Follow Us @soratemplates

Sunday, 7 February 2021

Menghitung Sepanjang Jalan (Tantangan Zona Kecerdasan Matematika dan Finansial)

22:45 0 Comments



Sejak tadi malam kami berkunjung ke rumah simbah. Maksudnya simbah saya, alias simbah buyutnya Kak A dan Adik Z. Salah satu aktivitas rutin di rumah simbah setiap pagi adalah jalan-jalan ke sekitar lingkungan rumah. Begitu juga tadi pagi. Ketika matahari sudah mulai tampak, kami memutuskan untuk berangkat jalan-jalan. Tentu saja jalan-jalan kali ini tidak sekedar jalan, tapi saya punya misi untuk merangsang kecerdasan matematika terutama pada Kak A.


Saat berangkat, kami disambut dengan segerombolan ayam yang berciap-ciap memasuki pekarangan rumah simbah. Saya pun mulai beraksi, "Kak A, ada berapa ayamnya?" Alhamdulillah meski ayamnya sedang berlari-lari ke sana ke mari tak tentu arah, Kak A bisa menyebutkan ada 5 ayam kecil dan 1 ayam besar.


Kami pun memulai perjalanan, berjalan perlahan-lahan sambil papi berlari-lari kecil. Saya pun teringat ide yang diceritakan Kakawi di Bintang kemarin. Hm, mulai deh kami menghitung langkah bersama-sama. Yup, sebatas satu sampai sepuluh saja karena itupun Kak A masih suka angot-angotan. Saya tak ingin terburu-buru masuk ke angka sebelas dan seterusnya.


Di tengah jalan, Papi ternyata ingin buang air kecil. Ya sudah, kami pun mampir ke sebuah masjid yang kami lewati. Sembari menunggu papi, kami menengok ke sekeliling. Ternyata ada beberapa ekor burung kecil yang hinggap di pagar masjid. Saya pun buru-buru menangkap moment, "Kak A, burungnya ada berapa?" Waktu itu burung yang hinggap ada tiga. 


Tak berapa lama, ada satu burung lagi yang ikutan hinggap di pagar. Saya pun kembali bertanya, "Wah, ada yang datang lagi satu. Jadi berapa ya sekarang?' Kak A bisa menjawab tepat kalau burungnya jadi empat. Yeiy, konsep berhitung sederhana tentang penambahan bisa didapat kan secara konkret dengan melihat burung yang hinggap. Masya Allah walhamdulillah.


Next ketika melanjutkan perjalanan, saya iseng bertanya sana-sini. Misal ketika melihat anjing yang menyalak-nyalak, saya bertanya, "Ada berapa anjingnya?" Alhamdulillah kali ini adik Z yang bisa menjawab lebih cepat karena anjingnya cuma satu.


Bintang untuk hari ini adalah lima untuk saya dan Kak A karena kami bisa belajar matematika dengan cara alami tanpa terlihat bahwa sebenarnya sedang mengajarkan. MasyaAllah...


#harike3

#tantangan15hari

#zona6stimulasimatematikafinansial

#pantaibentangpetualang

#kuliahbundasayang

#institutibuprofesional

Saturday, 6 February 2021

Hewan Darat, Air, Udara (Tantangan Zona Kecerdasan Matematika dan Finansial)

18:34 0 Comments



Tadi malam saya mendongeng bareng Kak A dan Adik Z. Judulnya memang dongeng sebelum tidur yang akibatnya saya pun ikutan tidur sampai pagi dan belum bikin jurnal bunda sayang. Duh gusti paringono sabar, baru juga tantangan hari kedua kok sudah masuk geng wong keturon. Tepok jidat!


Ya sudah daripada ketiduran lagi, langsung eksekusi saja pagi ini. Mumpung mereka main pasir di luar dan saya bisa curi-curi pegang HP, langsung cicil dulu. Siapa tahu nanti malam bisa bikin jurnal berikutnya lagi.


Semalam saya cerita tentang hewan. Ada hewan yang bisa di udara, darat, dan air. Kok masuk tantangan kecerdasan matematika sih? Iya, karena ternyata pengelompokan itu termasuk kecerdasan matematika lho. Ini termasuk matematika dasar tentang himpunan. Jadi ketika anak bisa mengelompokkan sesuatu, secara matematis dia punya kemampuan tersebut.


Awalnya saya meminta Kak A menyebutkan hewan apa yang bisa terbang di udara? Kak A bisa menyebutkan burung dan kupu-kupu. Hm, lumayan lah. Saya kira dia cuma bakal menyebutkan burung saja.


