Follow Us @soratemplates

Wednesday, 5 October 2022

Tulisan Dulu vs Sekarang

00:47 0 Comments



Malam ini saya sedang melakukan kontemplasi. Ada yang berbeda dengan diri saya saat ini dengan diri saya di masa lalu. Tentu saja, status saya berubah, aktivitas harian saya berubah, dan banyak hal lain. Termasuk salah satunya tentang tulisan saya.


Kalau diingat ulang beberapa tahun lalu, rasanya saya tidak perlu pikir panjang ketika akan menorehkan kata di sini. Rasa-rasanya saya sudah hampir tak peduli. Ibarat kata, ini adalah rumah saya. Blog saya. Terserah saya mau diisi dengan apa. Agaknya saya lebih banyak skeptis, memangnya siapa yang akan baca? Mungkin dengan asumsi itulah saya jadi bebas untuk menuliskan apapun tanpa peduli apakah tulisan saya bagus atau tidak, apakah layak dibaca atau tidak, bermanfaat atau tidak, dan seterusnya. Lagi-lagi saya bebas berekspresi di sini.


Tapi dunia berubah. Begitu juga dengan sosial media, termasuk blog salah satunya bagi saya. Rasanya, jejak media itu perlu dipertimbangkan. Personal branding seseorang tentu tak luput dari media apapun yang dia gunakan. Entah itu sekedar facebook atau instagram, atau sampai ranah blog, channel youtube, dan akun-akun lainnya.


Dampaknya saya rasa jadi seperti saya saat ini. Ketika akan menorehkan kata, saya seolah dipaksa untuk mengkaji lagi: ini harus jadi naskah yang layak konsumsi. Tidak boleh kalau hanya cerita tak jelas. Tak boleh juga kalau hanya aliran rasa. Tapi malam ini saya merenungkan lagi. Memangnya saya menulis buat siapa? Pun untuk apa?


Beberapa malam sebelumnya, saya mengorek-orek isi gdrive saya. Bertebaran file-file gdoc di drive saya. Beberapa saya baca lagi dan waktu saya tersadar. Hey, kenapa tulisan begini hanya ditulis di drive? Kenapa tidak sekalian diunggah di blog? Bukankah beberapa tahun lalu tulisan semacam ini bebas saja keluar di blog tanpa perlu ragu?


Ya, benar juga. Kadang, kita yang justru membatasi diri kita sendiri. Kita (mungkin lebih tepatnya saya) yang justru membuat standar untuk diri saya sendiri bahwa menulis harus bagus. Menulis ga boleh sekedar curahatan hati. Padahal, siapa yang mengharuskan itu?


Kebetulan karena iseng, saya tergabung dalam sebuah komunitas yang goalsnya adalah konsisten menulis dalam setahun. Lalu saya melirik-lirik link yang telah dibagikan oleh teman-teman sesama peserta. Dari beberapa nama itu, ada peserta yang full menulis tanpa putus. Dan ketika saya buka, "Lho ini sederhana kan".


Saya teringat dengan program seratus hari zaman di Laskar Kang Nass dulu. Bukankah saya tak ada masalah ketika dulu upload tiap hari? Yang saya share pun adalah hal yang remeh temeh. Tapi, siapa sangka dari hal-hal yang sepele itu juga ada yang suka dan merada terinspirasi. Masya Allah...


Jadi sepertinya saya seharuanya membuang ego saya untuk menulis lagi. Kalau memang apa yang saya tulis benar-benar parah hingga khawatir akan menjadi energi negatif yang membawa lebih banyak madharat daripada manfaat, oke saya terima kondisi tersebut. Tapi kalau ternyata itu adalah hal netral, yang mungkin bisa jadi bisa diambil ibrohnya, so what gitu lho? Tuliskan saja di sini.


