Follow Us @soratemplates

Sunday, 29 April 2012

Singkat Tepat Untuk Sehat

21:50 2 Comments
(dimuat di Majalah Embun LAZiS Jawa Tengah edisi April 2012)
 
Bukan sesuatu yang mengherankan jika orang selalu memiliki hasrat untuk menyantap makanan. Keinginan untuk makan demi memenuhi kebutuhan energi memang tidak dapat dipungkiri. Kebutuhan ini sangat manusiawi dan memang harus dipenuhi. Rasulullah SAW bersabda,  “Sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas dirimu” (H.R Bukhori). Salah satu hak ini adalah mendapatkan asupan nutrisi melalui makanan.

Rasulullah SAW memiliki cara unik untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Beliau berusaha memenuhi asupan makanan agar energinya terjaga, tetapi di lain sisi juga menjaga agar tidak sembarangan makan apa saja.

Selepas Subuh, Rasulullah SAW membuka menu sarapannya dengan segelas air yang dicampur sesendok madu asli. Kandungan gula yang terdapat dalam madu dapat menjadi sumber glukosa untuk cadangan energi. Namun bukan berarti Rasulullah SAW lantas mengonsumsi banyak glukosa, beliau hanya menambahkan satu sendok madu. Hal ini menandakan bahwa Rasulullah SAW juga menjaga agar tidak terjadi kelebihan gula. Sikap beliau ini didukung oleh pakar gizi yang mengatakan bahwa mengonsumsi glukosa sebagai energi yang terlalu banyak di pagi hari justru akan membuat tubuh malas dan mudah mengantuk.

Memasuki waktu dhuha, Rasulullah SAW selalu makan tujuh butir kurma. Beliau bersabda, "Barang siapa yang makan tujuh butir kurma, maka akan terlindung dari racun." (H.R Bukhori). Hal ini menandakan bahwa Rasulullah SAW memang memperhatikan makanan apa yang layak untuk dimakan. Beliau tidak hanya memilih makanan yang asal mengenyangkan, tetapi juga memperhatikan apakah makanan tersebut memiliki kandungan nutrisi yang bermanfaat, lebih-lebih jika ternyata berguna untuk menangkal penyakit.

Menjelang sore hari, Rasulullah SAW mengonsumsi cuka dan minyak zaitun. Tentu bukan sekedar cuka dan minyak zaitun saja, melainkan dikonsumsi dengan makan pokok yaitu roti. Lagi-lagi sikap Rasulullah SAW ini dibenarkan oleh ahli gizi yang menyebutkan bahwa konsumsi karbohidrat memang sebaiknya difokuskan di siang hari. Karbohidrat yang tinggi tersebut diharapkan dapat segera mengganti energi yang telah dipakai sejak pagi sehingga dapat segera digunakan untuk beraktivitas kembali.

Di malam hari, menu utama Rasulullah SAW adalah sayur-sayuran. Menu ini merupakan pilihan yang tepat karena sayur tetap mengandung karbohidrat namun tidak dalam jumlah besar. Dengan mengonsumsi sayur di malam hari, artinya kita tidak akan menimbun terlalu banyak karbohidrat ketika tidur. Rasulullah SAW juga tidak pernah langsung tidur selepas makan malam. Beliau selalu beraktivitas terlebih dahulu sehingga makanan yang beliau makan tersebut telah dimanfaatkan sebagai energi.

Jika dilihat dari kebiasaan Rasulullah SAW di atas, akan kita dapati bahwa interval waktu antarmakan sangat sesuai untuk keadaan tubuh kita. Ketika perut sudah mulai lapar, jam makan berikutnya pun tiba. Antara ba’da subuh, dhuha, menjelang sore, dan malam hari tentu sangat cukup bagi tubuh untuk mendapatkan sumber energi.

Waktu makan dengan jarak yang singkat tersebut didukung pula dengan pemilihan menu yang tepat. Pemilihan makanan ini disesuaikan dengan aktivitas yang akan dilakukan sehingga seluruh makanan akan dimanfaatkan secara tepat. Itulah mengapa Rasulullah SAW memilih menu yang berbeda-beda untuk setiap waktu makannya.

