Follow Us @soratemplates

Thursday, 17 September 2020

Menular

22:23 0 Comments
komunikasi produktif



Alhamdulillah tantangan hari terakhir usai. Tak ada yang spesial hari ini. Komunikasi produktif berjalan seperti biasa. Terlebih karena saya masih menemani suami mengikuti seminar. Jadilah kuantitas untuk membersamai anak-anak memang masih minimal seperti kemarin.


Ada yang menarik yang saya amati selama lima belas hari tantangan ini. Ternyata apa yang saya lakukan pada anak-anak itu mereka resapi dan mereka tirukan. Terutama tentu saja ditirukan Kakak A.


Seperti tadi pagi misalnya ketika Adik Z cuci tangan berkali-kali. Kakak A ikut-ikutan berkomentar, "Satu kali lagi trus udah ya," persis seperti poin komunikasi produktif yang saya lakukan di awal-awal tantangan dulu.


Begitu juga ketika Adik Z rewel ingin mobil-mobilan yang dipegang Kakak A. Bisa-bisanya Kakak A menanggapi dengan berkata, "Bilang dulu, Kak pinjam mobil." Walaupun tetap saja si adik sudah terlanjur menangis dan akhirnya benar-benar mengatakan pinjam. Barulah Kakak A memberikan mobilnya.


MasyaaAllah tabaarakallah... Mudah-mudahan tantangan komunikasi produktif ini tidak hanya berdampak pada saya, tetapi juga berdampak pada pola komunikasi anak-anak, suami, dan siapapun juga. InsyaAllah



Wednesday, 16 September 2020

Waktu Berkualitas

22:37 0 Comments



Qadarullah hari ini saya mendadak diajak suami mengikuti seminar, menggantikan timnya yang tiba-tiba berhalangan hadir. Full dari pagi sampai sore, langsung lanjut praktik hingga ba'da Isya. MasyaAllah... meninggalkan anak-anak dalam rentang waktu yang begitu lama bisa dibilang luar biasa. Jarang-jarang saya melakukan hal itu.


Sejak pagi sebelum berangkat saya sudah membriefing Kakak A dan Adik Z kalau saya akan pulang malam. Lengkap dengan pesan-pesan dan afirmasi tentunya seperti tidak boleh rewel, tunggu di rumah, dll.


Ketika pulang, MasyaaAllah saya merasakan energi yang berbeda. Saya kira mereka sudah terlelap, ternyata tidak. Mereka menunggu saya pulang. Sekian jam tidak bersama mereka membuat saya mengambi sikap yang berbeda.


Menit-menit terakhir sebelum mereka tidur menjadi pillow talk hangat malam ini. Kakak A menunjukan hasil gambarnya, Adik Z minta dibacakan buku, dll. Padahal saya membayangkan diri saya lelah, tetapi ternyata tidak. Saya justru bisa berkomunikasi produktif malam ini.


Dari sini saya belajar bahwa tidak butuh banyak kuantitas sebenarnya untuk mempraktikkan komunikasi yang produktif. Waktu sempit tapi berkualitas tentu lebih memberi kesan dibandingkan banyak waktu tapi tak berbekas. Semoga saja waktu-waktu berikutnya menjadi lebih baik dari segi kuantitas sekaligus kualitas. Aamiin...


Tuesday, 15 September 2020

Pinter Ya, Mi?

17:07 0 Comments



Sudah beberapa hari melakukan komunikasi produktif, siang tadi saya baru menyadari poin bahasa cinta Kakak A. Saya pikir Kakak A memiliki bahasa cinta sentuhan fisik karena sering dipeluk Papinya. Ternyata dia berespon luar biasa ketika tadi saya memberikan kata-kata afirmasi padanya.


Tadi siang di sesi murojaah seperti biasa, saya iseng memancing hafalan Kakak A. MasyaAllah..., ternyata dia sudah bisa. Refleks saya berkata, "Pinter kak." Dia pun tersenyum lebar.


Begitu menyambung ayat berikutnya dan saya kembali berkata, "Wah ternyata Kak Abrar bisa," Dia makin tertawa senang. Saat sesi murojaah selesai, Kakak A bertanya pada saya, "Kak Abrar pinter ya, Mi?"


MasyaaAllah... berasa sesuatu sekali dia mendapat pujian pintar. Mungkin karena saya jarang memuji begitu. Mungkin karena tidak sesuai dengan poin komunikasi produktif untuk tidak asal memuji tetapi harus memuji dengan alasan yang jelas.


Tapi dari moment tadi saya menangkap satu hal bahwa boleh jadi Kakak A memang lebih dominan bahasa cinta kata-kata afirmasi. Kalau diingat-ingat sepertinya memang begitu karena Kakak A sering sekali mematut diri lalu bertanya, "Keren ga Mi?" atau ketika dia selesai menggambar dan menunjukkan hasilnya lantas bertanya, "Lihat, Mi. Bagus ga?"


