Follow Us @soratemplates

Thursday, 10 September 2020

MasyaAllah... Keren

22:32 0 Comments



Hari ini luar biasa. Sejak pagi Kakak A dan Adik Z sudah 'rame'. Awalnya karena saya butuh cek hape, jadilah mereka terpancing. Alhamdulillah bisa segera dikondisikan sehingga masih tetap on the track manajemen gadget buat mereka.


Tragedi kedua terjadi ketika Kakak A ingin mengajak Adik Z main di kamar kos kosong. Si adik tidak mau, dia lebih memilih main pasir. Jadilah ramai lagi karena kakaknya ingin ngajak main bareng. Suasana makin tambah rame ketika bumer pun menimpali suara tangis mereka dengan nada tinggi.


Saya yang saat itu baru mandi untungnya masih bisa mengendalikan diri. Teori truk sampah beberapa waktu lalu masih terpegang, saya tersenyum saja di bawah guyuran air mendengar suara bumer di luar sana. Plus suasana melankolis seharian kemarin masih membekas di hati. Ajaibnya saya menikmati keramaian Kakak A dan Adik Z kali ini. 


Selepas mandi, kondisi saya ambil alih. Keduanya saya ajak ke kamar dan terkuasai. Tapi saya memilih jeda terlebih dahulu alih-alih memberi insight pada mereka.


Ketika akan berangkat, barulah saya mengambil moment. Saya bilang pada Kakak A, "Adik jangan dibuat nangis, ya. Kan Mami mau berangkat kerja. Nanti kalau adik nangis gimana dong, ga bisa nen."


Kakak A sepertinya menangkap. Dia menimpali sambil berkata, "Adik nanti jangan nangis ya!" 


Sepulang kerja, saya menyapa mereka dan bertanya, "Adik tadi nangis ndak?" 

Adik Z pun menjawab, "Ndak"

"MasyaAllah... keren sekali. Mami suka kalau Dek Zabran ga nangis gitu. Keren!" kata saya dengan nada antusias.

"Kak Abrar tadi ga bikin adik nangis ya?" tanya saya ke Kakak A.

"Ndak!" jawab Kakak A cepat.

"Trus, Kak Abrar ngapain sama Adik?"

"Ya mainan bareng-bareng sama Dek Zabran"

"MasyaAllah.. Kak Abrar juga keren. Itu keren banget lho Kak main bareng sama adik ga ada yang nangis." Saya menimpali dengan lebih antusias.

"Besok main bareng-bareng lagi ya. Ga boleh nangis-nangis semua. Adik pinter ga nangis. Kak Abrar juga pinter ga bikin adik nangis."


Mereka pun diam saja. Saya tidak tahu apakah komunikasi produktif kali ini akan efektif atau tidak. Tapi setidaknya saya sudah menapakkan langkah pertama untuk pencegahan tantrum keduanya.


Setidaknya saya merasa bahwa hari ini saya menang dengan tetap tersenyum menghadapi situasi yang cukup panas tadi pagi. Pun saya bisa tetap bernada baik dan intonasi ramah ketika menghadapi mereka. Konsep jeda terealisasi. Poin fokus pada solusi juga tercapai dibandingkan hanya berfokus pada masalah. Termasuk juga tips memberikan pujian dari sesuatu yang disukai dan fokus pada masa depan agar lebih baik lagi.


MasyaAllah... Alhamdulillah... Hari ini benar-benar keren.....

Wednesday, 9 September 2020

Selagi Masih Ada Waktu

22:23 2 Comments



Tadi pagi ada berita mengejutkan di sebuah grup WA. Terjadi kecelakaan beruntun di tol sekitar Teras Boyolali. Mobil terbakar, beberapa korban meninggal dunia. Yang lebih mengejutkan adalah, mobil sedan yang terbakar itu adalah mobil rekan di grup tersebut. Putra pertamanya yang berusia 5 tahun meninggal dunia.


Innalillahi wainna ilaihi roji'un

Mendengar berita itu seakan-akan ada yang berdesir di hati. Anak yang 40 menit sebelumnya masih bercanda ikut sang ayah diajak bertemu di selasar masjid, ternyata berpulang begitu saja. Rekan komunitas yang malam itu bertemu pun tak menyangka.


Berita itu membuat saya tercenung. Usia anak pertamanya hampir sama dengan Kakak A. Saya membayangkan kesedihannya, tetapi ketika rekan komunitas mengabarkan ternyata rekan saya tidak merasa 'sedih'. Dia menganggap bahwa anak yang belum baligh itu sebagai tabungan kelak di akhirat. Dia melihat sisi positif dan kepulangan putranya.

