Follow Us @soratemplates

Sunday, 4 September 2011

Cumlaude atau Kemelut

10:03 2 Comments

Sebagai mahasiswa, tak jarang meributkan masalah IP dan IPK. Siapa sih yang tidak mau dapat IP cumlaude? Pasti semua mau.

Memang, IP cenderung dinyatakan sebagai barometer keberhasilan belajar seorang mahasiswa. Orang dengan IP tinggi memang cenderung sukses belajarnya. Tapi, saya pribadi sebenarnya tidak setuju.
Saya tertarik waktu membaca artikel di blog teman saya. Dia menceritakan ketika dia ujian praktek ada dosen yang mengomentarinya sebagai ‘dokter penghafal’. Lulus sih lulus, sesuai teori sih sesuai teori. Tapi persis sama dan benar-benar terlihat seperti menghafal. Nah, di sini yang saya tidak setuju. Jikalau keberhasilan suatu ujian atau IP tinggi hanya didapat dengan cara menghafal, rasanya kok dangkal sekali.

Saya jadi teringat film 3 idiot. Si silencer yang penghafal saklek nyatanya tetap kalah dengan Rancho yang aplikatif sejati. Bahkan tabiat silencer yang menggunakan prinsip yang penting hafal, nyatanya justru menjadi aib karena tidak memahami apa yang dihafalkannya. Sungguh berbeda jika kita bisa memahaminya. Meski redaksi katanya tidak sama, makna yang ingin disampaikan tetap akan bisa diterima.

Maka, bagi saya IPK cumlaude belum menjadi sebuah jaminan. Bagi para aktivis organisasi, tak jarang mereka menggembor-gemborkan tentang pentingnya soft skills dibandingkan semata-mata hard skills. Daripada belajar melulu tanpa tahu dunia luar, lebih enak melihat indahnya dunia asal tetap tanggung jawab pada belajarnya.

Saya juga teringat dengan komentar kakak tingkat saya. Dia adalah orang yang hidupnya tak semata-mata fokus pada kuliah saja. Organisasi tetap jalan, aktivitas ilmiah tetap enjoy, andil asisten pun dia lakoni. IP-nya tidak cumlaude. Tapi nyatanya dia diakui. Berbeda dengan seseorang yang IPK-nya sempurna. Sampai-sampai dilirik untuk menjadi dosen selepas sarjana. Tapi, ternyata banyak kendalanya. Dia tak pandai menjelaskan. Tak pandai berkomunikasi dan membagi ilmunya dengan orang sekitar. Hm, kalau begini jadi terkesan pintar untuk dirinya sendiri.

Saya sendiri sering heran dengan teman-teman saya. Beberapa teman yang IP-nya cumlaude justru lebih rewel dibandingkan teman lainnya. IP segitu bagi mereka masih buruk. Saya juga sering takjub melihat teman saya yang hidupnya begitu terpaku pada kuliah. Sehari-hari mengejar kesempurnaan nilai ujian. Begitu remidi, frustasinya bukan kepalang. Tak ada cumlaude, mendadak jadi kemelut. Hm, lha wong saya yang IP sedang-sedang saja, dan kadang ikut mendapat kehormatan remidi tetap tenang-tenang saja.

Memang, definisi keberhasilan belajar tiap orang berbeda-beda. Semua tergantung paradigmanya. Belum lagi jika terpengaruh dengan sudut pandang orang tuanya. Misalkan orang tua menganggap nilai atau IP merupakan ukuran kecerdasan anaknya, bukan tak mungkin anak akan mengejar nilai mati-matian. Nah, kalau semata-mata nilai inilah, bisa-bisa segala cara dihalalkan. Asal nilai bagus, kebut semalam tak masalah, contek kiri kanan tak masalah, dan lain sebagainya.

Jarang sekali yang memiliki paradigma ujian benar-benar untuk menguji proses belajarnya. Sehingga dia akan belajar sungguh-sungguh untuk memahami ilmunya. Lalu mengikuti ujian untuk mengetahui apakah pemahamannya sudah sesuai standar dan layak dikatakan menguasai ilmu tersebut. Kalau nilainya bagus, berarti dia memang benar-benar paham. Kalau nilainya buruk, berarti ada hal lain yang harus dia kuasai. Bukankah lebih enak begitu?

