Tuesday, 8 September 2020
Monday, 7 September 2020
Sejujurnya, saya agak maju mundur untuk menjadikan ini sebagai tantangan komunikasi produktif saya hari ini. Tentang apa? Tentang interaksi saya dengan mertua.
Sebenarnya saya tidak ada masalah dengan mertua. Tapi mungkin karena terbawa omongan orang di luar sana kalau hubungan menantu mertua itu luar biasa, agaknya saya jadi agak terpengaruh juga.
Sejak awal menikah, saya memang tinggal bersama mertua. Kedua kakak ipar saya sering berpesan, "Yang sabar ya..." Kadang saya merasa wejangan mereka itu berlebihan. Ah, saya biasa-biasa saja kok, dan tidak ada masalah.
Tapi, yang namanya wanita kadangkala memang sering terbawa suasana. Terlebih kondisi ibu mertua saya yang sudah tidak lagi muda, kondisinya memang perlu sangat dimaklumi. Sayangnya, keadaan saya yang mungkin tidak stabil yang kadang kurang tepat saja.
Ini ada kaitannya dengan teori truk sampah yang saya tulis kemarin. Yah, saya tidak akan menjadi pemungut sampah di hadapan mertua saya. Entah apapun yang beliau lakukan, saya tak akan memungutnya dan memasukkan ke dalam hati.
Lalu apa yang saya lakukan? Saya tersenyum. Ya, sebatas itu. Saya memakai poin komuniasi produktif memperbaiki gesture dan nada bicara.
Ketika tadi pagi beliau mengomentari beberapa hal, alih-alih menghela nafas, saya mengambil sikap tersenyum. Ya, hanya tersenyum tanpa membuka mulut saya untuk menimpali. Saya juga mengawali dengan senyuman terlebih dahulu sebelum mulai berkata-kata, sekalipun itu hanya sekedar berpamitan akan berangkat kerja. Dengan senyuman itu, secara tidak sadar nada bicara saya pun berubah juga.
Dampaknya? Tadi siang ketika saya sedang makan, beliau menghampiri saya sambil berkata, "Pisangnya dimakan. Yang lain udah dikasih. Itu dimakan aja." Nadanya tenang, bahkan seakan setengah berbisik. Berbeda dengan biasanya yang kadang terkesan sebagai perintah.
MasyaAllah... Dari sini saya belajar bahwa apapun itu mulai saja dari diri sendiri. Barangkali perubahan yang kita lakukan bisa memberikan dampak perubahan bagi orang lain.
Apakah ini cukup? Tentu saja tidak. Ini baru permulaan. Saya masih harus terus membiasakan agar hati selali merasa nyaman. Barangkali dengan begitu, saya yang introvert ini lain waktu bisa bebas bercerita-cerita dengan beliau. Semoga...
Sunday, 6 September 2020
Saturday, 5 September 2020
Komunikasi produktif kali ini melanjutkan sesi hari pertama. Alhamdulillah Kakak A mau kembali murojaah setiap hari. Hanya saja kali ini dia sedikit hampir memancing emosi.
Awalnya dia mau menyimak hafalan lewat speaker. Meskipun tidak 100% mengikuti, setidaknya Kakak A menyimak dan perhatian. Tapi, begitu di akhir-akhir sesi dan saatnya dia untuk direkam, Kakak A justru tidak bisa diam.
Saya paham betul kalau Kakak A tipe anak kinestetik. Dia memang tidak bisa benar-benar diam saat menyimak, tapi kali ini Kakak A mengaji sambil tiduran lalu naik ke atas kursi, menginjak kursi, dan justru duduk di pegangan kursi.
Awalnya saya minta dia agar diam, duduk yang manis. Saya pakai prinsip komunikasi produktif untuk menyampaikan dengan singkat dan simpel. Tapi, tidak berefek. Bukannya saya ingin menghambat kinestetiknya, tapi setidaknya agar dia paham adab ketika membaca Al-Quran. Langsung saja saya ingat poin komunikasi produktif yang menyampaikan ketidaksukaan terhadap perilaku.
Saya bilang pada Kakak A, "Kak, Mami ga suka kalau Kak Abrar ngaji sambil naik-naik kursi gitu. Duduk yang bagus. Allah juga ga suka kalau ada orang ngaji kok ga duduk bagus."
Akhirnya Kakak A mau duduk di kursi dengan manis. Saya pun merekam sesi murojaahnya. Begitu audio saya kirimkan ke ustadzahnya, Kakak A berkata, "Kalau kayak gini, Mami seneng?"
MasyaAllah.... Saya spontan tertawa. "Iya, Kak. Mami seneng kalau Kak Abrar mau duduk sopan trus ngaji."
Alhamdulillah, komunikasi hari ini done dengan membahagikan. Semoga esok bisa dipertahankan dan lebih baik lagi.
Friday, 4 September 2020
Ini ada hubungannya dengan komunikasi produktif Kakak A kemarin agar mau murojaah dan tidak over screen time. Awalnya karena Kakak A harus sering menyimak hafalan via handphone atau laptop, si Adik pun jadi 'kenal' dengan gadget. Kalau Kakak A bisa dikendalikan dengan timer, sayangnya Adik Z belum paham tentang itu.
⭐⭐⭐







