Jangan meletakkan seluruh telur dalam satu keranjang
Jangan meletakkan seluruh telur dalam satu keranjang
Tahun 2023 sudah berlalu. Seperti biasa tentu saja ada berjuta rasa ketika melewati sebuah masa, pun di 2023.
Tahun ini aku full menjadi ibu rumah tangga. Bukan hal mudah untuk mengambil keputusan menutup tempat praktik yang sudah berjalan beberapa tahun. Ya, ada mimpi besar yang memang harus aku sambut setelah ini. Dan tentu saja, mimpi itu harus berbuah konsekuensi, salah satunya yaitu dengan tidak praktik (dulu).
Mimpi apa itu?
Ah, tak perlu kuceritakan di sini. Kata orang, jika kamu punya niat lalu bercerita, kadang niatmu itu justru benar-benar hanya akan menjadi niat belaka. Tak ada pencapaian pada akhirnya. Jadi, biar kupendam dulu mimpi itu, biar kurajut dulu, hingga nanti benar-benar terwujud maka sudah pantas aku menceritakannya di sini.
Tahun ini waktuku habis untuk menyiapkan sebuah konferensi. Pasti tahu konferensi apa yang kumaksud. Kalau dipikir-pikir lucu juga. Di 1 Januari 2023 aku sudah mencurahkan konsentrasi di sini. Hingga 1 Januari 2024 ternyata diriku masih tetap di sini. Selama itu? Iya... Kalau orang lain lihat mungkin, "Hah, cuma bikin event begitu saja masa persiapannya sampai setahun!" Kenyataannya, iya.
Boleh dibilang, diriku ditempa karena event ini. Aku yang dulu cinta damai, mulai berani berkontroversi. Aku yang sering memilih diam, mulai tak tahan untuk membela diri. Ketahananku berubah, sikap eguh pekewuhku jelas terpengaruh. Agak kaget juga sebenarnya, tapi apa yang terjadi tentu menjadi pembelajaran kan. Dan sedikit banyak aku belajar dari pribadiku yang berbeda ini.
Di akhir sesi part satu kemarin, sebuah apresiasi menjumpaiku. "Saya menemukan leader baru, yaitu dirimu." Oh, tidak. Jujur, aku tidak mengharap apresiasi itu.
Kata seorang sahabat, merendah untuk menghindari cim itu perlu. Sayangnya, apa yang kulakukan setahun ini rasanya justru membuatku 'tampil', sesuatu yang sebenarnya tidak seperti itu yang kuharapkan. Aku tidak dalam rangka ingin unjuk diri. Tidak sama sekali. Aku hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah aku mulai, dan tentu saja dengan menunjukkah harga diri bahwa aku bisa memberikan versi terbaik dan menunjukkan bahwa kami tidak main-main.
Lantas embel-embel di belakangnya adalah, "Semoga mau menerima tawaran untuk naik kelas." Ya, tentu saja aku ingin naik kelas. Bahkan setahun yang kulalui pun sudah membuatku berada di kelas yang berbeda dari akhir 2022. Tapi, apakah kelas di sini yang akan kulalui, itu yang masih membuatku sangsi. Apakah jika aku pindah kelas artinya aku sedang tidak 'naik' kelas, itu juga yang seolah menjadi bukti apakah sedang naik atau justru mogok dan berganti haluan.
Yang jelas, sebagai manusia kita tetap diminta untuk terus naik kelas kan. Bagaimana agar hari esok lebih baik dari hari ini, bagaimana hari ini lebih baik dari hari kemarin. Tentu saja itu versi naik kelas sederhana yang akan kontinyu kita lalui.
Jadi, apakah akan naik kelas? Tentu saja, entah di kelas yang mana.
Lama sekali tak mengunjungi blog ini. Berhubung saat ini saya sedang mengikuti challenge healthy life, pas banget dong dengan judul blog ini. So, kepikiran deh buat nulis lagi di sini.
Sudah sepekan ini saya mengikuti kelas kampung bakat. Walau mungkin bukan 'bakat' juga, tapi salah satu ruang kabin yang bisa dipilih adalah tentang healthy life. Kalau dipikir-pikir, masa iya ikutan kabin ini, kan udah orang medis. Hm..., nyatanya segala teori kadang cuma jadi teori dan tidak ada realisasi tanpa motivasi. Jadilah saya langsung tertarik begitu tahu kalau ada kabin ini. Harapannya biar bisa memulai lifestyle yang bener lagi, bareng temen-temen lain juga biar ga berasa kalau lagi berjuang sendirian.