MasyaAllah... Ini menjadi tantangan baru untuk saya agar bisa makin sering memberikan afirmasi positif pada Kakak A, dengan cara yang benar tentunya. Semoga ini bisa menguatkan rasa kepercayaan dirinya dan mengisi tangki cintanya. Bismillah.... 

Monday, 14 September 2020

Dengar Baru Bicara

23:02 0 Comments



Tadi siang saya hampir terpancing emosi dengan ulah Kakak A dan Adik Z. Sepulang saya kerja, Adik Z terlihat capek dan mengantuk sekali. Buru-buru saya sholat dhuhur dulu sebelum nanti menemani tidur. Tapi, ketika saya masih sholat, ternyata Adik Z sudah tidur di lantai ruang tamu.

Tak berapa lama entah ada apa Kakak A menghampiri dan Adik Z pun terbangun menangis merasa tidurnya terganggu. Begitu selesai sholat, saya langsung menghardik Kakak A.

"Kenapa Adik diganggu? Kalau tidur ya biarin aja." blablabla... Jujur nada bicara saya agak tinggi waktu itu, meski berusaha betul saya tahan dan tidak sampai ngomel panjang lebar.

Ketika saya akhirnya menemani Adik untuk kembali tidur, baru Kakak A menjawab, "Tangan sama kakinya Adik kan kotor. Dibersihkan dulu kalau mau tidur."

MasyaaAllah... Teryata dia mengambil baskom kecil lalu membasahi tangan Adiknya waktu tidur di lantai tadi. Niatnya baik, sayangnya tentu saja Adik jadi terganggu tidurnya.

Adik Z yang waktu itu belum benar-benar tertidur akhirnya saya beri tahu, "Tangan sama kakinya dibersihkan dulu ya. Biar tidurnya enak, bersih."

Kakak A pun segera membawa baskom kecilnya dan meminta saya yang membersihkan tangan dan kaki Adik Z. 

MasyaaAllah Tabaarakallah... memang kadang kita perlu mengerem apa yang ingin kita omongkan. Sesuai poin komunikasi produktif, banyaklah mendengar sebelum berbicara. Hari ini saya diingatkan untuk mendengar dulu apa yang dimaksudkan Kakak A sebelum hanya menjudge bahwa dia mengganggu tidur adiknya. 

Maaf ya, Kak ....

Sunday, 13 September 2020

Mi, Hape...

22:46 0 Comments



Salah satu tantangan yang saya uji coba di komunikasi produktif ini adalah tentang manajemen gadget pada anak. Alhamdulillah sejak sepuluh hari tantangan berjalan, Adik Z sama sekali tidak merengek-rengek minta HP. Kakak A juga bisa terkondisikan karena memang sebagai reward jika dia mau murojaah. Tapi, memasuki hari ke sebelas ini ternyata gagal.

Awalmulanya karena suami meletakkan handphone sembarangan di meja yang terjangkau anak. Padahal biasanya tidak di situ. Pun HP saya sudah aman disimpan. Karena terlihat oleh mata Adik Z, jadilah dia menangis meminta lihat HP. Kakaknya ikut-ikutan menambahi mau melihat juga.

Secara emosional saya agak masa bodoh waktu itu. Agak kesal sih karena suami seenaknya naruh HP. Tapi syukurnya tidak ikut terbawa emosi.

Di kesempatan itu saya memakai poin komunikasi produktif untuk fokus pada solusi. Saya berkata pada anak-anak, "Itu kan HP-nya Papi. Kalau mau lihat ya pinjam dulu sama Papi. Harus izin Papi dulu boleh apa nggak."

Saya ulang-ulang berkata begitu, di sela-sela rengekan mereka berdua. Ketika suami selesai mandi sore dan anak-anak benar-benar bilang ke Papinya, eh suami membolehkan karena daripada rewel. 

Hm..., di bagian ini saya agak zonk sebenarnya. Harusnya target-target misi tertentu saya bicarakan dulu sama suami, biar bisa sefrekuensi. Tapi karena sudah terlanjur ya mau gimana lagi.

Untungnya suami bilang, "Boleh, tapi kalau udah adzan Magrib harus dikembalikan." Kebetulan sekali tadi memang sudah menjelang Magrib. Jadi belum terlalu lama mereka menonton video di youtube, adzan pun terdengar. Alhamdulillah saat suami meminta HP-nya, anak-anak mau memberikan tanpa protes.

Setidaknya di poin ini mereka bisa belajar tentang meminta izin untuk meminjam barang pada yang punya. Mereka juga belajar tentang kesepakatan dan konsekuensi. Cukup melegakan karena Kakak A dan Adik Z bisa di poin ini. Meski ada PR bagi saya untuk membuat kesepakatan agar sefrekuensi dengan suami. Bismillah

Saturday, 12 September 2020

No Kode-kodean

18:42 0 Comments



Salah satu tips komunikasi produktif dengan pasangan adalah dengan menyampaikan langsung apa yang diinginkan tanpa pakai kode-kodean. Masalah klasik sih, tapi sering sekali terjadi. Bahkan pada diri saya sendiri.

