Follow Us @soratemplates

Friday, 28 December 2012

You Raise Me Up

07:41 0 Comments



Salah satu cara menyemangati orang-orang tercinta kita adalah dengan membuat diri kita semangat.

Itu adalah sebuah quote yang saya dapatkan ketika dipaksa oleh seorang teman menonton film korea berjudul Reply 1997. Dalam film itu diceritakan seorang suami yang tiba-tiba didiagnosis menderita kanker. Awalnya sang suami dengan pasien kanker lainnya bahagia ketika menonton film di TV. Tapi ketika sang tokoh film juga mengidap kanker, sirnalah semua keceriaan pada pasien tersebut. Segala cara sudah dilakukan oleh sang istri untuk menyemangati suaminya, tapi sia-sia. Akhirnya sang istri melakukan tindakan, menghubungi sang penulis naskah, memaki-maki, dan akhirnya berharap agar ada perubahan nasib dari diri sang tokoh cerita. Sang istri tak pernah lelah bolak-balik menelepon sang penulis naskah. Hingga akhirnya di akhir cerita serial TV, sang penulis naskah memberi kesembuhan pada si tokoh. Jadilah semua pengidap kanker di bangsal itu kembali ceria.

Nah, di situlah kuncinya. Ketika sang istri tak bisa membuat suaminya semangat, hal yang bisa dia lakukan hanyalah membuat dirinya sendiri bersemangat. Harapannya, dengan dirinya semangat, suaminya pun akan semangat. Dan itu terbukti. Dengan dirinya bersemangat mendesak penulis naskah, pada akhirnya suaminya pun kembali bersemangat.

Ya, memang demikian adanya. Disadari atau tidak, terkadang semangat bisa muncul dari orang lain. Di sinilah fungsi seorang teman atau sahabat itu ada. Ketika kita down, ada teman yang menyemangati kita. Ketika kita lemah, ada teman yang menguatkan kita. Begitu seterusnya. Tetapi, apakah semua kehadiran teman itu benar-benar berarti? Sayangnya, meski disemangati seperti apapun, terkadang kita bebal juga dan tidak bangkit semangatnya pula. Maka, ambil saja teori dalam film tadi.

Boleh jadi kita gagal menyemangati teman kita, tapi jangan sampai kita gagal menyemangati diri kita senidiri. Anggaplah begini. Kita dan teman sedang sama-sama mengejar skripsi. Jika kita santai, teman mungkin santai. Ketika kita menyemangati teman, boleh jadi teman tetap saja santai. Tapi, bagaimana jika kita beranjak dan mulai benar-benar bergelut dengan skripsi? Melihat kita yang sibuk dengan skripsi, sedikit demi sedikit pasti teman kita pun akan tergerak untuk bercengkrama dengan skripsi juga. Mengapa? Karena sahabatnya juga melakukannya. Karena dirinya 'ditinggal' sahabatnya untuk skripsi, maka kenapa dirinya tidak mengurus skripsi juga?

Ya, begitulah. Memang benar adanya slogan yang mengatakan mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil. Dengan membuat diri kita sendiri bersemangat, maka cepat atau lambat kita pun akan membuat orang-orang di sekitar kita bersemangat. Demikian juga sebaliknya, dengan melihat orang lain yang memiliki semangat, perlahan diri kita akan bersemangat pula.

Yup, you raise me up. Kau membuatku bersemangat, aku membuatmu bersemangat. Insya Allah..




Thursday, 27 December 2012

Di Atas Kertas

20:14 0 Comments

Akhir-akhir ini, ada atmosfer berbeda yang kami rasakan, khususnya untuk teman-teman seangkatan saya. Perkuliahan sudah usai, ujian demi ujian sudah meninggalkan kami satu demi satu. Namun, beberapa dari kami masih memiliki tanggungan ini itu. Skripsi, jurnal, semester pendek, kompre, wisuda, plus pernik-pernik di sekitarnya. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Yang belum ujian, khawatir tidak sempat ujian. Yang syarat wisudanya belum lengkap, khawatir tidak cukup waktu untuk melengkapi. Intinya hanya satu, kami ingin segera berganti status dari mahasiswa preklinik menjadi mahasiswa klinik.