Seperti yang dituturkan oleh Aisyah r.a. dalam sebuah kisah. Setelah Rasulullah SAW wafat, suatu ketika para sahabat mengunjungi Aisyah r.a. Sahabat-sahabat tersebut saling bercerita tentang menu makanan yang mulai berkembang pesat. Mendengar hal itu, Aisyah r.a. menangis. Beliau berkata, “Dahulu Rasulullah SAW tidak pernah mengenyangkan dua jenis makanan. Ketika sudah kenyang dengan roti, beliau tidak akan makan kurma, dan ketika sudah kenyang dengan kurma, beliau tidak akan makan roti”. Ternyata sikap Rasulullah SAW ini didukung oleh ahli gizi. Penelitian membuktikan bahwa berkumpulnya berjenis-jenis makanan dalam perut telah melahirkan bermacam-macam penyakit.

Dari hadits tersebut kita dapat belajar bahwa ketika Rasulullah SAW telah kenyang dengan suatu jenis makanan, maka beliau tidak menambah makanan jenis lain. Artinya, ketika kita sudah kenyang dengan makanan utama, tentunya kita tidak perlu jajan untuk menambah makanan jenis lain.

Untuk menyiasati keinginan jajan itu, kita bisa meneladani sikap Rasulullah SAW yang mengatur waktu makannya dengan interval singkat. Dengan interval singkat dan pemilihan makanan tepat, tubuh pun tak akan kelaparan dan selalu sehat.


Wednesday, 25 April 2012

Gizi Pada Geriatri

22:15 0 Comments

dr. Kusumadewi

Yang sering orang tanyakan ketika berhadapan dengan gizi pada geriatric adalah “Apa pantangan untuk orang geriatric?”

Padahal yang benar adalah:
-       Tidak ada pantangan apapun dalam gizi geriatric
-       Justru geriatri tetap harus butuh makanan dengan gizi seimbang
-       Yang harus diperhatikan adalah porsi/jumlah makanannya. Mengapa? Karena kebutuhan gizi berbeda-beda sesuai dengan kelompok umurnya.

Kunci dari mengatur gizi pada geriatric adalah geriatric memiliki karakteristik khusus yaitu telah mengalami perubahan fisiologis.

Beberapa perubahan fisiologis pada geriatric yaitu:
a.    Massa otot telah berkurang. Tetapi meskipun massa ototnya berkurang, lingkar paha/lingkar lengannya berukuran sama. Mengapa? Karena massa otot itu diganti dengan jaringan lemak.
b.    Hipertensi
Hal ini dikarenakan elastisitas pembuluh darah sudah berkurang.
c.     Sistem gastrointestinal banyak berubah, mulai dari gigi ompong, gerakan peristaltic menurun sehingga pengosongan lambung menjadi lama. Akibatnya, terjadi konstipasi.
d.    Fungsi ginjal menurun sampai dengan 50%.
e.     Anoreksi (tidak mau makan). Dipicu karena produksi saliva yang menurun, mulut kering, sehingga tidak nyaman untuk makan

Pada geriatric, BMR-nya menurun 20-30%. Artinya, kebutuhan kalorinya berkurang. Jika geriatric tetap diberikan makanan dengan porsi yang sama dengan dewasa, tidak menutup kemungkinan akan terjadi obesitas pada geriatric.

Seseorang dikatakan geriatric berdasarkan beberapa kriteria:
-       Umur kronologis. Contohnya di Indonesia ditetapkan umur 60 tahun. Tetapi belum tentu di Afrika atau tempat lain juga sama.
-       Perubahan fungsi sosial. Misal, ketika sudah mulai pensiun.
-       Penurunan fungsi/kemampuan

Karena kebutuhan kalori berkurang, maka asupan makanannya pun dikurangi. Yang dikurangi adalah makronutriennya.

Pada kasus khusus misalkan pada keadaan sakit, infeksi, atau recovery, maka protein tetap dipertahankan.
Tetapi harus dilihat pula kemampuan dari ginjalnya. Jika terlalu banyak konsumsi protein sedangkan fungsi ginjal sudah menurun, maka akan ada banyak penimbunan urea yang akan meracuni tubuh.

KARBOHIDRAT
Karbohidrat komplek mulai dikurangi sedikit demi sedikit. Misalkan beras, gandum, jagung, sagu.
Hal ini dikarenakan karbohidrat komplek jenis di atas memiliki indeks glikemik tinggi. Akibatnya akan menyulitkan pancreas.
Karbohidrat kompleks yang dianjurkan adalah sayur dan buah.
Intinya, menganjurkan untuk memilih karbohidrat kompleks yang baik dan menurunkan gula (IG).

