Follow Us @soratemplates

Tuesday, 30 March 2010

Tinjauan Anemia Secara Umum

08:39 0 Comments

Diambil dari slide dan catatan kuliah

dr. Suradi Maryono Sp.PD - KHOM


Hematopoiesis : pembentukan darah dalam sumsum tulang. Terdiri dari

- Eritropoiesis

- Granulopoiesis

- Trombopoiesis


Eritropoiesis

- adalah proses pembentukan eritrosit.

- Apabila eritrositnya kurang akan menyebabkan anemia.

- Jika berlebih, akan menyebabkan polisitemia.

Polisitemia ada dua yaitu

- polisitemia primer yang disebut juga vera (PV). Polisitemia primer berkaitan dengan MPD (myeloid poliferasi disease).

- polisitemia sekunder.


Granulopoiesis

- merupakan proses pembentukan granula, disebut juga proses pembentukan leukosit.

- Apabila pembentukan ini kurang, akan menyebabkan leukopeni.

- Jika pembentukan berlebih, akan menyebabkan leukositosis.

- Leukositosis dapat disebabkan oleh infeksi, reaksi leukomoid, dan keganasan.

- Leukositosis akibat keganasan sering disebut leukemia.

- Leukimia ini dibedakan lagi jadi akut dan kronik.

- Leukimia akut dibedakan jadi ALL dan AML. Leukemia kronik juga dibedakan jadi CLL dan CML.


Trombopoiesis

- Yaitu proses pembentukan thrombosis

- Jika kekurangan akan menyebabkan trombositopenia

- Keadaan trombositopenia dapat menyebabkan terjadinya perdarahan. Keadaan ini juga ditemukan pada demam berdarah dan demam thypoid.

- Jika trombosis berlebihan akan menyebabkan trombositosis.

- Trombositosis ini juga dibedakan lagi jadi primer dan sekunder. Untuk yang primer (trombositemia) berkaitan dengan MPD juga.

- Jadi jika kekurangan akan terjadi perdarahan dan jika kelebihan akan ada hiperkoagulasi. Hiperkoagulasi ini kaitannya dengan penyakit stroke, varises, dll


Gangguan hemostatis

- Hemofli, DIC (disease intramuscular coagulasi), DVT, PAD, dll


Keganasan Hematologi

- Leukimia (udah dijelasin tadi)

- Limfoma maligna. Disebut juga kanker kelenjar getah bening. Ditandai dengan adanya pembesaran kelenjar getah bening, misal di leher.

- Gamopatia monoclonal (kanker sel plasma) karena diskrasia sel plasma. Pada penyakit ini dikenal MGUS (monoclonal gamopathy of unknown significance), mulitiple myeloma, plasmositoma.


Onkologi Medik

- Digunakan untuk membedakan tumor solid

- Untuk kemoterapi (sitostatika)

- Untuk terapi biologi

Sekarang, kita focus untuk membahas anemia. Sebelumnya, kita bahas dulu tentang sel darah merah.


Eritrosit

- Umurnya 100 – 120 hari (kurang lebih 3-4 bulan).

- Setiap harinya 1% eritrosit ini rusak dan dalam 3 bulan itu, eritrosit akan dihancurkan oleh makrofag yang ada di hepar, lien, sumsum tulang. Tapi karena tubuh memiliki sistem hemopoiesis (khususnya eritropoiesis) keadaan ini bisa dikompensasi dengan baik

- Pada keadaan patologis (ketika eritropoiesisnya terganggu) atau pada perdarahan akan menyebabkan anemia karena tubuh ga bisa mengompensasi.


Anemia

- Secara fisiologis dapat dibedakan jadi 2.

- Pertama, karena insufisiensi eritrosit untuk memenuhi kebutuhan jaringan perifer.

- Kedua, karena destruksi eritrosit.

- Kenapa bisa jadi anemia?? karena kadar Hb-nya kurang, hemotocrit kurang, atau jumlah eritrosit yang kurang.


Kadar hemoglobin dan hematokrit

- Pemeriksaan Hb dan Hct penting untuk diagnosis anemia.

- Hb dan Hct dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, keadaan hidrasi pasein (misal pada pasien dehidrasi), dan populasi pasien.

- Cara mengetahui kadar Hb dengan melihat spektrofotometrik dari sianmetameglobin, sedangkan untuk hematokrit dilihat dari hasil sentrifugasi.

