Follow Us @soratemplates

Wednesday, 25 July 2012

Kusebut Namamu dalam Doaku

08:52 0 Comments
Ketika akhirnya sosok orang yang diharapkan telah tiba, tak jarang orang sering menyebut-nyebut namanya. Entah dalam kesehariannya karena memang orang itu selalu ada dalam bayangnya, atau menyebut dalam doa agar sosok itu tak cukup hanya dalam bayangan, tetapi benar-benar nyata bersamanya.

Dalam berdo'a, kita sah-sah saja meminta. Misal memohon kepada Allah agar fulan benar-benar menjadi jodoh kita. Tetapi, sampai kapan kita akan berdoa seperti itu?

Ada yang berkata, doa saja sampai itu dikabulkan. Saya sendiri sepakat bahwa memang harus ada kegigihan dan pengharapan yang nyata dalam berdoa. Hingga akhirnya nanti Allah berkenan memberikan keputusannya. Tetapi di lain sisi, kita harus ingat bahwa Allah menjawab sebuah do'a lewat tiga perkara.

Bisa jadi Allah mengabulkan do'a tersebut persis seperti apa yang diminta. Kita meminta fulan, maka fulanlah yang datang pada kita. Untuk kasus ini, pastilah orang yang berdoa akan bahagia. Dan ia pun patokan sampai di mana ia mengakhiri do'anya dan Allah mengabulkan permintaanya.

Tetapi, bukan tidak mungkin nama seseorang disebut dalam do'a beberapa orang. Terlepas dari perlombaan seberapa banyak tiap orang itu memohon sambil menyebut namanya, tetap saja hanya ada satu orang yang mendapatkannya. Artinya, tak semua peminta akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Maka, akan ada jawaban Allah versi lainnya.

Versi pertama adalah Allah akan memberikan ganti yang lebih baik daripada yang kita minta.

Jawaban versi ini sering disalahartikan. "Bagaimana mungkin aku mendapat yang lebih baik? Dia saja tak mau padaku, apalagi yang lebih baik. Bagiku, dia saja sudah yang terbaik. Masih adakah yang terbaik dari yang terbaik?"

Keluh kesah di atas seakan menunjukkan orang tersebut berputus dari rahmat Allah. Bukankah 'seseorang' itu tak hanya dia. Bukan hanya dia yang baik. Barangkali 'seseorang' itu memang tidak sesempurna orang yang semula kita sebut dalam do'a. Tapi buka tidak mungkin dia justru lebih baik daripadanya. Mengapa? Karena setidaknya dia baik dalam arti baik hati karena sudah mau menerima kita.

Seandainya kita tetap saja merasa bahwa akhirnya tetap saja tidak mungkin lebih baik, Allah masih memberi jawaban versi ketiga. Bisa jadi Allah akan menjawabnya kelak di surga.

Sebenarnya, ini bisa diartikan bahwa Allah mengganti penghambaan seseorang lewat doanya hingga akhirnya ia dimasukkan ke surga. Tapi orang terkadang justru mengartikan bahwa mengganti di surga adalah menjadikannya bidadari yang kelak menemaninya di surga.

Barangkali karena ia sudah begitu tergila-gila, ia pun berkata, "Baiklah, mungkin aku memang tidak berjodoh dengannya. Tidak apa-apa, asalkan ia bahagia. Tapi setidaknya aku berharap bisa menjadi jodohnya kelak di surga."

Apapun itu penafsirannya, kuncinya justru di kata "Baiklah". Kata itu menyiratkan sebuah keikhlasan. Dan tak ada yang lebih melegakan dibandingkan sebuah keikhlasan. Bisa jadi ikhlas ini pulalah yang akan membuat Allah memberikan jawaban versi pertama atau versi kedua. Tapi, jikapun tidak, surga sebagai jawaban versi ketiga rasanya lebih jauh mulia.

Bukankah tak ada yang lebih indah daripada surga?

Tuesday, 24 July 2012

Sekufu

07:31 0 Comments
Orang bilang, kalau pilih pasangan hidup sebisa mungkin yang sekufu. Barangkali sedikit berat bahasanya. Mudahnya, cari secocok mungkin, seseimbang mungkin, seseirama mungkin.

Memang, hadits dengan tegas sudah menjelaskan. Pilihlah pasangan hidup karena agamanya, baru kriteria lainya. Entah itu kecantikan, keturunan, atau kekayaannya. Tapi, jikalau ada seseorang dengan agama baik, cantik, dari keluarga baik, plus kaya, pada akhirnya akan dipilih yang paling seirama.