Pada geriatric terdapat masalah dengan rasa. Soalnya papil lidahnya sudah banyak yang mengalami atrofi, khususnya di rasa manis dan asin.
Solusinya?
Rasa manis bisa diatasi dengan madu. Kenapa? Soalnya madu itu manisnya kompleks dan tidak terlalu berbahaya dibandingkan gula pasir.
Mungkin bisa juga dengan gula alami.
Atau dengan menambahkan buah di dalam minuman (untuk memberikan rasa manis yang alami).

VITAMIN dan MINERAL
Asupan vitamin dan mineral alami harus tetap dijaga.
Geriatri sangat retan terkena dehidrasi. Kenapa? Karena sensitifitas terhadap rasa hausnya menurun. Jadi ketika haus, tidak akan merasa. Akibatnya akan malas minum.

Vitamin dan mineral bisa diperoleh dari buah.
Buah yang dipilih adalah buah yang mudah dikunyah. Padahal, geriatric punya masalah dengan gigi. Maka, buah boleh dihaluskan.
Ingat, dihaluskan artinya buah dicacah kecil-kecil, bukan diblander atau dibuat juice. Mengapa? Karena kalau dibuat jus, kemungkinan untuk menambahkan gula cukup tinggi.

Pilih juga buah dengan serat tinggi. Misalnya pisang apel, pear.
Jika buah dan sayur masih bisa diberikan (sekalipun itu dengan cara dicacah/dipotong hingga kecil), sebisa mungkin tidak memberikan suplemen vitamin dan mineral.

LEMAK
Lemak memang dipantang, tetapi bukan berarti tidak boleh secara absolute. Ingat, kunci utama gizi adalah memberikan semua jenis nutrient denga kadar yang seimbang. Jadi, lemak tetap diberikan.

Daging boleh diberikan, tetapi daging yang baik.
Ayam boleh diberikan, tetapi di bagian dagingnya, misal di bagian dada. Dan bukan diberikan yang bagian kulit.
Ikan boleh diberikan.

Yang harus diingat yaitu untuk pasien cardiovascular tidak boleh makan-makanan yang asin.
Artinya, dalam memberikan gizi memang harus diperhatikan juga cara memasaknya.

PROTEIN
Protein tetap penting untuk diberikan, namun harus memperhatikan kondisi ginjalnya.
Pada penderita gagal ginjal, hanya bisa menerima protein <2g. (Padahal, ini tak ada apa-apanya, seakan Cuma menjilat-jilat protein saja).
Jadi, yang penting adalah trik memasaknya.

Protein boleh tetap diberikan tetapi cara masaknya dengan dimasak/dikukus dengan garam rendah.

Usahakan mengurangi cara memasak digoreng. Sekalipun digoreng, bisa dengan menggunakan minyak sayur.

Pengecualian terjadi apabila ada pantang yang memang tidak boleh dikonsumsi.
Contohnya pada DM: ada pantangan nasi, kentang, pasta, kopi.

Intinya, dalam menentukan gizi pada geriatric yang harus diperhatikan adalah
-       Mengurangi total energy
-       Mengenali kebutuhan
-       Mengenali kesulitannya
(Misalnya abdominal discomfort, lemak bawah kulit, kehilangan masa otot)

Pemeriksaan terkait gizi yang dianjurkan untuk geriatric antara lain: cek kolesterol, gula darah, tensi, dll

Dalam menangani pasien yang penting adalah memberikan edukasi kepada keluarga tentang:
-       pentingnya tetap memberikan gizi seimbang
-       pintar-pintar mencari variasi makanan pengganti
-       memperhatikan cara memasak


Saturday, 31 March 2012

Obsesi Ambisi

19:55 0 Comments
Memiliki keinginan adalah sifat dasar seorang manusia. Tetapi mewujudkan keinginan dengan penuh ambisi, hanya segelintir orang yang melakukannya. Tak sekedar berambisi saja, beberapa bahkan sampai obsesif dengan keinginanannya. Sebagian berhasil meraih impian dengan obsesinya, tetapi tak jarang banyak yang justru gagal meski telah mati-matian berjuang.

