Follow Us @soratemplates

Monday, 11 July 2011

Ih…, Cengeng

15:39 2 Comments
Barangkali, ada yang berkomentar begitu ketika melihat orang menangis. Kalau seorang bayi atau anak kecil, mungkin akan wajar sekali. Jika seorang wanita yang menangis,barangkali muncul rasa iba di hati. Tapi, jika pria yang menangis, apakah tetap dianggap tak ada masalah sama sekali? Rasanya terdapat sebuah dogma kalau laki-laki pantang menangis. Laki-laki haruslah kuat dan tak pantas untuk menangis. Ah, peraturan macam apa itu? Apakah lelaki menangis adalah hal yang memalukan?

Saya pernah melihat bapak saya menangis. Waktu itu, saya masih kelas 2 SMP. Bapak akan berangkat naik haji hari itu. Saya dipanggil ke kamar, diberi pesan ini itu, termasuk jika terjadi sesuatu. Saya menangis. Saya ingat benar, bapak saya berkata, “Bapak percaya, kakak itu anak yang kuat.” Saya melihat, bapak saya menangis. Atau lebaran tahun lalu misalnya. Adik laki-laki saya yang cueknya luar biasa ternyata bisa juga berkaca-kaca ketika sungkem pada bapak ibu. Mereka menangis dan bagi saya itu bukan hal yang memalukan.

Sayang sekali, kenapa perkara menangis dikaitkan dengan perbedaan gender. Hal yang sebenarnya umum tapi terlanjur terkotak-kotakkan dengan perbedaan jenis kelamin. Bermain boneka itu khas wanita, sepak bola itu laki-laki, dan masih banyak lagi. Padahal semua itu adalah hal yang asasi, tak ada larangan sama sekali. Apa salahnya pria menangis? Toh, saat mereka lahir pertama kali, mereka semua juga menangis.

Menurut saya, justru lebih menyedihkan pria yang tidak pernah menangis dibandingkan pria yang pernah menangis. Coba tanyakan pada hatinya. Apakah hatinya sekeras batu hingga tidak pernah merasa empati sedikit pun? Pria yang menangis justru membuktikan bahwa dia masih memiliki hati, masih memiliki perasaan, masih mau berempati.

Ah, untuk apa laki-laki menonjolkan perasaannya? Seperti perempuan saja. Barangkali ada yang berceloteh begitu. Hm, lagi-lagi terkotakkan oleh gender. Lihat saja, bukankah hati yang baik adalah hati yang lembut dan bukan hati yang keras dan bebal yang tidak bisa merasa lagi? Bukankah tujuan membaca Al-Qur’an, beribadah, menuntut ilmu adalah untuk melembutkan hati? Jadi, mengapa takut dicap berhati lembut seperti wanita jika hati yang lembut adalah hati yang sempurna.

Mungkin masih saja ada yang menyangkal. Kalau sekali dua kali, boleh lah. Tapi kalau sudah setiap hari, sungguh itu cengeng sekali. Benarkah? Lihatlah Rasulullah SAW. Beliau sholat dengan menangis. Ruku sambil menangis. Sujud menangis, dan bangkit lagi tetap dengan menangis. Lihat juga Abu Bakar Ash-Shidiq yang menangis setiap malam karena merasa belum berbuat apa-apa demi Islam. Sungguh kah kedua orang mulia tersebut memalukan, dicap orang cengeng, atau disamakan dengan wanita? Tidak.

Ah, beliau menangis karena bermuhasabah. Wajar kalau menangis saat introspeksi diri. Toh, tidak ada orang yang melihat. Tak ada orang-orang yang akan menjuluki cengeng. Coba bandingkan dengan orang yang melihat sesuatu mengharukan sedikit, lalu menangis. Orang yang mendengar hal indah atau memilukan, langsung menangis. Bahkan menangis di depan orang lain. Apakah pria seperti itu tidak kelewat cengeng? Begitu kah? Coba lihat Umar bin Khattab. Beliau tak malu menangis di depan orang lain. Ketika beliau mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an, beliau menangis di depan adiknya. Suatu ketika beliau mengunjungi Rasulullah SAW dan melihat Rasul tidur di tikar usang hingga membekas di tubuhnya, Umar bin Khattab menangis. Beliau mudah terharu. Apa lantas disamakan dengan cengeng? Tidak. Umar justru tetap dikenal sebagai panglima yang keras dan tak kenal ampun pada musuh.

