Follow Us @soratemplates

Monday, 13 August 2012

Jika Tiba Saatnya

07:10 0 Comments

Sesuatu harus dilakukan sesuai dengan waktunya. Ibarat sholat, serajin apapun jika terlalu rajin tetap tak sah karena belum masuk waktunya.

Itulah yang kami alami beberapa waktu lalu. Ketika menunaikan ibadah sholat ashar, kami terlalu cepat sekitar 10 menit. Akibatnya, setelah salam ditunaikan, hati justru menjadi gelisah. Dan diulangilah sholat ashar itu.

Barangkali demikian pula dalam hal pernikahan. Bukan berarti pernikahan itu terlalu cepat, lalu gelisah, dan terpaksa diulang. Tetapi, bagaimanakah menentukan waktu untuk pernikahan itu sendiri. Mungkin pernikahan dini memang indah. Tapi, pernikahan dini yang seperti apa? Mungkinkah itu terlalu dini hingga justru berujung gelisah?

Jika dihadapkan pada pertanyaan demikian, yang terpikirkan adalah kriteria kesiapan. Seorang lelaki pernah bertanya kepada sahabat saya yang kala itu baru semester 3, “Apa yang dibutuhkan untuk bisa melakukan suatu pernikahan?” Dan sahabat saya itu menjawab, “ilmu dan maisyah”. Berhubung sang lelaki sudah memiliki maisyah dan ilmu selalu berproses, maka menikahlah mereka.

Kembali ke masalah sholat tadi, semua orang bisa melakukan sholat. Tetapi orang itu harus punya ilmu agar sholatnya sah. Dari ilmu itulah dia akan menghafal bacaan wajib dalam sholat, dengan ilmu itulah ia akan belajar niat ikhlas demi sahnya sholat, dan dengan ilmu itu pula ia akan tahu kapan tiba waktu sholat.

Tetapi ilmu saja tak cukup. Dia juga butuh maisyah, dalam hal ini perlengkapan untuk sholat yang sah. Seorang wanita kadang ragu jika tidak memakai mukena, atau masalah-masalah perlengkapan lainnya.

Barangkali mungkin demikian pula dalam hal menikah. Orang bisa saja sewaktu-waktu menikah. Sejak lahir manusia sudah dibekali nafsu, artinya bisa saja lelaki dan perempuan dipasangkan sejak saat itu. Tetapi kenyataannya tidak demikian.

Orang butuh ilmu untuk menikah dan orang butuh maisyah untuk menikah.

Barangkali ada yang berkata maisyah boleh dicari selama menikah. Ya, itu seratus persen benar. Bahkan menikah itu justru memperlancar rejeki itu sendiri. Namun, pertanggungjawaban nafkah tidak boleh dilupakan. Entah, dengan sudut pandang masing-masing yang memang berbeda-beda.

Dan ilmu juga menjadi kunci. Pernikahan bukan semata-mata bersenang-senang, tetapi membangun sebuah rumah tangga, rumah yang diharapkan menjadi tangga untuk mencapai surga. Pernikahan bukan sekedar bermain-main, tetapi bagaimana bisa mengajak bermain anak-anak yang hadir nantinya. Pernikahan bukan sekedar bersantai-santai, tetapi bagaimana bisa serius mengemban amanah yang satu demi satu bertambah setelahnya.

Perintah sholat bagi Rasul dahulu dianggap mungkin memberatkan umatnya, padahal sejatinya itu hal yang indah. Menikah mungkin dianggap berat, padahal seharusnya menjadi hal indah. Atau sebaliknya, menikah mungkin dalam bayangan indah, tetapi tak selamanya menakjubkan seperti dalam dunia dongeng.

Sekalipun keduanya sama-sama ibadah, barangkali perumpaan waktu sholat dan waktu menikah memang kurang tepat. Namun pertimbangan menentukan waktu apapun kurang lebih tak jauh berbeda. Semuanya harus siap, harus masuk waktu. Sekedar mencoba merenuhi ilmu dan maisyah. Apakah kedinian itu justru terlalu dini hingga berujung gelisah? Wallahua’lam.