Di tengan segala kekhawatiran itu, saya dikejutkan dengan pendapat seorang teman, "Kalau tidak wisuda Maret, trus kenapa?" Hm..., pertanyaan itu belum terpikirkan di kepala saya. Tapi, saya sering berpikir hal serupa untuk kasus lainnya, misal "Kalau ga cumlaude, trus kenapa? Kalau remed, emangnya kenapa? Kalau dapat B, kenapa?" dan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.

Oke, pertanyaan itu sepertinya memang terkesan menggampangkan. Boleh jadi orang yang melontarkan kalimat itu akan dicap sebagai orang yang terlalu santai tanpa ada perjuangan untuk hidup. Tak mau berjuang untuk wisuda Maret, tidak mau susah payah mempertahankan cumlaude, tidak mau berusaha keras agar mendapat nilai A dan tidak remed, dan seterusnya. Ya, boleh jadi kami memang terkesan menggampangkan. Tapi, lebih dari itu, perkara ini memang gampang karena ada perkara lain yang lebih penting.

Wisuda, cumlaude, nilai A hanyalah hitam di atas putih. Mereka hanyalah bukti di atas sebuah kertas. Lagi-lagi teman saya berkata, "buat apa lulus Maret tapi cuma buat gaya-gayaan". Begitu juga dengan kasus lainnya, buat apa cumlaude dan nilai A kalau cuma untuk kebanggan dan gaya semata. Bukan meremehkan atau sirik karena kami mungkin tak mampu, tapi lihat kembali niatnya, lihat lagi esensinya.

Yang lebih penting dari semua itu adalah 'untuk apa?'. Untuk apa kita mati-matian mengejar nilai atau wisuda? Lagi-lagi, semua hanyalah di atas kertas. Itu semua adalah hasil yang tertampil, sedangkan di luar itu ada sesuatu yang tidak terpampang. Apa itu? Proses.

Ya, proses. Proses yang kita lalui tak akan tertulis dalam lembar ijazah atau KHS. Tapi, proses yang kita laluilah yang akan lebih membekas dalam kehidupan kita selanjutnya. Euforia cumlaude dan wisuda mungkin hanya bertahan sebulan atau setahun setelah wisuda. Tapi, coba lihat, apakah sepuluh tahun kemudian masih terasa euforia itu? Mungkin iya, tapi lebih banyak tidak. Di lain sisi, proses yang kita alami sehingga kita wisuda dan mendapat nilai di KHS pastilah sudah mempengaruhi dan membekas dalam diri kita.

Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita melalui proses dengan sebaik-baiknya. Dalam proses itu pasti ada niat pula. Ketika niatnya baik, akan baik pula proses yang dilalui. Dan jika prosesnya baik, sangat besar kemungkinannya pula kalau hasilnya pun akan baik.

So, perbaiki niatnya, jalani prosesnya, nikmati hasilnya. Dengan keyakinan akan tiga hal itu, insya Allah tak akan ada lagi khawatir yang coba-coba mampir.



Wednesday, 26 December 2012

Noda Belajar

04:05 0 Comments

Ga ada noda, ga belajar! Rasanya, kita sudah sangat sering mendengar slogan ini di layar kaca atau media-media lainnya.

Bagi sebagian orang, mungkin slogan ini dipandang dengan sebelah mata plus dengan bibir mencibir pula. Barangkali dalam hati mereka berkata, "Buat belajar dengan noda? Kalau bisa tetap belajar dengan bersih, kenapa harus dengan noda? Tanpa noda juga tetap bisa belajar kok"

Ya, memang benar. Siapapun tetap bisa belajar tanpa harus dengan menciptakan noda. Terlebih untuk mereka-mereka yang memang dituntut untuk selalu steril dan bersih dalam proses belajar atau bekerjanya. So, slogan di atas memang tidak berlaku dalam hal ini. Tentunya juga akan sangat bersyukur sekali jika kita tetap bisa belajar tanpa menciptakan noda apapun juga.


