Follow Us @soratemplates

Tuesday, 8 September 2020

Maaf dengan Cinta

22:12 0 Comments



Seperti biasa, sore ini suami menemani saya untuk praktik sore. Seperti biasa pula, saya selalu membawakan baju ganti dan bekal untuk camilan di tempat praktik. Kebetulan baju ganti yang saya bawakan adalah baju koko warna putih, sekalian buat ke masjid. Camilan sore ini ada roti, tahu bacem, dan pisang. Waktu akan berangkat, bumer menambahi, "Jenang sumsumnya dibawa sekalian." Beuh..., banyak. Semua saya  jadikan satu dan dimasukkan di tas jinjing, seperti biasa.

Sejak semula saya sudah was-was. Duh, ini nanti jenang sumsumnya tumpah ga ya. Bakal numpahin baju ga ya. Maklum, jenangnya cuma dibungkus kertas, khawatir aja kalau rembes dan mengenai baju.

Begitu sampai di tempat praktik, saya keluarkan satu persatu. Yang pertama saya cek adalah jenang sumsum. Kering. Yeiy, aman. Alhamdulillah, berarti tidak tumpah. Tapi ...., ketika semua barang sudah dikeluarkan dari tas...., oh my god, ternyata ujung pisang yang sudah sangat matang itu menempel di baju. Dan .... menyisakan noda. Oh, no!

Saya buru-buru mengelapnya. Tidak bisa! Nodanya terlanjur nempel. Mana baju kokonya dalam kondisi terlipat, jadi ujung lipatan pun justru membuat noda itu ada di beberapa titik.

Suami yang melihat itu langsung berkomentar, "Ya udah, berarti ga ke masjid."

Saya tau itu bukan ya udah pemakluman, tapi ya udah karena kesal apa boleh buat. Suami tipikal yang tidak mau ke masjid cuma pakai kaos. Jadi kalau tidak ada baju koko, masa mau ke masjid pakai kaos harian.

Tahu reaksi suami begitu, saya buru-buru mengambil tisu dan air. Saya lap, tetap saja belum berkurang. Tak kurang akal, saya ambil sedikit sabun cuci tangan di wastafel, saya berikan di bagian noda dan saya kucek sedikit. Agak berkurang karena basah tepatnya, tapi suami sudah tidak menggubris.

Ya sudah, biarkan saja. Begitu adzan magrib tiba, saya lihat lagi baju koko yang saya biarkan tergeletak di tempat tidur.

"Ga telalu kelihatan kok," kata saya.
Suami pun melirik, "Ya udah ga papa." Akhirnya dipakai juga baju kokonya.

Then? Sudah? 
Belum...
Saya teringat poin komunikasi produkif tentang mengutamakan bahasa cinta. Sepertinya, ini bisa saya coba kali ini. Bagi suami, bahasa cinta yang dominan adalah sentuhan fisik. Jadi, selepas magrib saya penuhi dulu tangki cintanya dengan memberikan bahasa cinta. Itung-itung sebagai wujud permohonan maaf saya.

Alhamdulillah...., luluh. Haha...
Memang sepele sih sebenarnya. Tapi ketika ada rasa kecewa, tentu tidak nyaman di hati kan. Dengan saling mengisi tangki cinta, komunikasi pun menjadi cair dan hangat kembali.




Monday, 7 September 2020

Mulai Dari Diri Sendiri

17:47 0 Comments



Sejujurnya, saya agak maju mundur untuk menjadikan ini sebagai tantangan komunikasi produktif saya hari ini. Tentang apa? Tentang interaksi saya dengan mertua.


Sebenarnya saya tidak ada masalah dengan mertua. Tapi mungkin karena terbawa omongan orang di luar sana kalau hubungan menantu mertua itu luar biasa, agaknya saya jadi agak terpengaruh juga.


Sejak awal menikah, saya memang tinggal bersama mertua. Kedua kakak ipar saya sering berpesan, "Yang sabar ya..." Kadang saya merasa wejangan mereka itu berlebihan. Ah, saya biasa-biasa saja kok, dan tidak ada masalah.


Tapi, yang namanya wanita kadangkala memang sering terbawa suasana. Terlebih kondisi ibu mertua saya yang sudah tidak lagi muda, kondisinya memang perlu sangat dimaklumi. Sayangnya, keadaan saya yang mungkin tidak stabil yang kadang kurang tepat saja.


Ini ada kaitannya dengan teori truk sampah yang saya tulis kemarin. Yah, saya tidak akan menjadi pemungut sampah di hadapan mertua saya. Entah apapun yang beliau lakukan, saya tak akan memungutnya dan memasukkan ke dalam hati.


