Follow Us @soratemplates

Sunday, 5 June 2022

Aku Tidak Bisa Memasak

11:23 0 Comments

memasak


Suatu waktu saya diminta untuk mengklasifikasian semua aktivitas saya sehari-hari. Kegiatan-kegiatan itu digolongkan menjadi empat kuadran: suka dan bisa; suka tapi tidak bisa; bisa tapi tidak suka; serta tidak suka dan tidak bisa. Kuadran pertama (suka bisa) menjadi potensi untuk difokuskan di sana. Kuadra kedua (suka tidak bisa) menjadi salah satu ranah hobi kita. Sekedar suka saja, tapi tidak sampai benar-benar menjadi maestro di bidang itu. Kuadran tiga (bisa tidak suka) mungkin menjadi salah satu kompetensi kita untuk bekerja misalnya. Dan kuadran keempat (tidak bisa tidak suka) menjadi aktivitas yang sebaiknya ditinggalkan karena membuang-buang waktu.


Semua aktivitas yang pernah kita lakukan diminta untuk digolongkan dalam empat kuadran tersebut. Salah satu aktivitas yang membingungkan adalah memasak.


Bagi saya, memasak bukanlah sebuah hobi. Maka, tentu dia bukan 'suka dan tidak bisa'. Tapi tidak juga sebagai aktivitas yang membuang-buang waktu. Berarti memasak seharusnya menjadi akitivitas di kuadran tiga bukan? Artinya memasak adalah aktivitas di mana saya bisa, tetapi saya tidak suka. Tapi entah kenapa, bagi saya memasak bukanlah aktivitas yang saya 'bisa'.


Saya 'tidak bisa' memasak. Setiap pagi ibu mertua sudah asyik membenamkan dirinya di dapur, meramu masakan sesuai selera beliau. Maka saya 'tidak bisa' memasak. Sejak pagi saya harus mengambil peran ini itu, dengan shift dapur yang masih dipakai ibu, maka saya 'tidak bisa' memasak karena harus segera memburu waktu mengambil peran berikutnya. Maka saya selalu menganggap waktu saya 'tidak bisa' untuk memasak. Pun karena saya tak terbiasa memasak, mungkin insting rasa saya pun tak semahir jika sudah memegang panci dan segala alat tempur masak lainnya. Hingga boleh jadi saya memang benar-benar tidak bisa memasak.


Parahnya, mungkin saja saya justru 'tidak suka' memasak. Saya 'tidak suka' jika harus memasak dan lantas masakan yang sudah dibuat ibu semula jadi tidak termakan. Pertama mubadzir, kedua membuang waktu dan tenaga, ketiga akan membuat luka. Jadi, mungkin saya juga 'tidak bisa' memasak karena saya 'tidak suka' konsekuensi jika saya memasak.


Tapi, ternyata saya 'bisa' memasak. Qodarullah ibu sakit beberapa hari belakangan. Urusan dapur tak ada yang memegang. Serta merta ibu mertua memberi lampu hijau bagi saya untuk sejenak duduk di dapur dan melakukan apapun yang saya mau. Maka saya bisa memasak dari segi ruang dan waktu. Dari segi rasa? Saya tak berani berharap banyak. Namun melihat dua bocah mau dengan ikhlas memakan masakan saya, bahkan sesekali minta tambah untuk menu tertentu membuat saya tersadar, "Ah, barangkali saya sebenarnya memang 'bisa' masak."


Ada yang menarik yang saya tangkap di sini. Boleh jadi kita menganggap diri kita tak berarti, tak berdaya, tak bisa melakukan sesuatu, tetapi mungkin rasa tak bisa itu karena tak ada kesempatan yang datang pada kita. Mungkin jika moment itu tiba, maka akan terbukti bahwa sebenarnya kita bisa. Jadi PRnya adalah bagaimana menemukan kesempatan demi kesempatan untuk membuktikan bahwa kita bisa dan bukan termakan oleh asumsi diri sendiri jika kita tak bisa apa-apa.


Fighting! Just do the best! 

Saturday, 4 June 2022

Anak Biasa dari Ibu Luar Biasa?