- Kadar normal Hct untuk laki-laki dewasa 42-52%, untuk wanita 37-47%.


Berdasarkan Hb dan Hct, anemia dapat dibedakan jadi anemia berat, sedang, dan ringan.

- Anemia berat : Hb kurang dari 7

- Anemia sedang : Hb antara 7 – 10

- Anemia ringan : Hb antara 10 - normal

Berdasarkan onsetnya dibedakan jadi anemia akut dan kronik

Untuk menegakkan diagnosis dapat dilakukan pemerikasaan apusan darah tepi dan aspirasi sumsum tulang.


Eritrosit

- Eritrosit dihitung dengan indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC). Ketiga jenis penghitungan ini penting untuk melihat morfologi eritrosit. Jadi bisa tau kapan dikatakan anemia makrositik, mikrositik, dll.

- Dari penghitungan MCV,

o jika didapatkan hasil 80-100fl berarti normositik

o Jika kurang dari 80fl mikrositik

o Lebih dari 100fl makrositik

- Dari penghitungan MCHC,

o Jika normal disebut normokromik

o Jika dibawah normal, hipokromik

o Tapi, tidak ada istilah hiperkromik


- Untuk menerapkan jenis morfologi ini dilakukan dengan pemeriksaan dengan darah apus.


Untuk lihat anemia (pemeriksaan fisik) bisa dilihat dari konjungtiva, sublingual, dan telapak tangan. Kalau pucat, itu pertanda anemia. Apalgi kalau sampai putih, tandanya sudah anemia berat.


Dari penghitungan MCV didapatkan anemia makrostik, normositik, atau mikrositik.

Sekarang, kita bahas satu-satu.


MAKROSITIK

- Pertama, cek dulu apakah ada makrositik oval dan hipersegmen neutrofil.

o Jika ada, berarti anemia megaloblastik

o Jika ga ada, anemia non-megaloblastik

- Anemia Megaloblastik

o Cek dulu apakah ada defisiensi vit B12 dan asam folat

§ Jika ada, berate anemia defisiensi vit B12 dan asam folat

§ Jika ga ada, lihat riwayat medis

o Dari riwayat medis

§ Jika ada, berarti karena efek medis

§ Jika ga ada, bisa karena gangguan sintesis DNA

o Jadi anemia megaloblastik, bisa dibedakan diklasifikasikan jadi

§ Anemia defisiensi vit B12

§ Anemia defisiensi asam folat

§ Kombinasi defisiensi vit B12 dan asam folat

§ Gangguan sintesi DNA

- Anemia Nonmegaloblastik

o Cek retikulositnya

§ Jika meningkat, berarti kaitannya dengan eritropoiesis (hemolitik, hemorage)

o Jika menurun, cek riwayat dll

§ Jika ada, berarti bisa karena alkoholi, penyakit liver, myeloma, diamond-blackfan, dll

§ Jika ga ada, cek sumsum tulang

o Dari pemeriksaan sumsum tulang.

§ Jika positif, berarti bisa anemia aplastik, anemia congenital, myelodiplatik

§ Jika negative, bisa karena keracunan arsenic, dll

o Jadi, anemia nonmegaloblastik bisa dilkasifikasikan jadi

§ Berhubungan dengan eritropoiesis

§ Alcoholism

§ Penyakit liver

§ Aplastik anemia

§ Myelodipalstik sindrom

§ Myelophtisic anemia

§ Anemia sideroblastik

§ Anemi konginital (tipe I dan III)

§ Diamond-Blackan anemia

§ Hipotiroid


NORMOSITIK

- Hitung retikulosit

o Jika menurun atau tidak meningkat, cek riwayat

o Jiak meningkat, cek parameter hemolitik

- Setelah cek riwayat

o Jika positif, bisa karena anemia defisiensi besi, anemia penyakit kronik, karena medis, disfungsi renal dan hepar