Sunday, 12 August 2012

Bukan Barang

17:26 0 Comments

Kami bukan barang, yang bebas diperjualbelikan

Memang kami dimiliki lewat sebuah transaksi, tapi transaksi kami sah dan suci. Kami tidak terbeli hanya dengan seikat bunga atau selembar puisi, tetapi dengan sebuah mahar yang telah kami sepakati. Kami tidak terbeli dengan tawar-menawar seenaknya, tetapi dengan lamaran gentle yang diikuti musyawarah dan istikharah. Dan kami sah terbeli bukan dengan akad “Maukah kau menjadi…”, tetapi dengan ijab “Saya terima nikahnya…”

Memang kami dibeli, tapi kami tak sehina ini. Kami punya harga diri yang dinilai dengan kesungguhan sebuah mahar. Dan itu harga diri dan hak kami. Artinya kami bisa menuntut dan mengembalikan mahar ini, sekalipun kami berharap agar itu tak pernah terjadi. Na’udzubillah…

Kami bukan barang, yang sesuka hati dipesan

Memang kami bisa dipesan, tapi bukan dengan pesan asal-asalan yang tak ada kepastian jaminan. Kami bisa saja dipesan dengan selingkar cincin di sebuah jari, tapi kami tak ada jaminan bahwa mereka tak akan membeli cincin baru lagi. Kami bisa saja dipesan untuk hari, tanggal, dan jam tertentu, tetapi kami tak ada jaminan bahwa mereka tak akan melupakan itu.

Memang kami bisa dipesan dengan sebuah khitbah syar’i, tetapi kami bukan seonggok daging mati. Boleh saja sekarang khitbah dan satu jam lagi menikah. Tetapi, bagaimana jika menikah satu tahun lagi? Lagi-lagi kami tak menjamin bisa berkompromi dengan sang waktu. Bahkan kami tak punya jaminan untuk hidup kami sendiri.

Memang ketika kami sudah dipesan, kami tak berhak dipesan oleh orang lain lagi. Tetapi jika mereka asyik berkelana dan lupa diri, kami khawatir mereka lupa jalan untuk kembali. Kami boleh dipesan, tetapi ada batas waktu yang tak boleh berkepanjangan. Karena setiap pemesanan ada batas waktu, yang jika tak mampu berhak ditanyakan ulang, apakah tetap dipesan atau dibatalkan. Dan lagi-lagi, kami tak punya jaminan bahwa saat itu kami belum basi, alias mati.

Dan jika ternyata dibatalkan, bukan tak mungkin kami akan dipesan orang lain lagi. Bahkan bisa jadi tanpa pesan, tapi langsung beli. Mereka yang langsung memberikan bukti, bukan janji. Dengan prospek nyata sekarang juga, yaitu sebuah ijab qobul yang suci. Sekalipun kami sama-sama tak tahu apakah semenit setelahnya kami belum tentu mati.

Kami bukan barang, yang diciptakan untuk kepentingan delivery
 
Memang kami bisa sah dibeli tanpa kehadiran kami. Selagi ada wali dan saksi, maka sah sudah sebuah transaksi. Tetapi kami tak bisa seenaknya di-delivery. Kami tak bisa menjadi barang yang dibentuk sebagai tebusan melunasi hutang keluarga. Kami tak bisa dipesan sejak usia dini agar kelak menyatukan bisnis orang tua dengan relasi. Kami tak bisa pula diarahkan sedemikian rupa agar layak bersanding dengan putra mahkota demi memuluskan karir politik orang tua. Kami belum tentu bisa.

Karena kami memang bukan barang, tetapi wanita yang punya hati.


Saturday, 11 August 2012

Sudah Dipesan

03:52 0 Comments

Ketika seorang lelaki mencintai seorang wanita, bisa jadi dia akan mencari info tentang wanita tersebut. Dalam proses itu, bukan tidak mungkin dia akan mendapati bahwa wanita tersebut sudah tidak available lagi. Mungkin memang belum dipersunting oleh orang lain, tapi boleh jadi dia sudah ‘dipesan’ oleh orang lain.

Jika lelaki itu tahu diri, mungkin ia akan mundur. Tetapi, kalau lelaki itu keras kepala, bukan hal mustahil dia akan tetap berharap juga.

Ibaratnya seperti transaksi jual beli. Orang memiliki sebuah barang yang akan dijual. Pembeli bisa saja melakukan pre-order dan baru ‘dibentuklah’ barang itu sesuai dengan pesanan sang pembeli. Untuk kasus ini, barang memang hanya bisa menurut sesuai permintaan pembeli karena memang sudah ada ikatan antara penjual pembeli.

