan komunitas Ustadz Harry Santosa dibandingkan mengambil jalan ilmu yang lain.


Lagi-lagi ini tentang pilihan, dan saya merasa inilah pilihan peta perjalanan mencari ilmu saya untuk menguasai peran ibu dan istri. Dalam ilmu lain misalnya, saya tertarik dengan ilmu berbenah di komunitas gemar rapi karena bagi saya itu mendukung peran saya menata rumah dengan lebih baik. Saya tergabung juga dengan kelas-kelas literasi keuangan di mommenkeu dengan harapan saya memantapkan peran saya sebagai istri yang bertugas menjadi menteri keuangan dalam keluarga.


Lalu bagaimana dengan ilmu terkait peran publik saya sebagai dokter dan penulis?


Balik lagi seperti nasihat Ustadz Nuzul. Saya memilih skala prioritas. Saya mencukupkan diri dengan belajar literasi dan bergabung di Forum Lingkar Pena saat kuliah dulu. Saat ini sementara saya memilih untuk bergabung di komunitas Ibu-ibu Doyang Nulis saja, tanpa tergiur dengan komunitas baca tulis lainnya. Meski ada ilmu-ilmu menulis yang baru seperti content writing dll, tapi saya menganggap itu bukan prioritas saya untuk saat ini.


Begitu pula dengan peran saya sebagai dokter. Sekarang bukan saatnya saya untuk 'belajar' lagi. Keinginan untuk studi lanjut sengaja saya redam untuk menguatkan peran domestik saya terlebih dahulu.


Sesuai dengan karakter moral diri yang disampaikan di materi kemarin, dengan menentukan prioritas ini maka saya akan selamat dari tenggelam di tsunami informasi. Saya bisa mengupayakan untuk always on time saat menuntut ilmu. Karena fokus dengan ilmu yang dipilih, harapannya saya juga bisa running the mission alive dan percaya bahwa I know I can be better. Pun dengan konsentrasi penuh itu pula saya berharap bisa lebih maksimal untuk mempraktikkan ilmu dan lebih tulus dalam menularkan ilmu layaknya karakter diri sharing is caring.


Tantangannya adalah ketika melirik perempuan di luar sana yang mungkin mantap dengan pilihan ilmunya juga. Godaan untuk mempelajari ilmu tersebut boleh jadi akan datang menghampiri. Tapi, bukankah dari dulu rumput tetangga selalu tampak jauh lebih hijau? Belum tentu jurusan ilmu yang dipilihnya sesuai dengan ilmu yang mendukung peran kita. Maka lagi-lagi perkuat karakter diri dengan mantap berkata, "Menarik, tapi saya tidak tertarik."

Wednesday, 5 August 2020

Berselancar di Komunitas

10:50 0 Comments


Alhamdulillah sudah memasuki minggu kedua kelas pra bunda sayang Ibu Profesional. Di minggu ini kami membicarakan tentang prinsip berkomunitas dan code of conduct. Apa itu?

Seperti kata peribahasa, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, di manapun kita berada pasti akan ada aturan yang berlaku. Begitu pula dengan Ibu Profesional. Di sini istilah aturan tersebut dikenal dengan nama code of conduct dan prinsip berkomunitas.

Ketika membicarakan prinsip berkomunitas, saya teringat pengalaman kurang lebih setahun yang lalu saat sekretaris regional menanyakan tentang makna komunitas IP dan kontribusi berkomunitas pada seluruh member IP Soloraya. Waktu itu saya menjawab, bahwa berorganisasi dan berkomunitas adalah hobi saya sejak kecil. Berhubung ini adalah hobi, maka saya justru berbinar-binar ketika terjun di komunitas.

Tentunya komunitas yang dimaksud adalah komunitas yang sesuai dengan minat dan bakat saya. Persis seperti kata Bune Yani di materi kemarin. Burung yang berkicau sama akan hinggap di dahan yang sama. Dan saya merasakan hal itu di Ibu Profesional. Saya merasa sefrekuensi dengan member-member IP soloraya dan itu membuat saya betah untuk bertahan di sana.

Karena ini adalah hobi, maka berorganisasi atau berkomunitas di IP bukan menjadi beban bagi saya. Sebaliknya, justru menjadi ajang me time dan wahana saya untuk merasa bahagia. Dengan sudut pandang inilah maka prinsip berkomunitas yang diminta untuk selalu aktif dan tidak pasif menjadi poin pertama yang InsyaAllah selalu berusaha dipenuhi. Bukan karena sekedar mematuhi peraturan, melainkan karena saya pribadi butuh untuk mendapatkan kebahagiaan.

Setelah itu, salah satu tahap lanjutannya adalah dengan memberikan kontribusi. Saya akui bahwa IP ibarat gudang ilmu yang seolah tak ada habisnya. Kalau saya mau serakah, bisa saja saya mengeruk ilmu itu sepuas-puasnya. Tapi, apa itu membahagiakan?

Bagi saya, seseorang tak akan pernah mendapat kebahagiaan ketika dia hanya menuntut untuk selalu diberi tanpa pernah memberi. Justru kebahagiaan hakiki itu muncul saat kita mampu memberi meski hanya sedikit dari yang kita miliki. Di sinilah makna kontribusi. Maka, meski usia saya masih seumur jagung di IP, selagi saya mampu, sekecil apapun saya akan berusaha untuk bisa memberikan kontribusi.

Kaitannya dengan proses menimba ilmu, saya mendapat insight baru dari materi CoC yang disampaikan Biyung Ratna kemarin. Di era semua serba ingin show off, rasanya semua ilmu atau info ingin segera dishare. Saya pernah merasa risih dengan hal ini. Apa iya semua ilmu atau bahkan catatan mentah materinya dipublish begitu saja?

Ternyata saya mendapat jawabannya kemarin. Tidak semua materi langsung dishare. Pelajari dulu, terapkan dulu, lalu share lah materi itu dengan pengalaman yang sudah dilakukan. Berikan pula nilai-nilai menurut sudut pandang pribadi agar benar-benar menjadi jurnal yang pas untuk diri kita sendiri.

Bagi saya poin CoC di atas menarik. Karena prinsip di IP adalah semua guru semua murid. Dengan memberikan jurnal versi diri sendiri maka diri kita yang semula murid dari materi itu akan beranjak menjadi guru. Pun ini terkait dengan adab terhadap ilmu, bahwa ilmu tak hanya dicari, tapi juga diamalkan lalu dibagikan.

Karena prinsipnya, adab dulu sebelum ilmu. Utamakan dulu adab menuntut ilmu yang baik, dibanding sekedar mengeruk ilmu sebanyak-banyaknya namun lepas semua entah ke mana. Semoga dengan menjaga adab dengan CoC ini ilmu menjadi lebin berkah dan bermanfaat untuk kita semua. Aamiin