Lalu apa yang saya lakukan? Saya tersenyum. Ya, sebatas itu. Saya memakai poin komuniasi produktif memperbaiki gesture dan nada bicara. 


Ketika tadi pagi beliau mengomentari beberapa hal, alih-alih menghela nafas, saya mengambil sikap tersenyum. Ya, hanya tersenyum tanpa membuka mulut saya untuk menimpali. Saya juga mengawali dengan senyuman terlebih dahulu sebelum mulai berkata-kata, sekalipun itu hanya sekedar berpamitan akan berangkat kerja. Dengan senyuman itu, secara tidak sadar nada bicara saya pun berubah juga.


Dampaknya? Tadi siang ketika saya sedang makan, beliau menghampiri saya sambil berkata, "Pisangnya dimakan. Yang lain udah dikasih. Itu dimakan aja." Nadanya tenang, bahkan seakan setengah berbisik. Berbeda dengan biasanya yang kadang terkesan sebagai perintah.


MasyaAllah... Dari sini saya belajar bahwa apapun itu mulai saja dari diri sendiri. Barangkali perubahan yang kita lakukan bisa memberikan dampak perubahan bagi orang lain.


Apakah ini cukup? Tentu saja tidak. Ini baru permulaan. Saya masih harus terus membiasakan agar hati selali merasa nyaman. Barangkali dengan begitu, saya yang introvert ini lain waktu bisa bebas bercerita-cerita dengan beliau. Semoga...




⭐⭐⭐


Sunday, 6 September 2020

Sebentar Lagi, Ya

13:27 0 Comments



Ada yang menarik dalam komunikasi produktif. Salah satunya yaitu tentang trik bernegosiasi. Saya mempraktikkannya pada kedua anak saya sekaligus.

Kakak A dan Adik Z itu punya kebiasaan kalau sikat gigi lama sekali. Ciri khas anak-anak sih, suka sekali main air. Kalau mandi begitu juga, tidak segera keluar kamar mandi karena asyik bermain air dari shower atau kran.

Begitu juga hari ini, Adik Z yang baru selesai buang air besar masih berlama-lama bermain air. Saya sudah memanggilnya agar keluar kamar mandi, tetap saja tidak menurut. Sudah saya tinggal sebentar untuk membersihkan diapers, tetap saja belum mau berhenti. Saya matikan kran begitu saja, dan seperti biasa dia pun merengek dan menyalakan krannya sendiri.

Akhirnya saya teringat satu metode komunikasi produktif, make a deal untuk mengakhiri. Saya bilang pada Adik Z, "Oke, satu kali lagi boleh dinyalakan krannya, tapi habis itu dimatikan ya." Adik Z pun mengiyakan.

Saya pun membuka kran airnya dan dia bermain di bawah kucuran air. Saya langsung berkata, "Udah, ya?", si adik pun diam saja. Maka, saya menutup kran air.

MasyaAllah... Adik pun paham dan langsung keluar kamar mandi tanpa protes. Alhamdulillah...

Ternyata sesimpel ini penyelesaian tantangan kalau kita mau berkomunikasi dengan produktif. Coba dari tadi saya hanya tarik ulur bergantian mematikan dan membuka kran air dengan adik, mungkin tak akan segera selesai dan justru menyulut emosi.

Alhamdulillah, komunikasi hari ini done dan terselesaikan dengan baik. Besok masih perlu diingatkan lagi agar jadi kebiasaan Kakak A dan Adik Z.


⭐⭐⭐⭐⭐

Saturday, 5 September 2020

Apa Kabar Diri?

18:54 0 Comments



Sudah tiga hari saya membicarakan komunikasi produktif. Tampaknya biasa-biasa saja, lancar-lancar saja dengan objek mereka anak-anak kecil saya. Tapi, ada yang mengganjal di hati ini.

Sebenarnya 24 jam saya tidak selamanya mulus ternyata. Apa yang saya tulis hanyalah secuil moment di hari itu, dengan teori komunikasi pruduktif yang saya punya. Tapi ribuan detik lainnya, emosi saya pun kadang naik turun juga. Tidak sepenuhnya pada mereka dua makhluk kecil, kadang gejolak rasa itu justru muncul karena masalah dalam pribadi saya.

Lalu saya teringat tentang self love yang disampaikan Kak Analisa di Analisa Channel. Ah, iya. Saya memang berusaha mencintai dua anak saya dengan berkomunikasi sebaik-baiknya. Tapi, agaknya saya lagi-lagi terlupa untuk berkomunikasi dengan diri saya sendiri, untuk menyapa apa kabar hati hari ini.