09:50 0 Comments
ibu dan anak



Saya sedang menonton serial drama korea Green Mother's Club saat ini. Buat emak-emak yang anaknya sudah masuk sekolah seperti saya, drama ini sangat relate dengan kehidupan pribadi saya sendiri.


Tokoh utama drama ini adalah Lee Eun Pyo, seorang calon profesor muda yang tiba-tiba berhenti bekerja karena ulah anaknya mengunggah artikel pribadi di media. Lalu mereka pindah ke lingkungan baru dengan gaya parenting ambisius di sekolah anaknya. Eun Pyo yang memiliki gaya mendidik permisif tanpa memaksakan ini itu pada sang anak dihadapkan pada kenyataan bahwa anaknya membuat ulah dan tidak konsentrasi di kelas. Sang anak dianggap tertinggal dan tak pantas berada di lingkungan high class seperti mereka.


Meski saya baru menyimak sampai episode empat, beberapa scene drama ini seolah menceritakan diri saya sendiri. Eun Pyo sebagai seorang dosen dianggap berpendidikan dan sukses. Lantas seolah menjadi stereotype kalau anaknya pun seharusnya cerdas dan mumpuni layaknya sang ibu. Bukankah ibunya profesor.


Tapi ternyata di awal episode sang anak terkesan tak berpendidikan. Dia tak bisa mengikuti pelajaran. Lantas dengan kondisi itu seolah muncul omongan miring, "Ibunya sibuk dengan dirinya sendiri dan tak peduli dengan pendidikan anaknya."


Jlebb


Rasanya poin ini sedikit menampar. Di kehidupan pribadi kadang kala orang beranggapan begitu juga. Kan anaknya dokter pasti pinter. "Pasti"? Siapa yang membuat kata pasti ini? Lalu ketika sebagai dokter masih berkomitmen untuk praktik, mungkin di satu sisi dia akan terkesan hebat. Namun dengan kesibukannya di ranah publik, ternyata ada pendidikan sang anak yang barangkali harus disesuaikan. Lalu, di poin ini apakah akan menjadi terkesan egois karena tidak totalitas pada akademis anaknya karena sambil memikirkan kariernya?


Lantas ketika sang anak sekolah, ternyata perkembangannya tidak optimal. Dia bukan si anak paling cerdas di kelasnya, yang mungkin berbeda dengan sang ibu yang menjadi primadona di masa sekolahnya. Hingga orang tua lain pun mungkin menyayangkan, apa anak ini tidak pernah belajar dan dididik ibunya di rumah? Belum lagi ketika gaya mendidik yang muncul terkesan berbeda dengan mayoritas orang tua. Stigma aneh dan tidak selevel kemudian muncul seketika.


Diakui atau tidak, perasaan itu muncul ketika Kak A mulai sekolah. Saya dengan paham parenting yang tidak memaksakan calistung pada anak mendadak melongo ketika anak usia 5 tahun sudah bisa membaca buku cerita, menulis, atau membaca mushaf quran. Awalnya merasa tidak ada yang salah, toh memang saya tidak mengajarkannya. Lalu, seperti di serial drama tersebut, muncul rasa bersalah kenapa tidak diajarkan lebih awal. Bukankah anak-anak pada umumnya sudah belajar demikian sejak usianya sangat muda. Bukankah tuntutan akademis memang begitu.


Hanya saja di episode keempat ini muncul fakta bahwa ternyata sang anak sangat jenius. Eun Pyo dipanggil oleh sang guru bahwa anaknya istimewa sehingga harus diperhatikan dengan lebih baik. Begitu juga ketika di tes kecerdasan, ternyata sang anak memiliki kecerdasan 0,01% teratas.


Di sini poinnya. Setiap anak pasti memiliki titik kelebihannya. Hanya saja mungkin orang tua belum bisa menggalinya. Mungkin kita kurang peka, atau karena terlalu memukul rata bahwa semua anak harus pintar secara akademis dan diraih dengan cara yang sama. Padahal burung tidak bisa dinilai jika dia diminta berenang, kuda tak akan dianggap tangguh jika dia diminta memanjat.