Mungkin karena sifat sering tidak enak hati jadinya kadang apa yang saya inginkan sering saya pendam sendiri. Termasuk pada suami. Sekedar memberi kode pun jarang-jarang saya lakukan. Untungnya, suami tipe orang yang peka. Begitu istrinya memberi kode sedikit saja, beliau langsung tanggap apa yang dimau istrinya.

Tapi kali ini saya mau mencoba untuk bilang langsung, tanpa perlu sungkan, tanpa perlu kode-kodean. Tentang apa? Tentang ngajak makan di luar.

Kebetulan hari ini saya sedang tidak selera makan. Bumer masak bakso, yang entah kenapa sudah bosan karena sering sekali dimasakkan itu. Saya maklum sih karena anak-anak memang sangat doyan bakso, kalau menunya itu bisa makan berkali-kali. Cuma yang dewasa ini yang kadang sudah tidak selera.

Jadi sepulang dari praktik sore ini, saya mau mengajak suami mampir cari makan. Itung-itung malam mingguan kan. Hehe...

Tanpa basa-basi, saya bilang langsung, "Nanti pulang mampir makan yuk, Pi."
Suami pun mengiyakan tanpa basa-basi. "Bosen bakso lagi soalnya," sambung saya. Ternyata suami menjawab, "Wah, sama."

Haha... Kadang kala kami punya pemikiran yang sama. Seringnya ketika saya pingin A ternyata suami juga. Sudah berkali-kali terjadi begitu. Perkaranya hanyalah keinginan itu kadang hanya dibatin oleh kami sendiri. Jadi, mulai sekarang ayo sampaikan, ayo wujudkan keinginan. :)



Friday, 11 September 2020

Empati Menghapus BLAST

22:52 0 Comments



Saya pernah mendapat sebuah teori, katanya ada kondisi yang sangat mempengaruhi kestabilan psikologis. Biasanya disingkat dengan BLAST yaitu bored, lonely , angry-afraid, stress, tired. Sayangmya hari ini saya mengalaminya.

Tadi pagi di klinik saya sudah menghela napas. Perawat sampai bertanya, "Kenapa, Dok?" dan saya menjawab, "Ga papa mb, baru banyak kerjaan aja"

Nah, karena lelah itulah, saat di rumah saya hampir terpancing emosi. Nada bicara saya tertahan waktu berselisih pendapat dengan Kakak A antara murotal dulu atau hape dulu. Saya tau betul kalau saya sedang marah tadi. Untungnya saya sadar, dan buru-buru mengerem sebelum kelepasan bernada tinggi.

Ternyata kejadian lagi. Saat mandi sore, Kakak A dan Adik Z tidak mau segera keluar. Sudah saya minta dengan cara baik, tidak diperhatikan. Padahal kemarin-kemarin sejak tantangan berapa hari yang lalu, urusan mandi sudah tidak jadi soal. Sampai akhirnya saya memakai jurus pamungkas barulah mereka mau keluar.

Ketika akan berangkat praktik sore, saya merasa capek sekali. Terlebih ketika biasanya saya sempat tidur siang walau sejenak saat menemani Adik Z, hari ini tadi sama sekali tidak tidur. Saya sempat khawatir, gimana nanti kalau saat ketemu pasien saya sudah terlanjur badmood duluan.

Alhamdulillah... tidak. Pasien yang datang silih berganti itu justru menghilangkan BLAST saya sejenak. Rasa itu baru kembali muncul malam ini, ketika semua pekerjaan hari ini sudah usai.

Apa yang saya lakukan hingga BLAST itu sempat hilang? Empati, di situ teknik komunikasi produktif kali ini. 

Khusus hari Jum'at saya memang tidak memasang tarif bagi para pasien yang datang. Rata-rata mereka yang datang memang orang-orang yang membutuhkan. Dan karena mereka butuh itulah, secara tidak sadar muncul rasa empati dalam diri. Rasa itupun menjadi modal awal untuk tetap bisa berkomunikasi baik dengan pasien, terlepas dari betapa lelah dan mengantuknya saya.

Dari situ saya merefleksi juga, kenapa saya tidak menerapkan rasa empati itu pada orang-orang terdekat saya? Kenapa saya tidak menunjukkan rasa empati pada anak-anak yang juga butuh saya?

Baiklah, hari ini saya belajar satu poin ini bahwa bagaimana agar bisa bernada baik harus dimuli dari perasaan yang baik. Konsepnya baru direfleksikan hari ini, insyaAllah besok diujicobakan lagi.