Tak perlu takut apakah tulisan itu berdampak atau tidak. Toh mereka yang hadir dan mampir hingga membaca kalimat terakhir di tulisan ini pun tidak saya paksa untuk membaca kata demi kata. So, win win solution kan. Saya bisa menuliskan ide dan rasa setiap hari, mengisi blog, tanpa harus merasa mendzalimi.


Bismillah, semoga bisa menjadi titik balik tersendiri.

Saturday, 3 September 2022

Optimasi Instagramku

03:20 0 Comments

Sambil menyelam minum air. Itulah yang sedang saya lakukan sekarang. Sambil ngisi blog yang sudah beberapa hari tak terjamah, sambil bikin setoran KLIP, plus sambil mengerjakan tugas recook dari Dapur Sosmed IP Soloraya. Eh, satu lagi ding. Sekalian sambil ngerjain Makcep Wary karena jawaban recooknya kudu baca satu postingan ini juga. Haha...


Baiklah..., pekan ini kami para koki dapur sosmed diminta untuk melakukan optimasi instagram. Hm..., sebenarnya bukan sekali ini saja sih saya tahu tentang materi ini. Tapi tetap saja, ketika makcep menyajikan materinya tuh kayak padat dan super kenyang banget. Alhamdulillah pokoknya. Nah dari masakan itu, kami para koki diminta untuk recook beberapa hal.


Pertama, kami diminta untuk menentukan niche. Setelah melalui perenungan panjang, menyelami lubuk hati paling dalam, menimbang dalam bimbang, memilih meski perih (halah, mesti Makcep Wary males bacanya wkwkwk) untungnya ga sampai mendakai gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang... Oke, ini lagu ninja hatori. Akhirnya saya memutuskan untuk saat ini mengambil niche tentang mental health atau manajemen emosi atau semacamanya begitulah, namun dengan membubuhkan aroma islami di dalamnya.


Kenapa saya memilih niche itu? Alasan utamanya karena beberapa bulan sebelumnya saya mengupas tentang hal itu secara terus-menerus di kelas bunda cekatan. Jadi mumpung masih kemebul di ubun-ubun, diwujudkan saja dalam bentuk konten. Itung-itung anggap saja buat catatan alias rekam jejak biar apa yang ditangkap selama beberapa bulan kemarin tidak sirna begitu saja tak berbekas.


Next, kami diminta mencari 20 hashtag yang terkait niche tersebut. Nah ini nih tantangannya. Soalnya Makcep Wary request hashtag yang dipilih harus dalam interval 500 ribu sampai satu juta. Susah-susah gampang kan. Banyak hashtag yang oke, tapi sudah dipakai puluhan juta. Kata Makcep sih kalau pilih yang itu nanti bakal tenggelam di antara puluhan juta konten. Tapi..., kalau ternyata mampu berenang gimana mak? Eh lhah, malah nawar di sini.


Alhasil, saya baru nemu segelintir ini aja mak. Siwer euy. Nanti mudah-mudahan seiring berjalannya waktu bisa menemukan hashtag yang sifatnya insidental sesuai dengan tema konten yang akan dipost. Untuk hashtag yang sifatnya general tentang mental health atau manajemen emosi yang saya tulis antara lain #selftalk (732.157), #positivewords (517.847), #positivequote (663.272), #positiveparenting (724.396), #positivevibe (882.114), #reminders (931.580), #inspirationquotes (934.993), #motivasiislami (615.081), #motivasibijak (712.034). Udah berapa tuh makcep? Hitung sendiri ya, sisanya ngutang haha...


Nah buat sunnah muakadnya, kami boleh juga tuh menampilkan bio instagram kami dan screenshoot instgram sebelum dan sesudah dilakukan optimasi. Untuk gambarnya kurang lebih begini.





Saya sengaja membuat branding diri saya sebagai a moslem doctor-writer. Kenapa begitu? Wah ceritanya panjang, saya kasihan makcep kalau harus membaca satu naskah lagi. Intinya branding itu memang terkait dengan aktivitas publik saya namun dengan tidak melupakan peran saya sebagai seorang muslim.


Lalu saya breakdown lagi satu persatu, bahwa status saya sebagai general practitioner alias dokter umum. Kenapa? Ya biar orang ga salah kaprah mengira saya sebagai psikiater misalnya. Saya tuliskan juga bahwa saya author dari buku blablabla. Memang tidak semua saya tulis, cuma yang kebetulan ada akun instagramnya saja yang saya mention di bio. 


Di sana saya tuliskan juga beberapa akun terkait bisnis. Yah, siapa tahu setelah ini jadi beli kan hehe. Yang terakhir saya beri informasi juga kalau saya ibu dari 3 anak. Ngapain sih dicantumin segala? Ya biar followernya pada tahu gitu kalau yang bikin konten dari sudut pandang emak-emak. Plus biar ga ada yang macem-macem ngegoda. Eh...


Terakhir kami diminta mencantumkan capture sebelum dan sesudah. Nah, ini nih ajaibnya. Setelah sekian lama anget-angetan bikin konten, dua hari ini dipaksa banget harus bikin postingan setiap hari minimal satu, lebih baik kalau tiga. Hm..., di sini nih tantangannya. Kudu menyiapkan amunisi ide dan waktu untuk eksekusi.





Ternyata ada yang menarik yang saya alami. Ceritanya saya baru belajar bikin reels. Reels pertama saya tanggal 17 Agustus lalu diikuti dua reels karena diminta makcep bikin postingan tiap hari. And you know, reels saya yang terakhir udah lima ribu lebih viewersnya. Terharu ga sih...


So, kesimpulannya memang butuh niat besar kalau mau serius main sosial media. Semoga saja bisa selalu terjaga strong why-nya. Last, thank you ya makcep buat materinya. Terima kasih juga kalau kamu sudah membaca postingan ini sampai di kata terakhir. Haha...

Thursday, 18 August 2022

May I Help You?

21:04 0 Comments



Adakah yang merasa bahwa membantu sesama adalah perbuatan tercela? Rasanya tidak ada. Hampir semua orang secara aklamasi sepakat bahwa membantu orang lain adalah perbuatan yang baik. Namun ternyata yang baik belum tentu selamanya baik.


Konsep itu saya sampaikan pada Kak A beberapa waktu lalu. Ini bermula ketika Kak A membuat Mas Z menangis. Kedua anak ini memiliki karakter yang berbeda. Dari catatan ustadzahnya, Kak A memiliki karakter suka membantu. Entah diminta atau tidak, Kak A cenderung ringan hati menawarkan bantuan. Beda halnya dengan Mas Z yang sedang fase egosentris. Dia sedang memiliki keinginan kuat untuk belajar bisa melakukan apa-apa sendiri.


Tak ayal, kedua karakter ini sedikit bertolak belakang. Ketika Mas Z ingin merangkai lego misalnya, Kak A serta merta membantu merangkai. Ketika Mas Z mau turun dari mobil dengan tentengan beraneka ragam di tangannya, Kak A secara refleks meraih tentengan itu. Tentu saja Mas Z sontak menangis.


Dalam keadaan begitu, semula saya biasanya langsung menegur Kak A. Saya katakan agar dia tidak mengganggu adiknya. Tapi, setelah saya pikir-pikir, sepertinya respon saya tidak adil. Karena terjadi berulang kali, saya pun menyadari bahwa Kak A sama sekali tak ada niat mengganggu adiknya. Sebaliknya, dia justru berbaik hati ingin membantu.


Akhirnya saya pun berkata pada Kak A: Mungkin kita memang ingin membantu. Kita berharap mendapat banyak pahala. Sayangnya, tidak semua orang mau dibantu. Ada orang yang ketika dibantu justru menjadi marah. Ada juga yang ketika mendapat bantuan justru merasa direndahkan, tidak dihargai. Jadi tidak selamanya semua bantuan itu baik. Apalagi kalau bantuan itu justru membantu berbuat jelek. Makin tidak baik lagi.


Jadi, jika memang ingin membantu, tanyakan dulu pada orang yang mau dibantu, "Boleh dibantu tidak?" Kalau dia membolehkan, berarti kita bisa segera mengulurkan bantuan. Tapi kalau ternyata dia tidak mau, ya jangan dibantu. Biarkan saja. Mungkin dia ingin mencoba dan berusaha sendiri. Kalau kita memaksa membantu, mungkin dia justru akan marah atau sedih. Justru jadi tidak baik. Jadi, tanyakan dulu boleh dibantu atau tidak.


Alhamdulillah dengan pengertian itu Kak A bisa mengerti. Walaupun dari raut mukanya terlihat betul bahwa dia berusaha mencerna. Mungkin dalam benaknya bagaimana mungkin karena mau membantu justru jadi perkara pertengkaran baru.


Di kesempatan berikutnya, Alhamdulillah Kak A bisa mempraktikkan prinsip ini. Ketika Mas Z terlihat kewalahan mau membuka bungkus makanan, naga-naganya Kak A sudah geregetan ingin mengambil alih pekerjaan. Untungnya Kak A ingat untuk meminta izin. Dia bilang, "Aku bantu buka boleh ga?" Serta merta Mas Z pun menyerahkan bungkus makanan beserta guntingnya pada Kak A. Yup, tanpa drama.


Saya yang mengamati dari kejauhan tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada lagi ribut-ribut hanya karena beda karakter. Mereka hanya perlu divalidasi keunggulan karakternya, dan diberi pengertian bagaimana berinteraksi dengan harmonis jika bertemu dengan karakter berbeda. Alhamdulillah, solved! Sampai jumpa lagi di tantangan berikutnya.

Sunday, 10 July 2022

Sibuk

11:38 0 Comments

busy




“Mbak, baru sibuk apa?”

Pertanyaan itu tidak satu dua kali dilontarkan kepada saya. Entah sejak kuliah dulu, sampai sekarang berumah tangga dan memiliki beberapa anak, tetap saja pertanyaan itu menyapa saya. Rasanya saya sedikit bertanya, “Kok pertanyaannya begitu ya? Emang saya terkesan sibuk?” Ketika saya telaah ulang, ternyata image sibuk memang tidak jauh-jauh dari diri saya. 


Saya cukup takjub ketika diajak mengisi assesment bareng tim Mommenkeu beberapa waktu lalu. Test itu untuk menilai apa sih motivasi terbesar seseorang dalam melakukan sesuatu. Ada yang memiliki motivasi terbesar karena uang, ingin berkomunikasi, ingin berbuat baik dll. Ada sekitar seratus motivasi yang dihimpun oleh tim pembuat assesment itu. Ternyata, hasil motivasi tertinggi saya adalah ‘aktif’, yang mana poinnya cukup mendominasi.


Saya pun kemudian menyadari. Ketika sedang off kerja karena punya baby seperti sekarang pun, tetap saja saya tidak bisa diam. Ada aja yang dikerjakan di rumah. Entah bersih-bersih rumah, entah mengerjakan hal-hal yang sifatnya mubah yang sebenarnya bisa dikerjakan nanti aja atau malah ga usah dikerjakan juga ga papa, atau sempat-sempatnya ngelirik laptop atau kerjaan ranah publik. Sampai-sampai almarhumah ibu waktu itu berkata, “Leren o mbak, ojo kesel-kesel. Aku wae sing nyawang kesel”. Hehe… 


Waktu ibu bilang begitu, saya cukup merasa kaget juga. Masa sih yang ngliat capek? Padahal saya ga merasa capek lho. Jangankan capek, saya justru merasa bahagia semacam berhasil melakukan sesuatu yang produktif. Saya justru berpikir sebaliknya. Kalau cuma diam saja, sepertinya saya bakal mati gaya. 


