Follow Us @soratemplates

Monday, 29 March 2021

To Do List Serba Salah

10:23 0 Comments




Kangen nulis lagi. Beberapa hari skip karena ada pekerjaan yang lebih urgent. Padahal sebenarnya ide datang bertubi-tubi. Seringnya sih saat naik motor, atau di perjalanan bareng suami. Tapi sayangnya ketika sudah di tempat tidak bisa segera meluapkan ide, then blllaaaar hilang sudah menguap entah ke mana.


Lalu kini saya merindu menumpahkan kata. Semata-mata hanya demi mengalirkan rasa. Ide-ide kemarin seolah berjejalan untuk ditorehkan, sekan menagih "Aku dulu... aku dulu... aku yang ditulis dulu". Fyuh, lalu akhirnya tak jelas begini nulisnya.


Baiklah, ini free writing saja. Sekedar mengeluarkan apa yang ingin dikeluarkan. Biar hati loss dan tidak mbundet dengan segala hal. Kalau kata orang, free writing ini bagus sekali untuk mengurai rasa. Plus bagus juga untuk melatih ketahanan menunangkan kata-kata dalam durasi waktu tertentu. Tanpa perlu peduli, apakah tulisannya benar ejaannya atau benar susunan ide dan topiknya. Biarkan saja menulis bebas.


Pagi ini saya sedang terpikirkan dengan to do list. Sejak beberapa waktu terakhir, saya terbiasa dengan menuliskan to do list harian. Kadang saya merasa hidup bagai kejar-kejaran dengan waktu ketika to do list hari itu begitu padat. Rasanya banyak sekali urusan yang harus dilakukan. Bahkan sering sampai begadang, sering sampai curi-curi waktu untuk bersemedi sendirian. Tapi ketika list itu berhasil dicoret, rasanya puas luar biasa.


Nah pagi ini saya merasa tidak tenang lagi. Tapi bukan karena over job list harian, melainkan karena saking tidak ada to do list yang kudu dilakukan hari ini. Then, saya merasa sepertinya kok ada yang kurang, ada yang berbeda dalam hidup saya. Dan dalam kondisi begini, bahaya sekali kalau saya terpikirkan untuk menambah job list. Yang ada nanti lain waktu bakal kewalahan lagi. Haha


Cuma jadi berasa aneh kan. Ketika kebanyakan kerjaan, kelimpungan. Ketika tidak ada gawean, juga jadi tak bersemangat dan merasa kehilangan. Mau dibikin kegiatan rutin, berasa bosan. Mau dibikin insidental, berasa banyak kejutan tak terencana. Ah, namanya juga manusia. Mau kayak gimana juga ada aja salahnya. 


Fyuh, selamat menjalani hari saja lah ya. Semangat....!



Thursday, 18 March 2021

Meleleh Oleh Mereka

22:21 0 Comments



Malam ini kembali menghangat. Saya kembali tersenyum sepanjang malam. Apakah ada perlakuan baru dari suami? Oh, tidak. Bukan tentang suami, tapi tentang anak-anak. 


Ya, ini tentang Kak A dan Adik Z, dua orang berbeda dan tentunya tak bisa sama. Ah, pastinya saya sudah paham betul tentang itu. Bahkan orang kembar pun tak ada yang seratus persen sama kan. Apalagi Kak A dan Adik Z. 


Malam ini saya menghangat karena mereka memiliki cara berbeda untuk menganghangat hati saya. Saya rasa karena bahasa cintanya berbeda pula. Kak A yang word of affirmation dan Adik Z yang physical touch.


Saya selalu dibuat meleleh dengan sikap Adik Z. Alih-alih minta dikeloni sebelum tidur, Adik Z justru yang akan memeluk saya dan 'ngeloni' saya. Biasanya dia akan memeluk leher dan berkata, "Ayangku....", atau "Intaku....". Ah, meski kosa katanya belum full benar, sudah bisa terbaca kan?


Lain waktu dia yang akan memeluk lalu mengelus kepala saya sambil berkata, "Mami bobok...., mami bobok...." menyuruh saya untuk tidur. Hm, gimana tidak bablas sampai pagi kalau begini. Atau seperti kemarin siang ketika dia tiba-tiba memeluk dan berkata, "Mami antik...." 


Saya membayangkan, kalau saya seorang wanita pasti sudah meleleh diperlakukan begitu oleh Adik Z. Ups, salah bahkan sebagai maminya pun saya meleleh juga. Tapi ternyata, meski dengan cara tak sama, Kak A juga melelehkan hati saya.