Maka, lihatlah. Pria-pria pilihan Allah SWT sama sekali tak takut untuk menangis. Justru barangkali beliau akan takut jika sudah tidak bisa menangis. Saat hati sudah keras dan tak ada kepekaan lagi. Bukankah ini justru bahaya. Patut lah khawatir apakah hidayah masih bisa mampir. So, menangislah wahai pria, karna tangismu melembutkan jiwa.



Sunday, 10 July 2011

Dear Diary, Aku Diare

10:22 0 Comments

Sepertinya, tahun ini adalah ulang tahun paling memprihatinkan bagi saya. Bukan karena tidak ada perayaan sama sekali, tapi karena saya diberi hadiah yang sangat membuat miris hati. Sejak pukul 3 pagi saya sudah terbangun. Ada yang aneh rasanya. Perut saya terdengar bunyi timpani, seperti suara tung tung tung kalau diketuk dengan jari. Bising usus juga terdengar keras, bahkan tanpa alat bantu stetoskop. Perut rasanya diremas-remas. Mulas sekali.

Selepas Subuh, saya buang air. Eh, ternyata hanya cairan yang keluar. Waktu mandi pagi, terjadi lagi. Sebelum berangkat kuliah, lagi-lagi harus menyambangi kamar mandi sekali lagi. Karena hari itu ada praktikum, saya nekat menahan hasrat dan memutuskan berangkat kuliah. Selama praktikum, saya sudah bertingkah tidak karuan. Mondar-mandir ke sana ke mari hanya demi mengalihkan hasrat yang tak tertahan lagi. Akhirnya, saya memutuskan bolos kuliah setelahnya. Hanya demi melepas rindu, bertemu dengan kamar mandi. Hm, ternyata masih cair juga. Sepertinya, saya resmi diare.

Dalam sehari itu saya 14 kali berkencan dengan kamar mandi. Entah berapa botol minuman isotonic saya minum untuk mengganti cairan tubuh yang keluar. Saya sengaja tidak minum obat sama sekali karena teringat pesan dosen “Diare itu proses pertahanan tubuh untuk mengeluarkan racun. Jadi biarkan saja dan cukup diberi pengganti cairan tubuh.” Tapi sudah sehari semalam hal itu terulang terus, dan saya tak tahan lagi. Tiba-tiba saya teringat kata dosen Ilmu Kesehatan Anak “Kalau diare, anak harus segera diberi oralit dan diobati karena banyak kasus kematian anak terjadi akibat diare”. Saya pun memutuskan untuk minum obat. Toh, saya kan juga anak. Bagaimana kalau saya mati hanya karena diare? Alhamdulillah setelah saya minum obat, saya tak perlu lagi bercengkrama dengan kamar mandi.

Seumur-umur, baru kali ini saya diare. Yang lebih bikin geleng-geleng kepala, kenapa diarenya harus saat ulang tahun saya. Waktu itu ada teman yang nyeletuk, “Mungkin di hari ulang tahunmu ini ada yang mendoakanmu begini: Mudah-mudahan selalu diberi kelancaran oleh Allah.” Duh, kalau kelancaran yang ini sih, saya pilih tidak terlalu lancar saja.

Tapi, celetukan teman saya itu membuat saya berpikir. Dalam hal buang air besar, kelancaran yang tiada tara ternyata tidak mengenakkan juga. Bagaimana mungkin enak kalau tiap jam harus kejar setoran. Sudah seperti penjaga WC umum saja karena stand by di depan kamar mandi seharian. Tapi, begitu mengalami konstipasi, rasanya juga tidak enak sekali. Sekali buang air bisa bermenit-menit. Tarik nafas dalam, mengejan. Persis seperti ibu akan melahirkan. Tentu yang paling menyenangkan adalah buang air yang normal saja. Tidak terlalu padat, tidak terlalu cair.

Nah, saya mengaplikasikannya dalam kehidupan. Mungkin kalau do’a agar diberi kelancaran itu terkabul, hidup akan lurus-lurus saja. Mau ini bisa, mau itu bisa. Semua mudah dan serasa tidak ada perjuangan untuk meraihnya. Enak kah? Rasanya tidak. Di lain sisi, ketika hidup itu keras sekali, mungkin akan terasa sangat berat. Usaha yang dilakukan begitu mati-matian. Tapi, apa yang didapatkan ketika kita berhasil meraih kesuksesan dari kerja keras itu? Rasanya akan lega sekali. Persis kalau konstipasi itu akhirnya berhasil diatasi.

