Follow Us @soratemplates

Monday, 8 January 2024

Innalillahi...

18:29 0 Comments



Ini bukan cerita tentang kematian. Ini tentang jalan dimana manusia hadir dan akan kembali.

Di suatu kesempatan, ada sebuah pembahasan bersama Ustadz Harry Santosa  rahimahullah tentang makna kebahagiaan. Tema ini menarik, karena sejatinya semua manusia hidup pasti mencari kebahagiaan. Dan ternyata semua manusia punya definisi yang berbeda-beda dalam memaknai apa itu kebahagiaan bagi dirinya.

Lalu Ustadz Harry berkata bahwa manusia akan bahagia ketika berada dalam keadaan default. Ibarat sebuah alat, gadget yang baru keluar dari pabrik pasti dalam kondisi baik dan menyenangkan. Dia tidak terkena virus-virus atau beban-beban aplikasi yang memberatkan yang akan menurunkan performa alias kondisi menyenangkannya.

Begitu juga manusia. Dia akan hidup nyaman dan bahagia ketika berada dalam kondisi default seperti saat keluar dari pabrik. Istilah kerennya adalah dimana ketika dia kembali pada fitrahnya. Di sini manusia akan memaknai bahwa sejatinya dia telah dibekali fitrah oleh Sang Pencipta dan nantinya dia akan kembali pada-Nya dengan membawa fitrah itu pula. Maka, masuklah di sini tentang Innalillahi wa inna ilahi roji'un, sesungguhnya kami adalah milik Allah dan pada-Nya lah kami kembali.

Konsep ini akan dibawa ke semua lini kehidupan. Ketika bekerja misalnya, apakah pekerjaan yang kita lakukan itu dalam rangka Innalillahi wa inna ilaihi roji'un atau tidak. Manusia tak akan bahagia ketika dia hanya fokus pada nominal angka-angka keuntungan atau gaji dari pekerjaan. Mau berapa digit pun pundi-pundi harta yang dia dapatkan, jika itu tidak diyakini sebagai milik Allah dan akan kembali pada-Nya, maka tak akan ada kebahagiaan. Mungkin akan muncul rasa selalu kurang, atau justru rasa khawatir kalau-kalau kekayaannya menghilang. Jelas tidak bahagia kan?

Apakah berarti tidak boleh berusaha maksimal untuk menjadi kaya raya? Tentu saja boleh, bukankah Rosulullah orang yang kaya, pun para sahabatnya ada yang menjadi saudagar pula. Namun, kekayaan yang dimiliki itu sejatinya menjadi jalan dia untuk kembali pada-Nya.

Case lain dalam mendidik anak misalnya. Hal ini berlaku juga. Jika menyikapi seorang anak harus memiliki skill ini itu dan cakap pada usia tertentu, boleh jadi setiap orang tua akan stress karena merasa diburu-buru. Boleh jadi dia beranggapan bahwa semua mereka lakukan demi kebahagiaan sang anak. Tapi apakah dia bahagia ketika mendapati anaknya ternyata belum sesuai milestone atau tertinggal dari anak tetangga? Pun, apakah si anak juga bahagia dengan target-target yang dicanangkan orang tuanya?

Maka, lagi-lagi, kebahagiaan itu akan tercapai ketika kembali pada fitrahnya. Bagaimana fitrahnya ketika mendidik anak, bagaimana fitrah anak diutamakan, bagaimana fitrah dalam kehidupan menjadi garis lurus untuk dijadikan acuan. 

Jika fitrah ini menjadi patokan, maka tak akan ada yang melenceng. Tak akan ada hati yang resah karena melanggar dari defaultnya. Jika sudah begini, bukankah artinya hatinya tenang dan bahagia?

Ya, innalillahi wa innailiahi rojiun. Kembalilah pada fitrahnya Allah, karena sesungguhnya kita hanya milik-Nya dan akan kembali pada-Nya.

Sunday, 7 January 2024

Ya Allah, Tolonglah Aku

04:26 0 Comments




Ada sebuah doa menarik yang saya imani. Sebuah doa yang menurut saya menjadi jawaban pamungkas dari apa yang dibutuhkan manusia di dunia. Doa dan dzikir ini bisa dibaca di tahiyat terakhir sebelum mengucap salam.