Saat selebrasi Superkamp#2 yang diadakan Kampung Komunitas Ibu Profesional saya menemukan jawabannya. Seorang peserta bertanya pada Ibu Septi, “Ibu, bagaimana ibu bisa punya begitu banyak kegiatan, seakan tidak pernah capek dan punya banyak energi?”


Ibu pun menjawab, “Waktu itu Pak Dodik berkata pada Bu Septi, ‘Kamu ga bisa kalau cuma diam begini. Kamu harus punya banyak kegiatan. Semakin kamu punya banyak aktivitas, semakin banyak kamu bisa beristirahat’”.


Aih, that’s true. Itu terjadi pada saya. 

Kalau dengan sibuk justru membuat kita lebih bahagia, kenapa tidak?


Trus, gimana dong solusinya biar bisa sibuk tapi ga capek?

Kalau versi Bu Septi, beliau mengalokasikan waktunya setiap hari. Misal, setiap hari beliau menyediakan satu jam untuk Ibu Profesional, satu jam untuk Padepokan Margosari, begitu seterusnya. Ketika satu jam itu sudah berlalu, beliau komitmen untuk switch. Artinya masing-masing kegiatan memang ada alokasinya, ga bisa nambah. Dengan begitu beliau punya waktu untuk aktivitas lain. Kesannya jadi punya banyak aktivitas kan.


Lalu, bagaimana dengan istirahat beliau?

Ternyata, beliau menyediakan waktu satu hingga tiga jam setiap hari untuk jalan-jalan di alam. Nah, jalan-jalan inilah yang merecharge energi beliau. Artinya, beliau tidak melulu melakukan banyak aktivitas yang sifatnya sosial atau organisasi. Beliau juga menyediakan waktu untuk me time yang bisa menjadi ajang rileks atau istirahat itu sendiri.


Hm, menarik… Artinya, selagi kita bisa menyeimbangkan diri, tidak ada salahnya untuk bergerak aktif kan. Daripada waktunya terbuang sia-sia tanpa bisa dipertanggungjawabkan. Setuju?



Wednesday, 15 June 2022

No Ijir!

22:13 0 Comments




Ada istilah menarik yang saya dapat malam ini. Kebetulan saya baru selesai mengikuti sesi zoom yang mengundang Pak Dodik Maryanto, inisiator Ibu Profesional. Dalam sesi tersebut Pak Dodik menyampaikan bahwa karakter orang yang hangat dan guyup adalah tidak ijir. Apa itu?


Pak Dodik memberi contoh seperti ini. Misalkan di sebuah rumah sudah dibuat kesepakatan pembagian tugas. Si kakak bertugas mencuci piring, si adik menyapu lantai. Suatu ketika kakak sedang sibuk ujian sekolah. Alhasil cucian piring pun menumpuk. Melihat hal itu adik seolah menutup mata. Baginya, itu adalah tugas kakak. Tugas dia cukup menyapu lantai lalu selesai. Nah, inilah yang disebut ijir. Bisa dibilang sikap ini semacam membuat perhitungan.


Saya pun langsung terefleksikan kejadian kemarin dengan Mas Z. Saya mempunyai beberapa peraturan yang sudah disepakati dengan anak, salah satunya yaitu tentang aturan kalau setelah selesai makan maka piring dikembalikan ke tempat cuci piring. Nah kemarin Mas Z makan sambil menonton video. Ketika selesai makan, piring masih tergeletak begitu saja.


Saya pun mengingatkan (note: di sini saya mengingatkan, bukan menyuruh karena memang sudah disepakati sebelumnya. Plus karena dalam teori komunikasi dengan anak dikatakan bahwa anak sebaiknya tidak disuruh tapi dipantik atau dipancing untuk melakukan sesuatu). 


"Mas, piringnya kalau selesai ditaruh mana?" Ya, saya memakai teknik bertanya. Ini ada triknya juga. Dengan bertanya begini, anak tidak merasa untuk disuruh. Namun ketika menjawab pertanyaan artinya dia tahu apa yang memang seharusnya dia lakukan.