Sayangnya, sudut pandang ini memang sulit. Mungkin bagi teman-teman yang begitu semangat belajar, cara berpikir ini terkesan santai dan tidak gigih belajar. Menurut saya tidak juga. Justru karena paradigmanya adalah ingin menguasai ilmu dan tidak semata-mata mencari nilai, maka dia akan rutin belajar. Tak akan memiliki rasa lelah untuk belajar, akan selalu mencari jawaban dari segala rasa ingin tahunya. Meski perlahan dan lama, tapi dia akan tetap sabar untuk memenuhi rasa haus akan keingintahuannya. Bukankah ini lebih baik daripada sekedar menadah setiap perkataan dosen atau teori di buku lantas menghafalnya persis sama agar jawaban di ujian juga benar-benar sama?

Yah, itu bagi saya. Seperti di film 3 idiot. Manusia bukanlah robot penghafal, dan dunia di luar sana tidak butuh robot. Dunia butuh manusia, yang mau belajar dan bisa mengaplikasikan ilmunya. Buat apa lulusan cumlaude tapi tak punya skills. Persis seperti yang dikhawatirkan salah satu pakar pendidikan di bukunya. Universitas hanyalah pencetak orang-orang berpendidikan tanpa ketrampilan. Sungguh disayangkan. Mengapa? Karena mayoritas terpaku pada nilai semata, tanpa ada fokus pada ilmu dan pengembangannya. Akan begitukah seterusnya?

Tentu saja tidak. Semoga tidak. Maka, marilah sedikit kita ubah paradigma. Seberapapun IP-nya asal menguasai ilmu dan bisa mengaplikasikannya, itu lebih baik. Jadi, mau cumlaude atau tidak, asal ilmu dipahami dan diamalkan tak akan ada lagi istilah kemelut. Insya Allah…

Saturday, 3 September 2011

Cinta Segunung dan Seujung Kuku

10:00 1 Comments

Ada yang menarik ketika membaca buku Catatan Seorang Ukhti. Di situ dikatakan cinta laki-laki itu sebesar gunung, sedangkan cinta perempuan hanya seujung kuku. Wah, perbandingan yang sangat jauh. Tapi setelah dipaparkan, ternyata ada benarnya.

Cinta laki-laki itu sebesar gunung. Terlihat sejak awal, hingga akhir. Tapi ya hanya sebesar gunung itu. Konstan, tidak bertambah. Bahkan, yang sangat disayangkan, gunung itu bisa meletus dan hancur berkeping-keping. Musnah. Layaknya cinta membara yang tiba-tiba padam seketika, tak ada sisa.

Berbeda dengan perempuan. Cintanya memang hanya seujung kuku. Tapi kuku itu terus tumbuh. Meski dipotong sekalipun, atau meski kuku terluka dan kena borok sekalipun. Kuku akan tetap tumbuh. Layaknya cinta yang meski tersakiti tapi tetap tumbuh dalam jiwa.

Kalau di buku tersebut, diberikan contoh orang tua dari teman penulis yang berpisah karena sang ayah selingkuh. Meski ayahnya pergi, sang ibu tetap menerima dengan lapang hati. Ketika ayah itu kembali dan mengakui salahnya, dengan mudahnya ibu itu memaafkan dan kembali membina rumah tangga. Hm, rasanya kok mudah saja.

Saya jadi teringat salah satu perkataan guru sejarah saya waktu SMP. Guru saya berkata, “Keutuhan rumah tangga itu tergantung pada istri. Kalau istrinya baik, rumah tangganya juga baik. Kalau istrinya buruk, rumah tangga juga buruk.” Awalnya, saya tidak percaya. Bagaimana bisa rumah tangga tergantung pada istri. Bukankah bagaimanapun seorang suami adalah imam? Kalau imamnya saja buruk, tentu rumah tangga akan buruk kan. Kalau imamnya baik, rumah tangga juga akan baik. Dulu, saya pikir begitu.