Saya kira, mungkin memang lebih baik begitu adanya. Kalau hidup terlalu lancar, kita hanya akan menjadi orang manja yang tak pernah merasakan nikmatnya berjuang. Tapi jika hidup kita normal atau cenderung berat, bersyukurlah. Karena hidup normal tetap butuh usaha, apalagi hidup berat yang butuh kerja sangat keras. Dengan usaha itu, kesuksesan akan terasa lebih nikmat. Maka syukurilah hidupmu, walau seberat apapun itu.

Terima kasih Ya Allah telah mengingatkan saya dengan memberi hadiah kelancaran di ulang tahun saya tahun ini.



Saturday, 9 July 2011

Just The Way You Are

16:51 5 Comments
Liburan telah tiba, ujian pasti sudah jauh meninggalkan kita. Walau begitu, saya masih saja terkenang dengan masa-masa ujian. Terbayang bagaimana hebohnya atau bagaimana deg-deg-annya. Ada satu hal yang menarik hati saya kala persiapan ujian kemarin. Setiap orang punya cara tersendiri untuk mempersiapkan dirinya.

Ada sebuah lelucon kecil antara saya dengan kawan saya yang sama-sama alumni SMA 1 Solo. Kurang lebih kelakar kami begini, “Anak SMA 1 dan SMA 3 itu beda sekali. Kalau anak SMA 1, H-1 ujian mungkin baru buka buku. Tapi kalau anak SMA 3, H-seminggu sudah ribut minta ampun tidak paham ini itu.” Hm…, menarik.

Sebagai warga alumni SMA 1, saya mengiyakan itu. Entah mengapa, apa iklim SMA 1 yang santai atau karena kami semua yang kebetulan berkarakter sama. Tapi memang begitulah adanya. Dalam minggu ujian, kadang saya masih santai menyelesaikan proyek ini itu. Pernah ada satu blok yang dianggap sebagai neraka karena kakak tingkat selalu mencetak rekor remidi terbanyak di blok itu. Saat H-1 ujian blok tersebut, semua teman sudah ribut sekali. Awalnya saya santai-santai saja, tapi begitu melihat teman-teman saya yang panik, saya jadi ikutan panik. Bayangkan saja, tidak ada 24 jam lagi ujian dan saya belum membaca materi-materinya. Sedangkan teman-teman saya sudah saling diskusi ini itu, saling menguatkan agar pasrah jika memang harus remidi. Begitu saya pulang ke rumah, saya tekadkan begini. “Tenang, kamu punya ritmemu sendiri.”

Akhirnya, malam itu saya matikan HP agar tidak terganggu teman-teman yang sudah pada ribut. Saya tak peduli bagaimana besok, yang pasti saya punya cara sendiri untuk kebut semalam melahap materi-materi susah ini. Saat ujian pun, saya pasrah luar biasa. Usaha semaksimal mungkin. Dan Alhamdulillah, saya lolos dari undangan angkatan yaitu remidi blok tersebut.

Terlepas dari benar atau salah cara saya belajar, masing-masing dari kita sudah memiliki cara belajar sendiri-sendiri. Mungkin teman saya yang SMA 3 akan menangis darah kalau H-1 ujian belum pegang materi sama sekali. Tapi, bagi penganut sistem kebut semalam seperti saya dan anak-anak SMA 1 lainnya, kami bisa tenang-tenang saja. Mungkin, teman-teman saya yang anak SMA 3 akan geleng-geleng kepala dan berkata begini, “Kok bisa sih? Memangnya ga deg-degan? Ga takut kalau materinya ga selesai dipelajari?” Saya sendiri justru menolak itu mentah-mentah.

Bukan berarti saya mendukung kemalasan dan menganjurkan untuk belajar H-1 saja, tapi yang terpenting di sini adalah belajar sesuai ritme kita sendiri. Kalau saya mengikuti ritme teman-teman saya yang heboh pada saat itu, mungkin saya akan tergesa-gesa dalam belajar. Saya hanya bertarget untuk segera selesai melahap semua materi itu. Tapi, saya menguatkan diri untuk tenang dan mempertahankan ritme saya sendiri. Saya tetap pelan-pelan membaca, memahami sedikit demi sedikit, dan dengan begitulah ilmu itu benar-benar dipahami di otak.

