Follow Us @soratemplates

Monday, 18 March 2019

NHW#7 Rejeki Pasti, Kemuliaan Kita Cari

10:46 0 Comments


Bismillahirrahmanirrahim ....
Di NHW kali ini saya diminta untuk menemukan bakat lewat tools yang sudah tersedia. Awalnya saya sudah pernah mencoba tes temu bakat. Namun setelah kuliah umum dengan Abah Rama, saya mempelajari terlebih dahulu tentang bakat-bakat itu lewat panduan ST30 dan pandu 45. Saya akui, barangkali aktivitas kegiatan saya memang kurang beragam sehingga ketertarikan pada aktivitas lain mungkin tidak muncul. Tapi setelah membaca 114 kegiatan yang dipaparkan Abah Rama, saya mulai bisa memetakan mana ketertarikan saya. Untuk memastikannya, saya coba lagi mengisi kuesioner di temubakat.com. Dan ini lah hasil ST30 saya.


Dari gambar di atas bisa dilihat bahwa bakat utama (warna merah) dan bakat (warna kuning) saya sudah cukup konsisten. Bakat utama saya yang jumlahnya ada 7 terletak di networking (N), servicing (S), elementary (E), thinking (T), dan generating idea (Gi). Secara konsisten pula saya tidak berbakat plus bukan bakat utama saya di bagian headman (H), technical (Te), dan reasoning (R). Terbukti di peran-peran itu warna saya serba hitam, abu-abu, atau paling mentok berwarna putih.
Menurut cara pembacaan ST30 yang dipaparkan Abah Rama, hasil ini bisa memiliki 3 makna yaitu interpersonal vs individual, otak kanan vs otak kiri, serta rasa, cipta, karsa.

Dari gambar di samping, 5 dari 7 bakat utama saya masuk dalam kategori interpersonal. Artinya saya lebih memiliki potensi secara interpersonal dibandingkan individual. Hal ini saya konfirmasi dengan bagan yang kemarin sempat disampaikan Teh Elma dalam kuliah umum tentang Me Time. Saya menyadari ternyata me time saya yang bermakna dan bisa menge-charge kembali diri saya justru ketika saya berbaur dengan orang lain. Dibandingkan diberi kesempatan satu jam ke salon, saya lebih merasakan dampak kebahagiaan ketika diberi waktu yang sama untuk mengisi sebuah workshop misalnya. Agaknya pemetaan ini sudah sesuai, tinggal saya maksimalkan lagi untuk memperbanyak bekerja sama dengan orang lain dan juga melayani orang lain. Karena di poin inilah bakat peran saya plus di sini pulalah saya merasa bahagia.

Dari sisi otak kiri vs otak kanan, menurut gambar di samping saya lebih dominan otak kanan karena 6 dari 7 bakat utama saya masuk di pengelompokan otak kanan. Wallahua'lam terkait hal ini saya belum mampu untuk mengkonfirmasi dan sepertinya tidak terlalu signifikan bagi saya apakah akan berpengaruh jika saya tahu saya dominan otak kanan atau otak kiri. Walaupun mungkin jika mengingat masa kuliah dulu saya memang cenderung memakai cara-cara otak kanan dalam belajar dibandingkan cara otak kiri, seperti belajar sambil mendengar lagu atau belajar sambil mewarnai dll. Barangkali dari sini sudah cukup untuk mengkonfirmasi.

Terakhir adalah cara baca ST30 berdasarkan kelompok cipta, rasa, atau karsa. Jika dilihat dari pengelompokan di samping maka saya termasuk kelompok rasa karena 5 dari 7 bakat utama saya masuk kategori ini. Jika dikonfirmasi, barangkali memang cukup tepat karena dalam kehidupan sehari-hari pun saya memang sering memperhatikan aspek psikologis dll. Meskipun saya juga punya 1 bakat utama cipta yaitu creator dan 1 bakat utama karsa yaitu journalist, namun ranah rasa memang lebih dominan bahkan ikut mempengaruhi aktivitas peran sebagai creator dan journalist.