Bapak pernah berkata, "Om A dan bulik B itu lho serasi. Dilihat enak, karakternya mirip."

Seorang sahabat juga pernah berkomentar, "Ga mungkin C akhirnya dengan D. Mereka terlalu berbeda."

Ini memang bukan skenario sinetron, dimana seorang mami atau papi jahat melarang anaknya berhubungan dengan pasangannya karena melihat kekayaan semata. Tetapi komentar-komentar seperti ini bukan tak jarang berseliweran di sekeliling kita.

Ya, mungkin hanya komentar-komentar sederhana. Komentar yang mungkin muncul hanya karena melihat fisik atau sikap seseorang dan pasangannya. Tapi bisa jadi, unsure kecocokan ini menjadi sebuah kriteria.

Ibaratnya seperti sepatu high heels dan flat shoes. Kaki kiri menggunakan high heels dan kaki kanan menggunakan flat shoes. Apakah seseorang bisa berjalan dengan keadaan demikian? Bisa. Tetapi akan pincang. Beban yang ditumpukan ke kedua kaki juga berbeda. Ujung-ujungnya berjalan pun menjadi tidak nyaman.

Perkaranya adalah, maukah melakukan perjalanan dengan berjalan pincang? Sekalipun itu sakit, tapi tetap coba bertahan untuk berjalan. Kalau bisa, maka habis perkara. Tempat tujuan pun akan tetap tercapai.

Tetapi jika tak tahan merasakan nyeri karena beban berat tubuh yang berbeda, bisa jadi salah satu akan dibuang. Atau malah dibuang dua-duanya dan berakhirlah perjalanan itu.

Memang, bukan tidak mungkin kedua sepatu itu akan tetap berjalan seirama. Tetapi dibutuhkan sebuah kecerdikan untuk mengantisipasinya. Bisa saja meniru iklan sebuah permen yang mematahkan high heels demi mendapat ketinggian sepatu yang sama. Artinya, ada yang mau mengalah untuk turun. Atau sebaliknya, bisa saja menambahkan sesuatu agar flat shoes menjadi lebih tinggi. Artinya, ada yang berjuang keras untuk naik.

Jika ternyata tak mampu mengambil risiko naik atau turun, pilih saja cara termudah dengan mengambil tinggi heels yang sama. Sekalipun berbeda, mungkin sekedar berbeda warna layaknya sandal-sandal mode akhir-akhir ini. Mereka tak sama warnanya, tapi justru terkesan unik dan justru menjadi tren karena menarik perhatian.

Yang pasti jangan sampai sepatu kanan berjalan ke kanan, dan sepatu kiri berjalan ke kiri. Apapun itu pilihan sepatu yang digunakan, harapan untuk mencapai titik tujuan tetap yang diutamakan. Apakah tujuan itu? Surga.

Monday, 23 July 2012

Jadikan Aku Fatimah

07:35 0 Comments
Ini adalah rintihan hati seorang wanita, menyikapi laki-laki yang memang banyak tebar pesona. Barangkali bukan bermaksud untuk tebar pesona, tetapi karena pada dasarnya laki-laki itu memang sudah mempesona. Bukan tidak mungkin hanya satu wanita saja yang terpesona padanya.

Tapi seorang wanita merintih berkata, "Tolong jadikan aku Fatimah, yang hanya seorang diri saja tanpa ada wanita-wanita lainnya."

Permintaannya sederhana, tapi nyatanya sulit untuk menjadi realita.

Seorang laki-laki lantas berkisah, "Kalau kamu ingin menjadi Fatimah, maka kau harus rela menunggu laki-laki buta penunggu burung gereja." Dan mulailah laki-laki itu bercerita.

Dahulu kala ada seorang putri yang cantik jelita. Sudah banyak sekali pangeran yang datang untuk melamar menjadi suaminya. Tak ada yang kurang dari pangeran-pangeran itu. Tetapi sang putri tetap saja menolak. Ternyata dia takut pangeran-pangerannya yang sempurna itu terlalu mempesona gadis-gadis lainnya. Dia tidak siap untuk disakiti. Maka, putri itu pun rela menunggu seseorang yang tidak sempurna asalkan tidak membagi dirinya dengan wanita lainnya. Dan satu-satunya laki-laki yang memenuhi kriteria tersebut adalah laki-laki buta penunggu burung gereja. Kenapa? Karena ia buta, sehingga tak mampu untuk melihat kiri kanan dan menebar pesonanya pada gadis jelita lainnya.