Kak A bukan tipikal yang sedikit-sedikit menghujani saya ciuman atau pelukan seperti Adik Z. Tapi, sambutannya malam ini ketika saya pulang kerja membuat saya terharu, "Mi, lihat. Mas A sudah beresin mainnya. Biar cepet, mami tinggal nyapu trus tidur."


Ya, Kak A tipikal yang butuh apresiasi. Dia menceritakan pencapaian-pencapaian dan senang kita saya mengapresiasinya. Tapi dari 'laporannya' tadi, saya melihat celah bahwa dia begitu perhatian pada saya. Dia sengaja membereskan mainannya sendiri dan kamar sudah rapi. Saya tidak perlu beres-beres lagi, tinggal menyapu lantai lalu beristirahat tidur.


MasyaAllah....

Ya, saya menghangat malam ini. Saya kembali menata dan memaklumi bahwa mereka berbeda dan memiliki cara yang berbeda. Namun yang jelas sama adalah bahwa mereka mencintai saya sebagai maminya. Alhamdulillah...

Wednesday, 17 March 2021

Penyimpangan dan Kejahatan Seksualitas (Tantangan Bunda Sayang Pendidikan Seksualitas)

22:47 0 Comments



Oke, demi rapelan tugas tantangan bunda sayang, di hari terakhir ini saya langsung menjadikan satu topik penyimpangan seksualitas dan kejahatan seksualitas. Well, saya teringat pada satu pengalaman saya.

Dulu, ada teman yang bercerita kalau saat dia SMP ada orang gila yang biasa masturbasi di gang pojokan dekat sekolahnya. Kelihatan banget, dan sampe bikin risih. Ternyata, saya mengalaminya sendiri. Suatu ketika ada orang gila lewat di depan rumah dan iya benar, dia juga sedang melakukan masturbasi tepat di hadapan saya. Astagfirullah

Waktu itu saya buru-buru lari masuk ke dalam rumah. Malamnya ketika suami pulang, langsung saya ceritakan ke suami. Asli itu bikin trauma dalam beberapa hari. Bener-bener bikin nengok-nengok dulu khawatir kalau ada orang gila lagi.

Lalu saya membayangkan, saya yang sudah menikah saja bisa se-shock itu menghadapi peristiwa tadi. Gimana ceritanya kalau itu dialami anak-anak yang masih awam. Apa tidak lebih shock? Nau'dzubillah.

Iya, balik lagi ke kita sebaga orang tua untuk melakukan proteksi. Tapi, jangan lupa satu hal bahwa sebaik-baik penjagaan adalah milik Allah Ta'ala. Maka, titipkan saja diri kita, anak-anak kita, keluarga kita pada-Nya. Biar Allah langsung yang menjaganya. Aamiin


#harike10
#tantangan15hari
#zonapendidikanseksualitas
#institutibuprofesional

Ketika Anak Bertanya (Tantangan Pendidikan Seksualitas)

22:37 0 Comments




Topik terakhir adalah ketika anak bertanya tentang seksualitas. Huwaw, saya sendiri belum bisa bayangin sih kalau berada di posisi itu. Kira-kira akan berekspresi apa dan mau menjawab apa.

Cuma, saya inget banget dulu Bu Elly Risman pernah cerita buat konfirmasi dulu. Misal, si anak tanya seks itu apa sih. Hm..., jangan shock dulu, tapi tanya balik aja dulu, yang kamu tahu apa? Lucunya saya pernah dapat meme di medsos gitu. Ada anak kecil bertanya pada orang dewasa, apa itu seks. Lalu si orang dewasa itu menjelaskan dengan belepotan tapi benar-benar berusaha menjelaskan. Si anak cuma melongo, padahal dia cuma ingin mengisi formulir dalam bahasa Inggris di mana ada kata sex di situ yang artinya kudu dijawab laki atau perempuan. Nah lho, malah salah kaprah kan?

Ini bisa jadi senjata sih. Ketika si anak sudah sedikit tahu, orang tua tinggal mengonfirmasi saja. Pun jadi bisa menilai sejauh mana yang kira-kira bisa disampaikan pada anak. Yang jadi PR adalah, gimana biar tetap tenang dan tidak terkesan kaget ketika ditanya. Bukankah kesan pertama begitu menggoda. Khawatirnya si anak udah notice duluan nih kenapa kok ekspresi orang tuanya udah beda padahal ditanya gitu doang.