Seolah sudah tahu apa yang saya harapkan, Mas Z menjawab, "Mami aja yang naruh ke belakang"


Waduh, ini sih di luar skenario. Kok dia malah minta saya yang naruh ke belakang. Hm....

Maka, saya pun memakai trik konsekuensi. Saya ingatkan,"Yang makan kan kamu. Ya berarti kamu yang ngembalikan ke belakang."

Bukannya mengambil piring lalu beranjak ke belakang, si bocah justru menjawab, "Yang nyuruh makan kan Mami. Mami aja yang ngembalikan"

Lhah!


Dari kejadian itu, ada beberapa poin yang saya refleksikan. Pertama tentang ijir itu tadi. Kalau memakai pendekatan ijir, seharusnya tidak perlu saling melimpahkan tanggung jawab untuk mengembalikan piring. Siapa yang merasa 'terpanggil' seharusnya langsung mengambil aksi untuk mengembalikan piring ke belakang.


Namun, ini sedikit bertolak belakang dengan prinsip saya yang membiasakan tanggung jawab dan konsekuensi. Contoh lain misal melihat bungkus bekas makanan tergeletak di lantai. Dibandingkan langsung memungut dan membuang ke sampah, saya cenderung akan melontarkan pertanyaan, "Siapa ini yang sudah makan jajan tapi bungkusnya ditaruh di lantai?" Biasanya dengan pertanyaan begini, anak akan menengok dan begitu tahu itu bungkus bekas makanannya maka dia yang akan memungut dan membuang ke tempat sampah. Kalau memakai konsep tidak ijir, maka seharusnya saya tidak ambil perhitungan dan langsung membuang sampah itu begitu saja.


Sebagai solusinya, saya melihat ada poin kedua di kejadian kemarin, yaitu tentang kesepakatan. Karena saya yang meminta anak untuk makan (padahal dia sebenarnya tidak ingin makan) maka dia merasa saya lah yang seharusnya mengembalikan piring. Artinya sebenarnya ijir ini meski mungkin muncul karena kesepakatan, bisa juga dieliminasi dengan kesepakatan. Misal, oke karena Mami yang meminta makan, maka Mami yang akan mengembalikan. Dalam kasus cucian piring kakak tadi juga bisa dibuat demikian. Boleh saja dibuat kesepakatan tambahan, misal oke karena kakak sedang ujian maka adik yang akan membantu mencuci piring dan lain waktu kakak gantian membantu menyapu lantai.


Kesepakatan ini seharusnya dibuat di awal, bukan di akhir sehingga tidak terkesan lari dari tanggung jawab dan terkesan ijir tadi. Dengan begitu artinya melatihkan tanggung jawab dan konsekuensi tetap bisa berjalan. Namun di satu sisi tidak menimbulkan sikap egois dan saling melempar kewajiban.

Tuesday, 14 June 2022

Mami Capek

19:45 0 Comments

menyapu lantai



Brak! Saya meletakkan ember berisi pakaian yang baru saja diangkat dari jemuran ke lantai kamar siang tadi. Ya, memang ada suara 'brak' karena kali ini saya meletakkan dengan sedikit keras, jika tidak ingin disebut membanting. Lalu saya memalingkan badan begitu saja, keluar dari kamar, dan menutup pintu dengan cepat hingga muncul suara yang hampir serupa.


Beberapa menit sebelumnya, saya sempat bernada tinggi pada dua bocah yang sedang bermain di kasur. "Mami capek!"

Sejak bangun Subuh tadi, ada saja yang harus dikerjakan. Kebetulan adik baby kurang kooperatif dari tadi malam. Jam tidur malam hari berkurang, sejak pagi pun tidak mau dibaringkan. Alhasil pekerjaan satu demi satu saling beruntun hingga lepas dhuhur belum juga selesai dirampungkan.