Bisa juga barang itu sudah ada, namun hanya sebatas dibooking saja. Seperti halnya membooking rumah makan ketika akan berbuka puasa. Karena takut rumah makan akan penuh dan tak kebagian tempat, maka booking tempatnya dulu saja.

Dipandang dari segi pembeli, harusnya rumah makan yang sudah dibooking murni menjadi hak pembeli. Bahkan penjual akan dianggap tidak bertanggung jawab dan tidak bisa dipercaya jika pada akhirnya tempat yang dibooking itu diserahkan kepada orang lain. Namun, belum tentu hal ini sama dengan apa yang dipikirkan penjual.

Dalam teori produksi, barang yang terlalu disimpan bisa menghambat kelancaran ekonomi. Demikian pula barang itu. Jika terlalu lama disimpan, barang tertentu bisa kadaluarsa. Karena dalam proses pemesanan pun ada jangka waktu, sampai kapan barang itu masih layak disimpan juga dipertimbangkan. Apalagi jika ternyata ada pembeli baru yang lebih berprospek dengan menawarkan keuntungan lebih dan jangka waktu lebih cepat pula. Maka wajar saja jika penjual dengan rela menyerahkan kepada pembeli baru.

Demikian juga dengan wanita. Dia bisa saja tidak tahu bahwa dirinya dijodohkan dengan seorang lelaki. Bahkan secara ekstrem, dia bisa saja sudah dinikahkan oleh walinya dengan seorang laki-laki. Dalam keadaan ini, ia apa akhirnya hanya bisa menurut kepada sang lelaki.

Dalam contoh kedua, seorang wanita bisa saja sudah dibooking tempatnya. Anggaplah proses pembookingan tersebut dengan berkata, “Aku akan menikahimu selepas wisuda”. Wali wanita tersebut boleh saja benar-benar menunggu hingga wisuda. Namun, bisa saja ada lelaki lain yang menemui tanpa perlu proses booking dan langsung transaksi jual beli.

Wali boleh menolak karena menghargai lelaki yang sudah memesan, tetapi wali juga boleh saja menerima. Mengapa? Karena ‘selepas wisuda’ bukanlah harga mati. Bahkan usia 60 tahun pun tetap saja bisa dibilang selepas wisuda. Padahal, wanita tertentu bisa jadi terlanjur ‘kadaluarsa’ jika harus menunggu selama itu.
Mungkin terkesan tidak adil bagi orang yang sudah memesan. Tapi, adakah hal yang pasti di dunia ini? Tidak ada.

Seorang lelaki yang masih berharap bisa saja berkata, “Tak ada yang pasti hingga akad selesai terucap”. Atau bahkan selepas akad pun masih saja ada lelaki keras kepala dengan slogan ‘kutunggu jandamu’ yang berkata, “Tak ada yang pasti hingga ia benar-benar mati”.

Lagi-lagi, ini misteri Illahi.


Friday, 10 August 2012

Long Distance Relationship (LDR)

04:02 0 Comments

Semua orang yang belum menikah memiliki hubungan LDR. Entah LDR dalam dimensi ruang, atau LDR dalam dimensi waktu.
Statement di atas digelontarkan oleh seorang teman di twitter beberapa waktu lalu. Disadari atau tidak, perkara jodoh memang demikian adanya. Bisa saja kita berjarak dengannya dalam hitungan kilometer, tetapi bisa juga waktulah yang memisahkannya.

Kita tidak tahu di manakah jodoh kita saat ini. Mungkin jodoh itu sedang asyik belajar di Jerman, atau ia sedang sibuk bekerja di Kalimantan, sedangkan kita sedang santai membuka-buka internet di sini. Kita benar-benar berjarak dengannya dalam arti sesungguhnya. Maka, tidak salah kiranya jika kita disebut LDR dengannya. Ada sebuah hubungan jarak jauh yang kita sendiri tidak paham seberapa jauh jaraknya. Satu-satunya pertalian hanyalah janji Allah Subhanahu wa ta’ala yang telah Dia tuliskan bersamaan dengan ditiupnya ruh kita.

Kita tidak tahu kapan jodoh itu akan datang. Mungkin jodoh itu ada di samping kita saat ini, atau ada di depan kita saat berinteraksi, tetapi kita tidak mengerti. Akhirnya kita pun tetap berjarak dengannya. Memang bukan jarak sesungguhnya yang diukur dengan satuan meter, tapi jarak waktu yang kita tidak tahu. Termasuk seberapa lama jarak kita dengannya. Maka, tak salah juga jika dikatakan LDR dengannya dalam dimensi waktu.