Allahumma a'inni 'ala dzikrika wasyukrika wa husni 'ibadatik. (Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu,dan memperbagus ibadah kepada-Mu). H.R. Abu Dawud, An-Nasai, Ahmad, dan Al-Hakim.

Ada beberapa poin menarik pada doa ini. 


Pertama, doa ini meminta tolong kepada Allah. Iya, bahkan untuk redaksi kalimat berikutnya agar bisa berdzikir, bersyukur, dan beribadah pada-Nya saja, kita justru meminta pertolongan pada Allah Ta'ala. Rasanya seperti, "Hei, kamu harus beribadah kepada-Ku, tapi tenang saja, Aku yang akan membantumu agar kamu bisa beribadah kepada-Ku." 

Wuih rasanya seperti Allah sudah memberikan jaminan. Dia bukan 'atasan' yang tanpa tedeng aling-aling memberikan tugas lalu 'mbuh piye carane' tugas itu harus dilaksanakan. Tidak, Allah tidak begitu. Dia justru meminta hamba-Nya untuk berdoa agar Dia membantu sang hamba bisa beribadah pada-Nya.

Menariknya, apa yang kita mintakan tolong kepada Allah adalah untuk bisa berdzikir, bersyukur, dan beribadah pada-Nya. Kita tidak disuruh untuk minta tolong dimudahkan ujian dalam hidup, tidak untuk minta tolong menjadi kaya raya, atau sukses di dunia. Tidak sama sekali, tetapi cukup untuk tiga permintaan di atas karena di sanalah kunci sesungguhnya.

Kita meminta tolong untuk bisa berdzikir kepada-Nya. Alih-alih meminta mendapat jalan yang mulus, kita justru berharap untuk bisa berdzikir alias mengingat Allah di setiap jalan kehidupan yang kita lalui. Iya, memang begitu konsepnya. Mau hidup kita di atas angin atau sedang berjuang hingga ndlosor-ndlosor di tanah, selagi kita mengingat bahwa itu skenario dari Allah maka akan lempeng saja diri kita untuk menjalaninya. Kok bisa? Tentu saja karena janji Allah "Ingatlah Aku maka hati akan menjadi tenang."

Apakah artinya manusia jadi tidak mau berusaha? Karena hatinya tenang-tenang saja ketika sedih, susah, atau bahagia, dan tak tergerak untuk mengejar kebahagiaan berikutnya? Tidak, bukan begitu. Ini menjadi kunci sekaligus rem bahwa kehidupan ini sejatinya milik Allah. Dengan mengingat ini maka kita akan tenang sehingga tidak lupa diri. Jikalau akan berjuang lagi, itupun semata-mata karena Allah, bukan karena kepongahan diri yang merasa bisa melakukan semuanya atas nama dirinya sendiri.

Kedua kita meminta untuk dimudahkan selalu bersyukur pada-Nya. Ini nyambung dengan bahasan yang pertama tadi. Tidak sedikit manusia yang selalu merasa kurang pada dirinya. Apalagi jika dihadapkan dengan pencapaian orang lain. Maka, kunci kedua ini yang menjadi penting.

Apapun yang kita miliki saat ini, kita meminta untuk dimudahkan dalam mensyukurinya. Lagi-lagi, apakah dengan bersyukur lantas hanya cukup dan tidak berjuang lagi? Tentu saja tidak. Bahkan Allah sendiri menjamin, "Siapa yang bersyukur atas nikmat-Ku, maka akan Aku tambah nikmat itu". Hei, sesimpel ini lho untuk menambah apa yang kita punya. Jadi bukan hanya dengan ngoyo mengejar ini itu di dunia, melainkan dimulai dulu dari syukurnya. 

Lantas jangan diimani bahwa bentuk penambahan nikmat itu dinilai dari transaksi rupiah. Tidak, nikmat dari Sang Kuasa tidak seremeh itu. Nikmat itu tak hanya tentang kuantitas, tapi berlaku juga untuk kualitasnya. Meski hanya makan es serut misalnya, tapi nikmat itu bisa bertambah berkali-kali lipat dibandingkan dengan yang makan gellato. Sesederhana itu, tapi karena hati lapang dengan syukur maka damai-damai saja ketika menjalani kehidupan.