Ada yang menarik di sini. Kadangkala sesuatu yang sudah diperjuangkan dengan mati-matian nyatanya justru luput dari harapan. Sebaliknya, suatu keinginan yang kurang diperjuangkan justru banyak yang kesampaian. Aneh?

Seorang teman berkata, “Bukankah kalau kita memiliki impian, maka kita harus berpikir positif terhadap impian itu?” Artinya, jika kita terus memikirkan impian tersebut, mengapa kita gagal? Tetapi, jika kita berpikir negatif atau tidak terlalu memikirkan impian tersebut, mengapa justru berhasil?

Terlepas dari ini adalah rahasia Allah SWT, kejadian yang cukup unik ini memang pantas dijadikan renungan. Bukan berarti kita menggugat keputusan yang Allah berikan, tetapi kita mengambil pelajaran. Jangan-jangan ada yang salah dengan cara ketika kita mengharapkan impian tersebut.

Saya pernah membaca sebuah quote yang kurang lebih isinya begini, “Punya mimpi, punya rencana, dan pasrah. Karena kekuatan terbesar manusia adalah ketika dia pasrah”. Ada yang menarik dari quote tersebut. Kita boleh saja punya mimpi. Kita bisa saja telah mengatur rencana. Tetapi, apakah kita sudah pasrah?

Pasrah mengindikasikan kita tawakal kepada Allah SWT. Ketika seseorang telah pasrah kepada Allah, artinya dia telah menyerahkan segala urusannya kepada Sang Maha Kuasa. Bayangkan, apa yang terjadi pada sebuah impian kecil jika itu diserahkan pada pemilik kekuasaan tertinggi? Bukankah seakan tidak ada apa-apanya dan sangat tak berarti? Betapa mudah Dia membuat mimpi itu menjadi terwujud. Maka, benarlah kiranya bahwa kekuatan terbesar manusia adalah ketika dia pasrah.

Sering kali manusia merasa dirinya hebat. Ketika memiliki mimpi, tak jarang manusia begitu pongah bahwa impiannya itu pasti bisa menjadi kenyataan. Dia pun lantas memikirkan segala rencana dengan sempurna. Lantas dia percaya bahwa dia pasti akan bisa meraih dengan rencana luar biasa itu. Tetapi, siapa yang menjamin? Dirinya. Dan seberapa pengaruh dirinya dibandingkan Yang Maha Kuasa? Maka, bukankah lebih baik jika tetap pasrah? Karena itu sebagai bukti bahwa diri kita tidak congkak dan berlagak.

Memang benar bahwa ketika kita memiliki sebuah impian, maka kita harus berpikir positif tentangnya. Tentu kita mengingat pula bahwa Allah SWT mengikuti perkiraan hamba-Nya. Jika kita memikirkan bahwa kita insya Allah meraih impiah tersebut, bisa saja Allah SWT akan meridhoi dan mewujudkannya. Tetapi, jika kita saja sudah tidak berpikir positif pada impian kita, bagaimana Allah SWT akan percaya bahwa kita layak menggapai impian itu?

Memang benar bahwa bagaimanapun kita tetap harus berpikir positif. Tetapi, berpikir positif yang bagaimana? Apakah berpikir positif berarti kita harus yakin bahwa kita ‘pasti’ mendapatkannya? Tidak. Kita tidak bisa memastikan itu. Berpikir positif yang dimaksudkan adalah berpikir positif bahwa Allah akan memberikan yang terbaik sesuai kebutuhan kita.

Mungkin kita memang ingin impian itu. Mungkin kita sudah menyiapkan rencana hebat demi impian itu. Tetapi, jika itu sebenarnya tidak berguna untuk kita, bukankah akan sia-sia? Masalahnya adalah manusia sering kali tak pandai menerima bahwa apa yang ada pada dirinya memang yang dibutuhkannya.

Justru karena kita tak tahu apa yang akan kita capai, maka kita hendaknya bersungguh-sungguh dalam segala hal. Ambisi yang harus ditunjukkan bukanlah obsesi untuk meraih impian itu, tetapi obsesi untuk melakukan yang terbaik dalam impian tersebut. Sekilas memang terlihat sama, tetapi sedikit berbeda.