Di pekan pertama ini, kami diingatkan lagi tentang sehat dan bugar. Hm, nice reminder banget ini. Konsep sehat insya Allah sudah paham. And yup, saya baru ngeuh tentang konsep bugar. Sehat (dalam arti ga sakit) aja ga cukup guys. Kalau sehat tapi badan letoy ya buat apa. Yang kita butuhkan saat ini bukan sekedar sehat, melainkan kudu bugar. Karena hanya tubuh yang bugar itulah yang bisa membawa kita berenergi dan optimal menjalankan segala aktivitas.
Nah di pekan ini kami diminta untuk memulai habit kesehatan yang baru. Ada beberapa tantangan yang harus dilakukan di misi 1, yaitu:
Alhamdulillah hari pertama challenge aman. Stretching bisa dilakukan. Hari kedua saya tergoda untuk menambah challenge. Selain melakukan stretching, saya menambah habit baru yaitu minum putih. Yup, karena jujurly kadang suka lupa buat minum putih. Di hari ketiga, saya tambah lagi habitnya dengan mengurangi camilan manis dan beralih ke nyemil buah.
And this is it my journal.
Sepertinya begitu dulu ya. FYI, jurnal ini juga terlambat diposting karena ketiduran. Hiks.
Pernah ga kamu merasa nominal tertentu itu bagi kamu besar sekali tapi dianggap kecil oleh orang lain? Baru-baru ini saya mengalaminya.
Ceritanya, beberapa waktu yang lalu suami pergi ke suatu daerah. Begitu pulang, beliau langsung cerita, "Mi, di daerah X itu ada pondok pesantren bagus lho. Itu murid-muridnya begini begono begene"
Mendengar ceritanya yang cuma sekilas itu, saya langsung menimpali. "Oh, aku tahu itu. Anaknya Bu X sekolah di situ. Itu kan blablabla" Langsung nyambung lah kami hingga kemudian terpikir gimana ya kalau Kak A nanti sekolah di situ.
Lalu suatu ketika saat scroll di sosial media, tiba-tiba saya teringat. Cari info tentang sekolah itu ah. Alhamdulillah ketemu instagram. Kebetulan sekali postingan beberapa waktu sebelumnya menampilkan info pendaftaran sekolah tersebut. Saya pun langsung meluncur ke laman yang dimaksud. Setelah membaca dari atas ke bawah, mata saya terbelalak, "Wow, uang masuknya segini? SPP-nya juga?"
Masih dalam nuansa takjub, saya pun cari info dua sekolah lain yang menjadi incaran semula. Ternyata sekolah ini tetap paling tinggi biayanya, bahkan tiga kali lipat dari pilihan sekolah alternatif kedua. Wow!
Esoknya ketika kebetulan membahas sekolah, saya pun melaporkan hasil penelusuran saya. Spontan saya berkata, "Itu mahal banget ternyata, Pi. Masa uang masuknya sekian. SPP sebulannya di situ bisa jadi SPP satu semester di pondok A."
Dengan santainya suami berkata,"Berarti kita perlu memperbesar katup, Mi, biar uang segitu ga kerasa mahal." Seketika saya pun bungkam. Beberapa saat Pak Su melanjutkan, "Kalau aku ga mikir gitu, Mi. Wong kita punya aset yang mencukupi kok. Harus yakin segitu biasa aja"
Blarr... Rasanya seperti tamparan keras!
Saya seperti ditabok dengan bahan bacaan saya beberapa waktu lalu tentang self talk. Salah satu bahasan tentang self talk ada konsep seseorang memandang rezeki.
Di buku yang saya baca, penulis menceritakan pengalamannya dengan si anak yang berkata, "Seratus juta tuh besar atau kecil". Dengan santainya si anak berkata "Kecil". Benarkah kecil? Ya tentu saja tergantung mind setnya. Kalau dia sejak kecil termind set bahwa uang seratus juta itu kecil maka dia akan menganggap uang itu tidak seberapa. Beda halnya kalau menganggap uang seratus itu besar, maka dia tak terbayang hal yang lebih besar lagi di atasnya.
Perkara mind set ini memang gampang-gampang susah. Secara spontan orang menganggap sesuatu (dalam hal ini nominal tertentu) besar atau kecil seringkali karena sudah tertanam dalam alam bawah sadar. Mungkin paparan dari sejak dia masih kanak-kanak dianggap bahwa nominal tertentu itu sangat besar sekali.
Dalam kasus saya tadi, saya tertampar. Oh, berarti nominal sekian tadi sudah cukup besar ya buat saya? Berarti kalau saya mau dapat yang lebih besar, saya harus menganggap itu kecil agar layak mendapat yang lebih besar ya? Berarti memang benar harus memperbesar katup ya? Tapi untuk memulai memperbesar katup, berarti dimulai dari mengubah mind set dulu ya? Buat mengubah mind set, berarti saya harus berdamai dengan alam bawah sadar untuk menset up ulang nominal itu ya?
