Follow Us @soratemplates

Wednesday, 17 February 2021

Ebook OJK (Tantangan Zona Stimulasi Matematika dan Finansial)

23:28 0 Comments



Baiklah.. jurnal terakhir di zona ini. Apa daya ketiduran dua kali lantas menurunkan mood sampai dasar. Haha... 


Sebenarnya tema matematika dan finansial saya lakukan, hanya saja momennya tidak saya tangkap. Ah, ya, kurang mindfullness.


Jadi untuk menutup jurnal sepuluh kali setoran saya menceritakan membaca buku OJK semuanya. Yup, buku itu kami baca. Kenyataannya sehari bisa satu atau dua ebook. Jadi kalau mau sebenarnya saya bisa bikin masing-masing menjadi tantangan di hari yang berbeda. Tapi sudahlah gabung jadi satu saja.


Refleksinya alhamdulillah Kak A menyimak. Dia tahu info dasar. Niatnya mau diperdalam lagi di kehidupan nyata, tentang perbedaan mata uang misalnya, atau tentang menabung. Yup bismillah


Bintang untuk beberapa hari terakhir ini tiga saja karena nyatanya saya malas menjurnal. Hehe


#harike10

#tantangan15hari

#zona6stimulasimatematikafinansial


Saturday, 13 February 2021

Kebutuhan vs Keinginan (Tantangan Zona Stimulasi Matematika dan Finansial)

22:12 0 Comments



Sejak kemarin, kami ada di rumah simbah di Wonogiri. Iya, simbah sedang kurang fit. Alhasil anak cucunya bergantian menemani simbah jika longgar. Nah, karena di sini Kak A tidak membawa mainan, maka saya yang memutar otak mencari media belajar matematika. Berhubung Kak A juga tidak membawa buku barunya, bagi saya ini kesempatan untuk membacakan ebook dari OJK.


Ebook pertama yang saya pilih tentang Penghapus Rama. Ceritanya tentang menentukan mana kebutuhan dan mana keinginan. Rama yang sedang membuat kartu ucapan tergoda dengan iklan es krim anggur. Tulisannya jadi berantakan karena ga fokus. Tapi ketika akan menghapus, ternyata penghapusnya mau habis. Jadi dia pun harus beli penghapus dulu. Tapi di satu sisi dia juga ingin beli es krim anggur. 


Hm, menarik kan. Dilema klasik nih. Kita yang gedhe aja masih suka sok-sokan nyebut keinginan sebagai kebutuhan. Jadi, ilmu finansial dasar ini penting banget buat dikenalkan pada anak sejak dini. Biar mantap dan ga tergoda iman sampai kelak dewasa.


Saat membaca bukunya Alhamdulillah Kak A paham mana kebutuhan dan mana yang keinginan. Kak A bisa berkomentar saat saya bertanya, "Harusnya beli pengahapus atau es krim anggur ya?" Kak A bisa menjawab penghapus sebagai kebutuhan yang memang harus dibeli. Alhamdulillah, moral of story-nya nyampe.


Setelah baca buku, saya pun iseng mengetes Kak A. "Jadi, kalau haus tuh beli minum atau beli dozzer ya?" Sambil tertawa Kak A menjawab, "Minum". Yup, saya pun menguatkan bahwa minum adalah kebutuhan dan beli mainan dozzer hanya keimginan.


Tapi yang namanya Kak A, tetap saja dia iseng. Saat saya bertanya berikutnya, "Kalau lapar berarti beli makanan atau beli Spiderman?" Kak A spontan menjawab, "Spiderman." Saya pun menimpali, "Emang Kak A butuh Spiderman? Cuma pingin kan, bukan butuh. Kalau laper nanti gimana dong karena belum beli makanan." Dengan santainya Kak A menjawab, "Spidermannya nanti dimakan"

Fyuh, dasar Kak A!


Yah, kali ini bintang empat saja lah ya.