Tapi, makna slogan di atas memiliki sudut pandang yang berbeda. Noda yang tercipta justru sebagai sarana belajar itu sendiri. Orang yang menciptakan noda justru akan bertambah 'ilmunya', tentunya jika disikapi dengan baik. Ketika noda itu muncul, orang tadi lantas bertanya-tanya, "Kenapa bisa muncul noda? Apa dampaknya kalau ada noda ini? Bagaimana saya harus menghilangkan noda?" dan seterusnya, maka orang yang memiliki noda inilah yang akan jauh lebih banyak belajar. Artinya, dengan noda itulah dia tahu dimana letak kesalahannya sekaligus tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya. Di lain sisi, orang yang selalu steril boleh jadi hanya tahu bagaimana yang sebenarnya, dan hanya mereka-reka saja kira-kira seperti apakah keadaan yang bernoda itu.

Lantas, apakah kita harus menciptakan noda itu? Tidak juga. Bukan berarti kita harus menciptakan noda sebanyak-banyaknya dengan dalih ingin lebih pintar dari yang steril. Selagi mampu membuat sesuatu dengan steril, lakukan saja. Andai suatu ketika muncul noda, jadikan sebagai sarana belajar baru buat kita.

Seperti kata seorang teman, "Kita memang harus berjalan lurus. Tapi jika hanya berjalan lurus, kita tidak tahu apa yang ada di kanan kiri kita. Jika terus berjalan lurus, suatu waktu kita akan terbentur ujung jalan juga. Maka, berbeloklah sedikit. Bukan karena mengingkari jalan yang lurus, tapi justru agar kita tak terhenti dan kembali menemukan jalan lurus tadi".

Perumpamaan teman saya ini berlaku dalam banyak hal. Sebagai contoh, jalan lurus ini bisa diartikan dengan kehidupaan perkuliahan di kampus. Kita boleh saja berharap kehidupan kuliah kita lancar maju terus tanpa hambatan. Tapi, bukan tidak mungkin akhirnya kita terpentok pada ujung jalan. Tidak lulus, remed, mengulang, dan beberapa keadaan lainnya. Apakah akan berhenti? Tentu saja tidak. Kita harus berbelok sedikit untuk bisa berjalan lurus lagi. Tak ada salahnya kita berbelok dengan mengikuti perkuliahan bersama adik tingkat karena mengulang, tak ada salahnya pula jika kita berbelok sejenak untuk masuk pit stop karena remed ujian.

Intinya, tak ada alasan untuk terhenti. Sekalipun itu noda, pasti akan hilang dengan detergen ampuh. Sekalipun itu ujung jalan, pasti ada belokan untuk melaju lagi. Insya Allah..



Friday, 30 November 2012

Kekuatan Itu Bernama Wangsit

09:52 2 Comments
Suatu barang atau karya akan menjadi biasa-biasa saja atau sangat berharga tergantung dari idenya.

Saya mempercayai statement di atas dengan sepenuh hati. Semua barang yang ada di dunia ini akan terlihat mahal hanya karena keunikan idenya. Sebagai contoh, sama-sama membuat keripik singkong, tetapi ketika dibubuhi ide pengemasan yang menarik dan ide pemasaran yang spektakuler, maka akan menjadi mahal lah keripik singkong itu. Bagi saya, teori ini berlaku untuk semua hal. Tak hanya untuk barang dan jasa, tetapi juga untuk sebuah karya, termasuk karya tulis.

Dalam sebuah training kepenulisan, seorang pembicara bernama Yusuf Maulana mengatakan, “Tangkaplah ide seakan-akan itu adalah percikan dari langit”. Ya, kata-kata beliau itu benar adanya.

Banyak orang ketika akan menulis terbentur pada ide. Sesuatu yang dikeluhkan biasanya adalah sulit mencari atau menemukan ide. Padahal, ide tak pernah pergi ke mana-mana. Ide selalu ada bertebaran di mana saja. Lagi-lagi seperti yang dikatakan Pak Yusuf Maulana, tangkaplah ide, bukan carilah ide.