Laki-laki itu pun mengakhiri kisahnya, "Kalau kamu ingin menjadi Fatimah, bersiaplah mendapatkan laki-laki yang cacat, layaknya laki-laki buta penunggu burung gereja."

Sang wanita pun memaklumi. Di jaman seperti ini, laki-laki pun mempermak diri. Ibaratnya orang yang mencari ikan. Pesona lelaki tak hanya dikaitkan pada sebuah kail saja. Tak jarang lelaki menggunakan jala agar mendapat ikan lebih banyak. Atau justru memakai pukat, sehingga ikan-ikan kecil tak berdosa pun terkena pula imbasnya.

Tentu saja, di jaman serba canggih seperti ini tak mungkin mencari ikan dengan sebuah pancing lagi. Kalau pun ada, pasti laki-laki itu cacat secara teknologi. Atau kalaupun ada, itu karena laki-laki itu memang hobi. Rela menunggu lama sekalipun akhirnya hanya mendapat satu ikan yang tersangkut di pancingnya.

Ya, untuk menjadi seorang Fatimah memang dibutuhkan lelaki yang cacat atau pemancing yang setia. Lelaki yang cacat matanya dari melihat kemaksiatan, yang cacat bibirnya dari berkata kotor, yang cacat telinganya dari mendengar hal buruk, yang cacat tangannya dari mengambil yang tidak halal, yang cacat kakinya di jalan penuh kenistaan.

Atau lelaki pemancing setia. Yang tak tergoda kecanggihan zaman dengan segala tipu dayanya. Yang tetap setia dengan sebuah pancing udiknya. Yang akan rela menunggu berlama-lama demi seekor ikan. Yang karena telah lama menunggu maka akan memperlakukan ikan itu dengan sebaik-baiknya. Yang semua itu dilakukan karena hobi, sebuah kesenangan untuk mendapatkan kenikmatan dan kepuasan menjalani proses secara baik. Tanpa pukat, tanpa jala yang meraja lela.

Maka, jika laki-laki tadi terkesan merendahkan dengan berkata, "Kalau mau jadi Fatimah harus rela mendapat laki-laki cacat," kini justru sang wanita yang balik bertanya, "Apakah masih ada lelaki cacat atau seorang pemancing setia?"

Sunday, 22 July 2012

Accident Emergency Cinta (versi cewek)

07:29 2 Comments
Setelah kemarin membahas kasus accident emergency cinta dari sudut pandang pria, sekarang gentian membahas kasus ini dari sudut pandang wanita. Dalam kasus itu ada dua kategori wanita. Wanita pertama yaitu wanita B yang sedang sakit dan menunggu obat datang. Dan wanita kategori kedua adalah wanita C D E yang mengalami kecelakaan dan membutuhkan pertolongan segera.

Sekilas, wanita sama sekali tidak salah. Bagaimana bisa dikatakan salah kalau posisi mereka dalam keadaan sakit atau mengalami kecelakaan? Justru mereka barangkali tampak kasihan dan wajar jika pria A menolong.
Teori itu kurang lebih identik dengan istilah wanita hanyalah sebagai makhluk penunggu yang bisa menolak atau menerima.

Dalam arti wanita B sedang menunggu obat dan dia menerima pria A sebagai dokter yang sedang mencarikan obat. Demikian juga dengan wanita C D E. Di lain sisi, persis seperti etika kedokteran bahwa pasien berhak menentukan langkahnya sendiri, wanita-wanita tersebut juga punya hak apabila ingin menolak pertolongan dari pria A.

Memang dalam hal ini wanita hanya jadi pasien yang sewaktu-waktu akan ditingga pergi sang dokter. Dari sudut pandang wanita  C D E, bisa jadi mereka justru lebih kuat menghadapi kenyataan itu karena mereka hanyalah kasus accident emergency. Artinya kalau kegawatdaruratannya teratasi, masalah pun selesai. Tapi bisa jadi lebih runyam bagi wanita B karena wanita B sudah terlanjur menunggu dan berharap segera mendapat obat dari pria A.

Tapi, kemarin seorang teman justru berkomentar bahwa "Alhamdulillah semuanya sembuh", artinya wanita di sini berada dalam posisi yang kuat. Kalaupun ditinggal oleh dokternya, pasien-pasien ini sudah dalam keadaan sembuh dan bisa melanjutkan hidup secara normal kembali.