Tapi, saat ini saya mengakui perkataan guru SMP saya itu seratus persen benar. Realitanya memang banyak saya temui di kehidupan sekitar saya. Ketika sang suami terbelit masalah, bisa saja sang istri menuntut cerai. Banyak kasus begitu. Rumah tangga bubar karena istri merasa suami tidak memberi nafkah dan justru membawa masalah. Lain halnya dengan istri yang sabar. Meski tak ada nafkah dan yang ada hanya masalah, sang istri tetap bertahan. Dan karena bertahan itulah, rumah tangga pun terselamatkan.

Yah, memang. Tak jarang rumah tangga di sekitar saya hancur karena andil istrinya. Memang, awalnya bisa jadi karena ulah suaminya. Tapi perkaranya adalah apakah sang istri mau bertahan. Karena bagaimanapun perasaan rentan memang cenderung ada pada istri. Suami sakit dan bikin repot, istri tak tahan lantas pergi. Suami di PHK dan terlilit hutang, istri kelimpungan lantas pergi. Dan masih banyak kasus lain.
Di lain sisi, meski suami nakalnya seperti apapun, kalau istrinya baik, rumah tangga akan kembali utuh. Seperti contoh kasus tadi. Meski suami selingkuh, istri tetap setia menunggu di rumah.

Saya jadi teringat salah satu forum diskusi di internet. Waktu itu saya iseng-iseng saja baca tentang pendapat para suami istri mengenai selingkuh dan menikah lagi alias poligami. Beberapa suami memang mengakui ada kecenderungan tertarik dengan wanita lain dan terpikir untuk menikah lagi, atau  parahnya selingkuh. Tapi, saya ingat betul pendapat salah satu suami. Dia berkata, “Saya tertarik pada satu wanita, hampir kejadian saya selingkuh. Tapi urung terjadi. Gara-garanya, ketika di rumah, saya tak tega melihat istri saya. Melihat istri saya bangun malam dan sholat dengan khusyu, dilanjutkan dengan doa panjangnya, mana saya tega untuk main-main dengan wanita lain.” Hm, menarik juga.

Yup, begitulah. Cinta perempuan yang seujung kuku ini hanya dimiliki oleh perempuan-perempuan yang baik. Kalau bukan perempuan yang baik, tak ada bedanya dia dengan cinta segunung yang kemudian meletus dan hancur berkeping-keping. Cinta yang hanya seujung kuku ini pun menjadi bukti bahwa cintanya tak semata-mata hanya untuk suaminya. Ada cinta yang lebih utama yaitu cinta pada Allah dan Rasulnya. Justru dengan adanya porsi cinta yang lebih besar pada Allah inilah yang menjadikannya sebagai perempuan yang baik dan sempurna.

Jadi berbahagialah jika cinta ini hanya seujung kuku. Bukannya tidak ingin mengerahkan sepenuh cinta yang dimiliki. Tapi, kecenderungan meski sedikiti tapi tulus dan tak pernah mati, itulah yang lebih berharga. Jadi, jangan salahkan kami jika hanya memiliki cinta seujung kuku. Bukankah lebih baik begitu?

Friday, 2 September 2011

Makan…!

09:58 0 Comments

Berhentilah makan sebelum kenyang. Pernah mendengar tentang ini? Pasti sudah sering sekali. Sepertinya, hanya mendengar terasa mudah saja. Tapi, bagaimana dengan penerapannya? Apakah semudah proses mendengarnya?

Saya akui, perintah ini cukup sulit untuk saya lakukan. Apalagi kalau sudah ngumpul lebaran di rumah simbah dengan banyak saudara. Persis seperti lagu waktu kecil dulu ‘satu mulut saya, tidak berhenti makan’. Perut terus-terusan menggiling. Baru benar-benar berhenti kalau sudah tidur. Habisnya, mau gimana lagi. Tau anak cucu ngumpul, simbah saya tak henti-hentinya masak. Sebagai cucu yang baik, saya kan merasa harus turut andil. Turut andil menghabiskan maksudnya. Daripada mubadzir. Iya nggak?
Hm, di sini nih menariknya. Pendapat spontan saya yang menyangkal perintah itu dengan dalih daripada mubadzir.