Mungkin mekanisme penemuan ide dengan cari mencari atau menangkap sekiranya hampir sama saja. Tapi, sesungguhnya jauh berbeda. Ketika kita mencari ide, maka kita fokus pada ide. Lantas kita berjalan-jalan ke sana kemari sambil pikiran kita fokus bertanya-tanya, di manakah gerangan ide bersembunyi saat ini. Tapi, ketika kita memakai konsep menangkap ide, maka yang kita fokuskan adalah sarana yang kita miliki. Kita akan berjalan-jalan dengan santai, jika sewaktu-waktu ada sesuatu yang menghampiri lantas kita tangkap. Jika itu bisa jadi ide, ambil. Jika tidak, lepas.

Dalam konteks yang kedua, rasanya perjuangan untuk mendapatkan ide itu terasa lebih ringan dan tanpa beban. Kita hanya perlu membuka mata seluas-luasnya, melapangkan pikiran kita, dan menajamkan hati kita untuk memilah, benarkah ini ide yang sedang kita nanti-nanti. Kita tak perlu sepaneng alias terbebani untuk mencari-cari ide itu sendiri.

Uniknya, ide yang datang dengan sendirinya itu sering kali adalah ide yang ampuh. Justru karena ia datang dengan tiba-tiba, ide itu seringkali tak terpikirkan oleh orang lain. Maka, wajar kiranya jika Pak Yusuf Maulana menyebut sebagai kilatan dari langit, sedangkan saya sendiri lebih suka memakai istilah wangsit.

Ya, ide yang tiba-tiba datang itu ibarat wangsit. Ketika kita tak terforsir untuk mencari, tiba-tiba ide itu datang sendiri. Dan karena ide itu yang datang menemui kita, maka saya punya anggapan bahwa memang ide itulah yang terbaik buat saya. Percaya tidak percaya, ternyata ide wangsit itu pulalah yang seringkali manjur melahirkan sebuah piala.

Barangkali karena memang datangnya dari langit, maka itu adalah karunia Allah SWT. Barangkali karena ide itulah yang menemui kita, maka ia akan benar-benar barokah untuk diri kita.

Jadi, untuk Anda yang ingin menjadi tangguh dengan rentetan karya yang berharga dan tidak hanya dianggap sebelah mata, perkaya saja ide Anda. Tentu bukan ide yang biasa-biasa saja, melainkan ide yang jatuh dari langit bak wangsit yang membuat prestasi Anda akan melejit. Insya Allah.


Friday, 9 November 2012

Pengingat Kematian

07:18 1 Comments

Dalam beberapa hari terakhir ini, beberapa teman saya mengingatkan saya tentang mati. Di luar kejadian wafatnya delegasi FULDFK di sebuah acara, secara khusus mereka membuat saya teringat akan hal ini. Perkara apa? Mimpi mati.

Kita tahu, mimpi buruk seharusnya tidak boleh dicerita-ceritakan. Sayangnya, mereka terlanjur bercerita pada saya, di tengah malam buta, di pagi-pagi dini hari.

Kisah bermula ketika di suatu hari saya terbangun dan tersadar bahwa pagi itu saya masih hidup. Jujur, jarang-jarang saya berpikir begitu. Saya tetap berbaring di tempat tidur dan berpikir, "Bagaimana jadinya seandainya pagi itu saya tidak bisa bangun?"

Saat itu saya sedang tidak kumat jahil dan usilnya. Bukan berpikiran betapa enaknya tidak usah memikirkan kerjaan, tugas, kuliah, dan lain-lain karena saya tidak bisa bangun, saya benar-benar memikirkan mati, plus memikirkan orang-orang terdekat saya jika saya mati. Tapi tetap saja karena saya tukang iseng, saya pun iseng bertanya pada teman dekat saya, "Kalau dalam waktu dekat ini aku mati bagaimana?"

Beberapa hari setelahnya, pagi-pagi sekali seorang teman menghubungi saya, "Kamu ga apa-apa?". Saya bingung karena jelas saya tidak apa-apa pagi itu. Lantas ia bercerita, dia mimpi buruk tentang saya dan takut saya ada apa-apa. Saya? Menenangkan dirinya, meski dalam hati teringat pula bahwa lagi-lagi pagi itu saya masih dibiarkan oleh-Nya untuk bernyawa.

Entah berapa hari setelah hari itu, seorang teman mengirimi saya SMS di tengah malam buta. Kenapa? Ia tak bisa tidur lagi dan takut karena dia bermimpi ibunya meninggal dunia. Saya? Lagi-lagi menenangkan. Dan lagi-lagi dalam hati saya berpikir, saya masih saja tetap hidup pagi itu.