Terakhir, kita meminta tolong pada Allah Ta'ala untuk dimudahkan beribadah pada-Nya. Tidak hanya beribadah biasa seolah menggugurkan kewajiban saja, tetapi meminta agar bisa membaguskan ibadah kita. Ini keren sekali. Artinya, apa yang akan kita lakukan ini justru atas bantuan Sang Pencipta. Dan bukankah sejatinya tugas manusia di dunia hanya untuk beribadah pada-Nya?

Bentuk dimudahkan dan dibaguskan ini tidak hanya tentang ibadah dhahir yang tertuang dalam fiqih saja. Ya, tentu saja kita berharap akan dimudahkan dan dibaguskan ketika menjalankan sholat, puasa, dan sebagainya. Selain berkat bantuan Allah, tentu karena dengan melantunkan doa ini maka kita berniat untuk memperbagus ibadah kita juga kan. 

Namun bantuan ini juga berlaku untuk semua ibadah umum alias semua lini kehidupan manusia. Bukankah bekerja adalah ibadah selagi memang diniatkan untuk ibadah. Maka artinya, kita meminta bantuan Allah untuk memudahkan dan membaguskan pekerjaan kita. Bukankan mendidik anak adalah ibadah, maka kita sejatinya sedang meminta bantuan untuk bisa mendidik dengan mudah dan baik.

Itulah kenapa saya bilang doa ini menjadi salah satu doa pamungkas saya. Karena hanya dengan tiga bantuan dari Allah itu saja, selesai sudah semua urusan di dunia. Mau melewati skenario apapun di kehidupan, Allah akan bantu untuk mengingatkan bahwa ada Dia di atas segalanya, ada Dia yang membuat hati ini lapang dengan segala hasilnya, dan ada Dia yang menolong untuk memperbagus setiap skenario hidup kita. Insya Allah.



 

Wednesday, 3 January 2024

Lini Usaha

09:00 0 Comments

 

Jangan meletakkan seluruh telur dalam satu keranjang


Ada yang familiar dengan pepatah di atas?
Pepatah itu melarang untuk meletakkan seluruh telur dalam satu keranjang. Why? Karena risikonya sangat besar.

Telur yang masih mentah termasuk benda yang rawan pecah. Andai kita punya beberapa telur lalu menempatkan di satu wadah, maka kita betul-betul hanya bertumpu pada satu wadah tersebut.

Seandainya wadah itu kita bawa dan ternyata kita tergelincir lalu jatuh, kemungkinan telur-telur yang berada di satu wadah itu akan ikut jatuh semua. Termasuk misalnya ketika kita sudah berhati-hati membawanya, tapi wadah itu pecah tak sengaja, maka rawan semua telur di dalamnya akan ikut pecah juga.

Konsep ini berlaku dalam menjalani kehidupan. Salah satunya dalam menggantungkan sumber pendapatan.

Dulu sekali Ibu rahimahullah pernah bercerita pada saya. Meski nanti sudah bekerja, milikilah keahlian untuk bisa menambah pemasukan. Karena dengan begitu setidaknya ada minimal dua sumber mata pencaharian. Seandainya satu pintu tertutup, maka ada pintu lain yang masih terbuka.

Waktu itu, saya yang belum mulai mencari uang sendiri hanya menelan mentah-mentah apa yang beliau katakan. Setelah dipikir-pikir, saran beliau ada benarnya juga.

Terlepas dari rizki sudah diatur oleh Allah SWT dan sudah ditentukan juga akan menghampiri kita melalui pintu yang mana, tapi memiliki banyak pintu rejeki jelas tidak ada salahnya. Melihatnya bukan dari sudut pandang matre atau gila harta, ini lebih ke mau berikhtiar untuk menjemput rizqi yang sudah dijanjikan.

Beberapa waktu lalu saya pun melihat contoh nyata dari filosofi itu. Seorang kolega yang paham betul tentang makna pepatah ini bercerita bahwa dia memiliki delapan lini usaha. Beliau yang juga seorang dokter mengambil jalan sebagai seorang wirausaha. Alih-alih mengambil studi spesialis, beliau tetap menikmati menjadi dokter umum dan spesialisasi ilmu yang didalami sendiri.

Selain praktik pribadi yang berjalan seperti pada umumnya, beliau membuka lini usaha lainnya. Ada pabrik yang beliau dirikan. Ada lini khusus marketing yang beliau kelola. Tidak hanya terkait medis, usahanya pun merambah ke bidang lainnya. Usaha pendidikan belajar ada, bahkan untuk ranah hiburan seperti membangun resort pun dia coba.