Untuk mengkonfirmasi secara keseluruhan bakat utama, bakat, bukan bakat, dan bukan bakat utama digunakan tabel aktivitas suka dan bisa. Hampir mirip pula dengan bagan kuadran minat dan bakat. Kurang lebih kedua bagan ini bisa dijadikan satu.

Bakat
Bukan bakat
Minat
Enjoy, easy, excellent, earn
Enjoy, easy, excellent
Kekuatan
Hobi
Memeriksa pasien, ikut kegiatan bakti sosial, menjadi pembicara, memotivasi orang, mendengarkan curhat, menulis
Jalan-jalan,  membuat kreasi masakan, menata rumah
Bukan minat
Easy, excellent, earn
-
Kemampuan
Sia-sia waktu
Membuat penelitian, menjadi admin, mengurusi keuangan, berjualan
Membetulkan barang, membuat craft, bercocok tanam, memelihara hewan
Produktif
Tidak produktif

Monday, 11 March 2019

NHW#6 Menjadi Manager Keluarga Handal

10:32 0 Comments


Bismillahirahmanirrahim
Alhamdulillah, selama 6 minggu mengikuti matrikulasi, tugas ke-6 ini adalah tugas paling mudah bagi saya hehe. Mengapa mudah? Karena tidak sadar saya sudah diajarkan untuk mengandangkan waktu sejak zaman SD oleh ibu saya. Hanya saja kandang waktunya tentu berbeda. Seingat saya dulu, saya punya jam dimana saya bebas bermain dengan tetangga, tapi begitu menjelang magrib harus pulang. Pun saya punya waktu untuk belajar mengerjakan PR dan aktivitas rutin jam berapa saya harus bangun dan sebagainya. Jadwal rutin itu ternyata masih mewarnai saya hingga saat ini. Saat kuliah, saya terbantu dengan kandang waktu ini sehingga tetap bisa aktif di banyak organisasi. Setelah menikah pun saya memainkan kandang waktu dengan suami, dengan pilihan-pilihan aktivitas yang kami sepakati. Jadi di NHW ini syukurlah saya tinggal mereview kandang waktu saya lagi.

Tuliskan 3 akvitas paling penting dan 3 aktivitas paling tidak penting
Aktivitas Penting
  • Jaga klinik
Saya akui urusan jaga klinik masih menjadi aktivitas penting saya sebagai dokter. Bahkan jika ada tawaran untuk menggantikan jaga di luar jadwal tetap saya biasanya tergerak untuk mengeksekusinya. Tentunya untuk jadwal-jadwal insidental ini sudah sesuai izin suami dan sudah terfasilitasi alokasi waktu yang terpakai dengan segala konsekuensinya. Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada kendala.
  • Talaqi hafalan anak
Sehubungan dengan anak pertama yang mulai saya delegasikan ke sekolah tahfidz balita, sebagai orang tua saya diminta untuk murojaah hafalan yang sudah didapat di sekolah. Senada juga dengan pertanyaan di NHW#2 saat saya bertanya ke anak, "Mami baik atau nggak?" Dan ternyata menurut anak pertama saya sudah baik karena mau mengaji dengannya. Berarti di sini dia senang jika saya mau meluangkan waktu mengaji bersama.
  • Menulis
Karena saya ingin mengambil peran hidup sebagai penulis, maka aktivitas menulis harus menjadi aktivitas penting saya. Semenjak punya anak, kegiatan ini hampir tidak saya lakukan dengan serius. Hanya semaunya saja, sesempatnya jika ada sisa waktu. Hampir tidak ada karya sama sekali dalam 3 tahun ini. Seiring resolusi 2019 untuk menajamkan pena kembali untuk mencetak karya, maka aktivitas menulis masuk dalam aktivitas penting.
Aktivitas Tidak Penting
  • Tidur terlalu lama
Aktivitas ini disponsori oleh anak-anak. Dengan dalih ngobrol sambil dongeng atau membacakan buku sebagai pengantar tidur siang si kakak, saya pun ikutan tidur sampai sore. Begitu juga menidurkan dua bocah selepas isya, tak jarang saya ikutan bablas. Alhasil waktu dalam sehari habis cuma buat tidur. Bisa sampai 10 jam sendiri. Astagfirullah ....
  • Melihat ig story
Alasannya karena ig story seru dan cuma ada 24 jam, lalu penasaran buat mengikuti story karena takut keburu hilang. Padahal kalau dipikir-pikir tidak terlalu penting buat saya juga kalau ketinggalan story dari teman-teman atau tokoh yang saya ikuti. Sepertinya aktivitas ini memang perlu ditiadakan.
  • Blogwalking
Dengan dalih belajar terkadang saya keasyikan browsing sana-sini. Misalnya di NHW kemarin ketika mencari info tentang desain pembelajaran, keasyikan browsing saat anak-anak tidur tak tahunya sudah masuk waktu ashar. Sebenarnya perlu karena salah satu sarana mencari ilmu, cuma mungkin bisa diperketat waktunya agar bisa lebih memaksimalkan aktivitas lain yang lebih bermanfaat.

Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
Syukurnya masih dominan aktivitas penting, walaupun hampir imbang. Karena biasanya saya blogwalking atau melihat ig story saat anak tidur tetapi saya tidak tidur. Kalaupun saya ikut tertidur, otomatis saya tidak sempat membuka HP untuk kedua kegiatan itu. Hanya saja tantangannya kali ini adalah mengurangi jam tidur tetapi juga tidak dipakai untuk memegang HP melainkan untuk memaksimalkan aktivitas penting. Insya Allah ....

Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
Aktivitas jaga klinik, talaqy, dan menulis alhamdulillah sesuai dengan peran hidup saya di NHW sebelumnya yaitu menjadi istri dan ibu yang juga sebagai dokter dan penulis. Bismillah, berarti inilah yang akan menjadi aktivitas dinamis saya. Untuk jaga klinik sesuai jadwal jaga saya yaitu dari jam 08.30 s.d. 12.00. Kemudian sepulang dari klinik saya akan membersamai anak yang juga baru pulang sekolah dan memaksimalkan aktivitas bersama sambil talaqy quran sampai menjelang tidur malamnya kira-kira jam 20.00. Untuk aktivitas dinamis menulis saya luangkan di jam yang sama dengan jadwal jaga klinik karena tidak tiap hari saya jaga. Maka, aktivitas dinamis saya dimulai dari jam 08.30 hinga 20.00 setiap harinya. Bismillah ....

Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time
Di poin ini saya tersadar, ternyata aktivitas rutin saya tidak banyak. Berhubung saya tinggal dengan mertua, beberapa aktivitas domestik sudah diambil alih oleh ibu mertua, seperti memasak, menyapu halaman, menyiram tanaman, memberi makan hewan peliharaan, membuang sampah, atau mengangkat jemuran. Alhamdulillah .... Aktivitas rutin saya cuma menyapu rumah, mengepel, mencuci sekaligus menjemur baju, menyetrika baju, menyiapkan bekal sekolah dan membuat mpasi untuk anak yang kecil. Beberapa aktivitas pun tidak saya lakukan setiap hari. Misal hari ini saya menyetrika, maka saya tidak mencuci baju. Mengepel pun hanya 3 kali seminggu, di hari saat saya tidak jaga klinik. Ternyata cukup membuat saya tetap bahagia. Untuk alokasi waktunya mulai dari bangun tidur khususnya jam 06.00 sampai 08.30. Cut off time-nya insya Allah konsisten di jam 8.30. Karena selesai atau tidak selesai urusan domestik, jam itu saya harus berangkat jaga klinik. Kalau tidak jelas saya akan terlambat. Jadi insya Allah cukup mudah untuk patuh di cut off time-nya.

Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda
Insya Allah .... Untuk agenda harian ini cukup konsisten. Untuk agenda-agenda tak terencana biasanya dinegosiasian untuk diluangkan di waktu week end.

Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan
Kandang Waktu
Peran
Judul
Waktu
Kegiatan
Aktivitas rutin
As moslem
Prayer time
04.00 - 06.00
Bangun tidur, tahajud, subuh, tilawah 1 juz dengan suami
As wife
Domestic time
06.00 - 08.30
Cuci/setrika baju, menyapu, mengepel, menyiakan bekal + mpasi, menyuapi anak, memandikan anak, mandi, sarapan
Aktivitas dinamis
As doctor and writer
Productive time
08.30 - 12.00
Jaga klinik, menulis naskah
As mother
Playing and talaqy time
12.00 - 13.00
Ishoma
13.00 - 16.00
Komunikasi dengan anak, mendongeng, baca buku, tidur siang
16.00 - 17.00
Ashar, mandi sore, makan sore adik
17.00 - 18.00
Bermain, mengaji
18.00 - 20.00
Magrib, makan malam, isya, menidurkan anak
Aktivitas bebas
As me
Me time
20.00 - 22.00
Baca buku, buka hp, ngobrol dengan suami, tidur


Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?
Insya Allah jadwal ini sudah biasa dilakukan. Yang perlu diamati untuk minggu ini adalah apakah bisa mengerem untuk tidak terlalu banyak tidur. Lalu karena tidak ketiduran mudah-mudahan bisa memaksimalkan me time dengan suami, dan juga memanfaatikan waktu produktif saat tidak jaga klinik untuk menulis naskah dan bukannya justru membuka ig story atau blogwalking. Insya Allah ....

Monday, 4 March 2019

NHW#5 Membuat Desain Pembelajaran

10:28 0 Comments


Bismillahirrahmanirrahim
Dalam mengerjakan NHW ini ada begitu banyak tanda tanya yang bermunculan. Terutama karena saya sendiri tidak paham dan belum pernah mengenal tentang desain pembelajaran sebelumnya. Saat mencari-cari informasi dari google ternyata ada banyak model desain pembelajaran. Untungnya ada kawan matrikulasi yang mengemasnya dalam bentuk sederhana. Maka kali ini untuk uji coba pertama kali saya berkiblat dari paparan kawan tersebut.

Tujuan pembelajaran : menjadi istri dan ibu yang berperan sebagai dokter dan penulis yang memberikan inspirasi bagi orang lain
Indikator: 
  • Suami bangga pada istrinya
  • Anak-anak bahagia bersama ibunya
  • Pasien puas dan teredukasi
  • Pembaca mendapat manfaat dari tulisan
Metode:
  • Menguasai ilmu bunda sayang, bunda cekatan, bunda produktif, bunda shaleha
  • Update ilmu kedokteran, selalu memberikan take home massage pada pasien
  • Menambah skill kepenulisan
Sumber belajar
  • Buku parenting dan keluarga
  • Komunitas parenting
  • Jurnal kedokteran
  • Komunitas kepenulisan
Evaluasi:
  • Meminta evaluasi dari suami terkait peran istri dan ibu
  • Meminta feed back dari pasien jika kontrol kembali
  • Melihat respon pembaca melalui komentar tulisan

Insya Allah ini desain pembelajaran untuk sementara. Semoga bisa terealisasi dan mungkin diperbaiki lain kali.

Thursday, 28 February 2019

Bismillahirrahmanirrahim...

22:55 21 Comments
Silakan pilih menu bar untuk posting yang ingin Anda jumpai

Motivasi : tulisan yang saya harapkan mempu membangkitkan motivasi
Medis : informasi yang berkaitan dengan bidang yang saya geluti
Referensi : tulisan inline dengan kurikulum yang saya dapati
Artikel : goresan pena sebagai bentuk luapan buah pemikiran selama ini
Puisi : syair-syair sebagai ungkapan kreativitas dan apresiasi seni
Cerita : kisah hidup yang kiranya dapat dijadikan ibrah dan inspirasi


Tuesday, 26 February 2019

Harga Berapa?

22:11 0 Comments
Memangnya kamu akan lebih bahagia kalau pakai baju bermerk?

Sebuah pertanyaan kontemplasi yang kadang muncul buat orang-orang sempit hati. Iya, saya bilang sempit hati karena kalau hatinya lapang-lapang saja maka tidak akan ada pengaruhnya mau pakai merk apapun di badannya.