Oke, mudah-mudahan nanti siap menjawab pertanyaan seperti ini. Bismillah

#harike9
#tantangan15hari
#institutibuprofesional
#kelasbundasayang

Ketika Aqil dan Baligh Berjalan Tak Beriringan (Tantangan Zona Pendidikan Seksualitas)

22:07 0 Comments



Masya Allah sudah hari terakhir di zona ini dan saya masih punya hutang nyimak video plus hutang bikin laporan tantangannya. Bismillah....

Ini tentang topik ke lima yang disampaikan oleh teman-teman sobatualang yaitu tentang aqil dan baligh. Yup, aqil dan baligh itu dua kata saudar-saudara. Means, ada kalanya aqil datang pun baligh datang. Harapannya sih aqil datang duluan atau barengan dengan si baligh. Tapi kenyataannya?

Saya jadi teringat materi tentang ini juga yang disampaikan oleh Ustadz Hary Santosa. Saya ngeri sendiri ketika beliau mengatakan, "Bagaimana jadinya anak-anak yang sudah baligh di usia 10-12 tahun padahal mereka baru boleh/bisa menikah di usia 25 tahun" Wow, iya juga ya. Dan itu tantangan berat buat orang tuanya juga. Artinya memang PR aqil bersama baligh itu perlu diupayakan.

Cuma yang masih jadi pertanyaan saya adalah bagaimana untuk memulainya. Iya, kemarin sudah disampaikan oleh pemateri kalau sejak usia 7 tahun sudah mulai dikenalkan dengan tanggung jawab. Ah, PR sih buat saya untuk tidak sungkan mengutarakan duluan. Persis seperti yang dikatakan pemateri, buat anak untuk nyaman dulu dengan orang tuanya. Karena dengan mereka nyaman, maka mereka akan bercerita pada orang tuanya ketika akhirnya nanti mengalami menstruasi atau mimpi basah. Kalau saya sendiri sebagai orang tua risih untuk memulai ngobrolnya, gimana nanti anak mau nyaman dan cerita ke saya ketika mengalaminya?

Mungkin juga yang bisa dilakukan adalah dengan menunda si baligh datang buru-buru. Caranya? Meminimalisir media, menjaga asupan makanan, setidaknya itu yang saya ingat. Setuju banget sih, ketika zaman sekarnag semua makanan serba cepat saji, ya wajar kalau tumbuhnya cepat juga. Padahal ada makanan alami yang benar-benar clean eat yang bisa menjaga fitrah kita. Iya sih, makan dan makanan yang sesuia fitrahnya insyaAllah diri pun akan tumbuh sesuai fitrahnya kan. 

Plus media. Bener banget kalau perang media itu masyaAllah. Anak lihat akun yutub yang anak-anak saja kadang sliwer iklan yang pakaiannya terbuka. Lagi-lagi PR orang tuanya untuk mendampingi. Berat? Bismillah. Kalau Allah sudah mengamanahkan anak-anak di tangan kita, insyaAllah kita mampu untuk mendidiknya. InsyaAllah


#harike8
#tantangan15hari
#zonapendidikanseksualitas
#kelasbundasayang
#institutibuprofesional

Monday, 15 March 2021

Ini Cara Ayah Hadir dalam Pengasuhan (Tantangan Bunda Sayang Pendidikan Seksualitas)

03:55 0 Comments



Topik keempat di parade live bunda sayang ini menarik, tentang peran ayah dalam pendidikan seksualitas. Ah, saya tarik mundur dulu. Bukan cuma dalam hal pendidikan seksualitas sebenarnya, bahkan peran ayah sendiri dalam hal pengasuhan menjadi tema menarik yang selalu didengung-dengungkan di kelas parenting. Ya, pasalnya belum banyak ayah yang melek dengan parenting. Kelas-kelas pengasuhan selalu penuh dengan para ibu. Mirisnya adalah jangan-jangan muncul stereotype bahwa memang tugas ibu untuk mengasuh dan tugas ayah mencari nafkah. Hm...


Di sini saya tidak akan membahas suami. Saya justru tertarik dengan bapak dan bapak mertua rahimahullah. Saya ingat waktu kecil dulu sepertinya lebih dari tiga kali bapak saya bertanya, "Bapak seperti apa Kak? Kakak mau ganti bapak ndak?" Hm, agak awkward sih memang pertanyaannya. Kadang saya juga risih untuk menjawabnya, apalagi itu pernah ditanyakan saat saya sudah SMP, sudah bisa mikir kan hehe. Tapi ketika sudah dewasa begini saya baru memahami bahwa itu adalah salah satu upaya bapak untuk mendapat masukan dari anak. Itu adalah cara bapak untuk introspeksi plus tanpa sadar membuat saya belajar menerima bapak apa adanya.


