Follow Us @soratemplates

Saturday, 15 October 2022

Menguak Salah Satu Innerchild

22:23 0 Comments



Kali ini saya ingin sedikit menorehkan jejak ala-ala menulis diary. Wow, sebuah keberanian tersendiri bagi saya untuk menguploadnya di blog ini. Seringkali tulisan-tulisan ala diary hanya teronggok pasrah memenuhi drive, atau kadang tertuang dengan tak sengaja di lembaran kertas yang kemudian tidak diketahui bagaimana nasibnya. But, it is okay to share with you.


Tadi pagi saya mengikuti salah satu event yang diadakan oleh Ibu Profesional Soloraya. Agenda utama adalah launching buku NBB2, tentu saja tidak ada nama saya di sana karena saya belum bergabung dengan IP waktu itu. Tema buku yang diangkat adalah tentang innerchild. Dalam rangka launching itulah, ada semacam kuliah zoom tentang mengelola innerchild demi menumbuhkan fitrah ayah dan bunda.


Sejujurnya, tema ini bukan makanan baru bagi saya. Agaknya saya pertama kali mengenal istilah ini ketika ikut kelas online dari ummamy bubby. Waktu itu Kak A masih batita, sudah lama kan berarti. Tapi nyatanya, saya tetap menemukan insight baru dari kulzoom tadi. Salah satu poin yang menarik dan memang dihighlight oleh pembicara adalah bahwa masa lalu apapun itu adalah hadiah terbaik dari Sang Pencipta. Masya Allah...


Nah, di sesi tadi kami diminta untuk menulis bebas atau istilahnya free writing. Kami diminta untuk menuangkan apapun yang terlintas di kepala, pun dengan melibatkan emosi jika ada. Sejujurnya saya tidak menuliskan apapun tadi, namun saya tertarik dengan salah satu tulisan yang secara sukarela dibacakan oleh salah satu peserta. Dia meminta maaf kepada anak pertamanya karena menuntut suatu hal, mungkin karena orang tuanya dulu melakukan hal yang sama.


Saya pun seolah berkaca pada diri saya sendiri. Kebetulan sekali, akhir-akhir ini saya memang sedang mengurai kondisi hati saya terkait Kak A. Lelah fisik, lelah psikis, ekspektasi dan harapan yang dihadapkan pada kenyataan kadang membuat sisi tersembunyi dalam diri muncul tanpa dibendung. Kalau dipikir-pikir, kenapa juga saya harus merasa geram ketika Kak A keliru mengaji? Kenapa pula saya harus senewen mendengar suara keras Kak A? Saya sadar dan saya benar-benar bertanya. Dan saya seolah diingatkan di sesi kulzoom tadi pagi. Jangan-jangan karena innerchild saya terluka di kedua poin ini.


Saya mendadak teringat, waktu kecil dulu seringkali saya bermain ke rumah tetangga. Yah, layaknya anak-anak kecil, pasti kami bermain dengan asyik, saling tertawa, saling teriak. Tapi waktu itu, si empunya rumah berkata, "Weh Dik Avi suarane banter banget" (Wah, Dik Avi suaranya kencang sekali) Refleks tentu saja saya akan mengerem volume suara saya. Tapi kejadian itu tidak terjadi sekali, di lain waktu saya mengalaminya lagi.


Waktu itu ada rasa malu. Ibaratnya seperti anak perempuan main ke rumah orang kok suaranya kenceng banget. Sekalipun saya masih anak-anak waktu itu, tapi tidak dipungkiri ada rasa malu, tidak enak hati, merasa bersalah, dan semacamnya. Boleh jadi, rasa itu bercokol dalam diri saya hingga saya dewasa dan berdampak pada saya saat membersamai Kak A.


Kebetulan beberapa terakhir ini setiap pulang sekolah Kak A langsung bermain dengan tetangga. Mainnya di rumah sebenarnya, dan saya tak ada masalah dengan itu. Tapi ketika di suatu hari mereka bermain di jalan depan rumah, saya meradang. Kenapa? Karena Kak A berbicara dengan suara sangat kencang.