Sebenarnya ini termasuk dalam teori komunikasi produktif juga. Tentang bagaimana sebuah teko akan menuangkan minuman yang sedap kalau diisi sesuatu yang nikmat. Pun diri ini, bagaimana akan bisa berkomunikasi dengan baik kalau input yang masuk hanyalah apa-apa yang baik.

Sayangnya, hidup di dunia ini dihadapkan pada situasi yang sangat heterogen. Orang yang berpapasan dengan kita saja bisa membuat mood kita berantakan. Pasien yang tiba-tiba datang dengan segudang complain misalnya, sedikit banyak kadang membuat mood berubah juga. Orang di jalan yang ngebut dan memotong jalan kita misalnya, boleh jadi terbersit rasa senewen juga.

Aih, rapuh sekali ternyata pertahanan diri ini ketika masih terbawa situasi. Suatu waktu saya pernah melihat video singkat tentang teori truk sampah. Isinya tentang bahwa semua orang di dunia ini membawa sampah atau masalah hidupnya. Sampah-sampah itu menumpuk dalam dirinya, dan karena sudah overload akhirnya meluap begitu saja, mengenai orang lain dan menyebabkan orang lain itu penuh dengan sampah pula.

PR-nya adalah apakah kita mau menjadi truk sampah, yang mengambil sampah-sampah berceceran di mana-mana hingga tanpa sadar diri kita sendiri menjadi penuh sampah? Di sinilah tantangannya. Bagaimana kita bisa tetap bersikap cuek dan tersenyum melihat mereka menumpahkan masalahnya. Tapi tetap menjaga diri kita untuk tidak terpengaruh dan tetap bahagia menjalani hidup kita sendiri. Tidak menjadikan masalah itu menjadi masalah diri kita. Tidak menjadikan orang-orang itu memberikan pengaruh yang merusak suasana hati kita.

Berat? Pasti. Tapi saya membayangkan, betapa damainya hidup ini jika kita merdeka dari truk sampah. Ini tantangan. Semoga saja bisa, sebagai wujud self love pada diri saya sendiri, dan sebagai wujud komunikasi produktif pada segumpal daging yang rapuh di dalam diri. Bismillah...

Kalau Gini, Mami Suka?

16:01 0 Comments



Komunikasi produktif kali ini melanjutkan sesi hari pertama. Alhamdulillah Kakak A mau kembali murojaah setiap hari. Hanya saja kali ini dia sedikit hampir memancing emosi.


Awalnya dia mau menyimak hafalan lewat speaker. Meskipun tidak 100% mengikuti, setidaknya Kakak A menyimak dan perhatian. Tapi, begitu di akhir-akhir sesi dan saatnya dia untuk direkam, Kakak A justru tidak bisa diam.


Saya paham betul kalau Kakak A tipe anak kinestetik. Dia memang tidak bisa benar-benar diam saat menyimak, tapi kali ini Kakak A mengaji sambil tiduran lalu naik ke atas kursi, menginjak kursi, dan justru duduk di pegangan kursi. 


Awalnya saya minta dia agar diam, duduk yang manis. Saya pakai prinsip komunikasi produktif untuk menyampaikan dengan singkat dan simpel. Tapi, tidak berefek. Bukannya saya ingin menghambat kinestetiknya, tapi setidaknya agar dia paham adab ketika membaca Al-Quran. Langsung saja saya ingat poin komunikasi produktif yang menyampaikan ketidaksukaan terhadap perilaku.


Saya bilang pada Kakak A, "Kak, Mami ga suka kalau Kak Abrar ngaji sambil naik-naik kursi gitu. Duduk yang bagus. Allah juga ga suka kalau ada orang ngaji kok ga duduk bagus."


Akhirnya Kakak A mau duduk di kursi dengan manis. Saya pun merekam sesi murojaahnya. Begitu audio saya kirimkan ke ustadzahnya, Kakak A berkata, "Kalau kayak gini, Mami seneng?"


MasyaAllah.... Saya spontan tertawa. "Iya, Kak. Mami seneng kalau Kak Abrar mau duduk sopan trus ngaji."


Alhamdulillah, komunikasi hari ini done dengan membahagikan. Semoga esok bisa dipertahankan dan lebih baik lagi.



⭐⭐⭐⭐⭐


Friday, 4 September 2020

Pilih Ini Atau Itu?

15:09 0 Comments



Objek komunikasi produktif saya kali ini adalah Adik Z. Ada sebuah kekeliruan yang saya lakukan baru-baru ini. Saya sedang menyapih ASI sekaligus menyapih gadget pada Adik Z.