Mungkin semula ia sangat ceria memakai baju warna cerah secerah mentari pagi itu. Lalu segerombolan orang menelusuri timeline instagram dan menjerit "Wah ada diskon gamis ini lho, murah banget jadi 300 ribu." Dan barangkali ada yang menimpali, "Ah, merk itu kurang pas potongannya kalau di aku. Mending mahal sedikit, bisa jatuhnya pas di badan. Ga jauh beda kok, sekitar 400 ribulah." Lalu hanya gara-gara mendengar celoteh teman-temannya lantas dunianya yang cerah mendadak mendung sambil melirik bajunya, ini hanya 50 ribu, belinya juga di Pasar Baru.

Waktu berselang, banding-membandingkan harga masih berkelanjutan. Di suatu senja sesama rekan bercengkrama sambil membawa bocah-bocah kecilnya. "Anakmu sekolah di mana?"
Sebuah pertanyaan yang mungkin wajar, namun ternyata bisa muncul efek berbeda. 
"Anakku aku masukkan TKIT yang full day. Lumayanlah sampai rumah tinggal istirahat dia." Lalu ada yang menimpali, "Anakku di sekolah alam. Lebih terjangkau sih SPP-nya, tapi lebih bebas bisa main-main di alam." Dan ada yang mengeluh, "Iya, sekolah sekarang mahal banget ya. TK aja SPP sampai 500 ribu. Gimana kuliahnya ntar." Sedangkan sesosok yang tadi terdiam hanya menggumam, anakku di TK pertiwi yang SPP-nya cuma 30 ribu. Suatu fakta yang entah kenapa membuatnya malu.

Begitu saja berlangsung terus. Fase membandingkan ini tak akan ada habisnya. Bermula dari yang single seperti fashion yang berbeda misalnya. Lalu saat menikah saling membandingkan wah kamu pake MUA A, aku cuma pakai salon samping rumah. Wah, kamu lahiran di RS Internasional, aku cuma di tempat praktik bidan. Wah, anakmu punya seri buku bacaan jutaan rupiah, anakku cuma buku diskon 10 ribuan. Sampai mungkin nanti, wah mobilmu 1 milyar, mobilku 100 jutaan second pula.

Padahal, saat beli baju di Pasar Baru itu dia bahagia. Saat menikah dengan MUA samping rumah itu dia cantik mempesona. Saat melahirkan di bu bidan dia bersyukur luar biasa. Saat bisa membacakan cerita dengan buku diskonan dia menikmatinya. 

Namun tiba-tiba itu semua sirna dan merasa bahwa dirinya paling melarat sedunia hanya gara-gara tahu harga barang milik orang lain. Kalau seperti itu, tidakkah artinya dia berhati sempit? Semua kebahagiaanya lantas sirna hanya gara-gara harga. 

Semoga kita tidak termasuk di dalamnya. Orang yang berlomba-lomba sekedar menambah rincian harga di notanya. Atau orang yang menunduk lesu sambil menyimpan rapat-rapat slipnya karena malu. Semoga syukur itu tetap ada dalam hati. Dan semoga dengan syukur itu hati tetap selalu lapang untuk bangga menjadi diri sendiri. Aamiin ....

Monday, 25 February 2019

NHW#4 Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

10:18 0 Comments


Menengok NHW#1
Di NHW#1 saya menulis bahwa saya ingin mendalami ilmu inspirasi. Alasannya karena saya ingin lebih banyak berpikir positif melalui muhasabah sekaligus menyebarkannya sebagai pengikat pesan moral yang didapat. Ternyata ketika mendapat contoh tugas NHW#4, mencari sekaligus memberi inspirasi kurang tepat jika dijadikan jurusan ilmu kehidupan, melainkan justru sebagai misi dan peran hidup. Maka saya kupas lagi keinginan saya tersebut di sini.
Di tugas NHW#1 pula saya menjawab bahwa cara untuk memberikan inspirasi adalah dengan membagikannya kepada orang lain lewat social media (facebook, instagram, blog), mengadakan event-event, atau contoh teladan pada keluarga kecil. Dari penjabaran itu saya mengkaji, salah satu media saya untuk berbagi inspirasi adalah lewat tulisan. Maka untuk menjalankan misi dan peran saya tersebut agaknya akan lebih tepat jika saya mendalami ilmu kepenulisan. Nyatanya ketika saya telaah kembali, ilmu tentang tulis-menulis ini memang yang membuat saya berbinar-binar. Jika ilmu kepenulisan ini saya dalami, tentu tulisan saya akan semakin berkualitas. Jika tulisan saya berkualitas, maka inspirasi yang tertuang dalam tulisan itu pun akan tersampaikan dengan lebih baik pula. Tujuan untuk menebar inspirasi tetap tercapai dengan ilmu ini. Maka di NHW#4 ini saya ikrarkan untuk mendalami ilmu kepenulisan.