Dan tadi pagi. HP yang hening tiba-tiba berdering. Seorang teman mengirimkan SMS khawatir dan 'menangis' karena juga bermimpi ibunya meninggal dunia. Saya? Lagi-lagi mencoba menenangkan dengan mengingatkan bahwa itu ulah syaithon yang nakal. Tak perlu diceritakan, tak perlu dikhawatirkan. Tapi, (dalam hati berkata) perlu untuk dijadikan pengingat.

Ya, kematian. Seringkali kita takut dengan kematian itu. Padahal sudah jelas, bukan kematian itu yang ditakutkan, tetapi bagaimana kehidupan setelah kematian. Dalam kasus-kasus mimpi teman-teman saya di atas, yang takut justru bukan orang yang akan mati, tapi orang lain yang khawatir menghadapi kenyataan bahwa akan ditinggal mati.

Kenapa begitu? Karena manusia adalah makhluk egois. Sekalipun ini perkara mati, manusia tetap saja berpikir egois. Coba bayangkan jika ada kejadian kematian lantas pihak keluarga menangis meraung-raung. Apa yang dikatakan? Ambillah contoh, ada yang berkata begini, "Bapak kenapa pergi.. Trus aku gimana?" atau "Gimana masa depanku tanpamu.." dan lain-lain. Bayangkan saja, betapa kekhawatiran dan kesedihan itu terkadang muncul karena keegoisan diri kita sendiri.

Tapi, keegoisan ini pun tak ada salahnya. Tentunya egois yang benar. Misalkan dengan mengetahui seseorang meninggal lalu kita egois berpikir, "Dia sudah tiada, bagaimana dengan diriku jika tiada nanti? Sudah cukupkah bekalku?"


Tetap saja pernyataan di atas adalah sebuah keegoisan, tapi setidaknya keegoisan yang ini adalah egois yang baik dan bisa berbuah sebuah perubahan. Akan lebih bagus lagi jika rasa khawatir itu berbuah dengan sebuah doa untuk yang meninggal juga. Bukankah setiap doa yang kita berikan untuk orang lain akan berbalik pada diri kita sendiri? Doakan saja bahwa yang meninggal saat itu memang orang yang sudah memiliki bekal cukup, hingga kita berharap pula bahwa kelak ketika kita meninggal pun sudah dalam keadaan memiliki bekal cukup. Insya Allah. Aamiin..

Curahan hati teman-teman saya di atas memang hanya pengingat sederhana, tapi masih lebih baik daripada tidak mengingat mati sedikit pun juga. Mari mengingat mati entah dengan cara apapun. Karena sebaik-baik pesan adalah pesan kematian.

Selamat mempersiapkan kematian, kawan..



Tuesday, 6 November 2012

Serius, Ini Bercanda

23:02 7 Comments
Kemarin, saya iseng menengok statistik blog saya. Ada sesuatu yang menggelitik di sana. Dari berbagai kata kunci mesin pencarian google yang mengarah ke blog saya, ada satu kata kunci yang menarik yaitu 'arti candaan pada wanita'. Saya tersenyum. Bukan apa-apa, kalau sampai ada seseorang yang mengetikkan kata kunci itu di google, bukankah perkara arti candaan memang sedemikian pentingnya?

Diakui atau tidak, candaan memang seringkali memberikan multitafsir. Orang yang diajak bercanda bisa mengartikan candaan itu bermacam-macam. Kadang, multitafsir ini yang menyebabkan masalah. Kita hanya bercanda, orang lain menanggapi serius. Misal kita hanya menggoda, orang lain sudah terlanjur salah tingkah dan melting dibuatnya. Kita hanya bergurau, orang lain sudah terlanjur panas dan emosi karenanya. Bisa jadi terjadi sebaliknya. Kita sedang membicarakan hal serius, tetapi orang lain menanggapinya dengan bercanda. Kita sedang bersungguh-sungguh, tetapi orang lain menganggapnya bahwa itu gurauan semata. Hm..., terlalu kompleks.