Bagaimanapun perintah tersebut tetaplah perintah yang baik. Pasti sudah sering mendengar kalau perut sebaiknya diisi sepertiga makanan, sepertiga air, dan sepertiga udara. Kalau salah satu lebih banyak, makanan misalnya, pasti keadaannya tidak baik. Nah, di sinilah pentingnya makna berhenti makan sebelum kenyang.

Dari segi medis, hal ini jelas terbukti. Dalam pengaturan pola makan, yang lebih baik adalah makan sedikit  tapi sering, daripada makan banyak tapi jarang. Makanya, kenapa dalam program diet atau pengaturan menu di rumah sakit ada lima jam makan. Makan pagi, snack pagi, makan siang, snack sore, dan makan malam. Porsi makannya pun cukup saja. Disesuaikan dengan kebutuhan kalori pada saat itu. Berarti kan prinsip makan berhenti sebelum kenyang jelas tercukupi di sini.

Masalah mubadzir ini pun sebenarnya mengada-ada saja. Memang kita tidak boleh membuang-buang makanan. Tapi bukan berarti lantas menghabiskan semua makanan dalam sekali makan. Ada cara untuk mengakalinya. Yaitu dengan mengambil secukupnya saja. Tekan nafsu sebaik mungkin dan ambil secukupnya jadi. Dan makanan yang di piring itulah yang harus dikenai prinsip mubadzir. Kalau mengambilnya tak pakai nafsu dan sekedar secukupnya, insya Allah tak akan ada yang mubadzir. Makanan yang tak diambil pun masih bisa disimpan dan dimakan lain waktu. Jadi, tak perlu kekenyangan dan tak sampai buang-buang makanan juga kan.

Masalahnya, kalau lebaran begini terkadang trik begitu memang susah. Setiap silaturahmi ke rumah saudara, tak jarang disuguhi makan. Kalau mengikuti prinsip di atas, pasti akan menolak. Tapi kalau menolak, nanti membuat tuan rumah merasa tidak enak hati. Dikiranya tidak mau makan, atau dikira tidak menghargai tuan rumah.

Kalau untuk kasus ini, saya mengikuti trik bapak saya. Kalau ditawari makan, diusahakan untuk tetap menerima. Tapi biar ga kekenyangan, gunakan trik ambil sedikit tapi banyak. Misalkan disuguh nasi, lauk, oseng-oseng, kerupuk. Nah, caranya ambil nasi kira-kira satu atau dua sendok makan saja. lalu nasi yang hanya sedikit itu dilebarkan ke mana-mana. Nasi dibuat setipis mungkin mengenai dasar piring, dan diusahakan menutupi selebar mungkin dari luas piring. Lalu, ambil oseng-oseng sedikit saja. Taruh di bagian pinggir piring dan biarkan melingkar panjang. Ambil lauk dan taruh di sisi yang berbeda. Lalu ambil kerupuk dan taruh menutupi sisi yang tidak terdapat apa-apa.

Nah, begitu makan di depan yang punya rumah, diusahakan makannya pelan-pelan dan sedikit-sedikit saja. Dengan makanan yang terlihat luas di piring, dikiranya kita mengambil banyak makanan. Dengan waktu makan yang lama, dikiranya kita memang makan cukup banyak juga. Padahal…

Itu sih cuma salah satu trik saja. Biar tetap berhenti makan sebelum kenyang, tetap menghormati tuan rumah, dan tidak membuat makanan jadi mubadzir. Trik ini cukup ampuh juga. Penasaran? Silakan coba. Atau, Anda punya trik lainnya?