#harike9

#tantangan15hari

#zonastimulasimatematikafinansial

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

Friday, 12 February 2021

Sing A Song (Tantangan Zona Stimulasi Matematika dan Finansial)

07:54 0 Comments



Hari ini saya berencana membacakan buku dari OJK. Apa daya Kak A kurang tertarik. Kebetulan dua hari kemarin ada buku baru datang. Ya sudah, kalah pamor dengan buku barunya. So, saya perlu memutar otak cepat nih biar bisa segera eksekusi hari ini. Dan saya langsung kepikiran untuk sing a song.


Tahu dong lagu tentang berhitung. Yup, apalagi kalu bukan satu ditambah satu. Nah, saya pun menyanyikan itu sambil lagi-lagi bermain jari. Karena kemarin sempat main jari, Kak A pun ikut-ikutan memainkan jarinya. Setelah satu putaran lirik lagu, saya pun mengimprovisasi lagunya.


Saya: Satu ditambah dua, sama dengan 

Kak A: Tiga

Saya: Tiga ditambah satu, sama dengan

Kak A: Empat

Saya: Empat ditambah dua, sama dengan

Kak A: Enam

Saya: Enam ditambah tiga, sama dengan

Kak A: Sembilan


Yeiy bisa. Walaupun tetap saja Kak A sebelum menjawab harus menghitung jari secara konkret terlebih dulu karena belum begitu familiar dengan simbol jari untuk angka enam sampai sepuluh. Tapi setidaknya ini sudah cukup baik karena dia makin punya pengalaman tentang penambahan dalam matematika.


Biar lebih asyik, saya pun mengajak menyanyikan lagu berikutnya yaitu Balonku. Lagu ini secara tidak langsung mengajarkan tentang pengurangan dalam matematika. Hm, bisa jadi kombinasi untuk lagu satu tambah satu tadi kan. Nah kali ini saya mengimprovisasi sedikit juga.


Balonku ada empat

Rupa-rupa warnanya

Kuning-kuning kelabu

Merah muda dan biru

Meletus balon kuning DOR

Hatiku sangat kacau

Balonku tinggal?

(Kak A menjawab) tiga

Kupegang erat-erat


Hehe agak maksa sih untuk bagian lirik warnanya, but its okay. Saya menunjuk empat angka dengan jari. Dan ketika balon meletus, saya turunkan satu jari. Jadi lagi-lagi Kak A menghitung sisa balon dengan jari secara konkret.


Simpel sih, tapi bisa menjadi pembelajaran matematika yang meyenangkan karena sambil bernyanyi juga. Sebenarnya masih ada banyak lagu matematika juga, cuma berbahasa Inggris. Seperti lagu ten little indian, atau lagu jumping on the bed, dll. Tapi karena saya memang belum fokus pada Bahasa Inggris jadi sementara pakai lagu ini dulu. 


Hm, ada ide lagu lain lagi nggak ya?


#harike8

#tantangan15hari

#zonastimulasimatematikafinansial

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#kelasbundasayang 

Thursday, 11 February 2021

Menyusun Tangga (Tantangan Zona Stimulasi Matematika dan Finansial)

06:46 0 Comments



Salah satu permainan yang Kak A suka dan bisa adalah bermain balok atau lego. Yup, dulu pernah saya bahas di zona melatih kreativitas. Kak A memang cenderung dominan kecerdasan spasial. Jadi permainan bikin-bikin sesuatu atau menyusun bentuk tertentu adalah permainan yang mengasyikkan baginya.


Kali ini saya memanfaatkan media balok kayunya untuk menjadi sarana stimulasi kecerdasan matematika. Saya siapkan tumpukan kayunya lalu saya ambil satu balok kayu. Saya tanya pada Kak A, "Ini berapa Kak?" Dia menjawab satu. Lalu saya letakkan satu balok kayu itu di lantai.


Saya ambil lagi dua balok kayu dan kembali bertanya pada Kak A. "Ini berapa Kak?" DIa menjawab dua. Lagi-lagi saya meletakkan dua balok itu di lantai, persis bersebelahan dengan balok pertama tadi. Saya susun dua balok tadi ke atas, bukan menyamping.