Ya, itu PR buat saya. Buat kita semua. Bagaimana kita bisa menemukan kelebihan anak dan membuatnya bersinar tanpa rendah diri karena mungkin berbeda dengan mayoritas anak lainnya. Semoga kita bisa menumbuhkan fitrahnya tanpa mencederainya hanya demi serupa dengan anak pada umumnya. Aamin.

Friday, 27 May 2022

Sosial di Masa Tua

20:30 0 Comments



Kemarin siang seorang tetangga datang ke rumah. Beberapa hari ini ibu memang sedang tidak enak badan. Karenanya, tetangga itu ke rumah untuk melihat keadaan ibu. Sempat terdengar obrolan beliau berdua. Salah satunya tentang betapa di usia tua hanya sendirian saja dan tak ada teman bicara.


Ketika akhirnya saya keluar kamar dan menemui beliau, ibu tetangga itu berkata, "Ngapunten mbak, ngobrol-ngobrol kaliyan ibu niki. Lha jenengan niku kan tiyang mendel mawon. Kados mantu kula nggih ngoten niku. Nek ora ditutuk ora metu suarane," (Maaf mbak, ngobrol-ngobrol sama ibu ini. Soalnya kamu itu kan orangnya diam saja. Seperti menantuku juga begitu. Kalau tidak 'dipukul'--diajak bicara--ga keluar suaranya)


Hm..., saya hanya tersenyum saja.


Padahal beberapa jam sebelumnya, saya sedang membahas dengan mentor saya di kelas bunda cekatan. Saya bercerita bagaimana saya sangat tertutup hingga tidak terbiasa bercakap-cakap bahkan dengan keluarga terdekat. Entah apakah karena memang dasarnya saya pendiam dan tidak cerewet, atau saya kurang terbiasa basa-basi, atau memang karena saya tak bisa membangun komunikasi?


Kita pasti tahu betul kalau manusia adalah makhluk sosial. Kita butuh berinteraksi dengan orang lain, membaur dengan yang lain, dan tak bisa sendirian karena saling membutuhkan. Terlebih lagi ditambah embel-embel kami kaum wanita butuh mengeluarkan dua puluh ribu kata tiap harinya. Seolah-olah memang harus bersosialisasi. Hanya saja sosial yang dimaksud di sini seperti apa? Apakah di era modern sekarang ini makna sosial bergeser ke sosial media?


Bukan satu dua orang yang mengalami ini. Mungkin saja ada orang yang aktif di media sosial, tapi di kehidupan nyata tidak terlihat gaungnya. Dia butuh sesuatu, langaung mencari info dengan berselancar di dunia maya. Dia butuh interaksi, langsung membuat akun dan komentar atau chat di sana-sini. Namun di kehidupan nyatanya tidak demikian. Mungkin dia akan tetap di dalam rumah karena sibuk bersosialisasi dengan dunia yang ada dalam genggamannya. Maka apakah orang seperti ini akan disebut sebagai pendiam yang tak biasa basa-basi dan tak mahir berkomunikasi?


Lalu saya berandai-andai, bagaimana ya kalau para manula ini juga bersosial lewat media? Kebetulan saja mereka orang sepuh yang tidak kenal gadget. Andai mereka tahu sedikit saja, apakah mereka akan merasa kesepian juga? Atau jangan-jangan justru berubah 'status' menjadi lansia sosialita karena saking hitsnya?


Lantas saya pun membayangkan diri saya sendiri pula. Kira-kira apa ya yang akan saya lakukan di usia senja nanti? Ketika anak-anak sudah sibuk dengan dunianya sendiri. Lalu sudah tak ada 'pekerjaan' karena purna masa kerja tersebab usia. Ditambah fisik yang mulai melemah. Apakah saya akan diam saja nanti? Mungkinkah nanti saya akan rebahan di kasur sambil menatap layar. Atau bisakah saya menggenggam pena dan menggoreskan kata demi kata. Atau masih mungkinkah otak diajak berpacu mengurus ini itu meski raga mulai layu. Mengontrol bisnis misalnya, menyimak kajian atau video-video, dan yang lainnya.


Wallahua'lam, tidak ada yang tahu. Yang penting adalah berusaha bagaimana agar sisa usia tidak menjadi sia-sia. Aamiin

Sunday, 27 March 2022

Keluarga? Siapa?