Thursday, 1 September 2011

Lebaran atau Liburan

20:54 0 Comments

Ada satu rubrik menarik di majalah langganan ibu minggu kemarin. Menu utamanya membahas tentang lebaran. Apa yang menarik? Majalah itu menyoroti satu fenomena yang sering terjadi di masyarakat akhir-akhir ini. Agenda lebaran dewasa ini justru dialokasikan untuk liburan. Hm, sebenarnya lebaran atau liburan?

Sejak kecil, ketika mendengar kata lebaran, yang terbayang adalah jalan-jalan mengunjungi rumah simbah dan sanak saudara. Sampai sekarang pun tetap dilaksanakan. Tapi, ada satu agenda yang kini selalu dilakukan, yaitu liburan.

Dua tahun lalu, saya dengan sepupu-sepupu perempuan dari keluarga bapak pergi ke Waduk Gajah Mungkur dan Taman Jurug. Sedangkan sepupu-sepupu yang laki-laki main ke pantai Jogja. Tahun lalu, saya dengan keluarga dari ibu pergi ke pantai Pacitan. Malam ini pun, setelah serangkaian acara, sepupu-sepupu mulai ribut menentukan mau libur ke mana.

Hm, liburan!

Ini masih mending. Setelah silaturahmi selesai, baru liburan. Kalau penuturan di majalah ibu saya lebih parah lagi. Mereka tak lagi melakukan silaturahmi. Orang-orang yang tua telah tiada, generasi-generasi muda sudah malas untuk berkumpul bersama. Yang ada, waktu luang yang mungkin jarang ditemukan mereka manfaatkan sebaik-baiknya untuk liburan bersama keluarga kecilnya.

Ya, agak miris memang. Silaturahmi tak lagi menjadi sebuah kebutuhan. Generasi muda jaman sekarang lebih fokus pada keluarga kecil mereka. Jujur, saya saja tak bisa menyebutkan tiga generasi di atas saya. Kalau kumpul keluarga trah, saya tak tahu namanya. Asal tahu itu keluarga saja, rumahnya yang di sekitar itu saja.
Kalau pun keluarga jauh yang menjadi dekat, itu pun harus ada historinya. Entah karena saya karya wisata ke Bali lalu dijenguk saudara di hotel. Atau karena saya awam merantau di Depok lalu dibantu saudara. Sebatas itu saja. Kalau tak ada momen itu, mungkin saya tak merasakan ikatan saudara itu. Hm, parah!
Yah, padahal silaturahmi itu penting. Begitu banyak manfaat yang bisa kita peroleh dari silaturahmi. Sayang, manusia tak banyak tahu, atau tak mau tahu.

Silaturahmi akan memperpanjang usia. Yah, kita tahu jatah usia kita memang tak akan bertambah atau berkurang. Tapi barangkali makna panjang usia itulah yang kita peroleh. Ketika kita bertemu orang lain, bisa jadi hati kita bahagia. Bisa saling bersuka cita, saling bercanda, penuh senyum tawa. Nah, inilah yang maknanya bisa memperpanjang usia kita. Ketika kita tersenyum dan bahagia, hormon-hormon dan sel-sel di dalam tubuh kita pun akan ‘merasa bahagia’. Keadaan inilah yang penting bagi kesehatan kita. Dengan sehat inilah, usia kita terasa lebih panjang.

Silaturahmi akan membuka pintu rizqi. Haha, bagi anak kecil hal ini jelas sangat terbukti. Siapa yang makin rajin mengunjungi rumah-rumah, makin banyak pula fitrah yang diterima. Nah kan, silaturahmi membuka pintu rejeki. Memang bisa dibenarkan. Dengan saling berjumpa, bisa jadi terbuka peluang rejeki di depan mata. Yang pengusaha, bisa jadi ini dijadikan peluang untuk membuka mitra kerja. Yang saudagar, bisa jadi ini dijadikan peluang untuk menjajakan dagangannya. Banyak lagi. Semuanya bisa jadi peluang untuk membuka jalan mengais rizqi.

Persis seperti yang tercantum dalam salah satu hadits. “Barangsiapa yang suka rezekinya dilapangkan, atau usianya dipanjangkan, hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Al-Bukhari, bab Orang yang suka dilapangkan resekinya).