Itu tadi sudut pandang wanita sebagai pihak yang teraniaya. Saya sendiri justru memandang bahwa kasus ini terjadi karena kesalahan wanita. Seandainya wanita menjaga kesehatan, wanita A tidak akan sakit. Seandainya wanita mau hati-hati di jalan, wanita C D E tak perlu mengalami kecelakaan. Karena tidak ada yang sakit maupun ada kecelakaan, bukankah pria A tak akan datang.

Ya, saya melihatnya demikian. Kasus-kasus begini bisa jadi terjadi karena salah wanita. Coba bayangkan seandainya ada pria A sebagai dokter datang kepada wanita F, tetapi karena wanita F sehat walafiat maka dengan tanpa beban wanita F juga akan menolak. Tapi andai wanita F sakit sedikit saja, pasti wanita F akan dengan senang hati menerima pengobatan dari pria A.

Tapi, ini tak semata-mata salah wanita yang tidak hati-hati atau tidak menjaga kesehatannya. Pria juga turut menyumbang kesalahan. Coba pria fokus pada tujuan membeli obat alias tidak menengok kanan kiri sok mencari-cari korban agar bisa menjadi pahlawan, pasti dia tidak akan kena kasus dengan wanita C D E. Atau pria yang sebenarnya belum mampu, tapi berlagak sudah mampu mengobati. Kalau dia sadar belum sanggup, tentu dia tak akan menghampiri wanita B yang ujung-ujungnya akan memberinya tugas membeli obat. Kalau dia tidak melakukan perjalanan membeli obat, artinya dia juga akan memiliki kemungkinan kecil untuk bertemu kasus kecelakaan.

Menurut saya begitu. Karena pria mencari kesempatan dan wanita menawarkan kesempatan. Karena pria belum mampu tapi wanita mau menunggu.

Saturday, 21 July 2012

Accident Emergency Cinta (versi cowok)

07:29 0 Comments
Beberapa waktu lalu saat masih blok kedaruratan medik, seorang teman saya menceritakan teori kedaruratan cinta alias accident emergency cinta. Teorinya cukup unik dan bisa dilihat dari sudut pandang pria maupun wanita. Kebetulan, siang tadi saya ngobrol juga dengan seorang teman yang ujung-ujungnya ternyata menguatkan teori accident emergency cinta dari sudut pandang pria.

Teori teman saya itu kurang lebih begini.

Anggap ada seorang pria A dan wanita B. Wanita B ini sedang sakit. Sebagai tenaga medis (tenaga cinta) yang baik, maka pria A pun merawat wanita B. Sesuai dengan etika kedokteran bahwa ketika merawat pasien harus dengan sepenuh hati, maka pria A pun merawat wanita B dengan sepenuh hatinya. Hingga suatu ketika wanita B membutuhkan obat, maka pria A memutuskan untuk pergi ke apotek.

Di tengah perjalanan ke apotek, ada kasus kecelakaan. Di sana ada wanita C yang membutuhkan pertolongan. Sesuai dengan etika kedokteran, pria A punya dua pilihan. Pilihan yang pertama adalah angkat tangan dan tidak menolong sama sekali karena takut di luar kemampuannya. Pilihan kedua adalah menolong korban C tersebut, dan tentu saja harus dengan sepenuh hati. Lagi-lagi mengikuti etika kedokteran, kasus emergency harus ditolong sampai tuntas. Artinya, pria A harus menolong wanita C hingga benar-benar sembuh, tidak hanya sekedar memberi betadine atau pertolongan pertama saja. Maka, itulah yang dilakukan pria A.

Ketika wanita C sembuh, pria A pun pamit undur diri karena harus membeli obat untuk wanita B. Dalam perjalanan, bisa jadi pria A harus menolong kasus kecelakaan dengan korban wanita D, E, F, dan seterusnya. Hingga akhirnya pria A pun selesai membeli obat lalu menyerahkan obat ke wanita B dan wanita B pun sembuh.

Jika dilihat dari sudut pandang laki-laki, pria A sama sekali tidak salah. Dia hanya berusaha menolong korban kecelakaan yang ditemuinya. Toh, ujung-ujungnya dia akan menyelesaikan tugas membeli obat dan menyerahkannya ke wanita B.
Awalnya, sekilas ini terasa jahat sekali (lebih lanjut akan saya bahas di note accident emergency versi cewek), tapi ternyata obrolan saya dengan seorang teman justru menguatkan pembenaran pria A. Teman saya berkata bahwa D E F adalah penguatan untuk B.