o Jika negative, bisa karena apalasia sel darah murni

- Setelah cek parameter hemolitik

o Jika postif, cek DAT

o Jika negative, berarti anemia karena perdarahan

- Setelah cek DAT

o Jika positif, bisa anemia hemolitik

o Jika negative, cek lagi trombositnya

- Jika negative, bisa eritropoesis poriporphyria

- Secara garis besar, anemia normokromik diklasifikasikan jadi

o Anemia karena peningkatan produksi eritrosit

o Penurunan sekresi eritropoietin

o Berkaitan dengan respon sumsum tulang


MIKROSITIK

- Cek retikulosit

- Jika retikulosit kurang,

o cek fe

§ Jika menurun, anemia defisiensi fe

§ Jika normal. Cek hemoglobin elektrophoreisis

o Cek hemoglobin elektrophoresis

§ Jika menurun, hemoglobinopati

§ Jika normal, cek alfa thalasemia

o Cek alfa thalasemia

§ Jika positif, alfa thalasemia

§ Jika negative, cek populasi papenheimer disease

o Cek populasi

§ Jika positif, kegagalan sumsum tulang

§ Jika negative, cek basofil

o Cek basofil

§ Jika positif, karena toksisitas

§ Jika negative, cek riwayat

o Cek riwayat

§ Jika postif, karena penyakit kronik

- Pada retikulosit meningkat

o Cek fe

§ Jika turun, defisiensi fe

§ Jika normal, cek parameter hemolitik

o Cek parameter

§ Jika positif, beta thalasemia

§ Negative, cek poikilositosis

o Cek poikilositosis

§ Jika postif, herediter poikilositosis

§ Negative, cliptositosis

o Cek cliptositosis

§ Jika positif, herediter cliptositosis

§ Negative, hemoglobinuria atau eritpoietic porphyria

o Jadi secara garis besar, diklasifakan menjadi

§ Penyakit metabolism fe

§ Sintesis globin

§ Anemia sideroblastik

§ Toksis


Terapi Anemia

- Tergantung dengan penyebabnya

- Jadi harus dicari penyebabnya dengan pemeriksaan diferensial diagnosis yang tepat



Silakan download...
Tinjauan Umum Anemia

Hemostatis

08:30 4 Comments

Diambil dari slide dan catatan kuliah

dr. Dian Ariningrum, MKes, SpPK


Hemostatis termasuk salah satu mekanisme homeostatis yang tujuannya mempertahankan darah tetap dalam keadaan cair & berada dalam pembuluh darah.

Apabila dalam kondisi trauma, hemostatis berfungsi mencegah hilangnya darah secara berlebihan dengan pembentukan bekuan.


Hemostatis dapat dibedakan menjadi dua :

  1. Hemostatis primer : di mana berakhir dengan pembentukan sumbatan pada luka
  2. Hemostatis sekunder : proses pembentukan fibrin dalam pembekkuan darah


Sekarang, kita bahas dulu tentang hemostatis primer.

Secara singkat, hemostatis disebut sebagai kontrol pendarahan. Ada 3 fase yang terlibat :

1. Fase vaskuler

Di sini yang berperan utama adalah dinding pembuluh darah dan endotel. Masih ingat kan endotel itu apa? Endotel merupakan lapisan sel paling dalam yang melapisi lumen pembuluh darah.

Pada fase ini mekanisme yang terjadi yaitu kontraksi pembuluh darah, sehingga lumen pembuluh darah menyempit.

Penyempitan ini bertujuan untuk mengurangi darah yang keluar.

2. Fase trombosit

Diakhiri dengan pembentukan sumbat trombosit. Tapi sifatnya masih labil karena belum memiliki perekat satu sama lain.

3. Fase koagulasi

Di fase ini, benang-benang fibrin berfungsi merekatkan trombosit satu dengan lainnya shg terbentuk sumbat hemostatis yang stabil dan tidak larut, shg bisa menutup luka.

Luka yang dimaksud di sini tidak selalu merupakan diskontinuitas endotel. Tapi bisa jadi karena karena struktur anatomi seperti belokan pembuluh darah, percabangan, adanya perubahan kecepatan aliran darah sehingga menyebabkan adanya mikrolesi. Atau pada keadaan penyempitan pembuluh darah atau dinding pembuluh darah yang tidak rata. Jadi luka bisa jadi hanya luka di endotel saja.

Dengan adanya sumbat yang stabil itu akan menghentikan perdarahan pada kapiler dan arteriol yang ukurannya kecil.

Untuk perdarahan pada pembuluh darah yang lebih besar, pembentukan sumbat belum cukup kuat, sehingga butuh tindakan medis dengan penjahitan.