Berhubung memang kompleks, pantas kiranya Rasulullah SAW memberikan aturan dalam bercanda. Terlepas dari melihat situasi dan kondisi, sebuah candaan haruslah tidak memiliki unsur kebohongan. Bagaimanapun kita memang tidak boleh berbohong. Terlebih jika kita justru menggunakan kebohongan itu untuk candaan. Salah-salah candaan kita yang hanya bohong belaka itu dianggap serius oleh teman kita. Bisa dipastikan akan timbul masalah setelahnya.

Tentang candaan dan keseriusan, ada seorang teman yang berkomentar demikian, "Selalu ada keseriusan di balik sebuah candaan". Mendengar itu, saya bergidik. Bayangkan jika candaan kita adalah sebuah kebohongan, jangan-jangan kita pun serius untuk berbohong pula. Sekalipun kita hanya bercanda, bukankah dosa bohong tetap dianggap serius dan bukan bercanda? 

Terlebih lagi candaan bohong kita itu akan menjadi menyakitkan jika lawan bercanda kita menanggapi dengan serius. Misal kita bercanda dengan berbohong akan datang ke rumahnya. Sekalipun itu bercanda, teman kita akan mengira bahwa setidaknya tebersit ada keinginan kita untuk main ke rumahnya. Balik lagi seperti yang teman saya katakan bahwa ada keseriusan di balik sebuah candaan, teman kita bisa menilai ada sedikit keseriusan dari candaan kita itu. Mungkin saja dia berharap bahwa kita akan datang. Atau jangan-jangan dia sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan kita. Padahal kita hanya berbohong. Bukankah ini akan menyakitkan karena membuat teman kita sedikit berharap sekalipun itu hanya 1% saja dari 99% kadar candaannya.

Pun sebaliknya. Untuk mereka yang terlalu bebal dan tak pandang bulu ketika bercanda, kata-kata ada keseriusan di balik sebuah candaan bisa juga menjadi skakmat untuknya. Barangkali kita bisa menelaah lagi, jangan-jangan kita pun terbersit 1% saja keseriusan ketika melontarkan sebuah candaan. Putar kembali memori tentang gurauan, godaan, ejekan, hardikan, dan semacamnya. Bagaimana jika itu tebersit sedikit saja keseriusan? Bukankah itu berbahaya juga? Karena bisa jadi dalam hati kita ada keseriusan untuk mencari perhatian teman dengan godaan kita. Atau jangan-jangan dalam hati kita memang serius ingin mencela teman kita. Naudzubillah..

Lebih-lebih kita pun tidak dianjurkan untuk terlalu banyak bercanda. Secara tak sengaja pula, saya menemukan sebuah tweet yang mengatakan, "Jangan terlalu banyak bercanda karena akan membuat hati menjadi mati dan membuat orang lain tidak percaya lagi".

Terlalu ekstrem mungkin. Tapi kalau dipikirkan memang benar adanya. Bukankah Rasulullah SAW telah berkata bahwa terlalu banyak tertawa adalah tanda hati yang mati? Padahal dalam sebuah candaan yang biasa timbul adalah derai tawa. Tentu saja jika terlalu banyak bercanda, akan semakin banyak juga tawa yang tercipta. Salah-salah tawa itu bisa membuat hati menjadi keras dan akhirnya mati.

Dampak lainnya, orang menjadi tak percaya dengan kita karena seringnya kita bercanda. Mungkin image candaan membuat sisi serius kita pun diragukan hingga kadang orang menganggap bahwa apa yang kita katakan dengan serius adalah candaan semata. Nah, ini akan semakin merepotkan ketika kita terbiasa bercanda dengan sebuah kebohongan. Suatu ketika kita berkata jujur, bisa jadi kita dianggap hanya membual saja. Salah-salah ini justru akan menyakiti diri kita sendiri karena tidak dipercaya dan dianggap sebagai pembohong.

Yah, jika memang tidak ingin terlalu ribet seperti ini memang lebih baik mengurangi bercanda. Daripada multitafsir dan membuat sakit hati, lebih baik tidak bercanda seenak hati. Bukan berarti tidak boleh bercanda sama sekali, karena bercanda pun menjadi sebuah kebutuhan dalam hidup ini. Bahkan Rasulullah SAW pun orang yang suka bercanda. Tapi tentu saja candaan beliau adalah candaan yang jujur dan tidak menyakitkan hati.