Nah, ingin lapang rezeki dan panjang usia kan? So, ayo silaturahmi.

Harapan Kita

09:56 0 Comments

Wah, apaan nih? Nama rumah sakit yang biasa muncul di sinetron-sinetron? Hm, tidak kawan.
Saya sedang membicarakan sebuah harapan. Kata ‘kita’ sendiri sebagai penanda bahwa yang berharap ada banyak orang, tidak sekedar diri kita sendiri. Nah, siapa yang berharap? Keluarga kita.

Ada satu hal menarik yang saya harap di setiap Idul Fitri. Biasanya keluarga besar saya baik dari bapak maupun ibu akan berkumpul dan ‘sungkem’ bersama. Di sinilah menariknya. Tak jarang kata-kata wejangan dari para orang tua terasa lebih bermakna. Dan biasanya, kata-kata yang ‘unik’ itulah yang sering saya ingat baik sengaja atau tak sengaja.

Ya, mungkin harapannya bisa standar saja. Mulai dari belajar yang rajin, jadi anak yang sholeh, membantu bapak ibu, dan lain sebagainya. Tapi kata-kata itu setidaknya mengingatkan kita. Inilah yang diharapkan orang lain pada diri kita. Simbah yang berharap agar kita pintar, bapak ibu yang berharap agar lebih kuat, dan masih banyak lagi.

Bagi saya ini penting sekali. Bukan hal yang salah jika orang lain mengingkan kita menjadi orang yang begini atau orang yang begitu. Harapan mereka adalah doa. Dan tak ada salahnya mereka mendoakan yang baik untuk kita. Nah, dengan harapan yang diutarakan itulah, kita jadi tahu. Oh, inilah yang harus saya lakukan. Inilah yang seharusnya saya upayakan. Memenuhi harapan mereka, berusaha menjadi cucu atau anak yang baik dalam sudut pandang mereka.

Mungkin ada yang mengatakan itu terlalu ribet dan terlalu dibesar-besarkan. Yah, kita adalah kita. Biarlah kita menjadi apa adanya kita. Mau kita seperti apa, terserah kita.

Saya sendiri pun mengiyakan sebuah kisah yang saya dengar dahulu. Kita tak akan selesai jika selalu menuruti keinginan orang lain. Karena orang lain itu banyak, keinginan orang itu berbeda-beda. Jika kita menuruti satu, belum tentu sesuai dengan yang lain. Jadi, untuk apa mengikuti harapan orang lain? Ujung-ujungnya kita justru tak dapat apa-apa.

Ya, bisa dibenarkan juga pandangan itu. Tapi, dalam batasan tertentu. Pandangan itu benar sebatas untuk membentengi diri agar tidak mudah menuruti keinginan orang. Bagaimana pun kita tetap punya prinsip untuk menjadi diri sendiri. Jadi, harapan orang lain bisa jadi tetap dilakukan. Tapi dengan melihat harapan itu sendiri. Tak semua harapan harus dikabulkan. Jika itu benar dan sesuai dengan jati diri, barulah boleh untuk dilaksanakan.

Di lain sisi, harapan pun bukan semata-mata untuk diabaikan. Jika kita selalu mengabaikan pandangan orang lain, bisa jadi hidup kita hanya mengikuti arah angin saja. Apa-apa terserah. Tak ada prinsip, tak ada arah tujuan, tak ada harapan yang ingin diupayakan. Tentu bukan demikian juga.

Maka, kuncinya ada pada jati diri. Berusaha tetap menjadi diri senidir. Syukurlah kalau diri kita itulah yang sesuai dengan harapan orang banyak. Kalau jati diri kita sudah terbentuk, prinsip kita mantap, mau sebanyak apapun harapan yang disodorkan pada kita, kita tetap bisa memilihnya. Mana harapan yang nyata, dan mana harapan yang musykil dan tak ada guna. Hingga kita tak sekedar mendapatkan sesuatu yang sia-sia belaka, melainkan mendapatkan pribadi yang terus berkembang untuk menjadi lebih baik. Insya Allah…