Ini ada hubungannya dengan komunikasi produktif Kakak A kemarin agar mau murojaah dan tidak over screen time. Awalnya karena Kakak A harus sering menyimak hafalan via handphone atau laptop, si Adik pun jadi 'kenal' dengan gadget. Kalau Kakak A bisa dikendalikan dengan timer, sayangnya Adik Z belum paham tentang itu.

Di waktu yang bersamaan, usia Adik Z menginjak dua tahun. Sudah harus disapih. Awalnya berhasil dua hari tidak menyusu. Dia bisa langsung tidur (tepatnya ketiduran) saat melihat handphone. Tapi karena ada tantangan baru mengurangi gadget, jadilah cara ini tak bisa digunakan. 

Alhasil, adik pun jadi tantrum. Lebih-lebih karena di zona terrible two katanya. Ketika tidak boleh menyusu, adik akan mencari handphone. Ketika tidak diperbolehkan main gadget, dia menagih minta disusui.

Akhirnya, saya memilih mengalah. Seperti di prinsip komunikasi produktif, kita yang memahami kemauan anak, bukan anak yang diminta mengikuti keinginan kita. Maka, saya memilih mengerem salah satu karena saya tahu mungkin berat juga buat Adik Z untuk lepas dari dua hal itu sekaligus.

Siang tadi, Adik Z pun tantrum lagi. Saya menangkapnya sebagai aha moment kali ini. Saya bilang padanya, "Mau lihat HP atau nenen?" Adik pun menjawab nenen.

Baiklah, akhirnya saya sepakat. Saya biarkan dia menyusu. Ketika dia asyik menyusu, saya iseng berkata, "Sudah ya, nen-nya." Ternyata Adik Z pun langsung melepas nenennya dan diam saja. MasyaAllah tabaarakallah.

Memang belum sesuai ekspektasi saya karena belum berhasil menyapih ASI. Tapi ini sudah sangat baik ketika dia bisa memilih dan tidak rewel meminta HP. Pun ketika diminta untuk melepas nen-nya, adik pun bisa sukarela melepasnya.

Kebetulan tadi pagi saya membahas ini di peer group Plankton. Selain trik memilih seperti yang saya lakukan, saya akan mencoba untuk sounding pada Adik Z saat suasana tenang. Jadi tidak hanya sekedar mengatasi masalah pada saat adik tantrum, tetapi juga mencegah agar tidak perlu sampai tantrum. Semoga saja berhasil. Aamiin....


⭐⭐⭐

Thursday, 3 September 2020

Boleh, Asal...

13:58 0 Comments



Sudah beberapa hari ini Kakak A tidak muroja'ah. Boro-boro setoran ke ustadzah, mendengar murottalnya pun tidak. Sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan Kakak A, pasalnya saya memang tidak menyodorkan handphone untuk merekam ngajinya karena memang sengaja puasa gadget di rumah.

Siang tadi saat saya menengok HP sebentar saja, Kakak A berkomentar, "Mau lihat HP..."
Kadang, saya langsung berkata tidak dan kembali menyimpan HP saya. Tapi, berhubung kemarin menyimak materi komunikasi produktif, saya jadi merasa seakan memiliki Aha moment.

Saya bilang pada Kakak A, "Oke, boleh lihat HP, tapi dengarkan murrotal dan direkam dulu." Kakak A setuju. Alhamdulillah, sesi murojaah pun lancar.

Selesai? Belum...
Sesuai janji, saya pun memberikan HP setelah dia setoran hafalan. Biasanya saya memberikan batas waktu dengan timer untuk membatasi screen timenya. Kesepakatan kedua pun saya lakukan lagi.

"Boleh lihat HP, tapi satu kali titit (timer) aja ya."
Kakak A menawar, "Iya, tapi yang lama."

Oke, saya ACC. Saya set timer selama 10 menit dan saya biarkan dia melihat youtube. Setelah 10 menit, HP saya berbunyi dan dia pun menghampiri, "Ini, Mi. Sudah bunyi titit."

Biasanya Kakak A masih merasa tidak puas dan merengek minta 1 kali titit lagi. Alhamdulillah kali ini dia ikhlas mengembalikan HP sesuai timer yang diberikan. MasyaAllah tabaarakallah.

Saya merasa mendapat win-win solution dengan komunikasi produktif kali ini. Saya bisa meminta Kakak A murojaah, di lain sisi Kakak A bisa melihat youtube. Alhamdulillah...

Tapi agenda ini ga cukup hari ini saja, karena tugas murojaah juga terus berlanjut. InsyaAllah besok diulang lagi agar sama-sama tetap win-win solution.


⭐⭐⭐⭐⭐