MasyaaAllah... 
Saya lalu tersadar. Ya, usia memang tidak ada yang tahu. Tapi justru karena tidak tahu itulah maka hendaknya kita berjaga-jaga dan mempersiapkannya. 

Mendadak saya menjadi merasakan detik demi detik waktu yang saya lalui dengan Kakak A dan Adik Z hari ini terasa begitu berharga. Alhamdulillah tak ada perseteruan, nada komunikasi saya datar dan tenang. Senyuman di kulum bisa dipertahankan seharian. 

Tak ada poin khusus aha moment hari ini. Sepanjang hari ini saya menganggapnya sebagai moment untuk berkomunikasi produktif. Selagi masih ada waktu. Selagi masih ada kesempatan mengukir kenangan indah bersama mereka. 

Tuesday, 8 September 2020

Maaf dengan Cinta

22:12 0 Comments



Seperti biasa, sore ini suami menemani saya untuk praktik sore. Seperti biasa pula, saya selalu membawakan baju ganti dan bekal untuk camilan di tempat praktik. Kebetulan baju ganti yang saya bawakan adalah baju koko warna putih, sekalian buat ke masjid. Camilan sore ini ada roti, tahu bacem, dan pisang. Waktu akan berangkat, bumer menambahi, "Jenang sumsumnya dibawa sekalian." Beuh..., banyak. Semua saya  jadikan satu dan dimasukkan di tas jinjing, seperti biasa.

Sejak semula saya sudah was-was. Duh, ini nanti jenang sumsumnya tumpah ga ya. Bakal numpahin baju ga ya. Maklum, jenangnya cuma dibungkus kertas, khawatir aja kalau rembes dan mengenai baju.

Begitu sampai di tempat praktik, saya keluarkan satu persatu. Yang pertama saya cek adalah jenang sumsum. Kering. Yeiy, aman. Alhamdulillah, berarti tidak tumpah. Tapi ...., ketika semua barang sudah dikeluarkan dari tas...., oh my god, ternyata ujung pisang yang sudah sangat matang itu menempel di baju. Dan .... menyisakan noda. Oh, no!

Saya buru-buru mengelapnya. Tidak bisa! Nodanya terlanjur nempel. Mana baju kokonya dalam kondisi terlipat, jadi ujung lipatan pun justru membuat noda itu ada di beberapa titik.

Suami yang melihat itu langsung berkomentar, "Ya udah, berarti ga ke masjid."

Saya tau itu bukan ya udah pemakluman, tapi ya udah karena kesal apa boleh buat. Suami tipikal yang tidak mau ke masjid cuma pakai kaos. Jadi kalau tidak ada baju koko, masa mau ke masjid pakai kaos harian.

Tahu reaksi suami begitu, saya buru-buru mengambil tisu dan air. Saya lap, tetap saja belum berkurang. Tak kurang akal, saya ambil sedikit sabun cuci tangan di wastafel, saya berikan di bagian noda dan saya kucek sedikit. Agak berkurang karena basah tepatnya, tapi suami sudah tidak menggubris.

Ya sudah, biarkan saja. Begitu adzan magrib tiba, saya lihat lagi baju koko yang saya biarkan tergeletak di tempat tidur.

"Ga telalu kelihatan kok," kata saya.
Suami pun melirik, "Ya udah ga papa." Akhirnya dipakai juga baju kokonya.

Then? Sudah? 
Belum...
Saya teringat poin komunikasi produkif tentang mengutamakan bahasa cinta. Sepertinya, ini bisa saya coba kali ini. Bagi suami, bahasa cinta yang dominan adalah sentuhan fisik. Jadi, selepas magrib saya penuhi dulu tangki cintanya dengan memberikan bahasa cinta. Itung-itung sebagai wujud permohonan maaf saya.

Alhamdulillah...., luluh. Haha...
Memang sepele sih sebenarnya. Tapi ketika ada rasa kecewa, tentu tidak nyaman di hati kan. Dengan saling mengisi tangki cinta, komunikasi pun menjadi cair dan hangat kembali.




Monday, 7 September 2020

Mulai Dari Diri Sendiri

17:47 0 Comments



Sejujurnya, saya agak maju mundur untuk menjadikan ini sebagai tantangan komunikasi produktif saya hari ini. Tentang apa? Tentang interaksi saya dengan mertua.


Sebenarnya saya tidak ada masalah dengan mertua. Tapi mungkin karena terbawa omongan orang di luar sana kalau hubungan menantu mertua itu luar biasa, agaknya saya jadi agak terpengaruh juga.


Sejak awal menikah, saya memang tinggal bersama mertua. Kedua kakak ipar saya sering berpesan, "Yang sabar ya..." Kadang saya merasa wejangan mereka itu berlebihan. Ah, saya biasa-biasa saja kok, dan tidak ada masalah.