Menariknya, dalam hal peran ayah salah satu kunci yang harus dipegang adalah bagaimana agar seorang anak bangga dan melihat sosok ayahnya sebagai pribadi yang baik. Baik itu LDM atau sesibuk apapaun ayahnya, pamali bagi seorang ibu untuk menjelek-jelekkan sosok ayah di depan anak. Persis seperti yang dilakukan Bunda Hajar pada Ismail lah. Sekalipun Nabi Ibrahim tidak 'hadir' secara fisik, tapi kekaguman itu diceritakan oleh Bunda Hajar sehingga ketika Nabi Ibrahim datang, Nabi Ismail merasa dekat dan kagum pula pada ayahnya.


Rasa kekaguman ini saya rasakan juga terjadi pada suami dan kakak-kakak ipar. Qodarullah, saya belum mengenal bapak mertua rahimahullah. Tapi, melihat bagaimana suami menempel kertas-kertas wejangan dari bapak di dinding kamarnya membuat saya paham betapa suami mengaguminya.


Saya tertarik dengan cara bapak mertua mendidik anaknya. Beliau serigkali menulis dalam sebuah kertas HVS berisikan pesan-pesan atau petuah dan diberikan kepada anaknya. Beberapa seperti rangkuman materi sebagai bahan bapak untuk mengisi pengajian. Tapi sebagian yang lain memang ditujukan langsung pada si anak karena di awal kertas itu dibuka dengan kalimat, "Anakku sayang". MasyaAllah.


Apa yang dilakukan bapak mertua itu mengingatkan saya pada buku Sabtu Bersama Bapak. Ya, meskipun bapak dalam buku tersebut sudah meninggal dunia, dia menyiapkan video yang rencananya akan diputar untuk anak-anaknya setiap hari Sabtu. Sekalipun bapak itu sudah tiada, namun sosoknya kembali hadir setiap hari Sabtu dan menjadi kedekatan sendiri bagi anak-anaknya.


Well, apapun upaya yang sudah dilakukan harapannya memang agar anak mengenal dengan sosok ayahnya. Yah, semoga makin banyak ayah yang melek dengan parenting, agar Indonesia tidak makin menjadi fatherless country. Aamiin


#harike7

#tantangan15hari

#pendidikanseksualitas

#kelasbundasayang

#institutibuprofesional

Quantity Time dan Quality Time demi Menumbuhkan Fitrah (Tantangan Bunda Sayang Zona Pendidikan Seksualitas)

03:33 0 Comments



Bismillah.. topik ketiga yang diangkat di parade live pendidikan seksualitas kelas bunda sayang adalah tentang mengenal fitrah seksualitas. Hm, bahasan ini sudah tidak asing bagi saya. Terlebih referensi yang dipakai oleh tim pemateri pun juga diambil dari Ustadz Harry Santosa. Berasa tinggal review saja jadinya.


Tapi PR-nya adalah bagaimana agar saya ingat dengan tahapan fitrah tersebut. Terlebih dengan kesibukan publik yang saya dan suami miliki. Kekhawatiran yang ada di benak adalah, apakah saya sudah dengan anak di fase usianya saat ini? Wallahua'lam.


Di fase usia Kak A dan Adik Z saat ini, mereka sedang dalam tahapan untuk dekat dengan ayah dan bundanya. Kak A tinggal 1 tahun lagi untuk lebih didekatkan pada papinya ketimbang pada saya. Sejujurnya saya paham konsep ini sejak dulu. Hanya saja, ya begitulah porsi waktu saya dan suami sepertinya memang tidak sebanyak porsi publik kami.


Tak apa, bismillah saja. Meskipun kualitas tak akan tercipta tanpa kuantitas, saya kembali diremider untuk memaksimalkan kuantitas yang ada saat ini. Semoga kuantitas yang secuil ini bisa menjadi ajang berkualitas untuk main bareng, ngobrol bareng, beraktivitas bareng demi menumbuh fitrah-fitrahnya. Tidak hanya fitrah seksualitas saja, tapi semua aspek fitrahnya. Aamiin...



#harike6

#tantangan15hari

#zona7pendidikanseksualitas

#kelasbundasayang

#institutibuprofesional