Jika dipikir dengan logika, mungkin kita tak paham dengan LDR macam ini, baik LDR jarak atau LDR waktu. Sering kita tidak menyangka, bagaimana mungkin kita bisa bertemu dengan Si Jerman yang asyik belajar atau Si Kalimantan yang asyik bekerja. Tetapi, itulah rahasia Allah, menjadikan kita terpisah oleh jarak.

Demikian halnya dengan LDR waktu. Kita juga tak menyangka, bagaimana mungkin kita berjodoh dengan sahabat yang ada di samping kita atau tetangga yang ada di depan rumah kita. Padahal mereka sudah ada di sekeliling kita sejak dulu. Mungkin, orang yang akhirnya melihat kita bersama akan berkomentar, “Kalau akhirnya cuma sama dia, kenapa ga dari dulu-dulu?”. Tetapi, memang itulah rahasia Allah, menjadikan kita terpisah oleh waktu.

Perkara jarak dan waktu, kuncinya adalah menunggu. Pada akhirnya nanti mereka yang jauh secara jarak atau waktu akan menjadi dekat pula. Kilometer demi kilometer akan tereliminasi, waktu demi waktu akan bersinergi, hingga akhirnya menjadi satu dalam dimensi jarak sekaligus waktu.

Tak perlu logika untuk menerka. Yang dibutuhkan hanyalah iman untuk percaya bahwa janji Allah itu pasti. Dan jika saat itu tiba, nikmatilah short distance relationship yang suci.


Wednesday, 8 August 2012

Gampang Jual Mahal

04:07 0 Comments

Ketika bertemu dengan seseorang, tak jarang kita sudah menangkap kesan pertama. Ada yang memberikan kesan bahwa orang ini ramah, jutek, menarik, dan sebagainya. Demikian halnya dalam hal cinta. Ada yang bisa memberikan kesan bahwa seseorang itu gampangan, atau sebaliknya orang itu terlalu jual mahal.
Kasus ini kembali lagi pada statement bahwa seseorang sangat mungkin untuk disukai lebih dari satu orang. Dalam menyikapinya, orang tersebut bisa menunjukkan hal yang berbeda-beda. Di sinilah kesan pertama itu bermula.

Ada orang yang demikian baiknya hingga semua rasa kekaguman itu ditanggapi dengan sikap baik pula. Dia sama sekali tidak membedakan perhatian dari siapapun, entah itu orang yang benar-benar suka padanya atau bahkan hanya sekedar interaksi biasa saja. Dia pun menutup mata dan telinga ketika melihat semua perhatian atau kebutuhan itu. Yang ada dalam dirinya adalah bagaimana untuk tetap memperlakukan semua orang dengan sama baiknya. Untuk tipe ini, orang akan dikenal sebagai orang yang baik, bahkan terlalu baik sehingga orang yang suka padanya yang justru berhati-hati untuk tidak salah menafsirkannya.

Ada yang demikian jumawa dengan banyaknya perhatian yang diberikan orang lain padanya. Mungkin dia terlalu bersyukur dengan kebaikan hati para pengagumnya. Prinsipnya bisa dibilang adil sesuai dengan porsinya. Jika perhatian lebih maka balasan pun lebih. Jika tak ada perhatian, maka ia pun tak ada pengharapan. Untuk tipe ini, orang bisa jadi dikenal sebagai orang gampangan. Karena memberikan sesuatu sesuai porsinya, mungkin ia akan mudah memberi perhatian kepada beberapa orang lainnya.

Ada pula yang memberikan tembok tinggi kepada semua pengagumnya. Entah ia benar-benar dikagumi, dicintai, atau bahkan sekedar interaksi biasa, orang ini akan memasang jarak agar tidak mudah dijangkau. Dalam konotasi negatif, orang tipe ini dapat dianggap sebagai orang yang jual mahal.

Dilihat dari sudut pandang pengagum, mereka bisa mengambil langkah setelah kesan pertama itu. Ada yang makin gencar, ada yang memilih mundur. Semua memang tergantung pribadi masing-masing, tetapi dalam semua tipe tersebut, ada banyak kemungkinan bahwa sang pengagum akan mundur.