21:52 0 Comments

keluarga

 
Saya mendapat tema wajib untuk menuliskan tentang keluarga. Pertama kali membaca tema yang ditentukan itu, mendadak saya berubah menjadi skeptis. Jika orang lain mungkin menggambarkan tentang keindahan sebuah keluarga, atau tentang bagaimana menciptakan keluarga yang bahagia, saya justru mempertanyakan apa itu sebenarnya keluarga. Lebih lanjut saya kembali menanyakan, siapa sebenarnya yang dianggap sebagai keluarga.

Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada empat arti dari keluarga. Pertama, ibu dan bapak beserta anak-anaknya; seisi rumah. Kedua, orang seisi rumah yang menjadi tanggungan; batih. Ketiga, kaum, sanak saudara; kaum kerabat. Yang terakhir, keluarga yaitu satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat.

Dari pengertian pertama, ada beberapa sudut pandang yang bisa diambil. Jika menjadi ibu dan bapak, keluarga berarti adalah anak. Tapi nyatanya anak tak menjadi milik kita selamanya. Bukankah sudah tidak asing lagi istilah bahwa anak hanyalah titipan. Ketika akhirnya anak-anak menjadi dewasa dan menemukan pasangan hidupnya, mereka pun berpisah begitu saja. Lantas rumah pun tanpa anak-anak lagi. Maka, keluarga hanyalah menjadi sepasang bapak dan ibu saja.

Jadi, keluarga yang utama adalah sosok bapak dan ibu itukah? Tapi nyatanya, hubungan mereka pun terbentuk karena sebuah ikatan perkawinan. Yang mana sebuah ikatan bisa saja akan terurai, beda halnya jika itu ada darah yang mengalir dalam daging karena ikatan keturunan. Memang benar, menjadi anak tak bisa memilih siapa orang tuanya, dan suami atau istrilah satu-satunya sosok yang kita pilih dalam hidup kita. Tapi karena ikatan yang terjadi itulah ketika tercerai maka kembali lagi ke definisi semula. Tak sedikit pasangan yang bercerai kemudian berazzam, “Tak apa, aku akan hidup fokus bersama anak-anakku”. Padahal kembali lagi ke kasus pertama, ketika anak dewasa toh akan pergi juga.

Atau mungkin, jika dilihat dari sudut pandang anak, keluarga yang sejati adalah orang tuanya? Bagaimana tidak, dia bisa terlahir ke dunia pastinya karena peran orang tuanya. Maka, orang tua lah sosok keluarga yang abadi untuknya. Mungkin ini sejalan dengan hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa meskipun seorang lelaki telah menikah, tetap saja yang utama adalah ibunya. Yah, bisa jadi memang orang tua sosok keluarga itu.

Ini berkorelasi dengan definisi kedua dari KBBI yang menyatakan bahwa keluarga adalah sosok yang menjadi tanggungan. Terlepas dari anak-anak yang memang belum bisa menghasilkan, nyatanya orang tua tetap menjadi sosok yang akan ditanggung anaknya. Bukan karena sandwich generation, tapi agaknya sangat jarang di masa sekarang ketika seorang anak bersikap acuh dan tak menanggung orang tuanya. Ah, tentu saja masih ada. Mungkin saking sibuknya dan gila harta, dia asyik menimbun pundi-pundinya sendiri dan mengabaikan orang tua yang sebenarnya masih menjadi tanggungannya. Kalau begitu, gugur sudah definisi kedua.

Pengertian ketiga dan keempat justru lebih menarik. Bukankah tidak sedikit orang yang lebih percaya pada rekan dekatnya atau tetangga ketimbang ayah ibu atau anaknya. Ketika ada masalah, dia lari pada koleganya. Durasi waktunya pun lebih banyak dihabiskan dengan mereka ketimbang sosok di definisi pertama atau kedua. Mungkin pantas kiranya mereka memang disebut sebagai keluarga.