Di jam krusial energi yang mulai menipis, sedikit ulah duo kakak itu memang menjadi tantangan yang sangat menggoda iman. Maksud hati ingin rebahan barang sejenak, tapi apa daya baru beberapa menit mata terpejam bersama baby, duo kakak justru berteriak. Refleks, saya pun ikut berteriak, "Mami capek!"


Belum seratus persen saya menetralkan diri, mendadak terdengar suara air menghantam genteng rumah. Hujan! Saya sontak beranjak dari kasur dan bergegas ke atas, mengambil jemuran. Maka terjadilah adegan tadi. Saya yang masih kesal karena mendadak terbangun dari tidur dilanjut kewalahan karena segera mengangkat jemuran, langsung membanting ember berisi baju ke lantai kamar.


Ketika akhirnya saya memilih keluar kamar dan merebahkan diri di kursi tamu bersama baby, saya mendengar kedua kakak itu bercakap. Mas Z sempat membuka pintu kamar sejenak, memastikan kondisi Maminya yang mendadak mengurung diri di luar kamar. Lewat celah pintu yang tak sengaja terbuka karena Mas Z tidak menutupnya lagi, saya melihat mereka berdua tengah asyik sendiri. Tidak ada suara ribut, yang ada mereka seperti sedang sibuk melakukan sesuatu.


Beberapa saat kemudian (cukuplah buat saya melakukan afirmasi dan hipnosis agar merasa rileks meski hanya beberapa menit) Kak A keluar dari kamar dan berkata, "Udah, Ma". Semula saya tak menggubrisnya. Saya memilih tetap bersandar di kursi dan tidak menghiraukan perkataanya yang seolah meminta saya kembali ke kamar. Namun karena melihat dia yang seperti berharap, akhirnya saya memutuskan masuk kamar juga.


Ternyata, baju bersih yang di ember tadi sudah terlipat dan ditata berjajar di kasur. Masya Allaah...

Kak A pun di luar kamar berkata, "Udah ya, Ma. Aku mau nyapu dulu." Dia pun lantas mengambil sapu dan menyapu ruang tengah dan ruang tamu. Tak berapa lama, dia keluar rumah dan mengambil sapu lidi untuk menyapu jalan. Saya sempat menahan biar tidak usah di sapu saja, tapi dia bersikeras menyapu karena baru saja selesai hujan dan pasti ada daun yang berjatuhan.


Dari dalam kamar saya mendengar ada suara di luar sana. Entahlah, mungkin tetangga akan mempertanyakan tumben sekali anak ini menyapu. Atau justru tidak habis pikir kenapa anak enam tahun mendadak menyapu jalan di siang menjelang sore begitu. Biarlah...


Dari kejadian tadi saya banyak belajar. Ada poin positif ketika saya menyampaikan kondisi saya pada duo kakak. Ya, saya bilang dengan jujur kalau saya capek. Meskipun cara saya menyampaikan masih kurang baik karena dengan nada keras, setidaknya mereka tahu kenapa Maminya mendadak menjadi emosional. Paling tidak mereka belajar bahwa saya marah bukan karena ingin marah, tetapi karena saya lelah sehingga butuh istirahat.


Saya pun belajar menangkap sisi lain dari duo kakak. Ternyata mereka berhati peka. Tanpa diminta, mereka melakukan pekerjaan rumah, sebagai tanda bahwa mereka memahami Maminya yang memang sedang lelah. Saya tidak berharap mereka akan membantu melakukan pekerjaan rumah, yang saya harapkan sekedar mereka tidak ribut dan saya bisa beristirahat sejenak bersama baby. Namun ternyata saya justru mendapat lebih. Saya bisa sejenak menepi dan justru duo kakak menyelesaikan pekerjaan rumah atas kemauannya sendiri. Masya Allah tabaarakallah...


Dari sini saya belajar untuk berkomunikasi dengan lebih baik lagi. Saya juga harus belajar untuk lebih memahami mereka, karena ternyata mereka pun sebenarnya bisa memahami saya. Alhamdulillah.