Yang memegang peran utama dlm Hemostasis yaitu:

  1. Sel endotel

Mempertahankan keutuhan/ integritas pembuluh darah

  1. Trombosit

Jumlah dan kaulitas trombosit yang kuat akan membentuk sumbat yang cukup adekuat untuk menutup luka

Di sini berperan dalam hemostatis primer.

  1. Kaskade Koagulasi

Membentuk fibrin, dalam proses hemostasis sekunder. Hal yang berpengaruh pada pembentukan fibrin ini yaitu :

- Faktor koagulasi

- Inhibitor koagulasi

- Ion kalsium

  1. Sistem fibrinolitik

Saat sumbat sudah tidak dibutuhkan (luka sudah sembuh dan sudah termbentuk jaringan), maka bekuan tadi harus dihilangkan dengan sistem fibrinolitik


Trombosit yang sudah menyatu tadi (dalam proses hemostatis primer) akan menyebabkan membrane berubah menjadi suatu medan yang mampu menarik berbagai factor untuk membentuk fibrin. Proses ini disebut hemostatis sekunder.


Dalam proses hemostatis, dibutuhkan beberapa unsure. Sekarang, kita bahas unsure itu satu persatu.


ENDOTEL

Endotel yang intact (utuh) resisten terhadap pembentukan thrombus. Maksudnya, endotel ini memiliki aktivitas antitrombotik / antikoagulan.


Kenapa bisa begitu? Karena, endotel memiliki beberapa efek, yaitu :

  1. Efek Antitrombosit

­ Membran endotel yang intak bermuatan negative dan ini merupakan barrier (penghalang) terhadap matrix subendotel sehingga mencegah adhesi trombosit

­ Endotel menghasilkan substansi berupa PGI-2 & NO yang mencegah adhesi trombosit

  1. Efek Fibrinolitik

- Ada sel lain yang memproduksi Tissue-plasminogen activator (t-PA) yang berfungsi dalam aktivasi plasminogen menjadi plasmin. Plasmin ini nanti akan melisiskan fibrin.

  1. Efek Antikoagulan

Menghasilkan substansi-substansi lain seperti

- Heparin like-molecules & thrombomodulin membran

- Inaktivasi trombin & beberapa faktor koagulasi


Di lain sisi, endotel juga mempunyai aktivitas protrombik/ prokoagulan, yaitu :

  1. Menghasilkan vWF (vonWillebrand factor) bersama megakariosit

Faktor ini penting untuk

- adhesi trombosit pada kolagen/ permukaan lain &

- agregasi trombosit satu sama lain

  1. Menghasilkan Tissue factor atau faktor 3 yang distimulasi oleh cytokine (TNF, IL-1)

Faktor ini berperan dalam mengaktivasi jalur koagulasi ekstrinsik.


TROMBOSIT

  • 150 – 450 x 103/uL
  • Æ 2.5 u
  • Umur : 7 – 10 hari
  • Diproduksi di sumsum tulang melalui fragmentasi sitoplasma megakariosit. Jadi trombosit ini bukan sel, melainkan hanya pecahan sitoplasma megakariosit saja.

Megakariosit berfungsi sebagai sel induk trombosit, yang mana akan matur dan kemudian mengalami fragmentasi membentuk trombosit.

1 megakariosit bisa menghasilkan 4000 trombosit.

  • Produksi trombosit dikendalikan oleh mekanisme humoral yaitu hormon Trombopoietin
  • Trombopoietin ini disintesis oleh hati sebanyak 90% & sisanya (10%) diproduksi di ginjal. (Ini berkebalikan sama eritropoietin. Kalo eritropoietin, 90% di ginjal, 10% di hati).
  • Trombosit berperan dalam adhesi, sekresi, dan agregasi, sehingga nantinya berperan dalam hemostatis primer yaitu pembentukan sumbat trombosit


Struktur trombosit

Gambar kiri menunjukkan pembuluh darah yang utuh. Bagian tengah merupakan lumen pembuluh darah. Bagian yang langsung berhubungan dengan lumen adalah tunika intima yang merupakan endotel yang utuh.

Bagian kiri menunjukkan pembuluh darah yang mengalami luka. Endotelnya tidak intac. Di situ terlihat trombus (yang warna putih) untuk menutupi luka sehingga lumen pembuluh darah menyempit (yang agak gelap kebiruan).