Selanjutnya saya minta Kak A untuk mengambil tiga balok kayu dari wadah. Kak A pun mengambil dan ikut-ikutan menyusun ke atas. Dia meletakkan tiga balok susun tadi tepat di sebelah balok yang kedua. Begitu seterusnya hingga ada lima balok yang diambil. Dari sini, kami lagi-lagi belajar tentang jumlah secara konkret. Mungkin terlalu simpel sih untuk usia Kak A.


Lalu saya bertanya, "Ini jadi apa nih?" Kak A menjawab, "Jadi tangga!"

Yup, betul sekali. Balok yang disusun berjejaran tadi memang membentuk sebuah tangga. Saya mengajak Kak A mengambil mainan superheronya dan memintanya untuk menaiki tangga. Tentu saja tidak sekedar naik, tapi sambil berhitung di setiap menapaki jejak tangga berikutnya. Satu - dua - tiga - empat - lima. Superhero pun berhasil sampai tangga ke atas.


Sebagai tambahan, saya lanjutkan lagi tentang konsep tinggi dan rendah. Ini termasuk kemampuan kecerdasan matematika juga kan. Saya bertanya pada Kak A, "Mana balok kayu yang paling rendah?" Kak A bisa menjawab balok pertama. Saya bertanya lagi, "Mana susunan balok kayu yang paling tinggi?" Kak A bisa menjawab balok kayu yang kelima.


Alhamdulillah, konsep sederhana ini Kak A sudah paham. Sekian dulu permainan kami kali ini. Bintang yang kami dapat lima karena Alhamdulillah kami bisa bertahan untuk konsisten bermain tiap hari meski dengan ide sederhana.


#harike7

#tantangan15hari

#zonastimulasimatematikafinansial

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#kelasbundasayang 

Wednesday, 10 February 2021

Jari Tanganku (Tantantang Zona Stimulasi Matematika dan Finansial)

05:08 0 Comments



Memasuki lima hari kedua di tantangan 15 hari. Kalau menurut saya, lima hari kedua ini adalah fase yang paling berat. Eh, ini sih buat yang ala-ala mengejar badge ya. Karena kalau sampai ketiduran di lima hari ini alamat hilang sudah kesempatan mendapat badge 15 hari berturut-turut atau 10 hari berturut-turut. Ujung-ujungnya cuma dapat badge 10 setoran meski rapel. Nah jeleknya di saya, karena rapel ga masalah toh dapetnya ini juga trus jadi bikin ntar-ntar aja setornya kan bisa dirapel. Haha... Niat buruk!


Baiklah, kembali ke topik stimulasi kecerdasan matematika dan finansial. Masih ada banyak ide yang sudah dituliskan namun belum sempat dieksekusi. Yah qodarullah mamaknya ni lagi keasyikan ngurus yang lain. Hehe... Alhasil acara hari ini simpel-simpel saja. Asal tetap nyambung dengan matematika.


Sambil tiduran, saya memutar otak. Mau main yang apa ya kali ini. Tiba-tiba saya teringat "Oh iya, main simbol angka dengan jari aja lah." Maka kami pun mengatur posisi seperti biasa. Adik Z di sebelah kiri, saya di tengah, dan Kak A di sebelah kanan. Kami tiduran layaknya akan mulai bercerita.


"Kak tebak, ini angka berapa?" Saya mengacungkan satu telunjuk saya. Kak A bisa menyebut 1. Next dua jari yang saya acungkang, begitu seterusnya sampai dengan lima jari terbuka semua. Alhamdulillah Kak A bisa. Haha, iya sih simpel. Next lanjut ketika saya mengacungkan jempol tangan kiri, Kak A agak ragu. Ternyata dia belum paham penunjukkan angka dengan jari untuk enam sampai sepuluh.


Begitu selesai sepuluh angka, saya lanjutkan dengan penjumlahan dan pengurangan sederhana. Di tangan kanan saya mengacungkan dua jari, lalu Kak A menyebut ada berapa. Di tangan kiri saya mengacungkan tiga jari, lagi-lagi Kak A menyebut juga. Setelah itu saya memancing, "Jadi jari Mami semua ada berapa?" Kak A pun menghitung semuanya dan benar jawabannya lima.