Pada tipe pertama, orang bisa mundur karena takut hanya diberi harapan palsu semata. Pada kasus kedua, orang mundur karena tak suka orang tersebut ternyata gampangan saja. Pada kasus ketiga, orang mundur karena merasa tak juga mampu meruntuhkan tembok tingginya.

Orang yang disukai ibarat target. Ketika target itu terlalu rendah alias gampang untuk diraih, orang tidak akan termotivasi. Sebaliknya, ketika target itu terlalu tinggi alias mengawang-awang di langit, orang pun bisa putus motivasi karena merasa tak sanggup meraihnya.

Demikian juga diri kita. Jika kita terlalu gampangan berpindah dari satu perhatian ke perhatian lagi, orang akan mundur karena tak termotivasi meraih kita. Jika terlalu jual mahal hingga menolak semua, orang pun akan mundur karena takut terjatuh dan sakit pula.

Ibarat teori kewirausahaan, pasang target tinggi tapi terjangkau karena jika terlalu tinggi akan jatuh saat sakit, maka demikian pula kita. Bagi sang pengagum, pilih saja target yang terjangkau karena tak semua orang dituntut untuk meraih apel tertinggi. Bagi yang dikagumi, jadilah orang pertengahan. Bukan orang gampangan karena kita juga punya harga diri. Bukan pula orang jual mahal karena hanya Allah lah yang pantas menyombongkan diri.


Tuesday, 7 August 2012

Betapa Rindu Hatiku

05:32 4 Comments

Ada rindu yang beradu
Membelenggu meski ragu
Ada rasa yang menyiksa
Merana tapi nyata

Katanya, rindu adalah salah satu tanda cinta. Rindu pada suasana tertentu, rindu pada suatu daerah, atau rindu pada seseorang. Jika kita merindu, maka kita mencinta. Kita cinta pada suasana, daerah, atau orang itu. Sesekali rindu itu menyenangkan. Membawa kita pada kenangan indah masa-masa sebelumnya. Tetapi tak jarang rindu pun terasa menyakitkan, merana, membelenggu.

Rindu tercipta karena ada rasa, sebuah rasa yang membersamai selama interaksi tercipta. Karena tanpa sebuah rasa, proses apapun tak akan mendapat bumbu olahan tambahan. Akhirnya, tak dapat melekat pula dalam kenangan.

Penciptaan kenangan ini dipengaruhi oleh alat indera yang kita gunakan. Semakin banyak indera yang kita pakai, didukung dengan semakin kuat pula rasa yang kita tambahkan, maka makin melekat pula kenangan yang kita miliki. Artinya, suatu saat nanti akan berpotensi pula semakin mendalam rindu yang terasa.

Contoh nyatanya seperti ini. Ketika kita ke bank, kita pasti berinteraksi dengan teller. Kita melihat teller, berbicara, dan mendengarkan teller memberikan instruksi. Tetapi ketika kita keluar dari bank, hampir tidak pernah kita rindu pada teller, bank, atau suasana transaksi dengan teller tersebut. Kenapa? Karena kita tidak membubuhkan rasa dalam kasus ini. Sekalipun ada, maksimal itu adalah rasa terima kasih karena sudah dibantu dalam proses transaksi.

Lain halnya dengan orang atau suasana lain. Misalkan ketika kita berbicara dengan A lantas ada rasa yang kita bubuhkan, bisa jadi pembicaraan dengan A itu akan selalu kita ingat-ingat. Mata kita juga sangat mungkin untuk memperhatikan bagaimana cara A berbicara. Telinga kita pun akan pasang kondisi siap siaga.

Ketika suatu saat nanti kita tidak berinteraksi dengan A lagi, maka kenangan pun akan terputar. Rasa akan ikut bermain. Bagaimana dahulu cara A berbicara, bagaimana suaranya, dan sebagaimana. Maka, rindu itupun menjadi terasa makin menyiksa seiring dengan makan banyaknya interaksi dan rasa yang dilibatkan.

Lalu, bagaimana agar tak ada rindu yang menyiksa?

Karena rindu tercipta berdasarkan interaksi indera dan rasa maka kita kendalikan dua-duanya. Yang pertama jelas dengan mengekang rasa, agar ia tidak tumpah pada saat dan waktu yang tidak semestinya. Cara kedua, dengan meminimalkan indera yang terlibat. Mata, mulut, telinga, apapun itu semua dijaga.

Karena mencegah lebih baik mengobati. Mencegah rindu menyiksa lebih baik daripada mengobati rindu yang membelenggu.