Menengok NHW#2
Di NHW#2 fokus saya untuk bisa profesional menebar inspirasi adalah dengan mengelola emosi saya terlebih dahulu. Alhamdulillah checklist sudah dibuat dan sudah dijalankan. Ada yang cukup mudah dilakukan hingga sudah terbiasa dalam hampir dua minggu ini. Namun ada pula yang masih sulit luar biasa. Bahkan untuk satu kali check pun belum sempurna sesuai standar patokannya. Mungkin kadarnya perlu disesuaikan lagi agar bisa tercapai.
Namun mengingat di NHW#4 ini mulai mengerucut untuk menebar inspirasi lewat tulisan maka poin-poin tentang dunia literasi belum terlalu banyak dicantumkan dalam checklist. Artinya masih ada yang perlu saya perbaharui lagi.

Menengok NHW#3
Apa kira-kira maksud Allah SWT menciptakan saya di muka bumi? Untuk menjawab pertanyaan ini saya tergelitik dengan pertanyaan lain. Karena pertanyaan ini berujung pada jawaban peran apa yang akan diambil di muka bumi, pikiran saya justru terasosiasikan dengan istilah personal branding. Sepertinya tak jauh berbeda pertanyaan tersebut dengan membuat pertanyaan baru, ingin dikenal sebagai siapakah saya di muka bumi ini?
Di NHW#3 kemarin—berhubung dihadapkan pada surat cinta pada suami dan mengenali potensi anak—saya memilih peran potensi saya sebagai motivator atau pendukung potensi-potensi suami dan anak-anak. Di sini saya mengambil peran sebagai seorang istri dan ibu. Padahal saya juga memiliki peran secara komunal dan universal. Di sinilah yang belum saya jabarkan di tugas NHW#3 kemarin.
Jika saya dihadapkan pada orang-orang, maka branding apakah yang mereka tangkap akan diri saya? Peran apakah yang sudah—dan akan—saya ambil di muka bumi? Sejauh ini yang saya tangkap adalah peran dengan profesi saya sebagai seorang dokter sekaligus penulis. Orang lebih mengenal saya sebagai dokter yang punya ciri khas sebagai penulis. Jika dikaitkan dengan jurusan ilmu kemarin, branding sosok dokter yang suka memberikan inspirasi lewat tulisan sepertinya bisa dilekatkan dalam diri saya.
Untuk bidang yang akan saya kuasai masih menjadi tantangan tersendiri untuk ditemukan. Sejauh ini inspirasi yang didapat sekaligus dibagikan adalah tentang pengembangan diri dari sudut pandang pribadi saya. Saat masih menjadi mahasiswa dan single dulu, tema-tema inspirasi tentang mahasiswa dan muslimah berkualitas menjadi bahan tulisan saya sehari-hari. Berhubung saat ini saya memiliki peran sebagai istri dan ibu—di luar peran profesi dokter—sedikit banyak tema-tema tulisan saya terkait tentang rumah tangga dan pengasuhan anak. Mengingat peran itu, maka barangkali tidak ada salahnya jika saya ikut mendalami ilmu pendidikan ibu dan anak pula, karena pada dasarnya adalah untuk memberikan inspirasi dalam rangka pengembangan diri. Tanpa menutup kemungkinan jika saya juga akan mendalami ilmu kedokteran dan kepenulisan sebagai tema inspirasi pula di tahapan selanjutnya.
Maka di sini saya tetapkan:
Misi : memberikan inspirasi pengembangan diri pada orang lain
Bidang : pendidikan ibu dan anak
Peran : inspirator (melalu profesi sebagai dokter dan penulis)