Ini gambaran proses terbentuknya trombosit. Megakariosit berada di sumsum tulang. Megakariosit memang selalu berada di sumsum tulang dan tidak pernah ditemukan di darah perifer kecuali pada keadaan patologis seperti pada AML, leukemia M7. Kemudian stipolasmanya pecah, sobek-sobek, menjadi trombosit.


Pada penampang di mikroskop elektron, trombosit yang normal / belum aktif (kiri) dindingnya terlihat licin, tidak terlalu cekung, sama seperti eritrosit yaitu tidak punya inti (karena dia bukan sel), tapi tetap punya organel :

- granula,

- mitokondria (utk pembentukan energi),

- membran punya sistem mikrotubulus.

- Glikoprotein (terutama Ib/IX dan IIb/IIIa)

Pada saat aktif (kanan), sitoplasmanya terbentuk tonjolan-tonjolan. Fungsinya biar saat agregasi bisa menempel sangat kuat.


Setelah kontak dengan matriks subendotel, trombosit mengalami 3 reaksi :

1. Aktivasi & Adhesi

- Aktivasi adalah proses di mana sitoplasma trombosit membentuk tonjolan-tonjolan

- Adhesi adalah proses menempelnya trombosit pada kolagen subendotel.

- Proses menempel ini distimulasi oleh

o von Willebrand Factor (vWF) yang dihasilkan oleh endotel &

o reseptor GP Ib/IX atau disebut juga integrin


Ini adalah gambaran potongan melintang pembuluh darah. (Keterangan gambarnya insya Allah udah jelas).

Yang dimaksud proses adhesi yaitu berikatannya reseptor GP Ib-IX (segitiga hijau) dengan von Willebrand’s factor (segilima) yang ada di subendotel. Akibatnya trombosit menempel di subendotel.

Sedangkan yang dimaksud proses agregasi yaitu berhubungannya reseptor GP IIb/IIIa (biru setengah lingkaran) yang ada di 1 trombosit dengan trombosit lainnya yang dihubungkan dengan fibrinogen (biru muda bulat)


2. Sekresi (release reaction / degranulasi)

Setelah aktivasi dan adhesi, granula dari trombosit akan mengeluarkan isinya melalui sistem kalanikuler. Proses ini kadang disebut degranulasi atau liberated.

Faktor-faktor yang berperan yaitu :

Kalsium : utk kaskade koagulasi)

ADP : sebagai mediator agregasi atau aggregator (pemicu agregasi yaitu memicu factor lain untuk berdatangan)

Tromboxan A2 – TXA2 : berperan dalam aktivasi trombosit lain

Serotonin & TXA2 : sebagai vasokonstriktor yaitu menyempitkan pembuluh darah

Ekspresi kompleks fosfolipid di permukaan membrane. Sehingga membrane trombosit jadi lebih luas dan bisa untuk tempat berikatan dengan Ca2+ & faktor koagulasi

3. Agregasi trombosit

Proses menempelnya trombosit satu dengan lainnya.

Faktor yang berperan yaitu :

- ADP & TXA2

Sebagai agregator trombosit yang mengundang makin banyak trombosit untuk pembentukan sumbat hemostasis (platelet plug)

Sumbat trombosit diikat oleh benang fibrin yg terbentuk dr proses koagulasi

- Agregator lain: trombin, kolagen, platelet-activating factor, epinefrin, serotonin, vasopresin


PEMBEKUAN DARAH (KOAGULASI)

  • Merupakan sistem amplifikasi (penguat) biologis
  • Faktor koagulasi pada dasarnya adalah suatu enzim. Dia beredar di dalam tubuh dalam keadaan belum aktif (dalam bentuk proenzim). Dia baru aktif setelah diaktivasi oleh proteolisis. Proteolisis ini akan memotong bagian ikatan peptide prokoagulan shg prokoagulan jadi aktif. Aktif di sini maksudnya aktif sbg enzim. Kemudian faktor koagulasi yang aktif ini akan mengaktivasi prokoagulan yang lain. Begitu seterusnya, sehingga proses aktivasi bertingkat ini disebut cascade koagulasi.
  • Cascade koagulasi berakhir dengan pembentukan fibrin / bekuan darah.

Yang bentuknya jaring-jaring ini adalah fibrin. Di dalamnya terperangkap trombosit dan erotrosit. Tapi eritrosit di sini hanya tersangkut pasif.