Bisa jadi, ketika pria A sedang menolong wanita D E F, dia sedang belajar cara menangani sebuah penyakit. Hingga akhirnya ketika kembali pada wanita B, dia memiliki pengetahuan lebih untuk mengobati penyakitnya. Atau bisa juga ketika menolong wanita D E F, pria A tidak merasa sreg dengan parahnya kasus kecelakaan yang mereka alami hingga akhirnya menganggap bahwa tugasnya membeli obat memang tugas paling tepat sebagai seorang tenaga medis. Artinya rasa kerelawanan untuk menolong sepenuh hati justru semakin kuat ditujukan kepada wanita B karena merasa memang penyakitnya yang paling tepat.

Artinya, sudut pandang laki-laki mengatakan, "Mungkin saya salah karena tidak segera membeli obat dan membuat wanita B lama menunggu, lebih-lebih malah sepenuh hati merawat kasus accident emergency. Tapi saya tidak sepenuhnya salah karena saya ujung-ujungnya tetap akan membelikan obat untuk wanita B. (atau parahnya) Saya tidak benar-benar salah kalau membuat wanita B yang sakit justru menunggu. Karena saya juga tidak tahu, bisa jadi wanita B itu justru sekedar kasus accident emergency saja bagiku"

Hm.., begitukah?

(Tunggu note accident emergency versi cewek esok hari. Insya Allah… )

Friday, 20 July 2012

Sibuk Apa Sih, Mbak?

07:21 2 Comments
Barangkali ada yang bertanya, “Kenapa di sela-sela kegiatan malah melakukan hal tak penting? Buat apa sih nulis note tak jelas di facebook? Buat apa repot-repot bikin posting di bloga? Bukannya ngaji atau banyak dzikir, kok malah bikin tulisan ‘picisan’ begini. Kayak ga ada kesibukan lain aja”

Hm…, memang benar kawan. Saya memang merasa tidak punya kesibukan.

Mungkin satu per satu kawan saya akan membantah. Tak jarang teman-teman bertanya, “Baru sibuk apa?”, atau “Avi ada waktu longgar kapan?”, atau sekedar, “Avi bisa meluangkan waktu untuk ini ga?” atau kalimat lain yang nada-nadanya menunjukkan bahwa saya sibuk. Padahal ketika ditanya, saya sendiri bingung menjawab saya ini sebenarnya sibuk apa.

Buktinya, saya bisa punya waktu sekitar 15 atau 30 menit untuk menulis catatan ini. Nyatanya, saya juga punya waktu dari pagi sampai siang sekedar untuk menunggu dosen yang belum datang. Saya juga punya waktu jalan-jalan ke Jogja dari siang sampai malam bersama keluarga. Dan berbagai kegiatan lainnya yang menunjukkan bahwa saya masih punya waktu luang.

Tapi memang diakui, ketika saya sedang menunggu dosen maka saya tak punya waktu luang untuk ikut menyambut mahasiswa baru. Ketika saya jalan-jalan ke Jogja, saya belum punya waktu untuk menulis esai. Atau ketika saya harus menghadiri rapat, maka saya belum punya waktu untuk jalan-jalan dengan teman-teman. Apakah ini berarti saya sibuk hingga tak bisa ikut kegiatan itu?

Saya melihatnya bukan dari kaca mata sibuk, tetapi dari kaca mata memanfaatkan (atau parahnya) menghabiskan waktu. Ketika dalam satu waktu saya mempunyai suatu hal yang bisa mengisi waktu luang saya secara positif, maka saya anggap itu sebagai sebuah kegiatan tambahan. Entah itu rapat, kajian, kumpul dengan teman-teman, menulis, atau sekedar me time. Di lain sisi, saya akan kelimpungan sendiri ketika menyadari saya tak punya suatu hal untuk dikerjakan dalam waktu tertentu.

Contohnya ketika libur beberapa hari yang lalu. Saya hanya luntang-luntung di rumah membaca buku.  Sebenarnya membaca buku pun sebuah kegiatan yang positif. Tetapi saya merasa waktu saya menjadi lebih positif ketika saya mengiyakan ajakan teman untuk menemaninya mencoba menu masakan baru. Paling tidak ada tambahan nilai ukhuwah yang makin erat. Dan ketika akhirnya keluarga mengajak pergi ke suatu tempat pada waktu itu juga, saya terpaksa menolak karena terlanjur mengiyakan ajakan teman. Dalam konteks ini, saya dipandang sibuk oleh keluarga saya. Nyatanya, semula saya hanya ingin memanfaatkan waktu luang saja. Cuma sayangnya sudah keduluan dimanfaatkan bersama teman saya.