Sayangnya, mereka mungkin tak punya ikatan apa-apa. Tak ada darah yang mengalir sama, ataupun catatan sipil yang terdaftar di negara. Artinya ikatan ini pun tak akan berlangsung selamanya. Insidental dan seperlunya saja. Jika pindah kerja, maka sudah tidak ada komunikasi intens lagi. Begitu seterusnya. Maka, ini pun tak kekal juga.

Jadi, siapa sebenarnya keluarga? Ah, ini hanya keisengan bertanya-tanya saja. 

Saturday, 18 December 2021

Kode dari Allah

20:59 0 Comments



Pernah ga kamu merasa berada di sebuah fase kehidupan, ketika semua terasa serba sulit namun tetap saja ada kemudahan? Rasanya sudah mau nangis-nangis, tapi ternyata adaaa aja jalan dan bisa kesampaian. Ketika berada di titik finish itu lantas kamu amaze sendiri dengan fase yang sudah kamu lalui. Lho, ternyata sudah kelewat ya masa-masa sulit tadi. Pernah?


Misalnya ketika kamu sedang mengikuti sebuah kelas. Mungkin kamu sudah mau melambaikan bendera putih. Di pelupuk mata ini yang terbayang hanya tentang beratnya, lalu seolah merasa diri tidak mampu. Eh ternyata di tengah jalan ada banyak keringanan. Kita mendapat banyak kelonggaran tanpa pernah terduga sebelumnya, dan ternyata kita beneran bisa sampai lulus kelasnya. 


Di fase kelulusan itu, berasa Allah mau ngasih tahu: jangan menyerah dulu, ini ada banyak rukhsoh buat kamu karena kamu sejatinya layak untuk lulus di kelas itu.


Atau case lain, ketika kamu mengikuti sebuah komunitas atau suatu program. Namun seiring dengan berbagai kesibukan dan fase hidup berikutnya, di tengah jalan kamu mulai tertatih dengan ritme komunitas itu. Rasanya seperti sudah tidak seiring sejalan, seolah sudah ingin say good bye dan melambaikan tangan. Tapi tiba-tiba kamu seperti diberi ruang untuk mengambil jeda. Lalu diberi keleluasaan untuk balik kapan saja. Dan pas balik, seolah tidak ada yang berubah dengan dirimu atau komunitasmu. Kamu tetap familiar dan bisa kembali membersamai ritmenya.


Rasanya seperti ditunjukkan jalan sama Allah: Ini memang wadah yang pas buat kamu, dan memang kamu sengaja Aku tempatkan di sini, maka jangan coba-coba melarikan diri.


Ah, Allah itu sejatinya pasti sudah banyak memberi kode. Hanya kita saja yang mungkin kurang peka dengan maksud Allah dari setiap skenario yang diberikan pada kita. Kenapa Allah menggerakan hati kita untuk terus bertahan hingga kelulusan kelas. Kenapa Allah membuat kita terjun dan menetap di sebuah komunitas. Semuanya jelas ada campur tangan Allah untuk memberikan kita makna. Simpelnya, Allah tahu yang terbaik buat kita dan membuat kita tetap berada di jalan terbaik itu. 


Misal terkadang kita ingin memulai bisnis di bidang A. Kita sudah mempunya konsep, sudah membuat sistemnya, sudah tersedia semua tetek bengek bisnis itu. Tapi ternyata ketika sudah jalan, bisnis itu berjalan begitu-begitu saja. Bukan karena tidak mau berusaha, atau tidak mau mengembangkan bisnis untuk menemukan solusi, tetapi karena memang jatahnya cukup segitu saja.


Lalu di waktu yang bersamaan itu, tiba-tiba dengan sendirinya kita mendapat tawaran bisnis B tanpa pernah kita duga sebelumnya. Bahkan mungkin membayangkan akan berbisnis B pun tidak pernah ada dalam rencana hidup kita. Tapi ketika akhirnya kita mencoba mencicipi bisnis itu, ternyata seolah dibukakan pintu kemudahan satu demi satu. Rasanya semacam dituntun sama Allah dan ditunjukkan "ini lho ladang usaha yang tepat buatmu".


Kalau kata coach saya, pertajam lagi mata hati. Ada banyak kesempatan yang mungkin memang sudah Allah tunjukkan pada kita. Hanya saja apakah kita bisa menangkapnya sebagai peluang atau membuatnya berlalu dan menjadi sia-sia belaka.