Obsesi yang pertama hanya memikirkan menang dan kalah. Jika tidak teraih, maka kalah. Demikian sebaliknya. Tetapi obsesi yang kedua lebih menghargai proses. Asal sudah memberikan yang terbaik, maka itulah yang terbaik. Jika menang, maka itu terbaik. Jika kalah, itu pasti juga yang lebih baik.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa obsesi dan ambisi seseorang dalam meraih impian haruslah dibarengi dengan kepasrahan. Pasrah bukan berarti berpikir negatif. Pasrah justru amalan berpikir positif dalam tingkatan paling tinggi. Mengapa begitu? Karena kita berani berpikir bahwa Allah SWT akan turut andil menentukan yang terbaik bagi kita. Luar biasa! Sungguh pikiran positif yang tak akan ada tandingannya. 

Friday, 30 March 2012

Menjaga Bukan Melarang

21:45 0 Comments
(dimuat di Majalah Embun LAZiS Jawa Tengah edisi Maret 2012)

Dunia anak adalah dunia menyenangkan dan penuh hiburan. Kebutuhan akan permainan dan tontonan yang menghibur bagi anak-anak seakan tak bisa tergantikan. Rasulullah SAW sebagai sosok yang begitu mengasihi anak-anak sangat memahami kebutuhan tersebut. Dalam beberapa riwayat terlihat jelas bagaimana Rasulullah SAW memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi anak-anak untuk bisa bermain dan menyaksikan pertunjukan.
Pengertian dan kasih sayang terlukis pada diri Rasulullah SAW ketika bersama Aisyah. Istri Rasul yang belia itu masih begitu lekat dengan permainan kesukaannya sebagaimana gadis kecil seusianya.
Dalam sebuah riwayat Aisyah bercerita, “Pada suatu hari raya, ketika rombongan orang-orang Habasyah memperagakan pertunjukan tari-tarian tombak di halaman masjid, Rasulullah menawariku, ‘Ya Humaira, apakah engkau mau menonton mereka?’ Aku menjawab, ‘Ya’. Lalu beliau menyuruhku berdiri di belakang beliau, dan beliau merendahkan bahunya agar aku dapat melihat dengan jelas. Kuletakkan daguku di atas bahu beliau sambil kusandarkan wajahku ke pipi beliau, aku menonton lewat atas pundak beliau, dan beliau menyeru yang di depan agar merendah. Beliau berkata kepadaku, ‘Ya Aisyah, apakah engkau sudah puas?’ Aku menjawab, ‘Belum’. (HR. Bukhori dan Muslim).
Kisah di atas menggambarkan bahwa Aisyah adalah gadis kecil yang masih menyukai hiburan dan pertunjukan. Ucapan Aisyah di akhir penuturannya menunjukkan bahwa seorang gadis kecil masih berminat dan menyukai permainan. Beliau teramat senang melihat permainan dan ingin menyaksikannya selama mungkin tanpa rasa bosan, kecuali setelah waktu yang lama.
Rasulullah SAW berusaha memfasilitasi kebutuhan istrinya tersebut. Beliau menanyakan kepada Aisyah apakah sudah puas menonton. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW berusaha memberikan kesempatan bagi Aisyah untuk memuaskan dirinya menyaksikan pertunjukan itu. Di sisi lain, pertanyaan yang diajukan Rasulullah SAW juga menjadi salah satu cara beliau untuk menjaga dan mengingatkan Aisyah agar segera berhenti apabila sudah puas sehingga tidak lupa waktu.