Begitu juga dengan pengurangan. Saya menunjukkan jari di kedua tangan lalu berkata, "Ada jari yang capek dan mau turun. Sekarang tinggal berapa ya?" Alhamdulillah Kak A bisa, meski dengan menghitung satu-persatu jarinya. Tak apa, memang katanya di fase ini anak diperkenalkan dengan menghitung yang konkret. So, dia paham secara konkret kalau tadi ada tujuh jari yang berdiri lalu ada dua jari yang turun dan sekarang tinggal lima.


Di akhir, Kak A gantian yang bermain-main dengan jarinya. Dia mengacungkan jempol dan kelingking lalu bilang ini berapa? Dia menghitung dua. Begitu juga ketika dia hanya mengacungkan jari tengah, dia bilang satu. Yup, ini membuat anak kreatif bahwa dua tidak melulu tentang telunjuk dan jari tengah. Bisa juga dengan jari lainnya asal jumlahnya sama. MasyaAllah...


Hari ini kami mendapat bintang lima lagi. Alhamdulillah...


#harike6

#tantangan15hari

#zonastimulasimatematikafinansial

#pulaubentangpetualang

#institutibuprofesional

#kelasbundasayang

Tuesday, 9 February 2021

Gerbong Kereta Api (Tantangan Zona Stimulasi Matematika dan Finansial)

05:28 0 Comments



Buat Kak A dan Adik Z, main pasir, batu, dan air ibarat surga. Mereka bisa main tiga material ini berjam-jam sampai kadang lupa waktu, lupa belum mandi, belum makan, bahkan lupa kalau sudah ngantuk. Tentang permainan ini sudah saya jadikan tema di zona ketiga tempo dulu. Meskipun zonanya sudah usai, tetap saja main pasir, air, dan batu tetap menjadi aktivitas sehari-hari. Nah, kali ini permainan seputar itupun saya masukkan di zona tantangan kecerdasan matematika dan finansial.


Fokus permainan kali ini adalah batu kerikil. Saya mengajak Kak A untuk membuat kereta api dari kerikil yang ditata panjang. Kak A bersemangat untuk mengambil kerikil-kerikil kecil yang bertebaran. Saya meminta Kak A untuk mengambil batu yang agak lebih besar untuk dijadikan kepala kereta alias lokomotif. Begitu juga satu batu ukuran sedang untuk bagian ekor.


Dari sini Kak A sudah belajar konsep besar kecil. Mana yang lebih besar dan mana yang lebih termasuk salah satu kecerdasan matematika dasar. Tidak berhenti di situ, saya pun meminta Kak A untuk menghitung jumlah batu yang disusunnya. Alhamdulillah Kak A bisa menghitungnya.


Selanjutnya kami membuat lagi kereta serupa di sebelahnya. Kali ini batu yang dipilih adalah batu yang cenderung berwarna putih. Yah semacam gamping atau batu apung kali begitu. Hanya ada sedikit batu yang dikumpulkan, tidak sebanyak batu kereta pertama tadi. Lagi-lagi saya meminta Kak A untuk menghitung jumlah gerbong kereta alias batu putih yang disusunnya. Di sini termasuk belajar pengelompokkan lagi karena Kak A diminta menyortir batu-batu yang cenderung berwarna putih daripada memilih yang hitam.


Nah karena kereta yang jadi cuma dua, kami membuat satu kereta lagi. Maksudnya biar satu kereta untuk Kak A, satu untuk Z, dan satu untuk saya, Hm, tanpa sadar di sini masuk konsep pembagian juga, dibagi sama rata biar masing-masing punya satu. Maka kami pun membuat satu kereta lagi di sebelahnya dan lagi-lagi kami menghitung jumlah gerbong.


Satu lagi, setelah ketiga kereta jadi, saya bertanya pada Kak A, "Mana kereta yang paling panjang? Mana kereta yang paling pendek?" Alhamdulillah Kak A dan Adik Z bisa menyebutkan. 


