Follow Us @soratemplates

Friday, 26 February 2021

Salah Duga

22:34 0 Comments



Banyak orang berprasangka pada kita, tapi bisa jadi semua prasangka itu berujung pada salah duga. Yah, namanya juga cuma disangka.


Seorang teman berkata, "Kalau kamu pasti mampu kan?" Dia menduga kehidupan saya sudah tertata semuanya, lalu saya bisa melenggang dengan bahagia tanpa ada kendala. Ah, dia tidak tahu saja bahwa ada gejolak dan tantangan di dalam dada.


Tadi begitu pula saya dengar seorang teman berkata pada suami, "Udahlah dibangun aja. Urusan ini sudah beres, urusan itu sudah. Kurang apa lagi?" Iya, dia menduga semua baik-baik saja, padahal di baliknya ada banyak hal yang beres seperti prasangkanya.


Kasus lain yang cukup familiar misalnya, seorang ibu yang superlembut dan ramah pada semua orang disangka akan selalu menjadi ibu peri di mana-mana, termasuk pada buah hatinya. Padahal siapa yang tahu bahwa ketika di rumah, dia bisa saja menunjukkan taringnya dan lepas dari gelar ibu peri.


Sebenarnya ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari kejadian salah duga ini. Pertama, artinya Allah SWT memang menutup aib hamba-Nya. Mungkin Allah menjaga martabat kita agar tidak jatuh karena suka maBanyak orang berprasangka pada kita, tapi bisa jadi semua prasangka itu berujung pada salah duga. Yah, namanya juga cuma disangka.


Seorang teman berkata, "Kalau kamu pasti mampu kan?" Dia menduga kehidupan saya sudah tertata semuanya, lalu saya bisa melenggang dengan bahagia tanpa ada kendala. Ah, dia tidak tahu saja bahwa ada gejolak dan tantangan di dalam dada.


Tadi begitu pula saya dengar seorang teman berkata pada suami, "Udahlah dibangun aja. Urusan ini sudah beres, urusan itu sudah. Kurang apa lagi?" Iya, dia menduga semua baik-baik saja, padahal di baliknya ada banyak hal yang beres seperti prasangkanya.


Kasus lain yang cukup familiar misalnya, seorang ibu yang superlembut dan ramah pada semua orang disangka akan selalu menjadi ibu peri di mana-mana, termasuk pada buah hatinya. Padahal siapa yang tahu bahwa ketika di rumah, dia bisa saja menunjukkan taringnya dan lepas dari gelar ibu peri.


Sebenarnya ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari kejadian salah duga ini. Pertama, artinya Allah SWT memang menutup aib hamba-Nya. Mungkin Allah menjaga martabat kita agar tidak jatuh karena suka marah-marah. Karena aib tertutup itulah lantas orang mengecap kita sebagai orang yang ramah. Artinya Allah masih mencintai kita dan menjaga harga diri kita


Kedua, bisa jadi bukan Allah yang memang sengaja membuat kita nampak baik, tapi kitalah yang bermuka dia membuat diri kita seolah-olah sangat baik. Misal, kita bertingkah sebagai orang pandai lantas semua orang menganggap kita mampu dan cerdas. Padahal sebenarnya kita tidak benar-benar bisa. Orang hanya melihat dari covernya saja atau yang biasa orang sebut sebagai personal branding.


Namun bisa juga komentar itu adalah doa dan apresiasi dari orang lain. Yah, kadang orang memang tidak bisa melihat dirinya sendiri tanpa cermin. Orang-orang di luar kita itulah yang bertindak seolah-olah menjadi cermin yang memberi tahu seperti apakah diri kita. Mungkin orang melihat bahwa kita sejatinya memang mampu. Sayangnya kita saja yang belum percaya diri untuk mengakui.


Apapun itu, yang lebih utama adalah menjadi diri sendiri. Tak perlu bermuka dua hanya untuk menutupi kekurangan diri. Biarlah Allah yang menutup segala aib. Tak perlu pula mengada-ada hanya demi apresiasi. Orang di luar sana tak akan buta jika memang kita patut mendapatkannya. InsyaAllahrah-marah. Karena aib tertutup itulah lantas orang mengecap kita sebagai orang yang ramah. Artinya Allah masih mencintai kita dan menjaga harga diri kita


Kedua, bisa jadi bukan Allah yang memang sengaja membuat kita nampak baik, tapi kitalah yang bermuka dia membuat diri kita seolah-olah sangat baik. Misal, kita bertingkah sebagai orang pandai lantas semua orang menganggap kita mampu dan cerdas. Padahal sebenarnya kita tidak benar-benar bisa. Orang hanya melihat dari covernya saja atau yang biasa orang sebut sebagai personal branding.


Namun bisa juga komentar itu adalah doa dan apresiasi dari orang lain. Yah, kadang orang memang tidak bisa melihat dirinya sendiri tanpa cermin. Orang-orang di luar kita itulah yang bertindak seolah-olah menjadi cermin yang memberi tahu seperti apakah diri kita. Mungkin orang melihat bahwa kita sejatinya memang mampu. Sayangnya kita saja yang belum percaya diri untuk mengakui.


Apapun itu, yang lebih utama adalah menjadi diri sendiri. Tak perlu bermuka dua hanya untuk menutupi kekurangan diri. Biarlah Allah yang menutup segala aib. Tak perlu pula mengada-ada hanya demi apresiasi. Orang di luar sana tak akan buta jika memang kita patut mendapatkannya. InsyaAllah

Tuesday, 23 February 2021

Merawat Cinta

22:41 0 Comments



Ada kupu-kupu yang menari-nari di dalam diri malam ini. Ada ombak yang tiba-tiba berdesir dalam hati. Ada bunga yang tiba-tiba bermekaran. Saya kasmaran? Tersebab apa? Sepele saja, suami menyalakan radio mobil yang sudah lama mati, lalu menggenggam tangan sepanjang perjalanan.


Gitu aja? Iya gitu aja. 

Kok sepele amat? Emang. 

Sangat sepele kan, dan dengan begitu aja ternyata trus jadi ada gejolak dalam dada. Apakah hati saya kering dan haus dengan cinta sampai-sampai dibegitukan saja langsung berdesir hatinya?


No, bukan begitu. Saya hanya mau bilang kalau ternyata semudah dan sesimpel itu untuk melakukan sesuatu dan menumbuhkan lagi rasa yang memang harus disiram dan dipupuk. Memangnya sebelumnya tidak ada rasa? Aih, tentu saja ada, tapi rasa yang berbeda ini seolah menjadi efek kejut dan meningkatkan kadar beberapa kali lipat sekaligus.


Ini persis seperti materi Matrikulasi Reborn HEbAT Community minggu ini tentang bagaimana merawat cinta dan menumbuhkan keqowwaman suami. Selain tentu saja berputar-putar tentang ajakan untuk kembali ke fitrah, salah satu cara untuk mewujudkannya yaitu dengan mengenali bahasa cinta.


Ah ya, materi tentang bahasa cinta sudah berkali-kali dibahas. Sudah bosan mungkin. Meski tidak benar-benar saya tes, tapi saya sudah paham apa bahasa cinta suami, physical touch. Tapi tetap saja, berhubung bahasa cinta kami berbeda, kadang ada rasa enggan atau sungkan untuk menampilkan bahasa cinta sesuai tipikal pasangan kita.


Yah, sejujurnya saya memang bukan sosok romantis yang akan menggandeng tangan sepanjang jalan. Bersalaman lalu cipika cipiki plus kening dan bibir pun lama-lama seakan menjadi rutinitas sebelum pergi atau selepas sholat. Padahal kalau dilihat, so sweet amat kan cium-cium segala. Tapi, ternyata jadi biasa aja. Gara-garanya sudah menjadi rutinitas lalu serasa tak berkualitas.


Maka, sesuatu yang spontanitas atau berbeda dari biasanya itulah yang akan memberi kesan lebih. Sesimpel tiba-tiba dipeluk dari belakang misalnya (Meski lama-lama jadi terasa biasa karena diulang berkali-kali juga hahaha) atau seperti tadi ketika selama di mobil kami saling bergenggaman tangan.