Besoknya, terjadi lagi. Mereka main bola di jalan sampai sore. Asyiknya main bola pasti bisa dibayangkan dong. Tentu saja Kak A dan teman-temannya berteriak kencang. Dan bisa diduga, saya meradang. Saya menghardik Kak A karena suara lantangnya.


Setelah dipikir-pikir, volume suara Kak A memang keras. Tapi, kenapa ketika main di rumah (tentunya dengan suara tak jauh berbeda) saya biasa saja, tetapi ketika di luar rumah saya menjadi tak tahan dan ingin marah? Ketika saya telisik, jangan-jangan ada faktor innerchild yang bermain di sini. Jangan-jangan saya marah pada Kak A karena saya merasa terluka ketika dulu bersuara lantang dan dikomentari oleh tetangga. Mungkin saya akan merasa sakit lagi ketika Kak A bersuara keras di luar rumah dan membuat tetangga ikut mengeluarkan komentar juga. Na'udzubillah...


Ini baru satu poin, dan saya sadar tentang hal itu. Dari sini saya jadi tahu bahwa kondisi yang terjadi saat ini bukan serta merta langsung diatasi. Namun, seandainya bisa dikaji dulu penyebabnya, tentu akan lebih baik lagi untuk bisa diterima dan direlease lagi.


Bismillah, semangat menyelami diri lagi dan lagi. Semoga terurai apa-apa yang masih menjadi PR di dalam diri. Aamiin...

Thursday, 13 October 2022

Hati Seluas Samudera

22:05 0 Comments



Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak. Peribahasa itu sepertinya sudah banyak yang tahu. Kurang lebih maknanya adalah kebaikan orang yang jauh akan tampak begitu besar dan bermakna. Di sisi lain, kebaikan orang terdekat seringkali justru tidak dianggap dan diremehkan begitu saja.


Saya teringat dengan peribahasa tersebut ketika pergi ke rumah simbah pekan lalu. Simbah memiliki empat orang putri. Ibu sebagai anak pertama sudah tiada, tinggal tiga orang bulik. Ada satu bulik yang tinggalnya tak jauh dari rumah simbah. Sedangkan dua bulik yang lain tinggal di luar kota.


Akhir pekan lalu kami menginap di rumah Simbah. Ada satu bulik juga yang dari luar kota ikut menginap. Kami memang biasa bergiliran menginap di sana menemani Simbah. Tak jarang kami justru janjian untuk bisa berkumpul bersama, di luar waktu lebaran tentunya.


Pagi itu Simbah yang memang sudah sepuh dan demensia sedikit menjadi tantangan bagi anak-anaknya. Bulik kedua yang tinggal di dekat rumah Simbah sudah menyiapkan beras dalam magic com untuk dimasak. Ternyata oleh Simbah beras itu diambil.


Selang beberapa lama, bulik mencoba memasak nasi lagi untuk kami sarapan bersama. Apa daya diambil lagi oleh Simbah. Hingga akhirnya terdengar suara keras dari mulut Simbah yang membuat bulik tidak tahan.


Akhirnya urusan masak nasi pagi itu diambil alih oleh bulik ketiga. Tentunya setelah dengan sedikit jeda waktu dan memberi pengertian cukup panjang pada simbah. Alhamdulillah nasi bisa matang.


Siangnya, hal itu terjadi lagi. Perkara mau mandi sore dan butuh merebus air untuk mandi, tiba-tiba kompor mati karena gas habis. Simbah pun mulai berkomentar ini itu, "Gimana gasnya habis" dan semacamnya. Termasuk bingung ke mana mau membeli gas.


Bulik pertama mencoba pergi ke toko yang paling dekat dari rumah. Ternyata kosong. Beberapa meter di dekatnya, toko yang lain malah tutup. Pulang dengan tangan kosong membuat Simbah tak henti-hentinya meracau. Bulik pun pergi ke toko yang lain yang agak jauh. Ternyata kosong juga.