Ya, dari bermain kereta begini saja ada banyak poin kecerdasan matematika dasar yang bisa distimulasi. Bahkan bisa menstimulasi kreativitas karena membuat kereta dari batu. Alhamdulillah, bintang lima untuk saya dan Kak A.


#harike5
#tantangan15hari
#zona6stimulasimatematikadanfinansial
#pantaibentangpetualang
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Monday, 8 February 2021

Ayo Pulang Ke Rumah (Tantangan Zona Kecerdasan Matematika dan Finansial)

05:59 0 Comments



Baru pagi hari, saya sudah memutar otak mengajak Kak A dan Adik Z main. Pasalnya, pagi-pagi mereka sudah ribut berebut sesuatu. Ya sudah, daripada ramai, mending saya mengajak salah satu menepi dan mulai mencari ide untuk membuatnya sibuk.


Awalnya saya mengajak Adik Z untuk menggambar di kertas. Saya menggambar sebuah bunga cukup besar, lalu meminta Adik Z untuk menyebutkan gambar apa. Bunga itu saya gambar di kertas atas bagian kiri. Lalu di bagian agak tengahnya, saya menggambar sebuah bintang. Tanpa ditanya, Adik Z langsung bersorak 'bintang'. Satu lagi, saya menggambar satu wajah beruang di kertas sebelah kanan. Jadilah tiga gambar itu berjejer berurutan.


Tiba-tiba saya mendapat ide untuk membuat gambar bunga, bintang, dan beruang di sekitar tiga gambar besar tadi. Iseng saja menggambarnya di sekelilingnya. Lalu Adik Z mulai menunjuk-nunjuk ini bintang, ini bunga, ini beruang. Karena suasana sudah mulai kondusif, Kak A pun datang menghampiri. Nah mulailah stimulasi matematika beraksi.


Saya minta Kak A untuk menghitung ada berapa jumlah bunga, berapa jumlah bintang, dan berapa jumlah beruang. Tanpa saya sadari, ternyata jumlahnya berbeda-beda. Ada tujuh bunga yang saya gambar. Lalu ada enam bintang dan lima beruang. Di sini saya memancing lagi, "Jadi mana yang paling banyak? Bunga, bintang, atau beruang?" Jawaban Kak A benar, bunga yang paling banyak. Alhamdulillah, berarti dia sudah paham salah satu konsep matematika dasar tentang lebih banyak dan lebih sedikit.


Lalu ketiga gambar besar tadi saya buatkan 'rumah'. Saya gambar dinding rumah mengelilingi gambar tadi. Jadilah ada rumah bunga, rumah bintang, dan rumah beruang. Lalu saya meminta Kak A untuk menari garis dari masing-masing gambar kecil menuju ke rumahnya masing-masing. Untuk bunga-bunga kecil yang bertebaran ditarik garis ke rumah bunga. Begitu juga untuk gambar bintang dan beruang. Sederhana sih, tapi ini melatih koordinasi tangannya untuk menulis. Sekaligus melatih kecerdasan matematika seperti beberapa waktu lalu tentang konsep himpunan dengan cara mengelompok-ngelompokkan.


Alhamdulillah Kak A bisa menarik garis setiap gambar menuju rumahnya masing-masing. Tapi permainan tidak berhenti di situ. Saya menambahkan konsep tentang arah di sini. Karena ketiga rumah itu berjejeran, saya tanya ke Kak A "Mana rumah yang tengah? Mana rumah yang sebelah kanan? Mana rumah yang sebelah kiri?" dst. Ini ternyata masuk dalam konsep matematika dasar juga.


Alhamdulillah pagi ini kami masih mendapat lima bintang. Yah walaupun awal mulanya karena 'tragedi' tapi ternyata justru jadi pemantik untuk bermain matematika lagi. Alhamdulillah...


#harike4
#tantangan15hari
#zona6stimulasimatematikadanfinansial
#pantaibentangpetualang
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional