Follow Us @soratemplates

Monday, 15 March 2021

Ini Cara Ayah Hadir dalam Pengasuhan (Tantangan Bunda Sayang Pendidikan Seksualitas)

03:55 0 Comments



Topik keempat di parade live bunda sayang ini menarik, tentang peran ayah dalam pendidikan seksualitas. Ah, saya tarik mundur dulu. Bukan cuma dalam hal pendidikan seksualitas sebenarnya, bahkan peran ayah sendiri dalam hal pengasuhan menjadi tema menarik yang selalu didengung-dengungkan di kelas parenting. Ya, pasalnya belum banyak ayah yang melek dengan parenting. Kelas-kelas pengasuhan selalu penuh dengan para ibu. Mirisnya adalah jangan-jangan muncul stereotype bahwa memang tugas ibu untuk mengasuh dan tugas ayah mencari nafkah. Hm...


Di sini saya tidak akan membahas suami. Saya justru tertarik dengan bapak dan bapak mertua rahimahullah. Saya ingat waktu kecil dulu sepertinya lebih dari tiga kali bapak saya bertanya, "Bapak seperti apa Kak? Kakak mau ganti bapak ndak?" Hm, agak awkward sih memang pertanyaannya. Kadang saya juga risih untuk menjawabnya, apalagi itu pernah ditanyakan saat saya sudah SMP, sudah bisa mikir kan hehe. Tapi ketika sudah dewasa begini saya baru memahami bahwa itu adalah salah satu upaya bapak untuk mendapat masukan dari anak. Itu adalah cara bapak untuk introspeksi plus tanpa sadar membuat saya belajar menerima bapak apa adanya.


Menariknya, dalam hal peran ayah salah satu kunci yang harus dipegang adalah bagaimana agar seorang anak bangga dan melihat sosok ayahnya sebagai pribadi yang baik. Baik itu LDM atau sesibuk apapaun ayahnya, pamali bagi seorang ibu untuk menjelek-jelekkan sosok ayah di depan anak. Persis seperti yang dilakukan Bunda Hajar pada Ismail lah. Sekalipun Nabi Ibrahim tidak 'hadir' secara fisik, tapi kekaguman itu diceritakan oleh Bunda Hajar sehingga ketika Nabi Ibrahim datang, Nabi Ismail merasa dekat dan kagum pula pada ayahnya.


Rasa kekaguman ini saya rasakan juga terjadi pada suami dan kakak-kakak ipar. Qodarullah, saya belum mengenal bapak mertua rahimahullah. Tapi, melihat bagaimana suami menempel kertas-kertas wejangan dari bapak di dinding kamarnya membuat saya paham betapa suami mengaguminya.


Saya tertarik dengan cara bapak mertua mendidik anaknya. Beliau serigkali menulis dalam sebuah kertas HVS berisikan pesan-pesan atau petuah dan diberikan kepada anaknya. Beberapa seperti rangkuman materi sebagai bahan bapak untuk mengisi pengajian. Tapi sebagian yang lain memang ditujukan langsung pada si anak karena di awal kertas itu dibuka dengan kalimat, "Anakku sayang". MasyaAllah.


Apa yang dilakukan bapak mertua itu mengingatkan saya pada buku Sabtu Bersama Bapak. Ya, meskipun bapak dalam buku tersebut sudah meninggal dunia, dia menyiapkan video yang rencananya akan diputar untuk anak-anaknya setiap hari Sabtu. Sekalipun bapak itu sudah tiada, namun sosoknya kembali hadir setiap hari Sabtu dan menjadi kedekatan sendiri bagi anak-anaknya.


Well, apapun upaya yang sudah dilakukan harapannya memang agar anak mengenal dengan sosok ayahnya. Yah, semoga makin banyak ayah yang melek dengan parenting, agar Indonesia tidak makin menjadi fatherless country. Aamiin


#harike7

#tantangan15hari

#pendidikanseksualitas

#kelasbundasayang

#institutibuprofesional

Quantity Time dan Quality Time demi Menumbuhkan Fitrah (Tantangan Bunda Sayang Zona Pendidikan Seksualitas)

03:33 0 Comments



Bismillah.. topik ketiga yang diangkat di parade live pendidikan seksualitas kelas bunda sayang adalah tentang mengenal fitrah seksualitas. Hm, bahasan ini sudah tidak asing bagi saya. Terlebih referensi yang dipakai oleh tim pemateri pun juga diambil dari Ustadz Harry Santosa. Berasa tinggal review saja jadinya.


Tapi PR-nya adalah bagaimana agar saya ingat dengan tahapan fitrah tersebut. Terlebih dengan kesibukan publik yang saya dan suami miliki. Kekhawatiran yang ada di benak adalah, apakah saya sudah dengan anak di fase usianya saat ini? Wallahua'lam.


Di fase usia Kak A dan Adik Z saat ini, mereka sedang dalam tahapan untuk dekat dengan ayah dan bundanya. Kak A tinggal 1 tahun lagi untuk lebih didekatkan pada papinya ketimbang pada saya. Sejujurnya saya paham konsep ini sejak dulu. Hanya saja, ya begitulah porsi waktu saya dan suami sepertinya memang tidak sebanyak porsi publik kami.


Tak apa, bismillah saja. Meskipun kualitas tak akan tercipta tanpa kuantitas, saya kembali diremider untuk memaksimalkan kuantitas yang ada saat ini. Semoga kuantitas yang secuil ini bisa menjadi ajang berkualitas untuk main bareng, ngobrol bareng, beraktivitas bareng demi menumbuh fitrah-fitrahnya. Tidak hanya fitrah seksualitas saja, tapi semua aspek fitrahnya. Aamiin...



#harike6

#tantangan15hari

#zona7pendidikanseksualitas

#kelasbundasayang

#institutibuprofesional

Saturday, 13 March 2021

Cegah Kekerasan Seksualitas dengan Pendidikan Seksualitas Sejak Dini (Tantangan Bunda Sayang Pendidikan Seksualitas)

06:10 0 Comments



Bismillah, materi kedua tentang pengenalan pendidikan seksualitas sejak dini. Sejak awal presentasi, tim sudah memaparkan tentang pentingnya poin ini karena di luar sana banyak terjadi kekerasan seksualitas pada anak kecil yang penyebabnya karena si anak tidak dipahamkan tentang pendidikan seksualitas terlebih dahulu.


Saya langsung teringat pada kejadian beberapa tahun lalu, saat masih belum punya anak. Sebut saja ada dua orang yang bertetangga bernama N dan Y, dengan anak perempuan mereka bernama D berusia 5 tahun dan I berumur 3 tahun. Karena usianya sepantaran, kedua anak ini selalu main bersama, bahkan kadang pun sampai berjam-jam main di rumahnya.


Suatu ketika saya bertanya pada Ibu Y, "Lho tumben I main sendiri, ga sama D" Barulah ibu Y bercerita. Dia memang melarang anaknya untuk main lain dengan D, pasalnya ada kejadian tak menyenangkan yang dialami I. Suatu ketika I main ke rumah sampai beberapa waktu. Lalu, I pun merasa ingin pipis. Karena D lebih besar dari I, maka dia pun mengantar I ke kamar mandi, membantu melepas celana, dan membantu menceboki. Sampai di sini sepertinya masih 'dimaklumi' kan. 


Sayangnya di sore harinya ketika I sudah pulang ke rumah, dia mengeluh area genitalnya sakit. Barulah Ibu Y ini 'menginterogasi' anaknya kenapa kok bisa sakit dan seterusnya. Hingga akhirnya Ibu Y tahu kejadian diantar pipis tadi. Usut punya usul ternyata saat menceboki itu D melakukannya dengan agak keras sehingga membuat I kesakitan. Ibu Y sempat panik, khawatir kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Waktu mendengar cerita itu, saya merinding juga. Di sini saya melihat dari sudut pandang orang netral ya. Di satu pihak, Mama N dan anaknya D tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Ketika I kebelet pipis dan sedang berada di rumahnya, wajar kan kalau dipersilakan buang air kecil sekalian saja. Di pihak lain dengan usia I yang baru tiga tahun, wajar juga kalau proses ini pun dia 'dibantu', meski harusnya bukan anak usia lima tahun juga yang membantunya.


Di sisi lain, saya setuju sekali kalau kejadian ini bisa dihindari jika anak diberi pendidikan seksualitas sejak dini. Dari sudut pandang Ibu Y, sebenarnya bisa saja dengan mensounding anak sejak kecil tentang bagian tubuh mana-mana saja yang boleh disentuh. Pun tentang kemungkinan kejadiana bagaimana kalau terasa ingin kencing padahal tidak sedang di rumah.


Well, dari pengalaman ini saya belajar cukup banyak. Semoga tidak ada lagi kasus seksualitas yang tidak diinginkan hanya karena terlambat memberikan pendidikan seksualitas sejak dini. Aamiin


#harike5

#tantangan15hari

#zona7pendidikanseksualitas

#kelasbundasayang

#intitutibuprofesional

Friday, 12 March 2021

Paham Gender: Aku Laki-laki (Tantangan Bunda Sayang Zona Pendidikan Seksualitas)

22:06 0 Comments


Bismillah, di FB grup Pantai Bentang Petualang sudah mulai jadwal presentasi topik. Syukurlah, tim Solo tidak terpilih. Eh gimana? Haha… Ya begitulah, saya bersyukur cukup jadi pemirsanya saja, lha wong ini aja juga telat nyimaknya haha.


Di topik pertama ini yang diangkat adalah tentang perbedaan gender. Yup, intinya bagaimana anak paham tentang gendernya, apakah dia laki-laki atau perempuan. Alhamdulillah, Kak A sudah paham tentang itu. Dia tak jarang berkata, “Aku kan laki-laki.”


Yang masih menjadi PR adalah Adik Z. Usianya memang baru dua tahun sih, dan dari pemaparan tim kemarin memang anak paham gender di usia mulai dua hingga empat tahun. Apakah Adik Z bingung gender? Oh, bukan begitu. Dia tahu kok dia laki-laki, Cuma mungkin karena kedekatan dengan figur perempuan saja makanya dia melihat bahwa dia mengambil peran perempuan.


Maksudnya? Haha, agak belibet ya. Jadi, Adik Z itu suka sekali dengan hewan. Kebetulan, di rumah ada boneka sisa maminya. Hahaha, iya boneka sejak zaman saya masih kecil masih ada. Salah satu favorit Adik Z adalah boneka beruang, hampir setiap saat bonek itu dia gendong. Nah, karena Adik Z sering menggendong beruang itulah dia menyebut dirinya ‘Mama Beruang’. Pernah saya mencoba meluruskan, “Papa Beruang”, tapi Adik Z menolak. Katanya, yang gendong kan Mama bukan Papa.


Oke, ini sih sepertinya bukan bingung gender ya, lebih ke kurang pengenalan aktivitas saja sepertinya. Tapi ngomong-ngomong tentang kurangnya pengenalan aktivitas, saya jadi teringat dengan kisah Irfan Hakim. Dulu banget waktu di acara Hafidz Indonesia, Irfan Hakim pernah cerita. Suatu kali dia baru di rumah dan sudah memasuki jam sholat. Dia pun mengajak sekeluarganya untuk sholat berjamaah. Fyi, Irfan Hakim punya beberapa orang anak dan yang paling kecil laki-laki.


Apa yang terjadi? Di saat akan sholat itu, si bungsu meraih mukena seperti kakak-kakaknya. Melihat itu Irfan Hakim menangis. Mungkin bagi sebagaian orang hal itu akan dianggap lucu, tapi tidak bagi Irfan Hakim. Dia menganggap bahwa dirinya kurang mengenalkan sosok laki-laki yang sholat dengan memakai sarung dan bukan dengan mukena layaknya kakak-kakaknya.


Yup, dari situ saya makin setuju dengan pemaparan tim bahwa pengenalan gender itu memang bisa dimulai dengan pencontohan dari orang tuanya. Ayah dan bundanya lah yang memberikan makna tegas bahwa saya laki-laki atau saya perempuan. Bismillah


#harike4

#tantangan15hari

#bundasayang

#zonapendidikanseksualitas

#institutibuprofesional



Sunday, 7 March 2021

Cwk Atau Cwk (Tantangan Zona Pendidikan Seksualitas)

06:26 0 Comments



Alhamdulillah, tugas kelompok zona bunsay sudah disetorkan. Ohiya, kami mendapat tema tentang Penyimpangan Seksual, Pencegahan, dan Solusi. Tema yang agak-agak gimana gitu buat saya pribadi, hihi. Tapi Alhamdulillah bisa selesai juga berkat orang-orang hebat di tim.


Kemarin saat diskusi final ada bahasan menarik yang diangkat. Seorang teman psikolog bercerita bahwa dia memiliki seorang teman wanita yang postur tubuhnya dari sananya seperti laki-laki. Hingga orang akan mengira bahwa dia laki-laki. Pun sampai sekarang, dia akan terlihat layaknya laki-laki.


Saya cukup tergelitik di sini. Statementnya adalah bahwa dasarnya Allah yang menciptkan bentuk tubuh seseorang kan. Bentuk dada yang bidang ibarat lelaki misalnya, boleh jadi akan diciptakan pada kaum wanita karena mungkin faktor genetik ayahnya berdada bidang juga. Tapi, apa iya untuk kasus begini akan berdampak ke psikologisnya sehingga nantinya berdampak pada penyimpangan seksual? Nah ini yang saya kurang paham.


Dalam benak saya, seadainya dia Muslim, tanpa melihat dia berdada bidang atau berotot kekar, kalau nurut sama perintah Allah SWT untuk menutup kepala dan menjulurkan kain ke dadanya bukankah sudah menjadi solusi? Setomboi apapun dirinya seandainya dia memakai hijab tetap akan dilihat sebagai seorang wanita kan. Ah, mungkin di sinilah maksud Allah memerintahkan kaum wanita berhijab dengan alasan agar kamu mudah dikenali. Bener banget kan kalau dengan berhijab maka kita dikenali sebagai wanita.


Poin kedua, seandainya secara fisik dia terlihat berbeda dengan jenis kelaminnya, apakah itu akan mempengaruhi pola asuh dari orang tuanya sehingga makin memantapkan perbedaan jenis kelamin itu. Misal, ketika sang mama melihat anaknya kekar, apakah dia akan berkata, "Wah Nak, ototmu kekar sekali. Yuk kita fitness dari sekarang, trus kita berburu dan ngebengkel dengan kekuatan ototmu." Kayaknya kok tidak ya.


Yang saya bayangkan, bukankah dengan sekekar apapun si anak, ketika dia kecil tetap akan dibelikan boneka dan perangkat masak-masakan. Pun seorang bayi wanita kecil, bukankah sang ibu akan tetap memakaikan baju-baju pink dan pernak-perniknya yang lucu. Sekalipun mungkin terlihat aneh dengan fisiknya yang kekar.


Dari situ saya jadi menganggap bahwa apapun bentuk ciptaan Allah, tetap saja fitrah yang baik tidak akan menyimpang. PR-nya adalah bagaimana tetap menjadi sesuai fitrahnya, sehingga dia tetap berlaku sesuai kodratnya dan tak perlu ada kasus penyimpangan seksual, Wallahua'lam


#harike3

#tantangan15hari

#zonapendidikanseksualitas

#pantaibentangpetualang

#kelasbundasayang

#institutibuprofesional

Friday, 5 March 2021

Dilema Mandi Bersama (Tantangan Zona Pendidikan Seksualitas)

02:47 0 Comments



Bismillah… Tulisan kali ini masih tentang temuan insight selama menyimak paparan dari kakawi. Salah satu yang menarik bagi saya adalah ketika ada yang bertanya gimana kalau mandi bareng. Kasusnya si kakak perempuan usia lima tahun dan adik laki-laki usia tiga tahun. Hm, ini relate banget sama saya.

 

Hampir tiap hari, Kakak A dan Adik Z mandi bareng. Dalam hal ini mereka sama-sama laki-laki. Walaupun tidak menutup kemungkinan, kalau sesama laki-laki dianggap lebih aman. Cuma… ya gimana, buat mamak-mamak yang pingin serba simple, mandi bareng itu seolah sangat menghemat waktu. Sekali guyur, langsung dua-duanya. Sekali ngasih sabun sekalian, ngambil handuk, pakai baju juga sekalian.

 

Pernah sih saya kepikiran untuk membuat mereka mandi terpisah. Pernah kejadian beberapa kali juga. Biasanya karena Kakak A lebih asyik mainan saat saya ajak mandi. Alhasil kami melakukan konsekuensi, kalau tidak mau mandi sekarang berarti nanti mandi sendiri. Sayangnya itu tidak terjadi setiap hari. Kakak A masih terbawa kebiasaan mandi sekalian bareng adik. Plus dengan embel-embel maunya dimandiin Mami. Yah, poin kemandirian di fase ini memang naik turun sih, dan memang belum saatnya untuk dimandirikan kan, masih sebatas dilatihkan. Begitu kalau kata Ustadz Harry.

 

Sebenarnya mereka pun masih aman-aman saja sih. Kalau mandi bareng juga tidak terduga kemungkinan main-main dengan alat genitalnya. Ya itu tadi, mamak maunya simple. Bahkan urusan mandi adalah urusan yang paling sering bikin naik emosi. Hehe, poin komunikasi produktifnya mulai keteteran lagi ketika membujuk mereka mentas dari main air atau segera pakai baju.

 

Yang agak bikin khawatir kalau sepupu perempuannya datang saat lebaran. Yah meskipun itu satu setengah tahun yang lalu sih. Umur Kak A juga baru 3.5 tahun, belum tertarik dan tidak terlihat indikasi aneh-aneh antara genital laki-laki dan perempuan. Hanya saja kalau tahun ini sepupunya datang, saya sudah perlu sounding untuk tidak mandi bersama lagi.

 

Sempat terpikirkan, mungkin nanti kalik ya kalau sudah mulai masuk sekolah. Sepertinya bisa saya sounding sejak sekarang untuk meminta Kak A mandi sendiri kalau mau sekolah nanti. Bismillah mudah-mudahan bisa. Sekalian sounding biar kemandirian dapat plus poin pendidikan seksualitasnya juga dapat. InsyaAllah 


#hari2

#tantangan15hari

#zona7pendidikanseksualitas

#kelasbundasayang

#pantaibentangpetualang


Wednesday, 3 March 2021

Penerapan Pendidikan Seksualitas Juga Butuh Duit (Tantangan Bunda Sayang Zona Pendidikan Seksualitas)

22:47 0 Comments

 



Bismillah, lagi-lagi sudah masuk zona baru. Wow, sudah dua zona terakhir. Temanya menarik yaitu tentang Pendidikan Seksualitas. Lebih menarik lagi karena tantangan di zona ini berbeda. Kalau biasanya, kami diminta untuk melakukan aktivitas bersama anak lalu membuat jurnalnya, kali ini kami lebih diminta untuk ‘belajar’ dulu. Boleh sih, mau eksekusi, tapi belajarnya jangan lupa.

 

Jadi selama lima hari pertama ini, kami diminta diskusi bersama teman-teman satu regional. Kami boleh menuliskan insight dari diskusi yang dilakukan, atau boleh juga menulis sumber referensi, dll. Nanti di hari keenam sampai sepuluh, kami diminta untuk menyaksikan hasil diskusi dari teman-teman yang tepilih. Lalu kami diminta untuk membuat resume atau insight atau menuliskan aha moment yang didapat. Hm, menarik kan?

 

Okay, karena hari ini di IP Solo masih setoran materi dan saya belum sempat membaca semua materinya (ahahaha ketahuan kan Cuma nginthil dulu) ya udah deh kali ini mengkristalkan lagi poin-poin yang didapat dari paparan kakawi kemarin. Ada beberapa yang menarik, salah satunya tentang tidur atau kamar terpisah.

 

Memang betul ada hadits yang mengatakan bahwa pisahkan anakmu di usia sepuluh tahun. Masalahnya, apakah mudah untuk melakukan itu? Oh, ini bukan hanya perkara menjadi Muslim yang taat dan menjalankan Sunnah Rosul. Bahkan salah satu yang menjadi pertimbangan adalah apakah finansial mendukung melakukan itu?

 

Yah, tidak bisa dipungkiri, kondisi manusia Indonesia memang tidak sepenuhnya ‘berada’. Tetangga depan rumah saya misalnya. Seorang nenek dengan anak 9 orang yang semua sudah berkeluarga, sudah beranak, bahkan sudah bercucu semua. Rumahnya? Hm, luasnya mungkin sama dengan rumah kami yang hanya berisi tidak sampai seperempatnya. Saya tidak terbayang, tidurnya gimana ya, kamarnya gimana?

 

Oh, ini tidak meremehkan mereka. Bukan, tapi ini memang memikirkan anjuran hadits di atas. Plus, kaitan dengan materi Pendidikan Seksualitas. Kalau tidak salah ingat, dulu sekali pernah menyimak materi dari Ibu Elly Risman, beliau berkata bahwa anak kecil usia berapapun yang melihat baik sengaja atau tidak sengaja bahkan termasuk mendengar suara orang tuanya yang sedang berhubungan suami istri itu akan berdampak pada kondisi otaknya. Dan dampaknya itu seringkali menyebabkan ‘penyimpangan’ pada anak tersebut, entah dengan matang lebih cepat misalnya, atau melampiaskan dengan tidak pada tempatnya. Naudzubillah…

 

Jadi, berhati-hati saat hubungan suami istri itu memang penting. Dan salah satu kuncinya memang dengan memisahkan kamar tidurnya. Tapi, bagaimana kalau dana tidak mencukupi, lahan rumah tak ada. Yup, di situ tantangannya.

 

Maka, urusan pendidikan seksualitas ternyata tidak sesimple itu, sampai perlu persiapan finansial juga kan. Jadi, jika memang peduli kesehatan mental anak terhadap seksualitas, yuk usaha cari duit lebih ekstra. Biar Allah melancarkan rejeki, bisa bikin kamar untuk anak sendiri-sendiri.

 

Eh, kok jadi gini kesimpulannya. Ya, begitulah. Iyain aja. Haha