Ah, apapun itu, rawat selalu cintamu. Sekalipun harus memutar otak untuk menemukan hal baru. Bismillah, sehidup sesurga. Aamiin

Monday, 22 February 2021

One Bite At A Time

22:10 0 Comments



One bite at a time, satu gigitan dalam satu waktu. Hm, ngomongin gigitan jadi berasa keinget makanan. Padahal ini bukan membicarakan makanan lho. 


Tapi kalau dipikir-pikir ga salah juga sih. Saat makan, kita pasti bikin satu gigitan aja kan. Begitu dikunyah dan ditelan, baru bisa masuk gigitan berikutnya. 


So, satu gigitan memang satu waktu. Kalau saat kita membuat satu gigitan lalu langsung nambah gigitan berikutnya, mulut kita akan penuh. Karena kepenuhan, bukannya tertelan justru bisa jadi malah dimuntahkan. Kalau muntah dan luber kemana-mana, justru ga ada yang masuk deh. Sia-sia.


Konsep ini saya dapat saat bergabung di Ibu Profesional. Tapi lagi-lagi bukan tentang makanan, melainkan tentang pilihan yang kita lakukan.


Yup, di jaman sekarang ada begitu banyak ilmu dan informasi yang bertebaran. Semua tampak bagus dan semua terlihat begitu menyenangkan. Alhasil tak jarang seseorang mengambil semua informasi yang berkelebatan, menggigit banyak ilmu dalam satu kesempatan.


Then, boom! Alih-alih ilmu itu masuk perlahan dan tercerna dengan baik, bisa jadi ilmu-ilmu itu justru sirna begitu saja. Ibaratnya masuk kuping kanan, keluar lagi dari kuping kiri. Atau saking banyaknya informasi, dia bukan lagi sekedar mendapat banjir informasi, tapi sudah taraf tsunami informasi. Dalam tsunami inilah kita justru tenggelam dan justru membahayakan diri.


Kenapa sampai bahaya? Ya, karena ujung-ujungnya bisa diduga kalau kita tak akan bahagia. Kita akan dihantui bayang-bayang FOMO (fear of missing out). Kita takut ketinggalan berita, takut kalau ada info penting yang semua orang tahu tapi kita tidak tahu. Hingga pada akhirnya kita justru memaksakan diri demi tetap up to date. 


Sayangnya, kita memang memaksakan diri. Kita meluangkan lebih banyak waktu untuk mengecek sana-sini. Kita mungkin mengorbankan jatah waktu lainnya seperti konsentrasi kerja atau kebahagiaan bersama ananda.


So, tips yang diberikan di Ibu Profesional adalah dengan berani berkata "Menarik, tapi tidak tertarik". Ya, ada banyak hal menarik di dunia ini. Tapi tidak semua hal harus kita ketahui.


Selama terbebas dari FOMO. Selamat berjuang untuk JOMO (Joy of Missing Out).

Saturday, 20 February 2021

Mimpi Anak Kecil

17:29 0 Comments



Tadi malam saya terjaga hingga dini hari. Berbeda dari biasanya dimana saya melembur di ruang kerja alias kantor suami, semalam saya berbaring di antara kedua anak saya sambil mata menatap ke layar ponsel. Tiba-tiba ada suara dari sebelah kiri saya.


"Burungnya pergi."


Saya menoleh. Lho, ternyata Adik Z yang bersuara. 


"Burungnya minta makan."


Saya kembali menatap Adik Z. Matanha masih terpejam. Sepertinya dia bermimpi, tapi saya iseng-iseng menimpali.


"Meongnya lari"

"Lari kemana?" tanya saya.

Eh Adik Z menimpali, "Meongnya cari mamahnya, minta makan"


Tiba-tiba mata Adik Z terbuka lalu mengerjap-ngerjap. Sebentar kemudian kembali terpejam setelah mengatur posisi.


Saya tersenyum simpul. Lucu juga ternyata mimpi seorang anak kecil. Saya menduga-duga apa yang ada dalam bunga tidur Adik Z. Apakah dia bertemu dengan seekor burung dan seekor kucing? Ah, jiwa anak-anak sekali bertemunya dengan hewan-hewan kecil. Tapi kenapa semua hewan itu lari dan minta makan? Apa jangan-jangan Adik Z sedang lapar sampai-sampai terbawa mimpi tapi berwujud binatang lain? Oke, yang terakhir ini imajinasi mamaknya saja yang berlebihan.