Kalau kata ust harry rahimahullah, perbanyak lagi tazkiyatun nafs-nya. Karena hanya dengan hati yang suci kita bisa menangkap sinyal-sinyal Illahi. Nanti dengan sendirinya kita akan paham, mana jalan yang paling diridhai oleh Allah SWT. Sebuah jalan yang seolah mestakung alias semesta mendukung karena segalanya memberikan kemudahan demi kemudahan.


Apakah jalan itu ada? Ada, insya allah.


Friday, 17 December 2021

Hanya Pembantu

20:43 0 Comments



"Rewangku pulang". Rangkaian kata itu terngiang sejak beberapa hari yang lalu. Dia terlontar lewat direct message instagram dari seorang teman. Awalnya saya sekedar bersimpati, memberikan komentar sekenanya. Tapi kemudian saya justru berkontemplasi.


Bagaimana kiranya jika saya berada pada posisinya? Ketika rewang alias khadimat tiba-tiba minta pulang dan tak ada persiapan untuk mencari orang lain yang akan menggantikan.


Pun seorang teman beberapa bulan lalu juga mengalami kasus serupa. Waktu itu dia meminta tolong untuk mencarikan rewang. Bahkan permintaan tolongnya itu sudah dia sebar ke siapa saja, demi bisa segera mendapat asisten rumah tangga. Yah, tidak bisa dipungkiri kalau menemukan asisten yang awet memang tidak mudah lagi.


Saya jadi teringat dengan pengalaman saya sendiri. Beberapa waktu lalu, saya justru terpikir untuk mencari khadimat. Setelah enam tahun tidak punya asisten, rasanya tahun depan ingin mencari seseorang yang bisa bantu-bantu di rumah. Usulan itu saya sampaikan ke suami, dan langsung ditolak mentah-mentah oleh ibu mertua.


Kami punya sudut pandang berbeda. Bagi saya, kasihan kalau urusan rumah masih harus dikerjakan ibu. Biar bisa istirahat, biar tidak capek, dan yang pasti semua akan menjadi terkendali karena punya fokus pekerjaan sendiri-sendiri. Setidaknya itu yang saya pikirkan.


Namun, berbeda dengan ibu. Bagi ibu justru akan lebih merepotkan. Menjaga agar rewang bisa betah itu membutuhkan effort tersendiri. Tidak gampang mencari lalu mendidik asisten rumah tangga agar awet dalam bekerja. Alih-alih tidak cocok dan justru makan hati, lebih baik dikerjakan sendiri.


Awalnya seperti agak terasa berat, tapi saya kemudian justru teringat kata-kata bapak saat saya masih kecil dulu. Waktu itu, di rumah sedang ada acara. Entahlah saya agak lupa saking seringnya ada acara di rumah, entah pengajian, entah arisan RT, entah arisan RW. Sering. Karena diadakan di malam hari, kadang saya hanya bersembunyi di dalam kamar dengan dalih belajar atau mengerjakan tugas. Tapi di suatu waktu, entah mungkin karena umur saya sudah bukan anak-anak lagi, plus di dapur memang sedang ada kehebohan sendiri, besoknya bapak menegur saya.


"Mbak X itu statusnya di rumah sebagai pembantu"


Ups, ini bukan dalam konteks merendahkan statusnya. Lanjutan kalimat bapak berikutnya justru yang menjadi poin utama.


"Yang namanya pembantu, berarti tugasnya hanya membantu. Artinya, dia tidak mengerjakan tugas utama, tapi dia 'membantu' mengerjakan tugas itu. Sekedar memberikan bantuan saja, bukan menggantikan tugas itu sepenuhnya."


Maksud bapak waktu itu hanyalah agar saya pun ikut menyiapkan keperluan pertemuan malam sebelumnya. Tapi konsep bantu-dibantu itu cukup menarik dan membekas pada saya.


Jika memakai konsep bapak, berarti sebenarnya tanpa 'pembantu' pun sebuah tugas seharusnya bisa terlaksana. Kehadiran pembantu bukan untuk mengalihkan tanggung jawab tugas itu, namun sekedar 'membantu' penyelesaian tugas saja. Artinya, seandainya tidak ada yang membantu, pekerjaan juga tetap akan selesai kan?