Sikap Rasulullah SAW tersebut hendaknya diteladani oleh orang tua masa kini. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi kebutuhan anak-anak akan permainan dan hiburan, namun di sisi lain harus tetap mengingatkan anak-anak agar tidak lupa waktu. Karena waktu adalah harta yang sangat berharga, bahkan Allah SWT bersumpah dalam firmannya, “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian.” (Q.S. Al-Ashr 1-2). Tentunya ini menjadi tanggung jawab orang tua untuk menjaga anak-anak agar tidak menjadi manusia merugi karena lalai terlalu asyik bermain.
Kesibukan dan waktu sempit yang barangkali dikeluhkan oleh kebanyakan orang tua hendaknya bukan menjadi alasan untuk lepas tangan dari tanggung jawab tersebut. Di tengah keterbatasan waktu, orang tua selayaknya tetap memberikan kesempatan dan menjaga kebutuhan tersebut. Rasulullah SAW sebagai sosok yang sibuk dengan tanggung jawab ummat tetap berusaha untuk mengalah dan memberikan waktu bagi anak-anak. Seperti dalam kisah berikut.
Suatu hari ketika Rasulullah SAW berangkat ke masjid, di tengah jalan beliau bertemu dengan sekelompok anak kecil yang sedang asyik bermain. Ketika anak-anak melihat beliau, mereka langsung mengerumuninya dan sambil merengek meminta Rasulullah SAW untuk ikut bermain. Dari satu sisi, Rasulullah SAW tidak ingin menyakiti mereka, di sisi lain beliau harus segera menuju masjid untuk menunaikan shalat. Akhirnya beliau memutuskan untuk bermain sebentar guna membersarkan hati anak-anak. Saat itu, Bilal bin Rabbah keluar dari masjid untuk mencari Rasulullah SAW. Tatkala Bilal melihat Rasulullah SAW ada di tengah anak kecil, ia memahami sebab keterlambatan Rasulullah SAW. Bilal bermaksud memarahi anak-anak itu, tetapi Rasulullah SAW melarang. Rasulullah SAW bersabda kepada Bilal, "Pergilah ke rumah dan bawalah kurma dan walnut kepada anak-anak ini.” Bilal pun mematuhinya dan membagikan kurma dan walnut kepada anak-anak hingga mereka gembira dan Rasul pun bisa meninggalkan mereka dan berangkat ke masjid".
Hadits di atas memberikan penjelasan bahwa Rasulullah SAW sangat memahami pentingnya bermain bagi anak-anak. Bahkan di tengah waktu yang sempit pun, Rasulullah SAW tetap berusaha untuk mendukung kebutuhan tersebut. Beliau sama sekali tidak melarang anak-anak untuk bermain dan menikmati pertunjukan.
Namun bukan berarti Rasulullah SAW tak mempedulikan waktu dan membiarkan anak-anak terus bermain begitu saja. Dalam hadits riwayat Bukhori, Rasulullah bersabda, “Apabila malam mulai gelap (malam telah tiba), tahanlah anak-anak kalian, karena setan saat itu sedang bertebaran. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu maghrib, lepaskanlah mereka…” Pelarangan anak-anak untuk bermain dalam hadits ini berkaitan dengan melindungi anak-anak dari penyakit ‘ain.
Dalam hadits di atas Rasulullah SAW memberikan contoh agar tetap menjaga anak-anak supaya tidak bermain pada saat yang tidak tepat dan membahayakan diri mereka. Yang kita lakukan hanyalah menuntun anak-anak dengan cara menjaganya, bukan dengan melarangnya sama sekali.