Karena mulai rame, akhirnya lagi-lagi urusan ini diambil alih oleh bulik ketiga. Bulik dan om keluar ke jalan besar mencari toko yang lebih besar. Alhamdulillah pulang dengan berhasil membawa tabung gas baru.


Kejadian seperti hari itu bukan terjadi satu atau dua kali saja. Ini sudah menjadi makanan sehari-hari yang biasa kami temui. Dari situ saya teringat bahwa bulik kedua yang setiap hari menemani Simbah akan tampak selalu tak sempurna. Seolah banyak kesalahan, seakan tak sabar untuk menghadapi keadaan. Dibandingkan bulik lainnya yang hanya datang saat weekend, dengan energi yang lebih fresh, tidak penat karena menjadi situasi harian, tentu treatment dari bulik lain akan terasa lebih baik.


Padahal apa yang dilakukan bulik pertama jelas amat sangat besar dan tak tergantikan. Meskipun saya tahu bahwa kami memiliki porsi sendiri-sendiri. Barangkali bulik yang lain memang tidak bisa selalu ada, namun selalu sedia jika harus mengantar Simbah ke mana-mana misalnya. Tentu tidak bisa dibandingkan dengan porsinya masing-masing.


Kalau dilanjutkan pembahasannya, ini bisa menjadi hal yang lebih runyam kalau menyerempet tetang Pondok Mertua Indah atau Pondok Orang Tua Indah. Yah, kalau akur-akur saja dan sudah menjadi kesepakatan bersama insya Allah akan menjadi pondok yang benar-benar indah. Tapi kalau justru menjadi gajah di pelupuk mata yang tak tampak, apa masih bersedia?


Di sini memang butuh hati yang seluas samudra. Tidak ada tepi dan batasan untuk mengabdi. Semua hanya berharap bisa memberikan sebenar-benar bakti.

Sunday, 9 October 2022

Pahala Bagi Kak A

16:56 0 Comments



Sadar ga kalau kadang anak kecil yang masih polos itu seringkali justru menjadi pengingat bagi kita yang sudah dewasa? Menurut saya, mungkin karena mereka masih pure fitrahnya. Belum terkontaminasi lingkungan, belum tergerus nafsu apapun. Itu juga yang secara sadar maupun tak sadar saya dapatkan dari Kak A.


Dulu ketika awal-awal Kak A masuk sekolah, terlihat betul bagaimana perubahan akhlaknya. Salah satu poinnya adalah dia mau melakukan sesuatu karena ingin dapat pahala. Hm, sepertinya konsep pahala sebagai reward sudah bercokol di dalam hatinya. Bukan sekedar tahu bahwa berbuat baik akan dapat pahala, tapi dia paham bahwa harus berlomba-lomba mengumpulkan pahala.


Contohnya begini. Suatu waktu ada sampah berserakan di rumah. Alhamdulillah dia memiliki inisiatif untuk mengambil sampah itu. Sempat suatu ketika dia berkata, "Biar aku aja, Mi. Biar jadi pahalaku."


Wow, menurut saya ini keren sekali. Pertama, dia punya keinginan untuk berbuat baik. Tanpa diminta dan disuruh, Kak A menawarkan diri untuk membantu. Poin lainnya, dia memiliki tujuan yang benar. Ada kan anak yang doing something karena berharap hadiah atau pujian. Tapi, Kak A melakukan hal itu karena mengharap pahala. Masya Allah...


Sejujurnya ini menjadi pengingat buat saya. Sekedar membuang sampah pada tempatnya bisa jadi pahala lho. Apa kabar para orang dewasa yang melakukan ini itu sebatas rutinitas saja tanpa menyelipkan niat mengharap pahala. Padahal innamal a'malu binniat kan. Amal tergantung niatnya. Ya udah deh rutinitas sebatas rutinitas saja tanpa berimbas apa-apa di akhirat sana. Hm..., cukup sia-sia ternyata.


Tapi kondisi itu tak sepenuhnya selalu terjadi pada Kak A. Layaknya anak-anak pada umumnya, kadang kala Kak A memang mungkin sedang tidak ingin melakukan apa-apa. Jangankan memiliki inisiatif, ketika jelas-jelas diminta untuk membantu sesuatu pun Kak A menolak. 


Waktu itu saya berkata, "Ayo Kak, biar dapat pahala lho."

Dengan santainya dia menjawab, "Pahalaku udah banyak, Mi." Hahaha, pede sekali anak ini.


Yah, walaupun tidak berlaku untuk orang dewasa, tapi jawaban pahalaku sudah banyak cukup menggelitik juga. Pertama, kadang kita sebagai orang dewasa merasa diri kita sudah sholeh, sudah banyak melakukan amal kebaikan. Katanya sih golongan orang-orang yang sudah booking kavling di surga. Padahal tidak ada jaminan kan. 


Kedua, bisa jadi kondisinya justru dia termasuk orang yang sombong dan bebal. Dia menolak kebenaran dan tidak mau melakukan amal kebaikan karena merasa tak butuh lagi. Na'udzubillahimindzalik. Semoga tidak termasuk poin kedua ini.


Menariknya lagi, di lain waktu Kak A punya tanggapan berbeda tentang mencari pahala. Suatu kali inisiatif Kak A untuk membantu everything mencuat lagi. Saya yang melihat justru terkesan kasihan karena sepertinya di luar batas kemampuannya dan khawatir dia akan kelelahan. Tapi karena dia yang ingin membantu, tentu saja dia tak mau di-stop.


Waktu itu saya bilang, "Sudah kak, ga usah bantuin lagi ga papa. Kan pahalamu udah banyak." Hehe, saya membalik statement dia sendiri ketika dia sedang malas membantu.


Tak taunya, dia justru menjawab begini. "Ga papa, Mi. Nanti kalau pahalaku banyak bisa kutransfer ke Mami sama Papi."


Masya Allaah... melting mendengarnya. Ada poin beda lagi yang disampaikan oleh Kak A. Pertama tentang konsep mencari pahala tak akan ada masa berhentinya. Meskipun pahala sudah banyak, tetap harus dicari juga.


Kedua tentang makna birrulwalidain. Bahwa seorang anak yang sholeh bisa menjadi wasilah kebaikan buat orang tuanya. Bukankah anak yang sholeh termasuk salah satu amalan yang tak akan terputus meski nyawa sudah berpisah dengan raga.


Masya Allah Tabaarakallah. Semoga Allah selalu meridhai Kak A sehingga selalu terjaga niat baiknya dan semua amalannya berbuah pahala. Aamiin.


Wednesday, 5 October 2022

Tulisan Dulu vs Sekarang

00:47 0 Comments



Malam ini saya sedang melakukan kontemplasi. Ada yang berbeda dengan diri saya saat ini dengan diri saya di masa lalu. Tentu saja, status saya berubah, aktivitas harian saya berubah, dan banyak hal lain. Termasuk salah satunya tentang tulisan saya.


Kalau diingat ulang beberapa tahun lalu, rasanya saya tidak perlu pikir panjang ketika akan menorehkan kata di sini. Rasa-rasanya saya sudah hampir tak peduli. Ibarat kata, ini adalah rumah saya. Blog saya. Terserah saya mau diisi dengan apa. Agaknya saya lebih banyak skeptis, memangnya siapa yang akan baca? Mungkin dengan asumsi itulah saya jadi bebas untuk menuliskan apapun tanpa peduli apakah tulisan saya bagus atau tidak, apakah layak dibaca atau tidak, bermanfaat atau tidak, dan seterusnya. Lagi-lagi saya bebas berekspresi di sini.


Tapi dunia berubah. Begitu juga dengan sosial media, termasuk blog salah satunya bagi saya. Rasanya, jejak media itu perlu dipertimbangkan. Personal branding seseorang tentu tak luput dari media apapun yang dia gunakan. Entah itu sekedar facebook atau instagram, atau sampai ranah blog, channel youtube, dan akun-akun lainnya.


Dampaknya saya rasa jadi seperti saya saat ini. Ketika akan menorehkan kata, saya seolah dipaksa untuk mengkaji lagi: ini harus jadi naskah yang layak konsumsi. Tidak boleh kalau hanya cerita tak jelas. Tak boleh juga kalau hanya aliran rasa. Tapi malam ini saya merenungkan lagi. Memangnya saya menulis buat siapa? Pun untuk apa?


Beberapa malam sebelumnya, saya mengorek-orek isi gdrive saya. Bertebaran file-file gdoc di drive saya. Beberapa saya baca lagi dan waktu saya tersadar. Hey, kenapa tulisan begini hanya ditulis di drive? Kenapa tidak sekalian diunggah di blog? Bukankah beberapa tahun lalu tulisan semacam ini bebas saja keluar di blog tanpa perlu ragu?


Ya, benar juga. Kadang, kita yang justru membatasi diri kita sendiri. Kita (mungkin lebih tepatnya saya) yang justru membuat standar untuk diri saya sendiri bahwa menulis harus bagus. Menulis ga boleh sekedar curahatan hati. Padahal, siapa yang mengharuskan itu?


Kebetulan karena iseng, saya tergabung dalam sebuah komunitas yang goalsnya adalah konsisten menulis dalam setahun. Lalu saya melirik-lirik link yang telah dibagikan oleh teman-teman sesama peserta. Dari beberapa nama itu, ada peserta yang full menulis tanpa putus. Dan ketika saya buka, "Lho ini sederhana kan".


Saya teringat dengan program seratus hari zaman di Laskar Kang Nass dulu. Bukankah saya tak ada masalah ketika dulu upload tiap hari? Yang saya share pun adalah hal yang remeh temeh. Tapi, siapa sangka dari hal-hal yang sepele itu juga ada yang suka dan merada terinspirasi. Masya Allah...


Jadi sepertinya saya seharuanya membuang ego saya untuk menulis lagi. Kalau memang apa yang saya tulis benar-benar parah hingga khawatir akan menjadi energi negatif yang membawa lebih banyak madharat daripada manfaat, oke saya terima kondisi tersebut. Tapi kalau ternyata itu adalah hal netral, yang mungkin bisa jadi bisa diambil ibrohnya, so what gitu lho? Tuliskan saja di sini.


Tak perlu takut apakah tulisan itu berdampak atau tidak. Toh mereka yang hadir dan mampir hingga membaca kalimat terakhir di tulisan ini pun tidak saya paksa untuk membaca kata demi kata. So, win win solution kan. Saya bisa menuliskan ide dan rasa setiap hari, mengisi blog, tanpa harus merasa mendzalimi.


Bismillah, semoga bisa menjadi titik balik tersendiri.

Saturday, 3 September 2022

Optimasi Instagramku

03:20 0 Comments

Sambil menyelam minum air. Itulah yang sedang saya lakukan sekarang. Sambil ngisi blog yang sudah beberapa hari tak terjamah, sambil bikin setoran KLIP, plus sambil mengerjakan tugas recook dari Dapur Sosmed IP Soloraya. Eh, satu lagi ding. Sekalian sambil ngerjain Makcep Wary karena jawaban recooknya kudu baca satu postingan ini juga. Haha...


Baiklah..., pekan ini kami para koki dapur sosmed diminta untuk melakukan optimasi instagram. Hm..., sebenarnya bukan sekali ini saja sih saya tahu tentang materi ini. Tapi tetap saja, ketika makcep menyajikan materinya tuh kayak padat dan super kenyang banget. Alhamdulillah pokoknya. Nah dari masakan itu, kami para koki diminta untuk recook beberapa hal.


Pertama, kami diminta untuk menentukan niche. Setelah melalui perenungan panjang, menyelami lubuk hati paling dalam, menimbang dalam bimbang, memilih meski perih (halah, mesti Makcep Wary males bacanya wkwkwk) untungnya ga sampai mendakai gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang... Oke, ini lagu ninja hatori. Akhirnya saya memutuskan untuk saat ini mengambil niche tentang mental health atau manajemen emosi atau semacamanya begitulah, namun dengan membubuhkan aroma islami di dalamnya.


Kenapa saya memilih niche itu? Alasan utamanya karena beberapa bulan sebelumnya saya mengupas tentang hal itu secara terus-menerus di kelas bunda cekatan. Jadi mumpung masih kemebul di ubun-ubun, diwujudkan saja dalam bentuk konten. Itung-itung anggap saja buat catatan alias rekam jejak biar apa yang ditangkap selama beberapa bulan kemarin tidak sirna begitu saja tak berbekas.


Next, kami diminta mencari 20 hashtag yang terkait niche tersebut. Nah ini nih tantangannya. Soalnya Makcep Wary request hashtag yang dipilih harus dalam interval 500 ribu sampai satu juta. Susah-susah gampang kan. Banyak hashtag yang oke, tapi sudah dipakai puluhan juta. Kata Makcep sih kalau pilih yang itu nanti bakal tenggelam di antara puluhan juta konten. Tapi..., kalau ternyata mampu berenang gimana mak? Eh lhah, malah nawar di sini.


Alhasil, saya baru nemu segelintir ini aja mak. Siwer euy. Nanti mudah-mudahan seiring berjalannya waktu bisa menemukan hashtag yang sifatnya insidental sesuai dengan tema konten yang akan dipost. Untuk hashtag yang sifatnya general tentang mental health atau manajemen emosi yang saya tulis antara lain #selftalk (732.157), #positivewords (517.847), #positivequote (663.272), #positiveparenting (724.396), #positivevibe (882.114), #reminders (931.580), #inspirationquotes (934.993), #motivasiislami (615.081), #motivasibijak (712.034). Udah berapa tuh makcep? Hitung sendiri ya, sisanya ngutang haha...


Nah buat sunnah muakadnya, kami boleh juga tuh menampilkan bio instagram kami dan screenshoot instgram sebelum dan sesudah dilakukan optimasi. Untuk gambarnya kurang lebih begini.





Saya sengaja membuat branding diri saya sebagai a moslem doctor-writer. Kenapa begitu? Wah ceritanya panjang, saya kasihan makcep kalau harus membaca satu naskah lagi. Intinya branding itu memang terkait dengan aktivitas publik saya namun dengan tidak melupakan peran saya sebagai seorang muslim.


Lalu saya breakdown lagi satu persatu, bahwa status saya sebagai general practitioner alias dokter umum. Kenapa? Ya biar orang ga salah kaprah mengira saya sebagai psikiater misalnya. Saya tuliskan juga bahwa saya author dari buku blablabla. Memang tidak semua saya tulis, cuma yang kebetulan ada akun instagramnya saja yang saya mention di bio. 


Di sana saya tuliskan juga beberapa akun terkait bisnis. Yah, siapa tahu setelah ini jadi beli kan hehe. Yang terakhir saya beri informasi juga kalau saya ibu dari 3 anak. Ngapain sih dicantumin segala? Ya biar followernya pada tahu gitu kalau yang bikin konten dari sudut pandang emak-emak. Plus biar ga ada yang macem-macem ngegoda. Eh...


Terakhir kami diminta mencantumkan capture sebelum dan sesudah. Nah, ini nih ajaibnya. Setelah sekian lama anget-angetan bikin konten, dua hari ini dipaksa banget harus bikin postingan setiap hari minimal satu, lebih baik kalau tiga. Hm..., di sini nih tantangannya. Kudu menyiapkan amunisi ide dan waktu untuk eksekusi.





Ternyata ada yang menarik yang saya alami. Ceritanya saya baru belajar bikin reels. Reels pertama saya tanggal 17 Agustus lalu diikuti dua reels karena diminta makcep bikin postingan tiap hari. And you know, reels saya yang terakhir udah lima ribu lebih viewersnya. Terharu ga sih...


So, kesimpulannya memang butuh niat besar kalau mau serius main sosial media. Semoga saja bisa selalu terjaga strong why-nya. Last, thank you ya makcep buat materinya. Terima kasih juga kalau kamu sudah membaca postingan ini sampai di kata terakhir. Haha...

Thursday, 18 August 2022

May I Help You?

21:04 0 Comments



Adakah yang merasa bahwa membantu sesama adalah perbuatan tercela? Rasanya tidak ada. Hampir semua orang secara aklamasi sepakat bahwa membantu orang lain adalah perbuatan yang baik. Namun ternyata yang baik belum tentu selamanya baik.


Konsep itu saya sampaikan pada Kak A beberapa waktu lalu. Ini bermula ketika Kak A membuat Mas Z menangis. Kedua anak ini memiliki karakter yang berbeda. Dari catatan ustadzahnya, Kak A memiliki karakter suka membantu. Entah diminta atau tidak, Kak A cenderung ringan hati menawarkan bantuan. Beda halnya dengan Mas Z yang sedang fase egosentris. Dia sedang memiliki keinginan kuat untuk belajar bisa melakukan apa-apa sendiri.


Tak ayal, kedua karakter ini sedikit bertolak belakang. Ketika Mas Z ingin merangkai lego misalnya, Kak A serta merta membantu merangkai. Ketika Mas Z mau turun dari mobil dengan tentengan beraneka ragam di tangannya, Kak A secara refleks meraih tentengan itu. Tentu saja Mas Z sontak menangis.


Dalam keadaan begitu, semula saya biasanya langsung menegur Kak A. Saya katakan agar dia tidak mengganggu adiknya. Tapi, setelah saya pikir-pikir, sepertinya respon saya tidak adil. Karena terjadi berulang kali, saya pun menyadari bahwa Kak A sama sekali tak ada niat mengganggu adiknya. Sebaliknya, dia justru berbaik hati ingin membantu.


Akhirnya saya pun berkata pada Kak A: Mungkin kita memang ingin membantu. Kita berharap mendapat banyak pahala. Sayangnya, tidak semua orang mau dibantu. Ada orang yang ketika dibantu justru menjadi marah. Ada juga yang ketika mendapat bantuan justru merasa direndahkan, tidak dihargai. Jadi tidak selamanya semua bantuan itu baik. Apalagi kalau bantuan itu justru membantu berbuat jelek. Makin tidak baik lagi.


Jadi, jika memang ingin membantu, tanyakan dulu pada orang yang mau dibantu, "Boleh dibantu tidak?" Kalau dia membolehkan, berarti kita bisa segera mengulurkan bantuan. Tapi kalau ternyata dia tidak mau, ya jangan dibantu. Biarkan saja. Mungkin dia ingin mencoba dan berusaha sendiri. Kalau kita memaksa membantu, mungkin dia justru akan marah atau sedih. Justru jadi tidak baik. Jadi, tanyakan dulu boleh dibantu atau tidak.


Alhamdulillah dengan pengertian itu Kak A bisa mengerti. Walaupun dari raut mukanya terlihat betul bahwa dia berusaha mencerna. Mungkin dalam benaknya bagaimana mungkin karena mau membantu justru jadi perkara pertengkaran baru.


Di kesempatan berikutnya, Alhamdulillah Kak A bisa mempraktikkan prinsip ini. Ketika Mas Z terlihat kewalahan mau membuka bungkus makanan, naga-naganya Kak A sudah geregetan ingin mengambil alih pekerjaan. Untungnya Kak A ingat untuk meminta izin. Dia bilang, "Aku bantu buka boleh ga?" Serta merta Mas Z pun menyerahkan bungkus makanan beserta guntingnya pada Kak A. Yup, tanpa drama.


Saya yang mengamati dari kejauhan tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada lagi ribut-ribut hanya karena beda karakter. Mereka hanya perlu divalidasi keunggulan karakternya, dan diberi pengertian bagaimana berinteraksi dengan harmonis jika bertemu dengan karakter berbeda. Alhamdulillah, solved! Sampai jumpa lagi di tantangan berikutnya.

Sunday, 10 July 2022

Sibuk

11:38 0 Comments

busy




“Mbak, baru sibuk apa?”