Next, lanjut ke hewan darat. Saya bilang kalau hewan darat ada yang berjalan dengan perut, namanya hewan melata. Kak A bisa menyebutkan ular. Lalu, lanjut lagi ada hewan berkaki dua dan berkaki empat. Nah kan masuk lagi matematikanya. Anak jadi paham kan secara konkret mana itu dua dan mana yang empat. Alhamdulillah, Kak A bisa menyebutkan cukup banyak hewan di sini seperti ayam, sapi, kambing, gajah, dll.


Next tentang hewan di air. Kak A menyebut ikan dan bebek. Yah meskipun bebek bisa jalan di darat juga ya hehe. 


Permainan belum selesai. Saya lanjut menyebutkan nama-nama hewan lalu meminta Kak A untuk menebak hewa itu masuk kategori hewan udara, darat, atau air. Alhamdulillah tebakan Kak A benar.


Ada bonus juga nih. Saya pancing deh, hewan tadi siapa yang menciptakan. Kak A jawab, Allah. Yeiy, kena kan ke keimanan juga. Alhamdulillah... Bintang buat kemarin lima buat saya dan Kak A.


#harike2

#tantangan15hari

#zona6stimulasimatematikafinansial

#pantaibentangpetualang

#kuliahbundasayang

#institutibuprofesional


Thursday, 4 February 2021

Ada Berapa Kucing? (Tantangan Zona Kecerdasan Matematika dan Finansial)

21:46 0 Comments



Bismillahirrahmanirrahim


Yes, memasuki zona berikutnya. Kali ini tentang kecerdasan matematika dan finansial. Hm, salah satu kecerdasan yang saya tunggu-tunggu di Bunda Sayang ini. Bismillah mudah-mudahan menjurnalnya pun bahagia dan tuntas. Aamiin...


Sebelumnya, saya akan mengkaji dulu kondisi tentang tema ini pada Kakak A. Ya, kali ini saya mau fokus pada Kakak A saja. Sejujurnya Kak A belum saya ajarkan untuk menulis dan berhitung. Dia belum benar-benar mengerti huruf dan angka karena selama ini saya sebatas mengenalkan saja. Bahkan kadang dia masih terbalik antara enam dan empat. Habis menyebut tiga lanjut enam, bukannya empat. So, tema kali ini saya mau menguatkan lagi matematika dasarnya.


Hari ini saya mengajak Kak A (dan sekaligus Adik Z) untuk main dengan menggunakan laptop. Awalnya saya hendak menggambar, atau mengeprint gambar. Tapi ketika tadi Kak A membuka laptop, tiba-tiba saya mendapat ide untuk memanfaatkan laptop untuk media hitung tanpa perlu mengeprintnya.


Pertama, saya membuka google mencari gambar kucing. Adik Z memilih kucing favoritnya. Demikian juga dengan Kakak A. Setelah dipilih, saya mendownload gambar tesebut dan membuka ms.word. Saya insert gambar tersebut dengan jumlah satu kucing di baris pertama, lalu dua kucing di gambar kedua, dst hingga lima kucing. Begitu juga dengan kucing milik Kak A. 


Saya ajak Kak A untuk menghitung ada berapa kucing setiap baris. Alhamdulillah Kak A bisa menyebutkan dengan urut, tidak terbalik antara empat dan enam. Kemudian, cerita saya lanjutkan dengan simulai, "Yah, kucingnya ngantuk. Satu kucing pergi deh. Sekarang kucingnya ada berapa?" Lalu Kak A pun menghitung sisa kucing yang ada di baris tersebut.


Hal yang sama berlaku juga ketika kucing Kak A ada dua, lalu datang kucing Adik Z mau ikut main. Sekarang ada berapa kucing yang main sama-sama? Alhamdulillah, Kak A bisa menghitungnya secara konkret. Yup, untuk usianya memang dianjurkan untuk memberikan latihan konkret terlebih dahulu. Alhamdulillah secara tidak langsung Kak A sudah belajar tentang penambahan dan pengurangan.


Bintang untuk hari ini lima untuk saya karena saya berhasil menciptakan permainan yang hemat tak perlu ngeprint hehe. Pun bahkan bisa menjadi kecerdasan multimedia juga kan karena Kak A ikut mengamati proses mencari gambar di google lalu mendownload dan mengcopy di word. Begitu juga untuk Kak A mendapat bintang 5 karena berhasil sabar mengikuti permainan dan bisa menghitung dengan benar. Alhamdulillah


#harike1

#tantangan15hari

#zona6stimulasimatematikafinansial

#pantaibentangpetualang

#kuliahbundasayang

#institutibuprofesional

Saturday, 9 January 2021

Gajah dan Semut (Tantangan Zona Mencetak Karakter melalui Stimulasi Literasi)

19:04 0 Comments



Ceritanya saya sedang tergiur project sobatualang lainnya. Ingin lebih maksimal, ingin tetap dapat kecerdasan yang digabung semuanya. Maka kali ini saya mencoba melibatkan multimedia untuk project tell the book.