Monday, 26 March 2012

Proporsional Mendidik Anak Shalih

21:44 0 Comments
(dimuat di Majalah Embun LAZiS Jawa Tengah edisi Februari 2012)

Memiliki anak yang shalih adalah dambaan setiap orang tua. Untuk mewujudkannya, orang tua memiliki cara yang berbeda-beda. Ada orang tua yang berharap anaknya akan menjadi shalih dengan memberikan banyak aturan. Ada pula yang mengharapkan anaknya menjadi shalih apabila diberikan banyak dorongan dan kebebasan.
Setiap pola didik akan memberikan dampak tersendiri. Adanya pola didik yang berbeda-beda dalam sebuah keluarga akan menghasilkan karakter anak yang berbeda-beda pula. Seperti dalam sebuah hadits, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikan anaknya beragama Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (H.R. Bukhari). Dalam hadits ini ditunjukkan bahwa bagaimana kepribadian anak di masa yang akan datang sangat bergantung pada apa yang diajarkan oleh orang tua..
Untuk itu Rasulullah SAW bersabda, “Perhatikanlah anak-anakmu, dan didiklah mereka dengan baik.” (HR. Ibnu Majah). Setiap orang tua memang diperintahkan untuk mendidik anak-anaknya. Mendidik yang dimaksud dalam hadits ini bukanlah asal mendidik sesuka hati saja, melainkan sebuah pola didik yang baik.
Lebih lanjut Rasulullah SAW memberi petunjuk dalam sabdanya, “Barangsiapa mempunyai anak kecil, hendaklah ia perlakukan secara proposional.” (HR. Ibnu Askair). Orang tua diharapkan dapat bertindak sesuai dengan porsinya dan tidak berlebih-lebihan ketika menghadapi seorang anak.
 Dalam kitab Tarikh Al-Yaqubi, Imam Muhammad Baqir mengatakan, “Ayah yang paling buruk adalah ayah yang berlebihan dalam menyayangi anaknya karena perbuatan baik yang ia lakukan.”
Namun bukan berarti lantas orang tua sama sekali tidak menghargai apa yang telah dilakukan anaknya. Seperti dalam hadits ke-6 Kitab Al-Kafi dituliskan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Semoga Allah merahmati orang yang membantu anaknya untuk taat kepadanya, menghargai pekerjaannya meskipun sedikit, memaafkan kesalahannya, tidak memaksakannya untuk melakukan pekerjaan di luar kemampuannya, dan tidak menganggapnya bodoh.
Hadits di atas secara jelas menyebutkan bahwa Allah SWT merahmati orang tua yang menghargai anaknya dan tidak menganggapnya bodoh. Salah satu bentuk perilaku mengamalkan hal tersebut adalah dengan melibatkan anak ketika mengambil keputusan dalam keluarga.
Tindakan tersebut telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim a.s. Ketika beliau bermimpi mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk menyembelih Nabi Ismail a.s, beliau menyempatkan diri untuk meminta pendapat Ismail. Meskipun Ibrahim meyakini bahwa perintah menyembelih anaknya itu harus dilaksanakan, akan tetapi Ibrahim tetap melakukan dialog bersama putranya untuk meminta pendapatnya.
Barangkali apa yang dilakukan Ibrahim adalah tindakan yang sepele. Namun tindakan ini dapat memberikan dampak besar dalam diri anak. Kebiasaan orang tua yang selalu meminta pendapat anaknya akan memberikan rasa percaya diri yang besar dalam jiwa anak. Ia akan merasa keberadaannya dalam keluarga dihargai dan diperhatikan.
Mendidik secara proporsional juga memiliki arti tetap memberikan sanksi apabila anak melakukan kesalahan. Sanksi diberikan sebagai salah satu bentuk pola didik untuk mengajarkan anak agar berubah dari tindakan buruk. Pemberian sanksi secara wajar juga dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Dari ‘Abdullah bin Busr Ash-Shahabi ra, ia berkata:“Ibu saya pernah mengutus saya ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan setandan buah anggur. Akan tetapi, sebelum saya sampai kepada beliau saya makan (buah itu) sebagian. Ketika saya tiba di rumah Rasulullah, beliau menjewer telinga saya seraya bersabda: ‘Wahai anak yang tidak amanah’” (HR. Ibnu Sunni).
Dari hadits tersebut dapat diketahui bahwa Rasulullah SAW memperlakukan anak sesuai dengan kadar kesalahan dan kondisi seorang anak-anak. Meskipun masih anak-anak, beliau tidak membiarkan seorang anak lari dari tanggung jawab amanah yang telah diberikan. Dalam menghukum pun, beliau tidak melakukannya secara berlebihan.
Pola didik yang diterapkan dalam keluarga bukan hanya berkaitan dengan urusan duniawi saja. Hal ini diterapkan pula dalam urusan akhiratnya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhiratnya.”(Shahih Jami’ Ash Shaghir).
Dalam perkara akhirat, orang tua harus bertindak tegas ketika mendidik anak untuk urusan sholat. Rasulullah SAW bersabda,“Perintahkanlah anak-anak untuk mendirikan sholat ketika dia berumur tujuh tahun. Dan ketika dia telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia kalau dia meninggalkan sholat.” (HR. Abu Daud).
Hadits tersebut mengajarkan pula sikap proporsional menghadapi anak. Ketika anak berusia tujuh tahun, kita masih boleh memberikan toleransi apabila dia tidak mengerjakan sholat. Namun ketika sudah menginjak sepuluh tahun, maka sudah sepantasnya kita bertindak tegas jika anak tetap meninggalkan sholat.
Dengan pola didik yang proporsional antara pemberian kasih sayang dan ketegasan, maka akan terbentuk kepribadian anak yang shalih, yang bukan hanya berakhlak baik dalam hal duniawai, namun juga baik dalam urusan akhirat.