Kita sudah sama-sama belajar belasan tahun. Sudah pernah mengalami ujian belasan tahun dan sudah mempersiapkan ujian belasan tahun juga. Tentunya kita punya kebiasaan tersendiri. Kalau memang harus diulang-ulang, dipersiapkan jauh-jauh hari, mungkin itulah yang terbaik. Tapi, kalau saya memang sudah terbiasa dengan situasi mendesak seperti itu, mungkin tak masalah kalau memang harus begini.

Sekarang, kalau H-1 ujian saya berkata, “Aku malah belum belajar tentang itu,” teman dekat saya pasti akan menjawab, “As usual. Memang itu gayamu.” So, tenanglah. Just the way you are. Kamu punya ritmemu sendiri.




Friday, 8 July 2011

Mati Lampu Itu Menenangkan

21:35 2 Comments

Banyak orang mengeluh ketika listrik padam. Suasana gelap, beberapa aktivitas yang sangat mengandalkan listrik terhenti. Memang tidak bisa dipungkiri, listrik sudah menjadi barang pokok. Tapi, seperti pula barang pokok lainnya, kadang tidak adanya barang pokok itu justru memberikan ketenangan dan menghadirkan banyak perenungan. Seperti ketika puasa, manusia justru mendapat ketenangan jiwa. Demikian pula saat puasa listrik, saya pun merasakan ketenangannya.

Sudah sejak ba’da Sholat Jum’at listrik padam. Semua aktivitas terhenti. Biasanya, adik akan menyalakan TV di kamar menonton Abdel Temon, Awas Ada Sule, atau serial lucu lainnya. Saya menyalakan TV di ruang tengah, setia dengan kelanjutan cerita film korea. Mbak Yatmi kadang-kadang masih menyelesaikan setrikaannya sebelum pulang. Begitu listrik padam, kami semua hanya diam.

Suasana justru terasa tenang. Adik dan saya tak perlu saingan suara televisi. Hingga kadang suara tamu yang mengetuk pintu tak terdengar lagi. Tak ada lagi suara mesin kulkas yang menderu. Tak terdengar lagi suara dispenser memanaskan air yang akan berbunyi klik ketika air mendidih. Tak ada pula suara deru mesin pemanas air di kamar mandi ibu begitu lampu kamar mandi dinyalakan. Semua diam, semua tenang.

Dalam keheningan ini saya justru merasakan kedamaian. Jendela terbuka lebar untuk mencuri cahaya matahari. Saya dan adik bercengkrama di kamar ibu yang paling banyak menerima sinar. Mungkin kalau listrik tidak padam, tidak akan begini. Masing-masing kami akan sibuk dengan aktivitas sendiri-sendiri.

Dalam keheningan ini saya justru merenung. Yang terdengar hanyalah jam yang terus berdetak. Betapa keadaan ini mengingatkan pada suatu masa yang akan datang. Sang waktu menyentil hati saya. Ingatlah, inilah keadaan yang akan kau hadapi nanti. Ya, keadaan sunyi ketika kita tidak bisa beraktivitas lagi, ketika tak ada cahaya sama sekali. Cuma yang masih menjadi perkara, apakah kesunyian kelak juga kedamaian seperti sekarang ini ataukah ketakutan yang menjadi-jadi. Karena tak jarang pula, orang mengeluh ketika listrik mati.

Rasanya, keadaannya persis sama. Ada orang yang tenang dengan listrik mati. Merasa tidak ada masalah dan semua keadaan aman terkendali. Mungkin karena aktivitas sebelumnya sudah berjalan sesuai rencana. Tapi tak jarang pula banyak orang yang mengeluh setengah mati. Mungkin karena ada banyak janji atau mengulur waktu. Harus mengirim email lewat speedy, menyetrika baju yang akan dipakai sore ini, mengeprint makalah yang harus dikumpulkan siang tadi, atau aktivitas lain. Yang ada hanya tinggal keluhan karena bisa saja email dikirim sejak pagi, baju disetrika sejak kering, atau makalah diprint tanpa menunggu batas akhir.

Jika diibaratkan dengan keadaan kita kelak, saya rasa tidak jauh beda. Ketika kita hanya sendiri dalam kegelapan dan kesunyian, mungkin kita tergolong orang yang tenang karena semua tidak ada masalah. Atau kita akan menjadi orang yang terus melolong karena banyak yang belum kita lakukan. Bekal belum cukup. Ilmu tidak memadai. Iman tidak kuat dan amal belum mencukupi.