Orang bilang mungkin palugada, tapi ini beda. Palugada sering dianggap sebagai serabutan apa saja dicoba. Tapi yang ini benar-benar dikonsep. Satu per satu dibuka, dan satu demi satu dimaintenance. Ini yang membuat lini usahanya maju dan bisa menghasilkan satu demi satu.

Ingin mencoba?
Mulai saja dulu dari satu pintu rezeki yang paling kita minati. Mungkin dari sana bisa menambah pintu-pintu lainnya. Insya Allah.

Tuesday, 2 January 2024

Ruang Diskusi

13:14 0 Comments



Dalam sebuah keluarga sudah layaknya dibuka banyak ruang diskusi. Hm, tentu bukan literally ruang-ruang berbatas atap, dinding, dan lantai, melainkan sebuah kesempatan untuk saling bicara dan menyampaikan apapun dalam hati dan pikirannya.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hal yang mudah saja. Apalagi manusia dikenal sebagai makhluk yang tak bisa diam kan. Sayangnya, bagi orang yang cenderung hemat kata, mungkin membuka sesi diskusi seolah butuh meluangkan waktu tersendiri. Rasanya buat apa banyak berkata-kata kalau hanya basa-basi. Fyuh...

Di sebuah sesi kajian online Ustadz Oemar Mita berkata, "2/3 dari pernikahan itu adalah ngobrol"

Iya ga sih. Ada dua orang (bahkan lebih kalau sudah beranak pinak) ga mungkin dong hanya sunyi senyap begitu saja. Tapi coba deh disimak lagi. Obrolan yang ada di rumah kita tuh ngomongin apa sih? Apakah sekedar bertanya sudah makan belum, sudah mandi belum, dan pertanyaan beruntun seolah mengecek to do list aktivitas harian. Atau sudah meningkat dengan pertanyaan gimana tadi di sekolah, ujiannya bisa, dst yang bertubi-tubi seolah pertanyaan interogasi. Atau jangan-jangan sudah menjadi obrolan panas mengomentari debat capres cawapres misalnya. Beuh...

Ajakan sering ngobrol juga sering digaungkan di Ibu Profesional, bahkan menjadi salah satu mantra yaitu main bareng - ngobrol bareng - beraktivitas bareng. Memang tig aktivitas ini menjadi jimat untuk membangun bonding di keluarga. Kalau ga pernah main bareng ya gimana suasana mau cair. Kalau ga pernah ngobrol bareng, ya gimana mau saling memahami. Kalau ga pernah beraktivitas bareng, ya gimana mau saling support.

Rasulullah SAW sendiri juga memberikan contoh bagaimana membangun sebuah keluarga melalui ruang-ruang diskusi. Beliau mencontohkan waktu-waktu yang tepat untuk mengajak ngobrol dengan anak. Misalnya ketika sedang dalam perjalanan. 

Dalam sebuah riwayat dikisahkan Rasulullah SAW sedang menunggang unta bersama Ibnu Abbas. Alih-alih menghabiskan waktu perjalanan dengan murojaah misalnya, Rasulullah SAW justru memanfaatkan momen itu untuk memberikan pesan-pesan berharga pada anak kecil kesayangannya itu.

Di lain waktu, Rasulullah SAW memberikan nasihat pada anak-anak kecil ketika sedang menyantap hidangan makan bersama. Waktu-waktu seperti ini ruang diskusi akan lebih mudah dicerna seiring santapan yang masuk ke pencernaan juga.

Apapun itu, membuka sesi saling bicara memang perlu diagendakan jika memang belum menjadi sebuah kebiasaan atau spontanitas harian. Tentu saja karena penghuni rumah bukan cenayang yang bisa menebak apa isi hati dan pikiran.

Yuk ngobrol!


Monday, 1 January 2024

Naik Kelas

09:19 0 Comments



Tahun 2023 sudah berlalu. Seperti biasa tentu saja ada berjuta rasa ketika melewati sebuah masa, pun di 2023.

Tahun ini aku full menjadi ibu rumah tangga. Bukan hal mudah untuk mengambil keputusan menutup tempat praktik yang sudah berjalan beberapa tahun. Ya, ada mimpi besar yang memang harus aku sambut setelah ini. Dan tentu saja, mimpi itu harus berbuah konsekuensi, salah satunya yaitu dengan tidak praktik (dulu).