Niatnya saya mencari audiobook dari youtube. Ketemu cerita tentang Kancil. Tapi Kak A kurang tertarik ceritanta. Dia mau gajah. Sayangnya tidak ketemu buku tentang gajah. Yang ada adalah dongeng gajah dan semut. But its okey. Program diskusi karakter dari cerita melalui dongeng juga bisa kan.


Akhirnya kami menyimak youtube itu bertiga. Kisah semut dan gajah pasti sudah pada tahu kan ya. Di akhir video, kak A minta tambah cerita tentang dinosaurus. Hm, tidak ketemu. Tapi ada video edukasi tentang dinosaurus baik hati karena herbivora.


Diskusi kami pagi tadi adalah bagaimana agar tidak sombong. Kak A Alhamdulillah paham jalan ceritanya. Dia mengerti kalau tidak boleh mengganggu dan meremehkan meski kecil. 


Alhamdulillah hari ini done menanamkan karakter via cerita.


#harike3

#tantangan15hari

#zona5membangunkarakter

#stimulasiliterasibacatulis

#stimulasiliterasidigital

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#petualangbahagia

Friday, 8 January 2021

Bangun Tidur (Tantangan Zona Mencetak Karakter Stimulasi Literasi)

23:22 0 Comments



Eksekusi pertama dimulai!


Seperti biasa, sejak bangun tidur kami berkutat dengan buku. Pilihan kali ini adalah buku Ensiklopedia Pertamaku: Sopan Santun. Ini adalah buku favorit Adik Z, buku yang di zona sebelumnya jadi ajang main 'Mana Beruang'. 


Di buku ini, ada kisah paling favorit juga yaitu tentang Pagi Hari Bersama Lucas dan Pagi Hari Bersama Marion. Sepertinya Kakak A dan Adik Z juga sudah hafal ceritanya. Cuma kali ini saya tidak cuma reading aloud, tapi juga merefleksikan bersama Kak A dan Adik Z.


Setelah membacakan kisah mereka saya bertanya, "Jadi yang anak baik Lucas atau Marion? Kalau bangun tidur senyum seperti Lucas atau malas-malasan seperti Marion? Kalau makan harus dihabiskan seperti Lucas atau ga bersyukur ga mau makan seperti Marion" dan seterusnya. 


Alhamdulillah Kak A paham. Adik Z pun ketika dipancing juga bisa memilih sikap mana yang lebih baik. Sesi pun ditutup dengan menyimpulkan sikap seperti apa yang sebaiknya dilakukan dan memotivasi Kak A dan Adik Z agar melakukan yang baik saja.


Sepanjang hari poin itu pun saya perhatikan. Seperti sore tadi Kak A mandi sendiri lalu baju dan celana kotornya dia lepas di lantai dapur, saya memancing, "Hayo kalau lepas baju ditaruh di mana? Kayak Lucas apa Marion ya ini?" Kak A pun langsung berlari mengambil bajunya dan memasukkan ke keranjang baju kotor.


MasyaAllah walhamdulillah...


#harike2

#tantangan15hari

#zona5membangunkarakter

#stimulasiliterasibacatulis

#stimulasiliterasidigital

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#petualangbahagia


Thursday, 7 January 2021

Mau Project Apa? (Zona Membentuk Karakter Stimulasi Literasi)

18:49 0 Comments



Bismillah sudah memasuki zona baru. Kali ini kami diajak untuk membentuk karakter anak lewat stimulasi literasi.


Sebenarnya ketika sesi penyampaikan materi, saya sedikit kecewa. Kenapa? Karena saya menduga sepertinya ini gabungan 3 zona (zona baca buku, zona mendongeng, dan zona cerdas multimedia). Lebih sedih lagi ketika tantangan disampaikan, ternyata kami hanya diminta fokus pada satu project.


Padahal saya sudah mupeng dengan zona media sejak zaman matrikulasi. Pasalnya Kak Kahima yang menjadi fasil dulu bercerita asyiknya stimulasi media. Dia mengajak anaknya yang ga kebayang apa itu cacing lalu membuka google bersama. Hm, cerdas multimedia jadi terkesan menarik. Sayangnya, tidak dijelaskan detail kemarin dan seolah lebih fokus untuk para single.