Maka ketika saya ditanya saya ini sibuk apa, saya tidak yakin bisa menjawab. Yang saya lakukan hanyalah mencoba menggunakan waktu dengan kegiatan tertentu yang sekiranya memiliki manfaat. Cuma sesimpel itu! So, saya akan menjawab, “Saya tidak sibuk, hanya sekedar memanfaatkan waktu”.


Wednesday, 27 June 2012

Syok Hipovolemik

00:48 0 Comments

Dr. Sri Martuti, Spa., M.Kes

Syok hipovolemik terjadi karena adanya kekurangan cairan.
Jika cairan yang masuk lebih sedikit dari cairan yang keluar maka akan terjadi syok hipovolemik.

Awal mulanya kehilangan cairan berupa cairan interstisiil. Jika terjadi terus menerus, cairan intravaskuler dan interselular ikut keluar.
Kalau intravaskuler berkurang jadinya kolaps dan syok.
Kalau intraselular berkurang jadinya kematian sel.

Penyebab kehilangan cairan bisa karena perdarahan, luka bakar yang kuat (kulit yang mengurangi penguapan rusak sehingga penguapan terjadi terus menerus), demam berdarah dengue (karena peningkatan permeabilitas membrane), diare akut dehidrasi berat.
Setiap penyebab ini memiliki mekanisme berbeda.

Kalau seseorang syok hipovolemik yang terjadi yaitu:
  • -      Penurunan curah jantung
  • -      Penurunan tekanan pengisian ventrikel kiri
  • -      Peningkatan resistensi pembuluh darah sistemik karena pembuluh darah kolaps. (Makanya diberikan cairan koloid yang BMnya tinggi sehingga mempermudah membukanya pembuuh darah dan akan lebih lama di pembuluh darah sehingga resistensinya berkurang)

Anamnesis
Yang tidak boleh lupa yaitu tanyakan kapan terakhir buang air kecil.
Soalnya ini indikator untuk tahu ada dehidrasi atau ga. Kalau sudah 6 jam lebih tidak buang air kecil, curiga jangan-jangan sudah sampai gagal ginjal.

Pemeriksaan Fisik
CRT meningkat di kuku atau di tumit untuk bayi.
Akral dingin
Mata cekung, mukosa mulut pucat
Nadi cepat, nafas cepat
Tensi turun
Jumlah urin berkurang

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah pekat: Cek hematokrit.
Urin rutin: warna, berat jenis

Pengelolaan

1.    Lakukan oksigenasi

2.    Berikan resusitasi cairan 20cc/kg
Pertama berikan dulu kristaloid sebanyak 2 kali. Kalau tetap tidak berhasil, lanjutkan dengan koloid.
Koloid punya BM lebih besar.
Kalau tidak berhasil (sampai pemberian koloid yang kedua kalinya), cek ulang apakah benar kasusnya adalah syok hipovolemik. Soalnya harusnya kalau udah dikasih 80cc/kg udah ga syok lagi. Kalau tetap ga teratasi jangan-jangan ada masalah lain (misal syok kardiogenik, syok sepsis, syok neurologis, dll)
Kalau sudah berhasil, lakukan rehidrasi.

3.    Rehidrasi 100cc/kg BB
Berikan RL atau RA.
Untuk usia < 1 tahun:
o   30 cc dalam 1 jam pertama
o   70 cc dalam 5 jam selanjutnya
Untuk usia > 1 tahun:
o   30 cc dalam ½ jam pertama
o   70 cc dalam 2,5 jam selanjutnya

4.    Koreksi asam basa
Fungsinya untuk memperbaiki fungsi sel, kontraktilitas jantung, resistensi pembuluh darah, kompensasi respiratorik.
Kalau dehidrasi berat, pHnya jadi asam soalnya ada gangguan keseimbangan elektrolit (hipokalemi karena kalium banyak terbuang, dan hipernatremia)

5.    Waspadai hipoglikemia
Penting banget, soalnya kalau sampe hipoglikemia apalagi pada neonates maka otak akan kekurangan glukosa. Akibatnya otak bisa kolaps.

Tujuan dari semua pengelolaan ini yaitu: untuk perbaikan perfusi, memberi support nutrisi sel, dan mencegah gangguan metabolic.