Mimpi apa itu?
Ah, tak perlu kuceritakan di sini. Kata orang, jika kamu punya niat lalu bercerita, kadang niatmu itu justru benar-benar hanya akan menjadi niat belaka. Tak ada pencapaian pada akhirnya. Jadi, biar kupendam dulu mimpi itu, biar kurajut dulu, hingga nanti benar-benar terwujud maka sudah pantas aku menceritakannya di sini.


Tahun ini waktuku habis untuk menyiapkan sebuah konferensi. Pasti tahu konferensi apa yang kumaksud. Kalau dipikir-pikir lucu juga. Di 1 Januari 2023 aku sudah mencurahkan konsentrasi di sini. Hingga 1 Januari 2024 ternyata diriku masih tetap di sini. Selama itu? Iya... Kalau orang lain lihat mungkin, "Hah, cuma bikin event begitu saja masa persiapannya sampai setahun!" Kenyataannya, iya.


Boleh dibilang, diriku ditempa karena event ini. Aku yang dulu cinta damai, mulai berani berkontroversi. Aku yang sering memilih diam, mulai tak tahan untuk membela diri. Ketahananku berubah, sikap eguh pekewuhku jelas terpengaruh. Agak kaget juga sebenarnya, tapi apa yang terjadi tentu menjadi pembelajaran kan. Dan sedikit banyak aku belajar dari pribadiku yang berbeda ini.


Di akhir sesi part satu kemarin, sebuah apresiasi menjumpaiku. "Saya menemukan leader baru, yaitu dirimu." Oh, tidak. Jujur, aku tidak mengharap apresiasi itu.


Kata seorang sahabat, merendah untuk menghindari cim itu perlu. Sayangnya, apa yang kulakukan setahun ini rasanya justru membuatku 'tampil', sesuatu yang sebenarnya tidak seperti itu yang kuharapkan. Aku tidak dalam rangka ingin unjuk diri. Tidak sama sekali. Aku hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah aku mulai, dan tentu saja dengan menunjukkah harga diri bahwa aku bisa memberikan versi terbaik dan menunjukkan bahwa kami tidak main-main.


Lantas embel-embel di belakangnya adalah, "Semoga mau menerima tawaran untuk naik kelas." Ya, tentu saja aku ingin naik kelas. Bahkan setahun yang kulalui pun sudah membuatku berada di kelas yang berbeda dari akhir 2022. Tapi, apakah kelas di sini yang akan kulalui, itu yang masih membuatku sangsi. Apakah jika aku pindah kelas artinya aku sedang tidak 'naik' kelas, itu juga yang seolah menjadi bukti apakah sedang naik atau justru mogok dan berganti haluan.


Yang jelas, sebagai manusia kita tetap diminta untuk terus naik kelas kan. Bagaimana agar hari esok lebih baik dari hari ini, bagaimana hari ini lebih baik dari hari kemarin. Tentu saja itu versi naik kelas sederhana yang akan kontinyu kita lalui.


Jadi, apakah akan naik kelas? Tentu saja, entah di kelas yang mana.

Monday, 11 September 2023

Habit Baru Kabin Healthy Life

02:46 0 Comments

Lama sekali tak mengunjungi blog ini. Berhubung saat ini saya sedang mengikuti challenge healthy life, pas banget dong dengan judul blog ini. So, kepikiran deh buat nulis lagi di sini.

Sudah sepekan ini saya mengikuti kelas kampung bakat. Walau mungkin bukan 'bakat' juga, tapi salah satu ruang kabin yang bisa dipilih adalah tentang healthy life. Kalau dipikir-pikir, masa iya ikutan kabin ini, kan udah orang medis. Hm..., nyatanya segala teori kadang cuma jadi teori dan tidak ada realisasi tanpa motivasi. Jadilah saya langsung tertarik begitu tahu kalau ada kabin ini. Harapannya biar bisa memulai lifestyle yang bener lagi, bareng temen-temen lain juga biar ga berasa kalau lagi berjuang sendirian.

Di pekan pertama ini, kami diingatkan lagi tentang sehat dan bugar. Hm, nice reminder banget ini. Konsep sehat insya Allah sudah paham. And yup, saya baru ngeuh tentang konsep bugar. Sehat (dalam arti ga sakit) aja ga cukup guys. Kalau sehat tapi badan letoy ya buat apa. Yang kita butuhkan saat ini bukan sekedar sehat, melainkan kudu bugar. Karena hanya tubuh yang bugar itulah yang bisa membawa kita berenergi dan optimal menjalankan segala aktivitas.