Pertanyaan itu tidak satu dua kali dilontarkan kepada saya. Entah sejak kuliah dulu, sampai sekarang berumah tangga dan memiliki beberapa anak, tetap saja pertanyaan itu menyapa saya. Rasanya saya sedikit bertanya, “Kok pertanyaannya begitu ya? Emang saya terkesan sibuk?” Ketika saya telaah ulang, ternyata image sibuk memang tidak jauh-jauh dari diri saya. 


Saya cukup takjub ketika diajak mengisi assesment bareng tim Mommenkeu beberapa waktu lalu. Test itu untuk menilai apa sih motivasi terbesar seseorang dalam melakukan sesuatu. Ada yang memiliki motivasi terbesar karena uang, ingin berkomunikasi, ingin berbuat baik dll. Ada sekitar seratus motivasi yang dihimpun oleh tim pembuat assesment itu. Ternyata, hasil motivasi tertinggi saya adalah ‘aktif’, yang mana poinnya cukup mendominasi.


Saya pun kemudian menyadari. Ketika sedang off kerja karena punya baby seperti sekarang pun, tetap saja saya tidak bisa diam. Ada aja yang dikerjakan di rumah. Entah bersih-bersih rumah, entah mengerjakan hal-hal yang sifatnya mubah yang sebenarnya bisa dikerjakan nanti aja atau malah ga usah dikerjakan juga ga papa, atau sempat-sempatnya ngelirik laptop atau kerjaan ranah publik. Sampai-sampai almarhumah ibu waktu itu berkata, “Leren o mbak, ojo kesel-kesel. Aku wae sing nyawang kesel”. Hehe… 


Waktu ibu bilang begitu, saya cukup merasa kaget juga. Masa sih yang ngliat capek? Padahal saya ga merasa capek lho. Jangankan capek, saya justru merasa bahagia semacam berhasil melakukan sesuatu yang produktif. Saya justru berpikir sebaliknya. Kalau cuma diam saja, sepertinya saya bakal mati gaya. 


Saat selebrasi Superkamp#2 yang diadakan Kampung Komunitas Ibu Profesional saya menemukan jawabannya. Seorang peserta bertanya pada Ibu Septi, “Ibu, bagaimana ibu bisa punya begitu banyak kegiatan, seakan tidak pernah capek dan punya banyak energi?”


Ibu pun menjawab, “Waktu itu Pak Dodik berkata pada Bu Septi, ‘Kamu ga bisa kalau cuma diam begini. Kamu harus punya banyak kegiatan. Semakin kamu punya banyak aktivitas, semakin banyak kamu bisa beristirahat’”.


Aih, that’s true. Itu terjadi pada saya. 

Kalau dengan sibuk justru membuat kita lebih bahagia, kenapa tidak?


Trus, gimana dong solusinya biar bisa sibuk tapi ga capek?

Kalau versi Bu Septi, beliau mengalokasikan waktunya setiap hari. Misal, setiap hari beliau menyediakan satu jam untuk Ibu Profesional, satu jam untuk Padepokan Margosari, begitu seterusnya. Ketika satu jam itu sudah berlalu, beliau komitmen untuk switch. Artinya masing-masing kegiatan memang ada alokasinya, ga bisa nambah. Dengan begitu beliau punya waktu untuk aktivitas lain. Kesannya jadi punya banyak aktivitas kan.


Lalu, bagaimana dengan istirahat beliau?

Ternyata, beliau menyediakan waktu satu hingga tiga jam setiap hari untuk jalan-jalan di alam. Nah, jalan-jalan inilah yang merecharge energi beliau. Artinya, beliau tidak melulu melakukan banyak aktivitas yang sifatnya sosial atau organisasi. Beliau juga menyediakan waktu untuk me time yang bisa menjadi ajang rileks atau istirahat itu sendiri.


Hm, menarik… Artinya, selagi kita bisa menyeimbangkan diri, tidak ada salahnya untuk bergerak aktif kan. Daripada waktunya terbuang sia-sia tanpa bisa dipertanggungjawabkan. Setuju?