Menetapkan Ilmu
Dari penentuan misi, bidang, dan peran di atas maka untuk saat ini saya cukup fokus pada pendidikan ibu dan anak terlebih dahulu. Harapannya saya mampu menjadi seorang dokter yang juga penulis tanpa melupakan peran utama sebagai istri dan ibu bagi anak-anak. Dari gabungan peran inilah inspirasi-inspirasi itu yang akan saya bagikan pada orang lain, bahwa seseorang dengan multiperan juga harus tetap profesional. Tahapan ilmu yang akan saya ambil sudah sangat sesuai dengan jenjang yang ada di IIP.
Di kelas Bunda Sayang: saya akan mencari inspirasi tentang pengasuhan anak, dengan menyesuaikan peran saya sebagai seorang dokter dan penulis
Di kelas Bunda Cekatan: saya akan mencari inspirasi tentang pengelolaan rumah tangga yang tidak terbengkalai sekalipun mengambil peran di ranah publik sebagai dokter dan penulis
Di kelas Bunda Produktif: saya akan mencari inspirasi tentang mengasah potensi sehingga makin memaksimalkan peran publik sebagai dokter dan penulis yang produktif
Di kelas Bunda Shaleha: saya akan mencari ilmu bagaimana menyebarkan inspirasi dengan lebih efektif sehingga dapat memberi manfaat lebih banyak bagi orang lain

Menetapkan Milestone
Mengingat bahwa bidang ilmu yang akan dipelajari menyesuaikan dengan kurikulum IIP, maka tahapan milestone pun mengkuti rentang waktu yang ditetapkan oleh IIP. Milestone ini ditetapkan pada tahun 2019 saat usia saya akan memasuki 29 tahun.
KM 0—1 (tahun 1) : menguasai ilmu bunda sayang
KM 1—2 (tahun 2) : menguasai ilmu bunda cekatan
KM 2—3 (tahun 3) : menguasai ilmu bunda produktif
KM 3—4 (tahun 4) : menguasai ilmu bunda shaleha
Tantangannya adalah bagaimana saya bisa bertahan belajar di masing-masing bidang ilmu sepanjang satu tahun. Karena jika dalam satu tahap kalah, artinya diri saya belum berkembang. Padahal ilmu pengembangan diri—khususnya dalam peran sebagai istri dan ibu—inilah yang saya jadikan modal utama untuk berbagi inspirasi.

Mengoreksi Checklist NHW#2
Berhubung bidang pelajaran pendidikan ibu dan anak secara resmi dimulai saat kelas bunda sayang, maka selama tahap matrikulasi dan persiapan menuju kelas tersebut saya belum bisa memasukkan poin pelajaran ini dalam checklist. Namun sebagai bahan persiapan, saya akan melatih diri untuk mengalokasikan waktu kurang lebih 8 jam per hari untuk mulai belajar. Terkait pilihan jurusan ilmu saya untuk menebar inspirasi lewat tulisan tentang pengembangan diri sebagai istri dan ibu, maka sebagai persiapan sambil menunggu kelas bunda sayang tak ada salahnya jika saya membiasakan diri dengan mempelajari ilmu tersebut terlebih dahulu.
Dalam hal menebar insipirasi lewat kepenulisan, saya menambahkan checklist menulis satu tulisan tiap hari dengan panjang minimal 300 kata. Tulisan diposting via blog paling lambat sebelum tidur malam. Terkait ilmu kepenulisan sendiri, saya menambahkan alokasi waktu untuk menambah skill writing dengan membaca materi-materi di grup kepenulisan, tiap hari minimal 1 artikel materi. Dalam hal bidang pelajaran pendidikan ibu dan anak, saya menambahkan checklist untuk membaca materi parenting baik melalui buku atau media sosial dan grup parenting minimal 1 materi tiap hari, kemudian materi tersebut disarikan dalam bentuk tulisan yang akan diposting di blog. Tiga checklist itu dulu barangkali yang perlu saya tambahkan dan saya biasakan dalam 8 jam per hari untuk menjawab misi saya menyebar inspirasi terkait pendidikan ibu dan anak lewat tulisan. 