Lalu saya juga terbayang zona mendongeng akan mengasyikkan. Terbayang saya akan mengarang cerita sampai anak-anak terkesima. Sayangnya harus pakai alat peraga, padahal biasanya saya asal berkisah saja sambil tiduran ala-ala Kartun Pada Zaman Dahulu yang sang kakek mendongeng sambil didengarkan cucunya.


Pun ketika read aloud akan dijadikan project. Sudah hampir tiap hari dibacakan buku, jadi kesannya sudah biasa. Seakan tak ada tantanannya lagi. Kalaupun harus divideokan, duh sepertinya poin ini tidak masuk value keluarga kami.


Jadi mau bikin project apa? Sungguh sampai siang tadi saya masih mencari ide. Sampai akhirnya anak-anak tidur, saya pun ada kesempatan belanja ide dari tugas teman-teman yang sudah dikumpulkan. Dan tercetuslah satu ide. 


Apa itu? Telling Book. Iya, bukan telling story dan bukan sekedar read aloud. Jadi konsepnya saya akan membaca nyaring seperti biasa, tapi di akhir sesi saya akan mengorek isi buku itu dari Kak A dan Adik Z. Saya akan menstimulasi mereka, kira-kira paham atau tidak dengan isi buku dan kira-kira sampai atau tidak karakter yang ingin disampaikan lewat buku.


Ketika anak-anak sudah bangun tadi, saya pun menyampaikan usulan tersebut. Alhamdulillah Kak A sejutu. Adik Z sih asal ngikut aja hehe.


InsyaAllah akan mulai dieksekusi besok pagi. Agenda hari ini cukup dengan saya menemukan ide dan mulai menyiapkan buku apa yang akan mulai saya baca besok. Bismillah


#harike1

#tantangan15hari

#zona5mencetakkarakter

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#petualangbahagia

Sunday, 3 January 2021

Kompetisi vs Kolaborasi

20:34 0 Comments



Sekarang bukan jamannya kompetisi, tapi kolaborasi.


Kalimat itu berdengung akhir-akhir ini. Terlebih katanya Pak Menteri Nadiem pun mengucapkan hal yang serupa. 


Saya jadi teringat kata-kata dosen beberapa tahun lalu. Waktu itu beliau mengkritisi kami para mahasiswa lumba-lumba, mahasiswa yang gairah ngampusnya lebih membara karena mengejar deadline lomba satu ke lomba berikutnya. Beliau berkata, "Memang apa yang kalian dapat, selain foto-foto dan sertifikat?"


Jlebb!


Untungnya saya tahu kata-kata beliau itu di semester akhir, ketika mood ikut lomba sudah menurun drastis karena sudah saatnya masuk koas. Yah, setidaknya tidak terlalu menohok, meski sempat terasa perih juga di hati.


Tapi, mungkin saya saja yang baper saat itu. Padahal bisa jadi maksud beliau baik. Beliau yang memang getol mengadakan penelitian ini itu mungkin mempertanyakan tindak lanjut dari karya tulis kami. 


Kenyataannya memang begitu. Sampai beberapa tahun kemudian, karya tulis saya nyatanya juga hanya terperangkap di folder laptop tanpa realisasi. Sekalipun karya-karya itu sudah berbuah piala yang berjejer di gedung lobby kampus, tetap saja gagasan tertulis masih berupa gagasan tanpa diwujudkan. Hiks... 


Maka, mungkin memang kini saatnya kolaborasi. Bukan lagi ambisi untuk menjadi yang terbaik lalu membuat yang lain tidak lebih baik. Terlebih jika kompetisi sekedar memuaskan nafsu menjadi pemenang lalu yang lain seolah menjadi pecundang. No, tidak sehina itu!


Hal serupa juga dibahas oleh Ustadz Harry Santosa, bagaimana hawa kompetisi seakan-akan sudah merasuk dalam jiwa. Hingga sekolah-sekolah pun mentagline dirinya sekolah unggulan, sekolah dengan program terbaik untuk anak didik.


Lantas orang tua pun tanpa sadar saling berlomba. Bukan hanya diri mereka yang berlomba dengan orang tua lainnya, melainkan menjadikan anak-anaknya sebagai objek ajang perlombaan. Bagaimana orang tua merasa bangga ketika anaknya ranking satu dan tanpa sadar kecewa jika anaknya tak punya prestasi apa-apa.


Ah, mungkin perasaan itu memang tak perlu ada jika rasa kompetisi itu berganti dengan gelora kolaborasi. Mungkin kini memang saatnya untuk berkolaborasi, agar yang lemah menguat bersama. Layaknya simbiosis mutualisme, bukan aku maju dan kamu menanggung malu, melainkan ayo bersatu dan kita sama-sama