Kaskade koagulasi

Pemicu utama adalah fase ekstrinsik.

- Terlepasnya factor jaringan (III) oleh endotel yang kemudian mengubah Faktor 7 jadi aktif.

- Faktor 7 aktif mengubah factor 9 dari fase intrinsic yang tidak aktif menjadi factor 9 aktif.

- Faktor 9 aktif bersama kompleks tenase mengubah factor 10 menjadi factor 10 aktif.

- Faktor 10 aktif akan mengaktifkan factor 2 jadi factor 2 aktif (thrombin).

- Trombin bersama kompleks protrombinase mengubah fibrinogen menjadi fibrin.

- Fibrin ini masih monomer dan masih larut dalam plasma. Oleh factor 13 aktif akan diubah menjadi fibrin yang stabil.


Penjelasannya lebih lanjut lihat di sini:

v Pembentukan fibrin polimer

v Jalur intrinsik

Fase kontak

Dipicu paparan kolagen subendotel

Menghasilkan Faktor Xa

Faktor yg terlibat : XII, XI, IX, VIII, X, prekalikrein, HMWK, Ca2+, PL

FXII à proteolisis oleh kalikrein à FXIIa à

§ Mengaktivasi FXI à FXIa

§ Prekalikrein à Kalikrein

§ Melepas bradikinin (vasodilator) dr HMWK

§ FXIa (+Ca2+) dg FVIIIa (diaktifkan oleh trombin) sbg kofaktor à aktivasi FIX mjd FIXa à pbtk kompleks Tenase (IXa, VIIIa, Ca2+, PL) à proteolisis ik Arg-Ile FX à FXa

§ Membentuk kompleks di atas membran fosfolipid

  • Lbh berperan dlm fibrinolisis

v Jalur ekstrinsik

Dipicu oleh Tromboplastin jaringan/ Tissue Factor (FIII) yg dilepas oleh jar yg rusak

Menghasilkan Faktor Xa

Faktor yg terlibat : X, VII, III (tromboplastin), Ca2+

FIII sbg kofaktor utk FVIIa à tissue factor komplex

Tissue factor komplex memecah ikatan Arg-Ile FX yg sama dg yg dipecah kompleks Tenase à FXa

Mrpk inisiator koagulasi yg utama

v Jalur bersama

  • Faktor Xa (dg bantuan kompleks Protrombinase) à aktivasi Protrombin mjd Trombin à konversi Fibrinogen mjd Fibrin monomer (ikatan nonkovalen, soluble) à dg bantuan FXIIIa, tbtk fibrin polimer (ikatan kovalen, insoluble, lbh resisten thd proteolisis)
  • Kompleks Protrombinase t.a Xa, Va (aktivasi oleh trombin; sbg kofaktor), Ca2+, PL
  • Trombin juga mengkonversi FXIII à FXIIIa à pbtk ikatan kovalen à terbentuk Fibrin polimer yg stabil


Faktor-faktor yang disebutkan di atas, sering lebih dikenal dengan nama-nama berikut :

Yang diberi tanda bintang orange (Faktor 2, 7, 9, 10) dalam pembentukannya tergantung pada vitamin K.

Yang diberi tanda diamond merah ( Faktor 2, 7, 9, 10, 11,12,13) merupakan enzim.

Di situ terlihat kalau sintesis terbanyak di hati. Jadi jika ada gangguan fungsi hati, akan terjadi gangguan pembekuan darah.


Platelet factor 3 (PF3)

  • Sintesis Phosphatidyl serine (fosfolipid)
  • Fungsi : sbg assembly molecule koagulasi (molekul perakit). Jadi jika ada agregasi, fosfolipid akan makin luas, sebagai tempat untuk menyatu antar trombosit.
  • Berasal dr trombosit von Willebrand Factor (vWF)
  • Merupakan Glikoprotein multimer
  • Disintesis oleh sel endotel & megakariosit
  • Disimpan dlm sel endotel (Weibel-Palade Bodies) & granula alfa trombosit
  • Konsentrasi dlm plasma : 7 – 10 mg/mL
  • Merupakan ligand utk reseptor Ib/IX trombosit
    • Lihat kompleks vWB/VIII