Kalau dipikir-pikir, enam tahun ini nyatanya bisa terlewati juga. Mengurusi anak sendiri (dengan ibu mertua tentunya), masih sempat bekerja, dan melakukan aktivitas lainnya seolah menjadi bukti bahwa nyatanya bisa kok seandainya tidak ada pembantu.


Jelas tidak mudah, pun ekspektasi tidak bisa dipasang terlalu tinggi. Tapi menyesuaikan diri dan menjalani semampunya plus se-bahagia-nya menjadi standar yang perlu diatur untuk menjaga kewarasan diri.


Bukan berarti juga yang memiliki rewang adalah keluarga yang lemah, lantas tidak memperkenankan punya asisten rumah tangga. Boleh, tentu saja boleh. Bukankah zaman Rasul pun punya budak, meskipun dalam hal ini budak jelas berbeda dengan pembantu.


Apapun itu, yang terpenting adalah menemukan gaya kita sendiri. Mau dengan asisten atau tanpa asisten, monggo saja.


Wednesday, 15 December 2021

Newbie KLIP Lulus....!

21:23 0 Comments

Fyuh, akhirnya menuliskan ini juga

Di hari terakhir mengumpulkan skripsi KLIP, dengan segala rasa nano-nanonya akhirnya tercapai juga. Aliran rasa? Wow, terlalu banyak yang dirasakan.

Ah ya, buat yang baru tahu, KLIP adalah Kelas Literasi Ibu Profesional. Salah satu komponen di Kampung Komunitas Ibu Profesional ini memang menjadi wadah buat para perempuan untuk menulis bersama. Tantangannya adalah kami diminta untuk menulis minimal 10 kali dalam sebulan. Setidaknya sampai setahun minimal ada 120 naskah. Wow, lumayan kan.

Semula saya tertarik karena memang sudah lama tidak dikejar-kejar naskah. Rasa terdesak untuk menorehkan kata setiap hari itu seolah sirna. Demi membuat rasa itu muncul kembali itulah maka saya memilih bergabung dengan KLIP.

Tapi ternyata, yang dirasa jauh dari sekedar ingin menulis saja. Rasa frustasi ketika harapan bisa pecah telur menulis 30 hari dalam sebulan gugur hanya gara-gara ketiduran semalam cukup menohok juga. Dan itu lumayan berdampak membuat mood turun untuk mengejar 30 hari di bulan berikutnya.

Ah, tapi kemudian teringat lagi. Apa tujuanmu? Dan, ya, akhirnya terlalui juga sampai di bulan terakhir ini.

Yang jelas, saya belum merasa puas di tahun pertama ini. Di bulan-bulan terakhir saya baru sadar, sepertinya ada yang kurang dengan naskah curcol saya yang kebanyakan hanya mendekam di google document. Harusnya ada naskah-naskah yang lebih baik yang bisa dibagikan, atau bisa menjadi tunas untuk hasil karya berikutnya.

Hingga akhirnya ketika saya tersadar bahwa ada tugas menuliskan skripsi di akhir tahun, saya pun tertohok. Apa yang akan saya jadikan skripsi dari semua tulisan saya sepanjang tahun ini? Untungnya saya pernah membuat 30 hari bercerita. Untungnya juga saya pernah membuat serial mata lebah. Sekalipun memang belum sempurna dan harus tambal sulam dengan naskah lain demi mencapai syarat minimal, akhirnya jadi juga skripsi ebook sederhana yang saya beri judul 30 Hari Bercerita Mata Lebah.




Skripsi itu hanyalah kumpulan naskah yang menurut saya layak setahun ini. Saya mengambilnya dari instagram dan beberapa dari blog ini. Memang sederhana, dan bukan sebuah karya fenomenal yang sesuai ekspektasi saya sebenarnya.

Yah, tak apa. Setidaknya saya sudah mencoba di tahun pertama ini, dan setidaknya saya tahu apa yang akan saya lakukan untuk tahun berikutnya. 

Bismillah, insya Allah join lagi. Semangat !