Tapi dari mengigaunya Adik Z semalam. saya jadi mendapat bahan pelajaran. Saya makin sadar bahwa Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Eh, gimana maksudnya?


Haha.. Oke, ini terlalu ngelantur. Tapi Allah memberikan mimpi pada Adik Z berupa burung dan kucing. Sesuatu yang memang sesuai dengan batas kemanpuan Adik Z sebagai anak usia dua tahun. Dia tentu tidak akan mengigau tentang data covid yang terus melonjak atau harga emas yang naik turun kan? Tentu saja karena di luar jangakauannya. Bahkan mungkin seekor anak kucing yabg mencari mamanya karena lapar itu sudah menjadi problem pelik bagi dirinya. Hahaha


Yup. Tapi karena ujian memang diberikan sesuai dengan batas kemampuan, artinya sebenarnya setiap orang pasti akan 'lulus' sesuai dengan yang diujikannya. Sesimple Adik Z yang mengubah posisi dari telentang menjadi berbaring miring ke kiri, lantas dia terlelap lagi. Nyatanya sesimpel itu kan solusi yang dilakukan Adik Z.


Artinya, seberapa berat ujian yang menimpa kita, sejatinya itu sudah sesuai dengan takaran untuk diri kita. Karena kita percaya bahwa Allah tidak akan membebani hambanya di luar batas kemampuan hamba-Nya.


Eh kok jadi gini insightnya. Haha, abaikan saja mamak yang lagi menggila.

Wednesday, 17 February 2021

Ebook OJK (Tantangan Zona Stimulasi Matematika dan Finansial)

23:28 0 Comments



Baiklah.. jurnal terakhir di zona ini. Apa daya ketiduran dua kali lantas menurunkan mood sampai dasar. Haha... 


Sebenarnya tema matematika dan finansial saya lakukan, hanya saja momennya tidak saya tangkap. Ah, ya, kurang mindfullness.


Jadi untuk menutup jurnal sepuluh kali setoran saya menceritakan membaca buku OJK semuanya. Yup, buku itu kami baca. Kenyataannya sehari bisa satu atau dua ebook. Jadi kalau mau sebenarnya saya bisa bikin masing-masing menjadi tantangan di hari yang berbeda. Tapi sudahlah gabung jadi satu saja.


Refleksinya alhamdulillah Kak A menyimak. Dia tahu info dasar. Niatnya mau diperdalam lagi di kehidupan nyata, tentang perbedaan mata uang misalnya, atau tentang menabung. Yup bismillah


Bintang untuk beberapa hari terakhir ini tiga saja karena nyatanya saya malas menjurnal. Hehe


#harike10

#tantangan15hari

#zona6stimulasimatematikafinansial


Saturday, 13 February 2021

Kebutuhan vs Keinginan (Tantangan Zona Stimulasi Matematika dan Finansial)

22:12 0 Comments



Sejak kemarin, kami ada di rumah simbah di Wonogiri. Iya, simbah sedang kurang fit. Alhasil anak cucunya bergantian menemani simbah jika longgar. Nah, karena di sini Kak A tidak membawa mainan, maka saya yang memutar otak mencari media belajar matematika. Berhubung Kak A juga tidak membawa buku barunya, bagi saya ini kesempatan untuk membacakan ebook dari OJK.


Ebook pertama yang saya pilih tentang Penghapus Rama. Ceritanya tentang menentukan mana kebutuhan dan mana keinginan. Rama yang sedang membuat kartu ucapan tergoda dengan iklan es krim anggur. Tulisannya jadi berantakan karena ga fokus. Tapi ketika akan menghapus, ternyata penghapusnya mau habis. Jadi dia pun harus beli penghapus dulu. Tapi di satu sisi dia juga ingin beli es krim anggur. 


Hm, menarik kan. Dilema klasik nih. Kita yang gedhe aja masih suka sok-sokan nyebut keinginan sebagai kebutuhan. Jadi, ilmu finansial dasar ini penting banget buat dikenalkan pada anak sejak dini. Biar mantap dan ga tergoda iman sampai kelak dewasa.