Tapi, yang namanya wanita kadangkala memang sering terbawa suasana. Terlebih kondisi ibu mertua saya yang sudah tidak lagi muda, kondisinya memang perlu sangat dimaklumi. Sayangnya, keadaan saya yang mungkin tidak stabil yang kadang kurang tepat saja.


Ini ada kaitannya dengan teori truk sampah yang saya tulis kemarin. Yah, saya tidak akan menjadi pemungut sampah di hadapan mertua saya. Entah apapun yang beliau lakukan, saya tak akan memungutnya dan memasukkan ke dalam hati.


Lalu apa yang saya lakukan? Saya tersenyum. Ya, sebatas itu. Saya memakai poin komuniasi produktif memperbaiki gesture dan nada bicara. 


Ketika tadi pagi beliau mengomentari beberapa hal, alih-alih menghela nafas, saya mengambil sikap tersenyum. Ya, hanya tersenyum tanpa membuka mulut saya untuk menimpali. Saya juga mengawali dengan senyuman terlebih dahulu sebelum mulai berkata-kata, sekalipun itu hanya sekedar berpamitan akan berangkat kerja. Dengan senyuman itu, secara tidak sadar nada bicara saya pun berubah juga.


Dampaknya? Tadi siang ketika saya sedang makan, beliau menghampiri saya sambil berkata, "Pisangnya dimakan. Yang lain udah dikasih. Itu dimakan aja." Nadanya tenang, bahkan seakan setengah berbisik. Berbeda dengan biasanya yang kadang terkesan sebagai perintah.


MasyaAllah... Dari sini saya belajar bahwa apapun itu mulai saja dari diri sendiri. Barangkali perubahan yang kita lakukan bisa memberikan dampak perubahan bagi orang lain.


Apakah ini cukup? Tentu saja tidak. Ini baru permulaan. Saya masih harus terus membiasakan agar hati selali merasa nyaman. Barangkali dengan begitu, saya yang introvert ini lain waktu bisa bebas bercerita-cerita dengan beliau. Semoga...




⭐⭐⭐


Sunday, 6 September 2020

Sebentar Lagi, Ya

13:27 0 Comments



Ada yang menarik dalam komunikasi produktif. Salah satunya yaitu tentang trik bernegosiasi. Saya mempraktikkannya pada kedua anak saya sekaligus.

Kakak A dan Adik Z itu punya kebiasaan kalau sikat gigi lama sekali. Ciri khas anak-anak sih, suka sekali main air. Kalau mandi begitu juga, tidak segera keluar kamar mandi karena asyik bermain air dari shower atau kran.

Begitu juga hari ini, Adik Z yang baru selesai buang air besar masih berlama-lama bermain air. Saya sudah memanggilnya agar keluar kamar mandi, tetap saja tidak menurut. Sudah saya tinggal sebentar untuk membersihkan diapers, tetap saja belum mau berhenti. Saya matikan kran begitu saja, dan seperti biasa dia pun merengek dan menyalakan krannya sendiri.

Akhirnya saya teringat satu metode komunikasi produktif, make a deal untuk mengakhiri. Saya bilang pada Adik Z, "Oke, satu kali lagi boleh dinyalakan krannya, tapi habis itu dimatikan ya." Adik Z pun mengiyakan.

Saya pun membuka kran airnya dan dia bermain di bawah kucuran air. Saya langsung berkata, "Udah, ya?", si adik pun diam saja. Maka, saya menutup kran air.

MasyaAllah... Adik pun paham dan langsung keluar kamar mandi tanpa protes. Alhamdulillah...

Ternyata sesimpel ini penyelesaian tantangan kalau kita mau berkomunikasi dengan produktif. Coba dari tadi saya hanya tarik ulur bergantian mematikan dan membuka kran air dengan adik, mungkin tak akan segera selesai dan justru menyulut emosi.

Alhamdulillah, komunikasi hari ini done dan terselesaikan dengan baik. Besok masih perlu diingatkan lagi agar jadi kebiasaan Kakak A dan Adik Z.


⭐⭐⭐⭐⭐

Saturday, 5 September 2020

Apa Kabar Diri?

18:54 0 Comments



Sudah tiga hari saya membicarakan komunikasi produktif. Tampaknya biasa-biasa saja, lancar-lancar saja dengan objek mereka anak-anak kecil saya. Tapi, ada yang mengganjal di hati ini.

Sebenarnya 24 jam saya tidak selamanya mulus ternyata. Apa yang saya tulis hanyalah secuil moment di hari itu, dengan teori komunikasi pruduktif yang saya punya. Tapi ribuan detik lainnya, emosi saya pun kadang naik turun juga. Tidak sepenuhnya pada mereka dua makhluk kecil, kadang gejolak rasa itu justru muncul karena masalah dalam pribadi saya.

Lalu saya teringat tentang self love yang disampaikan Kak Analisa di Analisa Channel. Ah, iya. Saya memang berusaha mencintai dua anak saya dengan berkomunikasi sebaik-baiknya. Tapi, agaknya saya lagi-lagi terlupa untuk berkomunikasi dengan diri saya sendiri, untuk menyapa apa kabar hati hari ini.

Sebenarnya ini termasuk dalam teori komunikasi produktif juga. Tentang bagaimana sebuah teko akan menuangkan minuman yang sedap kalau diisi sesuatu yang nikmat. Pun diri ini, bagaimana akan bisa berkomunikasi dengan baik kalau input yang masuk hanyalah apa-apa yang baik.

Sayangnya, hidup di dunia ini dihadapkan pada situasi yang sangat heterogen. Orang yang berpapasan dengan kita saja bisa membuat mood kita berantakan. Pasien yang tiba-tiba datang dengan segudang complain misalnya, sedikit banyak kadang membuat mood berubah juga. Orang di jalan yang ngebut dan memotong jalan kita misalnya, boleh jadi terbersit rasa senewen juga.

Aih, rapuh sekali ternyata pertahanan diri ini ketika masih terbawa situasi. Suatu waktu saya pernah melihat video singkat tentang teori truk sampah. Isinya tentang bahwa semua orang di dunia ini membawa sampah atau masalah hidupnya. Sampah-sampah itu menumpuk dalam dirinya, dan karena sudah overload akhirnya meluap begitu saja, mengenai orang lain dan menyebabkan orang lain itu penuh dengan sampah pula.

PR-nya adalah apakah kita mau menjadi truk sampah, yang mengambil sampah-sampah berceceran di mana-mana hingga tanpa sadar diri kita sendiri menjadi penuh sampah? Di sinilah tantangannya. Bagaimana kita bisa tetap bersikap cuek dan tersenyum melihat mereka menumpahkan masalahnya. Tapi tetap menjaga diri kita untuk tidak terpengaruh dan tetap bahagia menjalani hidup kita sendiri. Tidak menjadikan masalah itu menjadi masalah diri kita. Tidak menjadikan orang-orang itu memberikan pengaruh yang merusak suasana hati kita.

Berat? Pasti. Tapi saya membayangkan, betapa damainya hidup ini jika kita merdeka dari truk sampah. Ini tantangan. Semoga saja bisa, sebagai wujud self love pada diri saya sendiri, dan sebagai wujud komunikasi produktif pada segumpal daging yang rapuh di dalam diri. Bismillah...

Kalau Gini, Mami Suka?

16:01 0 Comments



Komunikasi produktif kali ini melanjutkan sesi hari pertama. Alhamdulillah Kakak A mau kembali murojaah setiap hari. Hanya saja kali ini dia sedikit hampir memancing emosi.


Awalnya dia mau menyimak hafalan lewat speaker. Meskipun tidak 100% mengikuti, setidaknya Kakak A menyimak dan perhatian. Tapi, begitu di akhir-akhir sesi dan saatnya dia untuk direkam, Kakak A justru tidak bisa diam.


Saya paham betul kalau Kakak A tipe anak kinestetik. Dia memang tidak bisa benar-benar diam saat menyimak, tapi kali ini Kakak A mengaji sambil tiduran lalu naik ke atas kursi, menginjak kursi, dan justru duduk di pegangan kursi. 


Awalnya saya minta dia agar diam, duduk yang manis. Saya pakai prinsip komunikasi produktif untuk menyampaikan dengan singkat dan simpel. Tapi, tidak berefek. Bukannya saya ingin menghambat kinestetiknya, tapi setidaknya agar dia paham adab ketika membaca Al-Quran. Langsung saja saya ingat poin komunikasi produktif yang menyampaikan ketidaksukaan terhadap perilaku.


Saya bilang pada Kakak A, "Kak, Mami ga suka kalau Kak Abrar ngaji sambil naik-naik kursi gitu. Duduk yang bagus. Allah juga ga suka kalau ada orang ngaji kok ga duduk bagus."


Akhirnya Kakak A mau duduk di kursi dengan manis. Saya pun merekam sesi murojaahnya. Begitu audio saya kirimkan ke ustadzahnya, Kakak A berkata, "Kalau kayak gini, Mami seneng?"


MasyaAllah.... Saya spontan tertawa. "Iya, Kak. Mami seneng kalau Kak Abrar mau duduk sopan trus ngaji."


Alhamdulillah, komunikasi hari ini done dengan membahagikan. Semoga esok bisa dipertahankan dan lebih baik lagi.



⭐⭐⭐⭐⭐