Faktor Koagulasi yg Vit K- Dependent

Vitamin lipofilik, hidrofobik à diperlukan utk modifikasi post-translasional Faktor II, VII, IX & X

Quinone didapat dlm sayuran berdaun hijau, ikan, hati, & dihasilkan oleh mikroorganisme usus B. fragilis & E. coli

Penambahan gugus karboksil pd karbon g (g karboksilasi) dr residu asam glutamat di dekat ujung terminal faktor II, VII, IX & X

Menciptakan tempat ikatan dg Ca++ yg memungkinkan ikatan dg fosfolipid

Defisiensi Vit K atau pemberian warfarin (antagonis vit K) menyebabkan faktor II, VII, IX, X tdk dapat berperan dlm reaksi koagulasi.

Misal pada bayi premature. Proses gama karboksilasi belum sempurna, cadangan vitamin K juga masih sedikit, sehingga dilakukan injeksi vitamin K intra muscular.


Kompleks PROTROMBINASE

  • Mrpk kompleks faktor yg berperan memecah/ mengaktivasi Protrombin
  • Terdiri dr Faktor Xa, Va, fosfolipid (platelet-derived) & ion kalsium
  • Mrpk langkah pertama dr “jalur bersama”


Kompleks TENASE

  • Mrpk kompleks faktor yg berperan memecah/ mengaktivasi Faktor X
  • Terdiri dari Faktor VIIIa, IXa, fosfolipid (platelet-derived) dan ion kalsium
  • Mrpk produk akhir jalur intrinsik


PERAN KALSIUM (Ca2+)

Merupakan mineral terbanyak di tubuh

Trtm di jalur intrinsik & jalur bersama

Ca2+ sbg koenzim (biar enzim bisa aktif), berikatan dg faktor koagulasi & mengaktifkan faktor koagulasi sehingga punya aktifitas enzimatik. Karena ada aktivitas tsb memungkinkan ikatan faktor koagulasi pd membran fosfolipid trombosit teraktivasi

Membrane bisa berikatan dengan antikoagulan dengan diperantarai oleh Ca. Faktor koagulan ini akan mengikat Ca sehingga Ca tidak tersedia dan menggangu ikatan koagulan dengan trombosit sehingga tidak terjadi pembekuan. Namun factor koagulan itu sendiri masih ada di darah.

Serum dan plasma. Plasma masih ada factor koagulasi. Kalo serum udah ga ada factor koagulasi karena factor koagulasi sudah terkonsumsi untuk membeku.

Antikoagulan in vitro mrpk Ca-chelating agents (Sitrat, EDTA, Oksalat) yang berfungsi mengikat Ca2+


PERAN VITAMIN K

Mrpk kofaktor reaksi karboksilasi residu glutamat (Glu) mjd g-karboksiglutamat (Gla) à khelasi ion Ca2+

Protrombin, FVII, FIX, FX, Prot C & Prot S (semua disintesis di hati) memp 4-6 residu glutamat à khelasi ion Ca2+ à ikatan faktor koagulasi pd membran fosfolipid trombosit yg teraktivasi

Pd defisiensi vit K atau overdosis warfarin : karboksilasi residu glutamat prekursor faktor foagulasi (II, VII, IX, X) tdk tjd à tdk bisa mengikat Ca2+ à ggn koagulasi

PIVKA (Protein Induced by Vit K Antagonist/ Absence)

Injeksi vit K pd bayi prematur

Enzim u & v dihambat Warfarin à vit K epoksid tdk dpt direduksi mjd vit K quinone à akumulasi à diekskresi

Jk vit K quinone cukup à reduksi tetap tjd (oleh quinone reduktase yg tdk dihambat warfarin à tbtk hidrokuinon à karboksilasi berlanjut

Vit K quinone dosis tinggi mrpk terapi overdosis warfarin


REGULATOR KOAGULASI

  1. TFPI (Tissue Factor Pathway Inhibitor) : mengikat FXa à inaktif à kompleks FX-TFPI mengikat Tissue Factor Kompleks (FIII-FVIIa)
  2. Protein C : aktivasi mjd protein C aktif (APC) oleh trombin à degradasi faktor VIIIa & Va
  3. Protein S : sbg kofaktor protein C, protein C & protein S mgd residu karboksiglutamat (Gla)
  4. Thrombomodulin : protein di permk endotel, berikatan dg trombin, kmd mengaktivasi protein C
  5. Circulating Inhibitor : Antitrombin III (AT-III), a2-Macroglobulin, Heparin cofactor-2, a1-antitrypsin


PERAN sbg ANTIKOAGULAN FISIOLOGIS

Defek pada regulator ini terjadi thrombosis

Misal pada stroke, infark miokard, thrombosis vena dalam, varises, sindrom fosfolipid antibody. Dalam sirkulais terbnetuk thrombus kecil-kecil. Jika nyangkut di otak jadi stroke, Di pembuluh darah oragna dalam terjadilah deep vena thrombosis.