Lakukan!
Bismilillahirrahmanirrahim .... Insya Allah akan saya mulai hari ini, tepat saat selesai memposting tugas NHW#4 ini. Semoga Allah SWT meridhai. Aamiin ....


Sunday, 24 February 2019

Untung Ada Belanda

21:20 0 Comments
Ini kalau bukan karena peninggalan Belanda, nggak mungkin ada di Indonesia

Kalimat itu dilontarkan oleh salah seorang saudara saya ketika kami bersilaturahim yang rutenya melewati gunung dan hutan. Ya, sebagai warga asli sekitar daerah tersebut, saudara saya sangat merasakan betapa bedanya kualitas peninggalan Belanda dengan buatan Indonesia. Dia berucap, "Bendungan yang awet dan bisa dimanfaatkan sampai sekarang justru bendungan lama buatan Belanda. Bendungan yang bikin sendiri, malah udah rusak. Kalau bukan gara-gara Belanda juga ga mungkin ada jalan nembus hutan gunung begini".

Komentarnya membuat hati saya tergelitik. Saya tidak sedang ingin membicarakan apakah bendungan yang sekarang dikorupsi atau tidak, atau tentang kualitas SDM Indonesia yang mungkin berbeda dengan orang Belanda. Lebih-lebih tentang konstruksi dan lain sebagainya yang saya tak paham. Saya justru tertarik pada diksi munculnya Belanda sebagai pembanding.

Jika menengok sejarah sepertinya yang terlintas adalah Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun. Begitu banyak kekejaman dan ketidakmanusiawian yang Belanda lakukan. Image yang ditangkap dari Belanda adalah sosok penjajah yang menyengsarakan. Kesannya, buruk semua tanpa ada baik-baiknya.

Tapi, ternyata saudara saya justru 'berterima kasih' pada Belanda. Karena Belanda lah yang mampu membuat bendungan awet hingga sekarang sehingga padi-padinya di sawah bisa tetap dapat air. Plus berkat Belanda lah ia bisa melintas kota dengan jarak lebih dekat karena jalan-jalan yang sudah masuk desa. Sesuatu yang sepertinya tidak semua orang mau mengucapkan terima kasih, sekalipun ucapan terima kasih itu tak disadarinya. Namun jelas dari komentarnya dia berterima kasih Belanda pernah hadir di Indonesia.

Di sini saya tersadar bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sejatinya pasti memiliki sebuah manfaat. Untuk ukuran penjajah yang buruk saja nyatanya tetap ada manfaat yang bisa diberikan. Begitu pula seharusnya pada setiap fase hidup manusia. Jikalau hidup di rasa sulit, boleh jadi sebenarnya ada hikmah di balik kesulitan itu. Hanya saja saat ini kita masih belum tahu.

Tantangannya adalah bagaimana kita mampu berpikir jernih untuk mencari sisi positif dari sesuatu yang negatif sekalipun. Karena boleh jadi sesuatu yang buruk itu hanyalah prasangka kita belaka. Sedangkan prasangka belum tentu benar adanya.

Namun selalu berpikir positif juga bukan berarti permisif terhadap kemunkaran. Maka doa agar ditunjukan jalan yang lurus dan ditunjukkan bahwa yang benar nyata-nyata benar serta yang salah nyata-nyata salah memang harus terus dilafalka. Karena dengan doa itu pula kita juga bisa diberikan ilham bahwa prasangka negatif kita barangkali salah dan justru mengandung nilai-nilai positif.

Apakah mudah? Belum tentu. Tapi bukan suatu hal yang mustahil kan? Maka latih saja dan semoga kita bisa menuai hikmah dan mampu berterima kasih pada sesuatu yang semula kita sangka negatif belaka. Insya Allah