Saat membaca bukunya Alhamdulillah Kak A paham mana kebutuhan dan mana yang keinginan. Kak A bisa berkomentar saat saya bertanya, "Harusnya beli pengahapus atau es krim anggur ya?" Kak A bisa menjawab penghapus sebagai kebutuhan yang memang harus dibeli. Alhamdulillah, moral of story-nya nyampe.


Setelah baca buku, saya pun iseng mengetes Kak A. "Jadi, kalau haus tuh beli minum atau beli dozzer ya?" Sambil tertawa Kak A menjawab, "Minum". Yup, saya pun menguatkan bahwa minum adalah kebutuhan dan beli mainan dozzer hanya keimginan.


Tapi yang namanya Kak A, tetap saja dia iseng. Saat saya bertanya berikutnya, "Kalau lapar berarti beli makanan atau beli Spiderman?" Kak A spontan menjawab, "Spiderman." Saya pun menimpali, "Emang Kak A butuh Spiderman? Cuma pingin kan, bukan butuh. Kalau laper nanti gimana dong karena belum beli makanan." Dengan santainya Kak A menjawab, "Spidermannya nanti dimakan"

Fyuh, dasar Kak A!


Yah, kali ini bintang empat saja lah ya.


#harike9

#tantangan15hari

#zonastimulasimatematikafinansial

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

Friday, 12 February 2021

Sing A Song (Tantangan Zona Stimulasi Matematika dan Finansial)

07:54 0 Comments



Hari ini saya berencana membacakan buku dari OJK. Apa daya Kak A kurang tertarik. Kebetulan dua hari kemarin ada buku baru datang. Ya sudah, kalah pamor dengan buku barunya. So, saya perlu memutar otak cepat nih biar bisa segera eksekusi hari ini. Dan saya langsung kepikiran untuk sing a song.


Tahu dong lagu tentang berhitung. Yup, apalagi kalu bukan satu ditambah satu. Nah, saya pun menyanyikan itu sambil lagi-lagi bermain jari. Karena kemarin sempat main jari, Kak A pun ikut-ikutan memainkan jarinya. Setelah satu putaran lirik lagu, saya pun mengimprovisasi lagunya.


Saya: Satu ditambah dua, sama dengan 

Kak A: Tiga

Saya: Tiga ditambah satu, sama dengan

Kak A: Empat

Saya: Empat ditambah dua, sama dengan

Kak A: Enam

Saya: Enam ditambah tiga, sama dengan

Kak A: Sembilan


Yeiy bisa. Walaupun tetap saja Kak A sebelum menjawab harus menghitung jari secara konkret terlebih dulu karena belum begitu familiar dengan simbol jari untuk angka enam sampai sepuluh. Tapi setidaknya ini sudah cukup baik karena dia makin punya pengalaman tentang penambahan dalam matematika.


Biar lebih asyik, saya pun mengajak menyanyikan lagu berikutnya yaitu Balonku. Lagu ini secara tidak langsung mengajarkan tentang pengurangan dalam matematika. Hm, bisa jadi kombinasi untuk lagu satu tambah satu tadi kan. Nah kali ini saya mengimprovisasi sedikit juga.


Balonku ada empat

Rupa-rupa warnanya

Kuning-kuning kelabu

Merah muda dan biru

Meletus balon kuning DOR

Hatiku sangat kacau

Balonku tinggal?

(Kak A menjawab) tiga

Kupegang erat-erat


Hehe agak maksa sih untuk bagian lirik warnanya, but its okay. Saya menunjuk empat angka dengan jari. Dan ketika balon meletus, saya turunkan satu jari. Jadi lagi-lagi Kak A menghitung sisa balon dengan jari secara konkret.


Simpel sih, tapi bisa menjadi pembelajaran matematika yang meyenangkan karena sambil bernyanyi juga. Sebenarnya masih ada banyak lagu matematika juga, cuma berbahasa Inggris. Seperti lagu ten little indian, atau lagu jumping on the bed, dll. Tapi karena saya memang belum fokus pada Bahasa Inggris jadi sementara pakai lagu ini dulu. 


Hm, ada ide lagu lain lagi nggak ya?


#harike8

#tantangan15hari

#zonastimulasimatematikafinansial

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#kelasbundasayang