Regulator koagulasi

Berfungsi sebagai antikoagulan


Retraksi bekuan

Trombosit mengandung protein kontraktil (Actin & Myosin) & growth factors utk memperbaiki pembuluh darah.

Ratraksi memeras serum yang ada di dalamnya sehingga serum keluar.

Retraksi mulai terjadi dalam 1 jam stlh terbentuk clot.

Trombosit berkontraksi & menyatukan tepi-tepi pembuluh yg rusak.


SISTEM FIBRINOLITIK

Bekuan darah dilisiskan oleh Plasmin. Plasmin mrpk protein digesting enzyme. Jika kondisi berlebihan, dapat melisiskan fibrin, fibrinogen & bbrp jenis protein lain.

Agar tidak mencerna protein yang bermanfaat, plasmin di tubuh masih dalam bentuk proaktif.

Dlm sirkulasi berbentuk plasminogen (proenzim/ zymogen; blm aktif)

Plasminogen diaktifkan oleh TPA, cytokinases-urokinases (urine, CSF, air mata, saliva, air susu, c empedu, c synovial, sekresi prostat & c amnion). Pada dasarnya activator plasmin ada di seluruh tubuh karena pembekuan darah juga bisa erjadi di seluruh tubuh.


TPA – Tissue Plasminogen Activator dilepaskan oleh endotel ± 2 hari stlh terbentuk clot.

Normal : Plasminogen terdapat dlm sirkulasi darah & cairan tubuh, sementara Plasmin tidak krn adanya antiplasmin

Inactivators Plasmin : antithrombin III, a2-macroglobulin, a1-antitrypsin

Jika sudah aktif saat pembekuan belum sempurna, ya jadi ada perdarahan lagi karena sumbat tadi belum sempurna.


Sistem fibrinolitik hipoaktif à trombosis

Regulasi fibrinolisis


Faktor-faktor yg membatasi pembentukan clot

Homeostasis

Platelet charge (+) repels vessel wall

Natural Anticoagulants :

Antithrombin III – prevents Thrombin activity

Prostacyclin – inhibits platelets from sticking

Heparin- from endothelium and Basophils & masts

Vitamin E – Inhibits platelets – (but some studies have not shown it to reduce heart attacks, as aspirin will).


ASPEK KLINIS

Koagulasi dpt dicegah dg :

1. Aliran darah lancar

2. Pemberian antikoagulan atau obat2 fibrinolitik

Antikoagulan (heparin, warfarin, hirudin)

Obat fibrinolitik (t-PA, Streptokinase & urokinase) pada kasus stroke, varises, dll

Antiagregasi trombosit (Aspirin, inhibitor reseptor GP IIb/IIIa)


Pembentukan Bekuan Darah

Dari segi waktu. Agregasi dimulai dari menit pertama, sumbat pada menit ke 3-4. Fibrin dimulai dari menit awal. Pembekuan darah sempurna terjadi di menit ke-7 - 8. Dalam 8 menit sudah terbentuk sumbatan darah sempurna.

Bleeding time. Waktu perdarahan sekitar 1-3 menit.

Clotting time. Waktu pembekuan darah. Normal 3-6 menit.


Nah, itu tadi adalah proses hemostatis yang ada di tubuh kita. Keadaan ini harus berada dalam keadaan seimbang. Jika hemostatis lebih cenderung pada prokoagulan atau inhibitornya menurun, tubuh akan cenderung mengalami thrombosis. Sebaliknya, jika mekanisme antikoagulan menurun, fibronolistik menjadi hiperaktif dan terjadi perdarahan.


Sebenernya ini file ini ada gambar-gambarnya, tapi berhubung susah nguploadnya, langsung aja download di link ini ya... Hemostatis