Monday, 6 August 2012

Aku Rela

18:15 0 Comments

Seseorang bebas mencintai orang lain, sayangnya ia belum tentu bebas untuk dicintai. Bukan berarti karena ia sudah memiliki orang lain, tapi karena memang tidak ada rasa yang tertuju padanya. Istilahnya cinta satu arah, jika tidak ingin disebut sebagai bertepuk sebelah tangan.

Keadaan ini tidak bisa kita kendalikan. Mengapa? Karena untuk membuat diri kita dicintai, kita butuh ACC dari perasaan orang lain. Sayangnya, tak semua orang akan rela memberikan ACC untuk mencintai diri kita karena lagi-lagi, tidak menutup kemungkinan satu orang dicintai oleh banyak orang. Artinya, dia memang tidak bisa meng-ACC semuanya.

Salah satu hal yang ‘menyakitkan’ adalah ketika kita mencintai seseorang bersamaan dengan orang yang sangat kita kenal. Taruhlah contoh kita dan sahabat karib kita ‘mengincar’ wanita yang sama. Boleh jadi dalam hal ini kita pintar menutup rapat perasaan kita dan kita tahu bahwa sahabat kita mencintainya pula. Dan yang lebih menyakitkan adalah ketika kita tahu bahwa wanita yang kita incar itu mencintai sahabat kita dan bukan diri kita.

Sebagai makhluk yang mengharap apresiasi, pun orang yang kebutuhannya ingin selalu dipenuhi, tentu kita boleh saja berharap wanita itu akan mengubah perasaannya dan berpaling pada diri kita. Tetapi, apakah kita sudah memikirkan dampak setelahnya?

Pertama, kita bisa dianggap sebagai sahabat yang berkhianat. Anggaplah kita dimintai tolong oleh sahabat kita untuk menjadi perantara dalam proses khitbah dengan wanita tersebut. Tetapi kenyataannya, justru kita yang memuluskan proses khitbah untuk diri kita sendiri.

Boleh jadi hubungan kita dengan wanita tersebut menjadi lancar, tetapi hubungan kita dengan sahabat menjadi renggang. Dan persahabatan yang renggang itu bisa memiliki efek domino merenggangkan persahabatan lainnya. Jika ditimbang-timbang ibarat perdagangan, kita untung mendapat satu wanita, tapi banyak rugi melepas beberapa sahabat lainnya.

Pikirkan pula ada berapa banyak hati yang terlukai. Pertama, jelas kita melukai hati sahabat sendiri. Cintanya kepada sang wanita terpaksa pupus karena telah dimenangkan oleh kita. Kedua, kita mungkin melukai hati sang wanita pula. Mengapa? Bisa jadi awalnya dia lebih memilih sahabat kita, tetapi karena kita yang jauh lebih ‘gantle’ untuk datang lebih dulu, maka kitalah pemenangnya. Padahal dalam proses pergantian rasa dalam diri wanita pastilah ada masa menyakitkan, suatu rasa sakit untuk melepas pria pertama dan mengganti dengan diri kita. Bahkan, bisa jadi diri kita pun terluka. Terluka sesaat karena menyadari bahwa sang wanita sedang berusaha mengganti posisi sahabat kita di hatinya.

Maka benar adanya perintah Rasul untuk tidak mengkhitbah wanita yang sudah dikhitbah oleh orang lain. Karena memang, terlalu banyak rasa yang harus dikorbankan jika hal itu terjadi. Dalam hal ini, wanita memang belum tentu sudah resmi dikhitbah. Namun, mengatur strategi untuk mempertimbangkan apakah wanita tersebut menyukai seseorang dan orang itu juga menyukainya patut menjadi acuan.

Aku rela sakit demi sahabatku. Mungkin kalimatnya memang tidak seekstrim itu. Tetapi, kurang lebih memang demikian adanya. Lebih baik satu hati yang teredam, daripada banyak hati yang bergelimpangan.

Aku rela asalkan dia bahagia. Mungkin kalimatnya memang tidak seromantis itu. Tetapi, kurang lebih memang demikian adanya. Keikhlasan kita merelakannya, bisa jadi berbuah pahala karena kita menunjukkan sikap penghambaan yang luar biasa. Bahkan diri kita yang menumbalkan diri sebagai sarana kebahagiaan orang lain bisa pula dibalas dengan pahala.

Masalahnya, sekalipun dibalas pahala, apakah kita rela?