Maka, hati-hati menjaga hati, baik itu hati sendiri atau hati orang lain. Jangan sampai candaan kita justru menjadi boomerang yang membuat kita risau dan sakit hati sendiri. Pun jangan sampai candaan kita menyakiti hati orang lain karena ditafsirkan salah dengan sebuah keseriusan.

Yup, karena selalu ada keseriusan dalam setiap candaan. Sekalipun itu dalam taraf minimal bahwa kita serius untuk bercanda pada saat itu. Jadikan keseriusan itu adalah keseriusan yang baik, dan bukan keseriusan yang menyakitkan dan membuat salah paham.



Monday, 5 November 2012

Tulisan Terakhir

21:14 0 Comments

Ada sebuah kisah tentang tulisan terakhir dari sebuah blog. Seseorang menuliskan tentang kematian dalam blognya dan beberapa hari setelahnya dia meninggal dunia. Tak ada yang tahu bahwa itu akan menjadi salah satu tulisan di hari terakhirnya ngeblog. Bahkan sang penulis pun tak tahu bahwa ia telah dipersiapkan untuk menuliskan kematian saat itu.

Meskipun penulis maupun pembaca tidak sama-sama tahu, yang pasti tulisan itu menginspirasi dan memberikan rasa haru. Lantas, saya mengintrospeksi diri saya sendiri. Jikalau saya mati nanti, apakah tulisan saya (atau lebih spesifiknya tulisan terakhir saya) akan menginspirasi dan membuat haru juga?

Rasanya, ini tak ada bedanya dengan kondisi khusnul atau su'ul khotimah. Selama hidup manusia bergant-ganti melalukan perbuatan yang baik dan yang buruk. Namun ketika di akhir, siapapun akan berharap agar diakhirkan dengan sebuah perbuatan atau kondisi yang baik.

Demikian juga dalam menulis. Semua orang bisa saja bergantian menuliskan sesuatu yang baik serta buruk. Namun ketika di akhir, pasti ia juga berharap agar bisa memberikan tulisan yang baik.

Masalahnya, tidak ada orang yang tahu kapan masa akhir itu. Bisa jadi, tulisan saya inipun adalah tulisan terakhir saya. Berhubung sama-sama tidak tahu, lantas bagaimana?

Sama saja dengan perintah untuk selalu berbuat baik agar siapa tahu ketika malaikat Izroil bertugas kita memang sedang melakukan hal yang baik. Maka demikian dalam tulisan. Selalu saja menuliskan tulisan yang baik agar jika itu menjadi tulisan terakhir, maka memang tulisan baik lah tulisan terakhir kita.

Sebenarnya memang sesimpel itu. Tapi seperti juga manusia yang sering tergelincir untuk berbuat dosa, tak ada bedanya dengan penulis yang kadang kala tergelincir untuk membuat tulisan sederhana, tak bermakna, bahkan tak berguna. Kalau manusia diperintahkan untuk bertaubat, istigfar, dan tidak mengulangi lagi perbuatannya, bagaimana dengan penulis blog? Sepertinya sama saja. Berusaha untuk semakin berhati-hati agar tidak membuat tulisan yang sia-sia dan bertaubat dengan menyortir tulisan yang sekiranya dianggap tidak berguna.

Haruskah dengan begitu? Tidak juga, toh tidak ada pakemnya. Tak ada perintah taubat tulisan. Yang ada adalah perintah untuk bertaubat bila melakukan kesalahan. Jikalau kesalahan itu dalam bentuk tulisan, bukankah berarti kembali ke pakem sebelumnya.

Jadi, taubati saja aktivitas menulis kita layaknya mentaubati perbuatan lainnya. Bukan semata-mata dengan melihat tulisan itu sendiri, tapi bagaimana melihat tulisan sebagai bagian aktivitas dalam kehidupan. Semoga saja kita benar-benar berakhir dalam keadaan khusnul khotimah, apapun dalam kehidupan kita termasuk tulisan kita.

Aamiin..