Nah di pekan ini kami diminta untuk memulai habit kesehatan yang baru. Ada beberapa tantangan yang harus dilakukan di misi 1, yaitu:

  • Membatasi konsumsi guka, garam, dan lemak berlebihan
  • Rutin melakukan aktivitas fisik, minimal 30 menit dalam sehari
  • Tidak merokok/terpapar asap dan residu rokok
  • Jaga berat badan ideal dan cegah obesitas
  • Cek kesehatan
 Untuk misi 1 ini saya memilih untuk melakukan stretching terlebih dahulu



Alhamdulillah hari pertama challenge aman. Stretching bisa dilakukan. Hari kedua saya tergoda untuk menambah challenge. Selain melakukan stretching, saya menambah habit baru yaitu minum putih. Yup, karena jujurly kadang suka lupa buat minum putih. Di hari ketiga, saya tambah lagi habitnya dengan mengurangi camilan manis dan beralih ke nyemil buah.

And this is it my journal.






Sepertinya begitu dulu ya. FYI, jurnal ini juga terlambat diposting karena ketiduran. Hiks.

Wednesday, 1 February 2023

Teman Ngobrol

23:17 0 Comments

 

Friendship

Punya teman ngobrol itu asyik ya? Baru-baru ini saya menyadari hal itu. Bahkan buat orang introvert seperti saya, punya satu dua orang teman ngobrol yang nyambung itu sangat menyenangkan.

Beberapa waktu lalu saya mengobrol dengan seorang teman dekat. Awalnya kami hanya saling share link media sosial yang sekiranya relate dengan kondisi kami saat ini. Lalu obrolan pun mengalir. Apa yang rasanya kami sembunyikan satu sama lain karena tergerus dengan kesibukan masing-masing serta merta keluar begitu saja. Saya? Tentu saja ikut bercerita. Meski penyelesainnya belum langsung bisa dieksekusi, tapi saya lega.

Lalu malam ini terjadi lagi. Seorang teman yang berjumpa lewat sebuah komunitas tiba-tiba membagikan info tentang kepribadiannya. Wow, kami langsung nyambung seketika. Meski semula memang sudah sering bercerita, tapi obrolan malam ini berbeda. Rasanya seperti ada energi baru yang saya dapat. Ya, hanya karena ngobrol dan saling bercerita.

Kalau saya tarik garis benang merahnya, dari kedua teman saya tadi sama. Kami sama-sama saling menceritakan pengalaman kami masing-masing. Bahkan mungkin kami tidak betul-betul berniat mencari solusi dari apa yang kami alami. Murni cuma bercerita saja. Yah, kata orang kebutuhan wanita memang cukup cuma didengar saja.

Tapi, nyatanya tidak semua orang mau mendengar lho. Ada yang meski sudah megeluarkan uneg-uneg panjang lebar ternyata tidak mendapat feedback sesuai dengan apa yang diharapkan. Bukan karena solusinya tidak pas, tapi lebih ke chemistry atau cara penyampaiannya yang tidak masuk di hati.

Tentang kondisi yang klik di hati ini memang gampang-gampang susah. Dari kedua teman saya tadi, saya menangkap satu hal yaitu ketika saya dipahami. Teman saya yang pertama bisa-bisanya berkomentar, "Iya wajar soalnya MBTI-mu bla bla bla bla". Wow, sesuatu yang bahkan tidak saya duga bahwa dia mengingat hasil MBTI saya. Sudut pandangnya untuk berkomentar jadi lebih terasa cocok untuk saya dengarkan.

Begitu juga dengan teman kedua. Ketika dia tahu tipe mesin kecerdasan saya, dia bisa menimpali dengan tepat. Bahkan dia mengenal sosok yang punya mesin kecerdasan serupa dengan saya. Alhasil saya merasa seolah dirangkul, seakan dimengerti bahwa karakter saya memang seperti ini.

Well, mungkin poinnya adalah bahwa dalam komunikasi memang harus ada 'saling'. Saling mendengar, saling berbagi, dan saling memahami. Tentu saja, karena tanpa saling tak akan terjadi komunikasi ini.

Thanks for you two guys