Dari mati listrik ini saya belajar. Belajar untuk memaknai kesunyian, memanfaatkan waktu sebelum listrik padam. Saya tersadar bahwa saya harus memanfaatkan hidup saya sebelum hidup saya lah yang benar-benar padam.

PS: Ending yang makin menentramkan. Pas ketika paragraph terakhir ditulis, masjid-masjid di kejauhan mengumandangkan adzan Ashar.



Thursday, 7 July 2011

Mbak Inggih

08:34 1 Comments
Miris, mungkin itu yang saya rasakan. Ada yang bilang, kalau tinggal di kota besar harus siap bersahabat dengan keangkuhannya. Kalau ingin tetap bergaul dengan sesama, tinggal saja di desa. Benarkah begitu? Mungkin ada benarnya, tapi desa dan kota sekarang sama saja. Seperti yang saya alami misalnya.

Setiap setengah enam pagi, saya akan keluar rumah untuk menyapu jalan. Kejadian yang terjadi selalu sama. Seorang anak perempuan dengan jarak 1 rumah dari saya akan ikut menyapu juga. Lalu ada seorang ibu pulang dari pasar dengan motor vario. Tak lama kemudian, seorang ibu dengan jaket merah mengendarai sepeda menuju pasar. Ketika melewati saya, kedua ibu itu akan berkata, “Mbak…” dan saya menjawab, “Nggih…”. Selalu begitu.

Saya tidak tahu, kedua ibu itu di mana rumahnya, siapa namanya, dan kenapa memilih jalan ke pasar dengan melewati jalan depan rumah saya. Padahal masih ada jalan kampung yang lebih besar. Tapi, saya justru merasa dekat karena saling menyapa. Awalnya kami hanya tersenyum atau saling mengangguk ketika saya menghentikan menyapu dan membiarkan beliau lewat terlebih dahulu. Lama-lama, ibu itu mulai berani menyapa, walaupun memang hanya ‘mbak’ saja. Lucunya, kedua ibu itu tidak melakukan hal yang sama pada tetangga saya. Mungkin karena tetangga saya tetap saja menyapu dan tidak ambil pusing ketika kedua ibu itu lewat.

Kejadian serupa juga terjadi ketika saya memanaskan mesin motor saat berangkat agak pagi. Dua orang anak SD akan lewat sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Sapaannya lebih hangat, “Mbak, mau berangkat?”. Dan saya akan menjawab sambil tersenyum dengan hangat. Padahal mereka anak-anak kampung yang rumahnya agak jauh dari perumahan saya. Hanya kebetulan saja lewat karena SD mereka terletak di ujung rumah saya.

Tapi itu hanya sebagian kecil dari sekian banyak orang yang lewat di depan atau di samping rumah. Sebagian besar akan tetap berlalu, walau mungkin mata sudah saling bertemu. Itu yang membuat miris. Saya tidak tinggal di perumahan elite, bahkan dekat dengan kampung yang masih terlihat sawahnya. Di alamat pun masih memakai embel-embel desa. Tapi budaya sapa rasanya mulai terkikis. Ada yang bilang, maklum ini perumahan para pekerja. Suami istri banyak yang berkarier, anak-anak sibuk sekolah, budaya pun mengikuti kota-kota metropolitan.

Padahal tidak juga. Saat saya di Depok dulu, setiap keluar kos, akan ada ibu-ibu asli Betawi yang bertanya, “Berangkat kuliah neng?” atau “Mau cari sarapan neng?”. Bahkan ketika saya akhirnya meninggalkan Depok, ibu itu berkata “Hati-hati ya neng. Mudah-mudahan tercapai cita-citanya.” Itu cuma ibu tetangga kos saya yang asli Betawi. Suaranya saja cablak sekali. Malah yang sama-sama orang Jawa asli di samping kos saya, angkuhnya luar biasa.

Mengkhawatirkan juga. Jujur saja, mungkin saya tidak hafal nama pemilik rumah dalam radius beberapa puluh meter dari saya. Tapi kalau di desa, tetangga kampung yang jaraknya berkilo-kilo masih tahu siapa namanya dan bagaimana keluarganya. Rasanya memang menyedihkan. Tapi saya rasa ini bukan perkara desa atau kota. Ini perkara mau tidak kita membuka hati dan mata. Lalu membuka mulut untuk menyapa.

Terkadang tetangga samping rumah memang terasa lebih jauh dibanding tetangga jauh yang rela saling sapa. Mungkin itulah yang terbaik. Memanusiakan manusia dengan menyapa karena menganggap mereka benar-benar ada.