Friday, 10 June 2022

Mamamu Nekat

10:29 0 Comments



Mamamu nekat. Kalimat itu dilontarkan oleh ibu pemilik usaha jasa foto di dekat kampus. Dia berkomentar begitu karena melihat saya membawa adik bayi yang baru satu bulan keluar rumah. Bisa dibayangkan saya menggendong baby sambil membonceng Mas Z dan mengendarai motor sendiri. Saat dikomentari itu, saya cuma tersenyum.


Sebetulnya suami sempat berkomentar saerupa juga sebelumnya. Bahaya! Masa iya mau keluar naik motor sambil bawa adik bayi? Tapi, ya mau gimana lagi. Mas Z mau daftar sekolah dan salah satu persyaratannya adalah melampirkan pas foto. Karena tidak punya, mau tidak mau harus membuat dulu kan. Berhubung tidak ada yang mengantar, suka atau tidak suka harus beraksi sendiri jadinya. Nekat? Ya mau gimana lagi.


Beberapa pekan sebelumnya pun si bayi ini saya bawa praktik sore. Usianya baru 3 pekan tapi sudah saya ajak untuk mengais rejeki. Emang urgent? Dipikirnya segitu amat sih cari uang. Kenapa ga ntar aja. Kasihan kan bayi belum sebulan udah harus diajak pergi. Tapi karena ada pasien yang sudah menghubungi beberapa kali, saya pun mencoba untuk kembali buka. Dan karena support system belum terbentuk, semua pasukan pun diajak serta. Dibilang nekat? Maybe, tapi mau gimana lagi.


Sepekan setelah melahirkan pun saya sudah membuka laptop dan keluar naik motor sendiri. Waktu itu masih cukup waras si jabang bayi tidak saya ajak serta. Seperti yang sudah diduga, ada komentar yang menyertai juga, "Sudah berani naik motor?" Lhah, memang kenapa? Mungkin di benaknya saya dianggap nekat juga. Baru sepekan melahirkan kok sudah mblayang dan mengerjakan apa saja.


Kalau ditelaah mungkin kesannya memang nekat. Tapi terkadang ada kondisi yang mau tidak mau memang harus dilakukan. Sesuatu yang rasanya impossible, suka atau tidak suka akhirnya berubah menjadi i'm possible. Bukannya memforsir atau memaksakan diri, tapi jika memang harus dilalui ternyata bisa juga terlampaui. Mungkin faktor the power of kepepet berlaku di sini.


Setiap orang tidak selalu memiliki kondisi yang 'biasa' dialami oleh mayoritas wanita pada umumnya. Terkadang harus ada kondisi luar biasa yang datang dengan sendirinya. Berhubung ada kondisi luar biasa itulah, dia pun berubah menjadi wanita luar biasa. Sayangnya kondisi yang di luar dari kebiasaan ini kemudian dianggap sebagai sebuah keanehan hingga dianggap nekat bagi sebagian orang.


Namun jika dikaji ulang, nyatanya bisa saja kan wanita itu melakukan hal tak biasa tadi. Bahkan kalau mau songong, bisa saja kita bertanya apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh seorang ibu. Ups, ini bukan nyerempet isu tentang emansipasi atau feminisme. Maksudnya gini. Ibarat kata, seorang wanita sudah melahirkan dengan demikian sakitnya hingga akhirnya punya baby. Istilahnya dia sudah mengorbankan separuh nyawanya. Masa iya hanya untuk berjuang pada hal lain yang jelas tidak sampai mengorbankan nyawa saja dia tidak bisa. 


Maka, mewakili emak yang sedang dalam kondisi luar bisa, bukan maksud hati kami untuk berbuat nekat dan di luar nalar kewajaran. Namun situasilah yang menempa kami untuk menyesuaikan diri. Bahwa kami adalah emak tak biasa yang bertransformasi menjadi supermom yang harus mengusahakan segalanya. Jangan anggap kami nekat, tapi lihatlah bahwa kami punya cinta untuk melakukan semuanya.