Wow! Dari obrolan singkat itu saja saya semacam disadarkan untuk mengubah salah satu self talk saya. Yup, bagaimana kita bisa meraih sesuatu kalau ita beranggapan kita tak pantas dan tak mampu. Maka, ubah dirimu lewat mengubah pikiranmu agar kamu benar-benar pantas menerima hal besar itu. Bismillah
Beberapa hari terakhir ini saya sedang menonton drama korea Yumi's Cells. Eh, drakor lagi? Haha iya. Telat? Hehe iya juga. Maklum saja, saya bukan drakor addict, yang selalu update dengan drama-drama baru lalu konsisten menuis reviewnya. Bahkan pernah suatu waktu saya mengikuti sebuah drama yang baru on going. Waktu itu saya justru merasa bosan. Sepertinya akan lebih menarik ketika drama itu sudah selesai, lalu saya menyimak secara marathon. Haha, ini karena selera saja.
Begitu juga dengan Yumi's Cells ini. Sejujurnya, saya pun tidak menyimak drakor ini sebelumnya. Saya tahu drama ini karena bertanya pada salah seorang adik kesayangan. Pasalnya waktu itu saya sedang begitu penat dan ingin punya sweet escape sejenak. Tiba-tiba saja langsung terbayang untuk menyimak sebuah drama. Lalu muncullah nama drakor ini sebagai salah satu rekomendasinya.
Meski sekedar sweet escape, ternyata saya sangat menikmatinya. Bahkan drakor yang sudah sampai season dua ini pun dengan rela hati saya simak dari season pertama. Buang-buang waktu? Tidak. Saya menyukainya. Buktinya saya sampai menuliskan kesan saya terhadap drama ini di sini. Bukankah kalau tidak ada kesan maka akan lewat begitu saja?
Kenapa saya begitu terkesan?
Pertama menonton thrillernya, saya cukup bingung. Apa sih ini kok ada gambar-gambar kartunnya segala. Tapi, begitu menonton episode pertama, saya langsun berbinar. Wow, ini sel-sel dalam pikiran yang sedang berbicara ya? Bukankah ini berarti sebuah self talk. Seketika saya pun bersemangat menyimaknya.
Kebetulan sekali beberapa bulan belakangan ini saya memang sedang tertarik dengan tema self talk. Hal-hal yang ada kaitannya dengan pengelolaan pikiran dan semacamnya menjadi concern saya hampir setahun ini. Nah, ketika menemukan drama korea yang berbau self talk, rasanya seperti menemukan cinta sejati. Ah, ini nih drama yang aku mau.
Yang bikin betah bahkan beberapa kali saya tergelak adalah pengemasan self talk ini dibuat dengan animasi. Sel-sel dalam pikiran itu lucu sekali menyampaikan apa yang ingin mereka utarakan. Jika dipikir-pikir rasanya memang serumit itu ketika kita akan memikirkan atau mengucapkan sesuatu. Tapi bisa jadi juga memang selucu itu ketika kita menikmati apa saja yang melintas dalam pikiran kita.
Lalu yang membuat saya semakin relate dengan drama ini adalah di season kedua Yumi mendadak keluar dari kerja dan ingin menjadi penulis. Wow, ini mirip sekali dengan kondisi saya saat ini. Sudah enam bulan ini saya berhenti bekerja. Lalu menjadi pengangguran luntang-luntung seharian di rumah. Yah, meskipun alasan mendasarnya karena ada adik baby, tapi sedikit banyak planning yang ingin saya kerjakan hampir sama dengan Yumi. Saya ingin di rumah dan mulai menulis. Sama persis kan?
Di salah satu scene ketika Yumi meratapi nasibnya kenapa harus keluar kerja dan mulai belajar menulis di usia 33 tahun, saya pun kembali tersenyum simpul. Helow ini mirip sekali dengan saya yang juga tidak menjadi pegawai di usi 32 tahun. Pun ketika Yumi mulai membandingkan kondisinya yang semula digaji tiap bulan dengan keadaannya sekarang yang tanpa penghasilan, sedikit banyak saya pun merasakannya. Yah, tidak memungkiri kalau mendapat penghasilan tetap itu cukup membuat nyaman. Haha
Tapi akhirnya Yumi mendapat debutnya menulis novel. Di poin ini agak sedikit berbeda. Bukankah sebenarnya saya sudah memulai debut saya bahkan sepuluh tahun yang lalu? Tapi, ketika Yumi berada di performa maksimalnya, bagaimana dengan saya yang sudah sepuluh tahun tapi ternyata tidak berprogres signifikan?
Di sini saya justru mendapat booster tersendiri. Yah, mau bagimana lagi. Maksud hati melipir sejenak untuk bersenang-senang, apa daya justru mendapat suntikan semangat untuk kembali berlari kencang.
Haha, bismillah saja. Fighting!
